Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia dan Australia 2017

Pertukarang Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia kembali dibuka sampai dengan 16 Desember 2016.

Berikut informasi lengkapnya: img_2870

Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina mengadakan program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara Indonesia dan Australia. Program ini Continue reading

Wisuda tanpa Jabat Tangan di Australia

Citizen Reporter  ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 12 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

 

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

sumber gambar: http://www.flinders.edu.au/current-students/graduation-beyond/graduation/

MUHAMMAD ADAM, putra Seunuddon, Aceh Utara, melaporkan dari Australia

MENJELANG akhir tahun, atmosfer akademis kampus di Australia semakin terasa. Mahasiswa pada umumnya disibukkan menyelesaikan berbagai tugas kuliah. Di setiap pojok terlihat mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas akademik mereka.

Banyak ruang belajar yang susah di-booking karena terisi selalu oleh mahasiswa yang kerja kelompok atau mengerjakan tugas bersama. Untuk mahasiswa S1, malah lebih berat lagi bebannya karena mereka harus mengikuti ujian (exam) layaknya model kuliah di Indonesia. Meski tak ada ujian untuk kebanyakan jurusan, beban tugas kuliah (assignment) justru lebih besar untuk mahasiswa pascasarjana (magister). Saya yang kuliah di Manajemen Pendidikan di Flinders University Australia Selatan harus menulis minimal 20.000-25.000 kata untuk empat mata kuliah yang harus diambil setiap semesternya.

Bukan jumlah katanya yang jadi masalah, tapi untuk mampu menulis esai akademis yang bagus dibutuhkan membaca yang banyak supaya tulisannya berkualitas. Menariknya, Continue reading

Menggugat Hak Mahasiswa

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 5 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

page_1

Sumber gambar: https://issuu.com/teraspers/docs/teraspers14

 

SATU pendekatan menarik yang saya dapatkan tentang pengelolaan lembaga pendidikan di Australia adalah seringnya diminta pendapat mahasiswa, terkait pelayanan pendidikan mereka mulai dari sisi akademis dan hal-hal non-akademis lainnya yang berpengaruh terhadap performa belajar mahasiswa. Beberapa hal yang sering menjadi poin utama evaluasi di antaranya adalah kemampuan dosen dan pedagogi.

Meminta pendapat mahasiswa tentang kemampuan mengajar dosen bukanlah sesuatu yang tabu atau dipandang tidak sopan jika dikritik. Pihak universitas mengevaluasi performa dosen dari mahasiswa dan juga dosen-dosen lainnya yang masuk ke kelas untuk menilai proses belajar mengajar yang dilakukakan oleh seorang dosen. Aspek-aspek yang dinilai diantaranya kemampuan dosen dalam menyampaikan materinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah cara mengajar dosen mudah dipahami? Atau, apakah cara mengajarnya interaktif dan kreatif, tidak menoton dan membosankan? Continue reading

Sekali Saja Tidak Cukup

Ini adalah tulisan yang saya tulis untuk salah satu situs motivasi beasiswa pada tahun 2012. Sekarang, Alhamdulillah list beasiswa yang saya dapatkan bertambah satu lagi yaitu Australia Awards Scholarship (AAS). Melalui funding dari The Department of Foreign Affair and Trade Australia, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S-2 di Flinders University, Australia dengan spesialisasi di Leadership and Management (Education). FYI-Beasiswa AAS juga saya dapatkan pada saat kali kedua saya mendaftar.

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

“If you can imagine it, you can achieve it; if you can dream it, you can become it”. Itu adalah salah satu ungkapan dari William Arthur Ward yang selalu membuat saya untuk tidak berhenti bermimpi. Kalau berbicara tentang mimpi, Saya teringat dengan salah satu golden waynya Pak Meria Teguh, lebih kurang substansinya begini “ Kamu akan mati, kalau tidak berani bermimpi”.

Dalam kontek mencari beasiswa, rumus seperti itu juga berlaku. Jangankan tidak berani bermimpi, takut pada kegagalan saja tidak boleh. Artinya, harus tetap optimis meskipun keberuntungan belum berpihak kepada kita.

