Irshad Manji rushed out of book-launch

Canadian liberal Muslim activist Irshad Manji was escorted out of the Salihara venue in South Jakarta on Friday, where she was supposed to launch her new book, Allah, Liberty and Love.

“I love you all and I am proud of you all,” she said to the people who attended the event, which was abruptly stopped by police following demonstrations outside.

She added that she would not be deterred by such intimidation.

Dozens of people claiming to be residents and members of mass groups shouted derogatory words at her as she climbed into her car. A police car followed behind.

“I really hope the police will protect her because she is a Canadian national. If the police do something wrong, which can trigger protest from Canada, then shame on us,” Indonesian writer Goenawan Mohamad said.

The event began at around 7 p.m. A police officer stepped forward around 15 minutes after Manji began to speak to announce that the event should be called off. Moments later, a number of people were heard shouting their disapproval of the event.

“The local residents disapproved of this activity, and this activity involves a foreigner. Therefore, it requires a special permit from the Jakarta Police,” Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto, said.

He added that members of FBR, FPI and Forkabi were among the protestors.

Akse, one of the protesters, complained of Manji’s sexual identity, which the latter has confessed that she was a lesbian.

“This Irshad is a lesbian, do you want this country to be a lesbian?” he said.

Ulil Abshar Abdhalla, an activist known for his liberal stance towards Islam who was attending the event, said that its disbanding was unfair.

“Freedom of speech not only belongs to the conservative groups,” he said. (asa)

Source: The Jakarta Post

Potret Hitam Toleransi; Antara Solo dan Pengusiran Irshad

Ada dua kasus penting yang terjadi pada hari jum’at 4 Mei 2012. Pertama adalah kasus Pengusiran Arshad Manji dari tempat Peluncuran buku barunya  “Allah, Liberty and Love” di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Kedua adalah betrok antar warga dan ormas keagamaan di Solo. Sebagaimana diberitakan oleh Voice of America Indonesia pada tanggal 6 Mei 2012 berjudul “Pasca Bentrokan Warga-Ormas Keagamaan, Solo Serukan Aksi Damai“, khusus untuk bentrok di Solo, ada 6 orang yang terluka dan menjadi korban dari kasus bentrok tersebut.

VoA Indonesia
Photo/VoA Indonesia

Menurut Saya, kedua kasus tersebut sudah sudah merusak pentumbuhan toleransi di Indonesia.Dengan adanya kasus ini, kembali mencontreng wajah dan nilai-nilai kemajmukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bangsa ini sudah mewarisi nilai-nilai heteroginitas puluhan keturunan yang lalu, namun sayangnya kita sebagai generasi penerus tidak mensyukuri warisan tersebut.

Disamping itu, menurut hemat Saya pertumbuhan demokrasi di Indonesia membuktikan belum dewasa, artinya nilai-nilai hetoreginitas dan kebebasan serta keamanan yang diajarkan dalam demokrasi merupakan  nilai substansial, dan sayangnya itu belum tercermin secara utuh di negeri ini.

Misalkan kasus Irshad, terlepas dari alasan FPI, FBR, Forkabi bahwa Irshad adalah seorang lesbi, menurut Saya tatakrama dan kesopanan tetap harus jadi prioritas. Artinya bagaimana cara atau sikap yang dibangun ketika ada sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman mereka. Menghujat, mengeluarkan kata-kata kotor, menghina bukanlah potret Islam yang sebenarnya. Karenanya menurut Saya jalur dialogis seharusnya lebih dikedepankan.

Sekali lagi, ini membuktikan kalau kita susah untuk menerima perbedaan, dan kita belum siap untuk berbida. semuanya dipaksa berdasarkan kehendak dan kemauan kita. kalau ada yang beda, kenapa kita tidak berbicara? dimana prinsip diskusi dan musyawarah yang selama ini menjadi jati diri kita? dimana sikap toleransi sebagai ajaran agama kita?

Semoga ini adalah kasus terakhir!

Catatan-Catatan dan Pilihan Kalimat dari Novel “Negeri 5 Menara”

Catatan-Catatan di bawah ini adalah beberapa ungkapan yang Saya ambil dari Novel Trilogi “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi.

Menurut Saya penting dan bermanfaat kalau dibaca dan diintegralisasikan dalam diri pembaca. Tujuan Saya posting catatan ini;
[1] Untuk mendokumentasikan catatan Saya.
[2] Supaya manfaatnya tidak hanya buat pribadi Saya tetapi juga buat semua permbaca.

Catatan-catatan ini terdiri dari kutipan langsung yang saya ambil, atau substansinya saja, atau potongan kalimatnya, atau potongan dialog dalam novel.

Selamat Merenung!

