[Episode 13_Note for MEP Australia] Berda’wah di Gereja

Written in:
Darling Towers, Melbourne
13 Juni 2012 // 3.21 Melbourne Time

Adam sedang menikmati keindahan danau yang ada di Shepparton.
Foto diambil oleh Lusi pada tanggal 17 Juni 2012.
Dari 3 agenda pada hari kedua ini tanggal 12 Juni 2012, kunjungan yang ketiga sangat memberikan nilai yang luar biasa bagi saya. setelah selesai dari La Trobe University, kami mengunjungi Prof. Ismail Albayrak di Universitas Katolik Australia.

Prof. Ismail adalah Fathullah Gulen Chair in the Study of Islam and Muslim-Catholic Relations di Fakultas Theology and Philosophy di Australian Catholic University, Melbourne. Bagi saya ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu, berdiskusi langsung dengan Professor yang “berda’wah” kepada mahasiswa-mahasiswa yang beragama Katolik.  Beliau sangat ramah, atensinya sangat penuh ketika kita diskusi, sangat menghargai pendapat, dan murah senyum. Bicara soal kompetensi, sudah pasti tidak diragukan lagi.

Sudah menjadi biasa apabila kita melihat ada Ustad yang berceramah di Mesjid dan Menasah, Dosen mengajar di STAIN, IAIN, UIN, atau ITB, UI, UGM, dan sejenisnya, namun yang ini sungguh berbeda, Prof Ismail mengajar tentang Islam di pusat katolik dimana salah satu out-putnya adalah menciptakan pendeta/pastur.

Adam dan Prof. Ismail Albayrak saat mengunjungi kantornya di Australian Catholic University.
Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 12 Juni 2012.
Tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri bagi Professor Ismail, namun Alhamdulillah dia malah mendapat tempat penting di Universitas tersebut. Bagi saya inilah praktek toleransime yang sesungguhnya. Tidak ada diskriminasi sedikitpun menurut testimony Pak Prof. dan inilah esensi dari nilai-nilai pluralism dan toleransi itu sendiri.

Kalau kita bisa mengajar Agama di surau, balai atau pesantren dan dayah sudah sombong dan mengaggap kita paling taat dan baik sehingga masyarakat harus patuh dengan apa yang kita katakan, namun coba lihatlah ketekunan, keuletan, kemampuan Profesor Ismail Albayrak yang berdakwah langsung di “rahim” dimana pendeta dan pastor dilahirkan. Karenanya tidak berlebihan, kalau saya menyebutkan “Berda’wah di Gereja”.

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan Prof. Ismail Albayrak pada tanggal 12 Juni 2012.
Ada Dr. Eeqbal Hassim yang menjadi host selama kami di Melbourne (1 kiri).

[Episode 12_Note for MEP Australia] Amanah Sukarno di Negeri Kangguru

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 03.02 Melbourne Time.

 

Adam berdiri photo disamping “Bali Memorial”.
Ada ukiran nama-nama yang nyawanya hilang pada saat Bom Bali.
Photo diambil oleh Lusi pada tanggal 15 Juni 2012.

Di hari kedua, kami memulai aktifitas dengan mengunjungi Musium Imigran terbesar yang terletak di Kota Melbourne. Setalah Eeqbal membayar kami 10 dolar Australia untuk setiap orang, kami langsung menulusuri semua ruang yang mempunyai tiga lantai tersebut.

Dari setiap ruang yang saya masuk, saya merasa seperti kembali pada masa abad lampau. Betapa tidak, semua barang yang saya lihat adalah barang-barang yang digunakan oleh para imigrasi yang datang ke Australia mulai ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.

Memang faktanya Australia adalah homelands of Migrant. Orang dari ratusan Negara berimigrasi ke Australia dari dahulunya. Dan ini juga yang membuat Australia begitu kaya dalam budaya dan bahasa, meskipun first language mereka adalah Bahasa Inggris.

Di ruang pertama, saya melihat koper zaman dahulu yang masih menggunakan belahan kayu tebal-tebal dan besar. Saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada sejumlah photo-photo ummat muslim yang berimigrasi ke Australia, selanjutnya saya melihat ada ratusan passport dari Negara-negara yang berbeda dipajang di salah satu ruang dalam museum tersebut.

Ketika saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada kapal laut yang dilengkapi dengan kasur, ruang rapat, jam, cangkir, goni-goni, dan sejenisnya dengan arsitektur yang membuat pengunjung seperti berada di jazam aslinya apalagi ditambah dengan audio-audio suara ombak, suara orang ikut rapat, anak nangis, dan sebagainya.  Menarikanya ada juga dokemntasi imigran Indonesia yang berasal dari Malang yang sudah menjadi penduduk permanent Australia semenjak tahun 1999.

Ada yang penting untuk kita pelajari dan anda para bloggers, netters, dan readers yaitu belajar untuk menghargai pentingnya sejarah. Sejarah penting untuk mengingat masa lalu dan untuk dijadikan kebanggaan sekaligus pelajaran pada sekarang untuk kemudian digunakan pada saat mendatang.

Banyak bukti, sejarah kita diotak-otik dan kita tidak punya dokumentasi dan data yang valid. Di Aceh misalkan, tidak ada cerita yang jelas tentang kisah perjuangan Cut Mutia, hanya 1 atau 2 orang yang bisa baca semua tulisan Persia yang ada di Nissan Sultan Malikussaleh, tidak sedikit generasi muda yang tidak ingat lagi kapan tsunami terjadi, dan sebagainya.

Akibat kekurangan pengetahuan dan bukti sejarah yang ada, akhirnya kita mudah dipengaruhi…sebagai contoh, sekarang hamper semua orang membenci PKI di Indonesia, namun berapa banyak yang tau tentang idiologi dan perkembangan PKI di Indonesia…resiko lainnya adalah sering orang mengatakan kalau anda ingin mengetahui tentang sejarah Indonesia, anda belajar ke Belanda. karena disana ada bukti-bukti fisik “Ke-Indonesiaan” terdahulu. Coba anda pikirkan dengan normal, apa gak tersentuh nasionalisme anda, kalau di Belanda ternyata lebih banyak bukti-bukti sejarah dibandingkan di Indonesia?

 
Dalam kondisi seperti itu, dilihat secara ekonomi, orang Belanda jelas mendapatkan manfaatnya. Semakin banyak yang datang, melihat, dan belajar kesana seperti peniliti, akan semakin banyak keuntungang yang mereka dapatkan. Dari sisi ekonomi-wisata juga bisa mengeruk banyak dolar, saya belum pernah ke Belanda, tapi asumsi saya, apabila kita ingin masuk ke Museum mereka pasti harus bayar atau beli tiket. sudah berapa tahun benda-benda Indonesia dipamerkan di Museum mereka? sudah berapa ribu bahkan jutaan orang yang datang dan melihatnya? sudah berapa juta tiket terjual? manfaat itu semua untuk Belanda…bukan Indonesia…belum lagi dari Prestis sebuah bangsa, Belanda juga secara tidak langsung juga masih menjajah Indonesia. Toh buktinya benda-benda itu tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia.
 