Pengalaman tersebut saya alami sendiri. Saya baru saja mendapatkan pengumuman bahwa terpilih sebagai salah satu peserta dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia Tahun 2012 (Muslim Exchange). Ada 10 peserta yang terpilih dari seluruh Indonesia. Program ini short term, hanya 2 (dua) minggu di Australia. Karena dibagi 2 gelombang keberangkatan, saya mendapat gelombang ke 2, saya bersama 4 rekan lainnya akan berangkat pada 11-24 Juni 2012, sedangkan 5 rekan lainnya akan bergabung dalam gelombang pertama dan akan berada di Australia dari 23 April sampai dengan 6 Mei 2012. Meskipun programnya jangka pendek, bagi Saya bukan durasinya yang penting, tapi proses dan pengalamannya tentu saja priceless ever.

Belajar pada proses, mungkin itu pelajaran penting yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan motivasi beasiswa (MB). Kedua, Never ever hands up!!!Jangan pernah ada kata menyerah. Sekali saja tidak cukup untuk anda katakan kalau anda tidak sukses. Untuk sahabat ketahui saja, dari 2 pengalaman beasiswa yang saya dapatkan, kedua-duanya baru lulus pada kali kedua. Kegagalan pertama tidak membuat Saya menurun semangat, apalagi putus asa. I have enough guts to try it.

Pengalaman ketika Saya mendafar beasiswa Indonesia English Language Program (IESLP) tidak lulus ketika pertama kali saya mendaftar pada tahun 2009. Kemudian, dengan semangat dan impian yang semakin tinggi, tahun 2010, saya mencoba sekali lagi, dan Alhamdulillah Saya lulus dan bisa study selama 8 (delapan) minggu di Ohio University, USA.

Sekarang, program Muslim Exchange Indonesia-Australia 2012 juga melewati pengalaman yang sama. Tahun 2011, saya mendaftar pertama juga tidak lulus dan hanya sampai pada tahap seleksi interview di Jakarta. Tahun 2012 saya ikut mendaftar kembali. Tuhan maha pemurah, Dia memberikan kesemptan berkunjung ke Australia tahun ini.

Pengalaman tidak lulus pada kali pertama, Saya belajar beberapa hal penting yang mungkin berguna buat sahabat pembaca. Pertama, dengan gagal pada tahap pertama, membuat Saya semakin membuat persiapan yang lebih matang. Dan jujur kali kedua membuat persiapan lebih mudah. Pengisian formulir semakin lengkap, membuat letter of motivation semakain ngalir, penyusunan berkas jauh lebih rapi, mencari surat rekomendasi lebih cepat dapatnya, dsb.

Kedua, tentu saja usaha saya semakin keras dan lebih dari tahap pertama, karena Saya tidak mau gagal lagi seperti tahun pertama. Ketiga, dengan gagal pada tahap pertama, Setidaknya menjadi guru kepada saya dimana kekurangan Saya, nah kali kedua tentu saja saya berusaha semaksimal mungkin untuk menutup lobang tersebut.

Manfaat keempat yaitu masalah mental. Pada saat saya mendaftar kedua kainya, emosional saya lebih bisa terkontrol, lebih”nyantai”, rileks, dan stabil. Hal itu saya alami terutama pada saat wawancara di Universitas Paramadina, Jakarta.

Selanjutnya, tentu saja dengan ada kegagalan tahap pertama, menambah teman saya karena mempunyai teman dan relasi baru pada tahun kedua. Meraka ada modal sosial yang sangat berharga untuk saling bermutualisme nantinya.

Kemudian pelajaran terpenting lainnya adalah, segala sesuatu itu akan indah pada saatnya. Kedengarannya romantic dan lebay mungkin, tapi saya yakin bahwa Allah tau kalau saya akan mendapatkan yang terbaik pada saat yang tepat. Kalau saya lewat tahun 2011, tentu saja ada hal penting lain yang harus saya korbankan. Tapi Allah memberikannya sekarang, dan inilah waktu yang paling tepat.

