Belajarlah Memasak jika Ingin ke Luar Negeri

Note::: Tulisan ini sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Tribun/Kompas Gramedia) edisi Senin 9 Febuari 2015.  Silakan click di SINI untuk membaca di halaman situs media Serambi Indonesia.

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

TROEK kapai baro pula lada, itu pepatah bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Belajar masak justru pada saat sudah tak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai guru memasak.

Untuk sebagian orang, memasak mungkin urusan gampang. Tapi bagi saya, terlihat mudah awalnya, namun pada praktiknya rumit. Sudah dua minggu lebih saya di Negeri Kanguru ini, namun belum ada masakan saya yang memuaskan. Buktinya, masak tumis udang kalau tak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedas dan panas karena cuci muka setelah pegang cabai untuk tumis kol.

Menanak nasi pun kalau tak kelebihan air, ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadar, takaran, maupun citarasanya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang rumit. Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang tiga kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain.

Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauknya hampir tiap saat disiapkan oleh orang tua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) di mana makannya sudah masuk paketan yang ditangani pihak sekolah.

Sampai selesai kuliah S1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet.

Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk memasak, belanja urusan dapur saja hampir selalu diserahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuanlah yang kebagian tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada, anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.

Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, malah sering dilarang. Soalnya, menurut sebagian besar masyarakat kita, itu bisa jadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina pemilik rumah.

Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi masakan-masakan yang lezat oleh mertua perempuan atau istrinya.

Secara historis, saya tak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tak tahu bagaimana praktik masak-memasak zaman dulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan penjajah, karenanya diperlakukanlah seperti raja. Sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat. Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga di mana tanggung jawabnya mencari rezeki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.

Itu hanya asumsi-asumsi dasar saya saja, tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun, terlepas dari baik-buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggung jawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil bagian dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggung jawab pria. Lantas, apa tanggung jawab wanita? Istri melayani suami. Bukankah begitu Islam mengajarkannya?

Kalaupun kita mau bahas pada tataran ideal seperti di atas, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, justru semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang. Celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkretnya ada di dalam keluarga saya sendiri.

Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, ibu saya yang menanganinya. Tak ada maksud untuk menunjukkan kejelekan “perusahaan” rumah saya sendiri, tapi memang ada figur yang tak ada tanggung jawab dan tidak adil pembagian porsi kerja dan tanggung jawabnya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tak salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri mencuci pakaian, tak akan turun derajat kelaki-lakian seorang suami yang menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik inilah, saya pikir, semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktivis gender perlu dikonkretkan. Seharusnyalah keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik, perlu dilatih pada anak laki-laki semenjak dini, sehingga tak terasa canggung atau kaku seperti yang saya alami kini saat berinteraksi dengan alat-alat dapur di Negeri Kanguru.

Learn to cook, learn to Survive

‘Troek Kapai Pula Lada’— itu pepatah Bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Melakukan sesuatu pada saat mendesak. Belajar masak saat sudah tidak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan. Untuk sebagian orang mungkin gampang, bagi saya terlihat mudah awalnya namun pada prakteknya rumit. Sudah 2 minggu lebih di sini, namun belum ada yang memuaskan. Buktinya? Masak tumis udang kalau tidak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedes nan panas karena cuci muka setelah pegang cabe untuk tumis kubis. Masak nasi kalau tidak kelebihan air,  ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadarnya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang terlihat luaran saja rumit.

