[Episode 23_Note for MEP Australia] Tidak Hanya Sebatas Simbol

Written in:
Forrest Hotel and Apartments, Canberra
19 June 2012 ///  Canberra Time.

Adam berdiri di Info Board Victoria Market, Melbourne.
Photo diambil oleh Lusi tanggal 16 Juni 2012.
Kami diberikan kesempatan untuk Shopping sehari sebalum meninggalkan kota Melbourne.
Setelah meninggalkan Melbourne pada tanggal 17 Juni 2012 pagi, kemi menuju ke Shepparton, salah satu kota di Negara Bagian Victoria. Sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil untuk tiba di Shepparton dari Melbourne. Kota ini terkenal dengan flora dan faunanya yang sangat kaya. Banyak sekali pohon, kebun, sapi, dan sebagainya.Pada hari pertama, kami mengunjungi mesjid tertua di Shepparton. Mesjid tersebut adalah mesjid muslim  pertama yang dibangun di Negara bagian Victoria. Mesjid tersebut dibangun sekitar tahun 1960 oleh masyarakat Albania yang berimigrasi ke Australia pada saat itu.

Ada yang menarik dari rumah ibadah ini yaitu karena ada kubahnya. Saya sudah mengunjungi 4 mesjid di kota Melbourne, namun tidak ada satupun yang memiliki kubah. tidak hanya kubah, menurut keterangan Nail, pengurus Islamic Council of Victoria mesjid-mesjid di Australia tidak boleh memasang microphone di bagian luar mesjid sehingga terdengar suara azan keluar. Alasannya suapaya tidak terganggu masyarakat agama lain dengan suara azan, apalagi azannya sampe 5 hari sekali.  Apalagi kalau bulan ramadhan orang-orang ngaji pada malam hari. Menurut Nail, atas dasar itu kenapa di larang kubah dan suara azan keluar.

Agak ironi memang, disatu sisi Australia adalah salah satu Negara yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan berkekpresi, namun disisi lain kebebesan tersebut juga tidak diberikan secara mutlak kepada penganut agamanya untuk melakukan apapun, memasang lambang apapun di rumah ibadahanya, dan bereskpresi sesuai seleranya.

Dari kondisi paradok seperti itu, bagi saya menarik untuk dipetik pelajarannya yang mungkin juga bisa bermanfaat bagi anda. Bahwa Agama di Australia tidak hanya sebatas simbolik semata. Tidak penting rumah ibadah ummmat Islam dibagun kubah sebagai tanda untuk membedakan antara rumah ibadah agama lain. Karena mungkin menurut mereka itu hanya symbol saja.

Mungkin bagi mereka symbol tidak penting, namun nilai-nilai pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih penting dari umbul-umbul seperti kubah. kondisi seperti ini, terkadang agak jauh sekali berbeda dengan apa yang terjadi dikampung saya di Aceh. Banyak masyarakat menilai kereligiusitas seseorang dari apa yang dipakainya.

Anda akan dianggap shaleh kalau anda pakai kain sarung dan peci. Anda akan dihormati karena mempunyai pengetahuan agama yang mendalam, karena anda bisa bahasa arab. Anda akan dianggap peduli terhadap Islam,karena banyak menjadi pengurus mesjid. Anda akan dipuji dan disanjung karena anda sering keluar masuk mesjid.

Namun bagaimana dengan pengamalannya?. Menurut saya shalat, puasa, zakat, dan ibadaha-ibadah lainnya adalah cara untuk meningkatkan keshalehan kita saja. Artinya seharusnya semakin rajib kita shalat, semakin sedikit kemaksiatan yang kita lakukan. Semakin banyak harta yang dizakatkan, semakin berkurang kita mengambil milik orang lain seperti korupsi.

Intinya semakin tinggi keshalehan agama kita, seyogianya semakin tinggi juga nilai-nilai itu terefleksi dalam kehidupan kita sehari. Semakin menghargai orang tanpa memandang status sosial dan ekonominya, semakin patuh terhadap rambu lalu lintas tanpa mempertimbangkan apakah ada polisi atau tidak. Dan berbagai praktek lainnya.

Photo diambil oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Kyabram Fauna Park, Shepparton.
Namun sayangnya apa yang terjadi di daerah saya justru sebaliknya. Coba kita lihat bagaimana kebersihan di mesjid, bagaimana sikap kita terhadap kebersihan di tempat-tempat umum, bagaimana rasa simpati dan emapati kita terhadap masyarakat miskin. Bagaimana kemauan kita untuk mengambil sampah di jalan. Bagaimana kita mendahulukan pejalan kaki di jalan raya. Seberapa sering kita memberikan sedekah untuk pembangunan mesjid. Bagaiman sikap pejabat terhadap rakayatnya yang sama-sama muslim, bagaimana pelayanan publiknyanya, bagaimana pelajayanan di rumah sakit, bagaimana pelayanan di imigrasi untuk membuat paspor, bagaimana pelayanan di catatan sipil, dan masih banyak lagi praktek-praktek lainnya yang tidak mencerminkan bahwa keshalihan kita beribadah tidak berefek dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita.Menghargai orang tidak kita anggap ibadah, menepati janji tidak kita anggap ibadah, memindahkan sampah di jalan bukan ibadah, melayani orang sakit dengan sebaik mungkin tidak dianggap ibadah, memberikan perlindungan kepada rakyat juga tidak dianggap ibadah oleh pejabat. Menepati janji kampanye juga tidak dianggap melanggar nilai-nilai agama oleh politisi, dan sebagainya.

Artinya shalat, puasa, zakat, sedekah, dan lainnya yang kita lakukan ya hanya sebatas ibadah. Memang ini tidak semua, namun kebanyak seperti itu. Shalat semakin rajin, maksiat juga semakit kencang, zakat semakin sering, koropsi juga semakin lihai, puasa tidak ketinggalan, memaki orang juga tidak ditinggalkan. So, what are they for??? Kalau ibadah shalat, zakat, dan puasa tidak mampu mengubah kepribadian kita terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat, ya artinya itu hanya sebatas simbolik saja.  Setuju???

Semoga bermanfaat!

 

Group Picture dengan Bonnie Hermawan (Shawl Kuning)  tanggal 15 Juni 2012.
Bonnie adalah BIDGE Project Team di Asia Education Foundation Sydney Myer Center Univ of Melbourne.

[Episode 22_Note for MEP Australia] Ketika Non Muslim Mengajar Islam kepada Muslim

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Sabtu 15 Juni 2012 // 23.50  Melbourne Time

Background photo adalah Opera House.
Photo diabadikan oleh Mas Ridha ketika tour ke Manly Beach Sydney tanggal 23 Juni 2012.
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Melbourne, besok hari Minggu tanggal 17 Juni 2012, pagi-pagi jam 8 kami check out dari Apartemen Darling Towers menuju ke Shapparton untuk melakukan pertemuan disana. Hari ini kami hanya bertemu dengan Boards of Imam Victoria untuk agenda terakhir selama berada di Melbourne.

