Irshad Manji rushed out of book-launch

Canadian liberal Muslim activist Irshad Manji was escorted out of the Salihara venue in South Jakarta on Friday, where she was supposed to launch her new book, Allah, Liberty and Love.

“I love you all and I am proud of you all,” she said to the people who attended the event, which was abruptly stopped by police following demonstrations outside.

She added that she would not be deterred by such intimidation.

Dozens of people claiming to be residents and members of mass groups shouted derogatory words at her as she climbed into her car. A police car followed behind.

“I really hope the police will protect her because she is a Canadian national. If the police do something wrong, which can trigger protest from Canada, then shame on us,” Indonesian writer Goenawan Mohamad said.

The event began at around 7 p.m. A police officer stepped forward around 15 minutes after Manji began to speak to announce that the event should be called off. Moments later, a number of people were heard shouting their disapproval of the event.

“The local residents disapproved of this activity, and this activity involves a foreigner. Therefore, it requires a special permit from the Jakarta Police,” Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto, said.

He added that members of FBR, FPI and Forkabi were among the protestors.

Akse, one of the protesters, complained of Manji’s sexual identity, which the latter has confessed that she was a lesbian.

“This Irshad is a lesbian, do you want this country to be a lesbian?” he said.

Ulil Abshar Abdhalla, an activist known for his liberal stance towards Islam who was attending the event, said that its disbanding was unfair.

“Freedom of speech not only belongs to the conservative groups,” he said. (asa)

Source: The Jakarta Post

Potret Hitam Toleransi; Antara Solo dan Pengusiran Irshad

Ada dua kasus penting yang terjadi pada hari jum’at 4 Mei 2012. Pertama adalah kasus Pengusiran Arshad Manji dari tempat Peluncuran buku barunya  “Allah, Liberty and Love” di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Kedua adalah betrok antar warga dan ormas keagamaan di Solo. Sebagaimana diberitakan oleh Voice of America Indonesia pada tanggal 6 Mei 2012 berjudul “Pasca Bentrokan Warga-Ormas Keagamaan, Solo Serukan Aksi Damai“, khusus untuk bentrok di Solo, ada 6 orang yang terluka dan menjadi korban dari kasus bentrok tersebut.

VoA Indonesia
Photo/VoA Indonesia

Menurut Saya, kedua kasus tersebut sudah sudah merusak pentumbuhan toleransi di Indonesia.Dengan adanya kasus ini, kembali mencontreng wajah dan nilai-nilai kemajmukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bangsa ini sudah mewarisi nilai-nilai heteroginitas puluhan keturunan yang lalu, namun sayangnya kita sebagai generasi penerus tidak mensyukuri warisan tersebut.

Disamping itu, menurut hemat Saya pertumbuhan demokrasi di Indonesia membuktikan belum dewasa, artinya nilai-nilai hetoreginitas dan kebebasan serta keamanan yang diajarkan dalam demokrasi merupakan  nilai substansial, dan sayangnya itu belum tercermin secara utuh di negeri ini.

Misalkan kasus Irshad, terlepas dari alasan FPI, FBR, Forkabi bahwa Irshad adalah seorang lesbi, menurut Saya tatakrama dan kesopanan tetap harus jadi prioritas. Artinya bagaimana cara atau sikap yang dibangun ketika ada sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman mereka. Menghujat, mengeluarkan kata-kata kotor, menghina bukanlah potret Islam yang sebenarnya. Karenanya menurut Saya jalur dialogis seharusnya lebih dikedepankan.

Sekali lagi, ini membuktikan kalau kita susah untuk menerima perbedaan, dan kita belum siap untuk berbida. semuanya dipaksa berdasarkan kehendak dan kemauan kita. kalau ada yang beda, kenapa kita tidak berbicara? dimana prinsip diskusi dan musyawarah yang selama ini menjadi jati diri kita? dimana sikap toleransi sebagai ajaran agama kita?

Semoga ini adalah kasus terakhir!

Catatan-Catatan dan Pilihan Kalimat dari Novel “Negeri 5 Menara”

Catatan-Catatan di bawah ini adalah beberapa ungkapan yang Saya ambil dari Novel Trilogi “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi.

Menurut Saya penting dan bermanfaat kalau dibaca dan diintegralisasikan dalam diri pembaca. Tujuan Saya posting catatan ini;
[1] Untuk mendokumentasikan catatan Saya.
[2] Supaya manfaatnya tidak hanya buat pribadi Saya tetapi juga buat semua permbaca.

Catatan-catatan ini terdiri dari kutipan langsung yang saya ambil, atau substansinya saja, atau potongan kalimatnya, atau potongan dialog dalam novel.

Selamat Merenung!

***
  1. Orang-orang yang berilmu dan baradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang  ~ Pesan Imam Syafi’I. [211]
  2. Jangan puas jadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai . [395]
  3. Dulu jual mengkudu, sekarang jual durian, dulu tidak laku, sekarang jadi rebutan. [393]
  4. Pasang Surut suatu Dinasti mengikuti hukum universal. Menurut hukum itu, suatu budaya baru selalu dimulai dari semangat solidaritas kelompok yang sangat kuat. Kelompok ini lalu menjadi penguasa dan membangun budaya dan peradaban yang kokok.   Tapi begitu kekuasaan terbentuk, mereka menhadi lengah, muncul kecumburuan dan satu sama lain berebut kekuasaan. Fase berikutnya, mereka menjadi lemah dan gampang ditaklukkan oleh kelompok baru. Yang punya semangat solidaritas  kelompok yang lebih baru lagi, seperti yang pernah mereka punyai dulu. Dan siklus ini terjadi berkali-kali. Ambruknya peradaban Islam di Spanyoe juga terjadi karena kesalahan yang sama. ~ Ibnu Khaldu (abad ke 13 di Spanyol) dalam bukunya “Mukaddimah”.  Dia adalah ahli hukum, sejarah, sosiologi, dan filsuf. [390]

  5. Dinasti-Dinasti:
    • Dinasti  Nasrid di Spanyol
    • Safavid di Iran
    • Mogul di India
    • Ottoman di Anatolia, Syiria, Afrika dan Timur Tengah. [390]

  6. Ibnu Rusyd lahir di Spanyol pada abad ke 12. Nama eropanya Averrous. Dia adalah ahli hukum, aritmatika dan kedokteran.  Ikut berperan mempengaruhi filosofi pemikiran Thomas Aquinas dan Albert the Great. [389]
  7. Bagi kita disini, seni penting untuk menyelaraskan jiwa dan mengekspresikan kreatifitas dan keindahan. [34]
  8. Pendidikan di Pondok Madani tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana. [35]
  9. Man jadda wajada
  10. Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin. [49]
  11. Beruntunglah kalean sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan ke Syurga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orag berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata, dan hati kalean. [51]
  12. Bahasa ASING adalah anak kunci jendela dunia [51]
  13. Tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan. [76]

  14. Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju [76]
  15. Ketek  banamo, gadang begala. Kecil diberi nama, dewasa diberi gelar. [98]
  16. Man Shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. [107]
  17. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan masa sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misnya dalam hidup [106]
  18. Going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata [107]
  19. Jangan  pernah mengizinkan orang diri kalian dipengaruhi oleh unsure di luar kalean. [107]
  20. Hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses. [108]
  21. Jangan berharap dunia berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. [158]
  22. Ilmu bagai nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu bersihkan hati dan kepalamu, supaya sinar itu bsia datang, menyentuh, dan menerangi kalbu kalian semua. [190]
  23. Tuhan bisa mendatangkan rezeki kapada manusia dari jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka. [205]
     
  24. Dulu jual paku sekarang rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan. [232]
     
  25. Belajar keras adalah gaya hidup yang fun, hebat dan selalu dikagumi. [264]
     
  26. Ikatlah ilmu dengan mencatatnya ~ Pesan Sayidina Ali. [265]
     
  27. I’malu fauqa ma’amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat oran. [267]
     
  28. Apabila orang masuk sekolah agama hanya karena tidak lulus ujian masuk sekolah umum, bagaimana kita bisa mengharapkan ahli agama yang cemerlang kalau yang belajar ilmu agama itu banyak dari orang-orang terbuang? [312]
     
  29. Disini adalah tempat memberikan jasa, bukan minta dan mengingat jasa. [353]
     
  30. Setiap barang yang pernah ada di suatu tempat dan kemudian dipindahkan, maka masih ada jejak aura di tempatnya semula. [368].
     
  31. Allahumma zidna ilman warzuqna fahman. Tuhan tambahkanlah ilmy kepada kami dan anugerahkanlah pemahaman kepada kami. [379]
     
  32. Inti hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras,  do’a, dan tawakkal. [382]
     
  33. Saajtahidu fauqa mustawa al- akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oleh orang lain. Filosofinya sedikit saja lebih dari orang lain [383]
     
  34. Napoleon Bonaparte tidak pernah mau ikut ujian. [393]
     
  35. Syair Abu Nawas:
    Wahai Tuhanku…Aku sebetulnya tak layak masuk syurgaMU,
    Tapi, …aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,
    Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,
    Sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar
    Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasit
    Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang maha agung

    Setiap hari umurku terus berkurang
    Sedangkan dosaku terus menggunung,
    Bagaimana aku menaggungkannya?

    Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini
    Datang bersimpuh ke hadapanMu
    Mengakui segala dosaku
    Mengadu dan memohon kepada-Mu

    Kalau Engkau ampuni itu karena
    Engkau sajalah yang bisa mengampuni
    Tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon
    Ampun selain kepadaMu???

    [143-144]

  36. Apa yang kamu lihat, kami dengar, kami rasakan, kami adalah pendidikan [145]

Repost_Urgensi UU PT

Dalam rangka mempe ringati Hari Pendidik an Nasional 2 Mei 2012, Majelis Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bersama Universitas Indonesia (UI) akan menyelenggarakan sarasehan pendidikan pada Senin, 7 Mei 2012, di Kam pus UI Depok. Tema yang diangkat ialah “Pandangan Tokoh Tentang Pendidikan Tinggi Indonesia”.

Dalam konteks ini, RUU Pendidikan Tinggi (PT) yang menjadi hak inisiatif DPR RI telah dilakukan pembahasan secara intens dengan berbagai kalangan.

Sebagaimana lazimnya dalam pembahasan RUU terdapat pro-kontra. Namun, disayangkan akhirnya pembahasan meng alami kebuntuan sehingga peme rintah meminta penundaan pengesahan RUU tersebut pada sidang paripurna DPR RI tanggal 12 April 2012.

Terlepas dari ketidaksetujuan pemerintah terhadap RUU tersebut, menurut hemat saya, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk dipertim bangkan. Pertama, secara filosofis RUU tersebut harus memuat arah yang jelas tentang pengembangan PT, baik dalam aspek keilmuan, keterampilan, maupun penguatan terhadap karakter bangsa di mana segenap komponen bangsa te ngah membutuhkan penguatan nilainilai moral bangsa yang akhir-akhir ini mengalami degradasi.

