Eksklusif! Untuk Calon Pendaftar Muslim Exchange Program ke Australia

Insya Allah, hari Senin tanggal 4 September 2017 pukul 17.00-18.00 WIB, kita akan live streaming dari ruang studio Inspirasi.co TV. Untuk teman-teman yang ingin bergabung silakan LIKE page MEP http://facebook.com/ausindom  dan stay tune dari pukul 17.00. Alumni yang akan mengisi diskusi kali ini adalah Mas Fahd Pahdepie (MEP 2011), Mba Ienas Tsoraya (MEP 2003) dan Ustazah kondang yang juga alumni MEP tahun 2017 Mbak Oky Setiana Dewi (Mba Oky akan live dari Mekah).

***&&&***

Promosi Online Seminar MEP

Saya tidak menduga ternyata yang tertarik mengikuti Seminar Online Muslim Exchange Program Australia – Indonesia membludak. Dalam tempo kurang dari 10 jam semenjak informasinya dipublikasi, kuota sudah penuh bahkan lebih untuk satu grup WhatsApp. Jumlah WA yang masuk ke saya sudah mencapai di atas angka 2000an. Luar biasa. Fantastic. Awalnya ini hanya inisiatif pribadi saja untuk memberikan ruang kepada teman-teman yang tertarik mendaftar MEP untuk berdiskusi. Jadi tidak ada tim khusus yang dipersiapkan untuk mengorganisir diskusi ini. Oleh karena membludaknya respon, jujur saya kewalahan karena harus merespon satu-satu dari bawah (yang duluan masuk WAnya). Jadi mohon maaf jika ada teman-teman yang sudah mengirimkan WA tetapi belum saya respon. Karena memang sangat banyak WA yang masuk.

Untuk membantu teman-teman yang tidak tertampung dalam diskusi grup WA, semoga informasi yang saya sampaikan di bawah ini akan membantu.

 

Apa sih program MEP itu dan apa tujuannya? Continue reading

Online Seminar Muslim Exchange Program; Informasi Awal

Pertama, penting untuk anda ketahui bahwa MEP adalah program yang didanai oleh pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Institute. Di Indonesia, pihak yang melakukan seleksi program MEP adalah Universitas Paramadina Jakarta. Saat ini sedang dibuka pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2018. Pendaftaran akan ditutup pada Jumat, 8 September 2017.

Tour di sela-sela program MEP di Sydney ke Opera House Sydney

Sebagai salah satu alumni, setiap tahun saya menyebarkan informasi tentang program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (Muslim Exchange Program) melalui sosial media. Saya menemukan banyak teman-teman Continue reading

Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia dan Australia 2017

Pertukarang Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia kembali dibuka sampai dengan 16 Desember 2016.

Berikut informasi lengkapnya: img_2870

Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina mengadakan program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara Indonesia dan Australia. Program ini Continue reading

Negara ‘Cengeng’

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Rabu, 21 Agustus 2013. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Sumber Gambar http://www.sodahead.com-

Sumber Gambar http://www.sodahead.com-

BEBERAPA waktu lalu, dalam kunjungan ke beberapa kota di Australia, saya bersama empat kolega lainnya mengunjungi Universitas Melbourne dan bertemu dengan seorang guru besar. Pada saat perkenalan sebelum diskusi, sang professor menyampaikan kalau istrinya orang Indonesia tapi tinggal di Jakarta. Istri guru besar Fakultas Hukum universitas nomor wahid di Victoria tersebut tidak mau tinggal di Australia, karena tidak ada pembantu rumah tangga.

Alasan tidak ada pembantu yang dituturkan sang Professor tersebut terkesan terlalu manja. Sikap cengeng masyarakat Indonesia sudah sangat kritis dan menjadi budaya di semua lini kehidupan. Melalui tulisan ini, Continue reading

Sekali Saja Tidak Cukup

Ini adalah tulisan yang saya tulis untuk salah satu situs motivasi beasiswa pada tahun 2012. Sekarang, Alhamdulillah list beasiswa yang saya dapatkan bertambah satu lagi yaitu Australia Awards Scholarship (AAS). Melalui funding dari The Department of Foreign Affair and Trade Australia, saat ini saya sedang menempuh pendidikan S-2 di Flinders University, Australia dengan spesialisasi di Leadership and Management (Education). FYI-Beasiswa AAS juga saya dapatkan pada saat kali kedua saya mendaftar.