***
  1. Orang-orang yang berilmu dan baradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang  ~ Pesan Imam Syafi’I. [211]
  2. Jangan puas jadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai . [395]
  3. Dulu jual mengkudu, sekarang jual durian, dulu tidak laku, sekarang jadi rebutan. [393]
  4. Pasang Surut suatu Dinasti mengikuti hukum universal. Menurut hukum itu, suatu budaya baru selalu dimulai dari semangat solidaritas kelompok yang sangat kuat. Kelompok ini lalu menjadi penguasa dan membangun budaya dan peradaban yang kokok.   Tapi begitu kekuasaan terbentuk, mereka menhadi lengah, muncul kecumburuan dan satu sama lain berebut kekuasaan. Fase berikutnya, mereka menjadi lemah dan gampang ditaklukkan oleh kelompok baru. Yang punya semangat solidaritas  kelompok yang lebih baru lagi, seperti yang pernah mereka punyai dulu. Dan siklus ini terjadi berkali-kali. Ambruknya peradaban Islam di Spanyoe juga terjadi karena kesalahan yang sama. ~ Ibnu Khaldu (abad ke 13 di Spanyol) dalam bukunya “Mukaddimah”.  Dia adalah ahli hukum, sejarah, sosiologi, dan filsuf. [390]

  5. Dinasti-Dinasti:
    • Dinasti  Nasrid di Spanyol
    • Safavid di Iran
    • Mogul di India
    • Ottoman di Anatolia, Syiria, Afrika dan Timur Tengah. [390]

  6. Ibnu Rusyd lahir di Spanyol pada abad ke 12. Nama eropanya Averrous. Dia adalah ahli hukum, aritmatika dan kedokteran.  Ikut berperan mempengaruhi filosofi pemikiran Thomas Aquinas dan Albert the Great. [389]
  7. Bagi kita disini, seni penting untuk menyelaraskan jiwa dan mengekspresikan kreatifitas dan keindahan. [34]
  8. Pendidikan di Pondok Madani tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana. [35]
  9. Man jadda wajada
  10. Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin. [49]
  11. Beruntunglah kalean sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan ke Syurga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orag berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata, dan hati kalean. [51]
  12. Bahasa ASING adalah anak kunci jendela dunia [51]
  13. Tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan. [76]

  14. Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju [76]
  15. Ketek  banamo, gadang begala. Kecil diberi nama, dewasa diberi gelar. [98]
  16. Man Shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. [107]
  17. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan masa sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misnya dalam hidup [106]
  18. Going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata [107]
  19. Jangan  pernah mengizinkan orang diri kalian dipengaruhi oleh unsure di luar kalean. [107]
  20. Hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses. [108]
  21. Jangan berharap dunia berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. [158]
  22. Ilmu bagai nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu bersihkan hati dan kepalamu, supaya sinar itu bsia datang, menyentuh, dan menerangi kalbu kalian semua. [190]
  23. Tuhan bisa mendatangkan rezeki kapada manusia dari jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka. [205]
     
  24. Dulu jual paku sekarang rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan. [232]
     
  25. Belajar keras adalah gaya hidup yang fun, hebat dan selalu dikagumi. [264]
     
  26. Ikatlah ilmu dengan mencatatnya ~ Pesan Sayidina Ali. [265]
     
  27. I’malu fauqa ma’amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat oran. [267]
     
  28. Apabila orang masuk sekolah agama hanya karena tidak lulus ujian masuk sekolah umum, bagaimana kita bisa mengharapkan ahli agama yang cemerlang kalau yang belajar ilmu agama itu banyak dari orang-orang terbuang? [312]
     
  29. Disini adalah tempat memberikan jasa, bukan minta dan mengingat jasa. [353]
     
  30. Setiap barang yang pernah ada di suatu tempat dan kemudian dipindahkan, maka masih ada jejak aura di tempatnya semula. [368].
     
  31. Allahumma zidna ilman warzuqna fahman. Tuhan tambahkanlah ilmy kepada kami dan anugerahkanlah pemahaman kepada kami. [379]
     
  32. Inti hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras,  do’a, dan tawakkal. [382]
     
  33. Saajtahidu fauqa mustawa al- akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oleh orang lain. Filosofinya sedikit saja lebih dari orang lain [383]
     
  34. Napoleon Bonaparte tidak pernah mau ikut ujian. [393]
     
  35. Syair Abu Nawas:
    Wahai Tuhanku…Aku sebetulnya tak layak masuk syurgaMU,
    Tapi, …aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,
    Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,
    Sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar
    Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasit
    Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang maha agung

    Setiap hari umurku terus berkurang
    Sedangkan dosaku terus menggunung,
    Bagaimana aku menaggungkannya?

    Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini
    Datang bersimpuh ke hadapanMu
    Mengakui segala dosaku
    Mengadu dan memohon kepada-Mu

    Kalau Engkau ampuni itu karena
    Engkau sajalah yang bisa mengampuni
    Tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon
    Ampun selain kepadaMu???

    [143-144]

  36. Apa yang kamu lihat, kami dengar, kami rasakan, kami adalah pendidikan [145]

Repost_Urgensi UU PT

Dalam rangka mempe ringati Hari Pendidik an Nasional 2 Mei 2012, Majelis Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bersama Universitas Indonesia (UI) akan menyelenggarakan sarasehan pendidikan pada Senin, 7 Mei 2012, di Kam pus UI Depok. Tema yang diangkat ialah “Pandangan Tokoh Tentang Pendidikan Tinggi Indonesia”.