Last but not least, Saya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang sedang hunting beasiswa, buat yang sudah mendaftar berulang kali, apply sana sini, tapi belum beruntung juga, jangan pernah putus asa. Never Ever Stop dreaming. Sekali saja tidak cukup!!!Percayalah tuhan tau apa yang terbaik buat kita, George Bernard Shaw mengatakan “Orang gagal selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang sukses selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya”.

Terakhir, ada pesan keramat dari Bapak Agoes IIEF Jakarta, beliau berpesan ketika kami balik dari USA “Second time is always easier than the first one”. So, keep fighting like a tiger and win like a champion. Amin…Salam sukses!!!

Mudahnya Beribadah di Australia

Citizen Reporter ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 6 Maret 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Photo Adam

***

OLEH MUHAMMAD ADAM, Penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship, melaporkan dari Adelaide

PERJALANAN studi saya ke Adelaide, Australia, saat ini memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk menyaksikan banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di Aceh. Salah satunya adalah hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Selama di Negeri Kanguru ini saya merasa tak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar bahwa masjid dan mushalla di sini tidak menjamur seperti halnya di Indonesia, apalagi di Aceh. Meski tidak banyak, tapi setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat.

Di Flinders University, misalnya, tempat saya kuliah sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat Jumat. Tak hanya di Australia, saat mengikuti short course di Amerika pun ketika masih mahasiswa, saya juga punya pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, akses ke tempat ibadah memang tak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan mushala atau masjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya amati teman-teman muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkretnya pada hari Jumat, mereka tetap memilih untuk izin tak ikut kuliah dan memilih menunaikan shalat Jumat jika ada kuliah pada saat bersamaan.

Yang saya rasakan di sini bahwa solidaritas kita sesama muslim meningkat pesat ketika kita menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli terhadap sesama pun justru berbiak lebih tinggi ketika kita berada di luar negeri. Kita kian terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika berada dalam kondisi yang jauh dari orang tua, keluarga, atau berbagai kemudahan yang biasanya ada di sekeliling kita.

Di Australia ini juga saya temukan banyak hal menarik di luar kampus. Misalnya, ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim di sini. Di Adelaide, misalnya, saya temukan sudah ada empat komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. Di sini ada Masyarakat Islam Australia Selatan (MIAS), Kajian Islam Adelaide (KIA), juga ada Pengajian Bapak-bapak yang disingkat PBB, di samping Komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalnya, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan para pengurusnya sedang menginisiasi madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orang tuanya studi atau kerja di Australia.

Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh, kelompok Pengajian Bapak-bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan Alquran secara bergiliran, kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan Alqurannya lebih tepat dan enak didengar. Terakhir, ditutup dengan tausiah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat Magrib berjamaah.

Jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Antusiasme mereka sangat tinggi. Tidak hanya sekadar datang, mereka juga membawa makanan untuk dinikmati bersama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilir di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tapi pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agama mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturahmi. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti pengajian ini mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi tentang akomodasi, kuliner, transportasi, bahkan lowongan kerja. Intinya ada banyak manfaat yang tak disangka-sangka dapat dipetik dengan menghadiri pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia dan selalu ada hikmahnya.

Mudahnya Beribadah di Australia (Versi Lengkap)

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

Dalam anjuran ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’ terkandung banyak pesan, salah satunya adalah supaya mata kamu lebih terbuka karena banyak yang sudah kamu lihat dari proses perjalananmu. Mungkin begitu perasaan yang tepat untuk mengambarkan apa yang saya alami sekarang di Australia. Perjalanan studi saya ke Adelaide, Australia memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk melihat dan menjalani banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di tanah air. Salah satunya yaitu hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Dari beberapa perjalanan saya ke luar negeri, Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman atau masyarakat sekitar terkait kekhawatiran mereka bagaimana kepastian dan keamanan untuk mengaplikasikan kepercayaan kita di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana tempat shalatnya? Kalau jumatan, ada mesjidnya tidak di kampus atau yang di dekatnya? Kalau cewek berjilbab dicurigai tidak? Pasti sudah mencari makanan halal di negeri barat ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan sejenis. Di satu sisi, wajar mereka memiliki ketakutan-ketakutan seperti itu karena mereka hanya menerima informasi dari sumber-sumber seperti media massa yang belum tentu seratus persen kebenarannya. Tetapi terkadang ketakutan-ketakutan yang terlalu berlebihan juga terkesan lebay menurut saya.