Tidak hanya itu, dalam kontek proses belajar mengajar, dengan adanya museum-museum yang menyimpan benda-benda penting sejarah, juga dapat dijadikan “alat” untuk mengajarkan sejarah tempo dulu kepada generasi muda, terutama pelajar. Ketika kami kunjungi Immigration Museum tersebut di Australia, ada ratusan anak-anak sekolah yang didampingi gurunya melakukan field-trip learning ke Museum. artinya dengan mereka mengharagai sejarah, manfaatnya tidak hanya secara ekonomi, menarik wisatawan, tetapi juga bisa menjadi tempat buat generasi selanjutnya belajar. luar biasa!!!
Dr. Eeqbal mengabadikan kunjungan kami Immigration Museum pada tanggal 12 Juni 2012.
Sebagai informasi saja, ketika saya berkunjung ke Amerika tahun 2010, saya juga melihat hal yang sama disana. Saya pernah mengunjungi Museum yang isinya cuma fossil binatang atau kerangka binatang yang sudah diawetkan. Saya pernah diajak ke Museum Perang Amerika. dan masih banyak lagi museum-museum yang ada disana.
 
Pertanyaannya sekarang, ada berapa banyak Museum di Indonesia? seberapa besar kita mengahargai sejarah? sebarapa penting, kisah-kisah perjuangan terdahulu buat kita sekarang? apakah kita pernah berpikir, bahwa kita hari ini berkat perjuangan dan rintisan mereka terdahulu?. Untuk binatang saja yang sampai hari ini masih ada keturunannya, tapi mereka tetap mengharganya. Bagaimana dengan ribuan nyawa manusia yang hilang dengan musibah alam, gempa dan tsunami di Aceh?. Semoga saja museum Tsunami di Banda Aceh dapat mencontohi apa yang mereka lakukan.(Ditambahkan pada saat posting)

Karenanya Sukarnoe yang begitu futuristik (berpikir ke depan) sudah berpesan kepada kita puluhan tahun lalu,,,,J.A.S.M.E.R.A.H…jangan sesekali melupakan sejarah. Namun sayangnya pesan tersebut tidak didengar oleh orang Indonesia, justru didengar oleh Kangguru di Australia!!!

Semoga Bermanfaat!

Ini adalah suasan jamuan Makan Malam dengan Consulate Jendral Indonesia di Melbourne.
Photo diabadikan tanggal 15 Juni 2012.

[Episode 11_Note for MEP Australia] Antara Minoritas dan Manyoritas

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 02.38 Melbourne Time

Photo diambil Mas Zainal di Melbourne University, tanggal 15 Juni 2012.
Hari kedua tanggal 12 Juni 2012, kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Center for Dialogue di La Trobe University. Pertama, saya pribadi sangat senang banget ke La Trobe karena karena bisa makan nasi buat makan siang. Meskipun itu nasi India..he………..dasar wong deso!!!

Untuk anda ketahui saja, ada 18 persen mahasiswa La Trobe University adalah Islam. Dan anda tau lagi, La Trobe mempunyai field of study Islamic Banking, dan hanya satu-satunya Universitas Australia yang memiliki jurusan tentang Perbankan Syariah. Fantastic (colek Mas Ridha..he….)!!!

Dalam perbicangan yang singkat sekitar 30 menit di ruang rapat Center for Dialogue, ada pernyataan menarik dari Dr. Sven Alexander Schottman sebagai Research Fellow di La Trobe University. Dia mengatakan bahwa, Kaum minoritas yang ada di Indonesia juga mengalami masalah yang sama dengan kaum minoritas di Australia.

Photo ini diambil oleh Mas SidQie dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke RED R
pada tanggal 18 Juni 2012.
Sebagai contoh, dia menyebutkan…betapa sulitnya sebuat komunitas Kristen untuk membagun gereja…tidak hanya masalah izin tapi masyarakatnya juga menolak. Hal yang sama juga dialami oleh masyarakat Muslim di Australia. Mereka juga sangat susah mendapatkan izin untuk membangun mesjid, tidak hanya itu, kalau tanah sudah dibeli, izin sudah dapat, tetangga yang ada dilokasi mesjid belum tentu mau terganggu dengan adanya mesjid disamping rumah dia. Mungkin saja suara azan, atau sering kumpulnya ummat muslim sehari 5 waktu minimal, Masalah parkir, dan sebagainya.

Karenanya menurut Sven menyebutkan bahwa dialog antar agama anda budaya tidak hanya cukup dilakukan oleh kaum-kaum minoritas di sebuah Negara tapi juga perlu dilakukan hal yang sama oleh kaum-kaum manyoritas itu sendiri.

Pelajaran penting bagi anda readers, netters, dan bloggers kali ini adalah bahwa kalau anda kepingin dihargai, maka menghargailah. Apabila anda tidak suka menunggu, usahakan untuk tepat waktu. Apabila anda sakit apabila dimadu, maka setialah kepada pasangan anda. Artinya hitam-putih itu selalu ada. Baik-buruk akan selalu berlaku.

Dalam kontek agama, ada baiknya mungkin kita tidak terlalu egois untuk menolak aturan-aturan yang mendiskrimasi ummat Islam di Perancis, apabila kita juga mendiskrimasi ummat agama lain di Negara kita sendiri. Kalau diskriminasi, kita balas dengan diskriminasi, terus apa bedanya dong antara kita ummat Islam dengan non-Islam?

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Prof. Abdullah Saeed (4 kanan), Dr. Michael Ewing (5 kanan)
setelah pertemuan di Sydney Myer Asia Center.
Photo diambil oleh Mas Wawan tanggal 15 Juni 2012.

[Episode 10_Note for MEP Australia] Teaching by Leading

Written in:
Darling Towers, Melbourne.
Rabu, 13 Juni 2012 // 02.07 Melbourne Time.
Photo diambil oleh Mas SidQie ketika sedang berlangsung pertemuan dengan Board of Imam Victoria
tanggal 16 Juni 2012.
Setelah tiba di rumah Eeqbal Hassiem dari Bandara pada hari pertama tanggal 11 Juni 2012 sekitar pukul 10 waktu Australia. Eeqbal dan Istrinya berdiskusi banyak hal dengan kami. Salah satu topic yang menjadi atensi penting kita adalah pola pendidikan.

