Mudahnya Beribadah di Australia (Versi Lengkap)

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

Dalam anjuran ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’ terkandung banyak pesan, salah satunya adalah supaya mata kamu lebih terbuka karena banyak yang sudah kamu lihat dari proses perjalananmu. Mungkin begitu perasaan yang tepat untuk mengambarkan apa yang saya alami sekarang di Australia. Perjalanan studi saya ke Adelaide, Australia memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk melihat dan menjalani banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di tanah air. Salah satunya yaitu hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Dari beberapa perjalanan saya ke luar negeri, Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman atau masyarakat sekitar terkait kekhawatiran mereka bagaimana kepastian dan keamanan untuk mengaplikasikan kepercayaan kita di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana tempat shalatnya? Kalau jumatan, ada mesjidnya tidak di kampus atau yang di dekatnya? Kalau cewek berjilbab dicurigai tidak? Pasti sudah mencari makanan halal di negeri barat ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan sejenis. Di satu sisi, wajar mereka memiliki ketakutan-ketakutan seperti itu karena mereka hanya menerima informasi dari sumber-sumber seperti media massa yang belum tentu seratus persen kebenarannya. Tetapi terkadang ketakutan-ketakutan yang terlalu berlebihan juga terkesan lebay menurut saya.

Pada faktanya justru apa yang dikhawatirkan oleh banyak orang yang umumnya (maaf) belum pernah ke luar negeri tidak seperti yang mereka pikirkan. Tidak sesadis yang ada dalam bayangan mereka. Saya merasa tidak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar jika mesjid dan musalla tidak menjamur seperti di Indonesia. Pun tidak banyak, setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat. Di Flinders University misalkan, tempat saya menempuh studi sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat jumat. Tidak hanya di Australia, dalam pengalaman saya mengikuti shortcourse di Amerika ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga memiliki pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, aksesnya memang tidak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan tempat ibadah seperti musalla atau mesjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi-kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya mengamati teman-teman Muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkritnya yaitu hari jumat, mereka tetap memilih untuk izin tidak mengikuti perkuliahan dan menunaikan shalat jumat jika ada kelas pada saat bersamaan. Saya tidak yakin akan ada semangat yang sama kuatnya pada saat dihadapkan dengan pilihan-pilihan penting ketika berada di dalam negeri. Mungkin akan sangat mudah untuk anda tunda shalat zuhur karena masih ada pekerjaan penting yang belum selesai anda selesaikan. Atau dengan gampangnya anda bilang shalat magrib di rumah aja jika anda pulang kantor meskipun anda tau tidak akan terkejar jika shalat di rumah. Ironi memang, ada banyak orang mengabaikan untuk memaksimalkan kemudahan yang ada di depan mata. Dalam kondisi dimana sumber dayanya tidak banyak, kita justru lebih all-out dalam menjalaninya. Solidaritas kita meningkat ketika menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli sesama lebih tinggi ketika berada di luar negeri. Kita semakin terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika kita berada dalam kondisi yang jauh dari orangtua, keluarga atau kemudahan-kumudahan yang ada. Makanya tidak heran jika ada orang yang alim justru di penjara bukan di pesantren.

Kembali lagi persoalan ibadah di Australia, saya menemukan banyak hal menarik tidah hanya di kampus. Di luar dunia kampus, saya melihat ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim sendiri. Di Adelaide, setidaknya saat ini saya menemukan sudah ada 4 komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. MIAS atau Masyarakat Islam Australia Selatan, ada KIA (Kajian Islam Adelaide), ada juga Pengajian Bapak-Bapak yang disingkat PBB dan juga komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalkan, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan saya mendapatkan informasi kalau para pengurusnya sedang menginisiasikan madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orangtuanya studi atau kerja di Australia. Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh kelompok Pengajian Bapak-Bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan ayat alquran secara bergiliran kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan alqurannya lebih tepat dan enak di dengar. Terakhir ditutup dengan tauziah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat ibadah magrib secara berjamaah.

