GERAKAN MARI SEKOLAH: FREQUENTLY ASKED QUESTION

Berhubung GMS belum memiliki laman resmi, kami memutuskan untuk posting informasi tentang GMS di halaman ini dengan tujuan untuk memudahkan dalam penyebaran informasi tentang GMS. Anda juga dapat mengunduh informasi ini di link berikut https://app.box.com/Informasitentanggms atau click di SINI.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) tentang Gerakan Mari Sekolah. FAQ ini dibagi dalam 5 katagori yaitu (1) Dasar-Dasar Umum tentang GMS; (2) Informasi seputar anak-anak penerima beasiswa; (3) Informasi untuk donator; (4) Informasi untuk Pendamping anak; dan (5) Informasi lebih lanjut tentang GMS.  Continue reading

Sikap Mahasiswa Aceh di Australia atas Pernyataan PM Abbott

Berikut ini adalah pandangan  saya tentang kisruh pernyataan PM Tony Abbott, kasus narkoba dan gerakan pengumpulan koin. Saya posting pendapat-pendapat saya sebelumnya di BLOG ini. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai wartawan kemudian merelease nya di media online Viva News.
Ini adalah versi media—yang versi lengkapnya bisa anda baca di blog saya atau click HERE.
Terimakasih

Photo dari: pamongreaders.com

Hadi Suprapto,  Zulfikar Husein (Lhokseumawe) Selasa, 24 Februari 2015, 11:40 WIB

VIVA.co.id – Mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Australia berharap hubungan antara Indonesia dan Australia tidak terganggu karena pernyataan Tony Abbott soal bantuan tsunami. Mahasiswa juga mengapresiasi aksi mengumpulkan koin yang dilakukan di Indonesia.

“Saya merasa sedih mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta balas jasa atas bantuan tsunami yang sudah diberikan. Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi,” kata Muhammad Adam kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.

Mahasiswa yang juga merupakan korban tsunami pada 2004 silam ini menilai penting memikirkan lagi manfaat dari gerakan tersebut. Ia berharap, gerakan itu tidak sampai menjadi blunder bagi hubungan kedua negara.

Adam juga menyesalkan pernyataan PM Australia Tony Abbott. Ia menilai, sebagai seorang pemimpin, Tony Abbott tidak sepantasnya bersikap seperti itu. “Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak,” kata dia.

Secara pribadi, kata Adam, ia melihat kasus terpidana mati Bali Nine dan tsunami berbeda. Kata dia, dana tsunami adalah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.

“Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal,” katanya.

Ia berharap baik Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba. Sebab menurutnya, efek narkoba memang memiliki risiko mahal yang harus ditanggung.

Untuk LPSDM Aceh; Syarat TOEFL terlalu Tinggi

Ini adalah Kritikan Konstruktif Saya untuk Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Aceh (LPSDM). Saran ini saya tuliskan dan dipublikasi di Harian Serambi Indonesia pada saat LPSDM sedang membuka pendaftaran beasiswa tahun 2013.

***

Sumber Gambar : http://billwalker.com

SEBELUMNYA, kami bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh yang sudah melanjutkan kembali program beasiswa-yang sempat cooling down beberapa waktu. Selanjutnya, kita juga sangat mengapresiasi kerja keras Pemda, terutama LPSDM yang telah menjajaki kerja sama dengan banyak perguruan tinggi di luar negeri. Tahun ini, misalnya, khusus untuk Beasiswa S1 yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Pemda dan Georgetown University School of Foreign Service, persyaratan kemampuan Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan Skor TOEFL minimal 525, menurut saya kurang tepat. Angka ini terlalu tinggi, jangankan bagi para siswa, para pengajar sekalipun belum tentu mampu meraih skor TOEFL setinggi itu.

Saya paham bahwa kuliah di luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa asing (Bahasa Inggris, dll) sesuai standar perguruan tinggi tersebut. Seharusnya untuk tahap seleksi administrasi, mungkin cukup di bawah 450. Setelah lulus, selanjutnya LPSDM menempa mereka dengan pelatihan intensif supaya bisa memenuhi kualifikasi bahasa yang diakui dunia international.

Dengan menetapkan syarat TOEFL <450, Saya yakin akan lebih banyak anak-anak Aceh yang bisa mendaftar beasiswa tersebut. Kalau tidak, tujuan pemerataan kesempatan seperti yang diharapakan hanya bersifat semu alias lips service saja. Karena faktanya, memang hanya sedikit anak di usia SMA memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus.