Kedua, secara sosiologis, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan PT karena sampai saat ini yang dapat menik mati nya masih sedikit. Ironisnya, sejumlah PT menghasilkan pengangguran terdi dik, yakni seseorang yang telah lulus da ri perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan, tetapi belum dapat memperolehnya. Para pe ngang gur terdidik biasanya dari kelompok masya rakat menengah ke atas, yang memung kin kan adanya jaminan kelangsungan hi dup meski menganggur.

Pengangguran terdidik sangat ber
kait an dengan tidak relevannya sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dunia pendidikan di negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pa da masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan ku rang nya lapangan pekerjaan. Dalam ma sya rakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan mela lui pemanfatan kesempatan kerja yang ada.

Sebenarnya, gelar sarjana tak otomatis memuluskan jalan meraih pekerjaan.

Jumlah pengangguran tingkat sarjana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya pada 2007, jumlahnya sekitar 740 ribu dan awal 2009 ber tambah mendekati angka satu juta sarjana yang menganggur. Hal ini harus diwaspadai mengingat setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300 ribu sarjana dari 2.900 PT.

Menurut hemat saya, makin banyak nya sarjana yang menganggur disebab kan oleh rendahnya keterampilan (soft skill) di luar kemampuan utama dari sar jana yang bersangkutan. Untuk meng atasi pengangguran, perlu dikembangkan komitmen kewirausahaan.

M eningkatnya pengangguran terdi dik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya di Indonesia. Untuk makmur, Indonesia perlu meningkatkan jumlah pengusaha menjadi 1,1 persen atau menjadi 4,4 juta orang.

Ketiga, secara konstitusional berkait an dengan pembahasan RUU PT perlu pertimbangan memuat substansi yang berkaitan dengan sejumlah pasal dalam RUU tersebut.

Pertama, dalam RUU PT perlu diatur mengenai orientasi kelulusan pendidikan tinggi. Kedua, RUU PT perlu memberi kan peluang dan keleluasaan pada pe nyelenggara PT untuk membuka jurusan yang sesuai dengan potensi lingkungan dan SDM di lingkungannya. Hal ini pen ting sehingga PT memiliki relevansi
dengan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, RUU PT perlu menegaskan semangat UUD 1945 dan UU No 20 Ta hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai kewajiban pendidik an tinggi untuk menerima dan memberi kan fasilitas pada warga negara yang kurang mampu sekurang-kurangnya 20 persen dari jumlah seluruh mahasiswa.

Keempat, dalam pasal 10 ayat 1 me nge nai rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi perlu penambahan kata ‘akar’ sehingga bunyi pasal 10 ayat 1 menjadi: Pasal 10 1 Rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kumpulan sejumlah akar, pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang berkembang secara alami dan disusun secara sistematis.

Selanjutnya, dalam penjelasan pasal 10 ayat 1 perlu ditambahkan kalimat, “Yang dimaksud akar dalam ayat ini, meliputi agama, ideologi Pancasila, dan filsafat.” Kelima, pada pasal 44 ayat 2 perlu di tambahkan kalimat, “mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA)” sebelum frasa “bersifat rahasia” dan penambahan kata “dapat” sebelum kata “mengganggu” sehingga selengkapnya berbunyi, “Hasil penelitian wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan dan/atau dipatenkan oleh perguruan tinggi, kecuali hasil pe ne litian yang mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA), bersifat raha sia, dapat mengganggu, dan/atau membahayakan kepentingan umum.” Keenam, dalam RUU terdapat pasal 89 ayat 1 yang menyatakan bahwa perguruan tinggi negara lain dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi di wila yah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Saya kurang se pendapat dengan pasal 89 sehingga mengusulkan untuk dihapuskan. Karena, pihak asing dalam mengelola pendidikan di Indonesia akan mengintervensi ke daulatan NKRI. Dengan demikian, cepat atau lambat rasa nasionalime kebang sa an anak bangsa kita akan hilang.

Tulisan diatas adalah Opini AMIRSYAH Sekretaris Departemen Pendidikan MPP ICMI. Tulisan ini sudah dimuat di Harian Republika edisi 3 Mei 2012. 

Anies Baswedan

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang, kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan — tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia — itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.
“Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. “Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.
Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting.
“Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.
Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.
Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia” bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.
Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang “Young Global Leaders 2009” dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.
Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.
Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.
Pertama kali terbit pada Maret 1990 — bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.
Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.
Anies Baswedan, Tokoh Perubahan Dunia
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
“Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang,” kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan — tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia — itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.
“Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. “Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.
Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting. “Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.
Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.
Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia” bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.
Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang “Young Global Leaders 2009” dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.
Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.
Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.
Pertama kali terbit pada Maret 1990 — bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.
Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.
Biodata Anies Baswedan
Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan, di antaranya dengan mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia.
Lewat perpaduan visi, ide-ide segar khas anak muda, kecerdasan dan ideologi, serta rasa bangga sebagai anak Indonesia, ia menganggap bahwa pengelolaan universitas harus didasarkan pada manajemen dengan model bisnis modern.
“Universitas harus dikelola secara modern dan terkait dengan dunia swasta secara mutualistis,” kata Anies.
Sejak memimpin Universitas Paramadina, tiga tahun lalu, Anies telah melakukan beberapa hal yang revolusioner, dan dianggap tidak lazim terjadi di dunia pendidikan swasta di Indonesia ini. Di antara pemberian beasiswa bagi ratusan mahasiswa berbakat tapi kurang mampu dan pewajiban mata kuliah anti-korupsi.
Anies Baswedan Calon Tokoh Dunia
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.
Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.
Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain, seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative Amerika Serikat Paul Ryan.
Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan (tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia) itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang. “Anies adalah seorang Muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu,” tulis Foresight.
Menurut majalah itu, citra Anies yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang membuat dia berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.
Menanggapi penghargaan tersebut, Anies mengatakan tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.
“Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia,” kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Kopenhagen, dan Madrid.
Pada tanggal 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.
Direktur Marketing & Public Relations Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, menyatakan, apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia punya peran penting. “Sebab, beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu,” kata Syafiq.
Anies Baswedan: Kami Tolak Demokrasi Rutinitas
Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menyatakan menolak demokrasi yang hanya sekedar merumitkan tata cara berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum. Mereka juga menolak demokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pemimpin yang berkualitas dan layak diteladani.
“Kami mencita-citakan demokrasi Indonesia yang matang, yang menjadi tempat persandingan keberagaman dengan kesatuan, dinamika dengan ketertiban, kompetisi dengan persamaan, dan kebebasan dengan kesejahteraan,” ujar Anies Baswedan ketika membacakan manifesto, Senin (1/2/2010) di Istora Senayan, Jakarta.
Anies, bersama deklarator lainnya merasa terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang, dengan keringat dan tangan sendiri. Anis menjelaskan, Nasional Demokrat adalah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan dan golongan untuk merestorasi Indonesia. Nasional Demokrat, lanjutnya, tidak hanya bertumpu dan berpusat di Jakarta, melainkan gerakan perubahan yang titik-titik sumbunya terpencar di seluruh penjuru dunia.
Anies Baswedan Bantah Incar Kursi Menteri
Nama Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan sering disebut-sebut sebagai salah satu calon menteri yang membawahi bidang ekonomi pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014. Namun, ketika dikonfirmasi terkait hal ini, dirinya justru mengaku tidak tahu-menahu. “Enggak tahu saya. Mesa’ake aku,” ujarnya ketika dikonfirmasi mengenai isu di atas, seusai peluncuran buku karangan Faisal Basri, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (7/10).
Anies membantah kabar yang menyebut bahwa dirinya mengincar kursi menteri dalam susunan kabinet mendatang. Menurutnya, dirinya bukanlah tipikal orang yang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi tipikal orang yang berjuang dalam melakukan pekerjaan. “I did not fight to get a job, tapi I did fight to do a job,” ujarnya.
Anies menuturkan, sebenarnya saat ini Indonesia membutuhkan sosok yang sanggup memberikan sumbangsihnya terhadap negara. Sebab, menurutnya, tantangan pembangunan Indonesia ke depan adalah pada desain institusi, bukan pada si pemangku jabatan. “Begini, kalau kinerja kita ditransparankan kan kita bisa lebih kreatif,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politik Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa kalangan pengusaha dan profesional mewakili kelompok elite dan sosial berpotensi mengisi kabinet SBY jilid II karena dapat memengaruhi persepsi publik.
Selain Anies, pengusaha Rahmat Gobel juga disebut-sebut sebagai sosok yang cocok untuk mengisi posisi sebagai menteri perindustrian. Selain itu, Bima memprediksi bahwa posisi menteri keuangan tetap akan diisi oleh Sri Mulyani. “Kalangan profesional ini kreatif, punya sikap otonom, dan punya jaringan yang kuat,” sebutnya.
Anies Baswedan: SBY Harus Ubah Gaya “Leadership”
Ini catatan akhir tahun tentang kepemimpinan SBY yang diungkapkan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.
Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di periode kedua kekuasaannya dalam dua bulan terakhir penuh “goncangan”. Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan, kegoncangan yang terjadi menyebabkan ketidakpastian politik dan demokrasi. Kondisi ini, menurutnya, tidak seharusnya terjadi jika adanya kepemimpinan yang tegas dalam mengambil keputusan.
Anies, mantan anggota Tim Delapan yang memverifikasi kasus Bibit-Chandra, mencontohkan, Presiden tidak menunjukkan sikap tegas saat bersikap terhadap hasil akhir rekomendasi yang diberikan tim. “Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership, keberanian. Hadapi saja seharusnya kelompok penentang. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, maka dia akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi penentang,” kata Anies saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun “Rekayasa Indonesia Baru”, di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (29/12/2009).
Demikian pula untuk kasus Bank Century. Seharusnya, yang terjadi adalah politik mengikuti hukum (politics follow legal). “Tapi yang terjadi sebaliknya, legal follows politics. Ini bahaya sekali. Kalau pemimpin menyadari, ada aspek legal dan konsekuensi politik yang dihadapi, akan lebih baik,” ujarnya.
Selama dua bulan kepemimpinan ini, menurut Anies, SBY seharusnya tak merasa menjadi satu-satunya Presiden yang menghadapi krisis. Untuk menghadapinya, dibutuhkan perubahan gaya kepemimpinan. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dinilai terlalu mengedepankan gaya memelas saat tampil di publik.
“Bicara krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Tapi dihadapi jangan dengan tampil memelas. Orang kalau dalam posisi inferior, tampil memelas akan dikasihani. Kalau orang dalam posisi superior, memelas, tidak akan dikasihani,” kata Anies.
Ia melanjutkan, “Yang penting muncul adalah leadership. Dalam dua bulan terakhir, gaya Presiden seperti itu tidak akan menguntungkan,” ujarnya.
Dalam 5 tahun pertama kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla, 2004-2009, Anies melihat, SBY lebih menjalankan komunikasi antara dirinya dan massa. Sedangkan komunikasi dengan kekuatan politik difungsikan oleh Kalla. “Sekarang, dikerjakan sendiri dan terbukti dalam dua bulan ini tidak dikelola dengan baik sehingga memunculkan riak-riak politik yang menguras energi,” kata dia.
Dua bulan pertama kepemimpinan seharusnya memperlihatkan kepastian politik. Namun, kondisi yang terjadi sebaliknya. Anies membayangkan, pasca-Oktober (pelantikan Presiden-Wapres), pemerintahan akan mulai bicara tentang “isi” atau apa program yang akan dilaksanakan. “Dari Oktober seterusnya, kita justru menyaksikan political uncertainty,” ujar Anies.