Luar biasanya lagi, jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Melihat antusiasme mereka yang sangat tinggi layaknya membuat ibu-ibu atau bapak-bapak di kampung-kampung di Indonesia merasa cemburu. Tidak hanya sekedar datang, mereka juga membawa makanan untuk kemudian dinikmati bersama-sama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilirkan di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tetapi kegiatan-kegiatan pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agaman mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturrahim. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti kegaitan-kegiatan pengajian mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi seperti akomudasi, konsumsi, transportasi bahkan juga pekerjaan. Intinya ada banyak manfaat yang tidak disangka-sangka datang dengan menghadiri acara-acara pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia.

Sikap Mahasiswa Aceh di Australia atas Pernyataan PM Abbott

Berikut ini adalah pandangan  saya tentang kisruh pernyataan PM Tony Abbott, kasus narkoba dan gerakan pengumpulan koin. Saya posting pendapat-pendapat saya sebelumnya di BLOG ini. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai wartawan kemudian merelease nya di media online Viva News.
Ini adalah versi media—yang versi lengkapnya bisa anda baca di blog saya atau click HERE.
Terimakasih

Photo dari: pamongreaders.com

Hadi Suprapto,  Zulfikar Husein (Lhokseumawe) Selasa, 24 Februari 2015, 11:40 WIB

VIVA.co.id – Mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Australia berharap hubungan antara Indonesia dan Australia tidak terganggu karena pernyataan Tony Abbott soal bantuan tsunami. Mahasiswa juga mengapresiasi aksi mengumpulkan koin yang dilakukan di Indonesia.

“Saya merasa sedih mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta balas jasa atas bantuan tsunami yang sudah diberikan. Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi,” kata Muhammad Adam kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.

Mahasiswa yang juga merupakan korban tsunami pada 2004 silam ini menilai penting memikirkan lagi manfaat dari gerakan tersebut. Ia berharap, gerakan itu tidak sampai menjadi blunder bagi hubungan kedua negara.

Adam juga menyesalkan pernyataan PM Australia Tony Abbott. Ia menilai, sebagai seorang pemimpin, Tony Abbott tidak sepantasnya bersikap seperti itu. “Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak,” kata dia.

Secara pribadi, kata Adam, ia melihat kasus terpidana mati Bali Nine dan tsunami berbeda. Kata dia, dana tsunami adalah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.

“Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal,” katanya.

Ia berharap baik Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba. Sebab menurutnya, efek narkoba memang memiliki risiko mahal yang harus ditanggung.

Belajarlah Memasak jika Ingin ke Luar Negeri

Note::: Tulisan ini sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Tribun/Kompas Gramedia) edisi Senin 9 Febuari 2015.  Silakan click di SINI untuk membaca di halaman situs media Serambi Indonesia.

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

TROEK kapai baro pula lada, itu pepatah bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Belajar masak justru pada saat sudah tak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai guru memasak.

Untuk sebagian orang, memasak mungkin urusan gampang. Tapi bagi saya, terlihat mudah awalnya, namun pada praktiknya rumit. Sudah dua minggu lebih saya di Negeri Kanguru ini, namun belum ada masakan saya yang memuaskan. Buktinya, masak tumis udang kalau tak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedas dan panas karena cuci muka setelah pegang cabai untuk tumis kol.

Menanak nasi pun kalau tak kelebihan air, ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadar, takaran, maupun citarasanya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang rumit. Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang tiga kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain.

Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauknya hampir tiap saat disiapkan oleh orang tua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) di mana makannya sudah masuk paketan yang ditangani pihak sekolah.

Sampai selesai kuliah S1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet.

Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk memasak, belanja urusan dapur saja hampir selalu diserahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuanlah yang kebagian tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada, anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.

Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, malah sering dilarang. Soalnya, menurut sebagian besar masyarakat kita, itu bisa jadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina pemilik rumah.

Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi masakan-masakan yang lezat oleh mertua perempuan atau istrinya.

Secara historis, saya tak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tak tahu bagaimana praktik masak-memasak zaman dulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan penjajah, karenanya diperlakukanlah seperti raja. Sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat. Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga di mana tanggung jawabnya mencari rezeki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.

Itu hanya asumsi-asumsi dasar saya saja, tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun, terlepas dari baik-buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggung jawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil bagian dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggung jawab pria. Lantas, apa tanggung jawab wanita? Istri melayani suami. Bukankah begitu Islam mengajarkannya?

