Informasi Beasiswa Australia Awards 2018/19

Kabar gembira..kepada para calon pelamar beasiswa Australia Awards Indonesia tahun 2018/19, beasiswa AAI akan dibuka per 1 Februari 2018 dan ditutup 30 April 2018.

 

Apa itu beasiswa Australia awards?

Kenapa saya harus mendaftar AAI?

Apa saja syaratnya?

Bagaimana cara mendaftar?

dll….

 

silakan unduh informasi lengkapnya di SINI.

 

Semoga bermanfaat ya…

***&&&***

Rencananya kita akan lakukan online seminar untuk bincang-bincang seputar Beasiswa Australia Awards Indonesia. Untuk jadwalnya, akan kami update di page #LancarEnglish https://m.facebook.com/LancarEnglish 

***&&&***

Selama proses belajar 2 tahun di Australia, saya sempat menulis beberapa citizen reporter tentang Australia. Jika mau baca untuk mendapatkan beberapa informasi awal, silakan scroll di artikel-artikel saya yang sudah dimuat di Media massa. Linknya ini ya http://bangadam.com/category/published-article/

 

Eksklusif! Untuk Calon Pendaftar Muslim Exchange Program ke Australia

Insya Allah, hari Senin tanggal 4 September 2017 pukul 17.00-18.00 WIB, kita akan live streaming dari ruang studio Inspirasi.co TV. Untuk teman-teman yang ingin bergabung silakan LIKE page MEP http://facebook.com/ausindom  dan stay tune dari pukul 17.00. Alumni yang akan mengisi diskusi kali ini adalah Mas Fahd Pahdepie (MEP 2011), Mba Ienas Tsoraya (MEP 2003) dan Ustazah kondang yang juga alumni MEP tahun 2017 Mbak Oky Setiana Dewi (Mba Oky akan live dari Mekah).

***&&&***

Promosi Online Seminar MEP

Saya tidak menduga ternyata yang tertarik mengikuti Seminar Online Muslim Exchange Program Australia – Indonesia membludak. Dalam tempo kurang dari 10 jam semenjak informasinya dipublikasi, kuota sudah penuh bahkan lebih untuk satu grup WhatsApp. Jumlah WA yang masuk ke saya sudah mencapai di atas angka 2000an. Luar biasa. Fantastic. Awalnya ini hanya inisiatif pribadi saja untuk memberikan ruang kepada teman-teman yang tertarik mendaftar MEP untuk berdiskusi. Jadi tidak ada tim khusus yang dipersiapkan untuk mengorganisir diskusi ini. Oleh karena membludaknya respon, jujur saya kewalahan karena harus merespon satu-satu dari bawah (yang duluan masuk WAnya). Jadi mohon maaf jika ada teman-teman yang sudah mengirimkan WA tetapi belum saya respon. Karena memang sangat banyak WA yang masuk.

Untuk membantu teman-teman yang tidak tertampung dalam diskusi grup WA, semoga informasi yang saya sampaikan di bawah ini akan membantu.

 

Apa sih program MEP itu dan apa tujuannya? Continue reading

Online Seminar Muslim Exchange Program; Informasi Awal

Pertama, penting untuk anda ketahui bahwa MEP adalah program yang didanai oleh pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Institute. Di Indonesia, pihak yang melakukan seleksi program MEP adalah Universitas Paramadina Jakarta. Saat ini sedang dibuka pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2018. Pendaftaran akan ditutup pada Jumat, 8 September 2017.

Tour di sela-sela program MEP di Sydney ke Opera House Sydney

Sebagai salah satu alumni, setiap tahun saya menyebarkan informasi tentang program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (Muslim Exchange Program) melalui sosial media. Saya menemukan banyak teman-teman Continue reading

Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia dan Australia 2017

Pertukarang Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia kembali dibuka sampai dengan 16 Desember 2016.

Berikut informasi lengkapnya: img_2870

Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina mengadakan program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara Indonesia dan Australia. Program ini Continue reading

GERAKAN MARI SEKOLAH: FREQUENTLY ASKED QUESTION

Berhubung GMS belum memiliki laman resmi, kami memutuskan untuk posting informasi tentang GMS di halaman ini dengan tujuan untuk memudahkan dalam penyebaran informasi tentang GMS. Anda juga dapat mengunduh informasi ini di link berikut https://app.box.com/Informasitentanggms atau click di SINI.