Sumber: http://tuahmanurung.blogspot.com

Catatan Dimas Sandya

Dibawah ini adalah Catatan-Catatan Dimas Sandya, Sahabat Saya dari Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Dimas ditempatkan di SDN 25 Araselo Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Saya tertarik membaca catatan-catatan dimas, makanya saya minta izin untuk publikasi di Blog Saya. Selamat Membaca semoga bermanfaat. kalau anda mau tambahkan Dimas sebagai Sahabat anda di Facebook, silakan click disini

Catatang 1_Senyum Araselo

Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum lembut anak pelosok yang penuh dengan kepolosan. Tanpa alas kaki dan pakaian yang membungkus rapi tubuhnya, mereka berlari riang kesana kemari. Aku pun tergerak untuk ikut mengejar, sekedar untuk berkenalan. Tapi mereka malah menghindar secepat kilat. Sambil sesekali mengintip di balik pepohonan, mereka melirik ke arahku. Mungkin bertanya-tanya pada sosok yang baru dilihatnya. Siapa dia, mau apa dia, sedang apa dia? Dan aku hanya membalasnya dengan senyuman lagi. Senyuman yang seolah berkata, aku pak guru, datang kemari untuk belajar bersamamu, maukah kau bermain denganku. Itu jawab senyumku.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku .Senyum malu-malu yang buatku hati pilu. Kulihat dia sedang menggembala lembu, yang bukan satu atau dua, tapi bisa jadi lima. Usianya masih kurang dari sewindu, tapi kerjanya berat sekali. Ada lagi yang sedang menggendong balita kecil. Mungkin adiknya. Saat orang tuanya ke kebun, dialah pengurus semua pekerjaan di rumah. Mengambil air di sungai, mencuci, memasak, dan menjaga adik adalah tugasnya. Sudah seperti mamak-mamak saja dia. Untunglah dia masih bisa sekolah, jika sempat. Atau sekedar belajar di balai, jika dapat. Maka aku tak hiraukan jika ia sekejap datang terlambat. Masih dengan senyumnya yang malu-malu, kupersilahkan ia duduk, untuk segera belajar bersama kawan-kawan.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum riang tatkala kuajarkan mereka senam pagi di sekolah. Sambil setengah bernyanyi, mereka gerakkan badan ke kanan dan kiri penuh semangat. Lain hari mereka begitu hikmat mengikuti upacara. Kadang masih dengan kelinglungan di kepala, menebak-nebak rangkaian kegiatan di setiap senin pagi. Sikap sempurna, hormat pada bendera, menyanyi lagu wajib, istirahat di tempat, mengheningkan cipta. Semua ritual itu adalah baru bagi mereka yang bahkan tak tahu senandung Indonesia Raya. Maka begitu sang merah putih berkibar di puncak bendera, rasa kagum tak terelakkan lagi. Mengukir senyum di wajah mereka. Riang dan penuh kebanggaan sebagai anak Indonesia.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum binar yang memancar saat mereka melihat buku dalam tas besar yang kugendong. Berkali-kali mereka menawarkan bantuan untuk membawa ‘perpustakaan berjalan’ itu. Mereka tampak haus akan segarnya dunia literasi. Buku, jadi sebuah oase pengetahuan di tengah gersangnya aktivitas dusun tanpa listrik dan air bersih. Buku, layaknya goresan pelangi saat hujan tiba, yang menghadirkan warna baru di hari-hari mereka. Barisan huruf, deretan gambar, beserta lembaran penuh imaji, ibarat santapan lezat yang selalu tak pernah puas dilahap. Mereka akan menagih lagi untuk meminjam buku, datang lagi untuk membaca buku, dan dengan binar di matanya, mereka tersenyum untuk bahkan meminta buku.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum semangat kala mereka turun gunung untuk pertama kalinya. Lintasi jalan nan berbatuan, hingga tiba di padatnya jalur menuju kota. Tiga jam perjalanan pun sungguh jadi tak terasa. Mereka lelah, mereka lemas. Tapi ini adalah pengalaman berharga, yang belum tentu hadir lagi di esok lusa. Ini sebuah lomba, yang sedari dulu selalu dinanti, hanya jadi khayal dalam lamunan sepi. Maka ketika semua menjadi nyata dan di depan mata, semangat itu terasa semakin bergelora. Ada rasa was-was, sekedar gelisah melihat lembar jawaban yang baru pertama dilihat. Kuyakinkan mereka untuk terus berjuang, tanpa perlu pikir kalah menang. Ini kesempatan, ini pencapaian. Bahwa setiap orang bisa berpetualang ke luar batasan dunianya, asal punya semangat dan keyakinan. Lagi-lagi mereka tersenyum.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum bahagia setiap kali mereka lihat aku kembali pulang ke dusun Dama Buleuen. Membawa sejuta angan-angan yang siap kutebar dan kutanam di benak mereka. Anak-anak itu girang, mereka kesenangan. Seolah sang induk semang mengantongi makanan untuk anak-anaknya. Sungguh seketika aku jadi tak tega, mengabarkan pada mereka, inilah kepulangan terakhirku. Dan setelah ini, aku akan mengenang mereka hanya dari  foto dan cerita, lewat kenangan lagu dan surat lama, hingga celotehan bocah yang terlanjur bersarang di kepala. Jadilah kutinggalkan tanda senyumku untuk mereka. Kutempelkan erat di dadanya, kulekatkan sangat dalam jiwanya. Senyum bahagiaku untuk anak-anak tercinta.
Senyum itu adalah senyum anak-anakku. Senyum Araselo. Senyum lembut untuk selalu rendah hati. Senyum malu-malu namun penuh arti. Senyum riang untuk menggapai masa depan. Senyum binar penuh cita-cita di masa mendatang. Senyum semangat untuk terus bermimpi, belajar, dan berjuang menuju kesuksesan. Senyum bahagia yang akan selalu ada, dengan atau tanpa aku disana. Senyum itulah, yang buatku melebur, melebar Senyum tulus yang telah mengajarkanku tentang arti kesabaran dan keikhlasan. Hingga kelak aku akan merindukan senyum itu. Lagi dan lagi.
Dama Buleuen (Araselo), 25 Februari 2012

Catatan II_ Bukan Guru Biasa
Perjalanan saya mengikuti program Indonesia Mengajar telah mengantarkan saya ke sebuah dusun tanpa listrik dan air di pelosok negeri ini, di tanah rencong, Nanggroe Aceh Darussalam. Disanalah, segala kegelisahan saya tentang dunia pendidikan Indonesia seperti terbungkam. Saya mengalami irama persekolahan nun di jantung Kabupaten Aceh Utara, tepat di daerah konflik yang dulu menjadi sarang GAM. Selama lima bulan saya disini, saya dihadapkan pada realita pendidikan bangsa kita, dari sudut pandang seorang guru. Suatu hal yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di tayangan film atau cerita di media kini berada tepat di depan mata dan menjadi bagian dari keseharian saya. Jalanan ke sekolah yang rusak, bangunan sekolah yang minim fasilitas tanpa toilet, siswa-siswi dengan seragam kumal yang menggunakan sendal jepit, adalah nyata adanya. Maka meski kini saya benar-benar menjalaninya, rasanya lidah ini kelu untuk mengeluh, terutama jika mengingat perjuangan para guru disini untuk mengajar.
Adalah seorang guru wanita berusia 37 tahun. Ibu Mundliah namanya. Sejak sekolah di puncak bukit ini dirintis, Bu Mun, panggilan akrabnya, kembali mengabdikan dirinya sebagai guru. Padahal lokasi sekolah ini terletak sekitar 21 km dari rumahnya, dan pada saat itu membutuhkan waktu hingga 2 jam untuk tiba di sekolah. Namun baginya, pilihan menjadi guru adalah sesuatu yang terhormat. Apalagi sejak suaminya dituduh menjadi bagian dari GAM, dan dipenjara selama beberapa tahun, Bu Mun, harus membiayai kedua anaknya yang masih kecil dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia juga harus meninggalkan sekolah yang dirintisnya ketika terjadi konflik, dan hidup berpindah-pindah untuk sekedar mendapat keamanan. Saat itu adalah masa kelam dalam hidupnya, hingga rumah yang ia tinggali pun ikut dirusak. Bahkan ia sempat dengan nekat menjalani profesi sebagai RBT (ojek) dimana lazimnya disini hanya laki-laki yang bisa melakukan hal tersebut. Kemudian pasca peristiwa tsunami yang menewaskan ratusan guru di Aceh, tibalah kesempatan untuknya kembali mencicipi suka dan duka sebagai seorang  guru.
Sudah 19 tahun Bu Mun berkiprah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, walau sempat terhenti sejenak saat masa konflik. Dari mulai guru bakti, hingga guru honor sudah pernah ia jalani. Namun untuk menjadi seorang pegawai negeri, tampaknya masih menjadi sebuah mimpi. Kini sebagai seorang guru honor, tidak banyak imbalan yang diterima olehnya. Jika dibandingkan dengan ongkos bensin dan perbaikan motornya, semua hampir impas. Tapi hal itu tidak membuat Bu Mun berhenti mengajar. Baginya ini kesempatan untuk mengembangkan diri sekaligus berbakti pada negeri. Jika hujan tiba, hanya Bu Mun, satu-satunya guru yang bertahan naik ke atas bukit. Dengan berbekal motor tuanya, ia bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilometer, karena motornya tak sanggup melewati ganasnya tanjakan tanah nan berbatu di bukit Dama Buleuen. Saking licinnya, roda motor bergeser kesana kemari, tanpa pernah bisa melaju. Sungguh membuat frustasi! Terpaksa ia meninggalkan motornya di tengah jalan, dan kembali melanjutkan perjalanan agar kegiatan belajar dan mengajar tidak terhenti. Betapa gigih dan luar biasa perjuangannya.
Saya jadi ingat pertama kali saya datang ke sekolah ini, lantas saya bertanya pada salah seorang siswa saya “ Siapa guru favoritmu?” dan mereka serempak menjawab “Bu Mun..!”. Saat itu saya belum mengenal beliau, karena ia baru saja melahirkan sehingga harus cuti selama 3 bulan. Saat itu sekolah memang terasa lebih sepi. Saya hanya melihat karya-karya sederhananya berupa alat peraga, yang sesekali saya pakai untuk mengajari anak-anak. Saya pun hanya bisa menduga-duga, ‘seperti apa ya cara Bu Mun mengajar hingga ia begitu disayangi siswanya?”. Belakangan saya tahu, bahwa Bu Mun tidak hanya enerjik dalam mengajar tapi juga interaktif dan selalu memberikan apresiasi pada siswanya. Padahal, tidak banyak yang tahu kalau untuk membuat alat peraga itu, tak jarang Bu Mun meminjam uang pada tetangganya sekedar untuk membeli karton atau lem. Namun baginya, kebahagiaan adalah ketika melihat senyum anak-anaknya di sekolah dan hadir bersama mereka.
Hari itu, seorang guru menyapa saya dengan Bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar, dengan aksen yang kaku namun penuh percaya diri. “Good Morning Pak Dimas. I’m sorry, I’m late because of my baby”, sahutnya. Tersenyum  saya menatapnya. “Its alright Bu Mun. I’m happy to see you”, balas saya. Dialah Bu Mun, seorang guru di daerah terpencil yang sudah malang melintang menjadi seorang pejuang pendidikan. Meski hanya seorang guru honor, namun dedikasi dan semangatnya bahkan melebihi guru-guru senior yang sudah berstatus PNS. Dia juga bukan seorang lulusan jurusan Bahasa Inggris, tapi ketekunannya membuat ia mampu berpidato singkat dengan Bahasa Inggris di upacara 17 Agustus dan dipercaya sebagai Ketua Kelompok Guru Bahasa Inggris di Kecamatan Sawang. Orang-orang sudah sangat mengenalnya sebagai pejuang pendidikan. Percakapan tadi seolah memberi gambaran, baginya menjadi guru adalah proses belajar tiada henti, hingga tak sedikit pun rasa malu yang tampak meski ia tidak fasih berbahasa Inggris.Dan tahun ini Bu Mun bisa bersenang hati, karena gelar sarjana dari Universitas Terbuka telah diraihnya, dengan predikat cum laude.
Bukan guru biasa, itulah kata-kata yang sering saya katakan padanya. Bahkan guru teladan sekali pun jika diuji dengan tantangan geografis dan sosiologis di daerah terpancil belum tentu betah berlama-lama. Maka untuk mereka yang selalu mengkritik tentang bobroknya sistem pendidikan kita, alami saja persekolahan di daerah terpencil. Untuk guru yang ingin menguji seberapa besar kontribusi dirinya terhadap siswa dan selalu mengeluh tentang minimnya kesejahteraan, datanglah kemari dan rasakan pengalamannya sendiri. Pun, untuk untuk semua orang yang merasa paling tahu solusi untuk permasalahan pendidikan, sekaligus jumawa dengan berbagai teori kebijakan makronya, cobalah merendahkan hati disini. Di Dama Buleuen ada Bu Mun, dia punya hati untuk siswa-siswanya, bukan sekedar untuk mencari uang. Darinya saya belajar tentang ketulusan dan pengabdian, dan melakukan kebaikan lewat hal-hal sederhana, bukan sekedar mengutuki keburukan yang sudah ada.
Salam dari ujung barat Indonesia!

