Menggugat Hak Mahasiswa

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 5 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

page_1

Sumber gambar: https://issuu.com/teraspers/docs/teraspers14

 

SATU pendekatan menarik yang saya dapatkan tentang pengelolaan lembaga pendidikan di Australia adalah seringnya diminta pendapat mahasiswa, terkait pelayanan pendidikan mereka mulai dari sisi akademis dan hal-hal non-akademis lainnya yang berpengaruh terhadap performa belajar mahasiswa. Beberapa hal yang sering menjadi poin utama evaluasi di antaranya adalah kemampuan dosen dan pedagogi.

Meminta pendapat mahasiswa tentang kemampuan mengajar dosen bukanlah sesuatu yang tabu atau dipandang tidak sopan jika dikritik. Pihak universitas mengevaluasi performa dosen dari mahasiswa dan juga dosen-dosen lainnya yang masuk ke kelas untuk menilai proses belajar mengajar yang dilakukakan oleh seorang dosen. Aspek-aspek yang dinilai diantaranya kemampuan dosen dalam menyampaikan materinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah cara mengajar dosen mudah dipahami? Atau, apakah cara mengajarnya interaktif dan kreatif, tidak menoton dan membosankan? Continue reading

Pensiunan pun Bisa Kuliah di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Kamis, 16 Juni 2016 . Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

sumber gambar: http://izquotes.com/quote/128559

OLEH MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

ADA beberapa hal menarik dari topik (mata kuliah) yang saya pelajari semester ini di Universitas Flinders, Australia, yaitu Studies of Asia Across the Curriculum. Topik ini ditawarkan secara nonregular oleh universitas yang berada di selatan Australia ini.

Secara substansi, mata kuliah tersebut memberikan kesempatan kepada para pendidik dan tenaga kependidikan di Australia untuk mempelajari Asia dan kesalingkaitannya dengan Australia dalam berbagai aspek. Termasuk aspek bahasa, seni, dan sosial-budaya, politik dan demokrasi, agama, ekonomi, perdagangan, etnis, adat, sistem pemerintahan, sistem pendidikan, struktur sosial masyarakat, sejarah, geografi, demografi, dan lainnya.

Pengetahuan dan pemahaman kognisi Continue reading

Sekolah ‘khusus’ Indonesia di Pedalaman Australia

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Senin, 26 Oktober 2015.

Sumber photo: http://indosurflife.com

Sumber photo: http://indosurflife.com

***&&&***

Tanggal 20 oktober 2015, saya bersama beberapa mahasiswa lainnya yang berjumlah sekitar 20 orang mendapat kesempatan mengunjungi salah satu sekolah di pedalaman Australia, tepatnya di Karoonda. Karoonda Area School (KAS) terletak sekitar 150 KM dari Ibu Kota Australia Selatan (Adelaide) dan kami harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam untuk tiba di sekolah tersebut. Menurut keterangan kepala sekolah yang menyambut kami, Bapak Daniel Rankine, Karoonda Area School adalah sekolah pertama di Australia Selatan yang dibangun pada tahun 1915 oleh beberapa penduduk setempat yang berinisiatif untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di Karoonda. Saat ini KAS sudah menjadi salah satu sekolah negeri dibawah Departemen Pendidikan Pemerintah Australia.

Menariknya, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran ‘wajib’ Continue reading

GERAKAN MARI SEKOLAH: FREQUENTLY ASKED QUESTION

Berhubung GMS belum memiliki laman resmi, kami memutuskan untuk posting informasi tentang GMS di halaman ini dengan tujuan untuk memudahkan dalam penyebaran informasi tentang GMS. Anda juga dapat mengunduh informasi ini di link berikut https://app.box.com/Informasitentanggms atau click di SINI.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) tentang Gerakan Mari Sekolah. FAQ ini dibagi dalam 5 katagori yaitu (1) Dasar-Dasar Umum tentang GMS; (2) Informasi seputar anak-anak penerima beasiswa; (3) Informasi untuk donator; (4) Informasi untuk Pendamping anak; dan (5) Informasi lebih lanjut tentang GMS.  Continue reading