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan (FAQ) tentang Gerakan Mari Sekolah. FAQ ini dibagi dalam 5 katagori yaitu (1) Dasar-Dasar Umum tentang GMS; (2) Informasi seputar anak-anak penerima beasiswa; (3) Informasi untuk donator; (4) Informasi untuk Pendamping anak; dan (5) Informasi lebih lanjut tentang GMS.  Continue reading

Sekali Saja Tidak Cukup

Ini adalah tulisan yang saya tulis untuk salah satu situs motivasi beasiswa pada tahun 2012. Sekarang, Alhamdulillah list beasiswa yang saya dapatkan bertambah satu lagi yaitu Australia Awards Scholarship (AAS). Melalui funding dari The Department of Foreign Affair and Trade Australia, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S-2 di Flinders University, Australia dengan spesialisasi di Leadership and Management (Education). FYI-Beasiswa AAS juga saya dapatkan pada saat kali kedua saya mendaftar.

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

“If you can imagine it, you can achieve it; if you can dream it, you can become it”. Itu adalah salah satu ungkapan dari William Arthur Ward yang selalu membuat saya untuk tidak berhenti bermimpi. Kalau berbicara tentang mimpi, Saya teringat dengan salah satu golden waynya Pak Meria Teguh, lebih kurang substansinya begini “ Kamu akan mati, kalau tidak berani bermimpi”.

Dalam kontek mencari beasiswa, rumus seperti itu juga berlaku. Jangankan tidak berani bermimpi, takut pada kegagalan saja tidak boleh. Artinya, harus tetap optimis meskipun keberuntungan belum berpihak kepada kita.

Pengalaman tersebut saya alami sendiri. Saya baru saja mendapatkan pengumuman bahwa terpilih sebagai salah satu peserta dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia Tahun 2012 (Muslim Exchange). Ada 10 peserta yang terpilih dari seluruh Indonesia. Program ini short term, hanya 2 (dua) minggu di Australia. Karena dibagi 2 gelombang keberangkatan, saya mendapat gelombang ke 2, saya bersama 4 rekan lainnya akan berangkat pada 11-24 Juni 2012, sedangkan 5 rekan lainnya akan bergabung dalam gelombang pertama dan akan berada di Australia dari 23 April sampai dengan 6 Mei 2012. Meskipun programnya jangka pendek, bagi Saya bukan durasinya yang penting, tapi proses dan pengalamannya tentu saja priceless ever.

Belajar pada proses, mungkin itu pelajaran penting yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan motivasi beasiswa (MB). Kedua, Never ever hands up!!!Jangan pernah ada kata menyerah. Sekali saja tidak cukup untuk anda katakan kalau anda tidak sukses. Untuk sahabat ketahui saja, dari 2 pengalaman beasiswa yang saya dapatkan, kedua-duanya baru lulus pada kali kedua. Kegagalan pertama tidak membuat Saya menurun semangat, apalagi putus asa. I have enough guts to try it.

Pengalaman ketika Saya mendafar beasiswa Indonesia English Language Program (IESLP) tidak lulus ketika pertama kali saya mendaftar pada tahun 2009. Kemudian, dengan semangat dan impian yang semakin tinggi, tahun 2010, saya mencoba sekali lagi, dan Alhamdulillah Saya lulus dan bisa study selama 8 (delapan) minggu di Ohio University, USA.

Sekarang, program Muslim Exchange Indonesia-Australia 2012 juga melewati pengalaman yang sama. Tahun 2011, saya mendaftar pertama juga tidak lulus dan hanya sampai pada tahap seleksi interview di Jakarta. Tahun 2012 saya ikut mendaftar kembali. Tuhan maha pemurah, Dia memberikan kesemptan berkunjung ke Australia tahun ini.

Pengalaman tidak lulus pada kali pertama, Saya belajar beberapa hal penting yang mungkin berguna buat sahabat pembaca. Pertama, dengan gagal pada tahap pertama, membuat Saya semakin membuat persiapan yang lebih matang. Dan jujur kali kedua membuat persiapan lebih mudah. Pengisian formulir semakin lengkap, membuat letter of motivation semakain ngalir, penyusunan berkas jauh lebih rapi, mencari surat rekomendasi lebih cepat dapatnya, dsb.

