Constitution Building for Democracy

International IDEA and the Barcelona International Peace Resource Center are partnering to offer a course on Constitution Building for Democracy, 21-25 November 2011 in Barcelona, Spain.
Objectives:
This course is aimed at professionals interested in developing their knowledge on how constitution building practices influence the protection of political and other rights and liberties as a means to building democracies that resolve conflicts peacefully.  Participants will be individuals working in political and technical aspects of democratic reform and conflict management within a range of national and international institutions. The interactive methodology aims, through exercises and case studies, to ground the normative aspects into practical realities so that participants of the training will be able to benefit from each others’ experiences and:
  • Improve their understanding of and engagement in constitution building processes
  • Be able to identify viable constitution building practices that are suited in their own contexts or the contexts in which they work
  • Have broader options on how to bridge the sociological divisions on human rights issues
  • Use constitution building to solve some of the challenges of building a sustainable democracy
Constitutions do much more than establish government and regulate its relationship to citizens – for many states, they have become tools to manage crisis and conflict, build inclusive democracies and lay the foundation for a culture of human rights. Constitution building is a political process aimed at addressing the challenges that modern democracies are facing.
Constitutional reform has become a characteristic part of intrastate conflict resolution, peace building, democratic reform and equitable economic development. National stakeholders and international professionals who work in these fields must have a competent understanding of the process of constitution building, the challenges and constraints during these processes as well as the realistic opportunities for political and social transformation. This course will address what kind of practices will help citizens, leaders and their supporters build democratic, sustainable constitutions.

For Further Information, Please Click HERE

International Human Rights Training Program in Canada

33rd annual International Human Rights Training Program, June 3 – June 22, 2012
We are delighted to announce that the application period for the 33rd annual International Human Rights Training Program (IHRTP) is now open and we will be accepting applications until November 21st, 2011. We look forward to another inspiring three-week program and the opportunity to meet more than 120 participants from around the world.
The IHRTP is intended for human rights workers and educators from non-governmental organizations, National Human Rights Institutions, government bodies and educational institutions. The goal of the IHRTP is to strengthen the capacity of human rights organizations to undertake human rights education efforts aimed at building a global culture of human rights. The curriculum is based on principles of adult experiential learning in which participants and facilitators engage in a process of mutual teaching and learning.
“This training program is an important Canadian contribution to the spread of human rights and democratic principles around the world,” says Ian Hamilton, Executive Director of Equitas. “Through the IHRTP, participants gain greater confidence in their abilities as well as the skills and motivation to become effective human rights champions upon their return home”.
If you wish to attend the 2012 IHRTP, find below information about the application process, the application form and the memorandum of agreement. Please note that the application form, the memorandum of agreement and the other supporting documents must be received BEFORE November 21st, 2011.
Please click HERE  for further information. 

Peraih Beasiswa LN Ingin Jadi Konsultan Bahasa

MUHAMMAD Adam (kanan) menerima sertifikat dari Program Director OPIE-Ohio University Dr Gerry Krzic PhD. FOTO/IST

MUHAMMAD Adam kini sibuk mempersiapkan konsep untuk mendirikan lembaga Kolsultan bahasa dan English Community. Adam adalah seorang mahasiswa berprestasi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe. Selama kuliah, Adam telah banyak meraih prestasi dari sejumlah perlombaan yang pernah diikutinya di tingkat lokal dan nasional.

Adam adalah dua dari mahasiswa di Aceh yang menerima beasiswa untuk belajar ke English Language Study Program (IELSP) Universitas Ohio, Amerika Serikat pada Tahun 2010 selama dua bulan lebih. “Pelamar beasiswa itu sebanyak 2.800 orang, tapi Alhamdulillah saya berhasil  meraih beasiswa itu,” katanya.

Adam mulai serius menekuni bahasa Inggris sejak di SMP. Saat kuliah di STAIN Malikussaleh, ia memilih Tarbiyah Bahasa Inggris. Selama kuliah, anak sulung dari lima bersaudara itu juga dipercayakan mewakili kampusnya mengikuti lomba tingkat daerah dan nasional.