Negara ‘Cengeng’

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Rabu, 21 Agustus 2013. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Sumber Gambar http://www.sodahead.com-

Sumber Gambar http://www.sodahead.com-

BEBERAPA waktu lalu, dalam kunjungan ke beberapa kota di Australia, saya bersama empat kolega lainnya mengunjungi Universitas Melbourne dan bertemu dengan seorang guru besar. Pada saat perkenalan sebelum diskusi, sang professor menyampaikan kalau istrinya orang Indonesia tapi tinggal di Jakarta. Istri guru besar Fakultas Hukum universitas nomor wahid di Victoria tersebut tidak mau tinggal di Australia, karena tidak ada pembantu rumah tangga.

Alasan tidak ada pembantu yang dituturkan sang Professor tersebut terkesan terlalu manja. Sikap cengeng masyarakat Indonesia sudah sangat kritis dan menjadi budaya di semua lini kehidupan. Melalui tulisan ini, Continue reading

Sekali Saja Tidak Cukup

Ini adalah tulisan yang saya tulis untuk salah satu situs motivasi beasiswa pada tahun 2012. Sekarang, Alhamdulillah list beasiswa yang saya dapatkan bertambah satu lagi yaitu Australia Awards Scholarship (AAS). Melalui funding dari The Department of Foreign Affair and Trade Australia, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S-2 di Flinders University, Australia dengan spesialisasi di Leadership and Management (Education). FYI-Beasiswa AAS juga saya dapatkan pada saat kali kedua saya mendaftar.

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

“If you can imagine it, you can achieve it; if you can dream it, you can become it”. Itu adalah salah satu ungkapan dari William Arthur Ward yang selalu membuat saya untuk tidak berhenti bermimpi. Kalau berbicara tentang mimpi, Saya teringat dengan salah satu golden waynya Pak Meria Teguh, lebih kurang substansinya begini “ Kamu akan mati, kalau tidak berani bermimpi”.

Dalam kontek mencari beasiswa, rumus seperti itu juga berlaku. Jangankan tidak berani bermimpi, takut pada kegagalan saja tidak boleh. Artinya, harus tetap optimis meskipun keberuntungan belum berpihak kepada kita.

Pengalaman tersebut saya alami sendiri. Saya baru saja mendapatkan pengumuman bahwa terpilih sebagai salah satu peserta dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia Tahun 2012 (Muslim Exchange). Ada 10 peserta yang terpilih dari seluruh Indonesia. Program ini short term, hanya 2 (dua) minggu di Australia. Karena dibagi 2 gelombang keberangkatan, saya mendapat gelombang ke 2, saya bersama 4 rekan lainnya akan berangkat pada 11-24 Juni 2012, sedangkan 5 rekan lainnya akan bergabung dalam gelombang pertama dan akan berada di Australia dari 23 April sampai dengan 6 Mei 2012. Meskipun programnya jangka pendek, bagi Saya bukan durasinya yang penting, tapi proses dan pengalamannya tentu saja priceless ever.

Belajar pada proses, mungkin itu pelajaran penting yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan motivasi beasiswa (MB). Kedua, Never ever hands up!!!Jangan pernah ada kata menyerah. Sekali saja tidak cukup untuk anda katakan kalau anda tidak sukses. Untuk sahabat ketahui saja, dari 2 pengalaman beasiswa yang saya dapatkan, kedua-duanya baru lulus pada kali kedua. Kegagalan pertama tidak membuat Saya menurun semangat, apalagi putus asa. I have enough guts to try it.

Pengalaman ketika Saya mendafar beasiswa Indonesia English Language Program (IESLP) tidak lulus ketika pertama kali saya mendaftar pada tahun 2009. Kemudian, dengan semangat dan impian yang semakin tinggi, tahun 2010, saya mencoba sekali lagi, dan Alhamdulillah Saya lulus dan bisa study selama 8 (delapan) minggu di Ohio University, USA.