Catatan III_Sincerity
Tulus.
Kata itulah yang sering didengungkan ke dalam sanubari kami dari masa pelatihan hingga tinggal di daerah penempatan. Bahkan dalam berbagai kesempatan Pak Anies berkali-kali menyampaikan bahwa ketulusan adalah bahan bakar utama yang akan menjaga semangat kami selama menjadi pengajar muda. Karena tanpa ketulusan, mustahil kami bisa betah mengajar dan kerasan hidup disana. Apalagi di daerah terpencil, dengan segala keterbatasannya, dengan segala gegar budayanya.
Namun, seperti apa bentuk konkrit dari ketulusan itu, saya pun masih bertanya-tanya. Kadang saya hanya bisa menebak-nebak dari perasaan damai yang menghinggapi hati saya, meraba-raba dari kebaikan orang-orang di sekitar saya, atau menduga-duga dari niatan dan ekspresi seseorang ketika melakukan sesuatu. Apakah ia benar-benar punya maksud baik tanpa pamrih? Atau ada maksud lain di balik itu semua? Sesederhana itu paramater saya dalam mengukur ketulusan.
Tetapi ada pepatah yang mengatakan ‘dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu’. Disinilah menurut saya ketulusan menjadi sesuatu yang abstrak, yang hanya bisa dirasakan oleh si empunya tulus dan Sang Maha Tahu. Bahkan tidak jarang saya bertanya tentang ketulusan kepada diri sendiri, setiap kali saya hendak mengeluh. Namun untunglah, bersamaan dengan itu saya teringat sebuah pengalaman berharga di masa pelatihan, saat saya bersama teman-teman berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah gratis untuk kaum dhuafa. Dan disanalah saya menemukan inspirasi tentang ketulusan.
Sekolah itu namanya Batutis Al-Ilmi atau kependekan dari Baca Tulis Gratis. Bu Siska dan suaminya, hanya punya satu niat ketika mendirikan sekolah ini, ingin menyekolahkan anak-anak miskin di sekitar tempat tinggal mereka. Alih-alih memberi beasiswa, mereka kemudian mendirikan sekolah yang dimulai dari PAUD dan SD. Bentuknya pun sederhana, seperti kamar kosan yang berderet dengan fasilitas sekedarnya. Lalu disulap jadi kelas. Bahkan ada kelas-kelas yang menggunakan garasi-garasi tetangganya.
Yang luar biasa adalah guru-gurunya. Saya tidak tahu apa motivasi mereka mengajar disana. Apalagi dengan gaji yang tak seberapa. Merekalah yang membuat sekolah itu jadi penuh inspirasi. Mereka mengajar dengan hati. Hingga suatu ketika, saya tertegun saat melihat seorang anak ADHD yang meludahi gurunya, dan ia hanya berkata, “Hanif, kalau kamu mau meludah jangan di wajah. Ibu tidak nyaman dengan itu. Kalau kamu mau meludah, ayo Ibu antarkan ke saluran pembuangan air. Itu tempat orang membuat ludah”. Suaranya lembut, dengan ekspresi tanpa emosi. Tulus.
Namun dalam praktiknya, ternyata tulus saja tak cukup untuk menjaga kelurusan niat kita. Karena seringkali ketulusan itu terusik oleh semangat yang memudar, sanjungan dari orang bak pahlawan, serta ribuan godaan lainnya yang mengguncang singgasana ketulusan. Tulus ternyata harus disertai rasa syukur, dalam kondisi apapun, agar kita tidak jumawa. Nasib baik membawa berkah, nasib buruk membawa hikmah. Seperti halnya anak-anak Batutis yang entah bagaimana selalu bisa belajar setiap harinya, dengan makanan yang cukup, dengan fasilitas belajar yang semakin berkembang. Bu Siska tidak pernah tahu darimana itu semua berasal. Yang dia yakini hanyalah Tuhan pasti akan memberikan karunia terbaik bagi setiap hamba-Nya yang berusaha. Dan entah bagaimana, rejeki itu pun akan terus mengalir selama hati ini..
Ikhlas.
Begitulah, hanya tulus dan ikhlas yang akhirnya membuat saya bahagia dalam mengajar. Senyum anak-anak itu, binar mata mereka yang penuh dengan semangat untuk bermimpi, sungguh membuat saya tak boleh berhenti. Tantangan boleh datang silih berganti, hambatan boleh hadir sesuka hati, tapi dengan ketulusan dan keikhlasan semua mendadak pergi. Keduanya tidak akan pernah tumpul, selama terus diasah dengan kesabaran. Sabar untuk berbakti, sabar untuk terus menempa diri. Dan semua masih perlu bukti, hingga delapan purnama lagi.
Catatan IV_Pelangi di Dama Buleun
Ara Seulo. Begitulah orang-orang di sini menyebut daerah tempatku tinggal. Terletak di puncak bukit Dama Buleuen, tempat dimana birunya langit adalah karya indah Sang Maha Kuasa, lengkap dengan gumpalan awan sebagai dekorasinya. Konon dulu di sini banyak sekali pohon damar yang getahnya berwarna cemerlang bak cahya rembulan. Dari sanalah nama Dama Buleuen berawal. Udaranya sejuk, kadang berembun di waktu malam. Bukit ini memang dikelilingi hutan, kebun sawit, dan pinang yang terhampar layaknya gulungan karpet hijau. Dari sini, Gunung Geureudong di selatan tampak jelas terlihat dan seolah sama tingginya. Samar-samar dari kejauhan, ada bayang-bayang pantai utara Sumatera yang lautnya menjelma menjadi Selat Malaka.
Nama Ara Seulo sendiri berasal dari nama sebuah perusahaan yang membangun wilayah ini. PT. Alaselo lebih tepatnya. Tapi lidah orang sini terlanjur menyebutnya Araselo, jadilah nama itu yang dikenal. Lebih terkenal dibandingkan nama resmi dusunnya, Dama Buleuen. Sekitar lima tahun yang lalu, pemerintah daerah Aceh Utara berniat menjadikan lokasi ini sebagai desa agrowisata. Semua infrastruktur pun disiapkan. Jalan, rumah, saluran air mantap dibangun. Sekolah, meunasah (masjid kecil), dan puskemas pembantu ikut didirikan. Semuanya sederhana, tapi bersahaja. Yang menarik, penduduk disini adalah warga-warga ‘pilihan’ dari keluarga miskin di berbagai gampong  (desa) di seluruh Aceh Utara. Dengan iming-iming, sebuah rumah, setengah hektar pekarangan, dan 1,5 hektar kebun sawit, maka berbondong-bondonglah mereka kemari. Ada 250 sudah Kepala Keluarga (KK) yang ikut transmigrasi lokal. Mereka meniti hidup, dan berharap masa depan yang lebih baik.
Jika diperhatikan sekilas, suasana dusun ini lebih mirip kompleks perumahan ketimbang desa. Jalan utamanya berupa tanah bebatuan yang lebar, berpasir, juga agak licin dengan kontur berbukit. Kadang saya berkhayal, ini tampak seperti sekumpulan villa yang ada di lereng-lereng gunung di pinggiran kota. Rumah-rumahnya pun unik. Terdiri dari satu tipe, terbuat dari kayu, tapi bukan rumah panggung. Semuanya dicat putih, meski ada beberapa di antaranya yang sudah berubah warna menjadi hijau atau merah jambu. Jalan antar rumah cukup renggang, bisa 50 meter jauhnya. Tapi beberapa sudah dipindah, sehingga kini ada yang jaraknya ‘hanya’ 20 meter. Sekilas rumah di sini tampak canggih, karena dilengkapi sel tenaga surya di atasnya. Sebabnya dusun ini belum terjangkau oleh listrik. Maka meski hanya mampu menyalakan 3 buah lampu di malam hari, manfaat solar cell itu sungguh terasa. Sayang kini sudah banyak yang rusak, hingga gulita kembali menyelimuti dusun ini.
Menurut cerita warga, dulu di dusun ini ada listrik dari dua genset besar yang bisa menerangi seluruh rumah. Mesin PMU namanya, Project Management Unit. Saat itu, kegiatan pertanian sedang giat-giatnya dilakukan. Masa itu, tenaga surya masih leluasa digunakan di siang hari, sekedar untuk menyalakan radio atau menyetrika.  Saat itu adalah masa keemasan. Bahkan pada tahun pertama, masyarakat di sana mendapat dukungan dari pemerintah daerah berupa sembako (sembilan bahan pokok) setiap bulannya. Dusun pun menjadi ramai. Kedai-kedai bermunculan. Orang-orang datang di akhir pekan, dengan kendaraan mobil bak yang jadi satu-satiunya alternatif transportasi. Meski jalan ke sana demikian parahnya, waktu 2 jam pun terbayar saat menemukan suasana berbeda di kampung baru yang bernama Araselo. Sebuah desa rintisan, sebuah dusun binaan, sebuah kampung yang konon paling terpencil di Kecamatan Sawang, Aceh Utara.
Tetapi cerita itu kini seolah jadi legenda. Dua tahun yang lalu, perbaikan jalan yang harusnya menjadi berkah, justru memberi dampak buruk bagi masyarakat disana. Sejak itulah, pipa-pipa air dicabut untuk pembuatan parit-parit di sisi jalan. Katanya akan dipasang kembali, namun tak jelas nasib rimbanya. Kini tidak ada lagi air bersih. Semua bergantung pada kebaikan Tuhan lewat hujan. Jika kemarau, semua berbondong mengangkut air dari mata air di atas bukit atau turun ke lembah sungai. Sekarang listrik juga sudah tidak ada. Maka jika malam tiba, suasana dusun ini layaknya kampung ‘hantu’ yang ditinggal penduduknya. Apalagi kebun sawit yang dulu diharapkan, sudah gagal entah bagaimana. Sebagian memilih pulang kampung, sebagian bertahan. Bagi 80 keluarga yang tetap tinggal, pilihannya adalah bekerja mencari hasil alam di hutan. Dan untuk itu, tak jarang mereka harus menginap beberapa hari disana hingga menambah kesepian di dusun ini.
Perjuangan yang keras, sedikit banyak telah mengubah karakter masyarakat disini. Orang-orang mulai kehilangan kebersamaan dan larut dalam ketegangan hidup. Lambat laun, satu persatu aset di dusun ini hilang perlahan. Sudah banyak yang bilang, hati-hati menyimpan barang. Jika lengah, bukan tidak mungkin semua raib seketika. Entah oleh siapa. Cobaan hidup juga meregangkan persatuan yang dulu ada, karena kini semua hidup untuk dirinya, tak peduli lagi yang lain. Bahkan kepala dusunnya pun tega pindah ke kampung lain, meninggalkan warganya dalam kebingungan. Puncaknya beberapa bulan sudah, hampir tak ada lagi aktivitas kemasyarakatan disana. Tak ada pengajian, tak ada kumpul pemuda, tak ada adzan atau shalat jumat. Semua hidup masing-masing. ‘Nafsi-nafsi’ orang sini bilang. Dusun ini pun beku. Mereka didera krisis kepemimpinan dan kepercayaan, karena tak ada lagi yang bisa diandalkan.
***
Pada hari kedua saya tiba disana, siang itu di tengah keadaan yang sepi, saya melihat beberapa anak sedang bermain tanah. Saya pun mendekati mereka dengan perlahan. ‘
“Sedang main apa?”, tanya saya penasaran. Mereka tampak bingung, dan mengabaikan pertanyaan saya.
 “Sudah pernah main tepuk-tepuk? Bapak punya permainan tepuk 1,2,3. Mau main?”, ajak saya pada mereka dengan penuh semangat.
Lagi-lagi mereka tidak peduli dan hanya ketawa ketiwi sambil berlari menjauhi saya. Tampaknya malu-malu. Wah, ini tidak akan berhasil, pikir saya. Mereka pasti tidak mengerti apa yang saya ucapkan.
Lalu tanpa pikir panjang, saya ikut bermain tanah dengan mereka. Membantu mengumpulkan pasir dan memasukkannya ke dalam gelas-gelas plastik. Mereka tertawa, tapi membiarkan saya. Setelah setengah jam bermain, saya pun menggambar sebuah garis dan persimpangan seraya meletakkan sebuah batu.
 “Ini rumah Bapak, di simpang tiga, kedai Mamak Ponah. Rumah kalian dimana?”, ucap saya sambil menerangkan. Mereka terdiam, lalu salah seorang dari mereka mengambil batu dan menaruhnya di tepian garis yang saya buat.
“Rumoh lung”, katanya singkat. Saya mencoba mengartikannya sebagai ‘Ini rumah saya’. Berhubung baru beberapa hari saya belum pandai berbahasa Aceh, jadi saya sering menerka-nerka apa yang orang katakan.
“Kalau rumahmu?” tanya saya pada anak yang lainnya. Seorang gadis kecil yang senyum-senyum sendiri.
“Nyo”, jawabnya sambil meletakkan batu. Rupanya rumah dia dekat dengan tempat saya tinggal. Hanya berbeda satu atau dua rumah, walaunya jaraknya bisa sampai 100 meter.
Dialog ini cukup berhasil. Saya kemudian meyodorkan kedua tangan saya untuk mengajak mereka bermain. Mereka tampaknya paham isyarat itu. Dan untuk pertama kalinya kami mulai bersentuhan, pertanda keakraban sudah dimulai.
Keesokan harinya, saya bangun pagi-pagi sekali. Menikmati kesejukan udara dan nuansa alam disini. Dari kejauhan kadang terdengar suara monyet atau bahkan gajah yang meramaikan suasana sepi di pagi hari. Apalagi orang disini terbiasa bangun siang. Hingga kemudian, pandangan saya teralihkan. Saya terpesona oleh sebuah pemandangan indah dari balik kabut di selatan.
Termenung. Kagum. Saya lihat ada pelangi di Dama Buleuen. Menyembul dari balik gunung, menjulur ke angkasa. Persis seperti lukisan anak-anak kecil di sekolah dasar. Ia hadir seolah menyambut kedatangan saya dan berkata, “Ayo goreskan warna warni ceriamu disini, di dusun ini! Ceritakan pada mereka tentang indahnya pelangi! Tentang kisah sekelompok anak-anak yang berani bermimpi dan punya cita-cita!”
Ya, akhirnya saya menemukan harapan di dusun itu. Pesan itu datang dari Tuhan lewat ciptaanNya yang sempurna. Inspirasi di pagi hari. Terima kasih pada pelangi. Terima kasih pada kawan-kawan kecil yang pertama kali saya temui. Hamal, Alda, Wahyudin, Aldi, dan Muji namanya. Merekalah sahabat cilik saya. Teman belajar yang akan membuat suasana dusun ini menjadi riang. Ceria seperti warna pelangi.