Dalam konteks ini, RUU Pendidikan Tinggi (PT) yang menjadi hak inisiatif DPR RI telah dilakukan pembahasan secara intens dengan berbagai kalangan.

Sebagaimana lazimnya dalam pembahasan RUU terdapat pro-kontra. Namun, disayangkan akhirnya pembahasan meng alami kebuntuan sehingga peme rintah meminta penundaan pengesahan RUU tersebut pada sidang paripurna DPR RI tanggal 12 April 2012.

Terlepas dari ketidaksetujuan pemerintah terhadap RUU tersebut, menurut hemat saya, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk dipertim bangkan. Pertama, secara filosofis RUU tersebut harus memuat arah yang jelas tentang pengembangan PT, baik dalam aspek keilmuan, keterampilan, maupun penguatan terhadap karakter bangsa di mana segenap komponen bangsa te ngah membutuhkan penguatan nilainilai moral bangsa yang akhir-akhir ini mengalami degradasi.

Kedua, secara sosiologis, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan PT karena sampai saat ini yang dapat menik mati nya masih sedikit. Ironisnya, sejumlah PT menghasilkan pengangguran terdi dik, yakni seseorang yang telah lulus da ri perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan, tetapi belum dapat memperolehnya. Para pe ngang gur terdidik biasanya dari kelompok masya rakat menengah ke atas, yang memung kin kan adanya jaminan kelangsungan hi dup meski menganggur.

Pengangguran terdidik sangat ber
kait an dengan tidak relevannya sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dunia pendidikan di negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pa da masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan ku rang nya lapangan pekerjaan. Dalam ma sya rakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan mela lui pemanfatan kesempatan kerja yang ada.

Sebenarnya, gelar sarjana tak otomatis memuluskan jalan meraih pekerjaan.

Jumlah pengangguran tingkat sarjana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya pada 2007, jumlahnya sekitar 740 ribu dan awal 2009 ber tambah mendekati angka satu juta sarjana yang menganggur. Hal ini harus diwaspadai mengingat setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300 ribu sarjana dari 2.900 PT.

Menurut hemat saya, makin banyak nya sarjana yang menganggur disebab kan oleh rendahnya keterampilan (soft skill) di luar kemampuan utama dari sar jana yang bersangkutan. Untuk meng atasi pengangguran, perlu dikembangkan komitmen kewirausahaan.

M eningkatnya pengangguran terdi dik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya di Indonesia. Untuk makmur, Indonesia perlu meningkatkan jumlah pengusaha menjadi 1,1 persen atau menjadi 4,4 juta orang.

Ketiga, secara konstitusional berkait an dengan pembahasan RUU PT perlu pertimbangan memuat substansi yang berkaitan dengan sejumlah pasal dalam RUU tersebut.

Pertama, dalam RUU PT perlu diatur mengenai orientasi kelulusan pendidikan tinggi. Kedua, RUU PT perlu memberi kan peluang dan keleluasaan pada pe nyelenggara PT untuk membuka jurusan yang sesuai dengan potensi lingkungan dan SDM di lingkungannya. Hal ini pen ting sehingga PT memiliki relevansi
dengan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, RUU PT perlu menegaskan semangat UUD 1945 dan UU No 20 Ta hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai kewajiban pendidik an tinggi untuk menerima dan memberi kan fasilitas pada warga negara yang kurang mampu sekurang-kurangnya 20 persen dari jumlah seluruh mahasiswa.

Keempat, dalam pasal 10 ayat 1 me nge nai rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi perlu penambahan kata ‘akar’ sehingga bunyi pasal 10 ayat 1 menjadi: Pasal 10 1 Rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kumpulan sejumlah akar, pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang berkembang secara alami dan disusun secara sistematis.

Selanjutnya, dalam penjelasan pasal 10 ayat 1 perlu ditambahkan kalimat, “Yang dimaksud akar dalam ayat ini, meliputi agama, ideologi Pancasila, dan filsafat.” Kelima, pada pasal 44 ayat 2 perlu di tambahkan kalimat, “mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA)” sebelum frasa “bersifat rahasia” dan penambahan kata “dapat” sebelum kata “mengganggu” sehingga selengkapnya berbunyi, “Hasil penelitian wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan dan/atau dipatenkan oleh perguruan tinggi, kecuali hasil pe ne litian yang mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA), bersifat raha sia, dapat mengganggu, dan/atau membahayakan kepentingan umum.” Keenam, dalam RUU terdapat pasal 89 ayat 1 yang menyatakan bahwa perguruan tinggi negara lain dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi di wila yah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Saya kurang se pendapat dengan pasal 89 sehingga mengusulkan untuk dihapuskan. Karena, pihak asing dalam mengelola pendidikan di Indonesia akan mengintervensi ke daulatan NKRI. Dengan demikian, cepat atau lambat rasa nasionalime kebang sa an anak bangsa kita akan hilang.

