Agustusholic (Sebuah Otokritik untuk WNI di LN)

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 19 Agustus 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Balon Bertuliskan Angka '70' yang diletakkan di panggung utama perayaraan HUT RI di Adelaide, Australia

Balon Bertuliskan Angka ’70’ yang diletakkan di panggung utama perayaraan HUT RI di Adelaide, Australia

TAHUN ini, pertama kali saya mendapatkan kesempatan menikmati gegap gempita tujuh belasan di luar negeri. Untuk sebagian besar warga Indonesia di luar negeri, Agustus adalah bulan penting dan bersejarah karenanya harus dijalani dengan cara berbeda. Gema kemerdekaan sudah mulai didengungkan jauh-jauh hari di berbagai kota tempat warga Indonesia berdomisili, tidak terkecuali di Australia. Di Australia Selatan, rekan-rekan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA-SA) sudah menginisiasi persiapan perayaannya sejak 3 bulan lalu.

Mendekati hari H, beragam kegiatan mulai dihelat di berbagai wilayah di Australia. Teman-teman PPIA-SA membuat beragam perlombaan. Di antaranya adalah permainan bulu tangkis, sepakbola, basket, tenis meja, tenis lapangan, dan bola volley. Selain perlombaan olahraga, teman-teman PPIA SA juga mengajak komunitas-komunitas orang Indonesia yang ada di Australia Selatan untuk menjajakan makanan khas daerah masing-masing pada hari H yaitu hari pengkhidmatan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk membuat suasana perayaan lebih meriah, PPIA SA merangkai acara seremonial upacara dengan membuat perlombaan-perlombaan khas rakyat Indonesia seperti bernyanyi, lomba joget jeruk, dan juga lomba mewarnai bagi anak-anak.

Saya yakin pemandangan kemeriahan perayaan agustusan juga terdapat di banyak wilayah di berbagai negara di luar negeri. Setidaknya yang terlihat dari postingan teman-teman di sosial media seperti facebook menunjukkan bahwa banyak warga Indonesia di luar negeri yang ikut merasakan hiruk-pikuk perayaan 17 Agustus. Singkatnya, mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua –baik yang berstatus sebagai pelajar, spouse (pasangan yang mendampingi suami/istri yang belajar), maupun yang sudah menjadi penduduk tetap– semua ikut beruforia dalam gegap gempita tujuh belasan.

Rasa keindonesiaan
Di dalam hiruk-pikuk tersebut, ada yang menggelitik dalam benak saya, itukah yang kita sebut sebagai nasionalisme? Sudahkah menjamin rasa keindonesiaan kita tinggi dengan mengikuti beragam perlombaan dan kegiatan 17-an yang diselengarakan oleh berbagai organisasi? Tidak ada yang salah dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, toh tujuannya juga untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Kita juga harus mengapresiasi organisasi-organisasi, terutama organisasi pelajar atau mahasiswa yang sudah bersusah payah menghelat berbagai kegiatan, bahkan jauh-jauh hari sebelum 17 Agustus. Meskipun tidak ada alokasi anggaran dari negara, tetapi dalam kesibukannya dengan tanggung jawab kuliah, mereka berjuang ke sana kemari mencari donatur untuk mendukung kegiatan-kegiatan, setidaknya untuk kebutuhan hadiah perlombaan.

Bagi saya, partisipasi aktif maupun pasif yang ditunjukkan oleh WNI di luar negeri dalam menyambut atau merayakan hari kemerdekaan adalah simbolik saja. Ini adalah ekspresi simbolik yang merupakan bagian kecil dari wujud ke-indonesia-an yang kita luapkan dalam bulan agustus. Namun hal yang paling penting semestinya kita pupuk terus adalah semangat dan mental bangga memiliki “darah” Indonesia yang kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampus maupun di berbagai lingkungan lainnya, terutama ketika berinteraksi dengan non-Indonesia. Jika kita mau jujur, ada berapa banyak di antara kita yang terjebak dalam mental komparasi. Dengan mudahnya, kita sering membanding-bandingkan Indonesia dengan negara-negara lain, terutama negara kita berdomisili sekarang seperti Indonesia-Australia, Indonesia-Amerika, Australia-Inggris, Indonesia-Jerman, Indonesia-Singapur, Indonesia-Belanda, dan Indonesia dengan berbagai negara laiinya. Beberapa kondisi yang sering kita komparasikan adalah pelayanan publik seperti transportasi umum (bis, tram atau train), rumah sakit, kampus, dan sebagainya. Sering keluar dari mulut kita kalimat-kalimat seperti “Kalau di Indonesia mah tidak akan dapat seperti ini” atau “Ini jangan bermimpi di Indonesia bisa bersih seperti di sini”; “Enak ya di sini serba on time, coba kalau di Indonesia”; “Dosen di sini ramah-ramah banget ya, beda ama dosen-dosenku waktu S1 dulu yang cuek dan jaim”, dan beragam ucapan-ucapan sinis lainnya.