Inilah pelangi di Dama Buleuen yang menyembul dari balik Gn. Geurudong

Catatan IV_7 Alasa Menjadi Pengajar Muda

“Selamat datang para pemberani!” – Hikmat Hardono, Program Director Indonesia Mengajar
Itulah kata sambutan yang pertama kali saya dengar ketika berkumpul dengan ke-72 orang pengajar muda dalam acara pembukan training intensif selama 7 minggu. Sebuah kalimat yang sangat memotivasi, namun sekaligus menggelitik hati kecil saya. Benarkah saya pemberani? Benarkah saya menjalani semua ini untuk mengabdi? Benarkah saya siap dengan segala suka dan duka yang akan saya temui di daerah penempatan nanti? Entahlah. Saat itu di benak saya masih penuh tanda tanya.
Tetapi justru karena itulah saya dan mereka semua hadir disana. Berdiri bersama para pemuda pemudi yang rela meninggalkan kehidupan nyaman untuk hidup dalam keterbatasan, namun penuh inspirasi. Semua untuk satu misi, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut memajukan pendidikan Indonesia. Dan seiring perjalanan yang saya lalui, satu persatu jawaban mulai muncul layaknya potongan puzzle yang merangkai potret perjalanan kehidupan. Setelah menyelami hati, semangat yang timbul dan tenggelam selama masa pelatihan, hati yang dilanda ombak kegalauan, saya pun akhirnya tiba di muara kepastian.
Andai saya boleh berbagi, inilah setidaknya tujuh alasan mengapa saya menjadi pengajar muda..
1.       Aku Pilih Mengajar!
Orang bilang hidup ini pilihan, maka itu kamu bebas memilih jalan yang akan kamu lalui selama kamu tahu kemana tempat yang kamu tuju, agar kamu tak tersesat. Begitulah, menjadi pengajar muda bukan satu-satunya pilihan yang tersedia. Dan setiap kali dianugerahi kesempatan untuk memilih, saya selalu bersyukur. Bayangkan berapa banyak orang di dunia ini yang hidup tanpa pilihan. Menjalani takdir sebagai sebuah nasib yang tak bisa ditawar. Tapi saya masih bisa memilih, meski ini bukan pilihan yang populer di tengah pilihan lainnya yang jauh lebih nyaman. Karir, beasiswa, keluarga. Semua adalah pilihan yang kemudian ditinggalkan. Betapa sulit rasanya hingga tiba di keputusan ini, namun berkat restu dan doa seorang ibu, saya mantap memilih jalan ini.
Seorang teman berkata bahwa kita ini hidup karena budi baik orang lain. Kita makan beras dari budi baik petani, kita makan ikan dari budi baik nelayan, kita punya rumah dari budi baik para kuli bangunan. Kita sudah banyak mendapat kebaikan dan sudah saatnya kita membalas kebaikan itu dengan budi baik kita. Lantas, saya merasa bahwa saya telah banyak menerima budi baik dari negeri ini hingga saya bisa mencicipi nikmatnya pendidikan dengan subsidi dari pemerintah dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Jadi inilah saatnya saya mengabdi, saatnya saya berbagi. Karena saya punya sedikit ilmu, maka saya pilih mengajar untuk saudara-saudara saya di pelosok negeri.
2.       It’s Time To Break..
Apalah artinya sebuah kalimat tanpa spasi. Dia akan kehilangan maknanya karena hanya berisi timbunan huruf tanpa jeda, tanpa jarak, dan tanpa ruang yang menjadikan kalimat tersebut lebih berarti. Hidup juga begitu. Karena seringkali kita terlalu cepat berlari, hingga menangisi atau memaki hari-hari yang kita lalui. Terjebak dalam rutinitas, terkejar oleh hasrat duniawi untuk sebuah materi. Maka inilah saatnya untuk berhenti. Waktunya untuk mendengarkan suara hati dan berefleksi. Tibalah masa berkontemplasi, sebuah perenungan yang akan mengisi kekosongan batin dari sesaknya aktivitas yang membelenggu diri.
Ruang inilah yang saya cari. Sebuah ruangan tempat saya bernafas sejenak, dan mulai menggali inspirasi. Saatnya break, saat dimana pikiran, tubuh, dan jiwa ini di-charge kembali hingga baterainya benar-benar penuh. Saatnya belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, dan kesabaran. Saatnya menempa diri, memupuk jiwa kepemimpinan. Menjalani kuliah kehidupan selama dua semester, yang jika lulus nanti akan menjadi pelajaran berharga seumur hidup saya. Sebuah pengalaman lahir dan batin, yang akan selalu dikenang. Setahun mengajar, seumur hidup terinspirasi, begitu katanya.
3.       Average Is Boring
Konon mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia. Semua karya besar lahir lahir dari sebuah mimpi, yang bisa jadi dianggap konyol pada zamannya. Andai saja Wright bersaudara tidak terus bermimpi tentang kapal terbang atau manusia burung, bisa jadi saat ini kita masih berlayar dengan perahu jika ingin melintasi lautan. Andai Thomas Alfa Edison tidak bermimpi untuk menciptakan cahaya dalam gelap, pastilah lampu hanya jadi sebuah legenda. Maka andai Pak Anies Baswedan tidak pernah bermimpi bahwa ada ribuan anak muda yang rela dikirim ke daerah pelosok, sekedar untuk mengajar, dan menyalakan harapan pendidikan disana, maka pastilah Indonesia Mengajar hanya sebuah konsep yang bersarang di kepala.
Berlayar terus berlayar, jangan tunggu keajaiban datang. Teramat sayang jika hidup ini kita habiskan dengan terus tinggal di zona nyaman. Lakukan sesuatu yang bisa jadi orang tak terpikir untuk melakukannya. Bukankah kita tidak pernah tahu hasilnya jika tidak pernah mencoba. Jangan jadi rata-rata, tapi jadilah luar biasa. Karena ketika kita hidup dalam keterbatasan, seringkali kita melentingkan potensi kita hingga tiba di kondisi akhir terbaiknya. Lagipula hidup ini cuma satu kali maka tak ada salahnya untuk membuat hidup jadi lebih bermakna, di atas rata-rata.
4.       Sekolahnya Manusia
Manusia bersekolah untuk menuntut ilmu. Itu artinya sekolah dibuat sebagai tempat untuk mencetak orang-orang berilmu. Tapi ketika sekolah hanya menghasilkan robot-robot pandai pencetak materi, yang menyingkirkan orang-orang non eksak, serta mendikotomikan manusia dalam label pintar dan bodoh, maka disinilah sekolah telah banyak mengalami pergeseran makna. Ia terjebak dalam ranah komersialiasi sehingga memajak para penikmat pendidikan dengan harga selangit. Ada harga, ada rupa. Begitulah prinsip ekonomi. Semakin tinggi harga yang dibayarkan, maka semakin tinggi kualitas yang didapat. Lalu bagaimana dengan kondisi sebagian besar sekolah negeri? Inilah yang jadi potret ironi, sebuah paradoks di negeri ini.
Sejatinya sekolah adalah tempat manusia belajar hingga ilmu yang dimilikinya menjadi bermanfaat bagi yang lain. Sekolahnya manusia, adalah sekolah yang memuliakan manusianya, dimana setiap orang dihargai sebagai individu yang unik, cerdas dengan segala kelebihannya masing-masing. Untuk membangun sekolahnya manusia, maka yang mengajar haruslah gurunya manusia. Guru yang tahu cara mendidik manusia, lebih dari sekedar menjalani profesinya. Guru yang mengajar dengan setulus hati dan sepenuh jiwa, serta mengerti kebutuhan para siswanya. Untunglah masih ada banyak guru yang layak disebut gurunya manusia, meski tidak sebanyak gurunya para robot. Saya mau bertemu mereka dan belajar menjadi gurunya manusia, agar suatu hari kelak semua sekolah di negeri ini menjadi sekolahnya manusia. Sekolah tempat manusia benar-benar menuntut ilmu, bukan nilai.
5.       Give The Benefit, First!
Pernahkah kita sadari bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita semua. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, guru, dan orang tua siswa. Jika jawabannya ya, maka berhentilah memaki. Mendidik adalah tanggung jawab setiap yang terdidik. Alih-alih mengutuki sistem pendidikan yang tak kunjung beres, dana BOS yang alirannya masih simpang siur, kualitas guru yang mutunya mencemaskan, mengapa bukan kita yang memulai untuk menjadi pemberi manfaat? Kita yang mulai menyalakan pelkita harapan di benak setiap anak, bahwa pendidikan berkualitas itu bukan mimpi. Dan semua orang berhak mendapatkannya.
Berhentilah membicarakan polemik pendidikan negeri ini. Ayo berbuat, sekecil yang kita bisa! Karena seringkali ilmu sederhana yang kita punya jadi sangat luar biasa bagi orang yang membutuhkannya. Betapa banyak orang yang pintar membaca dan menulis, tapi hitunglah berapa orang yang mau mengajarkan hal tersebut. Berapa banyak orang yang pandai berhitung, tapi lihatlah berapa orang yang mau mengajarkannya. Berapa banyak orang terdidik yang mau mendidik. So give the benefit, first! Lets stop cursing the darkness ‘n try to light a candle..
6.       Teladani A.K.A.R
Sejak dulu saya selalu mengagumi akar. Ini adalah bagian tubuh yang paling tidak terlihat, namun justru paling kokoh dan berperan besar dalam menunjang kehidupan sebuah tanaman. Tujuannya hanya satu, mencarikan air untuk proses kehidupan. Ia gigih, tak berhenti meski dihadang batu atau jurang yang menganga. Dengan segala keyakinan, ia meliuk, mengantung, memutar, dan berjuta cara lainnya agar tiba di tempat air berkumpul. Akar begitu menjalani perannya dengan bersungguh-sungguh. Penuh tanggung jawab tanpa jumawa.
Menjadi pengajar muda adalah cara saya untuk meneladani A.K.A.R. Darinya, saya belajar untuk memiliki Ambisi, agar pantang menyerah hingga mencapai tujuan. Ia juga menjalani tugasnya dengan Konsisten. Terus bergerak tanpa henti. Pelan namun pasti. Agar berhasil, maka ia selalu ber- Adaptasi dengan lingkungan yang ditemuinya. Dihadang beton, batu, pasir, kerikil, sungai, adalah cobaan kecil. Ia lalu melebur bersama alam, berbaur, dan menjadi bagian dari lingkungan agar tetap bisa melaju. Yang terpenting, di atas segalanya ia tetap Rendah hati. Akar tidak pernah menjulang, melawan takdirnya. Ia selalu membumi, seperti ilmu padi.
7.       Have F.U.N Go M.A.D !
Pernahkah kita menjalani sesuatu hal yang kita sukai, hingga kadang kita rela menyisakan waktu yang kita miliki untuk menekuninya? Pernahkah kita merasa puas akan sebuah karya sederhana yang dihasilkan dari kesukaan kita? Bisa jadi itulah passion kita. Dan inilah saatnya saya menikmati “sisi lain” dari diri saya. Ya, saya suka belajar dan mengajar. Saya suka bercerita dan berkegiatan bersama anak. Saya suka berpetualang dan jalan-jalan untuk mengenal negeri ini. Tapi itu semua akan lebih berarti jika saya bisa ikut serta menghasilkan perubahan. Tentunya menjadi lebih baik.
So, lets start to Find Ur passioN, and Make a Difference. Have F.U.N go M.A.D ! Karena setiap orang sejatinya bisa menjadi changemaker. Inilah saatnya jadi tahu, lebih peduli, lalu berbuat aksi nyata. Inilah tangga untuk mengabdi pada Indonesia. Inilah masanya mengenal negeri ini dari sudut yang berbeda. Nikmati, alami, dan lalui pengalamannya secara langsung. Maka meski banyak rintangan menghadang, inilah waktunya untuk mengatakan ..
“Pengajar Muda, YES WE CAN!”

Aktivis HMI Aceh Utara Juara Tulis Artikel

Muhammad Adam mewakili Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, berhasil meraih juara dua Lomba  Menulis Artikel se-Indonesia yang diadakan Pengurus Besar HMI (PB-HMI) Jakarta Pusat, 11 Januari-20 Februari 2012. Pengumuman pemenang tersebut diumumkan Kamis (16/2) malam di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat.

“Saya kemarin mendapat pengumuman dari pengurus PB HMI, mereka menelpon saya mengabarkan bahwa saya mendapat juara dua dalam perlombaan tersebut. Tiga artikel yang telah saya kirim itu yang pernah di muat di harian Serambi Indonesia,” kata Muhammad Adam kepada Serambi, kemarin.

Koordinator kegiatan, Fitriani meyebutkan perlomban menulis artikel itu digelar dalam rangka Dies Natalis Ke-65 PB HMI. Selain itu juga digelar lomba debat ilmiah dan pameran photo. “Juara pertama lomba tulis artikel diraih Setyo Pramuji, sedangkan juara tiga diraih Dirga Maulana dari HMI Cabang Ciputat,” katanya.(c37)

Sumber: Serambi Indonesia

Joko ‘Jokowi’ Widodo; CEO ‘Kaki Lima’ Mengubah Wajah Surakarta


Saya sampaikan kepada masyarakat, bahwa problemnya itu ini. Masalah di kota itu ini. Hambatannya ini. Marilah kita carikan jalan keluar bersama-sama. Saya tidak mau janji yang tinggi-tinggi. Saya janjikan yang realistis. Masyarakat sudah tidak senang dengan janji yang muluk-muluk. Masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji.

 