Sekarang, program Muslim Exchange Indonesia-Australia 2012 juga melewati pengalaman yang sama. Tahun 2011, saya mendaftar pertama juga tidak lulus dan hanya sampai pada tahap seleksi interview di Jakarta. Tahun 2012 saya ikut mendaftar kembali. Tuhan maha pemurah, Dia memberikan kesemptan berkunjung ke Australia tahun ini.

Pengalaman tidak lulus pada kali pertama, Saya belajar beberapa hal penting yang mungkin berguna buat sahabat pembaca. Pertama, dengan gagal pada tahap pertama, membuat Saya semakin membuat persiapan yang lebih matang. Dan jujur kali kedua membuat persiapan lebih mudah. Pengisian formulir semakin lengkap, membuat letter of motivation semakain ngalir, penyusunan berkas jauh lebih rapi, mencari surat rekomendasi lebih cepat dapatnya, dsb.

Kedua, tentu saja usaha saya semakin keras dan lebih dari tahap pertama, karena Saya tidak mau gagal lagi seperti tahun pertama. Ketiga, dengan gagal pada tahap pertama, Setidaknya menjadi guru kepada saya dimana kekurangan Saya, nah kali kedua tentu saja saya berusaha semaksimal mungkin untuk menutup lobang tersebut.

Manfaat keempat yaitu masalah mental. Pada saat saya mendaftar kedua kainya, emosional saya lebih bisa terkontrol, lebih”nyantai”, rileks, dan stabil. Hal itu saya alami terutama pada saat wawancara di Universitas Paramadina, Jakarta.

Selanjutnya, tentu saja dengan ada kegagalan tahap pertama, menambah teman saya karena mempunyai teman dan relasi baru pada tahun kedua. Meraka ada modal sosial yang sangat berharga untuk saling bermutualisme nantinya.

Kemudian pelajaran terpenting lainnya adalah, segala sesuatu itu akan indah pada saatnya. Kedengarannya romantic dan lebay mungkin, tapi saya yakin bahwa Allah tau kalau saya akan mendapatkan yang terbaik pada saat yang tepat. Kalau saya lewat tahun 2011, tentu saja ada hal penting lain yang harus saya korbankan. Tapi Allah memberikannya sekarang, dan inilah waktu yang paling tepat.

Last but not least, Saya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang sedang hunting beasiswa, buat yang sudah mendaftar berulang kali, apply sana sini, tapi belum beruntung juga, jangan pernah putus asa. Never Ever Stop dreaming. Sekali saja tidak cukup!!!Percayalah tuhan tau apa yang terbaik buat kita, George Bernard Shaw mengatakan “Orang gagal selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang sukses selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya”.

Terakhir, ada pesan keramat dari Bapak Agoes IIEF Jakarta, beliau berpesan ketika kami balik dari USA “Second time is always easier than the first one”. So, keep fighting like a tiger and win like a champion. Amin…Salam sukses!!!

Immigrant or Refugee; Does it matter?

The following article is employed for ICRC Blog Competition #70thICRCid

drowned-syrian-migrant-boy-bodrum-turkey-sept-2-2015

the photo is taken from http://www.cbc.ca

The whole world within these days is shaken with a magnitude human crisis in Western Asia. Our attention is virtually dragged onto the Syria impasse. Daily media headlines are full of heartbreaking mourning news for the tragedy of lost Syrian’s young lives. Member-based social media are more wildly blowing up the plight in Syria. Within this rigorous massive reaction emerging worldwide, we might discursively have missed how we label those people seeking for a life. Are they immigrants or refuges? Both are literally aiming to escape from their current place in Syria which is a deadly place to inhabit and they battle hopefully to find another better place somewhere else outside Syria. This is not the case that this article is going to address; what does matter is how world see those people as immigrant or refugee either? If politicians (or any other group people including religious scholars) label them as refugees, it definitely will have different meaning and implication as immigrants. Media convey different message once they write immigrant as opposed to refugee. Unlike refugee, we associate different degree of feeling when we use immigrant. These signifying words, in fact, are discursively used overlapped, and I assume for those in power, these terms are used interchangeably by no accident.