Pada faktanya justru apa yang dikhawatirkan oleh banyak orang yang umumnya (maaf) belum pernah ke luar negeri tidak seperti yang mereka pikirkan. Tidak sesadis yang ada dalam bayangan mereka. Saya merasa tidak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar jika mesjid dan musalla tidak menjamur seperti di Indonesia. Pun tidak banyak, setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat. Di Flinders University misalkan, tempat saya menempuh studi sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat jumat. Tidak hanya di Australia, dalam pengalaman saya mengikuti shortcourse di Amerika ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga memiliki pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, aksesnya memang tidak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan tempat ibadah seperti musalla atau mesjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi-kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya mengamati teman-teman Muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkritnya yaitu hari jumat, mereka tetap memilih untuk izin tidak mengikuti perkuliahan dan menunaikan shalat jumat jika ada kelas pada saat bersamaan. Saya tidak yakin akan ada semangat yang sama kuatnya pada saat dihadapkan dengan pilihan-pilihan penting ketika berada di dalam negeri. Mungkin akan sangat mudah untuk anda tunda shalat zuhur karena masih ada pekerjaan penting yang belum selesai anda selesaikan. Atau dengan gampangnya anda bilang shalat magrib di rumah aja jika anda pulang kantor meskipun anda tau tidak akan terkejar jika shalat di rumah. Ironi memang, ada banyak orang mengabaikan untuk memaksimalkan kemudahan yang ada di depan mata. Dalam kondisi dimana sumber dayanya tidak banyak, kita justru lebih all-out dalam menjalaninya. Solidaritas kita meningkat ketika menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli sesama lebih tinggi ketika berada di luar negeri. Kita semakin terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika kita berada dalam kondisi yang jauh dari orangtua, keluarga atau kemudahan-kumudahan yang ada. Makanya tidak heran jika ada orang yang alim justru di penjara bukan di pesantren.

Kembali lagi persoalan ibadah di Australia, saya menemukan banyak hal menarik tidah hanya di kampus. Di luar dunia kampus, saya melihat ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim sendiri. Di Adelaide, setidaknya saat ini saya menemukan sudah ada 4 komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. MIAS atau Masyarakat Islam Australia Selatan, ada KIA (Kajian Islam Adelaide), ada juga Pengajian Bapak-Bapak yang disingkat PBB dan juga komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalkan, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan saya mendapatkan informasi kalau para pengurusnya sedang menginisiasikan madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orangtuanya studi atau kerja di Australia. Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh kelompok Pengajian Bapak-Bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan ayat alquran secara bergiliran kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan alqurannya lebih tepat dan enak di dengar. Terakhir ditutup dengan tauziah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat ibadah magrib secara berjamaah.

Luar biasanya lagi, jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Melihat antusiasme mereka yang sangat tinggi layaknya membuat ibu-ibu atau bapak-bapak di kampung-kampung di Indonesia merasa cemburu. Tidak hanya sekedar datang, mereka juga membawa makanan untuk kemudian dinikmati bersama-sama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilirkan di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tetapi kegiatan-kegiatan pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agaman mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturrahim. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti kegaitan-kegiatan pengajian mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi seperti akomudasi, konsumsi, transportasi bahkan juga pekerjaan. Intinya ada banyak manfaat yang tidak disangka-sangka datang dengan menghadiri acara-acara pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia.