Ada perbedaan signifikan antara pendidikan yang ada di Indonesia dan Australia yang mungkin bisa anda petik pelajarannya juga. Perbedaan utama itu ada seputar nilai (value) atau yang terkenal di Indonesia itu Pendidikan Berkarakter.

Perbedaanya ada pada proses belajar mengajar. Di Australia, peserta didik tidak diajarkan bahwa Agama ini atau itu mewajibkan makhluknya untuk berperillaku sabar, jujur, disiplin, tolerasi, saling membantu, dan sebagainya. Tetapi mereka mendidik siswa untuk BERPIKIR KENAPA mereka HARUS bersikap sabar di lampu lalu lintas misalkan, atau kenapa mereka harus berlaku jujur pada saat membeli barang yang tidak ada penjualnya, atau mengajarkan kenapa Islam menyuruh perempuan untuk menutup aurat.

Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, untuk kemudian berpikir secara kritis KENAPA mereka harus melakukan ini, kenapa mereka dilarang melakukan itu, kenapa mereka tidak dihalalkan makan binatang ini, kenapa haram makan itu, dan sejenisnya. Model pembelajaran seperti ini mereka menyebutnya Inquiry-Based Learning.

Selanjutnya, di sekolah juga terjadi interaksi yang sangat berbeda dengan di sekolah kita pada umumnya antara guru dan murid. Anak-anak dapat menegur guru setiap kali berjumpa tanpa rasa takut, bertanya apa saja meskipun tidak ada hubungannya dengan pelajaran atau tema yang mereka pelajari, konsultasi tugas atau PR, bahkan bisa memeluk gurunya.  Tidak hanya itu, dalam hal-hal tertentu, adakalanya pendidik belajar dari peserta didik, artinya tidak selamanya pendidik mendidik peserta didik. Ada saling tukar menukar informasi dan pengetahuan, dan inilah sebenarnya esensi dari Learning and Teaching Process atau Proses Belajar Mengajar.

Pelajara Penting bagi anda bloggers, readears, dan netters dalam catatan kali ini adalah pentingnya memberi contoh. Tidak akan berefek, apalagi dalam waktu yang lama, apabila anda mengajarkan kesabaran, apabila anda sendiri sering marah kalau ada anak-anak yang tidak bisa menghafal rumus matematika. Tidak akan elok kelihatannya pada saat anda mengajarkan anak jangan merokok, tapi anda sendiri merokok dalam ruangan kelas. Atau juga anda mengajarkan disiplin, tapi anda sering masuk telat dan keluar cepat.

Praktek seperti ini, tidak akan berlangsung lama, dan tidak mendidik siswa untuk berubah sampai kepada tingkah laku mereka. namun anda harus mendidik mereka dengan mempraktekkannya juga, akan sangat bagus kalau anda bisa memberi contoh lebih duluan sebelum anda mengajarjan peserta didik anda. Dan inilah yang saya sebut dengan Teaching by Leading.!

Photo di dekat Lake Burley Griffin, Canberra.
Photo diambil oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.
Dalam hal ini, Orang Terpengaruh No 1 di Dunia dalam buku Michael Hart, Rasulullah kita, Muhammad SAW mengajarkan dan menyebarkan agama Islam juga dengan memberikan contoh. Islam mengatakan bahwa “Muhammad itu diutuskan sebagai suri tauladan”. Dalam banyak kesempatan memang begitu prakteknya, Misalkan beliau membuang duri di Jalan, mengajarkan kesabaran dengan tidak membalas orang yang meludahinya atau yang ingin membunuhnya dengan pedang, mengajarkan keberanian pemimpin dengan selalu dibaris depan ketika berperang, dan pulang di baris belakang, dan Mengajarkan kedisiplinan dengan datang pertama ke Mesjid, dan masih banyak lagi tindakan-tindakan yang beliau lakukan itu menjadi teladan. Menurut saya, dalam kontek pendidikan, Rasulullah ingin mengajarkan kita bahwa Mengajar itu dengan memberi contoh terlebih dahulu. Again, teaching by leading.
Kondisi yang kontradiktif justru dipraktekkan oleh banyak orang di negeri kita dewasa ini. Misalkan Pemerintah, mengimbau Masyarakat Indonesia untuk cintai produk dalam negeri. Tapi pemerintah sendiri mulai dari tas, baju, hingga make upnya barang impor dari Paris. Suruh Rakyat konsumsi makanan traditional supaya meningkatkan pendapatan home-industry, tapi mereka makan fast-food yang pajaknya ke Amerika atau Israel. Suruh Rakyat mencintai lagu-lagu daerah dan nasional khas Indonesia, tapi mereka nonton jazz yang tiketnya 2.5 Juta/orang. Minta rakyat tingkatkan kepedulian terhadap sesama, saling menghargai, tapi DPR rapat di gedung rakyat yang LIVE berkelahi dan melempar botol aqua. Belum lagi kita bicara masalah Korupsi, kedisplinan, clean goverment, dan sebaginya. Masya Allah…masih banyak PR bangsa ini…dan ini menjadi tanggung jawab Saya, anda, dan kita semua, terutama generasi muda. !!! (Editing ketika posting)Semoga bermanfaat!

Dinner dengan Artist dari Islamic Museum of Australia and Muslim Artist
di La Paella Restaurant, Melbourne tanggal 23 Juni 2012.

[Episode 9_Note for MEP Australia]_Harapan Baru untuk Islam

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu, 13 Juni 2012 // 1.47 Melbourne Time

Photo diambil oleh Mas Ridha tangggal 22 Juni 2012 di Sydney.

Di hari pertama kemarin tiba di Melbourne, kami tidak melakukan banyak kegiatan. Setelah dijemput oleh Dr. Eeqbal Hassiem bersama dengan salah satu jasa travel Flemington Cars, Mr Anwar, kami menujur Rumah Bapak Eeqbal untuk Morning Tea sambil menunggu waktu untuk check-in ke Apartemen.

Hanya ada 1 agenda formal yang sudah dijadwalkan dalam program yang kami lakukan kemarin yaitu Intercultural, Interfaith, and Diversity Issues in Education. Kegiatan tersebut berlangsung di Islamic Council of Victoria, di West Melbourne. Diskusi itu hanya sekitar 2 Jam dari jam 15.30-17.30 waktu Australia. Antara Melbourne dan Jakarta, 3 jam perbedaan waktu dimana Australia lebih cepat dari Jakarta.