Adam juga mengajar di Lembaga kursus Arizona Institute Lhokseumawe dan Dayah Terpadu Ruhul Islam Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

Tahun 2007, Adam juga mulai menjadi staf investigasi lembaga Pos Bantuan Hukum dan Pengaduan Pelanggaran Hak Azasi Manusia Aceh Utara (PB-HAM). “Ini pengalaman yang cukup menarik bagi saya, karena saat itu sedang masa transisi konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan RI,” katanya.

Adam uga bergabung mitra Save the Children dalam Program Family Based Care (FBC) selama dua tahun. Sedangkan di organisasi internal kampus, Adam juga pernah menjadi ketua Departemen Pendidikan BEM STAIN. Pria kelahiran Baktya itu juga aktif menulis artikel di Serambi Indonesia dan media lokal lain. “Target saya kuliah ke luar negeri dan ingin mendirikan lembaga konsultan bahasa,” katanya.  * jafaruddin

The News was published on mass media Serambi Indonesia on Wednesday September 14, 2011.
Source : Serambi Indonesia

Kontrak Belajar Sanggar Demokrasi Media dan Politik

Proses-proses diskusi dalam Kelas online Media dan Politik diharapkan merupakan proses pergumulan paradigma, diskursus, prespektif, dan pendapat diantara peserta. Diskusi yang demikian diharapkan dapat saling memberikan kontribusi bagi sesama peserta dan juga antara resource person, moderator, dan peserta.
Bertujuan untuk menjaga proses diskusi dan proses berbagi yang sehat, maka seluruh peserta dalam Kelas online Media dan Politik diharapkan untuk menaati kode etik sebagai berikut.

  1. Peserta wajib berkontribusi dalam semua penugasan baik dalam bentuk penugasan membaca, menulis, hingga berdiskusi.
  2. Peserta dalam memberikan kontribusinya haruslah memiliki argumen dan dasar pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.
  3. Tugas yang dibuat merupakan karya sendiri yang orisinil dan buka plagiat dari karya orang lain.

Peserta dalam berdiskusi dilarang melakukan hal-hal berikut:

  1. Memberikan komentar dalam satu kalimat yang tidak memiliki arti;
  2. Memberikan komentar dengan menjatuhkan pribadi peserta lain;
  3. Memberikan komentar yang menyinggung SARA dalam konteks menghina, merendahkan identitas peserta lainnya;
  4. Debat kusir dan tidak berfokus pada permasalahan yang dibahas.

Peraturan tersebut penting agar semua peserta dapat memberikan kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan secara logis dan akademis.

Mencetak Dai yang Ahli Bahasa Asing

Santri Dayah Terpadu Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara sedang praktik di ruang laboratorium IPA dayah tersebut.
SUASANA sepi terlihat saat Serambi mengunjungi Dayah Terpadu Nurul Islam di Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Tak ada petugas di pos penjagaan dayah itu. Hanya seorang santri laki-laki sedang menyapu halaman dayah. Sebagian besar santri sedang libur. Hanya sebagian kecil yang bertahan di dayah.

Dayah itu didirikan 26 Oktober 1988 oleh Drs Tgk H Amri Ahmad. Saat itu, dunia pendidikan di kecamatan itu belum memadai. Karena semua fasilitas pendidikan terkonsentrasi di Kota Lhokseumawe. Konsepnya, pendidikan terpadu yaitu menggabungkan kurikulum dayah salafi dan modern. Tujuannya, agar santri yang lulus dari dayah itu menjadi kader dakwah (dai) dan fasih berbahasa asing.

“Kami ingin lulusan dayah ini bisa menjadi pendakwah yang cerdas, menguasai bahasa asing baik Arab dan Inggris guna menyampaikan ajaran Islam ke seluruh pelosok negeri,” ujar Ketua Pengembangan Lembaga Bahasa Asing Ruhul Islam, Muhammad Adam SPd, didampingi pengasuh asrama dayah itu, Tgk Mahdi Idris, kemarin.