Untuk agenda beli-beli, kami didampingi oleh Faza, istri Struen Jones sekaligus adik Ipar Eeqbal, shopping ke Victoria Market. Victoria Market kalau di Indonesia kayak pasar rakyat di Tanah Abang atau Pasar Senen. Mulai dari jualan baju, kaus, topi, roti, kue, sayur, ikan, bumbu, bahkan orang jualan obatpun ada.

Namun yang memberi nilai lebih pasar ini adalah one stop market. Artinya semuanya ada ada disini. Mau beli ikan ada, beli obat ada, beli sayur ada, beli baju ada, piring ada, makanan ada, kue pa lagi, pokoknya lengkap semuanya ada disini. Dilihat dari segi efesiensi waktu, pasar seperti ini sangat bagus, karena orang tidak perlu menghabiskan lebih banyak diwaktu di jalan menuju ketempat lain untuk membeli keperluan atau kebutuhan rumah tangga misalnya. Kalau Beli Kaus di Blok A, Beli Sayur di Blok M, dan Beli Ikan di Blok X, tentu saja akan sangat menyita waktu dan tenaga apabila letaknya berjauhan, apa lagi berbeda arah.

Apalagi pada masa kini dimana efesiensi waktu begitu penting, karena orang sangat sibuk dengan berbagai kegaitan dan kesibukannya. Kalau belanja akhir pekan, makanya mereka lebih suka ke Mall atau Supermarket, selain barangnya dibungkus dengan rapi sehingga kelihatan bagus dan berkualitas juga mereka bisa beli berbagai kebutuhan disatu tempat. Inilah salah satu yang membuat capital tumbuh subur di Indonesia umumnya, terutama di Jakarta dan akibatnya pasar-pasar tradisional harus minggat ke pinggir kota.

Melihat kenyataan seperti ini, memang disatu sisi kita marah dengan kapitalisme, tapi disisi lain juga kita harus merefleksi diri bahwa pasar-pasar kita masih banyak kekurangannya dan pada saat bersamaan, kita juga mengambil manfaat dari keserakahan kapitalisme itu.

Malam ini kita tidak disediakan makan malam oleh panitia. Saya tidak tau kenapa, seharusnya memang harus dicover juga karena masih dalam program, ya ini kan full-funded program. Tapi untuk satu kali, bolehlah. Juga terlalu gimana gitu kesannya kalau complain. He……

Group Picture sebelum take off ke Canberra setelah mengikuti program di Melbourne dan Shepparton.
Mas SidQie (Jacket Biru) semenjak SMA sudah tinggal di Australia.
Photo diabadikan oleh Mas Wawan di Melbourne International Airport tanggal 18 Juni 2012.
Kebetulan Reza kewan yang saya kenal lewat Abangnya Dudi Abdullah, Pengajar Muda Aceh Utara, Indonesia Mengajar,  mengajak makan diluar. Tadi juga ditemanin sama Mas SidQie, temannya Reza sekaligus dia juga akan menemani kami ke Shapparton sebagai Pototgrapher Profesional.Dari banyak topic dan isu yang kita bicarakan di restoran Arab di kawasan Coburg, ada satu hal yang membuat saya sangat terpukau. Yaitu media yang digunakan oleh Pemuda-Pemuda Muslim di Kota Melbourne untuk belajar Al-qu’an. Mereka menggunakan Aplikasi Skype dengan dukungan jaringan internet yang kuat untuk belajar al-qur’an. Sedangkan guru atau tutornya berasal dari kampung-kampung di daerah Mesir.

Fantastic, isn’t it??? (Colek Mas Ridha)…. Saya sangat menarik sekali ketika mendengar cerita mereka bahwa banyak remaja-remaja Muslim Australia yang mengikuti kursus ini. Ada yang belajar tajwid, dan ada juga yang menghafal al-qur’an. Dan mereka membayar sekitar 20-30 AUD kepada agent yang mengahubungkan antara guru di Mesir dengan murid di Australia. Amazing bukan????

Bagi saya, konsep ini langka sekali dan sangat menarik untuk kita terapkan di Indonesia mungkin. Hanya masalahnya, guru-guru pengajian di Mesir memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mapan untuk mengajar bule-bule Muslim di Australia.

Victoria Market. Photo diabadikan oleh Lusi Afriani tanggal 16 Juni 2012.
Terlepas dari keterampilan bahasa, ada yang menarik untuk kita petik pelajarannya dari konsep ini. Pertama, tidak ada yang tidak mungkin lagi di dunia ini. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi yang begitu cepat, semuanya sangat mungkin dilakukan. Dunia sudah tidak ada batas lagi.Kedua, kita bisa belajar dari manapun. Belajar tidah harus selamanya dari buku teks, atau kitab gundul baru dikatakan belajar agama. Tapi juga bisa melalui pengalaman orang lain, belajar pada fenomena alam, belajar pada apa yang kita lihat dan dengarkan, dan juga bisa kita belajar pada benda mati seperti computer yang sekarang memiliki jaringan internet.

Poin ketiga adalah, ketika internet digunakan secara bertanggung jawab  untuk tujuan-tujuan positif, maka manfaatnya akan sangat besar. Dampak positifnya banyak. Begitu juga sebaliknya. Untuk kondisi umum di Indonesia, mungkin boro-boro kita bicara tentang penggunaan internet yang baik dan bertanggung jawab, wong masih banyak orang yang tidak bisa belajar computer.

Disisi lain, kadang-kadang kita juga salah kaprah, menerima perubahan secara mutlak tanpa mempertimbangkan kearifan lokal dan kesiapan kita sendiri,terutama mental kita. Pada saat ini, perkembangan internet di Indonesia begitu cepat dan pesat. Di Aceh, hamper semua warung kopi memiliki fasilitas Free-Speedy. Dan kalau ada warkop yang tidak memiliki fasilitas internet service, pasti peminatnnya kurang. Efek positifnya memang ada, tapi menurut pengamatan saya banyak juga mudharatnya,.

Banyak orang cuma nongkrong seharian di warkop dan online. Tidak memikirkan keluarga lagi bagi yang sudah menikah. Berkurangnya waktu dengan anak-anak bagi ayah yang sibuk kerja. Sering bolos bagi pelajar. Dan celakanya lagi, menggunakan internetpun Cuma untuk main game online dan berjudi. Bukannya dimanfaatkan untuk mencari informasi dan membaca berita penting, malah sebaliknya mejadi ladang dosa.

Dan inilah perbedaan signifikan antara kita dengan Negara-negara maju seperti Australia. Di Australia sangat tidak mudah untuk mencari internet gratis, jangankan tempat-tempat umum, di Hotel aja jarang ada yang gratis, semuanya harus bayar. Karena bagi mereka, informasi itu mahal dan untuk mengakses mendapatkannya, anda harus berkorban, minimal uang.

