Indonesia ranks 124th in 2011 Human Development Index

The United Nations Development Program (UNDP) launched the 2011 Human Development Index (HDI) on Wednesday. The index again places Indonesia at 124th out of 187 countries surveyed.
In addition, Indonesia again ranks lower than five of its ASEAN counterparts, with Singapore leading in 26th place, followed by Brunei (33rd), Malaysia (61st), Thailand (103rd) and the Philippines (112nd).
Indonesia’s 2011 HDI placing, which scores 0.617, is still higher than that of Vietnam (128th), Laos (138th), Cambodia (139th) and Myanmar (149th).
The 2011 list again puts Norway top of the index, with an HDI of 0.943, followed by Australia, the Netherlands, the United States and New Zealand, respectively.
“But when the index is adjusted for internal inequalities in health, education and income, some of the wealthiest nations drop out of the HDI’s top 20. The US falls from #4 to #23, the Republic of Korea from #15 to #32, and Israel from #17 to #25,” the UNDP said in its 2011 Human Development Report.
“Other top national achievers rise in the IHDI [Inequality-adjusted HDI] due to greater relative internal equalities in health, education and income. Sweden jumps from #10 to #5, Denmark climbs from #16 to #12, and Slovenia rises from #21 to #14,” it adds.
The UNDP says HDI rankings are recalculated annually using the latest internationally comparable data for health, education and income. The IHDI was introduced in last year’s Human Development Report along with the Gender Inequality Index and Multidimensional Poverty Index in order to complement the original HDI, which as a composite measure of national averages does not reflect internal inequalities.
The 2011 HDI rankings placed Burundi (185th), Niger (186th) and Congo (187th) at the bottom.

Sumber: Jakarta Post

Internet users in Indonesia reaches 55 million people

The number of Internet users in Indonesia significantly increased to 55 million people in 2011 from the previous 45 million, a study shows.
The study was conducted by Southeast Asian based research firm Markplus Insight from August until September 2011 in 11 cities, namely Jakarta and its neighboring cities, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Denpasar, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin.
The study, as reported by kompas.com on Friday, involved 2,161 people aged ranging between 16 and 64 years old, who use the Internet more than three hours a day as samples.
In every city where the survey had been conducted, up to 80 percent of Internet users are people aged between 15 and 30-years old.
The research also found a 100 percent increase of online trade in 2011 compared to last year with one third of transactions made through e-payment service with text message and Internet banking recorded as the most popular means of payment.

The study currently shows mobile Internet penetration in Indonesia reached 57 percent of the total Internet users, a 100 percent increase from last year, due to affordable prices of gadgets and mobile Internet services

Politisi Muda Harus Keluar dari Jebakan Korupsi

Politisi muda harus keluar dari jebakan korupsi dan pragmatisme, serta menunjukkan kinerja luar biasa. Sentimen “muda” jangan lagi dijadikan motif untuk bersaing di pentas politik.
“Sekarang, politisi muda harus bersaing dengan menunjukkan integritas, kapasitas, dan rekam jejak,” kata Ketua Partai Amanat Nasional, Bima Arya Sugiarto, Senin (31/10/2011) di Jakarta.
Pernyataan itu disampaikan Bima untuk menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), yang dipublikasikan Minggu (30/10/2011). Survei itu menunjukkan, hanya 24,8 persen responden yang percaya bahwa politisi muda masih berperilaku baik dan membawa perubahan.
Politisi muda ini adalah mereka yang berumur di bawah 50 tahun. Akibatnya, kecil kemungkinan ada tokoh muda yang maju menjadi calon presiden dalam Pemilihan Presiden 2014.
Hasil survei LSI itu, menurut Bima, secara substansi layak dijadikan refleksi serius oleh para politisi muda. Namun, hasil survei itu juga tidak bisa diartikan bahwa politisi senior lebih dipercaya. Pasalnya, persepsi publik saat ini, memang sedang tidak berpihak kepada politisi partai secara umum.
Namun secara teknis, metodologi, dan momentum, lanjut Bima, survei LSI itu juga dapat dipandang tendensius. “Tidak tertutup kemungkinan hasil survei itu diluncurkan untuk membunuh karakter tokoh-tokoh muda dan kemudian memuluskan kandidat tertentu,” papar Bima.
Dia menambahkan, dugaan ini muncul karena peluncuran hasil survei itu berdekatan dengan keputusan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie untuk menjadi salah satu calon dalam Pemilihan Presiden 2014.

Bima menegaskan, kinerja politisi tidak bisa diukur dan dinilai hanya melalui survei yang rawan “framing” atau pengkondisian dari lembaga survei.

Sumber : Kompas

Perguruan Tinggi Asing Bisa Berdiri di Indonesia

Perguruan tinggi asing dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi di Indonesia. Kehadiran perguruan tinggi asing itu harus mendorong kemajuan ilmu-ilmu dasar di Indonesia.
Namun izin yang diberikan pemerintah kepada perguruan tinggi asing beroperasi di Indonesia, seperti tertuang pada Pasal 90 Rancangan Undang-undang Perguruan Tinggi (RUU PT) yang sedang dibahas pemerintah dan DPR itu, mendapat kritik dari sejumlah kalangan.
Izin penyelenggaraan pendidikan tinggi asing yang diberikan pemerintah, dinilai sebagai upaya mendorong liberalisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi.
“Mengizinkan PT asing berdiri di Indonesia harus hati-hati, mesti mempertimbangkan betul bagaimana kondisi PT di Indonesia. PTN pun tidak semua bagus dan siap bersaing dengan kehadiran PT asing nantinya,” kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Akhmaloka, yang dihubungi dari Jakarta, akhir pekan lalu.
Dalam ketentuan di RUU PT, disyaratakan PT asing yang beroperasi di Indonesia harus terakreditasi di negaranya. Selain itu, PT asing di Indonesia wajib bekerja sama dengan penyelenggara PT Indonesia, serta mengikutsertakan dosen dan tenaga kependidikan warga negara Indonesia. PT asing ini harus mampu mendorong pengembangan ilmu-ilmu dasar.
Akhmaloka menambahkan, RUU PT berlaku untuk seluruh Indonesia. “Bagaimana dengan perguruan tinggi kecil? Harus dipertimbangkan dengan mendalam. Apakah PT Indonesia cukup kuat bersaing,” kata Akhmaloka.
Sebaliknya, kata Akhmaloka, justru PT di Indonesia butuh aturan untuk bisa beroperasi di luar negeri. Seperti ITB, sebenarnya sudah diundang untuk beroperasi di Malaysia. Selain itu juga di Timur Tengah, seperti Sudan dan Libya.
Dalam pandangan Akhmaloka, memang kehadiran PT asing bisa memotivasi PT di dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Namun, perlu dipertimbangkan betul, apakah waktunya sudah tepat.
Wakil Rektor II Universitas Airlangga, M Nasih, menambahkan, PT dalam negeri saja tidak mudah membuka kampus di luar domisili. “Yang PT dalam negeri masih susah buka kampus di luar domisili, kok PT asing mudah untuk berdiri di Indonesia,” kata Nasih.
Majelis Wali Amanah (MWA) Institut Pertanian Bogor (IPB), Didik J Rachbini, mengemukakan pula bahwa pendidikan itu bukan barang dan jasa. Sebab di dalamnya ada sejarah, norma, adat budaya, dan ideologi.

“Mestinya tidak menjadi obyek liberalisasi. Internasionalisasi tidak berarti boleh buka seluas-luasnya akses dan investasi PT negara lain dan beroperasi Indonesia,” kata Didik.

Sumber : Kompas

Bendung Perguruan Tinggi Asing, 26 PTN-PTS Bersinergi

Sebanyak 26 perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN) bersinergi untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi sekaligus membendung ancaman masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia. Hal ini terkait Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU PT) yang tengah digodok oleh DPR, di mana salah satu pasalnya memberikan peluang perguruan tinggi asing masuk ke Indonesia.
Oleh karena itu, 26 perguruan tinggi tersebut mendeklarasikan visi bersama mereka dalam sebuah wadah bernama Nationwide University Network in Indonesia (NUNI).
“Dengan NUNI kami dimungkinkan membangun komitmen bersama karena ini terkait dengan pemahaman. Bisa dibayangkan bagaimana persaingan PTS dan PTN yang selama ini terjadi,” kata penggagas NUNI, Harjanto Prabowo, saat ditemui Kompas.com, Kamis (20/10/2011), di Jakarta.
Rektor Binus University ini mengatakan, seluruh anggota NUNI telah sepakat untuk melupakan persaingan di antara mereka. Menurut dia, untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, seluruh PTS dan PTN seharusnya dapat berkolaborasi.
Pendidikan Indonesia, kata dia, akan tertinggal dan terus melemah jika kolaborasi itu tidak segera diwujudkan. Saat ini, masih terdapat ribuan perguruan tinggi yang bermasalah dan perlu dibantu untuk peningkatan mutunya.
“Kita harus waspada, jika PTS atau PTN yang mutunya baik tertarik ikut ke bawah, perguruan tinggi asing akan mudah untuk masuk,” ungkap Harjanto.
Akan tetapi, jika aturan memang membuat peluang masuknya perguruan tinggi asing tetap dibuka, harus diatur dengan mekanisme yang jelas. Harjanto mencontohkan, salah satu aturan yang bisa diterapkan adalah mewajibkan perguruan tinggi asing untuk berkolaborasi dengan PTS dan PTN di Indonesia. Salah satu hal yang menurut dia harus diperhatikan adalah perguruan tinggi asing hanya melihat pendidikan sebatas kompetensi global.
“NUNI sadar jika kompetensi boleh global, tetapi tetap lokal konten, dengan mengangkat nilai-nilai lokal,” ujarnya.
Hingga dua tahun ke depan, NUNI akan fokus pada tiga hal, yaitu student mobility, research sharing, dan faculty mobility.
“Nantinya akan ada semacam kelas bersama, pertukaran mahasiswa, dan pertukaran dosen. Masuknya perguruan tinggi asing adalah challenge untuk kami,” kata Harjanto.

Sumber : Kompas

Jauhkan TV dari Anak Usia di Bawah 2 Tahun

Belakangan sejumlah penelitian menunjukkan ada hubungan antara menonton televisi terlalu lama dan penurunan prestasi belajar anak. Baru-baru ini, para ahli dari The American Academy of Pediatrics (AAP) mengimbau para orangtua yang mempunyai anak usia di bawah dua tahun agar menghindari televisi.
Peneliti berkesimpulan, paparan media televisi dapat memberikan efek negatif bagi proses perkembangan otak anak di awal-awal usia pertumbuhannya. Menghindari layar TV dinilai sebagai cara terbaik untuk membantu anak-anak belajar dan berinteraksi.
Berdasarkan hasil survei terungkap, sebanyak 90 persen orangtua mengaku bahwa anak-anak mereka yang berusia di bawah dua tahun telah menonton beberapa bentuk media elektronik. Padahal menurut AAP, kegiatan menonton layar televisi tidak terbukti memberikan manfaat bagi perkembangan otak anak. Bahkan, sejumlah riset menyebutkan bahwa TV justru menimbulkan gangguan tidur di kalangan anak-anak.
Untuk itulah, AAP dalam pernyataan resminya yang akan dipublikasi dalam jurnal  Pediatrics edisi November menyarankan para orangtua agar anak usia di bawah 2 tahun dijauhkan dari tontonan layar televisi.
“Bentuk belajar terbaik untuk anak-anak adalah lewat interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, bukan dengan layar. Waktu bermain yan tidak terstruktur telah terbukti bermanfaat bagi kemampuan berpikir kritis yang tentu akan dibutuhkan anak dalam hidupnya. Oleh sebab itu, inilah waktu terbaik yang harus dihabiskan anak-anak,” kata Dr Ari Brown, spesialis anak, sekaligus peneliti utama dalam riset tersebut.
Brown menambahkan, ketika anak-anak bermain dengan kondisi TV menyala, maka setiap 20 detik mata anak akan bergerak ke layar sehingga anak kehilangan konsentrasi dalam melakukan aktivitas mereka.
Bukan hanya itu saja, menurut Brown, dengan kondisi TV menyala, seorang anak cenderung pasif dan kurang interaksi, akibatnya kemampuan berbicara mereka akan terganggu.
“Bermain lebih baik untuk perkembangan otak anak ketimbang paparan media elektronik. Jika orangtua tidak dapat aktif bermain dengan anak mereka, maka anak yang seharusnya bermain sendiri dengan orang dewasa yang ada di dekatnya,” sarannya.

Sumber : Kompas

Masuk Kampus ITS Wajib Bersepeda!

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan membebaskan areal kampusnya dari lalu lalang kendaraan. Setiap dosen, karyawan, dan mahasiswa dilarang mengendarai mobil atau motor di areal dalam kampus. Kebijakan ini diterapkan untuk menciptakan suasana kampus berwawasan lingkungan, sesuai konsep eco-campus yang tengah digagas ITS. Sebagai alat transportasi, nantinya akan disediakan ribuan sepeda di pintu masuk kampus. Areal kampus harus bebas asap kendaraan. Sementara untuk mobil dan motor akan ditempatkan di areal parkir terpadu.
“Sudah pasti, ITS akan menciptakan budaya bersepeda selama di kampus. Untuk awal nanti, kita sediakan setidaknya 600 sepeda yang bisa dipakai gratis saat masuk kampus,” ujar Achmad Rusdiansyah, Koordinator Eco Campus ITS, Jumat (16/9/2011).
Jumlah tersebut adalah jumlah awal sebelum eco-campus itu benar-benar menjadi budaya. Selanjutnya, sambil berproses, ITS akan menggandeng pihak ketiga untuk menambah jumlah unit sepeda yang khusus dioperasikan di kampus. Rusdiansyah mengakui jumlah yang disediakan belum memadai, mengingat jumlah total warga kampus ITS saat ini sekitar 20.000 orang. Mahasiswa sekitar 18.000 dan sisanya dosen dan karyawan. Namun, mereka tentu tidak berada di kampus dalam satu waktu.
“Mahasiswa cukup menukarkan kartu mahasiswa, sudah bisa ke kampusnya dengan bersepeda. Kita akan awali di areal protokol rektorat dan areal utama lain yang bebas kendaraan,” lanjut Rusdiansyah.
Saat ini juga sudah disiapkan infrastruktur khusus pengguna sepeda, di antaranya pembuatan jalan khusus pengguna sepeda. Jalur khusus ini akan semakin mendominasi jalan di dalam kampus ITS.

Sumber : kompas

“Eco Campus”, Gedung Kuliah ITS Tak Ber-AC”

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya segera mewujudkan kampus yang peduli dan berwawasan lingkungan atau eco campus. Pencanangan eco campus tersebut akan ditandai dengan membuat hutan kampus yang akan digelar Sabtu (17/9/2011) besok. Salah satu komitmen yang akan ditunjukkan adalah, dengan meniadakan pendingin ruangan atau AC di gedung perkuliahan.

“Kami sebisa mungkin menghindari penggunaan AC. Minimal kita akan mengurangi AC dalam setiap gedung di ITS. Nanti kalau hutan kampus makin lebat, tak perlu pendingin ruangan ini,” kata Koordinator Program Eco Campus ITS Achmad Rusdianyah, Jumat (16/9/2011).
Peniadaan AC ini telah dilakukan pada gedung-gedung perkuliahan di kampus PENS ITS. Hampir di semua gedung ini didesain tanpa instalasi pendingin ruangan.
“Buktinya tanpa AC pun, gedung kuliah PENS sejuk. Udara segar masuk melalui fentilasi gedung. Ini ramah lingkungan. Kalau hutan kampus makin bagus, udara makin segar,” tambah Rusdiansyah.
Namun, ia mengakui, langkah non-AC tak mungkin diterapkan di seluruh gedung di kampus tersebut. Akan tetapi, ke depannya, setiap gedung baru ITS tak akan dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Konsep “Eco Campus” Pada pencanangan hutan kampus yang akan dilakukan besok, akan dilakukan kegiatan penghijauan dan perluasan hutan kampus yang disebut gugur gunung (G2). Setidaknya 7.000 warga ITS, dosen, karyawan, dan seluruh mahasiswa dilibatkan langsung.
“Kami bermimpi ITS jadi kampus yang berbudaya lingkungan,” kata Rektor ITS Triyogi Juwono, secara terpisah, hari ini.
Hutan kampus yang sudah ada di ITS akan semakin difungsikan berdasarkan fungsi konservasi dan budidaya. Tanaman yang akan dikembangkan adalah tanaman langka seperti juwet, kecacil, gebang, atau jenis tanaman dan pohon langka lain.
Achmad Rusdiansyah menambahkan, GG adalah awal pencangan menuju eco campus ITS. Total lahan ITS 185 hektar harus dimaksimalkan demi kelestarian lingkungan.
“Kami sudah menyiapkan masterplan gedung-gedung perkuliahan di ITS yang berkonsep green building. Seluruh infrastruktur kampus akan berbasis dan berbudaya lingkungan,” jelasnya.
Setidaknya, dalam empat tahun ke depan, infrastruktur yang berkonsep green building itu sudah bisa diimplementasikan di lingkungan kampusnya. Antara lain, seperti desain standar green building, green infrastructure serta sistem drainase yang ramah lingkungan.
Masterplan berbasis eco campus ini diadopsi untuk mencegah pemborosan energi di ITS. Dalam hitungan Rusdiansyah, ITS setiap tahun membayar Rp 6 miliar untuk listrik. Artinya, setiap bulan harus dikeluarkan dana sebesar Rp 500 juta untuk listrik saja.
“Akan banyak program ITS untuk menciptakan budaya lingkungan. Kami akan tempatkan setiap program ecocampus sebagai prioritas. Melestarikan dan membudidayakan lingkungan sehat dan berkelenjutan,” kata Rusdiansyah.

sumber : kompas

Inilah Sepuluh Karya Terpenting Steve Jobs

 Meski tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang engineering, Steve Jobs tercatat sebagai pemegang lebih dari 300 hak paten hardware dan software. Berikut ini sepuluh produk yang dibidani oleh Steve Jobs:

1. Apple I (1976) – Komputer yang ditujukan untuk para pehobi dan engineer ini merupakan produk Apple pertama, tetapi hanya diproduksi sangat terbatas. Produk ini dirancang oleh Steve Wozniak, dan Jobs bertugas mencari pendanaan sekaligus mengatur pemasarannya.
2. Apple II (1977) – Merupakan salah satu produk personal computer pertama yang sukses. Apple II dirancang untuk diproduksi secara massal, tidak hanya ditujukan untuk engineer atau pehobi (enthusiast). Gaya desain Steve Wozniak masih kental untuk produk ini. Apple II terus diproduksi hingga tahun 1993 dan kemampuannya terus ditingkatkan.
3. Komputer Next (1989) – Setelah sempat “ditendang” dari Apple, Jobs mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi komputer workstation berkekuatan hebat. Perusahaan ini gagal menjualnya dalam jumlah besar, tetapi Next selalu dikenang karena merupakan komputer pertama di dunia yang memiliki web browser. Perangkat lunaknya menjadi basis web browser yang ada di sistem operasi Macintosh dan iPhone hingga saat ini.
4. Lisa (1993) – Kunjungan ke pusat riset Xerox Corp di Palo Alto menginspirasi Job untuk memulai proyek komputer komersial pertama dengan user interface grafis, yang menggunakan simbol ikon, Windows, dan kursor yang dikendalikan oleh mouse. Inilah yang menjadi dasar dari antarmuka komputer saat ini. Akan tetapi, Lisa masih terlalu mahal untuk sukses di pasaran.
5. Macintosh (1994) – Macintosh memiliki antarmuka yang sama dengan Lisa. Namun, Macintosh lebih murah dan cepat serta didukung promosi penjualan yang sangat gencar. Atas kemunculan Macintosh, pengguna baru tersadar mudahnya penggunaan komputer dengan adanya antarmuka grafis. Inilah yang mengawali era desktop publishing, yaitu dengan memadupadankan mesin Mac dan printer laser.
6. iMac (1998) – Saat Jobs kembali pada tahun 1996, Apple sedang “tenggelam” seiring dengan menurunnya pangsa pasar PC. Desain radikal iMac menjadi langkah pertama yang mengangkat Apple dari keterpurukan. Perangkat ini didesain sedemikian rupa mirip sebuah gelembung (bubble) dengan bahan plastik berwarna biru yang di dalamnya terdapat monitor dan komputer dalam satu kesatuan. iMac sangat mudah digunakan dan menyadarkan orang betapa bergunanya teknologi internet. Tak hanya itu, iMac membuat banyak orang menginginkannya sebagai komputer rumah pertama mereka.
7. iPod (2001) – Perangkat ini bukan pemutar musik digital pertama yang dilengkapi hard drive, tetapi ini merupakan pertama sebagai yang tersukses. Ekspansi Apple ke ranah perangkat elektronik portabel membawa pengaruh yang sangat luas. Kesuksesan iPod membuka jalan untuk mempersiapkan music store iTunes dan iPhone.
8. iTunes Store (2003) – Sebelum iTunes Store ada, untuk membeli musik digital merupakan hal yang sangat menjengkelkan. Orang lebih memilih melakukan pembajakan karena lebih mudah. Toko musik digital Apple hadir dengan membawa segala kemudahan dan koleksi album musik dari berbagai label. Pada tahun 2008, iTunes menjadi retailer musik terbesar di Amerika Serikat.
9. iPhone (2007) – Smartphone milik Apple ini menghadirkan pengalaman yang sama dengan apa yang ada di Macintosh untuk personal computing dengan kelebihan, yaitu sebuah smartphone yang sangat mudah digunakan. Saat ini Apple telah menjelma menjadi vendor pembuat telepon paling untung di seluruh dunia. Tak hanya itu, iPhone menjadi patokan/dasar dari semua smartphone yang ada saat ini.

10. iPad (2010) – Sebelum iPad hadir, banyak perusahaan termasuk Apple telah membuat komputer tablet, tetapi tak satu pun yang sukses. Akhirnya iPad yang menjadi pendobrak dan mengubah perspektif sebuah komputer tablet serta menambah sebuah kategori baru dalam penggunaan komputer.

Sumber : Kompas, 6 Oktober 2011

Vacancy Announcement

 
United Nations World Food Programme

Indonesia
 Vacancy Announcement
11/INS/LSU/ADM/019

World Food Programme, Indonesia invites applications from the eligible candidates for the following position:

Position:    Language Assistant
Contract Type:    Special Service Agreement (3 months)
Duty Station:      Banda Aceh, Indonesia

Accountabilities:
Within delegated authority, the Language Assistant will provide interpretation and translation services to the technical advisor and to WFP sub office in Banda Aceh. The primary activities assigned for this position are as follows:

•    Develop a relevant understanding of the project subject matter through undertaking a desk review of related documentation in order to summarize and capture priority points and perform preliminary linguistic and terminological research;
•    Arrange, facilitate and attend meetings, liaise and collaborate with relevant Government agencies, UN agencies, commercial operators, implementing partners that are involved in the assessment to collate information required;
•    Proofread translated texts to ensure that the translation is complete and consistent with the original layout; and that all written corrections by revisers are properly reflected;
•    Provide interpretation services for meetings, interviews and discussions; producing corresponding transcripts and minutes;
•    Provide professional level of service with accurate work to tight deadlines and also develop a good understanding of the project itself;
•    Prepare presentations for meetings/briefings and publications using publishing programmes;
•    Prepare draft translations, identify, extract and insert excerpts of documents already translated into documents for translation;
•    Review documents for accuracy, spelling, grammar and style-guide standards; verify references and official titles against WFP databases and records;
•    Type and layout documentation such as letters, reports, publications, PowerPoint presentations, etc;
•    Set up, classify and maintain  files with background documentation of parliamentary and other documents;
•    Input data on the unit’s database of documents in process and keep the files up-to-date;
•    Design and update charts and tables utilizing graphic software;
•    Operate a variety of office equipment such as computers, monitors, printers, scanners, DVD writers etc;
•    Perform other related duties as required.

Qualifications and Experiences:
Education: Secondary School Education
Experience: At least four years of progressively responsible work experience in conference work, including at least one year in the production of parliamentary documents.
Knowledge & desirable skills: Training and/or in advanced computer literacy and proofreading if parliamentary and non-EB documents. Ability to write and spell correctly. Experience in processing of parliamentary documents with complex format and styles. Training and/or experience in conference-related assignments.
Language: Fluency in both oral and written communication in the UN language and national language of the duty station.

Only candidates meeting the above requirements are requested to apply. Female candidates are encouraged to apply. Applications should be addressed by e-mail to: Jakarta.Vacancy@wfp.org

All applications should include an updated CV (in English), a photograph and three references and should be received no later than 2 September  2011.  Please state the title of the post in the email subject.

“Only short-listed candidates will be contacted”

Surat Terbuka Duta Besar Dino Patti Djalal

Kepada Masyarakat Indonesia di Amerika Serikat,

Saudara-saudaraku,

Pertama, dalam rangka menyongsong hari kemerdekaan 17 Agustus, perkenanlah saya atas nama keluarga besar KBRI Washington DC dan seluruh KJRI se-AS mengucapkan dirgahayu Republik Indonesia ke-66 kepada seluruh masyarakat Indonesia di Amerika Serikat.

Saya juga atas nama keluarga – istri saya Rosa, dan putra-putri Alexa, Keanu Chloe – mengucapkan selamat berpuasa dan maaf lahir batin kepada ummah di Amerika. Semoga amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan yang suci ini diberkahi Allah SWT.

Sebagai wakil Pemerintah Indonesia di AS, saya ingin memberikan update kepada anda mengenai hubungan RI-AS dan beberapa program ke depan.

Saya baru saja kembali dari tanah air setelah menempuh perjalanan dinas ke Bali dan Jakarta.

Di Bali (24 Juli), hubungan RI-AS menjadi lebih berbobot dengan berbagai kesepakatan yang dicapai antara Menlu Marty Natalegawa dan Secretary of State Hillary Clinton dalam forum Joint Commission Meeting RI-USA. 6 bidang utama yang menjadi fokus adalah: demokrasi dan governance,keamanan dan pertahanan, energi, perubahan iklim dan lingkungan hidup, pendidikan, perdagangan dan investasi. Momentum hubungan RI-AS kini semakin laju, dan kita dengan entusias menantikan kunjungan Presiden Barack Obama ke Bali bulan November tahun ini. Dalam penilaian saya, terlepas dari sejumlah tantangan, hubungan RI-AS tidak pernah se-erat dan sekomprehensif ini.

Beberapa hari setelah itu, di Jakarta (28 Juli), KBRI Washington DC, bekerjasama dengan BKPM, menyelenggarakan International Conference on Futurologi. Konferensi ini menampilkan world-class futurologists dari Amerika yang disandingkan dengan sejumlah tokoh Indonesia dalam diskusi mengenai arah perubahan dunia 30 tahun ke depan. Konferensi ini tadinya hanya mentargetkan 500 pengunjung, namun ternyata membludak dihadiri 1,300 pengunjung – 2 kali lebih besar dari partisipasi World Economic Forum di Jakarta – termasuk sejumlah alumni dari AS. Para futurologis juga berkesempatan mengadakan diskusi yang exhaustive dengan Presiden SBY selama 3 jam (tadinya hanya dijadwalkan 1 jam). Ke depan, kami merencanakan Futurology Conference akan menjadi salah satu flagship konferensi tahunan Indonesia.

Selama di Jakarta, atas permintaan dari rekan-rekan dari IMAAM, saya juga berupaya mencari bantuan terhadap upaya mulia masyarakat Indonesia membeli masjid di sekitar DC. Alhamdulillah, upaya tersebut berhasil mengumpulkan USD$ 30,000 plus sejumlah komitmen terbuka dari beberapa donatur lainnya, terutama dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang masuk dalam Guinness Book of World Records karena prestasinya yang luar biasa sebagai pembangun masjid terbanyak di dunia. KBRI Washington DC akan terus berikhtiar untuk membantu mewujudkan aspirasi masyarakat Indonesia ini, sekaligus memproyeksikan profil umat Islam Indonesia di AS yang moderat, toleran dan modern.

Dalam kaitan ini, pada tanggal 14 Juli, saya sebagai Duta Besar Indonesia bersama Dubes Mali dan pakar dari Iraq telah memberikan presentasi di Kongres AS mengenai “Islam and Democracy : Evolving Compatibility in the 21st Century”. Presentasi ini didukung oleh 4 anggota Kongress AS – David Price (D-North Carolina), David Drier (D-California), Jim McDermott (D-Washington), Andre Carson (D-Indiana) – dan mendapat sambutan yang sangat positif dari pengunjung. Untuk mempromosikan citra Indonesia yang toleran dan menganut kebebasan beragama, KBRI Washington DC merencanakan untuk mengadakan roadshow keliling beberapa negara bagian AS untuk melakukan presentasi yang sama di Universitas maupun think tank setempat. Kalau anda ingin melihat roadshow ini di lakukan di negara bagian anda, silahkan hubungi Adam Tugio bidang politik KBRI Washington DC (202-775 5200)

Kabar gembira lain adalah The Philosopher, film Hollywood pertama yang sepenuhnya shooting di Indonesia dan bercerita mengenai Indonesia. KBRI Washington DC berkehormatan menjadi “mak comblang” proyek bersejarah ini, dengan mempertemukan produser film Hollywood dengan investor dan studio film dari Indonesia. Argumentasi yang kita gunakan sangat gamblang : biaya produksi film di Indonesia jauh lebih murah, yakni 25 % dari biaya shooting di AS. Siapa yang tidak tergiur dengan formula ini? Saya ingin sekali melihat Indonesia masuk Hollywood. Dalam pertemuan saya dengan Presiden Motion Pictures Association (MPA) Senator Chris Dodd di KBRI Washington DC beberapa bulan lalu, dicapai kesepakatan untuk merancang program dimana para pelaku industri film Indonesia dapat magang di Hollywood.

Selama di tanah air, saya juga banyak sekali mendengar apresiasi mengenai pemecahan Guiness World Record for largest angklung ensemble yang diikuti oleh 5182 peserta multibudaya di Washington DC tanggal 9 Juli 2011 dalam Festival Indonesia (yang juga menampilkan band legendaris Air Supply, rapper Raheem Devaughn, dan sejumlah artis Indonesia, seperti Elfa’s Singers, Denada, Sherina, Balawan, rombongan tari Jabar, dan kelompok2 seniman Indonesia setempat, dll)

Ini sungguh adalah prestasi bersejarah seluruh masyarakat Indonesia di AS dan karenanya sekali lagi saya mengucapkan salut dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas jerih payah staf KBRI WDC, House of Angklung, Dharma Wanita, KJRI New York, Chicago, Houston, San Francisco dan Los Angeles dan PTRI New York, semua sukarelawan dan “hubs” yang menjadi motor dari misi besar ini. Proyek angklung ini adalah contoh indah “ide besar dengan modal dengkul”. Namun dengan tekad, networking, team work, kerja keras, energi positif dan kreatifitas, kita berhasil mengolah suatu mimpi menjadi prestasi sejarah. Festival Indonesia ini juga bentuk dari public private partnership, dimana KBRI Washington DC, BKPM, Kementerian Budpar, sejumlah Gubernur serta sejumlah perusahaan Indonesia (yang dikoordinir Peter Gontha dari First Media) dan perusahaan Amerika Serikat (melalui US-ASEAN Business Council) semuanya gotong royong mendukung kebutuhan logistik perhelatan akbar ini.

Dalam beberapa minggu terakhir, Bappenas, KBRI Washington DC bekerjasama dengan Pemerintah AS juga mencapai kemajuan penting dalam upaya untuk mendapatkan hibah (bukan pinjaman) dari US Millennium Challenge Corporation sebesar sekitar US$ 600 juta, yang akan didedikasikan untuk proyek-proyek e-procurement governance, pendidikan, kesehatan balita dan green growth di Indonesia. Bahwasanya hibah tersebut sedang diproses dalam kondisi perekonomian AS yang sedang mengalami masa sulit mencerminkan arti strategis Indonesia yang besar di mata AS.

Semua pengalaman saya sebagai Duta Besar dalam 11 bulan terakhir membuat saya semakin yakin akan satu hal : apapun statusnya – apakah yang sudah menjadi US citizen, resident, pelajar, bahkan yang bermasalah izin tinggal – masyarakat Indonesia di AS dapat menjadi kekuatan riil yang relevan bagi bangsa Indonesia. Kita mempunyai potensi yang unik untuk memberdayakan diri sendiri dan juga saudara-saudara kita di tanah air.

Sebagai contoh :

  Sehat Sutarja – CEO and President Marvell Technology dan billionaire Silicon Valley asal Indonesia yang mengunjungi Jakarta bulan Mei tahun ini – menjadi inspirasi bagi kaum muda dan inovator Indonesia.
 
  Program KBRI Washington DC “Generation-21” – yang mempertemukan 100 mahasiswa dan profesional Indonesia dari berbagai penjuru AS untuk membahas masa depan bangsa kita – ditayangkan di SCTV selama 1 jam penuh dan ditonton jutaan pemirsa di tanah air.
 
  Rekor dunia angklung kita menjadi berita nasional dan membangkitkan semangat nasionalisme sejuk di Indonesia.

Karena itulah, saya ingin melihat masyarakat Indonesia di AS tumbuh menjadi suatu “enormous force for good” bagi Indonesia. Namun demikian, kita juga harus jujur bahwa kontribusi kita kepada tanah air masih dibawah potensi yang sebenarnya. Kita harus menumbuhkan culture of excellence dan energi positif, dan menjauhkan diri dari negative thinking dan sikap sinisme berlebihan yang sayangnya kadang masih membebani langkah sebagian kecil masyarakat kita. Dalam pengalaman saya, tidak pernah ada orang yang sukses dengan energi negatif dan sinisme. Masyarakat sukses adalah masyarakat yang berprestasi dan optimis, dan memiliki budaya unggul.

Dengan demikian, pada tanggal 17 Agustus nanti kita bukan saja merayakan kemerdekaan Indonesia secara nostalgik, namun juga merenungkan serta membulatkan tekad bagaimana masyarakat Indonesia di AS dapat mengambil bagian dalam arus perubahan besar yang kini sedang melanda Indonesia. KBRI Washington DC dan KJRI se-AS siap menampung dan membantu ide dan inisiatif konstruktif dari masyarakat.

Ke depan, ada beberapa program dan inisiatif yang akan kami jalankan :

  Mensukseskan American batik design competition, yakni program yang mendorong para designer AS untuk merancang “American style batik”. Program ini diluncurkan dengan tujuan menduniakan batik dan merupakan program international batik design competition yang pertama di dunia. Saya sendiri sudah melihat sejumlah design submissions dari para perancang Amerika, dan hasil serta kualitasnya sungguh membanggakan hati. Para pemenang kompetisi ini akan diumumkan tanggal 8 November 2011. (americanbatik.embassyofindonesia.org)
 
  Merancang dan meluncurkan program “1 komputer, 1 sekolah“. Dalam program ini, masyarakat Indonesia di AS yang berjumlah sekitar 150,000 orang dihimbau untuk berkontribusi untuk mencapai target 1 komputer per sekolah (diperkirakan ada sekitar 25,000 sekolah SD, SMP dan SMA negeri di Indonesia). Bagi mereka yang sangsi terhadap manfaat program ini, dapat saya sampaikan bahwa 1 komputer akan dipergunakan ratusan bahkan ribuan anak dalam 5-10 tahun ke depan, dan bahwasanya di desa Indonesia, komputer adalah suatu perangkat pendidikan yang masih langka. Program ini dimaksudkan untuk menyalurkan aspirasi masyarakat Indonesia di AS yang ditengah kesibukannya ingin sekali menyumbang sesuatu yang praktis dan riil bagi pendidikan di Indonesia. Program ini diharapkan mulai berjalan awal tahun depan.
 
  Melancarkan kompetisi merancang “business plan” bagi masyarakat Indonesia di AS, termasuk bagi yang sudah menjadi naturalized US citizens. Dalam kompetisi ini, masyarakat Indonesia dihimbau untuk mengirim suatu business plan yang inovatif, praktis dan menguntungkan. Dari submissions yang masuk, akan dipilih 10 pemenang terbaik dan mereka akan diterbangkan ke Indonesia untuk dipertemukan dengan “angel investors” yang akan mengkaji business plan mereka dan, mudah-mudahan, memodalinya. Dengan demikian, akan tercipta konektifitas antara brain power masyarakat Indonesia di AS dengan corporate power di Indonesia. Program ini agar segera dilaksanakan dan pemenangnya direncanakan diumumkan bulan November 2011.
 
  Mencanangkan Ambassador’s 100 award for excellence bagi 100 pelajar Indonesia di AS pada tingkat elementary, junior dan high school – baik untuk WNI dan yang sudah naturalized US citizens. 100 pemenang award for excellence tersebut akan mendapat sejumlah insentif dan fasilitas : surat referensi dari Duta Besar untuk masuk ke Universitas; notifikasi resmi dari KBRI Washington DC mengenai list 100 penerima award kepada United States Department of Education dan kepada Kementerian Pendidikan Nasional; edaran list 100 penerima award kepada perusahaan-perusahaan AS dan Indonesia; pengumuman resmi di suatu media Indonesia, termasuk liputan profil beberapa penerima award oleh media Indonesia; kesempatan untuk mengikuti kegiatan diplomasi Duta Besar di AS, dan lain-lain. Pengumuman pemenang Ambassador’s 100 award for excellence akan dilakukan bulan Desember 2011, dan setelahnya setiap tanggal 17 Agustus setiap tahun.
 
  Melaksanakan teleconference townhall paling tidak 2 (dua) kali dalam setahun. Dalam teleconference ini, saya dengan fasilitas teknologi tele-townhall akan berkomunikasi per telepon secara langsung dan interaktif dengan masyarakat Indonesia di AS maupun warga AS yang berkepentingan mengenai hubungan Indonesia-AS, dan akan menampung gagasan serta menjawab pertanyaan apapun yang ada di benak anda. Saluran ini dapat menampung ratusan bahkan ribuan penelepon secara simultan dan real time. Teknis pelaksanaan townhall teleconference ini akan kami umumkan dalam waktu dekat (terutama melalui website embassyofindonesia.org), dan diharapkan akhir bulan September sudah dapat dimulai.
 
  Membentuk komunitas on-line The Indonesian Network yang bertujuan untuk mempertemukan berbagai stake-holders yang berkecimpung dalam hubungan Indonesia-AS, baik warga Amerika maupun warga Indonesia dari berbagai kalangan (pengusaha, profesional, diplomat, pejabat, akademisi, seniman, wartawan, LSM, alumnus, dll) baik yang berdomisili di Amerika maupun di Indonesia. The Indonesia Network ini dirintis karena saya mengamati banyak sekali stake-holders di Amerika dan di Indonesia yang aktif di bidangnya masing-masing, sayangnya mereka belum saling mengenal. Website The Indonesia Network sudah dimulai dibangun pada tahap awal di www.theindonesianetwork.com dan antara lain sudah mulai menampilkan weekly network champions. Saya undang anda untuk ikut mendaftarkan diri.
 
  Khusus untuk staf KBRI Washington DC dan masyarakat Indonesia di sekitar Washington DC dan sekitarnya, menjalankan program “blind empathy kids“. Program ini bertujuan mendidik anak-anak Indonesia dibawah 10 tahun untuk mempunyai tanggung-jawab dan solidaritas sosial dengan membiasakan mereka dalam program mingguan untuk membantu kelompok masyarakat miskin dan kumuh di Washington DC (secara langsung memberikan uang, makanan, mainan dan obat). Jujurnya, program ini awalnya dimotivasi dari keinginan agar anak-anak saya (Alexa, Keanu, Chloe) tidak terkungkung dalam sangkar emas dan sejak dini mempunyai karakter yang mudah berempati dan suka menolong. Program ini direncanakan dimulai akhir bulan Agustus tahun ini, dan mudah-mudahan juga dapat dilaksanakan oleh KJRI se-AS kelak.
 
  Mendorong skema pembiayaan pendidikan “student loans” untuk mahasiswa Indonesia di AS. Saya percaya bahwa kini sudah saatnya mulai merubah mindset para pelajar Indonesia dari yang mengharapkan beasiswa dari Pemerintah Indonesia atau Pemerintah AS, menjadi lebih mengandalkan fasilitas “student loans” dari bank yang akan dibayarkan kembali dalam terms yang lenient setelah mahasiswa peminjam tersebut mendapat pekerjaan. “Student loans” akan lebih banyak dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah Indonesia yang sebenarnya mempunyai kemampuan namun masih perlu bantuan. “Student loans” juga penuh martabat karena berarti sang pelajar mengejar sukses dengan risiko dan jerih payah sendiri. Perubahan mindset dari mengejar scholarship ke mencari student loans akan secara drastis meningkatkan akses fasilitas pendidikan AS kepada pelajar dari Indonesia. Namun ini merupakan tantangan yang berat karena harus meyakinkan Bank mengenai kaidah dari program ini. Beberapa skema “student loans” untuk mahasiswa Indonesia sudah dimulai (dari Sampoerna Foundation) namun masih jauh dari yang skala yang dibutuhkan.
 
  Membantu upaya Permias untuk menyelenggarakan kongres Permias se-AS, yang mungkin digabung dengan Kongres PPI sedunia. Pada saat dimana pemuda dan mahasiswa di seantero dunia menjadi agen perubahan dan keunggulan yang dahsyat, Permias se-AS harus bisa menunjukkan eksistensi dan kontribusinya. Para anggota Permias harus mulai menanam investasi intelektual dalam jajaran pemimpin masa depan Indonesia.
 
  Dalam rangka membudayakan energi positif, KBRI Washington DC dan KJRI se-AS juga akan memprakarsai program mengundang para alumnus AS (Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Omar Anwar, Peter Gontha, Patrick Walujo, Anien Bakrie, Handoyo Mulyadi, dll) dan sejumlah warga Indonesia yang sudah menjadi pengusaha mapan di AS untuk berbagi “secrets of success” dengan masyarakat Indonesia. Program ini akan dilaksanakan secara ad hoc.
 
  Mengupayakan terbentuknya suatu komunitas inovator Indonesia – AS. Saya mengamati bahwa sektor inovasi merupakan wilayah baru yang masih belum banyak digarap dalam hubungan bilateral kita, padahal potensi kreatifnya sangat besar sekali. Karena itulah, KBRI WDC akan terus mencari ide dan prakarsa untuk mendorong interaksi dan kolaborasi antara inovator RI-AS. Kita sudah mendengar mengenai sukses perusahaan Indonesia KOPROL yang dibeli Yahoo !, namun saya percaya ini baru merupakan tip of the iceberg karena potensi inovasi putra-putri Indonesia yang luar biasa.
 
  Mengupayakan reality showdangdut goes to USA“, yang menampilkan sejumlah artis dangdut dari Indonesia yang berkelana keliling Amerika untuk mempromosikan musik dangdut, terutama di tempat-tempat dimana mereka akan berada dalam situasi lucu bak “fish out of water“. KBRI Washington DC sedang merancang program ini dengan salah satu televisi swasta di Indonesia dan mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dapat direalisasikan.
 
  Membentuk suatu on-line Indonesian brain bank. Brain bank ini akan berisi database, CV serta prestasi para profesional, mahasiswa dan pakar Indonesia, baik yang berdomisili di AS maupun mereka yang pernah belajar atau bekerja di AS namun telah kembali ke tanah air. Dengan brain bank ini, kami berharap untuk menciptakan suatu komunitas networking yang luas antara mahasiswa dan profesional Indonesia, sekaligus membentuk suatu “skill supermarket” yang terbuka baik bagi yang mencari kerja maupun yang mencari pekerja.
Satu point lagi: dalam perjalanan saya ke berbagai kota di AS, saya selalu mendengar masukan yang konsisten dari masyarakt Indonesia mengenai perlunya ada “dual citizenship“. Saya pribadi juga merasa bahwa di abad ke-21, kita harus melihat nasionalisme dan kewarganegaraan sebagai dua hal yang berbeda : banyak saudara kita yang sudah menjadi warga AS yang nasionalisme-nya masih dan akan terus membara. Mereka menjadi warga AS lebih karena pertimbangan kemudahan hukum (legal convenience). Memang, angin politik di tanah air ke arah “dual citizenship” ini masih sangat lemah, namun saya berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat Indonesia di AS ini ke Pemerintah, DPR dan parpol. Yang jelas, Indonesia ke depan akan sangat membutuhkan brain, skill and capital power dari diaspora Indonesia di luar negeri, termasuk yang berada di AS. Hal inilah yang dilakukan Pemerintah India dengan diaspora India sehingga kini menjadi rising world power.

Akhir kata, saya dan keluarga mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan selama menjadi Duta Besar di AS. Selain itu, segala kekurangan staf KBRI WDC adalah tanggung jawab saya dan akan terus saya perbaiki. Saya juga ucapkan terima kasih kepada seluruh staf KBRI dan KJRI se-AS atas dedikasi mereka melaksanakan tugas negara. Penghargaan khusus juga saya sampaikan kepada adik-adik kita para anggota paskibraka, penyanyi aubade, sukarelawan dan semua yang ikut meramaikan hari kemerdekaan Indonesia di berbagai kota di AS tanggal 17 Agustus nanti. Apresiasi tertinggi saya sampaikan dari lubuk hati yang sedalamnya kepada masyarakat Indonesia di AS yang menjadi sumber energi dan inspirasi bagi seluruh diplomat Indonesia di Amerika.

Sewaktu saya membuka Conference of Futurology di Jakarta, saya menekankan perlunya kita mulai merubah visi dari “a nation of revolutionaries” yang lahir tahun 1945 menjadi “a nation of leaders, achievers, entrepreneurs, builders, innovators, pioneers, volunteers, and champions” di abad ke-21. (http://www.youtube.com/watch?v=GbEIv4cFpIQ) Saya sungguh percaya bahwa visi tersebut akan tercapai, dan saya yakin bahwa anda dan saya dan anak-anak kita akan gigih memperjuangkannya dalam cara dan kemampuan kita masing-masing.

Sampaikan salam hormat saya kepada keluarga anda, dan Dirgahayu Republik Indonesia !

Dr. Dino Patti Djalal
Duta Besar LBBP RI
Kedutaan Besar Republik Indonesia
2020 Massachusetts Avenue NW
Washington, DC 20036
USA
Twitter : @dinopattidjalal
Web: www.embassyofindonesia.org