Berguru Pada Pemilu Amerika

Photo dari gossipcop.com
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Amerika setelah 4 tahun silam. Pemilihan Langsung Presiden Amerika telah berlangsung sukses, dan menurut hasil sementara, Barack Obama ungguli Mitth Romney. Menurut update berita yang disajikan melalui grafis di website Voice of America Indonesia, http:// voaindonesia.com, Obama sudah mendapatkan 303 suara elektoral sedangkan Mitth Romney  206 (pada saat tulisan ini saya tulis).

Pentas politik pemilu merupakan bentuk praktek demokrasi prosedural yang berlangsung di setiap negara yang berpaham demokrasi. Pesta demokrasi adalah pesta rakyat. Pemilu adalah wadah bagi masyarakat untuk menggunakan hak politik dan mewakilkan seseorang untuk duduk di kursi politik.  Karenanya, banyak aktor demokrasi yang terlibat di dalam pemilu; pemilih, kandididat, penyelenggara (negara), dan pihak ketiga diantaranya media massa, analis dan pemantau international. Untuk merayakan hari penting ini, saya mencoba untuk melihat beberapa pelaku demokrasi tersebut dalam kancah politik Amerika dari sisi lain yang mungkin banyak pelajaran yang bisa kita aplikasikan di Indonesia.

Peran utama kesuksesan pemilihan Presiden Amerika tahun 2012 adalah pemerintah. Tanggun jawab pemerintah sebagai penyelenggara pemilu benar-benar ditunjukkan oleh pemerintah sebagaimana mestinya. Banyak fakta yang membuktikan kesiapan pemerintah dalam menyelenggarakan pemilu. Fakta utama yang paling menarik dan seyogianya secepat mungkin diadaptasi di Indonesia adalah pemungutan suara dengan menggunakan teknologi (e-voting).

E-voting banyak memberikan manfaat  tidak hanya bagi pemilih, tetapi juga kandidat, pemerintah, serta dunia international. Bagi pemilih, dengan layanan e-voting tentu saja dapat bermanfaat dari segi waktu dan tenaga. Orang akan tetap bisa bekerja dan beraktifitas dengan normal tanpa harus disibukkan dengan antrian yang panjang. Dokter tetap bisa mengoperasikan pasiennya, pengajar tetap bisa mengajar peserta didiknya, sopir tetap bisa mengantar penumpang, dan sebagainya. Dampaknya, tidak terjadi kelumpuhan di semua lini. Ekonomi tetap hidup, masyarakat tidak lapar karena pemilu. Ini adalah dampak langsung dari e-voting.

Selanjutnya untuk kandidat, pemerintah, dan dunia international, dengan komputerisasi pada pemilu dapat meminimalisir angka kecurangan dalam pemilu. Disamping itu, hasil real-count yang cepat adalah manfaat paling besar buat kandidat dan masyarakat international. Tidak harus menunggu 3 atau 4 minggu baru mendapatkan hasil pasti. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia harus secepatnya mereplikasi sistem e-voting.

Kesiapan pemerintah juga terlihat dalam pemenuhan hak bagi pemilih. Peran negara sebagai fasilitator jelas terlihat dalam pemilu Amerika. Hebatnya tidak hanya dalam situasi normal, bagi masyarakat yang baru saja diterpa badai sandy juga mendapat perhatian lebih. Masyarakat yang tinggal di New Jersey misalkan, pemerintah negara bagiannya tetap berupaya supaya masyarakatnya tidak kehilangan hak pilih dalam pemilu 2012.  Seperti dituliskan di voaindonesia.com pada Rabu, 07 Nopember 2012, Gubernur Chris Christie mengatakan “Tidak ada alasan kenapa orang tidak bisa mencoblos. Kita akan membuat proses yang penuh, adil, transparan dan terbuka”.

Tidak hanya itu, untuk masyarakat lansia dan cacat sekalipun juga bisa memastikan hak politiknya bisa tersalurkan. “Bagi pemilih yang tidak dapat meninggalkan rumah, para pejabat pemilu telah mengubah beberapa fasilitas layanan kesehatan menjadi TPS sederhana guna memastikan warga lansia tetap dapat memberi suara mereka”. begitu tulis VoA dalam beritanya pada tanggal Rabu, 07 Nopember 2012.

Kedua, belajar dari kandidat-kandidat yang diusung oleh masing-masing partai. Kalau anda menonton debat-debat publik yang ditampilkan di media massa baik cetak maupun elektronik, maka anda akan melihat bagaimana kedewasaan para kandidat dalam berdebat. Saling membantah dan menyangkal satu sama lain dengan penuh kedewasaan. Terkesan kadang-kadang seperti perdebatan anak-anak yang saling mencela dan memaki, namun etika dan sikap menghormati tetap dijungjung tinggi. 