Ada banyak informasi penting yang disampaikan Eeqbal dalam pemaparannya. Dalam konteks pendidikan, setidaknya ada 2 hal utama yang akan dapat memperbaiki hubungan yang baik antara Australia dengan Muslim yang ada di Asia. Yaitu:

Pertama, Pemerintah Australia saat ini mewajibkan pelajar di Australia untuk belajar tentang Asia (Asian Studies). Asian Studies sudah menjadi kurikulum wajib setiap sekolah Australia. Ketika bicara Asia, agama salah satu aspek yang mereka pelajari, dan Islam mendapat slot tersendiri dalam hal ini.

Menurut Eeqbal, salah satu penyebab ketidak harmonisan antara Australia dengan Masyarakat Muslim adalah karena kekurangan pengetahuan tentang Islam dan Muslim sendiri, karenanya menurut Eeqbal, kurikulum ini akan menjadi awal yang baik untuk mereka tau tentang Islam tidak hanya apa yang mereka baca di Koran dan internet, ataupun nonton dari TV.

Kedua, semakin intensifnya diadakan dialog, seminar, atau konferensi tentang Interfait Understanding and Multiculturisme. Kegiatan-kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah, namun juga oleh NGO, komunitas ummat muslim, akademisi, peniliti, dan organisasi-organisasi keagamaan.

Dialog-dialog interfaith dan multi culture yang diadakan di Australia sangat konstruktif dan positif. Mereka tidak menyatakan bahwa ini salah atau itu benar. Seharusnya membenarkan agama sendiri, tidak dengan cara fanatic. Dan itulah ruh dialog yang menjadi fondasi dan filosofi di Australia. Karenanya tidak heran kalau makin banyak mu’allaf di Australia karena melihat penganut-penganutnya yang open-minded, toleransi, saling menghargai, ramah, saling mebantu, dan sebagainya. Hari ini (hari kedua) saya berjumpa dengan 3 orang mu’allaf, Lisa Tribuzia yang baru 3 bulan jadi mu’allaf, ada Struan Jones baru 1 bulan….dan ada Dr Seven Alexander Schottmann dari Center for Dialogue di La Trobe University.

Salah Satu Koordinator NGO RED R sedang memberi penjelasan kepada peserta MEP.
Photo diambil Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton.
Artinya mereka masuk Islam bukan karena mempelajari ayat-ayat alqur’an atau menghafal hadis, apalagi doktrinasisasi lewat ceramah-ceramah keagamaan namun lewat pengamalan nilai-nilai keIslaman itu sendiri oleh Muslim-Muslim yang ada di Australia sendiri. 

Tentu saja kedua hal tersebut patut kita sambut positif dan kita berikan dukungan. Sebagai ummat muslim yang baik, saya pikir membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi yang lebih kontruktif adalah suatu keniscayaan untuk memperbaiki hubungan antara Ummat Islam dan Non-Islam.

Ekstrimisme, fundamentalisme, dan fanatisme terbukti gagal dan tidak lagi seksi untuk kita jual dalam penyelesain konflik antar agama. Dalam konteks hubungan Indonesia dan Australia, hal ini akan menjadi modal yang sangat penting untuk memperbaiki hubungan antar kedua Negara mengingat populasi penduduk islam terbanyak di dunia itu adanya di Indonesia.

Untuk mengakhiri note kali ini, Saya ingin menuliskan statemen Eeqbal Hassiem, dia menyebutkan:
Everyone has story
Everyone has voice
And Everyone has right to be heard!

Semoga Bermanfaat!

Dr. Eeqbal Hassim ketika menjamu kami tiba hari pertama di Melbourne.
Ini adalah rumah beliau pada saat kami morning tea.

[Episode 8_Note for MEP Australia]_“Kantin Kejujuran” di Mesjid Melbourne

Written in:
Melbourne, 12 Juni 2012 // 23.15 Melbourne Time

Catatan:

Artikel di bawah ini awalnya saya kirimkan untuk Citizen Reporter ke Media Serambi Indonesia. Namun yang dimuat malah laporan saya berjudul “Merakyatnya DPR Australia” edisi 24 Juni 2012.

Lokasi photo ini di depan Darling Tower, Kota Melbourne, tempat kami nginap.
Photo diambil oleh Neng Elis pada tanggal 14 Juni 2012.

“Advanced Country does not need police”. Begitu salah satu ucapan Eeqbal Hassim, Ph. D dalam proses dialog di Islamic Victoria of Council (ICV) yang terletak di  sebelah barat Melbourne, Australia. 

Saya bersama empat delegasi lainnya dari seluruh Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia dalam program Pertukaran Tokoh Muda Muslim antara Indonesia dan Australia (Muslim Exchange Program). Program yang didanai oleh Autralia Indonesia Institute (AII) ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkunjung ke Australia selama 14 hari.

Kami mempunyai kesempatan untuk mengunjungi beberapa organisasi Islam, Perguruan Tinggi, Akademisi, NGO, Peniliti, Guru Besar, aktivis, dan bahkan organsisasi atau komuntias non-muslim di 4 kota Australia yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney mulai tanggal 11-24 Juni 2012.

Pada hari pertama kemarin tanggal 11 Juni 2012, kami mengikuti diskusi singkat dengan Dr.Eeqbal Hassim di salah satu Mesjid yang ada di Kota Melbourne. Dr. Eeqbal sehari-hari mengajar di Universitas Melbourne untuk bidang Asian Studies. Disamping itu, pria yang kelahiran Singapura ini juga sebagai salah satu pengurus Mesjid Islamic Council of Victoria (ICV).

Ada yang langsung menarik perhatian kami ketika memasuki ICV di ruang utama yaitu adanya minuman dan makanan yang berada persis di samping pintu masuk. Awalnya saya pikir, itu minuman buat tamu-tamu yang berkunjung. Kemudian Dr. Eeqbal menjelaskan kalau makanan dan minuman tersebut untuk dijual.

Menariknya tidak ada penjualnya yang berdiri dekat kulkas dan rak makanannya, jadi kalau kita mau membeli, silakan meletakkan uang di atas meja yang sudah disediakan. Untuk anda ketahui, tempat minuman tersebut tidak sama seperti minuman-minuman yang dijual di Bandara yang dikunci rapi memakai serta camera CCTV dan anda harus memasukkan koin untuk bisa mengambil minumannya. dan sebelum meninggalkan Melbourne, Saya sempat diajak sama Mas Reza ke Mesjid,namanya Melbourne Madinah. Reza menjadi relawan di Cumminity Center pada devisi Mercy Mission Madinah, dan you know waht ???ternyata mereka juga punyan layanan sejenis itu. (Edit ketika posting).

Photo tersebut diambil oleh Mas Zainal di ICV.