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

Photo from http://mikey367.blogspot.com-

“If you can imagine it, you can achieve it; if you can dream it, you can become it”. Itu adalah salah satu ungkapan dari William Arthur Ward yang selalu membuat saya untuk tidak berhenti bermimpi. Kalau berbicara tentang mimpi, Saya teringat dengan salah satu golden waynya Pak Meria Teguh, lebih kurang substansinya begini “ Kamu akan mati, kalau tidak berani bermimpi”.

Dalam kontek mencari beasiswa, rumus seperti itu juga berlaku. Jangankan tidak berani bermimpi, takut pada kegagalan saja tidak boleh. Artinya, harus tetap optimis meskipun keberuntungan belum berpihak kepada kita.

Pengalaman tersebut saya alami sendiri. Saya baru saja mendapatkan pengumuman bahwa terpilih sebagai salah satu peserta dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia Australia Tahun 2012 (Muslim Exchange). Ada 10 peserta yang terpilih dari seluruh Indonesia. Program ini short term, hanya 2 (dua) minggu di Australia. Karena dibagi 2 gelombang keberangkatan, saya mendapat gelombang ke 2, saya bersama 4 rekan lainnya akan berangkat pada 11-24 Juni 2012, sedangkan 5 rekan lainnya akan bergabung dalam gelombang pertama dan akan berada di Australia dari 23 April sampai dengan 6 Mei 2012. Meskipun programnya jangka pendek, bagi Saya bukan durasinya yang penting, tapi proses dan pengalamannya tentu saja priceless ever.

Belajar pada proses, mungkin itu pelajaran penting yang ingin saya bagikan kepada kawan-kawan motivasi beasiswa (MB). Kedua, Never ever hands up!!!Jangan pernah ada kata menyerah. Sekali saja tidak cukup untuk anda katakan kalau anda tidak sukses. Untuk sahabat ketahui saja, dari 2 pengalaman beasiswa yang saya dapatkan, kedua-duanya baru lulus pada kali kedua. Kegagalan pertama tidak membuat Saya menurun semangat, apalagi putus asa. I have enough guts to try it.

Pengalaman ketika Saya mendafar beasiswa Indonesia English Language Program (IESLP) tidak lulus ketika pertama kali saya mendaftar pada tahun 2009. Kemudian, dengan semangat dan impian yang semakin tinggi, tahun 2010, saya mencoba sekali lagi, dan Alhamdulillah Saya lulus dan bisa study selama 8 (delapan) minggu di Ohio University, USA.

Sekarang, program Muslim Exchange Indonesia-Australia 2012 juga melewati pengalaman yang sama. Tahun 2011, saya mendaftar pertama juga tidak lulus dan hanya sampai pada tahap seleksi interview di Jakarta. Tahun 2012 saya ikut mendaftar kembali. Tuhan maha pemurah, Dia memberikan kesemptan berkunjung ke Australia tahun ini.

Pengalaman tidak lulus pada kali pertama, Saya belajar beberapa hal penting yang mungkin berguna buat sahabat pembaca. Pertama, dengan gagal pada tahap pertama, membuat Saya semakin membuat persiapan yang lebih matang. Dan jujur kali kedua membuat persiapan lebih mudah. Pengisian formulir semakin lengkap, membuat letter of motivation semakain ngalir, penyusunan berkas jauh lebih rapi, mencari surat rekomendasi lebih cepat dapatnya, dsb.

Kedua, tentu saja usaha saya semakin keras dan lebih dari tahap pertama, karena Saya tidak mau gagal lagi seperti tahun pertama. Ketiga, dengan gagal pada tahap pertama, Setidaknya menjadi guru kepada saya dimana kekurangan Saya, nah kali kedua tentu saja saya berusaha semaksimal mungkin untuk menutup lobang tersebut.

Manfaat keempat yaitu masalah mental. Pada saat saya mendaftar kedua kainya, emosional saya lebih bisa terkontrol, lebih”nyantai”, rileks, dan stabil. Hal itu saya alami terutama pada saat wawancara di Universitas Paramadina, Jakarta.