Selain itu, pertaruhan argumen yang dimunculkan dalam debat. Kecemerlangan solusi dalam menyikapi persoalan. Semua itu menjadi ajang pertaruhan intelektual yang dapat menjadi penentu bagi pemilih. Debat tidak hanya sebatas debat, namun lebih dari itu, debat menjadi alat ukur kompetensi kandidat yang maju sebagai calon pemimpin. Dengan kata lain, pemilih sudah berada tahap rasional bukan lagi pemilih emosional.

Kalau melihat kedewasaan kandidat tampaknya kita harus belajar pada pada Mitt Romney dan Barack Obama. Budaya politik Amerika yang “mewajibkan” seseorang kandidat yang kalah untuk menyampaikan pidato kekalahannya di depan para pendukungnya, dan menyampaikan selamat kepada pemenang adalah nilai plus yang jarang kita lihat di Indonesia. Coba anda bayangkan, di saat media seluruh dunia mengabarkan kekalahan, tapi Mitt Romney harus menyampaikan Pidato Kekalahannya di depan pendukungnya dan rakyat international. Namun dengan penuh semangat Romney menyampaikan “Saya baru saja menelpon Presiden Obama untuk mengucapkan selama atas kemenangannya. Pendukung dan tim kampanyenya juga pantas mendapatkan ucapan selamat”. Kemudian Romney melanjutkan “Negara ini, seperti yang kalian tahun sedang berada pada titik kritis. Pada masa seperti ini, kita tidak bisa terjebak dalam cekcok partisan dan pertengkaran politik. Para pemimpin kita harus mengjangkau semua pihak untuk mengerjakan tugas dari rakyat”.

Tidak hanya sepihak, kandidat yang memenangkan pertarunganpun tidak sungkan untuk mengucapkan terimakasih dan menyelamati rivalnya. Obama mempraktekka hal itu dengan menyelamati Romney, VoA menuliskan dalam liputannya tanggal 7 November 2012, “Saya ingin menyelamati Gubernur Romney atas kampanye yang bersemangat. Saya tahu bahwa pendukungnya sangat antusias dan terlibat dan bekerja sama kerasnya hari ini”. “Kami mungkin telah bertempur dengan ganas, namun itu hanya karena kami sangat mencintai negeri ini dan sangat peduli akan masa depannya”. Kita rindu politis seperti Obama dan Romney di Indonesia yang siang untuk menang dan kalah.

Terakhir, peran media massa yang memblow up informasi tentang pemilihan Amerika. Saban detik media elektronik mengabari perkembangan pemilu. Jumlah pendukung, kondisi TPS, antusiasme pemilih, kekecewaan pendukung, dan sebagainya selalu diupdate setiap saat. Peran media seperti Voice of America Indonesia yang mempunyai liputan khusus tentang Pemilihan Amerika semenjak beberapa bulan lalu, sangat besar manfaatnya dalam menyampaikan informasi untuk masyarakat Indonesia.


VoA Indonesia yang secara berkala mengupdate informasi tentang Pemilihan Amerika tidak hanya berfungsi sebagai information media, tetapi juga sebagai “guru” untuk masyakarat. Melalui media, VoA, rakyat Indonesia terutama para pengguna jejaring sosial di twitter dapat bertanya seputar pemilu Amerika, dan VoA sudah menyediakan crewnya untuk melayani pertanyaan masyarakat, seperti Mbak Retno Lestari dan Ade Astuti. Saya sangat beruntung juga bisa berinteraksi dengan mereka hari ini melalui twitter. Selain itu, masyarakat juga dapat mencari berbagai informasi tentang pemilu Amerika, mulai dari sistem pemilu yang sangat “complicated”, presiden Amerika dari masa ke masa, profil kandidat sampai dengan kecenderungan pemilih yang semua itu menjadi input pengetahuan tersendiri tentunya. Pada titik ini, saya pikir media, dalam hal ini VoA, sudah menjalan fungsinya sebagai diamanatkan oleh UU No 40 tahun 1999 dimana media tidak hanya berfungsi sebagai pengontrol sosial, ekonomi, penghibur, tetapi juga sebagai pendidik (Pasal 3 Ayat 1).  

Terlepas dari berbagai kekuarangan dan ketidaksempurnaan sistem pemilu di Amerika, urain diatas dapat menjadi sisi lain dari pemilu Amerika, dan hendaknya kita bisa berguru kepada mereka, terutama pemerintah. Semoga!

@adhamisadam
@17.40 WIB

Para pendukung Barack Obama bersorak setelah mendapat berita bahwa Presiden terpilih kembali. (Reuters/Jeff Haynes).
Photo saya ambil dari situs VoA.