Tulisan diatas adalah Opini AMIRSYAH Sekretaris Departemen Pendidikan MPP ICMI. Tulisan ini sudah dimuat di Harian Republika edisi 3 Mei 2012. 

Anies Baswedan

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang, kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan — tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia — itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.
“Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. “Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.
Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting.
“Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.
Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.
Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia” bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.
Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang “Young Global Leaders 2009” dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.
Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.
Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.
Pertama kali terbit pada Maret 1990 — bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.
Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.
Anies Baswedan, Tokoh Perubahan Dunia
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
“Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang,” kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan — tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia — itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.
“Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. “Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.
Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting. “Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.
Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.
Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia” bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.
Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang “Young Global Leaders 2009” dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.
Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.
Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.
Pertama kali terbit pada Maret 1990 — bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.
Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.
Biodata Anies Baswedan
Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan, di antaranya dengan mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia.
Lewat perpaduan visi, ide-ide segar khas anak muda, kecerdasan dan ideologi, serta rasa bangga sebagai anak Indonesia, ia menganggap bahwa pengelolaan universitas harus didasarkan pada manajemen dengan model bisnis modern.
“Universitas harus dikelola secara modern dan terkait dengan dunia swasta secara mutualistis,” kata Anies.
Sejak memimpin Universitas Paramadina, tiga tahun lalu, Anies telah melakukan beberapa hal yang revolusioner, dan dianggap tidak lazim terjadi di dunia pendidikan swasta di Indonesia ini. Di antara pemberian beasiswa bagi ratusan mahasiswa berbakat tapi kurang mampu dan pewajiban mata kuliah anti-korupsi.
Anies Baswedan Calon Tokoh Dunia
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain, seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative Amerika Serikat Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan (tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia) itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang. “Anies adalah seorang Muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, citra Anies yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang membuat dia berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Menanggapi penghargaan tersebut, Anies mengatakan tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
“Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Kopenhagen, dan Madrid.
Pada tanggal 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Direktur Marketing & Public Relations Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, menyatakan, apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia punya peran penting. “Sebab, beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Anies Baswedan: Kami Tolak Demokrasi Rutinitas
Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menyatakan menolak demokrasi yang hanya sekedar merumitkan tata cara berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum. Mereka juga menolak demokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pemimpin yang berkualitas dan layak diteladani.
“Kami mencita-citakan demokrasi Indonesia yang matang, yang menjadi tempat persandingan keberagaman dengan kesatuan, dinamika dengan ketertiban, kompetisi dengan persamaan, dan kebebasan dengan kesejahteraan,” ujar Anies Baswedan ketika membacakan manifesto, Senin (1/2/2010) di Istora Senayan, Jakarta.