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang 3 kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain. Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauk-lauknya hampir setiap saat disiapkan oleh orangtua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) dimana makannya sudah masuk paketan yang ditangani oleh sekolah. Sampai dengan selesai kuliah S-1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tidak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet. LoL.
Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk masak, belanja urusan dapur hampir selalu di serahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai dengan cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuan mendapat tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada,  Anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.
Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, sering dilarang. Karena menurut sebagian besar masyarakat itu bisa menjadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina yang punya rumah. Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi dengan masakan-masakan yang lezat di atas meja makan oleh mertua perempuan atau istrinya.
Secara historis, saya tidak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tidak tau bagaimana praktik masak memasak jaman dahulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dahulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan  penjajah, karenanya diperlakukan lah seperti raja. Dan sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat.  Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga dimana tanggungjawabnya mencari reseki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.
Itu hanya asumsi-asumsi datar saya saja tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun terlepas dari baik dan buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggungjawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil andil dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke Istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggungjawab kaum pria. Lantas apa tanggungjawab wanita? Istri melayani suami. Bukan kah begitu Islam mengajarkannya?
Itu adalah level ideal. Kalaupun kita mau membahas pada tataran ideal, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang dan celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkritnya ada di dalam keluarga saya sendiri. Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, Ibu saya yang menanganinya.
Tidak ada maksud untuk menunjukkan kejelakan perusahan rumah saya sendiri, tetapi memang ada yang tidak ada tanggungjawab yang tidak adil pembagiannya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tidak ada salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri menyuci pakain, tidak akan turun derajat kelaki-lakiannya jika dia menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik ini lah, saya pikir semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktifis gender. Jika memang demikian, seharusnya keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik,  seharusnya dilatih semenjak dini, sehingga tidak terasa canggung atau kaku seperti saya ketika berinteraksi dengan alat-alat dapur.
Apapun itu,  saya harus tetap belajar memasak meskipun sudah telat. Better late than never kata orang bijak. Lebih baik telat dan bersusah payah belajar dari dasar meskipun sudah telat. Terlebih lagi, saya sangat susah menyesuaikan diri dengan makanan. Terlepas urusan penghematan anggaran, tapi entah kenapa lidah saya yang sering makan asam sunti, terasi dan tumis udang di kampung tidak bisa saya sesuaikan dengan makanan-makanan ala western. Where there is a will, there is a way. Thank God, selalu ada kemudahan yang diberikan tuhan. Saat ini, setidaknya saya punya Kakak yang siap membimbing saya 24/7 seperti anaknya sendiri. I owe you a two-year life Kak Fitri. Terakhir, benar kata (Prof) Hadiyanto, memasak adalah salah satu keterampilan untuk bisa survive alias survival skills.

Saman Tampil di atas Mobil di Australia Day

Tarian Saman sepertinya memang selalu punya tempat khusus dalam setiap ruang dan waktu. Hampir dalam setiap kegiatan semisal festifal, karnafal ,upacara  atau acara-acara formal tertentu, saman selalu hadir menghibur massa. Tidak hanya warga Aceh tetapi juga masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri dalam banyak kesempatan selalu berusaha menampilkan tarian yang mengandalkan gerakan tubuh ini. Menariknya, tarian yang sudah mendapat pengakuan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda tersebut tidak hanya diminati oleh warga Indonesia, tetapi juga oleh orang asing.