Untuk mencapai target tersebut, menurutnya, fasilitas dayah pun dilengkapi. Sekarang, dayah itu memiliki laboratorium bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, laboratorium IPA, perpustakaan, dan kerajinan menjahit. Santri yang kini berjumlah 362 orang diasuh 46 guru yang umumnya alumnus Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) Gontor Ponorogo (Jawa Timur), Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan sejumlah dayah salafi di Aceh.

Seluruh santri diwajibkan berbahasa Inggris dan Arab pada pagi hingga siang hari saat santri menimba ilmu di bangku SMP dan SMA di dayah itu. Setelah zuhur, mereka diwajibkan belajar bahasa asing. “Usai magrib sampai tengah malam, mereka belajar kitab kuning,” ujarnya. Ditambahkan, dayah itu terus berbenah dalam upaya mencetak pendakwah (dai) yang ahli bahasa asing.  * masriadi sambo

Selasa, 16 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia

Kelas Bahasa Inggris Primadona Santri

180811foto.8_.jpg
Santri Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, memperlihatkan buku kumpulan puisi karya mereka
|
UNTUK memicu kreativitas santri, Dayah Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara mengadakan aneka kegiatan ekstrakurikuler (eskul). Ada enam bidang ekstrakurikuler yang kini dikembangkan yaitu kelas bahasa Inggris, bahasa Arab, menulis, sanggar tari, kaligrafi, dan tim olahraga. Namun, sejauh ini kelas bahasa Inggris menjadi primadona para santri.

Seluruh santri bergabung di kelas bahasa Inggris. “Sedangkan di kelas lain, tidak semua santri bergabung. Bahasa Inggris menjadi primadona santri,” sebut Ketua Pengembangan Lembaga Bahasa Asing (PLBA) dayah tersebut, Muhammad Adam SPd, kemarin.

Prestasi kelas bahasa Inggris ini pun lumayan bagus. Santri dari kelas bahasa Inggris ini menjadi juara satu lomba bahasa Inggris tingkat Aceh Utara selama dua tahun berturut-turut yaitu 2005 dan 2006, juara dua lomba bahasa Inggris se-Aceh pada tahun yang sama, dan tahun 2007 sampai kini dayah itu rutin menjadi juara dua dalam lomba bahasa Inggris tingkat Aceh Utara.

Untuk kelas menulis, kelompok ini telah menerbitkan kumpulan puisi secara indie dengan judul “Munajat Untukmu”. Buku ini, kini beredar di sejumlah toko buku di Aceh Utara. Sedangkan bidang bidang lain, lanjut Adam, tim ini selalu meraih juara tingkat Kecamatan Tanah Luas. “Ekstrakurikuler ini berfungsi juga untuk menyalurkan hobi santri agar mereka jangan jenuh belajar di sekolah dan membaca kitab,” ujar Adam.

Ditambahkan, masing-masing kelompok ekstrakurikuler diasuh oleh satu guru pengasuh. “Kami harap, ke depan, para santri semakin berprestasi,” pungkas Adam.  * masriadi sambo

 
Kamis, 18 Agustus 2011
Please Read the News on Serambi Indonesia

Pengumuman Kelulusan Sanggar Demokrasi

Dear Peserta Kelas Online Media dan Politik,

Bersama dengan ini kami ingin memberitahukan bahwa anda terpilih sebagai peserta dalam kelas Online Media dan Politik.
Kelas Online akan dimulai pada tanggal 5 september 2011.

Setelah email ini kami akan mengirimkan kepada Anda username dan password untuk memasuki ruang kelas online media dan politik paling lambat pada tanggal 27 Agustus 2011.

apabila ada pertanyaan lebih lanjut silahkan menghubungi via email ke daftar@sanggardemokrasi.org atau via sms ke 0818 0701 7078.

Demikian dan terimakasih.