Kedua, tentu saja usaha saya semakin keras dan lebih dari tahap pertama, karena Saya tidak mau gagal lagi seperti tahun pertama. Ketiga, dengan gagal pada tahap pertama, Setidaknya menjadi guru kepada saya dimana kekurangan Saya, nah kali kedua tentu saja saya berusaha semaksimal mungkin untuk menutup lobang tersebut.

Manfaat keempat yaitu masalah mental. Pada saat saya mendaftar kedua kainya, emosional saya lebih bisa terkontrol, lebih”nyantai”, rileks, dan stabil. Hal itu saya alami terutama pada saat wawancara di Universitas Paramadina, Jakarta.

Selanjutnya, tentu saja dengan ada kegagalan tahap pertama, menambah teman saya karena mempunyai teman dan relasi baru pada tahun kedua. Meraka ada modal sosial yang sangat berharga untuk saling bermutualisme nantinya.

Kemudian pelajaran terpenting lainnya adalah, segala sesuatu itu akan indah pada saatnya. Kedengarannya romantic dan lebay mungkin, tapi saya yakin bahwa Allah tau kalau saya akan mendapatkan yang terbaik pada saat yang tepat. Kalau saya lewat tahun 2011, tentu saja ada hal penting lain yang harus saya korbankan. Tapi Allah memberikannya sekarang, dan inilah waktu yang paling tepat.

Last but not least, Saya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang sedang hunting beasiswa, buat yang sudah mendaftar berulang kali, apply sana sini, tapi belum beruntung juga, jangan pernah putus asa. Never Ever Stop dreaming. Sekali saja tidak cukup!!!Percayalah tuhan tau apa yang terbaik buat kita, George Bernard Shaw mengatakan “Orang gagal selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang sukses selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya”.

Terakhir, ada pesan keramat dari Bapak Agoes IIEF Jakarta, beliau berpesan ketika kami balik dari USA “Second time is always easier than the first one”. So, keep fighting like a tiger and win like a champion. Amin…Salam sukses!!!

Mudahnya Beribadah di Australia

Citizen Reporter ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 6 Maret 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Photo Adam

***

OLEH MUHAMMAD ADAM, Penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship, melaporkan dari Adelaide

PERJALANAN studi saya ke Adelaide, Australia, saat ini memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk menyaksikan banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di Aceh. Salah satunya adalah hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Selama di Negeri Kanguru ini saya merasa tak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar bahwa masjid dan mushalla di sini tidak menjamur seperti halnya di Indonesia, apalagi di Aceh. Meski tidak banyak, tapi setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat.

Di Flinders University, misalnya, tempat saya kuliah sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat Jumat. Tak hanya di Australia, saat mengikuti short course di Amerika pun ketika masih mahasiswa, saya juga punya pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, akses ke tempat ibadah memang tak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan mushala atau masjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya amati teman-teman muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkretnya pada hari Jumat, mereka tetap memilih untuk izin tak ikut kuliah dan memilih menunaikan shalat Jumat jika ada kuliah pada saat bersamaan.

Yang saya rasakan di sini bahwa solidaritas kita sesama muslim meningkat pesat ketika kita menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli terhadap sesama pun justru berbiak lebih tinggi ketika kita berada di luar negeri. Kita kian terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika berada dalam kondisi yang jauh dari orang tua, keluarga, atau berbagai kemudahan yang biasanya ada di sekeliling kita.

Di Australia ini juga saya temukan banyak hal menarik di luar kampus. Misalnya, ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim di sini. Di Adelaide, misalnya, saya temukan sudah ada empat komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. Di sini ada Masyarakat Islam Australia Selatan (MIAS), Kajian Islam Adelaide (KIA), juga ada Pengajian Bapak-bapak yang disingkat PBB, di samping Komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalnya, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan para pengurusnya sedang menginisiasi madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orang tuanya studi atau kerja di Australia.

Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh, kelompok Pengajian Bapak-bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan Alquran secara bergiliran, kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan Alqurannya lebih tepat dan enak didengar. Terakhir, ditutup dengan tausiah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat Magrib berjamaah.

Jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Antusiasme mereka sangat tinggi. Tidak hanya sekadar datang, mereka juga membawa makanan untuk dinikmati bersama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilir di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tapi pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agama mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturahmi. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti pengajian ini mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi tentang akomodasi, kuliner, transportasi, bahkan lowongan kerja. Intinya ada banyak manfaat yang tak disangka-sangka dapat dipetik dengan menghadiri pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia dan selalu ada hikmahnya.

Aplikasi Beasiswa AAS

Ada banyak teman yang sedang hunting beasiswa Australia Awards Scholarships membutuhkan contoh aplikasi, terutama dari teman-teman yang sudah lulus. Saya memiliki pengalaman yang sama ketika mendaftar beasiswa ini dahulunya. Bagi banyak orang dalam mendaftar beasiswa, apapun itu, Saya melihat banyak pendaftar  yang meminta contoh aplikasi. Mungkin salah satu pertimbangannya untuk melihat bagaimana mereka yang sudah lulus mengisi aplikasi, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.

Photo dari : pinoyworkandstudyabroad.blogspot.com

Berikut ini adalah aplikasi saya ketika mendaftar beasiswa AAS tahun 2013. Apa yang saya tulis dalam aplikasi ini berdasarkan informasi yang saya miliki ketika mendaftar. Anda tidak perlu melihat konten atau informasi tentang saya. Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model.   Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!

Silakan click DISINI untuk mengunduh formulirnya.

Terimakasih

Belajarlah Memasak jika Ingin ke Luar Negeri

Note::: Tulisan ini sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Tribun/Kompas Gramedia) edisi Senin 9 Febuari 2015.  Silakan click di SINI untuk membaca di halaman situs media Serambi Indonesia.

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

TROEK kapai baro pula lada, itu pepatah bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Belajar masak justru pada saat sudah tak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai guru memasak.

Untuk sebagian orang, memasak mungkin urusan gampang. Tapi bagi saya, terlihat mudah awalnya, namun pada praktiknya rumit. Sudah dua minggu lebih saya di Negeri Kanguru ini, namun belum ada masakan saya yang memuaskan. Buktinya, masak tumis udang kalau tak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedas dan panas karena cuci muka setelah pegang cabai untuk tumis kol.

Menanak nasi pun kalau tak kelebihan air, ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadar, takaran, maupun citarasanya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang rumit. Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang tiga kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain.

Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauknya hampir tiap saat disiapkan oleh orang tua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) di mana makannya sudah masuk paketan yang ditangani pihak sekolah.

Sampai selesai kuliah S1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet.

Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk memasak, belanja urusan dapur saja hampir selalu diserahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuanlah yang kebagian tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada, anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.

Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, malah sering dilarang. Soalnya, menurut sebagian besar masyarakat kita, itu bisa jadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina pemilik rumah.

Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi masakan-masakan yang lezat oleh mertua perempuan atau istrinya.

Secara historis, saya tak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tak tahu bagaimana praktik masak-memasak zaman dulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan penjajah, karenanya diperlakukanlah seperti raja. Sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat. Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga di mana tanggung jawabnya mencari rezeki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.

Itu hanya asumsi-asumsi dasar saya saja, tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun, terlepas dari baik-buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggung jawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil bagian dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggung jawab pria. Lantas, apa tanggung jawab wanita? Istri melayani suami. Bukankah begitu Islam mengajarkannya?

Kalaupun kita mau bahas pada tataran ideal seperti di atas, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, justru semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang. Celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkretnya ada di dalam keluarga saya sendiri.

Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, ibu saya yang menanganinya. Tak ada maksud untuk menunjukkan kejelekan “perusahaan” rumah saya sendiri, tapi memang ada figur yang tak ada tanggung jawab dan tidak adil pembagian porsi kerja dan tanggung jawabnya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tak salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri mencuci pakaian, tak akan turun derajat kelaki-lakian seorang suami yang menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik inilah, saya pikir, semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktivis gender perlu dikonkretkan. Seharusnyalah keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik, perlu dilatih pada anak laki-laki semenjak dini, sehingga tak terasa canggung atau kaku seperti yang saya alami kini saat berinteraksi dengan alat-alat dapur di Negeri Kanguru.