SamanTahun ini, tarian saman juga ambil andil dalam parade di hari perayaan Australia Day tanggal 26 Januari. Di Adelaide, tempat penulis belajar sekarang, saman dimasukkan sebagai salah satu menu utama yang diandalkan oleh Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam perayaan tahunan tersebut. Para dancers yang beranggotakan pelajar dari berbagai perguruan tinggi di Australia Selatan berdendang ria menunjukkan kebolehannya di atas mobil yang mengikuti rombongan parade yang berjalan sekitar 1 KM.
Menurut Koordinator Saman, Ibu Wi Alfarina, saman tidak hanya tampil di Australia Day tetapi dalam berbagai event di South Australia seperti Indonesian Festival Day, saman selalu unjuk gigi di depan publik Australia dan masyarakat International. Sebuah kebanggaan group saman di Adelaide dikelola oleh masyarakat yang bukan berdarah Aceh tetapi anda pasti akan lebih berbangga diri karena peran Syekh tetap tidak tergantikan oleh warga non-Aceh. Syair-syair yang mengandung berbagai pesan syar’I dalam Bahasa Aceh yang membutuhkan kemampuan berbahasa daerah tersebut dilantunkan oleh alumni dari Universitas Syiah Kuala, Marissa Yustara Muzammil, yang sedang menyelesaikan studi masternya di Flinders University.
Parade Australia Day di Adelaide yang dimulai dari Victoria Square dan berakhir di Elder Park adalah parade terbesar di Australia. Karenanya acara yang layaknya karnafal ala Indonesia itu sangat berwarna dengan peserta lebih dari 150 komunitas dari berbagai negara. Beragam budaya dan kesenian dari  berbagai Negara yang penduduknya berdomisili di Australia berpartisipasi dalam acara tersebut. Berbagai keunikan dan kekahasan dari masing-masing negara di tampilkan.  Misalkan Cina dengan tarian naganya. Bahkan sanking beragamnya, telinga dan mata anda dimanjakan mulai lantunan berbahasa arab dengan pakain menutup seluruh badan dari negara-negera timur tengah sampai dengan penampilan budaya Brazil dengan pakain ala kadarnya.
Dalam parade yang dimeriahkan dengan konser dan kembang api tersebut, selain saman, Indonesia juga mengeluarkan banyak kekayaan budaya dan kesenian dari berbagai daerah untuk tampil dalam acara tersebut. Ada Reog Ponorogo dari Jawa Timur, tarian Tortor Batak dari Sumatera Utara, tarian Bali, ondel-ondel dan berbagai keragaman budaya lainnya.
Terlepas dari gegap gempita parade di berbagai kota di Australia, namun masih ada catatan merah yang masih harus diperbaiki oleh pemerintah Australia dan masyarakatnya. Persoalan tersebut adalah pengakuan hak-hak kaum Aborigin yang masih banyak diabaikan. Meskipun secara resmi, mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd sudah meminta maaf kepada warga Aborigin pada tahun 2008, namun masih banyak luka yang tertinggal antara pendatang dan masyarakat Aborigin. Berbagai diantaranya yaitu isu pendidikan, kesehatan, tanah, pengangguran, kesempatan bekerja,  kesejahteraan, dan perbedaan kelas sosial yang masih sangat kental.
Karenanya di beberapa kota di Australia, Australia Day justru dimanfaatkan oleh berbagai kalangan yang peduli dengan nasib warga aborigin untuk berdemontrasi. Mereka turun ke jalan-jalan untuk menyampaikan aspirasi, menuntut pemerintah Australia memprioritaskan hak-hak kaum aborigin. Ada pesan penting melalui aksi mereka yang ingin disampaikan kepada masyarakat International baik yang berada di Australia maupun di luar negeri untuk tidak hanya melihat Australia sebagai Negara yang makmur dengan segala kemewahannya yang ditunjukkan di luar, namun masih ada persoalan-persoalan mendasar yang belum diselesaikan pada tataran grass root yaitu hak warga Asli Australia. Apapun itu, Parade is Parade, saman tetap menjadi daya tarik tersendiri.

Yang Tua Yang Melayani

Ada yang luput dari perhatian saya sebelumnya saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Salah satunya yaitu layanan yang diberikan kepada pelanggan. Dalam perjalanan ke Adelaide, Australia untuk melanjutkan studi beberapa waktu lalu, perhatian saya terfokus kepada pramugari dan pramugara dalam pesawat Qantas. Awak pesawat yang bertugas melayani para penumpang tersebut sudah berusia di atas 35 tahun. Meskipun prediksi umur itu hanya perkiraan saya saja, tetapi apa yang terlihat secara fisik, usia mereka memang tidak dikatagorikan lagi anak gadis, kalaupun tidak sopan mengatakan mereka sudah tua.