Selanjutnya, tentu saja dengan ada kegagalan tahap pertama, menambah teman saya karena mempunyai teman dan relasi baru pada tahun kedua. Meraka ada modal sosial yang sangat berharga untuk saling bermutualisme nantinya.

Kemudian pelajaran terpenting lainnya adalah, segala sesuatu itu akan indah pada saatnya. Kedengarannya romantic dan lebay mungkin, tapi saya yakin bahwa Allah tau kalau saya akan mendapatkan yang terbaik pada saat yang tepat. Kalau saya lewat tahun 2011, tentu saja ada hal penting lain yang harus saya korbankan. Tapi Allah memberikannya sekarang, dan inilah waktu yang paling tepat.

Last but not least, Saya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan yang sedang hunting beasiswa, buat yang sudah mendaftar berulang kali, apply sana sini, tapi belum beruntung juga, jangan pernah putus asa. Never Ever Stop dreaming. Sekali saja tidak cukup!!!Percayalah tuhan tau apa yang terbaik buat kita, George Bernard Shaw mengatakan “Orang gagal selalu menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang terjadi pada dirinya. Orang sukses selalu bangkit dan mencari situasi yang mereka inginkan. Jika tidak menemukannya, mereka akan menciptakannya”.

Terakhir, ada pesan keramat dari Bapak Agoes IIEF Jakarta, beliau berpesan ketika kami balik dari USA “Second time is always easier than the first one”. So, keep fighting like a tiger and win like a champion. Amin…Salam sukses!!!

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Tahun 2015

Pendaftaran Program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda (Muslim Exchange Program) antara Indonesia dan Australia  untuk tahun 2015 sudah dibuka. Program kepimimpinan ini berdurasi dua minggu. Program MEP bukan program penyaringan guru-guru yang mengajar kitab arab gundul atau mereka yang menghafal alquran atau guru guru-guru agama atau pimpinan pesantren. Ini bukan program pengajian. MEP adalah program kepemimpinan yang bertujuan untuk membuka pemahaman dan memberikan pengalaman baru kepada anda tentang bagaimana anda MELIHAT agama dalam perspektif yang luas. Karenanya, siapapun anda,  akademisi, guru pesantren, dosen, aktifis, hafiz/ah, pengusaha, pegiat komunitas-komunitas, wartawan atau apapun profesi anda, asalkan anda punya semangat dan berkontribusi untuk kehidupan beragama yang lebih baik di Indonesia (tentunya sesuai kapasitas anda), silakan anda daftar. Tapi jangan lupa baca syarat-syarat yang harus anda penuhi sebelum mengirim aplikasi.

Selama 13-14 hari tersebut, anda akan dijadwalkan untuk berkunjung, menemui, berdiskusi dan bertukar pengalaman serta pemikiran seputar isu-isu keagamaan dan hal-hal yang berkaintan dengan akademisi, peniliti, awak media, seniman, politisi, pemerintah, pegiat dan tokoh lintas agama yang ada di Kota Melbourne, Shepparton, Canberra dan Sydney.

Dalam kunjungan dua minggu ke Australia, anda tidak hanya berdiskusi seputar isu-isu agama dengan berbagai stake holders tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang peranan agama di masing-masing negara. Manfaat menarik lainnya adalah membangun jaringan dan juga mengelilingi Kota Melbourne, Sydney dan Canberra yang tentunya memberikan pengalaman berharga buat anda. Opsssss luruskan niat anda, mendaftar program MEP bukan untuk jalan-jalan. Jangan sampe tujuan jalan-jalan menghilangkan substansi program lho. OOT.

Untuk peserta dari Indonesia berjumlah 10 orang setiap tahunnya (pengalaman saya tahun 2012) dan untuk penyaringannya dilakukan oleh pihak Universitas Paramadina bekerjasama dengan Australia Indonesia Institute (AII). Keberangkatan ke Australia dibagi dua group. Lima orang pertama biasanya berangkat seputar bulan Maret atau April dan lima orang selanjutnya berangkat bulan Mei atau Juni.