Coba anda bayangkan, computer dan internet yang berkembang pesat di barat, dan kebanyakan diinovasikan oleh mereka-mereka non-muslim, namun kita sebagai ummat Islam memanfaatkannya untuk belajar Islam. Dengan bahasa lain, inilah saatnya Non Muslim mengajar Islam tentang Islam.

Semoga bermanfaat!
Melissa Sharif (Australian Federal Police) sedang memperkenalkan diri
dalam sebuah jamuan makan malam dengan Konsulat Jendral Indonesia di Melbourne.
Anisa adalah Alumni MEP Australia tahun 2012.
Dia bersama 4 rekan lainnya dari Australia berkunjung ke Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta selama program.

[Episode 21_Note for MEP Australia] You’re the product of the Environment!

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Jum’at 15 Juni 2012 // 23.42 Melbourne Time

Photo di Depan Parlement House di Canberra.
Photo diabadikan oleh Lusi tanggal 19 Juni 2012.
Pada hari kelima program Muslim Exchange Program di Melbourne, kita melakukan banyak kegiatan dengan berkunjung juga seperti hari-hari sebelumnya.  Pada pagi hari dimulai dengan kunjungan ke Professor Abdullah Saeed, dia adalah Sultan of Oman Professor of Arabic and Islamic Studies. Dia juga Direktur National Center of Excellence for Islamic Studies (NCEIS). Selanjutnya dengan Dr Michael Ewing, dia adalah Indonesian Convenor. Kedua orang penting ini bekerja di bagian Asia Institute, Sydney Mayer Asia Center di Melbourne University.Terus setelah makan siang dengan menu yang sangat menguntungkan bagi saya, karena dapat warung Indonesia yaitu ES TELLER dengan makanan pesanan saya Nasi Goreng Seafood, kami shalat jum’at di Musallah kampus Melbourne. Senang rasanya, khatibnya ternyata orang Indonesia…Bapak Nu’im kok gak salah namanya!

Next, kita berjumpa dengan BRIDGE Project Team di Asia Education Foundation. Pertemuan ini sangat special bagi saya, karena konsentrasi diskusinya seputar pendidikan. Sebagai orang yang konsern di Pendidikan, tentu saja bagi saya ini sangat menyenangkan. Terlebih lagi, Bonnie Hermawan yang menerima kita sangat banyak memberikan informasi-informasi penting tentang program-program yang bisa kami ikut partisipasi. Dan inilah salah satu manfaatnya, kita punya link international. Bahkan kedutaan Australiapun, Mbak Angky dari Public Affair siap memberikan informasi ke kita. Luar biasa Mbak Angky…thanks ya!!!

Nah sore harinya kami berdiskusi banyak dengan Brother Nail Aykan Sebagai General Manager di Islamic Council of Victoria (ICV) West Melbourne. Nail memberi banyak informasi tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh ICV. Mulai dari penanganan haji sampai dengan pembinaan orang-orang Muslim di penjara. Mulai dari masalah mua’laf sampai dengan Isu-isu krusial yang dihadapi oleh masyarakat Muslim di Australia, Indonesia, dan Dunia dari berbagai perspektif.

Brother Nail mempunyai pengetahuan yang sangat luas dan dia juga sangat mempunyai strong sense of humorist. Ada yang menarik buat dari statemen dia, bahwa Kita adalah Produk dari Lingkungan kita (You’re the product of the environment). Artinya kita hari ini tidaklah sepenuhnya karena kita, namun juga sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan kita.

Cata kita berpikir, radikal, ektrimis, konserfatif, modern, itu sangat ditentukan dari lingkungan kita. Seberapa Terbuka, toleransi, pluralism, dan open-minded kita juga tidak bisa dipisahkan dari pengaruh lingkungan kita.

Photo dengan Struan Jones (dua kiri). Struan adalah salah satu Host kami di Melbourne.
Photo diabadikan oleh Mas Ridha tanggal 15 Juni 2012 di Es Teller di dekat Uni Melbourne.
Pelajaran pentingnya bagi saya dan anda dalam catatan kali ini adalah untuk pandai-pandai memilih lingkungan. Teman kuliah, teman sekolah, teman kerja, teman di media sosial sekalipun harus mampu kita filter dengan baik. Seyogianya filter itu ada dalam diri kita sendiri, jadi apapun pengaruh dari luar tetap akan mampu kita saring. Namun yang jadi masalah, bagi yang masih labil mungkin akan mudah terpengaruh. Karena belum mempunyai pendirian dan pemikiran yang matang.Untuk itu, silakan kita bergaul dan berinteraksi dengan siapapun, tapi jangan lupa bahwa cara kita berpikir, bertindak, merespon sesuatu, dan sebagainya tidak lepas dari apa yang kita terima dari lingkungan kita, apakah itu lingkungan terdekat yaitu keluarga maupun kolega, teman ngopi, teman ngenet, dan sebagainya. Kalau baik mereka, maka kebaikan itu juga akan tertular ke kita, begitu juga sebaliknya, keburukan-keburukan di lingkungan kita lambat laut akan mempengaruhi kita juga. Karena sekali lagi bahwa YOU’RE THE PRODUCT OF ENVIRONMENT!

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan Nail Aykan (Tengah barisan belakang) di ICV.
Photo diambil oleh Struan Jones tanggal 15 Juni 2012.

[ Episode 20_Note for MEP Australia] Pesan Tuhan lewat Tulisan

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis 14 Juni 2012 //  22.22 Melbourne Time
“Identity Yours Mine Ours” adalah salah satu imbaun di Immigration Museum Melbourne.
Photo diabadikan oleh Eneng Elis Aisyah pada tanggal 12 Juni 2012.

Mendapat kesempatan keluar negeri tidak hanya bicara masalah kemewahan dan kelebihan-kelebihan dari kegiatan yang kita ikuti. Akan tetapi juga bicara masalah personal experience, pematangan diri, leadership, mind-set, sikap, dan juga budaya. Kedua hal tersebut akan melebur dan bisa kita nikmati ketika kita membukan diri, membuang keegoisan nasionalisme yang fanatik, dan mengosongkan gelas kalau diibaratkannya.

Banyak valuable experience yang saya dapatkan disini baik ketika saya berinterkasi dengan orang-orangnya, maupun dengan benda-benda yang ada atau dengan system dan atmosphere yang ada di Melbourne. Proses belajar tersebut tidah harus semata-mata ketika saya berkunjung dan berbecira dengan orang-orang penting seperti yang ada dalam program ini, namun juga bisa dengan apa yang saya lihat, dengar, dan baca disini.