Kalaupun kita mau bahas pada tataran ideal seperti di atas, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, justru semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang. Celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkretnya ada di dalam keluarga saya sendiri.

Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, ibu saya yang menanganinya. Tak ada maksud untuk menunjukkan kejelekan “perusahaan” rumah saya sendiri, tapi memang ada figur yang tak ada tanggung jawab dan tidak adil pembagian porsi kerja dan tanggung jawabnya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tak salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri mencuci pakaian, tak akan turun derajat kelaki-lakian seorang suami yang menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik inilah, saya pikir, semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktivis gender perlu dikonkretkan. Seharusnyalah keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik, perlu dilatih pada anak laki-laki semenjak dini, sehingga tak terasa canggung atau kaku seperti yang saya alami kini saat berinteraksi dengan alat-alat dapur di Negeri Kanguru.

Guru Dayah Ikut Pertukaran Pemuda ke Australia

LHOKSUKON – Guru Dayah Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Muhammad Adam (25) terpilih ikut program pertukaran pemuda muslim yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Sebanyak sepuluh pemuda se-Indonesia mengikuti pertukaran pemuda antara Indonesia-Australia tersebut. Adam akan berangkat ke Australia 11 Juni mendatang.

“Proses pendaftaran November 2011 lalu. Kedutaan Besar Australia di Jakarta bekerja sama dengan Universitas Paramadina Jakarta yang melakukan seleksi. Saya ikut tes wawancara 7 Februari lalu, dan akhirnya 15 Maret dinyatakan lulus dan berhak berangkat ke Australia. Panitia memberikan syarat, pendaftar harus aktif di organisasi muslim di Indonesia,” sebut Adam kepada Serambi, Minggu (18/3).

Ditambahkan, dirinya akan berada di Australia 11-24 Juni mendatang. “Kami akan dibawa melihat bagaimana kegiatan umat muslim di Australia, menggelar sejumlah pertemuan dan diskusi dengan organisasi muslim di sana. Seluruh biaya keberangkatan dan selama berada di Australia ditanggung oleh Kedutaan Australia di Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, pihaknya akan belajar banyak bagaimana perkembangan organisasi muslim di Australia. “Semoga pengalaman yang didapat di sana bisa dipraktikkan nantinya di Aceh Utara,” pungkas Adam.(c46)

Ini adalah publikasi di Media Serambi Indonesia Pada tanggal 19 Maret 2012.
Sumber Asli: Serambi Indonesia

Usman-Adam Pimpin Komunitas Demokrasi Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Pasangan Muhammad Usman dan Muhammad Adam terpilih sebagai Koordinator dan Sekretaris Jenderal (Sekjend) Badan Pelaksana Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) periode 2012-2014. Kepastian itu diperoleh, setelah Usman dan Adam  meraih suara terbanyak dalam Rapat Umum Anggota (RUA), KDAU ke-I, Senin (23/1/2012) sore.

Usman–Adam yang mengantongi 18 suara berhasil unggul atas pasangan Amru Alba Abqa- Fauzan Saputra yang mengantongi lima suara. Setelah terpilih, pasangan usman dan Adam langsung ditetapkan sebagai Koordinator dan Sekjend KDAU Periode 2011-2014 oleh pimpinan sidang Jafaruddin, Nurhaslita Sari dan Faisal.

Saat mulai pemilihan nama-nama yang diusulkan adalah Jafriadi, Nurhaslita Sari, Syifa, Fauzan Saputra, Muhammad Usman, Muhammad Adam. Namun, calon lain yang diusul itu mengundurkan diri. Dari 34 anggota yang memberikan suara secara langsung 18 orang, selebihnya melalui pesan singkat (SMS). Pada pemilihan Badan Pengurus KDAU, terpilih sebagai sebagai Ketua Amru Alba Abqa, Sekretaris Fauzan Saputra.(c37)

Sumber: Serambi Indonesia

Peraih Beasiswa LN Ingin Jadi Konsultan Bahasa

MUHAMMAD Adam (kanan) menerima sertifikat dari Program Director OPIE-Ohio University Dr Gerry Krzic PhD. FOTO/IST

MUHAMMAD Adam kini sibuk mempersiapkan konsep untuk mendirikan lembaga Kolsultan bahasa dan English Community. Adam adalah seorang mahasiswa berprestasi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe. Selama kuliah, Adam telah banyak meraih prestasi dari sejumlah perlombaan yang pernah diikutinya di tingkat lokal dan nasional.