Dr. Eeqbal menyebutnya dengan Istilah “Honesty Canteen” atau kalau di Indonesia kita sering mengatakan Kantin Kejujuran. Ketika Indonesia demam dengan kantin kejujuran, banyak sekolah-sekolah di Aceh juga ikut membuat kantin dengan konsep yang sama. Ada sekolah yang melakukannya dengan sangat serius, ada juga hanya karena tidak ingin dikatangan enggak ikut zaman atau hanya sekedar ikut-ikutan. Akibatnya banyak kantin kejujuran tersebut tidak bertahan lama, bahkan tidak sedikit yang sudah gulung tikar.

Ketika kami bertanya kenapa kantin tersebut bisa bertahan lama?. Eeqbal menceritakan banyak hal berkenaan tentang kejujuran yang bisa kita ambil pelajarannya. Alumnus Universitas Melbourne tersebut menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, saling menghargai, dan sebagainya sudah tertransfer kedalam perilaku setiap orang di Australia, dan bahkan sudah menjadi budaya. Artinya tidak lagi sebatas tiori yang dipelajari dari buku atau guru agama di sekolah formal, tapi sudah masuk ketahap praktek dan menjadi sikap.

Sebagai salah satu contoh, Eeqbal menyebutkan di persimpangan jalan raya. Di jalan-jalan raya yang banyak pernyeberangannya seperti simpang 4, 5, bahkan lebih, anda tidak akan melihat adanya polisi lalu lintas. Para pengendara mobil pasti tidak akan menerobos jalan atau melanggar lalu lintas, meskipun tidak ada orang atau mobil yang melintas, bahkan di malam hari. Karenanya tidak berlebihan kalau dia mengatakan “Negara maju tidak butuh polisi lalu lintas di persimpangan (Advance country does not police)”.

Contoh lainnya, Eeqbal menyebutkan, apabila ada tulisan “Selling Apples” di sebuah kebun, kemudian apel tersebut diletakkan dalam sebuah tempat lengkap dengan harga perkilogramnya, kebanyakan pemiliknya tidak menjaga apel tersebut. Menurut dia, jarang sekali, bahkan hampir tidak ada pembeli yang tidak meletakkan uangnya sesuai dengan jumlah apel yang diambilnya.

Terlepas dari sisi-sisi negative lainya, praktek-praktek seperti inilah yang kadang membuat kita ummat Muslim di Indonesia, terutama di Aceh untuk berkaca kepada Negara-negara barat seperti Australia. Sebagai salah satu bukti bahwa kita belum kaffah mempraktekka apa yang diajarkan oleh Islam tentang kejujuran, misalkan masih banyak sandal atau motor yang hilang di Mesjid.

Sebagai informasi tambahan tentang ICV, banyak Masyarakat Muslim Melbourne menyebutnya sabagai City Mosque atau Mesjid Kota. Banyak tempat-tempat ibadah ummat Islam di Australia, seperti ICV tidak hanya difungsikan untuk shalat jama’ah harian atau shalat terawih dan lebaran saja namun juga difungsikan untuk berbagai kegiatan-kegiatan lainnya baik bersifat sosial maupun keagamaan.

Ada mesjid yang mempunyai pusat-pusat study untuk gender, multikulturalisme antar agama, dan interfaith dialogue, namun ada juga mesjid yang mempunyai tim sepakbola, renang, bahkan piano. dan itu bermanfaat juga untuk mempersatukan masyarakat yang multi etnik, budaya, kebangsaan, strata sosial, dan bahasa. Di Australia ada sekitar 40 persen penduduknya baragama Islam, menariknya 2,5 persen diantara mereka berasal dari Indonesia. Sedangkan Melbourne sendiri saat ini memiliki 12.000 Muslim dari lebih 100 negara yang berbeda.

Semoga Bermanfaat ya!!!

Group Picture dengan Ibu Marianne Hale dari Korowa Anglican Girls’ School di Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Wawan pada tanggal 14 Juni 2012.

[Episode 7_Note for MEP Australia]_Saatnya Menjadi Manusia Wool…

Written in :
Jakarta 
Minggu 10 Juni 2012 //18. 20 WIB
(Dalam Taxi Menuju Bandara Cengkareng dari Matraman)

Photo diambil oleh Mas SidQie di Kyabram Fauna Park Shepparton
pada tanggal 17 Juni 2012

Setelah mencari kebutuhan seharian kemarin, namun tidak dapat, Alhamdulillah hari ini  mendapat semua kebutuhan. Berangkat dari rumah bersama kakak menuju ambassador, mall yang lumayan bergengsi dan mengangkat starata sosial anda kalau belanja disini,,heeeeeeeee….

Karena sudah pasang target apa yang mau dicari, akibatnya tidak menghabiskwan waktu yang lama melihat kesana kemari. Memang susahnya manusia kalau sudah ke supermarket atau mall, sering menanyakan benda atau barang yang tidak ingin dibeli dari awal. ayo ngaku????!!!

Hanya dalam waktu 30 menit saya sudah mendapatkan semua apa yang saya cari, yaitu Gloves, Sweaters, Shawls, Hats, Socks, Winter shoes, lipcare/lipbalm, dan Ear Warmer.  Dan semua 95 persen barang tersebut terbuat dari wool. Katanya  barang yang terbuat dari kain woll dapat lebih menghangatkan…

Saya membayangkan kalau saya tiba di Australia besok, dan berhadapan dingin maka saya sudah siap untuk menghadapi ‘musuh’ yang sangat saya takuti saat ini. Dan ketika jacket terpasang di badan, topi di kepala, shawl di leher, penutup telinga, sarung tangan, maka menjelmalah saya menjadi manusia woolllllllllllll…wowwooo…Adam made in woll…hee..

Adam dan Staff di Department of Foreign Affair and Trade di Canberra.
Photo diambil oleh Mas Ridha tanggal 20 Juni 2012.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kali ini…Apabila anda ingin berbelanja atau mencari kebutuhan, sudah seharusnya anda merencanakan dulu segala kebutuhan yang ingin dicari, apabila perlu anda tuliskan. Apabila ini anda lakukan, saya yakin akan sangat membantu baik dari segi waktu maupun tenaga, termasuk juga efesiensi anggaran..he…kayak Pak BeYe  aja ya….program pengehematan nasional!

Karena sangat manusiawi memang ketika kita datang ke mall atau pasar, pasti tergiur dengan baju yang ada di patung yang dilengkapi dengan jean dan topi. Melihat pajangan sepatu juga ditanyakan, melihat dompet juga dipegang, melihat sepatu juga dicoba, dan sebagainya. Meskipuns sebenarnya tidak ingin dibeli, namun pengalaman pribadi saya kalau budget memenuhi didalam dompet, pasti saya grab semua yang menurut saya menarik meskipun awalnya tidak direnanakan..alhasil, sampe rumah dompet kosoong, baru deh kecewa…ada yang pengalaman gitu??