Tahapan seleksi ada dua yaitu seleksi berkas (Administratif) dan seleksi interview. Jika berkas anda masuk shortlisted, maka anda akan dipanggil untuk wawancara di Jakarta. Tu tu tu kan, pasti anda bertanya, bagaimana tiketnya? akomudasinya ditanggung enggak? ketahuan tu muka-muka suka cari gratisan. Peace, just kidding. Jangan Khawatir, pengalaman saya ikut wawancara untuk program ini tahun 2011 dan 2012, transportasi dan akomudasi ditanggung donor kok. Karenanya, jangan buat aplikasi asal-asalan, setidaknya anda dipanggil ke Jakarta.  Lumayan kan ngerasa macetnya Jakarta. LoL.

Nah untuk pengiriman berkas/aplikasi keberangkatan tahun 2015 yaitu 19 Desember 2014. Untuk formulir dan informasi lebih lanjut dapat anda baca di situs Universitas Paramadina atau AII.

FYI >>>

Opera House-Sydney-Australia 23 Juni 2012

Opera House-Sydney-Australia 23 Junie 2012

Saya pernah membuat sedikit catatan dari perjalanan program ini tahun 2012 lalu, jika anda baca mungkin bisa menggambarkan sedikit banyaknya tentang tujuan, kegiatan-kegiatan, orang-orang yang anda temui, kota-kota yang akan anda kunjungi selama program ini. Silakan anda klik di KOMPILASI CERITA AUSTRALIA PART 1 untuk membaca tulisan-tulisan tersebut.

Silakan japri saya ke BBM (5345ec41) atau WA (+61452198772) jika ingin bertanya atau berdiskusi seputar program ini.

Selamat berjuang! Semoga mendapatkan yang terbaik. amin…

P.s

Berhubung banyak yang meminta applikasi saya ketika mendaftar MEP Tahun 2012 lalu, karenanya saya upload. Silakan anda klik di SINI untuk mengunduh dokumen-dokumen tersebut. 

Catatannya >>> Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model. Apa yang tulis di applikasi didasari atas informasi yang saya miliki saat itu. Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!

 

Peserta MEP 2014

June MEP Group 2012 | Australia Parliament House

June MEP Group 2012 | Australia Parliament House

Congratulation!!!

Selamat kepada kawan-kawan yang terpilih dalam program Muslim Exchange Program Tahun 2014. Selamat berselancar ria di seluruh Kota Melbourne, Sydney, dan Canberra. Kesempatan dua minggu di Australia terlalu singkat, sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kepada kawan-kawan yang belum beruntung, masih ada banyak kesempatan menanti anda. Never Give Up!!!

Berikut nama-nama peserta yang lulus seleksi >>>

  1.  Ikfina Maufuriyah (Jepara, Jawa-Tengah)
  2. Nor Ismah (Yogyakarta)
  3. Siti Tarawiyah (Kalimantan-Selatan)
  4. Zahrul Fata (Ponorogo, Jawa-Timur)
  5. Sukron Ma’mun (Salatiga, Jawa-Tengah)
  6. Kartika Laras Panduhati (Jakarta-Barat)
  7. Sari Wulandari (Sleman, Yogyakarta)
  8. Fauzun Jamal (Tangerang Selatan, Banten)
  9. Ridwan (Jayapura Selatan, Papua)
  10. Shobikhan Ahmad (Bantul, Yogyakarta)

Sumber : Portal Universitas Paramadina

Kompilasi “Notes From Australia” dari MEP 2012

 

Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 17 Juni 2012
di Kyabram Fauna Park, Shepparton.
Alhamdulillah, Saya diberikan kesempatan oleh Allah melalui Australia Indonesia Institute (AII) untuk Berkunjung ke Australia melalui program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia Austra atau Muslim Exchange Program (MEP). Saya bersama 4 orang rekan lainnya se Indonesia mendapatkan kesempatan berkeliling Australia dari tanggal 11 sampai dengan 24 Juni 2012. Kami melewati 2 minggu dengan agenda yang sangat padat di 4 daerah yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney.
Mendapat kesempatan berkungjung ke Luar Negeri tentu saja banyak sekali manfaatnya. Dalam program MEP ini, dari substansi program, jelas sudah manfaatnya yaitu untuk menggali informasi sebanyak mungkin tentang kondisi ummat muslim di Australia dalam interaksinya dengan masyarakat agama lain dalam berbagai sendi kehidupan; politik, sosial, ibadah, agama, budaya, ekonomi, dan sebagainya.
Menariknya ketika berkunjung ke Luar Negeri adalah banyak hal yang berbeda yang kita temui di sana. Dari apa yang saya dengarkan, saya baca, dan saya lihat, Saya mencoba untuk menurunkannya dalam bentuk catatan series sebanyak 25 episode.
Menyangkut dengan catatan tersebut, ada beberapa hal yang perlu anda ketehui terlebih dahulu:
Pertama, Semua catatan ini adalah PENGALAMAN pribadi saya. hampir semua notes tersebut bersifat subjektif dan itu penilain pribadi saya dari apa yang saya lihat, saya baca, dan saya dengarkan. Artinya, tentu saja kita punya point of view yang berbeda dari setiap apa yang saya tuliskan. Karena ini sifatnya personal experience, ya ini sangat bergantung pada tingkat ketajaman analisis saya dan kemampuan saya untuk menarasikannya.
Kedua, catatan-catatan tersebut ada yang bersifat informative, dokumentative dan evaluative. Artinya itu hanya point of view saya. ketika saya membaca, mendengarkan, atau melihat sesuatu kemudian saya coba interpretasikan dan saya temakan dengan bahasa-bahasa yang terkadang terlalu hiperbola. Namun, sekali lagi itu hanya masalah permainan bahasa.
Ketiga, sebenarnya saya menuliskan catatan tersebut ketika saya masih berada di Australia. Namun baru bisa saya posting ketika sudah tiba di Indonesia. karena tidak sempat saya posting serentak, makanya agak lama. Terutama dalam pemilihan photo-photo yang berkenaan dengan tulisan yang sedang saya uraikan.
Keempat, tujuan dari saya menuliskan catatan ini adalah [1] untuk menunaikan janji saya dengan kawan-kawan yang minta sharing pengalaman saya dari MEP. [2] saya percaya bahwa banyak orang lain yang ingin mendapatkan kesempatan serupa, namun karena banyak alasan  mereka belum mendapatknya, disamping keterbatasan dana yang dimiliki oleh AII, juga mungkin mereka tidak memenuhi syarat untuk mendaftar atau alasan-alasan lainnya. Jadi sharing pengalaman melalui tulisan ini dapat menjadi bagian dari kontribusi saya setelah mendapatkan kesempatan langka ini. [3] selanjutnya adalah saya ingin mendokumentasikan setiap momen dari perjelanan ini, mungkin kalau sekarang tidak terlalu bernilai buat saya, tapi suatu saat nanti catatan-catatan ini akan sangat bermanfaat. [4], tujuan terakhir, orang bilang “Sekali tepuk, 2 nyamuk mati”. Saya berharap dengan menulis, dapat memperbaiki kemampuan writing skill saya.
MEP adalah kali kedua saya bisa ke luar negeri. Pertama kali adalah waktu mengikuti Program belajar Bahasa Inggris (academic purpose) di Universitas Ohio, Amerika Serikat tahun 2010. Namun sayangnya waktu itu, saya tidak banyak menulis catatan, dan itu yang saya sesali juga. Karenanya dalam program MEP, jauh-jauh hari saya sudah merencanakan setiap moment dari proses perjalanan MEP.
Last but Not Least!!!
Sebagai blogger pemula, saya sangat butuh dukungan semangat dari para pembaca supaya saya tetap menulis and ngeblog…Kata Mas Nukman Luthfie “Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan”….terlebih lagi saya blogger pemula…SO PLEASE TINGGALKAN KOMENTAR PEDAS, MANIS, ASIN, atau APAPUN RASANYA SETELAH ANDA MEMBACA SETIAP CATATAN INI!!!

Terakhir…Thanks in Deep for Australia Indonesia Institute (AII) selaku funding dari Program ini. Terus Mbak Mila yang super bertanggung jawab sebagai Direktor Program MEP. Thanks Mbak  buat semuanya, pendampingan, bimbingan, saran, dan kesuksesan program ini, sebagian besar adalah kontribusi Mbak…I don’t know how to thank you Mbakkkkkkkkkkkkkkkkk !!May God Bless you ever!!!amin………………….