Adam adalah dua dari mahasiswa di Aceh yang menerima beasiswa untuk belajar ke English Language Study Program (IELSP) Universitas Ohio, Amerika Serikat pada Tahun 2010 selama dua bulan lebih. “Pelamar beasiswa itu sebanyak 2.800 orang, tapi Alhamdulillah saya berhasil  meraih beasiswa itu,” katanya.

Adam mulai serius menekuni bahasa Inggris sejak di SMP. Saat kuliah di STAIN Malikussaleh, ia memilih Tarbiyah Bahasa Inggris. Selama kuliah, anak sulung dari lima bersaudara itu juga dipercayakan mewakili kampusnya mengikuti lomba tingkat daerah dan nasional.

Adam juga mengajar di Lembaga kursus Arizona Institute Lhokseumawe dan Dayah Terpadu Ruhul Islam Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

Tahun 2007, Adam juga mulai menjadi staf investigasi lembaga Pos Bantuan Hukum dan Pengaduan Pelanggaran Hak Azasi Manusia Aceh Utara (PB-HAM). “Ini pengalaman yang cukup menarik bagi saya, karena saat itu sedang masa transisi konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan RI,” katanya.

Adam uga bergabung mitra Save the Children dalam Program Family Based Care (FBC) selama dua tahun. Sedangkan di organisasi internal kampus, Adam juga pernah menjadi ketua Departemen Pendidikan BEM STAIN. Pria kelahiran Baktya itu juga aktif menulis artikel di Serambi Indonesia dan media lokal lain. “Target saya kuliah ke luar negeri dan ingin mendirikan lembaga konsultan bahasa,” katanya.  * jafaruddin

The News was published on mass media Serambi Indonesia on Wednesday September 14, 2011.
Source : Serambi Indonesia

Mencetak Dai yang Ahli Bahasa Asing

Santri Dayah Terpadu Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara sedang praktik di ruang laboratorium IPA dayah tersebut.
SUASANA sepi terlihat saat Serambi mengunjungi Dayah Terpadu Nurul Islam di Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Tak ada petugas di pos penjagaan dayah itu. Hanya seorang santri laki-laki sedang menyapu halaman dayah. Sebagian besar santri sedang libur. Hanya sebagian kecil yang bertahan di dayah.

Dayah itu didirikan 26 Oktober 1988 oleh Drs Tgk H Amri Ahmad. Saat itu, dunia pendidikan di kecamatan itu belum memadai. Karena semua fasilitas pendidikan terkonsentrasi di Kota Lhokseumawe. Konsepnya, pendidikan terpadu yaitu menggabungkan kurikulum dayah salafi dan modern. Tujuannya, agar santri yang lulus dari dayah itu menjadi kader dakwah (dai) dan fasih berbahasa asing.

“Kami ingin lulusan dayah ini bisa menjadi pendakwah yang cerdas, menguasai bahasa asing baik Arab dan Inggris guna menyampaikan ajaran Islam ke seluruh pelosok negeri,” ujar Ketua Pengembangan Lembaga Bahasa Asing Ruhul Islam, Muhammad Adam SPd, didampingi pengasuh asrama dayah itu, Tgk Mahdi Idris, kemarin.

Untuk mencapai target tersebut, menurutnya, fasilitas dayah pun dilengkapi. Sekarang, dayah itu memiliki laboratorium bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, laboratorium IPA, perpustakaan, dan kerajinan menjahit. Santri yang kini berjumlah 362 orang diasuh 46 guru yang umumnya alumnus Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah (KMI) Gontor Ponorogo (Jawa Timur), Unsyiah, IAIN Ar-Raniry, dan sejumlah dayah salafi di Aceh.