Kalau ada, ayo belajar menentukan prioritas dari sekarang.

Semoga bermanfaat ya!!!.

Group Picture dengan Board of Imam Victoria di Melbourne.
Photo diambil Mas SidQie tanggal 16 Juni 2012.

[Episode 6_Note for MEP Australia]_Yang Ditolak Hati, Itulah Dosa

Written in:

Jakarta, 10 June 2012 // 7.36 WIB

Latar photo adalah Victoria State Library di Melbourne.
Photo diambile Mas Ridha tanggal 13 Juni 2012.

Kemarin saya extremely exhausted mencari kebutuhan-kebutuhan sebagai persiapan untuk ke Australia. Untuk kali ini saya lumayan sibuk untuk mempersiapkan tetek bengek itu, mungkin karena terlalu phobia dengan winter kali ya…dasar kurus!!hee…

Setelah beli kepiting dan udang di Keramat Jati Jakarta yang membutuhkan 1 Jam perjalanan dari Kayu Manis untuk PP, terus masak udang asam pedhassss ala Aceh, kemudian saya dan N2N (nama kerennya), sahabat saya dari Aceh yang sudah menjadi pengurus di PB HMI keluar dan nongkrong di “7 Eleven”.

Sambil menikmati Kopi Moka Small Size, kita saling sharing dan berbagi cerita satu sama lain. Atmosphir di lantai 2 “7 Eleven” memang kurang bersahabat dengan saya, banyak banget anak-anak muda Jakarta yang lagi “dugem” sambil menikmati minuman. Bahkan saya sempat merasa minder, apa kita salah tempat ni ya? Tanyaku dalam hati. Masalahnya semua tamu lain pada ngerokok, bahkan cewek2nya juga smoking. Dan hanya kawan saya itu yang memakai jilbab. Karena jam sudah menunjukkan sekitar pukul 11.30 Malam, akhirnya kita tetap duduk di situ, g munkin cari tempat lain..

Meskipun kondisinya kurang bersahabat, namun tidak membuat “diskusi ringan” kami terganggu, malah kami tidak care dengan kondisi di sebelah yang lagi ha ho hi sesama mereka. kita bercerita banyak sekali mulai dari pendidikan, target tahun ini, masalah yang kita hadapi, kondisi sekarang, keuangan, dan yang paling lama itu ketika ngomongin tentang hati. Hoooooooooo….cinta cinta cinta…..

N2N bercerita banyak apa yang dia rasakan tentang dunia cinta dia sekarang. Dari gaya dia bercerita, kata-kata yang dia gunakan, saya dapat menilai bahwa dia begitu cinta dengan pria yang sedang menjalin hubungan dengan dia sekarang. Setiap kali saya sampaikan asumsi-asumsi negative saya terhadap pria tersebut, selalu dia nyangkal dengan fakta-fakta yang dia alami bersama sang pria..ya…memang begitulah cinta, kalau sudah cinta mau dikatakan apapun ya tetap cinta…dan menurut N2N dia sudah komit untuk melanjutkan hubungan yang serius dengan pria tersebut, bahkan target untuk menikah. Amin…May Allah blesses you sister!!!

Memang dilihat dari segi umur dia sudah saatnya untuk membina keluarga..umurnya sekarang sudah 25 tahun. Terlebih dia lagi ngomong semalam, kalau dia ingin punya anak dan ingin mangasuhnya. Saya suka dengan kekhwatiran dia, kalau dia terlalu lama menunda untuk merid, takutnya akan tiba rasa bosan dan tidak mau merid lagi. Wow,,,,emang ada yang tiba pada titik itu???entahlah, dia itu wanita, wajar mengkhawatirkan hal itu.

Sebenarnya saya pribadi juga ada mengalami hal-hal yang kadang membuat saya bosan. Di sekolah misalkan, dahulunya saya sering banget manggil anak-anak yang nakal dan berprestasi untuk saya nasehati, beri motivasi, cerita pengalaman hidup, cerita perkemabangan dunia luar, persaingan yang semakin ketat, pertumbuhan arus teknologi yang begitu pesat, dan sebagainya. Namun setahun terakhir ini, entah kenapa saya merasa malas banget untuk melakukan hal seperti itu, marasa bosan, merasa tidak ada manfaat, dan merasa jenuh.  Mungkin kondisi seperti itu yang dikhawatirkan oleh N2N…

Ayoeeeeeee Adam..apa poin menarik yang ingin disampaikan kali ini????can’t wait???
Okelah kalau begitu..okelah kalau begitu…okelah kalau begitu…ayoe lagu siapa itu? Kalau bisa jawab, dapat hadiah title “Pengamat Musik” dari saya. he…

Well…ketika saya bercerita ke N2N bahwa saya sedang mengalami masa-masa transisi setelah selesai kuliah S1, yang terkadang membuat saya inferior, kurang percaya diri, tidak mensyukuri atas capain-capain saya, dan masih banyak lagi dilemma pribadi.

Dari sharing kita yang semakin lama semakin hangat, sampailah pada titik “hati”, menurut N2N rasionalitas akan dikahalahkan oleh hati. Ketika aku mencoba untuk merasionalisasikan hal-hal yang perlu dikhawatirkan oleh N2N sebelum mengambil keputusan untuk merid dengan pria itu, toh dalam hati N2N Cuma ada dia, and buat sekarang menurut saya hamper bisa mengusai selurung ruang cinta yang ada dalam hatinya. So, apapun yang coba saya rasionalkan, tetap tidak akan bisa mempengaruhi hati dia.

Menurut N2N, untuk memperkuat hati itu, jalan satu-satunya hanyalah harus sering berkomunikasi dengan sang Khalik, Allah SWT. “Bicaralah masalahmu kepada Allah, Adam!”, begitu saran dia ketika mendengar curhatanku. And I am totally agree dengan pendapat dia. Kemudian N2N melanjutkan, “ Adam, perlu kamu ketahui bahwa APA YANG DITOLAK OLEH HATI, ITULAH YANG NAMANYA DOSA”.

Selain Peserta MEP, ada Mbak Angky dari Kedutaan Australia Jakarta
dan Wartawan, Mas Tony dari Strategic Review.
Foto diambil oleh Mas SidQie di depan Kyabram Fauna Park, Shepparton tanggal 17 Juni 2012.

Masya Allah, luar biasa banget sahabat saya yang satu ini….sungguh pernyataan itu sangat memberikan saya kekuatan untuk bangkit dan mendekatkan diri ke pada sang peguasa. Sangat powerful statementnya…
Iya emang begitu kondisinya,…pengalaman pribadi saya, kalau misalkan mau meninggalkan shalat atau bolong karena alasan-alasan duniawi, namun dalam hati saya sebenarnya bereaksi…ada rasa-rasa kayak gundah, khawatir, enggak tenang, mikirin takut mati setelah ini gimana, dan gejolak-gejolak sejenisnya. Mungkin inilah bantahan hati terhadap kemungkaran yang kita lakukan. In cases, memang kadang suara hati kalah dengan rayuan nafsu syaitan, namun ada kala juga kata hati menang.