Sikap Mahasiswa Aceh di Australia atas Pernyataan PM Abbott

Berikut ini adalah pandangan  saya tentang kisruh pernyataan PM Tony Abbott, kasus narkoba dan gerakan pengumpulan koin. Saya posting pendapat-pendapat saya sebelumnya di BLOG ini. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai wartawan kemudian merelease nya di media online Viva News.
Ini adalah versi media—yang versi lengkapnya bisa anda baca di blog saya atau click HERE.
Terimakasih

Photo dari: pamongreaders.com

Hadi Suprapto,  Zulfikar Husein (Lhokseumawe) Selasa, 24 Februari 2015, 11:40 WIB

VIVA.co.id – Mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Australia berharap hubungan antara Indonesia dan Australia tidak terganggu karena pernyataan Tony Abbott soal bantuan tsunami. Mahasiswa juga mengapresiasi aksi mengumpulkan koin yang dilakukan di Indonesia.

“Saya merasa sedih mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta balas jasa atas bantuan tsunami yang sudah diberikan. Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi,” kata Muhammad Adam kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.

Mahasiswa yang juga merupakan korban tsunami pada 2004 silam ini menilai penting memikirkan lagi manfaat dari gerakan tersebut. Ia berharap, gerakan itu tidak sampai menjadi blunder bagi hubungan kedua negara.

Adam juga menyesalkan pernyataan PM Australia Tony Abbott. Ia menilai, sebagai seorang pemimpin, Tony Abbott tidak sepantasnya bersikap seperti itu. “Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak,” kata dia.

Secara pribadi, kata Adam, ia melihat kasus terpidana mati Bali Nine dan tsunami berbeda. Kata dia, dana tsunami adalah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.

“Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal,” katanya.

Ia berharap baik Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba. Sebab menurutnya, efek narkoba memang memiliki risiko mahal yang harus ditanggung.

Aplikasi Beasiswa AAS

Ada banyak teman yang sedang hunting beasiswa Australia Awards Scholarships membutuhkan contoh aplikasi, terutama dari teman-teman yang sudah lulus. Saya memiliki pengalaman yang sama ketika mendaftar beasiswa ini dahulunya. Bagi banyak orang dalam mendaftar beasiswa, apapun itu, Saya melihat banyak pendaftar  yang meminta contoh aplikasi. Mungkin salah satu pertimbangannya untuk melihat bagaimana mereka yang sudah lulus mengisi aplikasi, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.

Photo dari : pinoyworkandstudyabroad.blogspot.com

Berikut ini adalah aplikasi saya ketika mendaftar beasiswa AAS tahun 2013. Apa yang saya tulis dalam aplikasi ini berdasarkan informasi yang saya miliki ketika mendaftar. Anda tidak perlu melihat konten atau informasi tentang saya. Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model.   Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!

Silakan click DISINI untuk mengunduh formulirnya.

Terimakasih

Eksekusi, Tsunami dan Perdana Menteri

PENTING!!!

Bahasa dan Konten dari tulisan ini murni pandangan pribadi saya. Saya tidak mengeluarkan pernyataan di bawah ini atas nama organisasi atau orang lain. Saya menulis ini karena merasa memiliki beban moral sebagai korban tsunami, warga Aceh, penerima beasiswa dari pemerintah Australia dan juga sedang belajar di Australia.

Photo Adam

***

Melihat perkembangan isu yang semakin hangat  di masyarakat Aceh dan Indonesia serta Australia pada umumnya terkait pernyataan Perdana Menteri Tony Abbott yang menghubungkan bantuan Tsunami dan rencana eksekusi mati terhadap pengedar narkoba berkebangsaan Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (Bali Nine), sebagai orang Aceh yang sedang studi di Australia dan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia, saya punya beberapa pandangan subjektif:

Pertama, sebagai Mahasiswa dan pemuda Aceh yang juga memiliki keluarga sebagai korban Tsunami, saya merasa ‘sedih’ mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta ‘balas jasa’ atas bantuan Tsunami yang sudah diberikan. Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak. Karenanya memunculkan sikap reaktif dari rakyat Aceh selaku korban Tsunami dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kedua, bagi saya pribadi, saya melihat kasus narkoba dan tsunami secara berbeda. Dana Tsunami adalah bantuan yg diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Tsunami. Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal. Dan eksekusi mati untuk kejahatan narkoba tidak hanya berlaku untuk warga Australia. Tetapi sudah banyak warga negara asing lainnya yang sudah pernah dieksekusi mati, bahkan warga negara Indonesia sendiri juga tidak mendapatkan perlakuan istimewa dalam kasus kejahatan narkoba. Artinya, kurang fair menghubungkan bantuan kamanusiaan dengan kriminalitas.