Seluruh santri diwajibkan berbahasa Inggris dan Arab pada pagi hingga siang hari saat santri menimba ilmu di bangku SMP dan SMA di dayah itu. Setelah zuhur, mereka diwajibkan belajar bahasa asing. “Usai magrib sampai tengah malam, mereka belajar kitab kuning,” ujarnya. Ditambahkan, dayah itu terus berbenah dalam upaya mencetak pendakwah (dai) yang ahli bahasa asing.  * masriadi sambo

Selasa, 16 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia

Kelas Bahasa Inggris Primadona Santri

180811foto.8_.jpg
Santri Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, memperlihatkan buku kumpulan puisi karya mereka
|
UNTUK memicu kreativitas santri, Dayah Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara mengadakan aneka kegiatan ekstrakurikuler (eskul). Ada enam bidang ekstrakurikuler yang kini dikembangkan yaitu kelas bahasa Inggris, bahasa Arab, menulis, sanggar tari, kaligrafi, dan tim olahraga. Namun, sejauh ini kelas bahasa Inggris menjadi primadona para santri.

Seluruh santri bergabung di kelas bahasa Inggris. “Sedangkan di kelas lain, tidak semua santri bergabung. Bahasa Inggris menjadi primadona santri,” sebut Ketua Pengembangan Lembaga Bahasa Asing (PLBA) dayah tersebut, Muhammad Adam SPd, kemarin.

Prestasi kelas bahasa Inggris ini pun lumayan bagus. Santri dari kelas bahasa Inggris ini menjadi juara satu lomba bahasa Inggris tingkat Aceh Utara selama dua tahun berturut-turut yaitu 2005 dan 2006, juara dua lomba bahasa Inggris se-Aceh pada tahun yang sama, dan tahun 2007 sampai kini dayah itu rutin menjadi juara dua dalam lomba bahasa Inggris tingkat Aceh Utara.

Untuk kelas menulis, kelompok ini telah menerbitkan kumpulan puisi secara indie dengan judul “Munajat Untukmu”. Buku ini, kini beredar di sejumlah toko buku di Aceh Utara. Sedangkan bidang bidang lain, lanjut Adam, tim ini selalu meraih juara tingkat Kecamatan Tanah Luas. “Ekstrakurikuler ini berfungsi juga untuk menyalurkan hobi santri agar mereka jangan jenuh belajar di sekolah dan membaca kitab,” ujar Adam.

Ditambahkan, masing-masing kelompok ekstrakurikuler diasuh oleh satu guru pengasuh. “Kami harap, ke depan, para santri semakin berprestasi,” pungkas Adam.  * masriadi sambo

 
Kamis, 18 Agustus 2011
Please Read the News on Serambi Indonesia

Sastrawan yang Jago Kaligrafi

DALAM dunia sastra di Aceh, nama Mahdi Idris mulai dikenal sejak akhir tahun 2009. Sejak saat itu, cerita pendek (Cerpen) karya Mahdi mulai dimuat di sejumlah media di Aceh. Pria kelahiran Desa Keureutoe, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, 3 Mei 1979 itu saat ini menjadi pengajar di Dayah Terpadu Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara. Sejak tahun 2003, pria berkumis itu mengasuh mata pelajaran kaligrafi, bahasa Arab, dan sejumlah kitab kuning di dayah tersebut.

Ketika remaja, Mahdi menimba ilmu di sejumlah dayah seperti Dayah Al Muslimun Lhoksukon, Dayah Nurul Huda Trieng Pantang Lhoksukon, Dayah Nurul Yaqin Al Aziziyah Utu Kabupaten Pidie, dan Dayah Raudhatul Ulum Alue Pisang, Aceh Barat Daya. Mahdi menyelesaikan pendidikan strata satu di Perguruan Tinggi Islam (PTI) Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon tahun 2006. “Saya hanya ingin berbagi pengalaman dengan anak-anak di dayah ini. Apa yang saya ketahui, itu yang saya sampaikan kepada santri. Saya ingin mereka bisa lebih hebat dari saya,” sebut Ustaz Mahdi,panggilan akrab Mahdi Idris.