Anies, bersama deklarator lainnya merasa terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang, dengan keringat dan tangan sendiri. Anis menjelaskan, Nasional Demokrat adalah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan dan golongan untuk merestorasi Indonesia. Nasional Demokrat, lanjutnya, tidak hanya bertumpu dan berpusat di Jakarta, melainkan gerakan perubahan yang titik-titik sumbunya terpencar di seluruh penjuru dunia.
Anies Baswedan Bantah Incar Kursi Menteri
Nama Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan sering disebut-sebut sebagai salah satu calon menteri yang membawahi bidang ekonomi pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014. Namun, ketika dikonfirmasi terkait hal ini, dirinya justru mengaku tidak tahu-menahu. “Enggak tahu saya. Mesa’ake aku,” ujarnya ketika dikonfirmasi mengenai isu di atas, seusai peluncuran buku karangan Faisal Basri, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (7/10).
Anies membantah kabar yang menyebut bahwa dirinya mengincar kursi menteri dalam susunan kabinet mendatang. Menurutnya, dirinya bukanlah tipikal orang yang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi tipikal orang yang berjuang dalam melakukan pekerjaan. “I did not fight to get a job, tapi I did fight to do a job,” ujarnya.
Anies menuturkan, sebenarnya saat ini Indonesia membutuhkan sosok yang sanggup memberikan sumbangsihnya terhadap negara. Sebab, menurutnya, tantangan pembangunan Indonesia ke depan adalah pada desain institusi, bukan pada si pemangku jabatan. “Begini, kalau kinerja kita ditransparankan kan kita bisa lebih kreatif,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politik Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa kalangan pengusaha dan profesional mewakili kelompok elite dan sosial berpotensi mengisi kabinet SBY jilid II karena dapat memengaruhi persepsi publik.
Selain Anies, pengusaha Rahmat Gobel juga disebut-sebut sebagai sosok yang cocok untuk mengisi posisi sebagai menteri perindustrian. Selain itu, Bima memprediksi bahwa posisi menteri keuangan tetap akan diisi oleh Sri Mulyani. “Kalangan profesional ini kreatif, punya sikap otonom, dan punya jaringan yang kuat,” sebutnya.
Anies Baswedan: SBY Harus Ubah Gaya “Leadership”
Ini catatan akhir tahun tentang kepemimpinan SBY yang diungkapkan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.
Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di periode kedua kekuasaannya dalam dua bulan terakhir penuh “goncangan”. Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan, kegoncangan yang terjadi menyebabkan ketidakpastian politik dan demokrasi. Kondisi ini, menurutnya, tidak seharusnya terjadi jika adanya kepemimpinan yang tegas dalam mengambil keputusan.
Anies, mantan anggota Tim Delapan yang memverifikasi kasus Bibit-Chandra, mencontohkan, Presiden tidak menunjukkan sikap tegas saat bersikap terhadap hasil akhir rekomendasi yang diberikan tim. “Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership, keberanian. Hadapi saja seharusnya kelompok penentang. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, maka dia akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi penentang,” kata Anies saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun “Rekayasa Indonesia Baru”, di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
Demikian pula untuk kasus Bank Century. Seharusnya, yang terjadi adalah politik mengikuti hukum (politics follow legal). “Tapi yang terjadi sebaliknya, legal follows politics. Ini bahaya sekali. Kalau pemimpin menyadari, ada aspek legal dan konsekuensi politik yang dihadapi, akan lebih baik,” ujarnya.
Selama dua bulan kepemimpinan ini, menurut Anies, SBY seharusnya tak merasa menjadi satu-satunya Presiden yang menghadapi krisis. Untuk menghadapinya, dibutuhkan perubahan gaya kepemimpinan. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dinilai terlalu mengedepankan gaya memelas saat tampil di publik.
“Bicara krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Tapi dihadapi jangan dengan tampil memelas. Orang kalau dalam posisi inferior, tampil memelas akan dikasihani. Kalau orang dalam posisi superior, memelas, tidak akan dikasihani,” kata Anies.
Ia melanjutkan, “Yang penting muncul adalah leadership. Dalam dua bulan terakhir, gaya Presiden seperti itu tidak akan menguntungkan,” ujarnya.
Dalam 5 tahun pertama kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla, 2004-2009, Anies melihat, SBY lebih menjalankan komunikasi antara dirinya dan massa. Sedangkan komunikasi dengan kekuatan politik difungsikan oleh Kalla. “Sekarang, dikerjakan sendiri dan terbukti dalam dua bulan ini tidak dikelola dengan baik sehingga memunculkan riak-riak politik yang menguras energi,” kata dia.
Dua bulan pertama kepemimpinan seharusnya memperlihatkan kepastian politik. Namun, kondisi yang terjadi sebaliknya. Anies membayangkan, pasca-Oktober (pelantikan Presiden-Wapres), pemerintahan akan mulai bicara tentang “isi” atau apa program yang akan dilaksanakan. “Dari Oktober seterusnya, kita justru menyaksikan political uncertainty,” ujar Anies.

