Belajar dari Whitney Houston

Baru-baru ini, dunia hiburan kembali hilang seorang penyanyi dan artis legendaris yang sangat populis yaitu Whitney Houston. Whiteney Houston menutup usianya yang 48 tahun dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dunia hiburan amerika, bahkan dunia gempar dengan kepergian Houston. Betapa tidak, nafas terakhir dihembuskan oleh Houston dalam acara akbar malam penghargaan Grammy di Los Angeles.

Berbagai media meliput berita tersebut, VoA saja setidaknya ada 6 berita yang tentang kepergian Houston. Secara berututan, [1] Minggu, 12 Februari 2012 berita berjudul “Penyanyi Whitney Houston Meninggal Dunia pada Usia 48 Tahun”, [2] Selasa, 14 Februari 2012 “Jenazah Whitney Houston Kembali ke Kota Kelahirannya”, [3] Selasa, 14 Februari 2012 “Pemakaman Penyanyi Whitney Houston Dilakukan Hari Sabtu”, [4] Sabtu, 18 Februari 2012 “Keluarga Whitney Houston Hadiri Acara Persemayaman Tertutup”, [5] Sabtu, 18 Februari 2012 “Keluarga dan Kawan Dekat Hadiri Pemakaman Whitney Houston”, [6] dan terkahir pada hari Minggu, 19 Februari 2012 dengan judul  “Whitney Houston Akan Dimakamkan Hari Ini”.
Meskipun menurut berita 18 Februari 2012 “Keluarga dan Kawan Dekat Hadiri Pemakaman Whitney Houston”  yang dilansir Voa bahwa sebab-sebab kematian Whitney Houston diperkirakan baru akan diketahui beberapa minggu lagi, menunggu hasil pemeriksaan toksikologi, namun banyak berita yang menyebutkan kalau Houston mempunyai beberapa sisi kelam.

Penyanyi kelahiran 9 Agustus 1963 itu masuk rehabilitasi atas kemauannya sendiri pada pertengahan 2011 lalu karena kecanduannya mengkonsumsi narkoba. Disamping itu, Houston ternyata juga perokok yang menyebabkannya menderita penyakit Emfisema. Tidak hanya itu, ternyata Houston juga seorang pecinta sesama jenis (lebsbian). Ada berita menyebutkan, kalau Houston menikah dengan Bobby adalah bahagian untuk menutupi hasratnya terhadap wanita.

Pelajaran Untuk Kita

Mendapatkanya mudah, tapi tidak semudah mempertahankannya.

Itulah ungkapan pelajaran yang dapat kita petik dari Houston. Artinya berada di puncak karir mudah untuk kita raih, tapi  jauh lebih susah mempertahankan popularitas itu untuk tetap berada di puncak. Inilah pejaran pertama.

Kedua, hampir menjadi budaya artis-artis amerika dan dunia, disaat karirnya sudah memuncak, mereka terjebak dalam karirnya. Rutinitas dan kesibukan mereka mencari kesenangan dunia, membuat mereka lupa dengan keluarga, suami, istri, anak-anak, dan sahabat. Seiring waktu,  dia semakin merasa sepi, sendiri tidak ada tempat untuk berbagi dan bercirita berbagai masalah yang dihadapi. Karena tidak bisa dipungkiri, sebagai manusia normal, legendaris sekaliber Houstonpun mempunyai masalah. Disaat seperti itu, pelampiasannya adalah narkoba. secara perlahan tapi pasti, memasuki dunia hitam narkoba tidak ada yang selamat. Kondisi seperti ini, juga tidak jarang dialami oleh artis dan penyanyi di tanah air.

Pelajarannya buat kita adalah, setenar, sepopulis, dan sekaya apapun kita, keluarga, terutama istri atau suami dan anak tidak boleh dilupakan. Mereka harus tetap jadi priotas kehidupan. Perhatian dan kasihsayang adalah yang utama, bukan kuuangan dan materi yang mereka harapkan. Houston sudah Houston telah menjual lebih dari 170 juta album dan single, bahkan bakat seni membawanya dari musik ke film dimana ia membintangi film hits seperti “The Bodyguard” dan “Waiting to Exhale”. Kalau dilihat dari segi materi, tidak ada yang kurang dari Houston, tapi belum tentu dia punya cukup perhatian dan kasihsayang.  Adagium, behind a great man, there is a greater woman sangat tepat untuk mengakhiri ulasan pelajaran dari Houston. Semoga bermanfaat!.