Untuk itu, hemat saya, kalau tujuannya untuk pemerataan kesempatan dan peningkatan SDM, jika pun tahun ini tidak bisa diubah lagi, maka ada baiknya untuk kesempatan beasiswa yang akan datang. Saya yakin bahwa peran LPSDM melalui program beasiswa akan menentukan wajah Aceh 20-30 tahun yang akan datang. Semoga!

Muhammad Adam
Guru Terpencil di Aceh Utara
Email: adamyca@gmail.com

KDAU Buka Pendidikan Demokrasi

Berita ini adalah Salah satu press release di Media ketika Saya menjalankan program Pusat Kegiatan Anak dan Remaja (PAKAR) untuk Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara tahun 2013.  Berita ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia edisi Sabtu, 24 Agustus 2013.

***

Sumber Gambar : http://cvs-bg.org

LHOKSEUMAWE – Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) membuka pendidikan demokrasi gratis kepada siswa dari sejumlah sekolah di Lhokseumawe dan Aceh Utara selama enam bulan, mulai Agustus sampai Januari 2014. Program pembelajaran tersebut bekerjasama dengan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) Jakarta.

“Jumlah peserta dari 16 sekolah mencapai 52 orang. Materi yang diajarkan kepada mereka di antaranya, pengetahuan antikekerasan terhadap anak dan perempuan, antikorupsi, ilmu politik tingkat dasar, hak asasi manusia, lingkungan, dan juga ilmu jurnalistik dasar,” kata Sekjen KDAU, Muhammad Adam, Jumat (23/8).

Selain itu lanjut Adam, pihaknya, juga akan melatih guru untuk menjadi guru pendamping bagi pelajar yang mengikuti pendidikan dimaksud. Sementara, pengajarnya terdiri dari para alumni sekolah demokrasi dan instansi terkait.(c37)

Story_Together, We make change!

Meeting at STAIN Malikussaleh

Sharing at STAIN Malikussaleh Lhokseumawe on Oct 5, 2012.

In the early of October, I invited Joshua Yardley, an English Language Fellow who works for RELO (Regional English Language Office), to visit my region in Lhokseumawe-Aceh. Josh bases in Banda Aceh where he is serving for human resource development (LPSDM), a department at Aceh governor office. It takes about 6-8 hours driving by bus to reach Lhokseumawe.

Student welcome Joshua as he step on the school.


Joshua stayed at my boarding school, Ruhul Islam for 3 days (2 nights) from 4-6 October 2012 . Ruhul Islam is a private Islamic boarding school in which combines formal school system (SMP and SMA) with Islamic studies with balance curriculum, this combination so we name it Dayah Terpadu. This such of Islamic boarding school is well-known as Pesantren in Java, Surau in West Sumatra. Ruhul Islam located in Tanah Luas-North Aceh, a rural area that needs about 1.5 hours to reach from Lhokseumawe.

Female Students are listening to Joshua.

Joshua attended 3 meetings within the visit. I took him to STAIN Malikussaleh Lhokseumawe to share his experience in English teaching to the students of English department who are going to be English future teachers. The meeting was about 2 hours on Friday morning. After Jum’at Prayer, I facilitated an informal discussion with the teachers at Ruhul Islam. Finally, on Saturday, Joshua came to Malikussaleh University to observed and shared with the lecturers who were attending an online lecture series hosted by Mr. Eran William (RELO Officer) in Jakarta called Shaping The Way We Teach English.

Malikussaleh University  Meeting.


The meeting with the teachers of RUIS was way to identified capability, skills, problems, and challenges faced by the teacher in the boarding. This discussion might be an early assessment for Joshua and me to make a teacher training in the near future in order to upgrade their capacity.

Discussion with teachers at Ruhul Islam Boarding School.


In addition, Joshua also gave a motivational speech to the students of Ruhul Islam on Friday evening after magrib prayer. The students were totally enthusiastic and interest to listen to Joshua’s speech. A students raced her hand and asked a question “How could I practice my English with native speaker while I am studying at the boarding?”. Joshua gave her and other students a way to participate in Pen Pal system. It is not only helping them to practice their English writing skill but also sharing information and making strong relationship while getting to know each other. At present, I’m currently helping the students to set up email address in order they can use it to penpals than use regular mail system. Joshua is doing his best assistance to link the students with his pals, teachers, and colleagues in United States of America. He had got 7 persons already.