Sumber: http://tuahmanurung.blogspot.com

Catatan Dimas Sandya

Dibawah ini adalah Catatan-Catatan Dimas Sandya, Sahabat Saya dari Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Dimas ditempatkan di SDN 25 Araselo Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Saya tertarik membaca catatan-catatan dimas, makanya saya minta izin untuk publikasi di Blog Saya. Selamat Membaca semoga bermanfaat. kalau anda mau tambahkan Dimas sebagai Sahabat anda di Facebook, silakan click disini

Catatang 1_Senyum Araselo

Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum lembut anak pelosok yang penuh dengan kepolosan. Tanpa alas kaki dan pakaian yang membungkus rapi tubuhnya, mereka berlari riang kesana kemari. Aku pun tergerak untuk ikut mengejar, sekedar untuk berkenalan. Tapi mereka malah menghindar secepat kilat. Sambil sesekali mengintip di balik pepohonan, mereka melirik ke arahku. Mungkin bertanya-tanya pada sosok yang baru dilihatnya. Siapa dia, mau apa dia, sedang apa dia? Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman lagi. Senyuman yang seolah berkata, aku pak guru, datang kemari untuk belajar bersamamu, maukah kau bermain denganku. Itu jawab senyumku.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku .Senyum malu-malu yang buatku hati pilu. Kulihat dia sedang menggembala lembu, yang bukan satu atau dua, tapi bisa jadi lima. Usianya masih kurang dari sewindu, tapi kerjanya berat sekali. Ada lagi yang sedang menggendong balita kecil. Mungkin adiknya. Saat orang tuanya ke kebun, dialah pengurus semua pekerjaan di rumah. Mengambil air di sungai, mencuci, memasak, dan menjaga adik adalah tugasnya. Sudah seperti mamak-mamak saja dia. Untunglah dia masih bisa sekolah, jika sempat. Atau sekedar belajar di balai, jika dapat. Maka aku tak hiraukan jika ia sekejap datang terlambat. Masih dengan senyumnya yang malu-malu, kupersilahkan ia duduk, untuk segera belajar bersama kawan-kawan.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum riang tatkala kuajarkan mereka senam pagi di sekolah. Sambil setengah bernyanyi, mereka gerakkan badan ke kanan dan kiri penuh semangat. Lain hari mereka begitu hikmat mengikuti upacara. Kadang masih dengan kelinglungan di kepala, menebak-nebak rangkaian kegiatan di setiap senin pagi. Sikap sempurna, hormat pada bendera, menyanyi lagu wajib, istirahat di tempat, mengheningkan cipta. Semua ritual itu adalah baru bagi mereka yang bahkan tak tahu senandung Indonesia Raya. Maka begitu sang merah putih berkibar di puncak bendera, rasa kagum tak terelakkan lagi. Mengukir senyum di wajah mereka. Riang dan penuh kebanggaan sebagai anak Indonesia.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum binar yang memancar saat mereka melihat buku dalam tas besar yang kugendong. Berkali-kali mereka menawarkan bantuan untuk membawa ‘perpustakaan berjalan’ itu. Mereka tampak haus akan segarnya dunia literasi. Buku, jadi sebuah oase pengetahuan di tengah gersangnya aktivitas dusun tanpa listrik dan air bersih. Buku, layaknya goresan pelangi saat hujan tiba, yang menghadirkan warna baru di hari-hari mereka. Barisan huruf, deretan gambar, beserta lembaran penuh imaji, ibarat santapan lezat yang selalu tak pernah puas dilahap. Mereka akan menagih lagi untuk meminjam buku, datang lagi untuk membaca buku, dan dengan binar di matanya, mereka tersenyum untuk bahkan meminta buku.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum semangat kala mereka turun gunung untuk pertama kalinya. Lintasi jalan nan berbatuan, hingga tiba di padatnya jalur menuju kota. Tiga jam perjalanan pun sungguh jadi tak terasa. Mereka lelah, mereka lemas. Tapi ini adalah pengalaman berharga, yang belum tentu hadir lagi di esok lusa. Ini sebuah lomba, yang sedari dulu selalu dinanti, hanya jadi khayal dalam lamunan sepi. Maka ketika semua menjadi nyata dan di depan mata, semangat itu terasa semakin bergelora. Ada rasa was-was, sekedar gelisah melihat lembar jawaban yang baru pertama dilihat. Kuyakinkan mereka untuk terus berjuang, tanpa perlu pikir kalah menang. Ini kesempatan, ini pencapaian. Bahwa setiap orang bisa berpetualang ke luar batasan dunianya, asal punya semangat dan keyakinan. Lagi-lagi mereka tersenyum.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum bahagia setiap kali mereka lihat aku kembali pulang ke dusun Dama Buleuen. Membawa sejuta angan-angan yang siap kutebar dan kutanam di benak mereka. Anak-anak itu girang, mereka kesenangan. Seolah sang induk semang mengantongi makanan untuk anak-anaknya. Sungguh seketika aku jadi tak tega, mengabarkan pada mereka, inilah kepulangan terakhirku. Dan setelah ini, aku akan mengenang mereka hanya dari  foto dan cerita, lewat kenangan lagu dan surat lama, hingga celotehan bocah yang terlanjur bersarang di kepala. Jadilah kutinggalkan tanda senyumku untuk mereka. Kutempelkan erat di dadanya, kulekatkan sangat dalam jiwanya. Senyum bahagiaku untuk anak-anak tercinta.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum Araselo. Senyum lembut untuk selalu rendah hati. Senyum malu-malu namun penuh arti. Senyum riang untuk menggapai masa depan. Senyum binar penuh cita-cita di masa mendatang. Senyum semangat untuk terus bermimpi, belajar, dan berjuang menuju kesuksesan. Senyum bahagia yang akan selalu ada, dengan atau tanpa aku disana. Senyum itulah, yang buatku melebur, melebar Senyum tulus yang telah mengajarkanku tentang arti kesabaran dan keikhlasan. Hingga kelak aku akan merindukan senyum itu. Lagi dan lagi.
Dama Buleuen (Araselo), 25 Februari 2012