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Tahun 2015

Pendaftaran Program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda (Muslim Exchange Program) antara Indonesia dan Australia  untuk tahun 2015 sudah dibuka. Program kepimimpinan ini berdurasi dua minggu. Program MEP bukan program penyaringan guru-guru yang mengajar kitab arab gundul atau mereka yang menghafal alquran atau guru guru-guru agama atau pimpinan pesantren. Ini bukan program pengajian. MEP adalah program kepemimpinan yang bertujuan untuk membuka pemahaman dan memberikan pengalaman baru kepada anda tentang bagaimana anda MELIHAT agama dalam perspektif yang luas. Karenanya, siapapun anda,  akademisi, guru pesantren, dosen, aktifis, hafiz/ah, pengusaha, pegiat komunitas-komunitas, wartawan atau apapun profesi anda, asalkan anda punya semangat dan berkontribusi untuk kehidupan beragama yang lebih baik di Indonesia (tentunya sesuai kapasitas anda), silakan anda daftar. Tapi jangan lupa baca syarat-syarat yang harus anda penuhi sebelum mengirim aplikasi.

Selama 13-14 hari tersebut, anda akan dijadwalkan untuk berkunjung, menemui, berdiskusi dan bertukar pengalaman serta pemikiran seputar isu-isu keagamaan dan hal-hal yang berkaintan dengan akademisi, peniliti, awak media, seniman, politisi, pemerintah, pegiat dan tokoh lintas agama yang ada di Kota Melbourne, Shepparton, Canberra dan Sydney.

Dalam kunjungan dua minggu ke Australia, anda tidak hanya berdiskusi seputar isu-isu agama dengan berbagai stake holders tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang peranan agama di masing-masing negara. Manfaat menarik lainnya adalah membangun jaringan dan juga mengelilingi Kota Melbourne, Sydney dan Canberra yang tentunya memberikan pengalaman berharga buat anda. Opsssss luruskan niat anda, mendaftar program MEP bukan untuk jalan-jalan. Jangan sampe tujuan jalan-jalan menghilangkan substansi program lho. OOT.

Untuk peserta dari Indonesia berjumlah 10 orang setiap tahunnya (pengalaman saya tahun 2012) dan untuk penyaringannya dilakukan oleh pihak Universitas Paramadina bekerjasama dengan Australia Indonesia Institute (AII). Keberangkatan ke Australia dibagi dua group. Lima orang pertama biasanya berangkat seputar bulan Maret atau April dan lima orang selanjutnya berangkat bulan Mei atau Juni.

Tahapan seleksi ada dua yaitu seleksi berkas (Administratif) dan seleksi interview. Jika berkas anda masuk shortlisted, maka anda akan dipanggil untuk wawancara di Jakarta. Tu tu tu kan, pasti anda bertanya, bagaimana tiketnya? akomudasinya ditanggung enggak? ketahuan tu muka-muka suka cari gratisan. Peace, just kidding. Jangan Khawatir, pengalaman saya ikut wawancara untuk program ini tahun 2011 dan 2012, transportasi dan akomudasi ditanggung donor kok. Karenanya, jangan buat aplikasi asal-asalan, setidaknya anda dipanggil ke Jakarta.  Lumayan kan ngerasa macetnya Jakarta. LoL.

Nah untuk pengiriman berkas/aplikasi keberangkatan tahun 2015 yaitu 19 Desember 2014. Untuk formulir dan informasi lebih lanjut dapat anda baca di situs Universitas Paramadina atau AII.

FYI >>>

Opera House-Sydney-Australia 23 Juni 2012

Opera House-Sydney-Australia 23 Junie 2012

Saya pernah membuat sedikit catatan dari perjalanan program ini tahun 2012 lalu, jika anda baca mungkin bisa menggambarkan sedikit banyaknya tentang tujuan, kegiatan-kegiatan, orang-orang yang anda temui, kota-kota yang akan anda kunjungi selama program ini. Silakan anda klik di KOMPILASI CERITA AUSTRALIA PART 1 untuk membaca tulisan-tulisan tersebut.

Silakan japri saya ke BBM (5345ec41) atau WA (+61452198772) jika ingin bertanya atau berdiskusi seputar program ini.

Selamat berjuang! Semoga mendapatkan yang terbaik. amin…

P.s

Berhubung banyak yang meminta applikasi saya ketika mendaftar MEP Tahun 2012 lalu, karenanya saya upload. Silakan anda klik di SINI untuk mengunduh dokumen-dokumen tersebut. 

Catatannya >>> Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model. Apa yang tulis di applikasi didasari atas informasi yang saya miliki saat itu. Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!