Buat Universitas Paramadina selaku Implementing Agency yang sudah nyeleksi kami di Indonesia. Buat Mas Wawan, SidQie, Mbak Angky, dan Mas Tony yang sudah mewarnai dan memperkaya pasukan MEP. Untuk Dr. Eeqbal Hassim dan Istrinya, Struan Jones dan Faza Fauzi yang bersedia menamani kami selama di Melbourne.

Next, Brother Nail dan Maryam Bekris dari Islamic Council of Victoria yang super mega friendly and outstanding.  Buat Pengurus Islamic Museum of Australia. Then, Untuk kawan-kawan Alumni MEP seperti Asmaah Helal, Sana Gillani, Omar, dkk…Moga kalean juga tidak kalah mendapatkan pengalaman yang sama seperti kami ke negara kalian.  dan special buat mereka-mereka yang kami temui dalam program ini. Informasi, Saran, dan Bimbingan yang Bapak/Ibu berikan  sangat bernilai buat kami. and above all, buat Mbak Anindita dari Kedutaan Australia Jakarta yang sudah mengurus kami sebelum dan selama di Jakarta. Thanks for All Mbak ya!!!

enndddddddddddddddddd the last is for FOUR of my Friends; Mas Ridho dari Wonosobo, Mas Zainal dari Tulung Agung, Lusi dari Batam, dan Mbak Elis dari Cianjur…you guys being part of my story already!!!

Selamat Membaca, Silakan klik judul-judul di bawah untuk membacanya!!!

Semoga ada manfaatnya buat anda!!!amin………….

  1. Usaha Sekali Saja Tidak Cukup
    Photo diambil oleh Mas SidQie di Kyabram Fauna Park, Shepparton, Melbourne.
    Tanggal 17 Juni 2012.

     

  2. 3 Minggu, 2 Kedutaan, 5 Rahmat
    Group Picture dengan Komunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI)
    Photo diabadikan  tanggal 2 Juni 2012 di @America Pacific Place Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • It’s not about WHAT, but WHY

    Photo di Australian International Academy of Education (Islamic School), Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggl 14 Juni 2012.

     

  • Tangan Tuhan di Australia
    Group Picture di Depan Parliament House Australia.
    Photo diabadikan oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

 

 

 

 

 

[Episode 25_Note for MEP Australia] Walikota Islami yang tidak Islam

Written in:
Forrest Inn Hotel and Apartment, Canberra
Selasa, 19 June 2012 // 22.22 Canberra Time

Photo diabadikan Mas Zainal di Manly Beach Sydney tanggal 23 Juni 2012.
Pada hari kedua kami berada di Shepparton, kami berkunjung ke Ethnic Council of Shepparton dan ke tempat pelatihan RED R, sebuah NGO yang bergerak di bidang pelatihan untuk para pekerja, petugas, dan relawan yang berkontribusi untuk pengungsi baik yang datang dan ditampung di camp-camp di Australia maupun di luar negeri. Seperti Bencana Alam Tsunami di Aceh, banjir di Thailand, Bencana di Srilanka dan lain-lainnya, RED R mengirim timnya untuk memberikan bantuan dalam banyak hal seperti makanan, air, sanitasi, penginapan, dan sebagainya. Nah tim tersebut dilatih secara intensif di Gedung Kampus Fakultas Pertanian Universitas Melbourne yang berlokasi di Shepparton (sekitar 2-3 Jam perjalanan dari Kota Melbourne).
Bapak Chris (1 kiri) dan Salah satu staff RED R di Shepparton.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012.
Kami kesana ditemani oleh Chris Hazelman yang menyambut kami pertama kali di Ethnic Council of Shepparton. Dia juga ikut menamani kami pada siang hari ketika kami berkunjung ke tempat pusat pelayanan masyarakat Aborigin di kawasan Shapperton, namanya Rumbala Aborginal Co-operative Ltd. Menariknya ketika berkunjung ke Rumbala, kami dikasih bingkisan ketika pulang, mereka memberikan kami gelas cantik dan gantungan kunci. Hal ini justru sebaliknya, kami tidak memberikan apa-apa untuk Rumbala. Malah kami kasih ketika kami kunjungi tempat lain, yang tidak memberikan ke kami..he….minta imbalan ni ye????..he……….sorry Mr Leon Sauners.
Oleh-Oleh buat Bapak Chris dari Pasukan MEP 2012.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012.