Catatan II_ Bukan Guru Biasa
Perjalanan saya mengikuti program Indonesia Mengajar telah mengantarkan saya ke sebuah dusun tanpa listrik dan air di pelosok negeri ini, di tanah rencong, Nanggroe Aceh Darussalam. Disanalah, segala kegelisahan saya tentang dunia pendidikan Indonesia seperti terbungkam. Saya mengalami irama persekolahan nun di jantung Kabupaten Aceh Utara, tepat di daerah konflik yang dulu menjadi sarang GAM. Selama lima bulan saya disini, saya dihadapkan pada realita pendidikan bangsa kita, dari sudut pandang seorang guru. Suatu hal yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di tayangan film atau cerita di media kini berada tepat di depan mata dan menjadi bagian dari keseharian saya. Jalanan ke sekolah yang rusak, bangunan sekolah yang minim fasilitas tanpa toilet, siswa-siswi dengan seragam kumal yang menggunakan sendal jepit, adalah nyata adanya. Maka meski kini saya benar-benar menjalaninya, rasanya lidah ini kelu untuk mengeluh, terutama jika mengingat perjuangan para guru disini untuk mengajar.
Adalah seorang guru wanita berusia 37 tahun. Ibu Mundliah namanya. Sejak sekolah di puncak bukit ini dirintis, Bu Mun, panggilan akrabnya, kembali mengabdikan dirinya sebagai guru. Padahal lokasi sekolah ini terletak sekitar 21 km dari rumahnya, dan pada saat itu membutuhkan waktu hingga 2 jam untuk tiba di sekolah. Namun baginya, pilihan menjadi guru adalah sesuatu yang terhormat. Apalagi sejak suaminya dituduh menjadi bagian dari GAM, dan dipenjara selama beberapa tahun, Bu Mun, harus membiayai kedua anaknya yang masih kecil dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia juga harus meninggalkan sekolah yang dirintisnya ketika terjadi konflik, dan hidup berpindah-pindah untuk sekedar mendapat keamanan. Saat itu adalah masa kelam dalam hidupnya, hingga rumah yang ia tinggali pun ikut dirusak. Bahkan ia sempat dengan nekat menjalani profesi sebagai RBT (ojek) dimana lazimnya disini hanya laki-laki yang bisa melakukan hal tersebut. Kemudian pasca peristiwa tsunami yang menewaskan ratusan guru di Aceh, tibalah kesempatan untuknya kembali mencicipi suka dan duka sebagai seorang  guru.
Sudah 19 tahun Bu Mun berkiprah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, walau sempat terhenti sejenak saat masa konflik. Dari mulai guru bakti, hingga guru honor sudah pernah ia jalani. Namun untuk menjadi seorang pegawai negeri, tampaknya masih menjadi sebuah mimpi. Kini sebagai seorang guru honor, tidak banyak imbalan yang diterima olehnya. Jika dibandingkan dengan ongkos bensin dan perbaikan motornya, semua hampir impas. Tapi hal itu tidak membuat Bu Mun berhenti mengajar. Baginya ini kesempatan untuk mengembangkan diri sekaligus berbakti pada negeri. Jika hujan tiba, hanya Bu Mun, satu-satunya guru yang bertahan naik ke atas bukit. Dengan berbekal motor tuanya, ia bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilometer, karena motornya tak sanggup melewati ganasnya tanjakan tanah nan berbatu di bukit Dama Buleuen. Saking licinnya, roda motor bergeser kesana kemari, tanpa pernah bisa melaju. Sungguh membuat frustasi! Terpaksa ia meninggalkan motornya di tengah jalan, dan kembali melanjutkan perjalanan agar kegiatan belajar dan mengajar tidak terhenti. Betapa gigih dan luar biasa perjuangannya.
Saya jadi ingat pertama kali saya datang ke sekolah ini, lantas saya bertanya pada salah seorang siswa saya “ Siapa guru favoritmu?” dan mereka serempak menjawab “Bu Mun..!”. Saat itu saya belum mengenal beliau, karena ia baru saja melahirkan sehingga harus cuti selama 3 bulan. Saat itu sekolah memang terasa lebih sepi. Saya hanya melihat karya-karya sederhananya berupa alat peraga, yang sesekali saya pakai untuk mengajari anak-anak. Saya pun hanya bisa menduga-duga, ‘seperti apa ya cara Bu Mun mengajar hingga ia begitu disayangi siswanya?”. Belakangan saya tahu, bahwa Bu Mun tidak hanya enerjik dalam mengajar tapi juga interaktif dan selalu memberikan apresiasi pada siswanya. Padahal, tidak banyak yang tahu kalau untuk membuat alat peraga itu, tak jarang Bu Mun meminjam uang pada tetangganya sekedar untuk membeli karton atau lem. Namun baginya, kebahagiaan adalah ketika melihat senyum anak-anaknya di sekolah dan hadir bersama mereka.
Hari itu, seorang guru menyapa saya dengan Bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, dengan aksen yang kaku namun penuh percaya diri. “Good Morning Pak Dimas. I’m sorry, I’m late because of my baby”, sahutnya. Tersenyum  saya menatapnya. “Its alright Bu Mun. I’m happy to see you”, balas saya. Dialah Bu Mun, seorang guru di daerah terpencil yang sudah malang melintang menjadi seorang pejuang pendidikan. Meski hanya seorang guru honor, namun dedikasi dan semangatnya bahkan melebihi guru-guru senior yang sudah berstatus PNS. Dia juga bukan seorang lulusan jurusan Bahasa Inggris, tapi ketekunannya membuat ia mampu berpidato singkat dengan Bahasa Inggris di upacara 17 Agustus dan dipercaya sebagai Ketua Kelompok Guru Bahasa Inggris di Kecamatan Sawang. Orang-orang sudah sangat mengenalnya sebagai pejuang pendidikan. Percakapan tadi seolah memberi gambaran, baginya menjadi guru adalah proses belajar tiada henti, hingga tak sedikit pun rasa malu yang tampak meski ia tidak fasih berbahasa Inggris.Dan tahun ini Bu Mun bisa bersenang hati, karena gelar sarjana dari Universitas Terbuka telah diraihnya, dengan predikat cum laude.
Bukan guru biasa, itulah kata-kata yang sering saya katakan padanya. Bahkan guru teladan sekali pun jika diuji dengan tantangan geografis dan sosiologis di daerah terpancil belum tentu betah berlama-lama. Maka untuk mereka yang selalu mengkritik tentang bobroknya sistem pendidikan kita, alami saja persekolahan di daerah terpencil. Untuk guru yang ingin menguji seberapa besar kontribusi dirinya terhadap siswa dan selalu mengeluh tentang minimnya kesejahteraan, datanglah kemari dan rasakan pengalamannya sendiri. Pun, untuk untuk semua orang yang merasa paling tahu solusi untuk permasalahan pendidikan, sekaligus jumawa dengan berbagai teori kebijakan makronya, cobalah merendahkan hati disini. Di Dama Buleuen ada Bu Mun, dia punya hati untuk siswa-siswanya, bukan sekedar untuk mencari uang. Darinya saya belajar tentang ketulusan dan pengabdian, dan melakukan kebaikan lewat hal-hal sederhana, bukan sekedar mengutuki keburukan yang sudah ada.
Salam dari ujung barat Indonesia!