Photo dari blog.clientheartbeat.com

Karena aspek usia tersebut menarik,  saya baru menyadari ketika pergi ke Ohio, Amerika pada saat masih menjadi Mahasiswa, hal yang sama juga ada. Orang-orang yang bertugas melayani di dalam pesawat sudah berusia di atas rata-rata dari apa yang sering saya lihat sebelumnya. Menariknya lagi, kalau dilihat secara fisik, beberapa di antara mereka ada yang berkulit (maaf) hitam. Awalnya saya berpikir, karena ini perjalanan international makanya pihak perusahaan mempekerjakan orang-orang yang sudah berpengalaman, ternyata untuk perjalanan domestik juga sama. Usia mereka umumnya juga sudah di atas 35 tahun.
Pemandangan di dalam pesawat tersebut membuat saya terfokus pada tempat-tempat umum lainnya yang sifatnya melayani pelanggan. Salah satunya yaitu di bank. Beberapa Bank yang pernah saya datangi ketika di Amerika dan Australia, karyawan-karyawan yang bertanggungjawab melayani nasabah sudah tidak muda lagi secara usia. Kalaupun tidak dikatakan tua, yang jelas kulit mereka sudah tidak kencang lagi. Tidak hanya di Bank, beberapa pusat perbelanjaan (shopping centre), kebanyakan kasir juga sudah berusia di atas 30-an.
Ada yang berbeda dari pelayanan-pelayanan di luar negeri dengan apa yang sering saya lihat di negeri kita. Di pesawat misalkan. Jika anda memperhatikan, perusahan pesawat yang melayani perjalanan domestik (antar kota)  pada umumnya merekrut awak pesawat yang bertugas melayani penumpang dengan usia yang relatif masih muda. Beberapa iklan lowongan kerja yang pernah saya baca juga, usia untuk pelamar dibatasi tidak melebihi 25 tahun.
Tidak hanya di dunia penerbangan, coba anda lihat di bank-bank di Indonesia. Para teller dan karyawan lainnya hampir tidak ada yang berusia di atas 40 tahun. Begitu juga di mall atau supermarket, pada umumnya yang menjaga toko adalah anak-anak gadis yang masih berusia 20-30 tahun.
Pada prinsipnya, tidak ada yang salah dengan perusahan-perusahan yang memperkerjakan karyawan yang masih muda untuk melayani penumpang, nasabah atau pembeli. Saya tidak tau apa alasan prinsipil yang mendasari kebijakan-kebijakan perusahaan yang bergerak di custumer service, pada umumnya merekrut pekerja yang masih muda, cantik dan memiliki postur tubuh ideal. Idealnya substansi melayani tidak tertutupi dengan persoalan-persoalan fisik yang sifatnya sangat relatif. Coba anda perhatikan ada berapa banyak pramugri yang berkulit hitam yang anda temui di pesawat. Jika anda perhatikan di Bank, hampir tidak ada karyawan yang bermuka pas-pasan.
Seyogianya kemampuan service yang dikedepankan, bukan persoalan fisik. Tidak ada yang salah dengan kulit hitam atau tubuh yang tidak ideal, selama mereka mampu melayani dengan sepenuh hati seharusnya mereka juga direkrut menjadi pelayan-pelayan penumpang, nasabah atau konsumen. Saya tidak bermaksud menghakimi orang berkulit hitam atau bermuka ala kadar tidak boleh melayani. Akan tetapi begitulah faktanya yang sering kita lihat di negeri kita. Seolah-olah kalau anda tidak cantik, tidak tinggi, tidak berkulit putih, anda tidak boleh melamar jadi pramugari atau karyawan di Bank. Pada titik inilah menurut saya praktik diskriminasi terjadi. Ada kesempatan yang sepertinya dibedakan karena persoalan fisik yang jelas-jelas itu pemberian tuhan yang tidak bisa kita tawar menawar.
Terakhir, saya tidak bermaksud melakukan komparasi antara negara kita dengan negara-negara yang sudah lebih maju. Saya tidak mau terjebak dalam syndrom inferior dengan kemampuan negara sendiri. Saya sadar kita sedang berjuang untuk menjadi negara yang lebih beradab. Akan tetapi segala sesuatu yang baik itu bisa kita pelajari dan dapatkan dari mana saja. Persoalan melayani adalah wilayah mental bukan membanding-bandingkan tubuh. Menurut saya, ada persoalan mendasar yang harus kita ubah yaitu karakter atau mental kita. Sering kita lihat tagline Anda adalah Priortias Kami atau Anda puas, kami senang. Meskipun motto (value) seperti itu dipampang besar-besar oleh perusahan-perusahan yang hidup-matinya dari kepuasan pelanggan, namun kalau mental manajemen dan karyawan yang tidak punya dedikasi melayani, hemat saya, pelanggan tetap tidak akan puas. Kendatipun mereka memperkajakan perempuan cantik dan berpenampilan menarik, tidak berefek kepada pelanggan. Toh yang tua juga tetap mampu melayani sepenuh hati dengan dedikasi tinggi.