In these notions, word using to articulate those innocent Syrian people, who fleeing from persecution, does bring about implications in many senses. Putting this in academic domain, words are not simply passive objects and stable and as the central bearer of its own meaning. Instead, words have complex relationships that exist between words, their social contexts, power, and the role that words play in constructing reality (read Discourse Analysis). In the eyes of Cambridge-based philosopher Ludwig Wittgenstein who argues that ‘there is no intrinsic meaning in any of the words we use’ (in Jacobs, 2010, p. 253). For post-structuralism, immigrant-or-refugee overlapping use definitely create ambiguity in that they are often deployed with the effect of blurring meaning to the ‘users’ ideological ends.

Under this ‘ideology’, refugee may be viewed in different ways. Refugee, by definition, is literally applied to a person who is outside their home country of citizenship because they have well-founded grounds for fear of persecution; hence, they have protected rights to grant asylum and the responsibilities of nations that grant asylum (1951 Refugee Convention). In the case of Syria plight, war is the main cause to set within this interpretation in that no reason for the countries ratifying the convention to refuse their arrival. Despite the fact that many countries ignore this calamity, refugee falls mainly with humanity state. People recognize it as human tragedy, thereby; the entire world should take responsibility. Just before this drowned boy Alan Kurdi effect’s is widespread around the world, everyone is well-informed that is the war happening in Syria is brutally killing millions ‘bonehead’ people. Yet, why people were hands-off?

Seeing this in the notion of how language is used in that we employ to give shape and meaning to our thoughts, simply to answer the question is because the conflict was seen for power and regime greediness, international security and the ISIS threats, western-eastern hegemony, political game between America-and-the allies versus Russia-and-Iran interest, KSA and Iran power domination and so on. Once Syria civil war is seen through these lenses, then nothing occurs from outsiders in a sense of shared-responsibility.

The case is different now; people using different glasses to look into Syria war. Alan’s guilt-free body is apparently becoming the turning point causing an outpouring of sympathy worldwide. It wakes up people around the world to take actions to save millions Syrians’ live. Now we are treating them differently—together we gather power and resources to save those people. We currently perceive them as the human who must be treated as human without exception. They are refugees whom are obviously the victims of the war. They are human who sake for a life outside of Syria, therewith, other countries should welcome them warmly. This is what 1951 Geneva Convention on Refugees declared.

Given this mindset, people power around the world are moving to fight against those regimes to take responsibility because they are the one who create this mess. The results are protests voicing worldwide both virtually and physically. Social media users are crazily showing their emphatic actions to this tragedy by posting photos, status, and enormous aspirations. Some visuals and texts became world viral just in a second such as Alan Kurdy’s tiny photograph. Many people curse gulf countries leaders due to their hands-off politic reaction to this catastrophic human crisis. Additionally, virtual petition are created to embracing millions of internet users to give their signature to attack the world political leaders ignorance. Some are doing fund-raising campaigns to help emergency needs of those refugees. Likewise, people do protests conventionally by gathering in particular public spots worldwide. In South Australia, for instance, an extensive number of people gathered in the downtown of Adelaide on 7 of September by lighting candle to remember Aylan Kurdi and to give people forces onto Australian government to take part helping those people.

Seeing these sudden movements around the world including from religion leaders and groups, why are people moving? Why people are aroused to protest? What value lying behind this global maneuver? My one word answer for such questions is humanity. We are forced by humanity sense—sense of belonging on behalf of humanity—we are brothers. That’s it. For this, Michel Foucault (1971) calls Regimes of truth—the basis from which we assert our understandings of the social world.

In contrast, the story might be totally different once we view those ‘live’ seekers as immigrants. It does not involve any humanity sake. Immigration is more likely attributed within government arena. Therefore, issues like illegal immigrants, prosperity, employment, money and sorts of things are main meaning associated with the word Immigrant. Consequently, it is not surprising that the world seems silent when thousands people from developing countries are sank on their way to reach to other countries to find for better life in terms of materiality.