Saya tidak menyangkal bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk membuat Indonesia tumbuh menjadi negara yang lebih baik. Namun untuk konteks kita yang tinggal di luar negeri, jika kacamata negatif tersebut yang kita pasang ketika melihat Indonesia, hemat saya setidaknya berimplikasi dalam dua hal: Pertama, di saat kita berada di luar negeri, mindset tersebut mempengaruhi kita dengan sangat mudah membuat unfair comparison dengan negara lain sehingga tidak “malu” menyampaikan kejelekan-kejelekan “rumah tangga” sendiri. Karenanya wajah Indonesia yang akan terbentuk bagi outsiders adalah wajah suram, wajah tidak berwibawa, lemah, kusam, loyo dan berbagai imej negatif lainnya. Hal ini tidak bisa kita hindari karena kita yang sedang di luar negeri sejatinya adalah cerminan yang mewakili ratusan juta penduduk Indonesia lainnya. Kita adalah duta yang mewakili Indonesia dengan kapasitas kita masing-masing. Sederhananya, kita adalah Indonesia.

Kedua, jika mental menganggap negara sendiri inferior, lemah, kumuh, koruptif, dan sejenisnya ini tidak mampu kita ubah atau minimalisir setidaknya, ketika kita kembali ke Indonesia, saya pesimis kita bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Karenanya tidak heran, jika ada orang yang mempertanyakan begitu banyak lulusan luar negeri, tapi mengapa kita masih gini-gini aja? Banyak yang pulang dari luar negeri dan meneruskan kepemimpinan di berbagai lini di Indonesia, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Nahasnya lagi, bahkan tidak sedikit lulusan-lulusan hebat luar negeri “dimanfaatkan” untuk kepentingan negara lain.

Sikap mental
Saya pikir satu akar permasalahannya adalah sikap mental kita yang harus kita luruskan. Cara pandang kita terhadap negara sendiri. Mental yang melihat negara sendiri sebagai negara yang memiliki banyak potensi, negara yang memiliki banyak kelebihan, negara yang beradab, negara yang memiliki banyak kekuatan, negara yang sumber dayanya bisa mengurus diri sendiri sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus bergantung kepada negara lain terus-terusan. Jika ini tidak bisa kita pupuk secara masif, maka kita akan terus mendengar keluhan; Mengapa kita negara agraris, tapi bahan pokok seperti beras masih diimpor dari luar negeri? Kita mengakui punya banyak lahan perkebunan yang luas, tapi untuk tempe, gandum, gula, dan sejenisnya masih bergantung ke negara tetangga.

Ini baru persoalan sandang dan pangan, belum lagi kita tilik lebih jauh persoalan pengelolaan teknologi, otomotif, minyak, gas, emas, atau bahkan urusan militer, sepertinya kita masih butuh waktu lama untuk lepas dari “menjadi tamu di rumah sendiri”. Ini adalah beberapa substansi penting yang seyogiayanya menjadi catatan refleksi kita bersama dalam menyambut dan merayakan ulang tahun Indonesia tahun ini. Tidak larut dalam euphoria agustus dalam berbagai kegiatan-kegiatan artificial dan lupa dengan substansi dan semangat darah keindonesiaan kita. Dirgahayu ke-70 Republik Indonesia. Merdeka!

* Muhammad Adam, Mahasiswa program pascasarjana Leadership and Management di School of Education Flinders University, Adelaide, Australia. Email: adamyca@gmail.com