Ragu-Ragu, Nafsu dan Kesempatan

Proses pembekalan keberangatan Beasiswa Australia Awards sudah memasuki minggu-minggu terakhir bulan ke-4. Saat ini para penerima beasiswa tahun 2014/15 sedang disibukkan dengan final preference pilihan study dan universitas yang akan dilamar untuk kuliah nantinya. Untuk memberikan informasi yang lebih detil dan lanjut, pihak AAS mengadakan University Info Day dengan menghadirkan representatives dari semua Universitas yang bekerjasama dengan DFAT/AAS untuk hadir ke Indonesia dan penerima beasiswa dapat berkonsultasi secara individu kepada perwakilan tersebut. Kegiatan tersebut sudah sukses terselenggara pada tanggal 12 Agustus lalu.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Meskipun pilihan Field of study dan Universitas sudah dituliskan di aplikasi pendaftaran dan pada saat wawancara sedikit banyaknya sudah ditanyakan oleh tim Interviewers, namun tetap saja ada kebimbangan dan keraguan dari penerima beasiswa. Untuk Saya pribadi setidaknya bimbang dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, Saya mimikirkan apa yang akan Saya lakukan nanti setelah menyelesaikan study. Apakah Saya akan tetap menjadi akademisi, kerja di dinas atau kantor pemerintah yang berhubungan dengan pendidikan, di NGO atau perusahaan-perusahan swasta atau multinational company lainnya. Bagi Saya yang belum masih luntang lantung, pertimbangan tempat beraktifitas menjadi konsern penting karena ini akan menentukan disiplin ilmu apa yang akan Saya pelajari di Australia.

Kalau Saya ingin menjadi dosen dengan tugas utama mengajar matakuliah-matakuliah berhubungan dengan Bahasa Inggris di Jurusan Pendidikan atau Sastra Inggris di Kampus tempat saya mengabdi sekarang atau kampus lainnya, maka pilihan Master of Teaching English to Speakers of other Languages (TESOL) atau Applied Linguistic adalah jurusan yang paling tepat supaya Saya bisa Specialized in Language and Language Teaching. Namun kalau Saya ingin mengurus hal-hal yang bersifat administrative dan majerial, seperti membuat perencanaan, mengurus managemen dan sejenisnya, maka Educational Leadership and Management adalah bidang ilmu yang cocok untuk saya pelajari. Selama ini skills managing and leading ini saya dapatkan on the process, born on the street. Kalau Saya ingin mempelejari tentang Leading and Managing People secara umum di bidang education, pilihan Master Business Administration (Education) seperti yang ditawarkan oleh Flinders University adalah pilihan yang layak untuk saya pertimbangkan kalau saya ingin bekerja di perusahan-perusahan nantinya.