Catatan III_Sincerity
Tulus.
Kata itulah yang sering didengungkan ke dalam sanubari kami dari masa pelatihan hingga tinggal di daerah penempatan. Bahkan dalam berbagai kesempatan Pak Anies berkali-kali menyampaikan bahwa ketulusan adalah bahan bakar utama yang akan menjaga semangat kami selama menjadi pengajar muda. Karena tanpa ketulusan, mustahil kami bisa betah mengajar dan kerasan hidup disana. Apalagi di daerah terpencil, dengan segala keterbatasannya, dengan segala gegar budayanya.
Namun, seperti apa bentuk konkrit dari ketulusan itu, saya pun masih bertanya-tanya. Kadang saya hanya bisa menebak-nebak dari perasaan damai yang menghinggapi hati saya, meraba-raba dari kebaikan orang-orang di sekitar saya, atau menduga-duga dari niatan dan ekspresi seseorang ketika melakukan sesuatu. Apakah ia benar-benar punya maksud baik tanpa pamrih? Atau ada maksud lain di balik itu semua? Sesederhana itu paramater saya dalam mengukur ketulusan.
Tetapi ada pepatah yang mengatakan ‘dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu’. Disinilah menurut saya ketulusan menjadi sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan oleh si empunya tulus dan Sang Maha Tahu. Bahkan tidak jarang saya bertanya tentang ketulusan kepada diri sendiri, setiap kali saya hendak mengeluh. Namun untunglah, bersamaan dengan itu saya teringat sebuah pengalaman berharga di masa pelatihan, saat saya bersama teman-teman berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah gratis untuk kaum dhuafa. Dan disanalah saya menemukan inspirasi tentang ketulusan.
Sekolah itu namanya Batutis Al-Ilmi atau kependekan dari Baca Tulis Gratis. Bu Siska dan suaminya, hanya punya satu niat ketika mendirikan sekolah ini, ingin menyekolahkan anak-anak miskin di sekitar tempat tinggal mereka. Alih-alih memberi beasiswa, mereka kemudian mendirikan sekolah yang dimulai dari PAUD dan SD. Bentuknya pun sederhana, seperti kamar kosan yang berderet dengan fasilitas sekedarnya. Lalu disulap jadi kelas. Bahkan ada kelas-kelas yang menggunakan garasi-garasi tetangganya.
Yang luar biasa adalah guru-gurunya. Saya tidak tahu apa motivasi mereka mengajar disana. Apalagi dengan gaji yang tak seberapa. Merekalah yang membuat sekolah itu jadi penuh inspirasi. Mereka mengajar dengan hati. Hingga suatu ketika, saya tertegun saat melihat seorang anak ADHD yang meludahi gurunya, dan ia hanya berkata, “Hanif, kalau kamu mau meludah jangan di wajah. Ibu tidak nyaman dengan itu. Kalau kamu mau meludah, ayo Ibu antarkan ke saluran pembuangan air. Itu tempat orang membuat ludah”. Suaranya lembut, dengan ekspresi tanpa emosi. Tulus.
Namun dalam praktiknya, ternyata tulus saja tak cukup untuk menjaga kelurusan niat kita. Karena seringkali ketulusan itu terusik oleh semangat yang memudar, sanjungan dari orang bak pahlawan, serta ribuan godaan lainnya yang mengguncang singgasana ketulusan. Tulus ternyata harus disertai rasa syukur, dalam kondisi apapun, agar kita tidak jumawa. Nasib baik membawa berkah, nasib b