Andai Aku Jadi Ketua KPK, Aku Akan ‘Mundur’

Amanat menjadi ketua KPK untuk memberantas korupsi tidak hanya dilegitimasikan oleh legislatif dan ekskutif tetapi juga oleh masyarakat. Karenanya ketika saya mendapatkan mandat menjadi Ketua KPK, saya akan melakukan dua langkah ‘mundur’ yang dapat menjadi amunisi untuk memberantas korupsi.

Langkah mundur pertama yaitu mempelajari budaya korupsi di Indonesai dari masa ke masa. Mulai dari pemerintahan Soekarno sampai dengan SBY. Memetakan secara terperinci pola, jenis, bentuk, strategi, jumlah, dan pelaku secara komprehensif lengkap dengan data dan fakta. Mempelajari budaya korupsi yang sudah dipraktekkan sebelumnya dapat menjadi modal buat saya untuk mengantisipasi ruang-ruang potensi korupsi (preventive action) kedepan. 

Kedua, saya akan mundur untuk mempelajari karaktek organisasi KPK, terutama pimpinan sebelumnya. Ketika Taufiqurrahman Ruki yang berlatarbelakang polisi memimpin dengan gaya yang investigatif. Pada saat dibawah pimpinan Antasari, roda KPK sangat birokratif karena beliau berprofesi sebagai Jaksa. Sekarang pada saat KPK dinahkodai oleh Abraham Samad yang bergaya aktifis karena kehidupannya yang dipengaruhi oleh dunia LSM. Mempelajari gaya, psikologi, dan pelbagai seluk beluk mereka, saya bisa mengetahui dampak terhadap pemberantasan korupsi pada masanya. Manfaat lain bagi saya yaitu mengambil yang baik dari mereka untuk menciptakan perbedaan dalam kepemimpinan saya.

Kendati saya harus mundur untuk melaksanakan kedua langkah diatas, namun saya yakin akan memberikan multi-impacts. Meskipun akan ada yang bilang saya mandul aksi, tapi itu hanya untuk sementara, karena saya mundur bukan untuk tidur, tapi karena belajar untuk bertempur.