Untuk memutuskannya, tidak sesederhana mengambil jemuran di terik matahari, ini menyangkut dengan masa depan dimana menjalani sisa hidup ke depan, soal kontribusi dan dedikasi. Bekerja di bidang apa, sesuai passion atau tidak juga sangat menentukan. Saya pribadi, memang tugas utama mengajar, namun pada prakteknya justru lebih banyak bersinggungan dengan urusan managing and leading. Memang tugas itu bukan tanggungjawab utama dan bukan tugas formal Saya, tapi Saya merasa lebih menikmati melakukan hal-hal yang sifatnya berusan dengan sistem, perencanaan, managemen,–malah porsi mengajarnya lebih sedikit. Mungkin salah satu penyebabnya, Saya bekerja di lembaga yang sistemnya belum well-established, masih butuh banyak inisiatif dan ide-ide, tugas dan tanggungjawab masih tumpang tindih, tidak jelas. Karenanya Saya selalu merasa terpanggil meskipun itu bukan tanggung jawab Saya. Kondisi ini juga yang membuat Saya hingga saat ini, keinginan untuk kembali ke dearah asal masih sangat tinggi. Saya berpikir akan ada banyak hal yang bisa Saya lakukan apabila saya pulang daripadi saya mengambil pekerjaan-pekerjaan di kota-kota besar atau daerah lain. Sangat banyak orang-orang hebat tidak mau pulang untuk membangun daerah dengan beragam alasan mulai dari urusan materi yang tidak layak, fasilitas yang terbatas sampai dengan hal pengakuan, penerimaan dan penghormatan dari daerah baik pemerintahnya maupun masyarakatnya.

Untuk Saya pribadi, niat kembali ke dunia kerja sekarang juga lumayan berat. Melihat atmosphir dunia kampus yang tidak sangat sehat. Para petinggi asyik memperebutkan kekuasaan. Sibuk dengan rutinitas administrative yang kaku dan terjebak dengan prosedural-prosedural. Persaingan di antara dosen yang tidak fair dan saling sikut. Berkelompok-kelompok. Kalau ada dosen yang sedikit idealis dan kritis, dianggap pembangkang kalau bersuara mengkritisi kebijakan. Oposisi dan koalisi layaknya partai politik yang berkuasa dan kalah. Begitulah potret dunia kampus yang saya amati di Aceh secara umum.

Pertimbangan selanjutnya adalah universitas yang akan dipilih. Ada sebagian kawan yang kekeh untuk tetap kuliah di Group of Eight di Australia yaitu Australian National University, University of Melbourne, Monash University, The University of Adelaide, The University of Sydney, The University of New South Wales, The University of Queensland dan The University Western Australia. Nama besar universitas penting bagi mereka karena menyangkut dengan ‘nilai tawar’ dan ‘nilai prestis’ ketika mereka mencari kerja. Sebagian lainnya tidak peduli dengan prestis universitas, toh semuanya kembali ke individu–untuk apa berenang di tengah laut, yang namanya teri tetap teri, tidak akan berubah menjadi tuna apalagi hiu. Untuk kelompok ini, mereka asyik mencocokkan matakuliah yang ingin mereka pelajari. Tidak sedikit ga yang mamasukkan pertimbangan kota/ letak perguruan tinggi bersangkutan karena itu akan mempengaruhi biaya hidup yang akan mereka keluarkan nantinya. Ada juga yang melihat teman sekelas, satu daerah atau satu jurusan karena bagi mereka dengan adanya teman dari satu derah tentu saja akan memberikan kemudahan, setidaknya ketika sakit, meskipun jelas-jelas mereka mendapat asuransi yang seharusnya tidak perlu khawatir lagi soal pelayanan. Banyak juga yang mempertimbangkan durasi program study yang akan diambil, pada umumnya mereka tidak akan mengambil program yang ditawarkan hanya 1 tahun dengan berbagai alasan mulai dari ingin tinggal lebih lama sampai dengan urusan materi. Semakin lama semakin besar kemungkinan untuk melakukan saving dari biaya hidup yang diberikan, apalagi bisa bekerja.

Untuk urusan kampus dan pilihan jurusan, Saya pribadi terpikirkan untuk mengambil combined courses di Art and Social Science yang ditawarkan oleh UNSW. Saya bisa mengambil Educational Leadership dan TESOL yang dapat Saya pelajari masing-masing 1 tahun. Memang di satu sisi memaksimal kesempatan namun Saya khawatir, keinginan untuk Hits Two Birds with a Stone adalah nafsu besar padahal tenaga kurang. Jangan-jangan dengan mengambil double degree, waktu hanya terfokus untuk kuliah dengan terus membaca buku, mengerjakan projects, menulis essays dan menyelesaikan tugas. Padahal pengalaman tinggal di luar negeri, seyogianya tidak hanya dihabiskan waktu di bangku kuliah, tapi ada banyak hal lain yang perlu disentuh dan dinikmati supaya ceritanya lengkap nanti. Sayang rasanya kalau hanya dapat gelar, but it’s not a complete journey-gak seru.