Dalam agenda hari kedua di Shepparton, ada satu pelajaran penting yang juga mungkin berguna buat anda yaitu sikap humble Bapak Chris. Beliau adalah walikota Shepparton yang sudah memimpin Shepparton selama 25 tahun. Dia adalah walikota…walikota…sekali lagi saya ulangi, dia adalah walikota lhoe….coba bayangkan, dia menyambut kami, terus membawa kami ke training center RED R yang menghabiskan waktu sekitar 30 menit by car, terus makan siang bersama, dan lanjut ke Rumbala Center. Seharian dia menghabiskan waktunya bersama kami yang hanyak anak-anak muda dari Indonesia.

Makan Siang dengan Bapak Chris di Restaurant China yang memberikan Kerupuk Gratis..hee..
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Tidak hanya itu, dia sangat ramah, sederhana, disiplin, fleksibel, dan mandiri. Dia mengendarai mobilnya sendiri, padahal dia punya staff. Di tengah perjalanan, dia melihat pemandangan yang unik di Australia, dia menghentikan mobilnya supaya kami bisa photo-photo. Dia ikut makan satu meja dengan kami.
Bapak Chris Hazelman mempresentasi apa yang dia lakukan dan keadaan masyarakat di Shepparton.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Wah……..saya membayangkan kapan ada walikota seperti Christ? Jangankan walikota atau Bupati, Bapak Camat aja susah kita jumpai di Indonesia yang mempunyai kepribadian seperti Christ. Kebanyakan pejabat kita selalu minta dilayani dan dihormati oleh rakyatnya. Kalau turun lapangan harus dipayung. Mobil tidak mau kendarai sendiri. Tas gak boleh pegang sendiri. Pintu harus dibuka oleh staff. Buku dipegang oleh sekretataris. Bungkus nasi siang dibuang petugas. Celakanya dengan pelayanan manja seperti itu, prestasinya banyak mengecewakan. Tidak hanya itu, tidak sedikit dari mereka yang terlibat kasus korupsi, atau criminal lainnya.  Sangat paradok bukan??? Christ yang tidak Islam tapi berperilaku seperti apa yang diajarkan oleh Islam.Semoga anda dapat mengambil pelajarannya!

 

Group Picture dengan Kawan-Kawan Mahasiswa Indonesia
yang sedang study di Australian National University, Canberra.
Photo diabadikan tanggal 20 Juni 2012.

[Episode 24_Note for MEP Australia] Merakyatnya DPR Australia

Written in:
Forrest Inn Hotel and Apartment, Canberra
19 June 2012 // 21.30 Canberra Time
Pengantar:

Catatan dibawah ini adalah tulisan yang saya kirimkan ke Media Cetak, Serambi Indonesia dan dimuat pada edisi 24 Juni 2012. Serambi Indonesia (Group Tribun) memberikan ruang kepada warga untuk menuliskan berita-berita menarik apa saja dalam rubrik Citizen Reporter. Silakan klik HERE untuk membaca di website Serambi Indonesia.

Photo ini dibadikan oleh Lusi pada tanggal 19 Juni 2012 di Parliament House Australia.

Saya beserta rombongan Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (MEP) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Parliamentary House (PH) Australia pada tanggal 19 Juni 2012. Parliamentary House adalah DPRnya Pemerintah Federal Australia yang berlokasi di pusat Canberra. Canberra sendiri adalah”kota buatan” pemerintah Australia sebagai ibukota Negara pada saat Melbourne dan Sydney bersiteru untuk menjadi ibukota.  Kami disambut oleh salah satu pemandu khusus parlemen. Kami dibawa keliling dan diperkenalkan seluruh bagian parlemen beserta orang-orang penting dalam pemerintahan Australia.

Ada banyak hal yang menarik bagi saya mulai dari sisi bangunannya yang sangat filosofis dan artistic, kegunaannya, sampai dengan anggota parlemennya sendiri. PH dibangun diatas tanah seluas 32 hektar pada masa Ratu Elizabeth II yang kemudian juga meresmikannya pada tanggal 9 Mei 1988. Bagunan yang sangat artistic tersebut adalah hasil rancangan Romaldo Giurgola of Mitchell dan Giurgola & Thorp Architect.