Dear readers, netters, dan bloggers…pelajaran penting buat anda lewat catatan ini adalah:
Pertama….Untuk sesering mungkin memupuk hati anda, supaya tetap suci. Bisa dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban personal (fardhu ‘ain) seperti shalat, puasa, zakat, dan sejenisnya. Disamping itu, bisa juga dengan meningkatkan keshalihan sosial seperti saling menolong, bersedekah ide minimal, disiplin dalam memenuhi janji, disiplin dalam belajar, memberi contoh dalam menjaga kebersihan, atau bergabung dengan komunitas yang bermanfaat, ya semua komunitas banyak manfaatnya dong ya!

Kalau hati anda sering dipupuk dengan hal-hal diatas, tentu saja semakin matang dan kuat hati anda, dan manfaatnya adalah akan menjadi penjaga raksasa buat anda dalam menjalani kehidupan. Dia akan menjadi alarm ketika anda dekat dengan kemaksiatan. Dia akan mengatakan “NO” ketika anda mau mengambil punya orang lain. Dia akan meringankan tangan anda ketika ada pengemis di jalanan atau terminal. Dia akan melawan keinginan anda untuk menunda shalat. Dia akan berdemontrasi ketika anda tidak shalat jum’at. Dan sebagainya.

Dan inilah sebenarnya yang disebutkan Islam, bahwa dalam hati manusia itu ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah anda, apabila daging itu busuk, maka busuklah semua perangai dan tingkah anda. Dan daging yang dimaksud disini adalah H.A.T.I.

Pesan penting kedua yang ingin saya sampaikan sekarang adalah, pilihlah teman dalam curhat atau sharing. Sebagai manusia, tidak bisa dipungkiri kalau kita butuh “orang” untuk berbagi atau bercerita. Entah itu hal-hal baik maupun sebaliknya. Memang terkadang orang cenderung bercerita apabila dia lagi ada masalah, tapi kalau lagi senang jarang curhat..he…….pengalaman pribadi ni ya!!!he……….

Oke balek lagi kepada lawan curhat tadi…saran saya supaya anda pilih kawan dalam berbagi. Karena prinsipnya, anda ingin berbagi untuk mengurangi masalah sebenarnya atau at least ada orang yang mau mendengar masalah anda. Bayangkan apabila anda memilih orang yang salah, bukan malah berkurang justru akan bertambah atau bahkan malah anda dapat masalah baru dengan anda bercerita ke dia. Kalau seperti itu, kan fatal banget.

Meskipun ini bersifat sangat subjektif, namun saya yakin anda pasti bisa mengerti apa yang saya maksud dengan “teman yang tepat”. Memang ini wilayah abstrak, tapi apa yang kita rasakan akan menjadi ukuran apakah dia orang yang tepat untuk curhat atau tidak. Anda dapat merasakannya sendiri kan???

Saya punya banyak teman enta itu ditempat kerja, di kampus, di kampung, ditambah lagi dengan alam maya facebook dan twitter. Namun tidak lebih dari 3 orang yang menurut saya wajar untuk saya sharing apapun. Saya akan merasa nyaman kalau sudah bercerita dengan dia. Meskipun faktanya masalah yang saya alami juga tidak selesai dengan bercerita kepada dia, tapi at least saya merasa lega sedikit setelah bercerita.

Makanya meskipun sudah larut malam dan super capek, karena cuma tadi malam saya punya kesempatan sebelum ke Australia hari ini, saya paksakan diri untuk keluar dan nongkrong untuk sharing kepada kawan saya.

Sekali lagi untuk menguatkan ingatan anda “Apa yang ditolak oleh Hati, itulah dosa”.

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan Ibu Vanessa Wood, Direkto IIEF (Kanan barisan depan)
beserta rekan-rekannya di Department of Foreign Affair and Trade, Canberra.
Photo diambil tanggal 20 Juni 2012.

[Episode 5_Note for MEP Australia]_Prepare Tomorrow, Today

Written in:
Jakarta, 10 June 2012 // 2.39 WIB.

Photo tersebut diambil di Kawasan The University of Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Zainal pada tanggal 15 Juni 2012.
Setelah mengikuti briefing hari jum’at tanggal 8 Juni 2012 di Kedutaan Australia Jakarta, saya mendapatkan info kalau kota Melbourne sebagai salah satu tujuan program Muslim Exchange ini cuacanya super dingin, bahkan bisa mencapai 2 derjat. Wow…………….what’s the extremely cool weather for me???

Bagi saya yang memiliki berat badan minus 50 KG,,hee…jadi malu…kok kurus banget saya ya??hampir semua kawan-kawan lama yang saya jumpai bertanya “Adam, kenapa kamu kurus banget?”..to be honest, agak minder kadang2,tapi ya apa daya, ini adalah rahmat Allah, ambil sisi positifnya aja, Alhamdulillah saya jarang sakit.
Kok malah keluyuran kemana-mana ni ya???
OkeKeKeKe….

Buat saya musim semi aja dulu di Amerika pada tahun 2010 sudah sangat dingin, apalagi sekarang musim dingin dan tidak sembarang dingin lhoe, mencapai 2 derajat, jangan2 bisa saja sampe minus kan? Oh my godddddddddddddddddd…gimana ni!!! (Dan bahkan ternyata sempat minus 4 ketika berada di Canberra, edit waktu posting di blog)..

Di sisi lain, programnya sangat padat banget dan mobile banget..sangat banyak agendanya. Mulai jam 8 pagi sampai dengan 6 sore, bahkan ada yang malam pas dinner sambil ada pertemuan. Wow…….full day kan??tentu saja akan sangat membutuhkan stamina dan kesehatan yang prima, terus bagaimana dong kalau cuaca dingin bisa mempengaruhi kesempurnaan program ini bagi saya???semoga saja Allah memberikan saya yang y terbaik…ehmm…be positive thinking man…amin…

Well..sabagai salah satu caranya adalah mencari Winter Jacket yang setebal-tebalnya yang dipakai khusus untuk daerah yang ada musim dingin ditambah dengan shawl, penutup kepala, kaus kaki, dan sarung tangan plus dalaman khusus (Long Jhon) untuk membantu menghangatkan.