Ya apapun pertimbangan penerima beasiswa AAS tahun ini- mulai dari urusan jurusan, matakuliah, teman, lokasi kampus hingga urusan nafsu —apapun itu, memutuskannya hanya persoalan waktu- mantap atau tidak, besok hari Senin (18/7/14) semuanya harus sudah jelas-harus diputuskan. Deadline untuk submit final preferences sampai dengan pukul 9 malam.

Bismillah—mantapkan hati ini ya Allah—semoga apapun pilihanku, itu yang terbaik buat masa depanku, keluargaku, pekerjaanku, bangsaku, dan tentu saja bisa menjadi amalku. Amin.

Photo Credit belongs to Kak Fitriani Piter

Bimbingan Umum Pengisian Aplikasi ADS 2012

Untuk kawan-kawan yang berdomisili di wiliyah Provinsi Aceh yang mau Apply Beasiswa ADS tahun ini..Mungkin Info ini akan sangat bermanfaat.

—————————————————————————————————–

Para alumni yang bergabung dalam Australian Corner Aceh – Australian Scholarships Alumni, akan menyelenggarakan Bimbingan Umum /Coaching clinic pengisian aplikasi ADS 2012 di Kantor Australian Corner Aceh/ KIES-Aceh pada:

Hari : SABTU
Pukul  : 09-11 WIB

Silakan Pilih Jadwal sesuai dengan waktu luang anda sebagai berikut:

    * Bulan Mei tanggal:  05, 19,& 26, 2012

    * Bulan Juni tanggal : 02, 16,& 30, 2012

    * Bulan Juli tanggal:  07, 14, & 28, 2012

    * Bulan Agustus tgl: 04, & 11, 2012

      Kegiatan ini meliputi antara lain ;

  1.   Penjelasan umum tentang beasiswa ADS dari para Australian Awards Ambassadors untuk Provinsi Aceh.
  2. Arahan khusus menurut program yg dipilih bersama para alumni dibidangnya masing-masing (4 bidang utama).
  3. Proof-reading applikasi yang telah diisi oleh applicants.Bimbingan individual selama 60 menit/pelamar
  4. Calon Peserta bisa memilih dua tanggal tertera diatas untuk bimbingan.
  5. Kegiatan Alumni ini telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam peningkatan jumlah penerima ADS dari Provinsi Aceh tahun 2011 lalu.

      Mohon didowload dan dibawa formulir aplikasi ADS pada hari tersebut.

Note:
Untuk menghargai luangan waktu dan bimbingan para alumni, kami mengutip biaya sedikit untuk transpor  dan minum para alumni serta selebihnya digunakan untuk sumbangan pendukung kegiatan rutin alumni yang ada di Australian Corner Aceh.

Demikian dan mohon informasi ini disebarluaskan kepada masyarakat kita yang berminat melanjutkan study ke Australia dengan beasiswa ADS dan Endeavor.

Semoga informasi ini ada manfaatnya bagi kita semua. Kalau ada yg perlu ditanyakan mohon dihubungi kantor Australian Corner Aceh/KIES-ACEH.

Wassalam,
Samsul Bahri Usman, B.Ed (Hons), M.Ed.
Director of Australian Corner &
Kangguru International Education Service (KIES-ACEH)
Office: Rumah Kangguru Aceh/Australian Corner Aceh
Jln. Banda Aceh-Lambaro, Komplek Dolog Tanjong Indah No. 12, Kav 31.
Desa Tanjong, Kec.Ingin Jaya, (Perbatasan Banda Aceh-Aceh Besar)
+62 651 27636Mobile/+62 812 690 00 910/+62 852 6005 4032
Email: australiancorneraceh@gmail.com. or kies.aceh@gmail.com
Website: www. kiesaceh.com