Although there are thousands people died because they used people smuggling cheap ‘rides’ to travel, people almost doing no protest to the policy makers. It has less world ‘emotionalization’ of communities feeling embedded within. For example, once hundreds of Bangladesh people were rescued and accommodated in Aceh in the middle of this year, they were treated differently to Rohingya people in terms of foods, clothes, and other donation from local people in particular. Why both groups are treated significantly different, in fact they were rescued from the same boats? For many critical discourse analysts, it is clearly because they are valued differently by local inhabitants. People from Myanmar fled from persecution because of conflict and that’s why they are granted refugees privileges. On the contrary, hundreds of rescued adult Bangladesh men get out from their country for economical reason. They leave to find a better life in the other countries. For this reason, they are immigrants, therefor, there were sent home. To conclude, it does matter on how immigrants and refugees are perceived clearly different because we treat them differently depending on the way we see them. For this, Witgenstein (1958) said that ‘a meaning of a word is its use in […] language’ (p.60).

 

 

Agustusholic (Sebuah Otokritik untuk WNI di LN)

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 19 Agustus 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Balon Bertuliskan Angka '70' yang diletakkan di panggung utama perayaraan HUT RI di Adelaide, Australia

Balon Bertuliskan Angka ’70’ yang diletakkan di panggung utama perayaraan HUT RI di Adelaide, Australia

TAHUN ini, pertama kali saya mendapatkan kesempatan menikmati gegap gempita tujuh belasan di luar negeri. Untuk sebagian besar warga Indonesia di luar negeri, Agustus adalah bulan penting dan bersejarah karenanya harus dijalani dengan cara berbeda. Gema kemerdekaan sudah mulai didengungkan jauh-jauh hari di berbagai kota tempat warga Indonesia berdomisili, tidak terkecuali di Australia. Di Australia Selatan, rekan-rekan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA-SA) sudah menginisiasi persiapan perayaannya sejak 3 bulan lalu.

Mendekati hari H, beragam kegiatan mulai dihelat di berbagai wilayah di Australia. Teman-teman PPIA-SA membuat beragam perlombaan. Di antaranya adalah permainan bulu tangkis, sepakbola, basket, tenis meja, tenis lapangan, dan bola volley. Selain perlombaan olahraga, teman-teman PPIA SA juga mengajak komunitas-komunitas orang Indonesia yang ada di Australia Selatan untuk menjajakan makanan khas daerah masing-masing pada hari H yaitu hari pengkhidmatan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk membuat suasana perayaan lebih meriah, PPIA SA merangkai acara seremonial upacara dengan membuat perlombaan-perlombaan khas rakyat Indonesia seperti bernyanyi, lomba joget jeruk, dan juga lomba mewarnai bagi anak-anak.

Saya yakin pemandangan kemeriahan perayaan agustusan juga terdapat di banyak wilayah di berbagai negara di luar negeri. Setidaknya yang terlihat dari postingan teman-teman di sosial media seperti facebook menunjukkan bahwa banyak warga Indonesia di luar negeri yang ikut merasakan hiruk-pikuk perayaan 17 Agustus. Singkatnya, mulai dari anak-anak sampai dengan orang tua –baik yang berstatus sebagai pelajar, spouse (pasangan yang mendampingi suami/istri yang belajar), maupun yang sudah menjadi penduduk tetap– semua ikut beruforia dalam gegap gempita tujuh belasan.

Rasa keindonesiaan
Di dalam hiruk-pikuk tersebut, ada yang menggelitik dalam benak saya, itukah yang kita sebut sebagai nasionalisme? Sudahkah menjamin rasa keindonesiaan kita tinggi dengan mengikuti beragam perlombaan dan kegiatan 17-an yang diselengarakan oleh berbagai organisasi? Tidak ada yang salah dengan ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, toh tujuannya juga untuk memeriahkan perayaan kemerdekaan. Kita juga harus mengapresiasi organisasi-organisasi, terutama organisasi pelajar atau mahasiswa yang sudah bersusah payah menghelat berbagai kegiatan, bahkan jauh-jauh hari sebelum 17 Agustus. Meskipun tidak ada alokasi anggaran dari negara, tetapi dalam kesibukannya dengan tanggung jawab kuliah, mereka berjuang ke sana kemari mencari donatur untuk mendukung kegiatan-kegiatan, setidaknya untuk kebutuhan hadiah perlombaan.