Salam

Agus Mulyono
Koordinator Program

Sastrawan yang Jago Kaligrafi

DALAM dunia sastra di Aceh, nama Mahdi Idris mulai dikenal sejak akhir tahun 2009. Sejak saat itu, cerita pendek (Cerpen) karya Mahdi mulai dimuat di sejumlah media di Aceh. Pria kelahiran Desa Keureutoe, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, 3 Mei 1979 itu saat ini menjadi pengajar di Dayah Terpadu Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara. Sejak tahun 2003, pria berkumis itu mengasuh mata pelajaran kaligrafi, bahasa Arab, dan sejumlah kitab kuning di dayah tersebut.

Ketika remaja, Mahdi menimba ilmu di sejumlah dayah seperti Dayah Al Muslimun Lhoksukon, Dayah Nurul Huda Trieng Pantang Lhoksukon, Dayah Nurul Yaqin Al Aziziyah Utu Kabupaten Pidie, dan Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang, Aceh Barat Daya. Mahdi menyelesaikan pendidikan strata satu di Perguruan Tinggi Islam (PTI) Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon tahun 2006. “Saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan anak-anak di dayah ini. Apa yang saya ketahui, itu yang saya sampaikan kepada santri. Saya ingin mereka bisa lebih hebat dari saya,” sebut Ustaz Mahdi,panggilan akrab Mahdi Idris.

Mahdi mengajarkan teknik penulisan cerpen dan kaligrafi secara serius di dayah tersebut. Hasilnya, dia pun diundang Kementerian Pendidikan Nasional sebagai peserta dalam acara Apresiasi Sastra Daerah (Apresda) di Bogor, Oktober 2010. Mahdi telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya, yaitu ‘Lelaki Bermata Kabut,’ diterbitkan PT Cipta Media, Jakarta, 2011, dan Nurhayat, Mata I Publishing, Banda Aceh, 2011.

Selain itu, cerpennya juga dimuat dalam buku antologi Kerdam Cinta Palestina, dan Munajat Sesayat Doa. Novel perdana ayah tiga anak itu dengan judul Menembus Kabut, masuk sepuluh besar naskah terbaik dalam lomba yang dilakukan Penerbit Media Yogyakarta. “Naskah Menembus Kabut sedang dalam proses penerbitan. Mungkin, setelah Idul Fitri nanti sudah beredar di pasar,” sebut suami Rosmiana ini. Dayah Ruhul Islam beruntung memiliki pengajar sekelas Ustaz Mahdi. 5 Mei 2011, dayah itu pun memberikan penghargaan untuk Ustaz Mahdi dalam kategori guru berprestasi.

Sementara, kemampuan Mahdi Idris dibidang kaligrafi juga tak perlu dikhawatirkan lagi. Sebagai bukti, Dia selalu diundang menjadi dewan juri kaligrafi pada Musbaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Aceh Utara.   

* masriadi sambo 
Senin, 15 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia

Fadli Ingin Jadi Diplomat

Fadli Zakia, santri berprestasi Dayah Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara
FADLI ZAKIA (18) mulai sibuk mempersiapkan proposal permohonan beasiswa yang akan dikirimkan ke sejumlah universitas di Indonesia. Sebagai siswa kelas enam (setingkat kelas 3 SMA) di Dayah Terpadu Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Fadli kini mulai merancang rencana kuliah yang akan ditujunya.

Tidak hanya itu, bahkan ia telah punya perencanaan untuk meraih cita-citanya menjadi diplomat atau duta besar. “Sebulan lalu saya ikut tes Paramadina Jakarta Fellowship 2011. Tahap satu lewat, ujian tahap dua saya gagal. Saya terus berusaha, semoga bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi,” sebut Fadli, kemarin.

Anak bungsu dari delapan bersaudara, pasangan Alm Zakaria dan Hendon itu memang cerdas. Buktinya, dia langganan meraih juara satu di SMAS Ruhul Islam, dan di tingkat dayah. Selain itu, bahasa Inggris yang dikuasainya sangat baik.