Motivational Speech to students.


Anyway, I also took Joshua to a house of tourist destination, Rumoh Cut Mutia in Matang Kuli-North Aceh who was officially admitted as national heroin from Aceh. Besides, Joshua also tasted Acehnese cuisine, Kuah Pliek U (read; How to cook) for his lunch on Friday, and Rujak in the evening. He also ate Mi Rebus Udang in which currently becomes his daily meal in Banda Aceh.

Joshua is enjoy eating Kuah Pliek U.
I wondered what to prepare for his Lunch.


Joshua was surprised with the warm welcome from the students, teachers and leader at boarding school. Besides cultural reason, the students are never visited by foreigner whose language is English, that’s why they struggled to wait his arrival until 11.30 PM.

Leader welcomes Joshua

I didn’t ask Joshua to leave me any comment or suggestions about the school, but I am totally sure that he was concerned with the students and teachers. He promised that he will return to boarding and conduct a teacher training, he even plan to invite other ELFs along with fellows from other universities to participate. In short, Joshua and I believe that “together, we can make change”. For your information, I am being in contact with Joshua about the training, and we plan to make it on February 2013.

Leader gave a Bungong Jaroe (Gift) to Joshua.


Finally, I am totally thanksfull to Eran William, the officer of RELO at US Embassy in Jakarta who had linked me with Joshua. I knew  Eran when I presented my service project, English Capacity Building, at @america in Jakarta on June 2-3, 2012. The conference presented to Kumunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI) and managed by CCE Indonesia and The U.S. Embassy Jakarta, and sponsored by The U. S. Department of State.  On behalf of my school, I do thank to RELO for sending  the materials to my students at the school.

Do you know, what the style is it?
Group picture with students before leaving.


P.S.
Joshua wrote stories about his visiting experiance. read them HERE !

Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu ‘dimodifikasi’ untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.

Salah satu suasana pengajian.
Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah…saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga…wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya…yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He……………

Suasana Pengajian pada malam hari.
Ya Allah… show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.

Guru Dayah Ikut Pertukaran Pemuda ke Australia

LHOKSUKON – Guru Dayah Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Muhammad Adam (25) terpilih ikut program pertukaran pemuda muslim yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Sebanyak sepuluh pemuda se-Indonesia mengikuti pertukaran pemuda antara Indonesia-Australia tersebut. Adam akan berangkat ke Australia 11 Juni mendatang.

“Proses pendaftaran November 2011 lalu. Kedutaan Besar Australia di Jakarta bekerja sama dengan Universitas Paramadina Jakarta yang melakukan seleksi. Saya ikut tes wawancara 7 Februari lalu, dan akhirnya 15 Maret dinyatakan lulus dan berhak berangkat ke Australia. Panitia memberikan syarat, pendaftar harus aktif di organisasi muslim di Indonesia,” sebut Adam kepada Serambi, Minggu (18/3).

Ditambahkan, dirinya akan berada di Australia 11-24 Juni mendatang. “Kami akan dibawa melihat bagaimana kegiatan umat muslim di Australia, menggelar sejumlah pertemuan dan diskusi dengan organisasi muslim di sana. Seluruh biaya keberangkatan dan selama berada di Australia ditanggung oleh Kedutaan Australia di Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, pihaknya akan belajar banyak bagaimana perkembangan organisasi muslim di Australia. “Semoga pengalaman yang didapat di sana bisa dipraktikkan nantinya di Aceh Utara,” pungkas Adam.(c46)

Ini adalah publikasi di Media Serambi Indonesia Pada tanggal 19 Maret 2012.
Sumber Asli: Serambi Indonesia

English by Nature di Media Cetak Serambi Indonesia

Siswa Belajar Bahasa Inggris Metode Outbond
Peserta outbound beriteraksi menggunakan bahasa Inggris di halaman Sukma Panggoi Lhokseumawe, Minggu (29/1).SERAMBI/JAFARUDDIN
LHOKSEUMAWE – Sebanyak 20 peserta yang terdiri siswa, mahasiswa, dan masyarakat dari Aceh Utara dan Lhokseumawe, Minggu (29/1) mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dengan metode outbond (di alam terbuka-red) di Lapangan Sukma Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Kegiatan tersebut diadakan Lembaga Plus Institute Lhokseumawe.