Bagi saya, partisipasi aktif maupun pasif yang ditunjukkan oleh WNI di luar negeri dalam menyambut atau merayakan hari kemerdekaan adalah simbolik saja. Ini adalah ekspresi simbolik yang merupakan bagian kecil dari wujud ke-indonesia-an yang kita luapkan dalam bulan agustus. Namun hal yang paling penting semestinya kita pupuk terus adalah semangat dan mental bangga memiliki “darah” Indonesia yang kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampus maupun di berbagai lingkungan lainnya, terutama ketika berinteraksi dengan non-Indonesia. Jika kita mau jujur, ada berapa banyak di antara kita yang terjebak dalam mental komparasi. Dengan mudahnya, kita sering membanding-bandingkan Indonesia dengan negara-negara lain, terutama negara kita berdomisili sekarang seperti Indonesia-Australia, Indonesia-Amerika, Australia-Inggris, Indonesia-Jerman, Indonesia-Singapur, Indonesia-Belanda, dan Indonesia dengan berbagai negara laiinya. Beberapa kondisi yang sering kita komparasikan adalah pelayanan publik seperti transportasi umum (bis, tram atau train), rumah sakit, kampus, dan sebagainya. Sering keluar dari mulut kita kalimat-kalimat seperti “Kalau di Indonesia mah tidak akan dapat seperti ini” atau “Ini jangan bermimpi di Indonesia bisa bersih seperti di sini”; “Enak ya di sini serba on time, coba kalau di Indonesia”; “Dosen di sini ramah-ramah banget ya, beda ama dosen-dosenku waktu S1 dulu yang cuek dan jaim”, dan beragam ucapan-ucapan sinis lainnya.

Saya tidak menyangkal bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk membuat Indonesia tumbuh menjadi negara yang lebih baik. Namun untuk konteks kita yang tinggal di luar negeri, jika kacamata negatif tersebut yang kita pasang ketika melihat Indonesia, hemat saya setidaknya berimplikasi dalam dua hal: Pertama, di saat kita berada di luar negeri, mindset tersebut mempengaruhi kita dengan sangat mudah membuat unfair comparison dengan negara lain sehingga tidak “malu” menyampaikan kejelekan-kejelekan “rumah tangga” sendiri. Karenanya wajah Indonesia yang akan terbentuk bagi outsiders adalah wajah suram, wajah tidak berwibawa, lemah, kusam, loyo dan berbagai imej negatif lainnya. Hal ini tidak bisa kita hindari karena kita yang sedang di luar negeri sejatinya adalah cerminan yang mewakili ratusan juta penduduk Indonesia lainnya. Kita adalah duta yang mewakili Indonesia dengan kapasitas kita masing-masing. Sederhananya, kita adalah Indonesia.

Kedua, jika mental menganggap negara sendiri inferior, lemah, kumuh, koruptif, dan sejenisnya ini tidak mampu kita ubah atau minimalisir setidaknya, ketika kita kembali ke Indonesia, saya pesimis kita bisa membangun Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Karenanya tidak heran, jika ada orang yang mempertanyakan begitu banyak lulusan luar negeri, tapi mengapa kita masih gini-gini aja? Banyak yang pulang dari luar negeri dan meneruskan kepemimpinan di berbagai lini di Indonesia, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Nahasnya lagi, bahkan tidak sedikit lulusan-lulusan hebat luar negeri “dimanfaatkan” untuk kepentingan negara lain.

Sikap mental
Saya pikir satu akar permasalahannya adalah sikap mental kita yang harus kita luruskan. Cara pandang kita terhadap negara sendiri. Mental yang melihat negara sendiri sebagai negara yang memiliki banyak potensi, negara yang memiliki banyak kelebihan, negara yang beradab, negara yang memiliki banyak kekuatan, negara yang sumber dayanya bisa mengurus diri sendiri sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus bergantung kepada negara lain terus-terusan. Jika ini tidak bisa kita pupuk secara masif, maka kita akan terus mendengar keluhan; Mengapa kita negara agraris, tapi bahan pokok seperti beras masih diimpor dari luar negeri? Kita mengakui punya banyak lahan perkebunan yang luas, tapi untuk tempe, gandum, gula, dan sejenisnya masih bergantung ke negara tetangga.

