Belajarlah Memasak jika Ingin ke Luar Negeri

Note::: Tulisan ini sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Tribun/Kompas Gramedia) edisi Senin 9 Febuari 2015.  Silakan click di SINI untuk membaca di halaman situs media Serambi Indonesia.

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

TROEK kapai baro pula lada, itu pepatah bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Belajar masak justru pada saat sudah tak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai guru memasak.

Untuk sebagian orang, memasak mungkin urusan gampang. Tapi bagi saya, terlihat mudah awalnya, namun pada praktiknya rumit. Sudah dua minggu lebih saya di Negeri Kanguru ini, namun belum ada masakan saya yang memuaskan. Buktinya, masak tumis udang kalau tak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedas dan panas karena cuci muka setelah pegang cabai untuk tumis kol.

Menanak nasi pun kalau tak kelebihan air, ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadar, takaran, maupun citarasanya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang rumit. Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang tiga kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain.

Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauknya hampir tiap saat disiapkan oleh orang tua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) di mana makannya sudah masuk paketan yang ditangani pihak sekolah.

Sampai selesai kuliah S1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet.

Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk memasak, belanja urusan dapur saja hampir selalu diserahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuanlah yang kebagian tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada, anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.

Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, malah sering dilarang. Soalnya, menurut sebagian besar masyarakat kita, itu bisa jadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina pemilik rumah.

Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi masakan-masakan yang lezat oleh mertua perempuan atau istrinya.

Secara historis, saya tak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tak tahu bagaimana praktik masak-memasak zaman dulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan penjajah, karenanya diperlakukanlah seperti raja. Sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat. Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga di mana tanggung jawabnya mencari rezeki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.

Itu hanya asumsi-asumsi dasar saya saja, tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun, terlepas dari baik-buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggung jawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil bagian dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggung jawab pria. Lantas, apa tanggung jawab wanita? Istri melayani suami. Bukankah begitu Islam mengajarkannya?

Kalaupun kita mau bahas pada tataran ideal seperti di atas, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, justru semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang. Celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkretnya ada di dalam keluarga saya sendiri.

Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, ibu saya yang menanganinya. Tak ada maksud untuk menunjukkan kejelekan “perusahaan” rumah saya sendiri, tapi memang ada figur yang tak ada tanggung jawab dan tidak adil pembagian porsi kerja dan tanggung jawabnya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tak salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri mencuci pakaian, tak akan turun derajat kelaki-lakian seorang suami yang menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik inilah, saya pikir, semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktivis gender perlu dikonkretkan. Seharusnyalah keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik, perlu dilatih pada anak laki-laki semenjak dini, sehingga tak terasa canggung atau kaku seperti yang saya alami kini saat berinteraksi dengan alat-alat dapur di Negeri Kanguru.