Dia meraih juara satu untuk cerdas-cermat dalam bahasa Inggris se-Aceh Utara dan Lhokseumawe, yang dilaksanakan Save The Children, tahun 2009 lalu. Selain itu, ia menjadi langganan juara satu pidato bahasa Inggris yang diselenggarakan untuk lingkungan santri di dayah tersebut setiap tahun.

“Alhamdulillah, saya terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Dengan kemampuan anugerah Allah, saya ingin mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Jika menggunakan biaya sendiri, orangtua saya tidak mampu. Ibu saya hanya petani biasa, sedangkan ayah sudah meninggal dunia,” sebut Fadli.

Pria yang lahir di Desa Buloh Beurghang, 23 Juli 1993 silam itu juga jago ceramah. Buktinya, tahun 2010 lalu, dia menyabet juara satu lomba khutbah Jumat tingkat Kecamatan Tanah Luas.

Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, Fadli tidak minder. Dia terus bekerja keras memperbaiki nasibnya. Memperdalam kemampuan bahasa inggris, dan pengetahuan umum lainnya. Dia berharap, satu hari nanti, dia bisa memberikan yang terbaik untuk ibunya. “Saya ingin, ke depan, bisa membahagiakan ibu saya. Bisa memberikan beliau kehidayan yang layak. Semoga Tuhan mendengar do’a saya,” pungkas Fadli.(masriadi sambo)

Minggu, 14 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia

Pendaftaran Kelas Media dan Politik

Terbukanya kanal demokrasi membuat media massa di Indonesia semakin menguatkan perannya. Dalam tersebut ditambah lagi dengan terbukanya kanal kebebasan informasi pada sektor publik. Berbagai peluang tersebut memungkinkan media massa di era reformasi berkontribusi besar dalam konteks pengembangan dan pertumbuhan demokrasi di Indonesia.
Menguatnya peran media dalam konteks pembangunan politik bukan berarti tidak meninggalkan dampak. Kemampuannya yang semakin kuat membuatnya menjadi salah satu potensi yang menguntungkan bagi elite politik. Kondisi tersebut membuat media menjadi rentan terhadap pengaruh kepentingan para politisi.
Pengaruh politisi dan penguasa sebagai salah stakeholder media perlu mendapatkan pertimbangan tersendiri dalam menganalisis peran media. Konsinyasi antara penguasa dengan pemilik media berdampak pada melemahnya media sebagai pengawal demokrasi yang independen dan tidak berpihak. Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa media telah berperan sebagai salah satu alat untuk kepentingan politik tertentu. Tak hanya berperan untuk menyuarakan kepentingan tetapi juga berperan untuk melakukan pengalihan isu, peningkatan citra politik, dan beberapa agenda politik lainnya.
Kelas Media dan Politik menawarkan ruang untuk saling berbagi informasi dan juga melakukan analisis untuk melihat posisi media massa di Indonesia dalam konteks politik pencitraan. Salah satu analisa yang terpenting adalah memulai dari sisi kepentingan pemilik media dan relasinya dengan penguasa dan kekuasaan. Kelas Media dan Politik akan mengupas dan mengkaji serta membaca relasi kekuasaan dan media massa dalam konteks pertumbuhan politik di Indonesia.
Kelas Media dan Politik akan berlangsung selama 2 bulan dan terbagi ke dalam 4 sesi diskusi dan pembahasan.  Setiap sesi akan terdapat materi pembahasan dan proses diskusi online. Resource Person dalam kelas online ini adalah Anton Novenanto (Kandidat Doktor di Insitute für Ethnologie, Universität Heidelberg, Germany).
Calon peserta yang tertarik dapat mengisi formulir pendaftaran. Hanya 40 orang peserta yang akan diundang untuk bergabung dengan kelas Media dan Politik. Formulir pendaftaran dapat di download disini dan dikirimkan ke daftar@sanggardemokrasi.org   sebelum 15 Agustus 2011.