Biografi Singkat
Ir. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961) , yang lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi, adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bakti 2005-2015. Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Dia masuk ke Fakultas Kehutanan UGM bertolak dari keinginannya untuk menjadi tukang kayu. Orangtuanya sendiri menekuni bisnis perkayuan.
Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini, bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan motto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif: mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, dan melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″.
Menjadi Walikota Dengan Niat Yang Mulia
Biasa saja. Saya pikir tidak ada yang perlu disikapi berlebihan dengan jabatan yang saya pegang sekarang ini. Yang jelas, tanggung jawab saya sekarang menjadi sangat berat. Karena saya mengemban amanah dari masyarakat Solo untuk memimpin mereka menuju Solo yang lebih baik, maju dan mensejahterahkan seluruh lapisan masyarakat. Amanah itu saya terima dengan senang hati dan dengan penuh tanggung jawab.
Kalimat-kalimat tersebut meluncur dari mulut Joko Widodo tentang kesannya sebagai Walikota Solo. Ungkapan tersebut menggambarkan bukan hanya sekadar rangkaian kata-kata saja, tetapi bisa dirasakan juga oleh rakyat kecil.
Bagi masyarakat Solo, Pak Jokowi adalah seorang pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Mereka menemukan keperibadian yang sangat menarik pada diri Pak Jokowi: mau merangkul mereka membangun Solo.
Sebenarnya, apa yang mendorong Jokowi mencalonkan diri jadi Walikota Solo? Jokowi punya obsesi dan alasan. Pertama, sangat serius untuk maju. Jokowi ingin mengakomodasikan aspirasi-aspirasi serius yang muncul dari banyak pihak, baik secara pribadi maupun secara kelompok atau organisasi. Yang kedua, ingin bersama-sama seluruh komponen masyarakat membawa Solo ke arah yang lebih baik, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Yang ketiga, ingin pemerintahan ini diurus secara bersih, jernih, tegas dan tanpa kompromi, sehingga good governance dan clean goverment benar-benar terwujud.
Setelah menjadi walikota, Jokowi menyadari bahwa banyak kalangan masyarakat yang kesulitan ekonomi akibat krisis moneter yang tak kunjung selesai ditambah kenaikan harga kebutuhan pokok. Dia pun langsung bertekad mengantisipasi keadaan ini. Dia segera berusaha mensejahterakan masyarakat Solo yang dipimpinnya.
Penataan PKL Di Kota Solo
Jika dibina dengan baik, pedagang kaki lima (PKL) dapat berkontribusi besar untuk daerah. Dan untuk membina PKL bukanlah hal yang sulit, semuanya tergantung niat dan implementasi masing-masing pemerintah daerah.
PKL merupakan permasalahan yang biasanya pasti selalu ada di tiap daerah. Namun penyelesaian terhadap permasalahan tersebut, tidak selalu sama. Putra tukang kayu ini mengimpikan Solo yang bersih dan tata ruang kota yang harmonis. Dan satu masalah pelik bagi kota Solo adalah semrawutnya PKL di Solo, maka perlu penataan ulang.
Ketika baru dilantik menjadi Wali Kota Surakarta, Jokowi membentuk tim kecil untuk mensurvei keinginan warga kota di tepian Sungai Bengawan itu. Hasilnya, kebanyakan orang Solo ingin pedagang kaki lima yang memenuhi jalan dan taman di pusat kota itu disingkirkan. Tetapi ia tidak ingin menempuh cara gampang, dengan memanggil aparat, lalu menggusur pedagang itu pergi. Tidak bisa tidak, para pedagang itu harus direlokasi. Tapi bagaimana caranya? Menggusur pedagang yang telah bertahun-tahun mencari nafkah di tempat-tempat itu, jelas tidak mudah. Mereka pasti marah.
Munculah ide, untuk meluluhkan hati para pedagang, mereka harus diajak makan bersama. Dalam bisnis, jamuan makan yang sukses biasanya berakhir dengan kontrak yang bagus. Sebagai eksportir furniture selama 18 tahun, Jokowi paham betul ampuhnya strategi “lobi meja makan”. Maka rencana disusun. Meski bukan langkah yang mudah, usaha persuasif ini menuai hasil. Cara yang ditempuh Jokowi ini termasuk “aneh”, dalam pengertian berani berbeda dengan pemerintah di daerah lain.
Target pertama adalah kaki lima di daerah Banjarsari. Di sana ada 989 pedagang yang bergabung dalam 11 paguyuban. Strategi ”lobi meja makan” dimulai. Para koordinator paguyuban diajak makan siang di Loji Gandrung, rumah dinas Walikota.
Tahu hendak dipindahkan, mereka datang membawa pengurus lembaga swadaya masyarakat. Jokowi menahan diri untuk tidak mengungkapkan keinginannya menyampaikan rencana relokasi tersebut. Seusai makan, Joko mempersilakan mereka pulang. Tentunya para pedagang kaki lima heran, mengapa tidak ada dialog mengenai relokasi. Beberapa hari kemudian, mereka kembali diundang. Lagi-lagi sama seperti sebelumnya: Sudah makan, pulang. Hal ini berlangsung terus selama tujuh bulan.
Baru pada jamuan ke-54, saat itu semua pedagang kaki lima yang hendak dipindahkan hadir, Jokowi baru mengutarakan niatnya. Dengan ramah dan santai Jokowi berkata kepada para pedagang kaki lima, “Bapak-bapak yang baik, mohon maaf sebelumnya jika tempat Bapak-bapak berdagang hendak saya pindahkan”. Hasilnya, seluruh pedagang kali lima tidak ada yang membantah. Para pedagang hanya minta jaminan, di tempat yang baru, mereka tidak kehilangan pembeli. Jokowi hanya berjanji akan mengiklankan Pasar Klitikan selama empat bulan di televisi dan media cetak lokal.
Janji itu ditepati. Pemerintah kota juga memperlebar jalan ke sana dan membuat satu trayek angkutan kota. Langkah berikutnya adalah dengan memberikan SIUP dan TDP gratis, kemudian melakukan penataan ulang terhadap Monumen Banjarsari yang kerap dijadikan pusat gelar dagangan para PKL. Pendekatan dengan cara ini ternyata berhasil. Pemindahan PKL dari tempat lama tidak perlu memakai buldoser, mereka secara sukarela untuk pindah. Pemindahan PKL pun dilakukan dengan penuh kehormatan. Semua pedagang mengenakan pakaian adat Solo dan menyunggi tumpeng -simbol kemakmuran. Prajurit Keraton Solo pun dikerahkan, sehingga timbul rasa kebanggaan. Hasilnya, wajah-wajah keceriaan sangat terlihat dari para pedagang.
Proyek pemindahan PKL ini sebenarnya tidak digratiskan. Pedagang diminta membayar hanya Rp 6.000/hari. Dengan perhitungan investasi, selama enam tahun ke depan sudah balik. Dan ternyata dari PKL ini memberikan pemasukan kepada Pemda justru lebih besar melebihi hotel, terminal, dan lainnya.
Menurut Joko, kiat suksesnya adalah adanya komitmen menganggap hal tersebut mudah dan tidak sulit, serta manajemen anggaran dan ke mana arahnya. Berapa persen anggarannya lalu tinggal pelaksanaan. Itu bisa dikontrol. Yang penting mengubah sistem, hilangkan peluang adanya korupsi.