“Kami melihat metode outbond sangat efektif untuk mengajarkan bahasa inggris, karena peserta dapat berinteraksi langsung dengan menggunakan bahasa Inggris tanpa harus memikirkan benar atau salah dan tak membosankan,” kata Instruktur Plus Institute, Muhammad Adam dalam siaran pers yang diterima Serambi, kemarin.

Dikatakan, kegiatan itu dilaksanakan setiap akhir pekan dan pada hari libur, sehingga siswa dan mahasiswa dapat mengikutinya dengan maksimal.(c37)

Sumber: Harian Serambi Indonesia

Usman-Adam Pimpin Komunitas Demokrasi Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Pasangan Muhammad Usman dan Muhammad Adam terpilih sebagai Koordinator dan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Badan Pelaksana Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) periode 2012-2014. Kepastian itu diperoleh, setelah Usman dan Adam  meraih suara terbanyak dalam Rapat Umum Anggota (RUA), KDAU ke-I, Senin (23/1/2012) sore.

Usman–Adam yang mengantongi 18 suara berhasil unggul atas pasangan Amru Alba Abqa- Fauzan Saputra yang mengantongi lima suara. Setelah terpilih, pasangan usman dan Adam langsung ditetapkan sebagai Koordinator dan Sekjend KDAU Periode 2011-2014 oleh pimpinan sidang Jafaruddin, Nurhaslita Sari dan Faisal.

Saat mulai pemilihan nama-nama yang diusulkan adalah Jafriadi, Nurhaslita Sari, Syifa, Fauzan Saputra, Muhammad Usman, Muhammad Adam. Namun, calon lain yang diusul itu mengundurkan diri. Dari 34 anggota yang memberikan suara secara langsung 18 orang, selebihnya melalui pesan singkat (SMS). Pada pemilihan Badan Pengurus KDAU, terpilih sebagai sebagai Ketua Amru Alba Abqa, Sekretaris Fauzan Saputra.(c37)

Sumber: Serambi Indonesia

Pengumuman Kelulusan Siswa SDAU

Orang gagal selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang sukses selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya.
(George Bernard Shaw)

Dibawah Ini adalah Pengumuman Sekolah Demokrasi Angkatan Pertama Tahun 2011.

Bismillahirrahmanirrahim
Yang terhormat para siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara.
Satu tahun sudah kita bersama, belajar tentang  demokrasi dan mempraktekkan demokrasi bersama-sama. Satu tahun, tentu banyak hal yang sudah terjadi. Kita pernah tertawa dan menangis bersama, hari ini kita sudah menjadi satu keluarga besar yang semoga ini menjadi modal awal bagi kita dalam melakukan perubahan-perubahan di daerah kita.

Terimakasih banyak untuk semua kontribusi teman-teman selama satu tahun ini, kontribusi teman-teman merupakan faktor utama dari pelaksanaan SDAU 2011.

Kini tiba saatnya kami mengumumkan daftar peserta yang telah lulus dari Sekolah Demokrasi Aceh Utara tahun 2011.
Mewakili semua teman-teman pelaksana SDAU izinkan kami menyampaikan permohonan maaf andai dalam penyelenggaraan SDAU tahun 2011 banyak hal yang tidak sesuai harapan.
Terimakasih.

Wassalamualaikum Wr Wb

Untuk membaca di Website Sekolah Demokrasi Aceh Utara, silakan click disini.

No Nama
1 Amru Alba Abqa
2 Fauzan Saputra
3 Ade Akhmad Ilyasak, SH.
4 Muhammad Adam
5 Muhammad Usman, S.Pd.I
6 Junaidi
7 Jafriadi
8 Baihaqi
9 Jafaruddin
10 Rahmad
11 Syifaiyah
12 Wardi
13 Nurhaslita Sari
14 Muhammad Nasrullah, S.Pd.
15 Abdul Rajab
16 Rita Reziana
17 Raisa Agustiana
18 Mustafa Kamal. M
19 Salissufardi, AMS. SE.
20 Kasmoini
21 Marliana
22 Abdullah
23 Aisyah, S.Pd.
24 Jefri Susetio
25 Laila
26 Anas, S.Pd.I
27 T. Irfansyah Deta
28 Muammar
29 Anwar
30 Faisal
31 Ishadi Ishak
32 Safridawati
33 Yuliana Arjuna, ST.