Dilihat dari lokasi bangunannya, PH berada di tempat yang sangat strategis. kalau kita keliling kota Canberra dari sisi apapun tetap Nampak bangunan PH ditengah. Lokasinya memang berada ditaran agak tinggi, tampaknya memang menjadi symbol kota Canberra sendiri, dan Australia pada umumnya. Persis seperti Mesjid Baiturrahman yang menjadi symbol Kota Banda Aceh, dan Masyarakat Aceh pada umumnya serta menjadi symbol Islam di Aceh.

Group Picture dengan Masnun Tahir (4 kiri) setelah selesai seminar di Australia National University, Canberra.
Photo diabadikan Mas Aan pada tanggal 20 Juni 2012.

Parliamentary House dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan Australia dan Kedutaan, termasuk keduataan Indonesia. Kebetulan juga sempat menghadiri pertemuan dengan pihak kedutaan yang disambut oleh Wakil Duta Besar Indonesia untuk Australia.

Masih dari sisi bangunannya, PH berada persis ditengah-tengan kota Canberra. Karena Canberra sendiri memiliki dataran tinggi dengan bukit-bukit disekelilingnya, jadi bangunan PH lebih rendah dari dataran-dataran tersebut sehingga masyarakatnya dapat melihat gedung PH dari ketinggian. Menurut keterangan petugas yang memandu kami, hal tersebut sengaja dirancang seperti itu. Pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat itu lebih tinggi dari pemerintah. Pemerintah harus memprioritaskan rakyat untuk melayani mereka sebaik mungkin. Bukan malah diminta untuk melayani atau dihargai karena mereka pemerintah.

Karena bangunannya yang sangat artistis dan mewah, banyak pengunjung yang datang setiap hari ke PH. Pengunjung yang datang tidak hanya dari dalam negeri Australia, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya itu, Saya melihat banyak pengunjung adalah pelajar SMP dan SMA. Mungkin saja mereka sedang belajar tentang ilmu sosial atau sejarah Australia, kemudia mengunjungi gedung parlemen langsung.

Menariknya bagi saya adalah PH menjadi sangat akrab dengan rakyat. Mereka tidak takut untuk masuk kedalam gedung parlemen, karena itu adalah gedung perwakilan mereka. Bahkan gedung parlemen juga menjadi salah satu situs wisata bagi turis-turis domestic dan international. Pelayananya sangat ramah dan bagus. Hebatnya lagi mereka mempersiapkan petugas-petugas yang siap melayani setiap pengunjung dengan ramah dan setia untuk berkeliling seluruh area gedung.

Photo di Parliament House tanggal 19 Juni 2012.

Ada hal lain yang lebih menarik dari DPR Australia yaitu mereka tidak bekerja di gedung parlemen. Mereka bekerja di daerahnya masing-masing. Saat ini, ada 150 anggota DPR dan 76 senator yang mewakili dari setiap Negara bagia Australia. Setiap anggota perlemen dan senat mempunyai kantor di daerah mereka masing-masing. Karenanya anggota parlemen sangat dekat dengan rakyat yang sudah memilih mereka. Masyarakat dapat langsung menyampaikan aspirasi, pendapat, atau masalah-masalah yang terjadi di kawasan pemilihannya. Anggota senat dan DPR hanya bertemu pada waktu-waktu tertentu saja di Parlementary House untuk memusyrawarahkan permasalahan yang terjadi, membuat kebijakan, atau kepentingan-kepentingan lainnya.

Inilah pelajaran penting bagi saya dan anda mungkin. Idealnya pemerintah itu ya merakyat dan melayani, bukan malah meminta untuk dilayani. Kondisi seperti sangat paradok mungkin dengan pemerintah kita yang kebanyakan diantara mereka beragama Islam. Padahal Islam mengajarkan sikap tawadu’, membantu sesame, memimpin dengan adil, dan sebaginya. Namun sayangnya nilai-nilai itu justru dipraktekkan di Negara yang idiologinya tidak Islam.

Semoga Bermanfaat!
Group Picture di depan Parliament House 19 Juni 2012.