Kini warga Solo kembali menikmati jalan yang bersih, indah, dan teratur.
Monumen Juang 1945 di Banjarsari kembali menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman. Berhasil dengan Banjarsari, Jokowi merambah kaki lima di wilayah lain.
Pasar-pasar yang ditata ulang di antaranya Pasar Klitikan Notoharjo, Pasar Nusukan, Pasar Kembalang, Pasar Sidodadi, Pasar Gading, pusat jajanan malam Langen Bogan, serta pasar malam Ngarsapura.
Untuk yang berada dijalan depan Stadion Manahan, sekitar 180 pedagang, dibuatkan shelter dan gerobak. Penjual makanan yang terkenal enak di beberapa wilayah dikumpulkan di Gladag Langen Bogan Solo, Gandekan. Lokasi kuliner yang hanya buka pada malam hari dengan menutup separuh Jalan Mayor Sunaryo tersebut sekarang menjadi tempat jajan paling ramai di kota itu. Hingga kini, 52 persen dari 5.718 pedagang kaki lima sudah ditata. Sisanya mulai mendesak pemerintah kota agar diurus juga. Tetapi justru saat ini Pemkot yang kewalahan karena belum punya dana.
Tapi rencana terus jalan. Misalnya, dibuat Pasar Malam di depan Mangkunegaran untuk 450 penjual barang kerajinan. Selain PKL, Jokowi juga punya perhatian khusus pada pasar-pasar tradisional. Beberapa tahun terakhir, 12 pasar tradisional ditata dan dibangun ulang. Ketika masih mengelola sendiri usaha mebelnya, Jokowi sering bepergian untuk pameran. Dia banyak melihat pasar di negara lain. Di Hong Kong dan Cina, menurutnya, pengunjung pasar jauh lebih banyak dari mal. Itu karena pasar tradisional komplet, segar, dan jauh lebih murah. Sementara di sini kebalikannya, Pasarnya kotor dan berbau.
Tidak sia-sia Jokowi ngopeni pedagang kecil. Meski modal cetek, pasar dan kaki lima di Solo paling banyak merekrut tenaga kerja. Mereka bahkan menjadi penyumbang terbesar pendapatan asli daerah. Di tahun 2010, nilai pajak dan retribusi dari sektor itu mencapai Rp 14,2 miliar. Jauh lebih besar dibanding hotel, Rp 4 miliar, atau terminal, yang hanya Rp 3 miliar.
Komunikasi Politik Simpatik ala Jokowi
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Dengan menerapkan branding “Solo: The Spirit of Java“, Jokowi mampu mendongkrak prestasi Kota Solo. Joko berhasil meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Solo dan menarik banyak investor untuk menanamkan modalnya di Solo.
Namun langkah yang tergolong fenomenal yang pernah Jokowi lakukan adalah dalam hal merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka. Jokowi melakukan komunikasi langsung secara rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) kepada masyarakat, khususnya kepada para PKL.
Langkahnya melakukan relokasi PKL melalui cara yang manusiawi merupakan salah satu cara komunikasi politiknya. Langkah Jokowi ini mengundang kekaguman dari banyak pihak, baik lokal maupun nasional. Di saat para Kepala Daerah lebih senang menggunakan Satpol PP untuk melakukan penggusuran, Jokowi justru menggunakan komunikasi politik yang simpatik dan strategik. Tidak tanggung-tanggung majalah Tempo menganugerahkan Walikota ini sebagai salah satu pemimpin terbaik pada tahun 2008. Tempo bahkan menjulukinya sebagai “Wali Kaki Lima”. Sebuah bukti bahwa komunikasi yang baik dapat memberikan efek yang baik, terutama kepada seorang pemimpin jabatan publik.
Jokowi memahami betul bagaimana perasaan para PKL ketika mengetahui akan direlokasi. Para PKL itu merasa akan kehilangan pelanggan atau bahkan mata pencariannya. Karena itu Joko memberikan alternatif berupa tempat berdagang yang lebih baik daripada di jalan-jalan atau taman kota. Agar para pelanggan tetap bisa bertransaksi dengan para PKL, Joko juga melakukan promosi melalui media lokal, memperluas jalan dan membuat satu trayek angkutan kota baru.
Jokowi menunjukan empatinya ketika dia menjamu para PKL sebanyak 54 kali pertemuan. Dia tidak melakukan penggusuran secara paksa dan dengan kekerasan. Dia memilih lobby dan diplomasi. Joko sadar betul bahwa ketika tahu akan direlokasi, para PKL akan bersikap defensif. Jika dipaksa akan terjadi gejolak yang mungkin memunculkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian dari kedua belah pihak. Karena itu “lobby meja makan” merupakan sebuah tindakan komunikasi politik yang simpatik dan berusaha memahami posisi para PKL.
Saat relokasi dilakukan, Joko Widodo menggelar arak-arakan, alih-alih melakukan pengusiran dengan kekerasan, dengan menghadirkan budaya khas Solo, seperti penggunaan musik tradisional “kleningan” dan pakaian adat. Arak-arakan yang dilakukan ini menunjukkan bahwa Jokowi ingin menunjukkan “kesamaan” dengan para PKL, yakni kesamaan bahwa mereka sama-sama ingin membangun Kota Solo menjadi lebih baik, dan kesamaan bahwa mereka berasal dan memiliki budaya yang sama, yakni budaya orang Solo; pakaian adat yang sama, musik yang sama, tarian yang sama.
Tindakan Jokowi sekaligus menunjukkan keberpihakannya terhadap ekonomi kecil dan pasar tradisional. Bukan hanya dalam soal PKL, di bawah kepemimpinannya Joko dengan sukses membangun ekonomi kerakyatan. Kesamaan persepsi antara pemerintah dan para pedagang pada ekonomi kecil, memunculkan kesamaan persepsi pula bahwa masyarakat menganggap Walikota mereka berpihak pada masyarakat.
Nilai Penting Kepemimpinan Jokowi
Sejauh ini semua langkah sesuai dengan visi Jokowi, menjadikan Solo sebagai kota budaya dimana warganya bangga dengan sejarah dan tradisi sejak lahir. Dukungan bagi Jokowi makin solid. Bahkan dari mereka yang semula menentangnya.
Tak banyak kepala daerah seperti Jokowi. Pendekatan manusiawi yang dilakukannya bisa menjadi contoh bagi kota-kota yang mempunyai masalah serupa. Menurutnya, penataan PKL adalah bentuk ekonomi kerakyatan. Ia menganggap bahwa sebenarnya pekerjaan ini bukan perkara sulit. Pokoknya, memimpin mereka dengan hati. Hadapi mereka sebagai sesama, bukan sampah.
Wali Kota Surakarta ini setidaknya memperlihatkan bahwa kekuasaan jauh lebih berarti dengan wajah ramah, tidak harus garang dan menghardik. Ia juga memperlihatkan kepedulian seorang pemimpin, di saat banyak pemimpin lupa atas kepentingan apa sesungguhnya mereka mengejar kekuasaan itu.
Bangsa ini letih dan sedang tergeletak dalam carut-marut perlombaan merebut kekuasaan. Dari satu pilkada ke pilkada lain, ratusan miliar rupiah uang tidak produktif bertebaran. Setelah berkuasa, mereka mengambil kembali uang itu dari rakyat, tak peduli rakyat meraung kesakitan dan lapar. Jokowi mungkin tak berharap pujian –meski ia layak menerima itu– karena perbaikan dan pembenahan adalah kewajiban, adalah ibadah. Kewajiban dan ibadah tidak memerlukan pujian.