Ini baru persoalan sandang dan pangan, belum lagi kita tilik lebih jauh persoalan pengelolaan teknologi, otomotif, minyak, gas, emas, atau bahkan urusan militer, sepertinya kita masih butuh waktu lama untuk lepas dari “menjadi tamu di rumah sendiri”. Ini adalah beberapa substansi penting yang seyogiayanya menjadi catatan refleksi kita bersama dalam menyambut dan merayakan ulang tahun Indonesia tahun ini. Tidak larut dalam euphoria agustus dalam berbagai kegiatan-kegiatan artificial dan lupa dengan substansi dan semangat darah keindonesiaan kita. Dirgahayu ke-70 Republik Indonesia. Merdeka!

* Muhammad Adam, Mahasiswa program pascasarjana Leadership and Management di School of Education Flinders University, Adelaide, Australia. Email: adamyca@gmail.com

Mudahnya Beribadah di Australia

Citizen Reporter ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 6 Maret 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Photo Adam

***

OLEH MUHAMMAD ADAM, Penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship, melaporkan dari Adelaide

PERJALANAN studi saya ke Adelaide, Australia, saat ini memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk menyaksikan banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di Aceh. Salah satunya adalah hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Selama di Negeri Kanguru ini saya merasa tak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar bahwa masjid dan mushalla di sini tidak menjamur seperti halnya di Indonesia, apalagi di Aceh. Meski tidak banyak, tapi setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat.

Di Flinders University, misalnya, tempat saya kuliah sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat Jumat. Tak hanya di Australia, saat mengikuti short course di Amerika pun ketika masih mahasiswa, saya juga punya pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, akses ke tempat ibadah memang tak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan mushala atau masjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya amati teman-teman muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkretnya pada hari Jumat, mereka tetap memilih untuk izin tak ikut kuliah dan memilih menunaikan shalat Jumat jika ada kuliah pada saat bersamaan.

Yang saya rasakan di sini bahwa solidaritas kita sesama muslim meningkat pesat ketika kita menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli terhadap sesama pun justru berbiak lebih tinggi ketika kita berada di luar negeri. Kita kian terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika berada dalam kondisi yang jauh dari orang tua, keluarga, atau berbagai kemudahan yang biasanya ada di sekeliling kita.

Di Australia ini juga saya temukan banyak hal menarik di luar kampus. Misalnya, ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim di sini. Di Adelaide, misalnya, saya temukan sudah ada empat komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. Di sini ada Masyarakat Islam Australia Selatan (MIAS), Kajian Islam Adelaide (KIA), juga ada Pengajian Bapak-bapak yang disingkat PBB, di samping Komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalnya, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan para pengurusnya sedang menginisiasi madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orang tuanya studi atau kerja di Australia.

Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh, kelompok Pengajian Bapak-bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan Alquran secara bergiliran, kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan Alqurannya lebih tepat dan enak didengar. Terakhir, ditutup dengan tausiah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat Magrib berjamaah.

Jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Antusiasme mereka sangat tinggi. Tidak hanya sekadar datang, mereka juga membawa makanan untuk dinikmati bersama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilir di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tapi pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agama mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturahmi. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti pengajian ini mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi tentang akomodasi, kuliner, transportasi, bahkan lowongan kerja. Intinya ada banyak manfaat yang tak disangka-sangka dapat dipetik dengan menghadiri pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia dan selalu ada hikmahnya.