Ketiga, guna untuk kepentingan yang lebih besar bagi pemerintah dan masyarakat kedua negara, saya pikir sebaiknya : (1) Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba karena efek narkoba memang mahal resiko yang harus ditanggung.  (2) Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi. Namun perlu dipikirkan lagi outcome yang ingin dicapai melalui gerakan ini. Penting untuk menentukan ultimata goal nya supaya aksi yang dilakukan juga berdampak positif, bukan malah jadi blunder. Jika ingin menyampaikan sikap protes atas pernyataan PM Abbott, menurut saya,  pesan tersebut sudah tersampaikan secara luas kepada pemerintah Australia dan dunia international karena sudah banyak media lokal, nasional dan asing yang meliputnya.

Selain itu, terlalu berlebihan juga jika ada ambisi ingin mengembalikan bantuan tsunami yang jumlahnya mencapai $1 M (sekitar 13 T menurut keterangan mantan gubernur Irwandi Yusuf). Artinya jika benar-benar ingin mengembalikan dana yang sudah diberikan tersebut atas dasar pertaruhan ‘harga diri’ bangsa, menurut saya perlu juga dipikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang besar itu. Tidak mungkin meminta warga Aceh menyumbang lebih dari koin atau memaksa korban tsunami menjual rumah bantuan yang sudah ditinggali.  (3) Kepada semua pihak yang berkepentingan, terutama warga Aceh dan korban tsunami, hemat saya, sangat penting untuk berpikir jernih dan bersikap lebih bijak dalam menyikapi kasus bali nine dan pernyataan PM Abbott. Jangan mudah terprovokasi dan menujukkan sikap-reaktif yang berdampak tidak baik terhadap hubungan dua negara.

Terakhir besar harapan saya semoga hubungan bilateral antara pemerintah dan rakyat kedua negara akan lebih  baik dan kuat. Semoga !!!

Press Release ANSA di Serambi Indonesia dan Atjeh Post

Press Release ANSA di Serambi Indonesia 16/2/15

Press Release ANSA di Serambi Indonesia 16/2/15

Press Release di Atjeh Post 18 Februari 2015. Klick Link INI untuk membaca release di media

18 February 2015
18 February 2015

***
Muhammad Adam, mahasiswa asal Aceh yang sedang menyelesaikan program pendidikan S2 di Flinders University,Adelaide, Australia dipercayakan menjabat sebagai ketua Aneuk Nanggroe South Australia atau ANSA.

ANSA merupakan komunitas masyarakat Aceh di Australia selatan yang telah berdiri sejak 2007. Selama satu tahun ke depan Adam akan mengkoordinir komunitas itu menggantikan Bambang Setiawan dan Rina Ariani sebagai ketua dan bendahara sebelumnya.

“Alhamdulillah saya bersama Nurfitriana dipercayakan oleh masyarakat Aceh di Adelaide untuk memimpin ANSA,” kata Adam kepada ATJEHPOST.co melalui surat elektronik.

Kegiatan ANSA selama ini adalah mengadakan temu ramah dengan mahasiswa baru, pengajian, buka puasa bersama, menjenguk orang sakit atau berdoa di tempat orang yang terkena musibah. Para anggotanya juga sering mengadakan pertemuan rutin.

“Secara fungsi, ANSA ini adalah wadah untuk menjalin komunikasi dan mempererat tali silaturrahim antara warga Aceh di Adelaide,’ katanya.

Saat  ini, warga Aceh di Australia Selatan berkisar sekitar 100 orang. Sebagian besar di antaranya adalah mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S2 dan S3 di berbagai kampus di Australia.