Mahdi mengajarkan teknik penulisan cerpen dan kaligrafi secara serius di dayah tersebut. Hasilnya, dia pun diundang Kementerian Pendidikan Nasional sebagai peserta dalam acara Apresiasi Sastra Daerah (Apresda) di Bogor, Oktober 2010. Mahdi telah menerbitkan buku kumpulan cerpennya, yaitu ‘Lelaki Bermata Kabut,’ diterbitkan PT Cipta Media, Jakarta, 2011, dan Nurhayat, Mata I Publishing, Banda Aceh, 2011.

Selain itu, cerpennya juga dimuat dalam buku antologi Kerdam Cinta Palestina, dan Munajat Sesayat Doa. Novel perdana ayah tiga anak itu dengan judul Menembus Kabut, masuk sepuluh besar naskah terbaik dalam lomba yang dilakukan Penerbit Media Yogyakarta. “Naskah Menembus Kabut sedang dalam proses penerbitan. Mungkin, setelah Idul Fitri nanti sudah beredar di pasar,” sebut suami Rosmiana ini. Dayah Ruhul Islam beruntung memiliki pengajar sekelas Ustaz Mahdi. 5 Mei 2011, dayah itu pun memberikan penghargaan untuk Ustaz Mahdi dalam kategori guru berprestasi.

Sementara, kemampuan Mahdi Idris dibidang kaligrafi juga tak perlu dikhawatirkan lagi. Sebagai bukti, Dia selalu diundang menjadi dewan juri kaligrafi pada Musbaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Aceh Utara.   

* masriadi sambo 
Senin, 15 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia

Fadli Ingin Jadi Diplomat

Fadli Zakia, santri berprestasi Dayah Ruhul Islam, Tanah Luas, Aceh Utara
FADLI ZAKIA (18) mulai sibuk mempersiapkan proposal permohonan beasiswa yang akan dikirimkan ke sejumlah universitas di Indonesia. Sebagai siswa kelas enam (setingkat kelas 3 SMA) di Dayah Terpadu Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Fadli kini mulai merancang rencana kuliah yang akan ditujunya.

Tidak hanya itu, bahkan ia telah punya perencanaan untuk meraih cita-citanya menjadi diplomat atau duta besar. “Sebulan lalu saya ikut tes Paramadina Jakarta Fellowship 2011. Tahap satu lewat, ujian tahap dua saya gagal. Saya terus berusaha, semoga bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi,” sebut Fadli, kemarin.

Anak bungsu dari delapan bersaudara, pasangan Alm Zakaria dan Hendon itu memang cerdas. Buktinya, dia langganan meraih juara satu di SMAS Ruhul Islam, dan di tingkat dayah. Selain itu, bahasa Inggris yang dikuasainya sangat baik.

Dia meraih juara satu untuk cerdas-cermat dalam bahasa Inggris se-Aceh Utara dan Lhokseumawe, yang dilaksanakan Save The Children, tahun 2009 lalu. Selain itu, ia menjadi langganan juara satu pidato bahasa Inggris yang diselenggarakan untuk lingkungan santri di dayah tersebut setiap tahun.

“Alhamdulillah, saya terus berupaya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Dengan kemampuan anugerah Allah, saya ingin mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Jika menggunakan biaya sendiri, orangtua saya tidak mampu. Ibu saya hanya petani biasa, sedangkan ayah sudah meninggal dunia,” sebut Fadli.

Pria yang lahir di Desa Buloh Beurghang, 23 Juli 1993 silam itu juga jago ceramah. Buktinya, tahun 2010 lalu, dia menyabet juara satu lomba khutbah Jumat tingkat Kecamatan Tanah Luas.

Meski terlahir dari keluarga kurang mampu, Fadli tidak minder. Dia terus bekerja keras memperbaiki nasibnya. Memperdalam kemampuan bahasa inggris, dan pengetahuan umum lainnya. Dia berharap, satu hari nanti, dia bisa memberikan yang terbaik untuk ibunya. “Saya ingin, ke depan, bisa membahagiakan ibu saya. Bisa memberikan beliau kehidayan yang layak. Semoga Tuhan mendengar do’a saya,” pungkas Fadli.(masriadi sambo)

Minggu, 14 Agustus 2011
Please read the News on Mass Media, Serambi Indonesia