Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu ‘dimodifikasi’ untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.

Salah satu suasana pengajian.
Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah…saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga…wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya…yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He……………

Suasana Pengajian pada malam hari.
Ya Allah… show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.