Sumber: Gading Mahendranata

Puisi-Puisi Risman Rachman

Peluru (I)
Pinjam pelurumu, bung
Ku oles dulu gincu warna pink
Dan ku ikat pita pink
Agar langsingnya mirip banci berdiri di pinggir jalan
Peluru (II)
Ada berapa lagi sisa pelurumu?
Masih banyak kah?
Sudah sedikitkah?
Boleh kupinjam satu?
Jangan tanya dulu untuk apa ya?
Kamu berdiri di depanku ya?
Aku arahkan senapan ini padamu ya?
Mengapa, kau takut ya?
Rupanya hatimu gelisah juga ya?
Peluru (III)
Malu hatiku padamu
Yang pulang karena ajal peluru
Itu mungkin takdirmu
Tapi ketika takdirmu dipinjam
Untuk sesuatu, aku malu

Malu hatiku padamu
Andai namaku ini mantra
Bisa jadi pelindungmu dari peluru
Maka cukup aku saja tempat tuju, bukan dirimu

“Rismanto rismanto rismanto”

Tembak saja pohon kayu bergambar wajah sasaranmu
Jangan tembak saudaraku
Untuk tujuanmu mewujudkan – mematahkan negosiasi kuasa

Malu hatiku padamu
Tak bisa menghentikan peluru beracun kuasa murka karena ini bukan urusan mantra tapi kuasa
Peluru (IV)Dimana kau, malem diwa?
Dimana kau, arjuna?

Rahwana sudah kembali murka
Asee Geureuda sudah kembali menggigit
Tahta hitam kembali bangkit
Bersenjata peluru, bukan buloh peurindu, rincong, keris dan panah cinta

Dimana kau, malem diwa
Dimana kau, arjuna?

Banda Aceh, 6 Januari 2012

*buloh peurindu – seruling cinta
*rincong – rencong

NKRI Harga Mati

NKRI harga mati
TNI penjaga negeri
Pengaman masyarakat ada polisi
KPK pencegah korupsi
Pengawal UU Mahkamah Konstitusi
Oh idialnya Indonesia ini

Tapi rakyat hidup sendiri
Mencari rezeki sejak pagi hingga malam hari
Kadang diterjang peluru polisi
Sering juga ditendang sepatu TNI
Gara-gara melawan pejabat tinggi
Yang memihak pencuri hasil bumi
Oh pilunya nasib rakyat negeri ini

Satu dua tiga orang mati
Di Aceh negeri serambi
Gara-gara bertengkar soal regulasi
Sebelumnya ada kasus Masuji
Orang mati banyak sekali
Begitu juga nasib TKI di luar negeri
Oh Tuhan bantulah hamba ini

Presiden asyik sendiri
Buat lagu tidak cukup sekali
Semakin asyik bernyanyi
Lupa melindungi anak negeri
Cukup mengerahkan para menteri
Ogah berkunjung kecuali aktivis yang dikasari
Oh begitu nian pemimpin kami

DPR ribut berkali-kali
Lebih peduli gedung dan WC sendiri
Soal Century cuma jadi alat lobi
Soal korupsi teriak asal jadi
Rakyat mati cukup dikomentari
Oh masuk televisi jadi selebriti

NKRI harga mati
Ya kami hampir mati
Tanah air tumpah darah kami
Tanah sewa air di beli
Darah tumpah lalu mati
Oh selamatkan Indonesia ini

Banda Aceh, 6 Januari 2012

Sumber: Kompas Online

Menakar Nilai Politik PA

BERAPA nilai yang layak diberikan kepada sikap politik yang sedang dijalankan oleh Partai Aceh (PA) yang kini dinakhodai oleh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa dengan Mualem?

Sebagaimana diketahui, PA mengambil sikap tidak ambil bagian dalam hiruk pikuk politik Pilkada Aceh saat ini, yang dinilainya bergerak tanpa menghormati etik dan spirit kesepakatan damai antara Aceh dan Indonesia. Menurut PA, inti persoalannya bukan soal boleh atau tidak boleh calon independen terlibat dalam ajang Pilkada Aceh. Tapi, boleh atau tidak boleh itu mestilah diproses dengan melibatkan lembaga perwakilan rakyat, DPRA.

Meski begitu, PA juga tidak mengambil sikap menghadang jalannya politik Pilkada Aceh saat ini. Tidak ada seruan politik kepada rakyat untuk memboikot jalannya Pilkada Aceh. PA malah memilih tidak ikut serta sambil mengetuk hati orang-orang pintar, bijak dan arif, yang oleh PA diyakini masih ada, baik di nasional maupun di Aceh. PA mengajak mereka untuk menyelamatkan perdamaian ketimbang terburu-buru dalam ajang Pilkada Aceh. Menurut PA, Jika hal utama bisa diselamatkan (MoU dan UUPA) barulah pesta demokrasi Pilkada Aceh digelar, bila perlu semeriah mungkin.

Sikap politik PA ini, di satu sisi, memang terlihat sebagai sikap politik merugi. Rugi pertama, takdir politik tiba-tiba saja tercabut pada PA. Betapa tidak, semua partai politik memang sudah ditakdirkan untuk merebut kekuasaan. Setidaknya, begitulah pengertian dasar dari partai politik. Dengan begitu partai lebih yakin bisa mewujudkan cita-cita politiknya. Rugi kedua, PA sudah memberi kartu kemenangan yang mudah bagi “lawan” politiknya. Bisa jadi dapat menjatuhkan moral politik anggota partai, terbelah dalam politik dukungan dan pada akhirnya bisa terjadi persinggungan politik internal partai.

Namun begitu, sikap politik PA bukan tanpa untung. Pertama, PA berhasil memperlihatkan karakter politiknya yang tegas. Rakyat akan berkesimpulan bahwa PA bukan partai politik biasa yang semata-mata berorientasi kekuasaan. Menyelamatkan pardamaian adalah hal utama. MoU Helsinki dan UUPA harus dijaga karena itulah harga diri yang menjadi jalan Aceh meraih masa depan bermartabat. Inilah peran yang sedang ditegaskan oleh PA sebagai partai politik mayoritas.

PA, sepertinya tidak mau mengulangi kesalahan sejarah politik masa lalu yang kerap berakhir dengan pengkhianatan terhadap perjanjian dan kesepakatan. PA, secara politik seperti ingin berkata bahwa Aceh berdamai tidak dalam artian menyerah melainkan mari mengelola Aceh dengan menghormati ureung Aceh (melalui DPRA). Jika ada yang mau diubah maka lakukan perubahan itu dengan baik menurut ukuran perjanjian. Jika ada yang salah secara hukum atau secara politik maka perubahannya haruslah dibicarakan sebagaimana yang sudah disepakati prosesnya.

Kedua, sikap PA ini bisa saja menjadi penambah dorongan perbaikan UU Partai Politik dan juga UU Pemilukada yang saat ini juga sedang menjadi diskursus politik di nasional. Jika ini terjadi, itu artinya, Aceh akan kembali menjadi penguat laju lokomotif bagi perbaikan demokrasi di Indonesia yang kini memang masih terus mencari bentuknya menuju yang lebih baik lagi khususnya bagi daerah-daerah di Indonesia.

Ketiga, sikap PA menjadi penting bagi masa depan politik Aceh. Pertama, sikap PA mematikan langkah politik instan para spekulator politik. Para spekulan politik bisa saja menang namun dengan biaya politik tinggi. Jika ini terjadi maka dukungan awal akan berbalik menjadi senjata makan tuan. Logikanya sederhana, biaya politik tinggi pasti berakhir dengan kepemimpinan koruptif. Kedua, sikap PA juga mematikan langkah politik kaum ultranasionalis yang masih saja tidak rela dengan capaian politik ureung Aceh saat ini. Berbagai benturan politik dilakukan untuk memastikan adanya kontrol atas elite poliik di Aceh.

Inilah klik politik PA di bawah kepemimpinan Mualem, tentu menurut penulis. PA telah menutup pintu-pintu negosiasi politik liar sebagaimana kerap terjadi pada sejarah politik Aceh masa lalu. Banyak perjanjian politik berakhir dengan pengkianatan atau minimal menjadi perjanjian tak bermakna, yang akhirnya melahirkan benturan sosial dan pemberontakan.

PA, dengan pengalaman konflik panjang, sepertinya sangat sadar akan beban berat politik Aceh. Bila politik Aceh tidak terkelola maka siklus konflik berdarah antara Aceh dan Indonesia bisa saja terjadi lagi. Pada saat yang sama PA, sepertinya juga sangat menyadari potensi politik oportunis yang dimiliki Aceh, yang bisa menggadaikan harga diri Aceh untuk sebuah kekuasaan, pengaruh, dan uang melalui strategi politik kamuflase.

Sikap politik PA ini tentu saja tidak mudah dan belum tentu tidak akan goyah. Berbagai tantangan dan benturan politik masih mungkin akan dan harus dihadapi oleh PA sekaligus elite politik Aceh lainnya. Pada akhirnya, ketahanan politik PA memang akan diuji dipentas politik Aceh yang kini masih sangat labil. Untuk itu, demam komunikasi politik PA memang perlu diperbaiki untuk diperkuat agar apa yang menjadi sikap politik pimpinan PA semakin lebih dipahami dan dimengerti oleh semua.

* Penulis adalah
Risman A Rachman, Pemerhati sosial-politik Aceh.
Sumber: Serambi Indonesia