Mudahnya Beribadah di Australia (Versi Lengkap)

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

Dalam anjuran ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’ terkandung banyak pesan, salah satunya adalah supaya mata kamu lebih terbuka karena banyak yang sudah kamu lihat dari proses perjalananmu. Mungkin begitu perasaan yang tepat untuk mengambarkan apa yang saya alami sekarang di Australia. Perjalanan studi saya ke Adelaide, Australia memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk melihat dan menjalani banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di tanah air. Salah satunya yaitu hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Dari beberapa perjalanan saya ke luar negeri, Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman atau masyarakat sekitar terkait kekhawatiran mereka bagaimana kepastian dan keamanan untuk mengaplikasikan kepercayaan kita di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana tempat shalatnya? Kalau jumatan, ada mesjidnya tidak di kampus atau yang di dekatnya? Kalau cewek berjilbab dicurigai tidak? Pasti sudah mencari makanan halal di negeri barat ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan sejenis. Di satu sisi, wajar mereka memiliki ketakutan-ketakutan seperti itu karena mereka hanya menerima informasi dari sumber-sumber seperti media massa yang belum tentu seratus persen kebenarannya. Tetapi terkadang ketakutan-ketakutan yang terlalu berlebihan juga terkesan lebay menurut saya.

Pada faktanya justru apa yang dikhawatirkan oleh banyak orang yang umumnya (maaf) belum pernah ke luar negeri tidak seperti yang mereka pikirkan. Tidak sesadis yang ada dalam bayangan mereka. Saya merasa tidak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar jika mesjid dan musalla tidak menjamur seperti di Indonesia. Pun tidak banyak, setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat. Di Flinders University misalkan, tempat saya menempuh studi sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat jumat. Tidak hanya di Australia, dalam pengalaman saya mengikuti shortcourse di Amerika ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga memiliki pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, aksesnya memang tidak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan tempat ibadah seperti musalla atau mesjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi-kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya mengamati teman-teman Muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkritnya yaitu hari jumat, mereka tetap memilih untuk izin tidak mengikuti perkuliahan dan menunaikan shalat jumat jika ada kelas pada saat bersamaan. Saya tidak yakin akan ada semangat yang sama kuatnya pada saat dihadapkan dengan pilihan-pilihan penting ketika berada di dalam negeri. Mungkin akan sangat mudah untuk anda tunda shalat zuhur karena masih ada pekerjaan penting yang belum selesai anda selesaikan. Atau dengan gampangnya anda bilang shalat magrib di rumah aja jika anda pulang kantor meskipun anda tau tidak akan terkejar jika shalat di rumah. Ironi memang, ada banyak orang mengabaikan untuk memaksimalkan kemudahan yang ada di depan mata. Dalam kondisi dimana sumber dayanya tidak banyak, kita justru lebih all-out dalam menjalaninya. Solidaritas kita meningkat ketika menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli sesama lebih tinggi ketika berada di luar negeri. Kita semakin terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika kita berada dalam kondisi yang jauh dari orangtua, keluarga atau kemudahan-kumudahan yang ada. Makanya tidak heran jika ada orang yang alim justru di penjara bukan di pesantren.

Kembali lagi persoalan ibadah di Australia, saya menemukan banyak hal menarik tidah hanya di kampus. Di luar dunia kampus, saya melihat ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim sendiri. Di Adelaide, setidaknya saat ini saya menemukan sudah ada 4 komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. MIAS atau Masyarakat Islam Australia Selatan, ada KIA (Kajian Islam Adelaide), ada juga Pengajian Bapak-Bapak yang disingkat PBB dan juga komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalkan, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan saya mendapatkan informasi kalau para pengurusnya sedang menginisiasikan madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orangtuanya studi atau kerja di Australia. Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh kelompok Pengajian Bapak-Bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan ayat alquran secara bergiliran kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan alqurannya lebih tepat dan enak di dengar. Terakhir ditutup dengan tauziah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat ibadah magrib secara berjamaah.

Luar biasanya lagi, jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Melihat antusiasme mereka yang sangat tinggi layaknya membuat ibu-ibu atau bapak-bapak di kampung-kampung di Indonesia merasa cemburu. Tidak hanya sekedar datang, mereka juga membawa makanan untuk kemudian dinikmati bersama-sama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilirkan di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tetapi kegiatan-kegiatan pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agaman mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturrahim. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti kegaitan-kegiatan pengajian mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi seperti akomudasi, konsumsi, transportasi bahkan juga pekerjaan. Intinya ada banyak manfaat yang tidak disangka-sangka datang dengan menghadiri acara-acara pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia.