Competition : We Give, We Exist

Bob, Me, and Sonia are going to sightseeing around Kentucky. May 2010 in USA.
Humble, simple, noble, respectful, helpful are only little words could describe my homestay-parent. It was just 2 days, yet it totally impressed me years. What’s more, two days with them, I felt as excited as at my own home with my own parent. Wow…imaging the moment, I wish to return to state soon.
It was 2 years since my first visit to United State of America (USA). I granted a competitive scholarship from the Institute of International Education (IIE) in collaboration with the Indonesian International Education Foundation (IIEF). The program was funded by US Department of State. The program aimed to prepare a chance to participants to gain English skill for academic purpose at a prestigious university in USA for 8 weeks. Among 800 applicants, 21 of 61 selected undergraduate students all over archipelagoes were placed at Ohio University, USA.
We were very lucky to visit Ohio in spring which gave us an opportunity to spend a weekend through homestay program. I and a friend of mine were deployed at a lansia’s house (far advanced in life). Bob Derge, my father, was about 67, and Sonia, my mother, was about 59 years old in 2010. They based in Kentucky State in which neighbourhood of Ohio. Nevertheless my homestay-parent was too old to host the international students, but they were totally friendly and helpful. The ways they served us was completely opened my mind and taught me many lessons in term of attitude, culture, and religion.

My first lesson-learn was about attitude. The way Bob’s family served us was no word to explain. They were absolutely friendly, helpful, respectful, and humble. At first we stepped on their house, they welcomed us with a cup of tea prior to show us where to sleep. Then, they guided us to around the big-house. They showed where to cook, to take bath, to sleep, to wash, to play, and to browse. Each room we saw, they friendly informed us the functions of each room, sometime they inserted with the history of the house. No matter it was necessary or useless; they kept telling us every single space and thing both inside and outside the house.

Me, Bob, and Sonia inside the house. May 2010 in Kentucky, USA.
At night, they prepared us a thick blanket, because they understood about the different weather between Indonesian and state. In the morning, they heated the water for us to make a cup of tea or coffee. Before cooking, Sonia asked us what kind of American food we want to taste. In addition, as part of treatment, with complete information in printed-papers, they gave us the full rights to decide which tourist destinations we want to visit. Wow…it was the most unforgettable moment in my life.

Regarding to culture value, I learnt about the real self-independence within my homestay. Bob has two boys who married already and lived quite far from him. Bob is currently living with his wife, Sonia plus his “eternal kid”, Bob and Sonia considered the dog as the eternal kid, because unlike their own sons, it won’t be married or marries and able to accompanied them for long-life ever.

Despite Bob’s only lives with his wife, and they were both retired already due to their old age, they didn’t act as the spoilt children. They didn’t rely their needs on their sons. They didn’t pay any maid to serve them. Sonia cooked together with Bob to prepare for breakfast, lunch, and dinner. They scheduled themselves to water the flowers in the front yard. Sonia has not any driver to take her to and at market. They did all thing together alone without any help from maid or home-servant.

What’s a contrast culture performed in Indonesia in many ways by many of us. A businessman has different driver for her wife, kids, and his own needs. An actress has a special maid to cook, a maid to wash, a servant to look after the kids, and any other maids depend on needs. A government also shows the same terrible culture, he/she has a single assistant for driver, a single assistant in the office, and a single assistant at home. Oh my god, how poor we are in term of independence and maturity.

In relation with religion value, a weekend homestay taught me how beautiful and peaceful the religion in America is. Bob and Sonia are Christians, but they served us totally no discrimination at all. Bob read our background information already prior to host us; he prepared us the prayer mats to do five-time prayers. Sonia made sure us to cook halal foods. Furthermore, they also kept away their big-black-dog from us, because they knew that Muslim is forbidden to be in touched with the dog. In short, for religion reason, there was nothing to worry to worship as my own belief. In fact, the real tolerance was performed by Bob’s family. Now I know what the real tolerance means for me is.

Before I said good-bye to Bob’s family, I gave them a couple of gifts which I brought from Indonesia. To be honest, giving gift is a good thing from Indonesia when we go abroad. Finally, on the way to meeting point, I pretended to be brave to ask Bob and Sonia a question stucked in my heart since first day of homestay program, “Are you paid for this homestay?”.  With big smile, Sonia answered, “That is the common question asked by every international students we host, and to be honest we are paid for nothing for homestay; on the contrary, we paid some fees to join with voluntary organization”. Surprisingly, I asked her again “Why?”, with his own style, Bob said “We fell happy when we can give something for someone”, then Sonia ended up the conversation “We give, We exist”.

Me and Sonia inside the house, Kentucky May 2010.

[Viva.co.id] Evolusi ala Viva

“Creativity starts when you cut a zero from your budget, if you cut two, much better”. Ungkapan yang sangat inspiratif dan penuh dengan nilai-nilai motivasi tersebut dinyatakan oleh Jeime Lerner.  Kata bijak yang keluar dari mulut mantan walikota Curitiba, Brazil ini selaras dengan semangat Viva yang berevolusi dari Viva.com menjadi Viva.co.id.

Substansi dari ungkapan diatas adalah semangat kreatifitas yang muncul ketika ada tantangan. Kreatifitas akan kosong ketika tidak ada hambatan dan tantangan. Sebenarnya Lerner ingin menyampaikan pesan kepada pekerja dan aktifis lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Brazil pada saat itu untuk tidak selalu bergantung pada donatur. Supaya ada perubahan, dia mengatakan “supaya anda kreatif, coba anda kurangi satu “nol” dari total anggaran anda, tapi kalau anda mau mengurangi dua “nol”, maka lebih baik”. Artinya ketika mendesak, mau tidak mau, anda harus kreatif, anda harus menciptkan perubahan. Semakin besar desakan, semakin pula usaha anda untuk berkreasi. 

Menurut saya, perubahan situs viva juga membawa nilai dan semangat yang sama. Saya tidak bisa banyak menilai dari sisi konten, tampilan, dan sebagainya dalam wajah baru viva sekarang, karena saya tidak terlalu paham dengan dunia “IT”. Tapi sebagai orang yang mengambil mengkonsumsi dan manfaat dari viva selama ini, saya berpikir ada lesson-learned penting yang bisa saya ambil pelajarannya yaitu semangat untuk menciptakan perubahan karena tuntutan.

Persaingan tidak selamanya memberi dampak negative, justru sebaliknya tidak sedikit maha karya besar lahir ketika ada kompetisi. Banyak tokoh-tokoh besar dunia lahir dengan berbagai keterbatasan baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Namun keterbatasan tersebut justru menjadi inner-power mereka untuk berubah dan sukses.

Kreatifitas dan inovasi situs Viva.co.id yang mengalami perubahan hampir secara total dalam semua aspek tersebut juga lahir karena persaingan dalam dunia industry berita online. Pada saat ini, pertumbuhan media massa online di alam maya berkembang begitu pesat, dengan menyajikan informasis secara lebih cepat dan akurat, semuanya berlomba menjadi yang terhebat. Pertanyaanya, kalau viva tetap mempertahankan dengan gaya dan bentuk yang lamanya tanpa berusaha menciptakan inovasi baru, akankah viva mampu survive?. Kalaupun tidak mati, hiduppun akan segan pastinya.

Kalau kita mau tarik kedalan ruang lingkup yang lebih luas, sebenarnya hampir di semua lini kehidupan kita juga berlaku hukum yang sama. Ketika ada kompetisi, maka akan muncul ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Kita ingin berpacu ketika ada yang mengejar kita. Sebagai contoh, ketika ada China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) ditandatangani, banyak pengusaha-pengusaha Indonesia yang berjuang lebih keras, menciptakan inovasi-inovasi baru, meningkatkan produktifitas, meminimalisir biaya produksi, membangun pasar yang lebih luas, meningkatkan layanan konsumen, nah meskipun ada yang kalah cepat dengan pengusaha China, namun tidak sedikit juga yang mampu bersaing dengan pedagang dan pengusaha dari China. Apalagi didukung dengan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kemampuan daya saing pengusaha Indonesia. Salah satu dukungannya seperti diberitakan oleh Viva.co.id. (saat itu masih Viva.com) tanggal 23 Juni 2010 bahwa pemerintah menggelar Pameran yang bertama “Ready for CAFTA, Through Fostering Indonesia Industry” sebagai ajang untuk memamerkan produk Indonesia ke pasar International.

Contoh sederhana lainnya adalah kompetisi yang terjadi diantara pelajar untuk memperebutkan juara atau prestasi. Semakin ketat persaingan yang ada, maka akan semakin rajin pula siswa untuk belajar, lebih banyak membaca, memperbaiki sikap, disiplin dalam menyerahkan pekerjaan rumah, dan sejenisnya. Dampaknya besar sekali yaitu meningkatnya kualitas siswa-siswa yang tidak mau ketinggalan apalagi kalah dengan kawan sekelasnya.

Dalam konteks persaingan,  Bapak Ekonomi dunia, Adam Smith, mengatakan laissez faire (persaingan bebas) artinya siapa yang qualified dan berkualitas, maka akan menang. Saya tidak ingin terburu-buru mengclaim kalau Viva sudah menang atau terdepan dibandingkan dengan situs-situs berita lainnya di dunia maya, namun kualitas tersebutlah yang hari ini ditunjukkan oleh Viva. Dengan perubahannya yang baru, tampilannya lebih bagus, tingkat kelengkapan beritanya semakin maksimal, keberagamannya semakin berwarna, dan segudang kemajuan lainnya. Capain dan kualitas seperti yang dimiliki viva hari ini, tentu bukan hasil kerja semalam atau semudah mengambil jemuran. Namun viva sudah mengalami proses yang panjang, perancanaan yang matang, survey pasar yang lama, pertimbangan kelebihan dan kekurangan yang pasti, diskusi dan perdebatan yang panjang, dan segenap persiapan lainnya.

Viva bergerak karena ada persaingan, viva bekerja keras karena ada lawan.  Sekarang viva sudah berovolusi dengan berbagai inovasi dan kreasi yang siap saji, dan inilah Evolusi ala Viva. Selamat Berevolusi Vivaku. I love you!!!


Essay Contest_Creating Youth with 3 “H”

Note: I sent the following article to participate in an International Essay Contest for Young People organized by Goi Peace Foundation and UNESCO.
 
“The foundation of every state is the education of its youth”, that’s a quote by Diogenes Laertius, a Greek philosopher.  What kind of education we want to? Is our current education system could create a competitive generation?. At present and future, is it sufficient with information only? Only mastering technology?.

In fact, there are many terrible problems occur at any time whether in politics, economic, social, or culture in this world nowadays. Irresponsible leaders, greedy capitalists, careless youths, irresponsible parent, and uneducated children are part of the problems currently challenging the world. Wars never stop, death news reported every day, endless forest deforestation, divorces numbers are increasing day by day, uneducated kids are growing up, flooding moves from one place to the others, and corrupted governments are part of the consequences. 

To overcome those risky problems and phenomenon, we need absolutely new soft-revolution.  In this case, as a teacher, I am in the same line with Masahisa Goi who dedicated his life for education. I have idea to create qualified current and the next generation with 3 “H”; Head, Hand, and Heart.

At present, mastering knowledge and science are totally required. To study till the higher university education is a mandatory for the government to be fulfilled for the society. The youth should study math, physic, chemistry, biology, astronomy, and any other such classes. If they have formal education, that means they have hold already basic requirement to compete with others.  Those areas of study are to fill up the “head” of young generation. That’s the first “H”.

Second, the young generations need to be completed by skill or hand. They have to master computer skills, foreign languages, and other soft skills in order to compete in this global era. The technology stuffs are produced day by day, news and information are being spread every single minutes.  Meladee McCarty said, a troop would win the war if they are equipped with information and technology. That’s why, youth should master skills if they want to win the competition.

In term of mastering English skill for example, even I’m from a social-economic disadvantage family; I’ve proved in my own life with a number of satisfied achievements. When I was an undergraduate student at my university, there were 3 times I delegated my university to compete in Scientific English Debate for the national level. In addition, in the last year of my study at the university, I achieved a competitive scholarship from US Department of State to study at Ohio University, USA for 8 weeks. Furthermore, on April 2012, I was selected by Australia Indonesia-Institute to participate in a prestigious youth Muslim Leaders exchange program to visit Melbourne, Canberra, and Sydney.

The last “H” is heart. It’s least but it’s most important one. The youth should be accomplished their heart with value. When the teachers teach the students in math, chemistry, or physic class, they should teach them the value of each class as well. For instance, why do we need nuclear? Is it for medical or war reason?. In addition, when a religious teacher teaches religion, s/he should let the students to realize why we have to be patient in traffic lights. Furthermore, when a biology teacher teaches about flora, the teacher should drive inner awareness of the students why they have to keep the environment and do not make any useless deforestation. In short, it’s not about “what”, but “why” the students should do this, and avoid doing that. The next step is pushing those values into actions to practice in daily life of entire aspects.   In this case, Herbert Spencer said, “the great aim of education is not knowledge but action”.

Combining 3 “H” in education systems would fortunate us to create the students perfectly not only in intelligence but also emotional and spiritual quotient as well.  If math is to fill one’s head, computer is to fill one’s skill, and value is to fill one’s heart. In other words of a garden, hearth is the land, head is the flower, and hand is the fence. They are relaying and relating each other.

When youth equipped with those 3 “H”, they would be the leaders who are loyal to their society, they would be the entrepreneurs who care to the social responsibilities, or they would be the fathers or mothers who are dividing their times between works and family as well as social time equally. At this point, we are living in a world where peace, justice, respect, and honor are belonging to everyone.


Sayembara Ahmad Wahib

Pengantar: Dibawah ini adalah ulasan tentang Sayembara Ahmad Wahib 2012. Ulasan ini ada di Note Facebook Saya. Untuk melihat di catatan facebook saya, silakan click DISINI

Toleransikah Masyarakat Aceh menurut Anda? atau Sudah setoleransi apakah anda?. Kita masyarakat Aceh tampaknya masih jauh dari nilai-nilai toleransi. Tolerasi perbedaan pendapat dalam lingkup sosial saja masih susah kita terima. Belum lagi kita bicara toleransi dalam bidang agama.

Menurut Saya, Kita tampaknya belum siap menerima perbedaan-perbedaan, tidak hanya  dalam beragama, berpolitik saja kita tidak bisa menerima perbedaan. Dalam kontek politik, milihat Aceh yang sebentar lagi mau Pilkada pada tanggal 9 April 2012, dengan fakta-fakta yang ada kita belum siap berbeda.

Buktinya, masih banyak intimidasi apabila ada kelompok yang tidak seide dengan kita. Masih ada publikasi tentang ancama dan pembunuhan kalau ada perbedaan calon yang kita usung. Mendukung independen, diancam. Memberi dukungan ke partai politik, diintimidasi. Kalau ranah politik saja tidak siap menerima perbedaan, bagaimana lagi dengan persoalan keyakinan dan agama?. Padahal dalam konteks demokrasi, salah satu nilai demokrasi substansial, mengajarkan kita untuk menerima perbedaan secara positif. Islam saja menggarisbawahi kalau perbedaan itu adalah rahmat.

Dalam konteks  agama, toleransi juga masih sangat jauh dari harapan kita. Hal ini berkenaan dengan pluralism beragama, menurut anda apa itu pluralism agama? Bagaimana pendapat anda tentang pluralism?. Hemat saya, mempermalahkan orang tidak baca qunut subuh dengan yang tidak membaca qunut atau orang shalat terawih 8 rakaat dengan 20 rakaat, hal ini tidaklah lagi “seksi”  untuk diperdebatkan.

Tertarik memperbincangkan isu-isu tentang toleransi, pluralism, dan sejenisnya?.ayo jawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas dalam bentuk tulisan, video, atau postingan di blog. Menurut saya, banyak isu yang menarik untuk diulas yang berkenaan dengan toleransi. So, ambil tantangan yang sangat menarik ini dan Ikuti Sayembara Ahmad Wahib 2012 yang berhadiah puluhan jutaan rupiah.

Bagi anda yang tertarik dalam pembuatan video, Seyembara ini juga memberi ruang bagi anda untuk mengekspresikan hobby anda dengan membuat video tentang toleransi. Tidak hanya menulis dan pembuatan video, bagi anda para blogger, kepingin nulis sesuatu yang menantang? Ayoe isi blog kamu dengan isu-isu toleransi. Terus daftarkan blog kamu ke Sayembara Ahmad Wahib.

Ehm…pasti ada yang nanyak-nanyak hadiah ni? He…ketahuan matre ni…wkwk…okay, don’t be worry, panitia Sayembara Ahmad Wahib sudah mempersiapkan hadiah puluhan juta rupiah bagi kamu.
  • Juara I Rp.10.000.000 & Voucher Buku Mizan, 
  • Juara II  Rp 7.500.000 & Voucher Buku Mizan, 
  • Juara III Rp 5.000.000 & Voucher Buku Mizan.
Itu untuk masing-masing katagori. Nah, buat kamu yang tertarik, silakan klik di banner yang bertulisan Sayembara Ahmad Wahib di sidebar sebelah kanan blog ini untuk terhubung dengan situs resmi Seyembara Ahmad Wahib 2012. Ayo cepat klik. atau Click disini

Ingat!!! Demokrasi itu Toleransi.

Salam Damai dari Aceh,

Muhammad Adam

Feature_Kok Ibu Mila Pergi?

Milastri Muzakkar-Dokumen Pribadi

Feature ini Sudah dimuat di Majalah Potret Edisi 55. Untuk Mengkases online, silakan click disini

Pagi itu sinar matahari lumayan cerah, cuaca pagi yang bersahabat. Meskipu awalnya Saya ragu untuk ikut rombongan mereka, namun karena ini kesempatan terakhir, akhirnya saya bergabung dalam tim Pustaka Keliling Pengajar Muda Aceh Utara. Menempuh perjalanan sekitar 90 menit, melawati beberapa “bukit” kecil dan ribuan batang sawit juga memberikan keindahan sendiri. Tepat jam 10.40 pagi, kami tiba ditempat tujuan yaitu SDN 4 Langkahan Aceh Utara, tepatnya di Gampong Rumoh Rayeuk. Sudahkah anda pergi ke daerah ini? Atau menimal mendengar namanya? Saya yakin banyak sekali diantara kita yang belum pernah datang ke pedalaman Aceh Utara ini, mungkin melihat dipetapun tidak pernah, atau bahkan ada orang Aceh yang tidak tau kalau Langkahan itu adalah bagian dari Aceh.

Namun bagi Milastri Muzakkar, sarjana muda Univeristas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, SDN 4 yang lokasinya jauh dari kota, yang membutuhkan sekitar 4 Jam perjalanan dari Kota Lhokseumawe tempat dimana pusat pemerintahan Aceh Utara berada. Bagi Ibu Mila, disinilah tempat ia mengabdi, tempat ia berdidikasi untuk negeri, tempat ia merubah nasib anak-anak para petani. Sudah 8 Bulan Ibu Mila bergabung dengan Yayasan Indonesia Mengajar sebagai salah satu Pengajar Muda yang ditempatkan di SDN 4 Langkahan.
Hari itu, kamis 29 Febuari 2012, hari kabisat yang hanya ada setiap empat tahun sekali menjadi hari terakhir Ibu Mila berada di sekolah tersebut. “Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila”, begitulah teriakan puluhan anak-anak mungil nan imut begitu mobil pustaka keliling kabupaten Aceh Utara tiba dipintu depan sekolah. “Ibu, Kok trep sekali sudah tidak pulang-pulang”, celoteh salah satu anak yang nampaknya sangat kangen dengan Ibu Mila. Meskipun bahasa Indonesia anak-anak tersebut tidak begitu fasih, masih banyak bercampur dengan bahasa Aceh, namun mereka tetap memberanikan diri bertanya bersama Ibu mila sambil bersalaman.
Saya yang ikut mengabadi beberapa photo-photo dalam rombongan tersebut, sangat merasa terharu dan sedih, milihat anak-anak bersalaman satu persatu dengan Ibu Mila yang tidak bisa melangkah kemana-kemana begitu keuar dari mobil karena dipagari oleh anak-anak yang ingin mencium tangan Ibu Mila. Pada saat itu, terkesan begitu kharismanya Ibu Mila, padahal Ibu Mila baru berusia 25 tahun. “Ibu ada bawa oleh-oleh buat Saya?”, timpal salah satu anak laki-laki dalam kerumunan tersebut.
“Ibu bawakan banyak sekali buku-buku bagus buat anak-anak, tuh ada dalam mobil” jawab Ibu Mila sambil bersalaman dengan kepala Sekolah dan dewan guru yang sudah berdiri berderet bak pasukan yang siap menyambut jenderal.
Satu per satu kardus berisi ratusan buku diturunkan dari Mobil dan diletakkan didepan kantor, sedangkan Ibu Mila bersama rambongan dari Lhokseumawe masuk kedalam ruang kantor dan ngobrol ringan dengan dewan guru dan kepala sekolah. Kedatangan Ibu Mila hari itu mengingatkan saya seperi menyambut Obama atau menyambut alm Hasan Tiro ketika tiba di Aceh. Ada yang menangis, ada tertawa, ada yang sedih, ada yang terus bertanya-tanya, ada yang kangen, dan bermaca-macam emosional lainnya.
Hari itu, agenda utamanya ada 2 yaitu penyerahan buku yang berhasil dikumpulkan oleh Indonesia Menyala dan perpisahan dengan Ibu Mila dengan SDN 4 Langkahan. Agenda pertama, dibalut dengan sangat manarik, sebelum anak-anak diminta membaca buku, mereka dibimbing oleh Pengajar Muda Aceh Utara lainnya yang dibantu oleh kawan-kawan dari Gerakan Pengajar Perubahan (GPP) Aceh.
“Anak-Anak pingin ke Australia”, buka Bapak Duddy Abdullah yang ditempatkan di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara. Bapak Duddy adalah alumnus Universitas Melbourne Australia yang kemudian memilih jadi pengajar muda dan meninggalkan zona kenyamanannya bersama keluarganya di Ausralia. “Mau Pak” jawab-jawab anak-anak dengan riang. “Coba ditunjuk dipeta, dimanakah Australia?” minta Pak Duddy pada salah satu anak kelas 3 sambil menunjukka peta yang tergantung di dinding depan kelas. “Hana Tupat ya?” Tanya Pak Duddy dengan loghat Bahasa Acehnya yang terdengar lucu ketika melihat anak tersebut bingung mencari Australia didalam peta. “Sekarang mendekat semuanya, biar Pak Duddy tunjukin video gimana pustaka di Australia” kata Pak duddy sambil membuka laptopnya. Karena tidak ada projector, terpaksa anak-anak harus duduk berdekatan kedepan untuk bisa lihat di layar laptop.
“Anak-anak, ayo siapa mau membaca surat dari Perancis?” Tanya Bapak Dimas Sandya alumnus Planologi Institut Teknologi Bandung yang ditempatkan di SDN 25 Araselo Sawang yang tidak ada aliran listrik dan jaringan telpon, apalagi internet. “Saya Pak, Saya Pak, Saya Pak”, jawab anak yang terkesan sudah sangat dekat dengan Bapak Dimas, padahal itu baru kali pertama Bapak Dimas masuk kelas V yang selama ini diasuh oleh Ibu Milastri Muzakkar. “Sekarang siapa mau baca surat sahabat kamu dari Bima”, “Long jeut Pak”, minta seorang anak laki dipojok yang terkesan mengolok sambil diiringi tawaan kawan-kawan sekelasnya.
“Kalau Bapak Bilang Aceh Pintar, kalian jawabnya apa”? Tanya Bapak Dimas yang sudah mengajarin cara jawab sebelumnya. “Mandum Careng” jawab anak-anak dengan sangat serentak layak koor. begitulah beberapa kali Bapak Dimas menyuplai motivasi kedalam pikiran anak-anak kelas V.
Ketika Ibu Mila didandan dengan Pakain Adat Aceh yang nampak seperti Dara Baroe pada saat perpisahan, itulah obat yang dapat menghibur anak-anak dan para guru yang nampak sedih karena mengetahui Ibu Mila bersama 6 pengajar Muda Aceh Utara lainnya akan segera meninggalkan Aceh dan dipindahkan ke Palembang. “Ini permintaan Sekolah” tutur Ibu Mila kepada Saya tentang alasan kenapa dia pakai Baju Pengantin Adat Aceh untuk perpisahan. “Cantik juga” gumam Saya dalam hati melihat Ibu Mila yang dibalut dengan pakain Aceh berwarna hitam.
Iringan lagu “Seulaweut” yang dinyanyikan oleh Akhi Joel dari Gerakan Pengajar Perubahan membuat suasana perpisahan semakin terharu, ada yang tangisannya semakin besar. Bahkan ada anak yang tidak bisa berhanti menangis melepaskan kepergian Ibu Mila. Ibu Mila bersama 6 rekan lainnya yang ditempatkan di SD-SD terpencil lainya di wilayah Aceh Utara terpaksa ditarik oleh Yayasan Indonesia Mengajar karena kondisi Aceh yang sering terjadi penembakan terhadap etnis non Aceh. Padahal, kontrak Ibu Mila dan rekan-rekannya baru akan selesai pada bulan July mendatang dan akan dilanjutkan oleh Pengajar Muda lainya sampai 5 (lima) tahun mendatang.
Ternyata, kondisi politik Aceh menjelang Pilkada yang sering terjadi penembakan tidak hanya merusak perdamain Aceh tetapi juga “memerkosa” hak-hak dan masa depan anak-anak SD terpencil tempat pengajar Muda ditempatkan. Ada suasana yang hampir saja saya tidak bisa menyebunyikan kesedihan saya dalam perpisahan tersebut. Hal itu terjadi ada anak yang bertanya “Kenapa Ibu Mila cepat sekali pergi?” “Terus kenapa Ibu Mila tidak pernah masuk ke kelas kami?” keluh murid kelas II SD yang belum sempat belajar bersama Ibu Mila karena harus mengasuh dari kelas III sampai dengan kelas VI. “Nanti kalau sudah Pilkada, kami mohon supaya ada pengganti Ibu Mila yang dikirim oleh Yayasa Indonesia Mengajar ke Sekolah Kami” harap Bapak Kepala Sekolah dalam kata-kata perpisahannya. “Saya titipkan perpustakaan, pramuka, dan jaga mimpi-mimpi anak-anak ini Bapak Ibu ya”, Iba Ibu Mila menutup pidatonya yang membuat semua anak-anak dan dewan guru tidak sanggup menahan airmata.
(Muhammad Adam adalah Alumnus Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Co-Founder Plus Insitute Aceh)

Aktivis HMI Aceh Utara Juara Tulis Artikel

Muhammad Adam mewakili Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, berhasil meraih juara dua Lomba  Menulis Artikel se-Indonesia yang diadakan Pengurus Besar HMI (PB-HMI) Jakarta Pusat, 11 Januari-20 Februari 2012. Pengumuman pemenang tersebut diumumkan Kamis (16/2) malam di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat.

“Saya kemarin mendapat pengumuman dari pengurus PB HMI, mereka menelpon saya mengabarkan bahwa saya mendapat juara dua dalam perlombaan tersebut. Tiga artikel yang telah saya kirim itu yang pernah di muat di harian Serambi Indonesia,” kata Muhammad Adam kepada Serambi, kemarin.

Koordinator kegiatan, Fitriani meyebutkan perlomban menulis artikel itu digelar dalam rangka Dies Natalis Ke-65 PB HMI. Selain itu juga digelar lomba debat ilmiah dan pameran photo. “Juara pertama lomba tulis artikel diraih Setyo Pramuji, sedangkan juara tiga diraih Dirga Maulana dari HMI Cabang Ciputat,” katanya.(c37)

Sumber: Serambi Indonesia

IRI Adakan Sayembara Menulis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

Independent Research Institute(IRI) atau Lembaga Riset Independen Aceh mengadakan sayembara menulis untuk pelajar dan mahasiswa dengan total hadiah mencapai 20 juta Rupiah.
Hal itu dikatakan Ketua IRI, Mulyadi Nurdin di Banda Aceh, Ahad (15/1/2012), menurutnya hadiah tersebut diberikan kepada juara pertama sebesar  5 juta Rupiah, juara dua 4 juta Rupiah, juara tiga 3 juta Rupiah, dan harapan 1 sampai 3 masing-masing 1 juta Rupiah, sedangkan 50 orang penulis terbaik akan mendapatkan hadiah hiburan dan sertifikat.
Sayembara tersebut dibuka mulai tanggal 16 Februari sampai 16 Maret 2012 melalui internet di website IRI (www.iri.or.id), dan terbuka bagi pelajar tingkat SMA dan mahasiswa Strata satu. “Pendaftaran dan semua tahapan sayembara dilakukan via internet untuk memudahkan peserta dalam mengikuti acara ini, siapapun dan dimanapun bisa ikut tanpa harus datang ke kantor IRI,” jelas Mulyadi Nurdin.
Mulyadi mengharapkan supaya sebanyak mungkin pelajar dan mahasiswa dapat mengikuti  acara tersebut tanpa harus merasa minder jika tidak menjadi juara, karena semua karya tulis akan dipublikasi di website IRI secara  bergiliran.
“Semua karya tulis yang masuk akan kita publikasi di website IRI, dan 50 karya terbaik akan dicetak menjadi buku,” tambah Mulyadi yang didampingi ketua panitia, Fatah Mureue.
Menurut Mulyadi semangat menulis harus ditumbuhkan sejak usia remaja untuk memasyarakatkan budaya menulis dalam masyarakat.
“Selama ini budaya menulis sangat kurang dalam masyarakat Aceh, kami harap supaya sayembara ini menjadi pemicu semangat anak muda untuk menulis, lagi pula acara ini tidak dipungut biaya alias gratis,” pungkasnya.

Informasi Lebih Lanjut, Silakan Baca disini

Lomba Penulisan Ilmiah Populer

Dalam rangka merangsang dan meningkatkan minat menulis serta menggali kekayaan pengetahuan mengenai entomologi, maka Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) pusat akan mengadakan lomba penulisan artikel populer dengan tema “All about Insect”. Lomba ini merupakan rangkaian kegiatan Kongres VIII dan Seminar Nasional PEI tanggal 24-25 Januari 2012.

  Sub tema pilihan :
  1. Kaitan serangga dengan ketahanan pangan
  2. Konservasi serangga
  3. Entomologi kesehatan
  4. Pengendalian hama terpadu
  5. Pendidikan entomologi
  6. Kaitan serangga dengan perdagangan bebas
  7. Pestisida dalam pengendalian hama
Pemenang akan diumumkan melalui email ke seluruh peserta pada tanggal 24 Januari 2012, dengan hadiah sebagai berikut:
Juara I                    : Rp. 1000.000,- + sertifikat  + souvenir
Juara II                   : Rp. 750.000,- + sertifikat  + souvenir
Juara III                 : Rp. 500.000,- + sertifikat  + souvenir
Bukan hanya itu, bagi 15 nominator akan mendapatkan sertifikat, kaos, dan tulisannya diterbitkan dalam website PEI.

Juri:
1. Dr. Damayanti Buchori, MSc. (Peneliti di Laboratorium Bioekologi Parasitoid dan Predator IPB, Pengurus PEI Pusat)
2. Ir. Djoko Prijono, MAgrSc. (Peneliti di Laboratorium Fisisologi dan Toksikologi Serangga IPB, Dosen Mata Kuliah Metodologi Penulisan dan Penyajian Ilmiah)
3. Murtiyarini, SP. (Penulis artikel-artikel popular, Staf di Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu IPB)

International Human Rights Training Program in Canada

33rd annual International Human Rights Training Program, June 3 – June 22, 2012
We are delighted to announce that the application period for the 33rd annual International Human Rights Training Program (IHRTP) is now open and we will be accepting applications until November 21st, 2011. We look forward to another inspiring three-week program and the opportunity to meet more than 120 participants from around the world.
The IHRTP is intended for human rights workers and educators from non-governmental organizations, National Human Rights Institutions, government bodies and educational institutions. The goal of the IHRTP is to strengthen the capacity of human rights organizations to undertake human rights education efforts aimed at building a global culture of human rights. The curriculum is based on principles of adult experiential learning in which participants and facilitators engage in a process of mutual teaching and learning.
“This training program is an important Canadian contribution to the spread of human rights and democratic principles around the world,” says Ian Hamilton, Executive Director of Equitas. “Through the IHRTP, participants gain greater confidence in their abilities as well as the skills and motivation to become effective human rights champions upon their return home”.
If you wish to attend the 2012 IHRTP, find below information about the application process, the application form and the memorandum of agreement. Please note that the application form, the memorandum of agreement and the other supporting documents must be received BEFORE November 21st, 2011.
Please click HERE  for further information. 

Pendaftaran Angkatan III Calon Pengajar Muda

Kriteria Pengajar Muda

Apakah Anda generasi muda terbaik bangsa ini? Indonesia Mengajar mengundang Anda menjadi Calon Pengajar Muda angkatan III. Pendaftaran berlangsung pada 20 April – 31 Mei 2011 secara online. Mau tahu syaratnya?

  • Sarjana (Min. S1)
  • Fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu
  • WNI dan belum menikah
  • Diutamakan berusia tidak lebih dari 25 tahun
  • IPK minimal 3,0 dalam skala 4,0
  • Berprestasi (di dalam ataupun di luar kampus)
  • Mengedepankan jiwa kepemimpinan yang ditunjukkan dengan pengalaman berorganisasi
  • Mengedepankan kepedulian sosial dan semangat pengabdian
  • Memiliki antusiasme dan passion dalam dunia pendidikan, khususnya belajar-mengajar
  • Menghargai dan berempati terhadap orang lain
  • Memiliki semangat juang, kemampuan adaptasi yang tinggi, menyukai tantangan dan kemampuan problem solving
  • Memiliki hobi atau ketrampilan non-akademis yang menarik dan bermanfaat
  • Sehat secara fisik dan mental
  • Bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun

Apakah Anda merasa memenuhi persyaratan di atas?
Segera daftarkan diri Anda disini


Untuk informasi lebih lanjut, silakan baca di http://indonesiamengajar.org

Semoga Bermanfaat.