Salah satu yang pelajari disini adalah melalui apa yang saya lihat. System transportasi yang sudah terbangun, budaya antri yang sudah menjadi tingkah laku, patuh terhadap lampu lalu lintas yang sudah menjadi budaya, suara klapson yang jarang terdengar, budaya jalan kaki, dan sebagainya tentu saja memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, dan anda juga mungkin kalau keluar negeri, khususnya Negara-negara yang sudah maju seperti Australia.

Salah satu contoh kecilnya lagi, saya lihat banyak anjuran-anjuran atau peraturan-peraturan itu hanya dalam bentuk tulisan. Meskipun dalam bentuk tulisan, saya yakin pasti jarang terjadi pelanggaran. Sebagai contoh, ketika saya berkunjung ke Immigration Museum di Melbourne tanggal 12 Juni 2012, ada tulisan “IDENTIFY MINE, YOURS, OURS”.

Ini adalah salah satu tulisan yang ada di Museum Immigration Melbourne.
Photo dibadikan pada tanggal 12 Juni 2012.

Agak susah mencari padanan bahasa Indonesia dan sensenya akan berubah apabila phrase di atas diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Kalau anda mengerti bahasa inggris tentu saja kalimatnya memberikan interpretasi yang mendalam buat anda. Bagi saya pesan seperti itu memberikan makna yang begitu penting. Pertama saya belajar bahwa orang semakin sadar untuk mematuhi terhadap peraturan yang ada. Kedua, budaya melanggar peraturan semakin rendah. Ketiga, saya belajar bahwa meskipun tulisan, namun orang tetap patuh.  karena mereka tau itu adalah benar.

Ironis memang di Indonesia dalam banyak hal, terutama menyangkut dengan kepentingan umum seperti lalu lintas, jangankan tulisan, polisi  lalu lintas yang sudah berdiripun, tetap tidak patuh dan menerobos lalu lintas kadang-kadang. Apalagi Cuma ada tulisan “jangan buang sampah disini”, justru kata “jangan” dihapus atau dicoret, terus sampahnya dibuang sembarangan.

Ada banya himbaun dalam bentuk tulisan yang sering tidak kita indahkan, di Kantor-kantor pelayanan publik misalkan ada larangan “Tidak Menerima Imbalan dalam Bentuk Apapun”. Prakteknya kalau tidak dikasih duit, kebanyakan pasti telat selesainya. Sehingga orang terbiasa untuk memberikan uang pelicin supaya urusannya selesai. Di Kampus saya, pernah saya baca tagline di gedung rektorat, “Tulis Apa yang anda kerjakan, Kerjakan apa yang anda tulis”. tapi prakteknya??? sangat tidak sesuai apa yang ditulis.

Peserta MEP 2012 di depan War Memorial Canberra.
Photo diabadikan Mas Tony tanggal 19 Juni 2012.

Dalam konteks Australia, kondisi-kondisi seperti diatas, Saya sering berkesimpulan bahwa nilai-nilai seperti kedisplinan, kesabaran, saling mengahargai dan sebagainya tidak hanya lagi sebatas tiori dan ceramah agama saja atau bacaan teksbook saja, namun sudah terintengrasi menjadi tingkah laku yang sudah dipraktekka puluhan tahun, sehingga sudah menjadi budaya, bahkan peradaban. Dan inilah salah satu penyebab Negara-negara sperti Australia dan Amerika maju dibandingkan Negara-negara seperti Indonesia yang meskipun secara KTP penduduknya banyak yang beragama Islam.

Bagi Negara maju, meskipun Cuma lewat tulisan yang namanya kebenaran tetap kebenaran dan mereka patuh. Meskipun masyarakat sekuler seperti Australia sekalipun percaya bahwa kebenaran itu datanganya dari tuhan, meskipun hanya lewat tulisan. Makanya saya menyebutnya, ada tangan tuhan dalam tulisan!

Semoga anda bisa mengambil poin yang ingin saya sampaikan.

Group Picture dengan Tim di Center for Dialogue di La Trobe University.
Photo diabadikan tanggal 12 Juni 2012.

[Episode 19_Note for MEP Australia] Tangan Tuhan di Australia

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis, 14 Juni 2012 III 21.52 Waktu Australia

Photo diabadikan Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Universitas Melbourne.
Hari ini saya dan kawan-kawan mendapat kesempatan berkunjung ke Southern Migrant and Refugee Center (MRC) sebagai agenda terakhir hari keempat ini tanggal 14 Juni 2012. MRC adalah lembaga yang memberikan pelayanan kepada immigrant, pengungsi, dan pencari suaka dari luar negeri ke Australia. Melalui MRC, baik immigrant, pengungsi, dan pencari suaka bisa mendapatkan perlindungan, pekerjaan, life-skilled trainings, pelatihan bahasa, sampai dengan mendapatkan legalitas sebagai orang Australia.

Saya baru mengetahui kalau Australia memiliki lembaga seperti MRC. Hal ini tidak hanya masalah kemanusiaan tetapi juga masalah persaudaraan, dan agama. Bayangkan saja, suatu Negara yang lagi dilanda perang seperti Syiria sekarang pasti sangat membutuhkan bantuan Negara luar untuk mau menampung mereka. atau ketika perang di Irak, Afghanistan, Vietnam, Pakistan, dan tempat-tempat lain, sangat banyak yang ditampung di Australia. dan Disamping itu, juga masih banyak Negara-negara miskin di Afrika, bahkan Asia yang membutuhkan bantuan seperti apa yang ditawarkan oleh Australia.

Akhir Juni lalu, banyak media yang memberitakan tragedi di Pulau Chrismas dimana pencari suaka dari Srilangka yang hendak berlayar ke Australia, di dalam perjalanan, kapal mereka rusak, akibatnya 17 orang dari 150 penumpang meninggal.(edited ketika posting)

Menurut presentasi Bill Collopy yang bertanggung jawab sebagai Client Service Manager di Southern MRC bahwa ada banyak lembaga sejenis MRC di dunia, namun dia belum melihat lembaga yang sama di Indonesia. Untuk MRC Southern sendiri sudah memberikan banyak sekali layanan baik kepada imigran, pengungsi, maupun pencari suaka dari berbagai Negara.

Menurut data tahun 2007-2012 di MRC, jumlah pengungsi (refugee) tertinggi yang mencari suaka ke Australia, khususnya ke Southern berasal dari Afghanistan, dengan total 2.407 orang. Disusul Srilangka 421, Burma 352, dan masih banyak negara-negara lain yang menjadikan Australia sebagai tempat mencari perlindungan. tidak hanya perlindungan keamanan, tapi juga kesejahteraan dan hidup yang layak.

Group Picture dengan Football United di Sydey.
Football United diinisiasi oleh University of New South Wales, Sydney.
Banyak siswa mereka adalah anak-anak imigran atau pengungsi dari berbagai negara.
Photo diabadikan oleh Assmaah Helal, Community Coordinator Football United tanggal 22 Juni 201. 
Menariknya belum ada satupun dari Indonesia yang pindah ke Southern baik sebagai imigran, pencari suaka, maupun pengungsi. Mungkin disatu sisi kita bangga karena tidak ada orang kita yang pindah ke Australia dengan alasan pencari suaka, mengungsi, maupun imigran. Namun disisi lain, perlu kita akui bahwa masih banyak masyarakat kita yang membutuhkan layanan-layanan seperti yang dilakukan oleh MRC.

Terlepas dari Alasan-alasan politik dan efek negatif lainnya, apa yang dilakukan oleh Australia perlu kita apresiasi. Kondisi yang kontradiktif terjadi di Indonesia, masih sangat segar di dalam ingatan saya ketika pencari suaka pada awal tahun 2012 lalu dari Myanmar datang ke Aceh, tidak diterima dan justru dikembalikan ke negara asalnya.

Seharusnya pemerintah kita belajar banyak kepada Australia, terutama dalam kontek menangani kemiskinan, putus sekolah, pengangguran, dan sebagainya. Mungkin kita belum sanggup untuk memberi bantuan orang dari luar, namun setidaknya kita harus mampun memberikan kesejahteraan, keaamanan, kenyamanan, kesehatan untuk orang Indonesia sendiri. Namun sayangnya justru miris sekali.

Pelajaran penting bagi saya dan anda dalam catatan kali adalah untuk tidak pernah berhenti memberi. Memberikan yang terbaik untuk komunitas kita setidaknya, kalaupun tidak sanggup untuk melakukan yang lebih luas. Atau kalaupun tidak, setidaknya untuk diri kita sendiri dengan menjadi warga Negara yang baik. Karena prinspinya adalah “kalau anda bukan bagian dari solusi, berarti anda adalah bagian dari masalah”.

Memberi dalam Islam justru bukan membuat apa yang kita miliki menjadi berkurang, justru sebaliknya akan terus bertambah. Susah memang untuk dirasionalkan stetemen seperti itu, namun percayalah bahwa Allah itu maha mengkehendaki dan membari. Kalau di Australia saja ada tangan tuhan, kenapa di Indonesia tidak?

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Lembaga NGO yang memiliki misi kemanusiaan, RED R.
Organisasi ini juga datang ke Aceh ketika dalam proses recovery, rehabilitasi, dan rekontruksi Aceh
pasca Gempa dan Tsunami tahun 2004.
Photo diabadikan Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton, Melbourne.

[Episode 18_Note for MEP Australia] It’s not about WHAT, but WHY

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis, 14 Juni 2012 // 18.53 Melbourne Time

Photo diabadikan oleh Mas Zainal ketika mengunjungi
Islamic School di Coburg, Melbourne tanggal 14 Juni 2012.

Memasuki hari keempat program Muslim Exchange saya di Melbourne, tampaknya semakin menyenangkan dan menarik. Terasa waktu begitu cepat berlalu. Mungkin karena disebabkan dengan interaksi dengan banyak orang, melakukan banyak kegiatan, berjumpa dengan orang berbeda di tempat yang berbeda, mungkin itulah yang menyebab tidak bosan sehingga berkesan begitu cepat berlalu waktunya.

Kamis 14 Juni 2012 hari ini, kami mengunjungi sebuah sekolah Islam di Australia, namanya Australian International Academy (AIC). Ada dua kampus AIC di Melbourne, pertama Melbourne Senior Campus untuk umur diatas 12 tahun, sedangkan untuk umur dibawah 12 tahun belajar di King Khalid Coburg Campus. Kami berkunjung ke King Khalid Coburg tadi pagi. 

Suasana belajar yang terganggu dengan kunjungan kami ke kelas mereka.
Photo ini diambil tanggal 14 Juni 2012 ketika berkunjung ke King Khalid Coburg Campus di Melbourne.
Ini adalah salah satu akademi Islam terbaik berstandar international yang ada di Australia. Kalau di Senior Campus, pelajarnya tidak hanya beragama Islam tapi juga dari agama-agama lainnya. Namun kalau di King Khalid Coburg siswanya saat ini 100% masih berasal dari keluarga Islam.

Menariknya AIC mempunyai hubungan sangat baik dengan sekolah-sekolah lainnya seperti Korowa Anglican Girl’s School yang saling bertukar kunjungan, informasi dan sebagainya. Hebatnya lagi, kualitas AIC tidak kalah dengan sekolah-sekolah lainnya, bahkan mereka berstandar international. Buktinya sekolah mereka ada juga di Abu Dhabi dan juga di Sydney.

Dalam proses diskusi tadi, saya bersama peserta lainnya berinteraksi dan berdiskusi banyak hal dengan kepala sekolah dan guru serta staff yang ada di AIC. Mereka sangat ramah-ramah, dan guru wanitanya sangat cantik. Hidung mereka sangat mancung. Senyumannya menawan banget. Tapi Saya menduga semuanya sudah menikah. He………………kasian deh loe!!!

Dari sekian banyak isu dan topic yang kita diskusikan, kita bicarakan masalah proses belajar-mengajarnya. Dalam proses belajar-mengajar, AIC  banyak melakukan inovasi-inovasi baru. Menghafal bukanlah cara baik dalam proses belajar mengajar menurut keterangan kepala sekolah AIC.

AIC membuat siswa untuk berpikir kritis bukan menjadi robot dengan menghafal rumus-rumus. Tidak ada gunanya siswa mengetahui apa pendapat professor ini, apa rumus ini, apa masalahnya, apa penyebabnya, apa…apa..apa….dan apa….

Salah seorang Guru sedang memandu siswa/i berdo’a.
Photo diambil ketika berkunjung ke Australia International Academy of Education di Melbourne.
Tapi AIC selalu mengajarkan siswanya untuk untuk berpikir kritis dan selalu bertanya, sehingga mereka akan terus belajar dan mengekplorasi secara mendalam terhadap sesuatu hal. Kenapa matahari terbenam dan terbit pada waktunya? Kenapa tanah bisa menghidupkan tumbuhan? Kenapa manusia bisa menemukan computer? Kenapa kita disuruh bersabar? Kenapa kita harus disiplin? Kenapa..kenapa..kenapa..dan kenapa????….bagi mereka it’s not about WHAT but about WHY???

Sehingga dampaknya, anak-anaknya sangat kritis, percaya diri dengan apa yang mereka ketahui, karena mereka mencarinya sendiri dari membaca buku, meniliti, bertanya, dan berbagai eksplorasi lainnya. Artinya mereka tidah hanya menerima dari gurunya dan mencatat difenisi dari buku untuk kemudian dihafal. Karena itulah, mereka percaya banget dengan kemampuan mereka, tidak malu-malu ketika disuruh kedepan, tidak malu takut salah, tidak malu ketika diminta menjawab pertanyaan, dan sebagainya.

Salah Satu ruangan yang ada di dalam Pustaka.
Photo diambile tanggal 14 Juni 2012 di King Khalid Coburg Campus.
Poin penting bagi saya dan anda semua dalam catatn kali ini adalah untuk mengobah pola pikir kita. Mind-set bahwa siswa yang banyak hafalan rumus matematika itu pandai ada baiknya kita ubah secara perlahan-lahan. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa menghafal itu salah, tapi untuk tidak mendewakan hafalan adalah jalan pintar itu menjadi poinnya.

Semoga bermanfaat!

Salah seorang guru King Khalid Coburg Campus sedang memandu tour kami.
Photo diabadikan tanggal 14 Juni 2012.

[Episode 17_Note for MEP Australia] Ketika Teh, Kopi, dan Susu bercampur dalam 1 Gelas!

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis 14 Juni 2012 // 00.02 Melbourne Time

Background photo adalah Cathedral di Melbourne.
Photo diabadikan Mas Zainal tanggal 13 Juni 2012.
Salah satu kunjugan kami pada hari ketiga tanggal 13 Juni 2012 adalah mengunjungi dan berdiskusi dengan Perkumpulan ummat dari 3 agama yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam atau dalam bahasa Inggris Australia dikenal dengan Jewish Christian Muslim Association (JCMA). Dalam kesempatan ini, JCMA diwakili oleh 1 orang dari masing-masing agama. Dari Kristen ada David Schutz, Yahudi dan Islam saya gak ingat nama mereka…it’s my bad to remember names…Pertemuan tersebut berlangsung di Cardinal Knox Center, Catholic Archdiocese of Melbourne. Bagi saya pertemuan ini sangat menarik, karena saya baru tau kalau ada asosiasi  antar 3 ummat beragama seperti ini.
Menurut presentasi ketiga perwakilan tersebut, hampir tidak ada masalah dalam organsasi mereka. mereka menjadi sangat harmonis sekali. Banyak hal yang sudah mereka lakukan bersama, mereka tinggal bersama di Victoria, dan bekerja bersama-sama. Dan itu semua berlangsung dengan aman, nyaman, saling menghargai, dengan implementasi nilai-nilai toleransi yang bagus.

Hal tersebut tidak terlepas dari kontribusi asosiasi antar 3 agama yang dominan tersebut di Melboune. Ada banyak program dan kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh JCMA. Ada konferensi musim dingin (winter conference), Women’s conference, school program, seminars, dan  public statement.

Dalam diskusi tadi, mereka juga mengakui bahwa ada tantangan memang dalam prakteknya di JCMA, namun mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan baik lewat dialog, komunikasi,  saling memahami dan menghargai…..dan itulah yang esensi adanya wadah seperti JCMA ini. Dan menariknya ternyata organisasi perkumpulan antar ummat beragama sejenis ini hanya ada di Victoria Melbourne, tidak ada di Negara bagian lainnya di Ausralia.

Ada pelajaran menarik yang mungkin bisa berguna buat anda, terutama buat saya. Saya belajar bahwa pendekata-pendekatan yang lembut (soft) jauh lebih baik daripada kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Sebagai Ummat Islam Indonesia yang menyoritas, seyogianya kita harus lebih membuka diri dan menerima perbedaan-perbedaan tersebut.

Adam dan David Schutz (Sekretaris JCMA). Setelah pertemuan dengan JCMA,
David memandu kami dalam Cathedral-Tour di Melbourne tanggal 13 Juni 2012.
Kalau saja ummat Muslim di Victoria tidak mau bergabung dengan asosiasi seperti ini, saya yakin pasti akan ada banyak masalah di lapangan yang akan dialami. Pasti ummat muslim Victoria sadar bahwa secara idiologi dan ajaran agama banyak sekali perbedaan antara ketiga ummat agama tersebut, namun mereka juga sadar bahwa cara terbaik untuk menjelaskan kebenaran yang mereka imani tersebut adalah dengan cara mendekati mereka bukan malah menjauhinya.Memang akan aneh bagi anda mungkin apabila ada perkumpulan seperti ini. Bayangkan saja, terkadang dalam keluarga, antara ayah dan ibu sulit memutuskan tujuan liburan karena mereka saling punya interest pribadi, sang ayah tertarik kelaut, sedangkan ibu suka belanja keluar negeri. Karena saling berdebat, akhirnya sang anak mengambil alih pengambilan keputusannya. Karena kangen kakek nenek, akhirnya sang anak memilih pulang kampong saja untuk liburan sekalian jenguk kakek-nenek.

Artinya dalam keluarga saja ada konflik ketika ada 2 kepetingan dalam mengambil sebuah keputusan. Lantas bagaimana lagi dengan urusan agama. Mungkin saja ibarat mengabungkan antara kopi, teh, dan susu dalam satu gelas pada saat bersamanya. Yang dominan, pasti akan merubah warna air dalam gelas tersebut. Namun itulah kelebihan IJCM, mereka tidak ada yang dominan, semuanya sama, dan mereka menerapkan nilai-nilai toleransi, pluraslisme, saling menghargai, saling mengerti, dan itulah yang membuat mereka survive dan memberikan banyak kontribusi. Intinya….Australia tidak punya Kemetrian Agama, tapi kerukunan Agama tetap terbangun dengan baik dalam prakteknya. Nah Kita???

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan Perwakilan KCMA.
Photo dibadikan pada tanggal 13 Juni 2012 di salah pintu exit Cathedral.

[Episode 16_Note for MEP Australia] Ketika Presiden Meminta Ma’af

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 23.07 Melbourne Time

Photo diabadikan oleh Mas Ridha tanggal 22 Juni 2012 di Sydney.

Meskipun pertemuan dengan Prof Tim Lindsey sangat singkat pada hari ketiga, hari Rabu tanggal 13 Juni 2012, namun banyak informasi dan pengetahun yang akan menjadi pengalaman berharga buat saya dan mungkin juga peserta Muslim Exchange Program  lainnya.

Menurut Prof Tim, disatu sisi Australia memang termasuk Negara barat yang sekuler namun sukses dalam memberi perlindungan kepada warganya dalam bidang agama atau kepercayaan. Australia adalah Negara yang paling multi kultur, multi etnis, multi bahasa, dan dan multi agama. Saat ini Penduduk Australia lebih dari 22 Juta jiwa, ada lebih dari 300  bahasa yang mereka tuturkan, dan 200 negara lebih dimana imigran berasal.

Selain Aborigin, semua penduduk Australia saat ini adalah pendatang atau imigran. Karenanya tidak heran kalau di Australia ada puluhan kepercayaan, ratusan bahasa dan penduduknya berasal dar ratusan Negara yang berbeda.

Salah satu manfaatnya mungkin Australia kaya denga budayanya yang beragam, makanannya yang serba ada. Ngomong-ngomong soal makanan, di Melbourne saja setidaknya ada 5 restauran berbau Indonesia yang saya jumpai. Ada Bali Bagus, Es Teler, Warung Minang, dan kawan-kawanya. Namun yang aneh, akibat terlalu banyak pendatang, susah bagi saya untuk menemukan khas asli Australia. Contoh kecilnya, ketika saya tanya, apa makanan khas Australia?. Mereka  bingung untuk menjawabnya, karena makanan-makan disana bukan asli dari Australia, tapi dibawa oleh pendatang atau imgrant.

Hebatnya, Australia mampu mempertahankan keharmonisan dan kerukunan antar umat agama tersebut yang begitu beragam dari segi budaya, pendidikan, strata sosial, gaya hidup, bahasa, dan sebagainya. Dalam konteks mempertahakan keharmonisan multi agama dan multi kulturisme, beberapa Negara Eropa, bahkan Amerika sendiri harus banyak belajar kepada Australia menurut saya.

Australia adalah Negara paling toleransi dan pluralism. Saya ingat dengan kata Eeqbal bahwa yang membuat mereka bisa tentram adalah Freedom. Artinya kebebasan absolute yang diberikan oleh Negara kepada warganya Australia benar-benar dipergunakan pada tempatnya, tidak disalah gunakan ketika kebebasan absolute ada ditangan. Ini menjadi penting bagi kita bangsa Indonesia.

Ini adalah salah satu ruangan di Pusat Pelayanan Masyarakat Aborigin di Shepparton.
Photo diambil Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Namun disisi lain, Prof Tim Lindsey merasa sangat sedih dengan Pemerintah Australia. Pemerintah Australia baik di Negara bagian maupun pemerintah pusat tidak memberikan dan memenuhi hak-hak kaum Aborigin sebagaimana yang mereka janjikan. Bangsa Aborigin sebagai penduduk asli Australia memeliki hak prerogatif untuk mendapat layanan lebih dari pemerintah, terutama dalam memiliki tanah.

Namun selama berpuluh tahun hak tersebut tidak dipenuhi oleh pemerintah, bahkan banyak tanah-tanah orang Aborigin dikausai oleh pemerintah, atau perusahaan untuk dibangun supermarket, mall, pabrik, dan sebagainya. Bagi masyarakat Aborigin, tanah adalah identitas sekaligus harga diri. bahkan seperti dibakar al-qur’an bagi kaum Muslim apabila tanah mereka dirampas.  Begitu menurut ketengan Prof Tim.

Dan baru hanya 6 tahun lalu ketika Cavin Rudd menjadi Perdana Menteri Australia meminta maaf kepada kaum aborigin atas penderitaan yang mereka alami selama puluhan tahun. Tepatnya, 13 Febuari 2008 yang lalu Cavin Rudd berjanji untuk memenuhi apa yang mereka minta dahulunya. Sekarang tanggal 13 Febuary 2008 itu diabadikan dan menjadi sejarah. Saya pernah masuk ke Museum benda-benda Aborigin di Melbourne, Saya lihat di kaus-kaus tanggal tersebut diabadikan.

Saya tidak tau banyak tentang kaum aborigin, apalagi ketidakadilan pemerintah terhadap mereka, namun kerendahan hati seorang perdana Menteri, Cavin Rudd untuk meminta ma’af adalah sesuatu yang sangat mulia bagi saya.

Dengan besar hati, Rudd meminta maaf kepada masyarakat Aborigin. Dan proses permintaan ma’af tersebut diliput oleh berbagai media. Menurut curhat Prof Tim Lindsey, banyak masyarakat Aborigin yang menangis terharu, bahkan juga para immigrant.

Wajar mereka terharu, karena ketidakadilan tersebut sudah dilakukan oleh  banyak rezim pemerintah sebelumnya. Bangsa Aborigin sudah lelah memperjuangkannya. Secara persentasepun, masyarakat Aborigin tidak sebanding dengan apra imigran yang sudah menjadi penduduk Australia sekarang. Dan secercah harapan baru itu, lahir dari tangan Rudd bersama pemerintahannya.

Ini adalah ruang tunggu pusat pelayanan masyarakat Aborigin, Rumbalara Aboriginal Co-Operative Ltd.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Pelajaran penting bagi saya dan anda narablog, pembaca, netters kali ini adalah sikap meminta ma’af. Terkadang terlalu sering kita merasa malu apabila meminta ma’af. Ada masyarakat kelas atas, merasa turun strata sosial dan harga dirinya apabila harus meminta ma’af kepada masyarakat miskin yang sudah dibuatnya terluka.

Tidak hanya itu, ada guru yang tidak berani meminta maaf kepada muridnya karena sudah melakukan kesalahan. Boro2 kita mengharapkan pemerintah meminta maaf kepada rakyatnya, terkadang ada orangtua yang tidak mau meminta ma’f kepada anaknya karena tidak memenuhi janjinya membeli hadiah. Singkatnya, kalau Cavin Rudd yang tidak belajar Islam saja bisa meminta maaf, kenapa kita tidak???

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan salah satu generasi penerus Aborigin (2 Kiri).
Beliau adalah salah Anggota Committee Rumbalara Aboriginal Co-Operative Ltd .
Rumbalara adalah Pusat Pelayanan Masyarakat Aborigin seperti Kesehatan, Orang Cacat, dsb.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton.

[Episode 15_Note for MEP Australia] Indonesia-Australia dimata Prof. Tim Lindsey

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu, 13 Juni 2012 // 22.31 Melbourne Time.

Photo diabadikan oleh Mas Zainal pada tanggal 15 Juni 2012 di Kampus Melbourne.
Dalam kunjugan hari ketiga kami bertemu dengan Prof. Tim Lindsey. Menjadi sebuah keburuntungan bagi kami karena bisa bertemu dengan beliau. Prof Tim adalah salah satu Chairman Australia Indonesia-Institute (AII) Kementrian Luar Negeri Australia. Saat ini beliau mengajar di Fakultas Hukum Universitas Melbourne. Indonesia sudah menjadi Negara kedua bagi Tim karena Istrinya adalah orang sunda.

Prof Tim mempunyai pengetahuan dan informasi tentang Indonesia yang mungkin orang Indonesia sendiri tidak memilikinya seperti yang dia punya. Dia tau syariat Islam di Aceh, dia tau system politik Indonesia, dia tau system keamanan pemerintah Indonesia, budaya korupsi, kualitas pendidikan, korupsi, makanan, wisata, dan masih banyak lagi yang dia tau tentang Indonesia.

Dalam diskusi yang sangat singkat tadi siang, kami saling berbagi informasi dan ide yang banyak antara Indonesia dan Australia dari berbagai aspek. Karena Prof Tim konsentrasinya di bidang hukum, tentu saja pembicaraannya lebih mengalir ke arah penerapan hukum, politik, DPR, aparat penegak hukum, dan sejenisnya.

Menurut Prof. Tim ada kesamaan antara Indonesia dan Australia dalam banyak hal:
Pertama, dalam kontek politik, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki multi partai dan demokrasi terbuka.

Kedua, Indonesia dan Australia adalah Negara yang begitu kaya dari segi  budaya, bahasa, makanan, etnik, dan agama.

Ketiga, Indonesia dan Australia sama-sama menghargai toleransi dan pluralism.

Namun Prof Tim juga tidak manafikan, antara Indonesia dan Australia sama-sama memiliki kekurangan dalam kontek toleransi dan pluralism. Kalau Indonesia sering terjadi konflik antar agama, sedangkan di Australia kekurangannya adalah dalam pemenuhan hak-hak kaum Aborigin.

Meskipun demikian, menurut Prof Tim ada perbedaan signifikan antara Indonesia dan Australia dalam kontek pluralism, toleransi, multikunturalisme dan multi agama. Australia boleh dibilang sangat sukses dalam memberikan perlindungan dan kebebasana antara ummat beragama. Bahkan hamper sama sekali tidak ada konflik agama di Australia.

Mbak Mila (4 dari kiri), Mbak Angky (3 dari kiri) , Mas Wawan (5 dari kiri) , Mas Tony (1 kiri),
dan Peserta MEP diabadikan keceriaannya oleh Mas SidQie
ketika berkunjung ke Kyabram Fauna Park di Shepparton tanggal 17 Juni 2012.
Namun Prof Tim mengingatkan kami untuk tidak melupakan bahwa Australia sudah menjalankan system demokrasi selama 111 tahun sehingga membuat nilai-nilai demokrasi, termasuk kebebasan berama didalamnya, semakin membaik dalam tataran prakteknya. Sedangkan Demokrasi di Indonesia baru dimulai paska reformasi 1998, dan baru berumur 13 tahun.

Kalau diumpamakan, masih seperti bayi yang baru belajar di Sekolah Dasar. Artinya masih terlalu muda untuk mengharapkan ada banyak perubahan dan penanaman nilai-nilai demokrasi.

Poin penting yang mungkin bisa menjadi pelajara bagi saya dan anda adalah untuk tidak terlalu egois dalam mengharapkan adanya perubahan. Harus kita akui memang, banyak masalah yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia, korupsi, penegakan hukum, partai politik, good-will pemerintah, pendidikan, kestabilan ekonomi, kondisi politik, dan sejenisnya masih menjadi masalah-masalah besar di Negara kita.

Namun kita harus optimis bahwa kita sedang berjalan dan it’s on the process. Sebagai generasi muda seperti saya, dan bangsa Indonesia yang baik, mari sama-sama kita ciptakan perubahan. Sangat egois rasanya, apabila kita menyerahkan semua tanggung jawab ini pada pemerintah baik yang ada di legislative, eksekutif, maupun yudikatif. Namun mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, ayao berikat yang terbaik, meskipun small, but it’s big ketika kita lakukan bareng-bareng.

Meminjam ungkapan Aa Gym, Mulai dari Kecil, Mulai dari Sekarang, Mulai dari Kita. Mau???

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Prof. Tim Lindsey di Kantornya di Univeristy of Melbourne
tanggal 13 Juni 2012.

[Episode 14_Note for MEP Australia] Membangun tanpa Merusak

Written in:
Darling Towers Melbourne
Rabu, 13 Juni 2012 // 21. 57 Melbourne Time.

Photo ini diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di University of Melbourne.
Saya sudah melewati program Muslim Exchange ini sampai dengan hari ketiga, tanggal 14 Juni 2012. Saya bersama teman-teman lainnya akan berada di Melbourne sampai dengan hari minggu pagi 17 Juni 2012 sebelum bergerak ke Shapparton, Canberra dan Sydney.

Di hari ketiga ini, kita melakukan banyak kunjungan dan berinteraksi dengan banyak stake holder. Ada Prof. Tim Limsey dari Universitas Melbourne, perwakilan-perwakilan dari asosiasi Katolik, Kristen, dan Islam di Melbourne, dan juga makan malam dengan para seniman dari Islamic Museum of Australia.

Setelah berkeliling State Library of Victoria di pusat kota Melbourne, Dr. Eeqbal membawa kami ke salah satu pusat pembelajaan yang ada di Kota Melbourne. Eeqbal membawa kami keliling dan ketika berada di dalam gedung pusat belanja tersebut, saya sangat tercengan dan terkesima.

Ada sebuah bangunan tua yang masih utuh. Menurut keterangan Eeqbal itu dulunya bangunan tua yang umurnya sudah ratusan tahun.  Ketika dibangun yang baru, bangunan tua tersebut tidak dirusak atau dihilangkan.

Bangunan tersebut sekarang dijadikan sebagai Museum yang diberinama Shot Tower Museum sebagai salah satu bukti sejarah penting bagi masyarakat Melbourne dan Australia mungkin. Karena bangunannya sudah dibangun pada tahun 1800-an, sedangkan yang baru dibangun sekitar tahun 1990-an.

Bagi saya ini menjadi menarik dan memberikan pelajaran tersendiri. Saya menilai bahwa ini menunjukkan betapa mereka mengharagai sejarah dan mengapresiasi suatu karya. Ketika yang baru dibangun, yang lama tidak dirobohkan.

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini juga bisa kita kaitkan dengan banyak hal. Sebagai contoh, kalau ada anak kampung yang belajar ke kota atau bahkan keluar negeri, sering mereka terpengaruhi dengan kehidupan di luar negeri yang mungkin lebih modern. Mulai dari cara berpakain, makannya, sampai dengan bahasanya.

Ketika dia pulang ke daerah asal, dia sudah lupa dengan identitas dan kebudayaannya, akibatnya dia susah untuk beradapsi atau bahkan akan ada resistensi dari lingkungannya sendiri.

Mbak Mila Sudarsono Director Program MEP) dan Mbak Angky (kaca mata) dari Kedutaan Australia Jakarta.
Photo diabadikan oleh Mas Zainal pada tanggal 23 Juni 2012 di Manly Beach Sydney.
Contoh lainnya dapat kita singgung dalam pengamalan agama. Ketika kita mengikuti aliran-aliran modernism, secara total ajaran-ajaran konservatif ditinggalkan. Padahal ada juga yang benar diantara ajaran tersebut, bahkan tidak sedikit moderat mengadopsi dari konservatif.

Intinya yang ingin saya sampaikan bahwa tidah seharusnya kita harus meninggalkan yang lama secara mutlak ketika yang baru datang dan lebih menggiurkan. Ada baiknya kita buat banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk meninggalkan yang lama. Karena prinsipnya membangun tidak harus merusak. Dan itu pelajaran penting bagi anda Saya dan anda kali ini.

Semoga Bermanfaat ya !!!

Welcome Dinner dengan Anggota Badan Islamic Council of Victoria and Muslim Community Leaders.
Di Sawasdee Thai Restaurant Melbourne Tanggal 12 Juni 2012.