Hari ini (sabtu tanggal 9 Juni 2012) saya alokasikan waktu khusus untuk mencari perlengkapan tersebut, disamping obata-obatan dan beberapa keperluan lainnya. Setelah keliling di beberapa pasar dan mall di Jakarta, sampai dengan sore hari saya belum juga mendapatkan semua kebutuhan yang saya inginkan. Bahkan ketika saya menuliskan ini saya masih khawatir kalau besok saya tidak sempat mencarinya lagi.

Ditambah lagi, baju baru aja Saya cuci tadi jam 10 Malam terus harus seterika besok siang, sedangkan mall-mall di Jakarta biasanya dibuka sekitar jam 10 pagi. Woow….akan sangat terburu-buru besok karena berangkat kebandara habis asar.

Akibatnya saya terpaksa harus merepotkan kakak saya tercinta, Kak Fitri. Semoga saja besok dia berkenan untuk menemani saya mencari keperluan-keperluan tersebut. Meskipun saya tau kalau dia super ekstra sibuk dengant tanggung jawabnya sebagai Ketum Kohati PB HMI dan Komisari PIM Aceh. Meskipun demikian, dengan sangat terpaksa saya harus mengajak dia mencari kebutuhan-kebutuhan ini. Semoga saja dia mau, dan Allah memberikan kemudahan. Amin…

Kalau sudah genting seperti ini, saya baru belajar betapa pentingnya “Persiapan yang Matang”, jangan Meremehkan hal-hal kecil, jangan suka menunda. Awalnya saya pikir bisa saya andalkan jacket yang sudah ada yang menurut saya lumayan tebal untuk katagori musim dingin Indonesia, atau kalaupun harus beli saya bisa cari di Jakarta saya pikir.

Namun faktanya, toh sekarang sudah sangat keburu. Padahal 2 minggu terakhir saya bolak-balik di Jakarta dan agendanya tidak terlalu padat. Kalau saya mau cari kebutuhan-kebutuhan tersebut dari kunjungan sebelumnya ke Jakarta mungkin tidak perlu khawatir lagi sekarang. Tapi itulah saya, suka menunda..semoga saja anda para netters, readers, dan bloggers bisa belajar dari pengalaman saya ini.. memang terkesan remeh temeh, tapi ini fatal lhoe…bayangkan kalau saya tidak punya penghangat badan seperti jacket dan dalaman plus kaus kaki dan sarung tangan, what happen then???pasti worst kan???….

Untuk kondisi seperti ini, saya punya quote menarik “Prepare Tomorrow, Today!”…siapkan untuk hari esok, hari ini. Artinya jangan suka menunda. Atau dapat pula kita interpretasikan secara lebih luas, bahwa perlu memikirkan masa depan secara lebih matan-matang agar tidak menyesal. Lebih luas lagi kita bisa menterjemahkannya bahwa Negara ini perlu memikirkan untuk generasi esok, perlu adanya regenerasi, untuk itu tidak boleh serakah apalagi dalam menggeksplorasi sumber daya alam. Sekali lagi PREPARE TOMORROW, TODAY!.

Semoga Bermanfaat ya!!!

Photo diambil tanggal 14 Juni 2012
pada saat kami mengunjungi Migrant Resource Center di Kawasan Dandenong, Melbourne.
Selain rombongan MEP, ada Bill Collopy yang menyambut kami di MRC.

[Episode 4_Note for MEP Australia] Alhamdulillah, “God Saved Me”

Written in:
Jakarta
9 Juni 2012 // 9.10 WIB
Background photo diatas adalah Opera House di Sydney.
Photo diambil oleh Mas Ridho tanggal 23 Juni 2012 .

Saya punya cerita valuable banget untuk saya sharing ke para narablog, netters, dan browsers semua. Kemarin saya mengikuti Pre Departure Orientation (PDO), tepatnya saya sebutkan briefing aja ya..so, saya dan 4 orang liannya mengikuti briefing di Kedutaan Australia di Jakarta, tepatnya di Jl. Rasuda Said Sudirman pada hari jum’at tanggal 8 Juni 2012.

Oh come on Adam, straight to the point Please!!!hee…waittttttt….slow but sure dong!!!
Well…bingung ya? Mana ni cerita menarik yang katanya valuable itu?

Baiklah kalau g sabar lagi….

Jadi dari proses Briefing kemarin, kita diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri, termasuk latar belakang dan personal perpose dari mengikuti program MEP. Ada 5 orang peserta semuanya, ada Ibu Eneng Elish Aisah dari Bandung, Muhammad Nursaid Ali Ridho dari Wonosobo, Ahmad Zainal Abidin dari Tulung Agung, dan Lusi Efriani dari Batam.

Ketika tiba giliran Lusi memperkenalkan diri, Saya sangat tercengang sekaligus terharu mendengar ceritanya. Ternyata dia Mu’allaf yang dulunya beragama Katholik. Dia pindah ke Agama Islam ketika menikah dengan suaminya yang Bergama Islam. Untuk saat ini saya berkesimpulan, niat awal dia memeluk Islam bukan karena keinginannya tapi karena harus menikah dengan pria Beragama Islam.

Kemudian dia melanjutkan kisah hidupnya, setelah menjalani rumah tangga selama 7 tahun dengan suaminya, akhirnya mereka bercerai setelah memiliki 2 orang anak. Yang membuat saya tercengang lagi ketika dia mengatakan, “Saya hamper saja mau balik ke agama  saya yang dulu”……………hupppppppppps….tarik napas dalam2, bagaimana reaksi anda kalau anda sebagai seorang muslim mendengar ucapan itu.

Lusi mengatakan, “I saw Islam in Indonesia is so hard for me”…Islam itu terlalu kasar, keras buat saya, begitulah Islam yang saya lihat di Indonesia.

Saya menebak, wajar dia mengatakan seperti itu, mungkin karena apa yang dipraktekkan suaminya dulu tidak seperti yang dia harapkan, siapa tau ada kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT yang kemudian dia menyimpulkan Islam seperti itu, ditambah lagi dengan keadaan lingkungan di Batam tempat dia tinggal mungkin tidak mendukungnya untuk mempelajari dan memahami Islam yang sesungguhnya.

Saya dan peserta lainnya serta Mbak Anindita dan Sanchi dari Embassy juga ikut terbawa dengan penuturan Lusi, curiosity kami semakin tinggi. Meskipun dalam ruangan yang agak dingin bagi saya, tapi karena pengalaman hidup Lusi sangat langka buat saya, makanya saya tetap tidak mengedipkan mata untuk melihat dan mendengarkan cerita Lusi.

Kemudian Lusi Menambahkan, setelah dia menjadi single parent, tentu saja kehidupannya sangat sulit sekali. Biasanya sepengetahuan saya, apabilla sudah pindah agama, keluarganya dulu pasti tidak menerima lagi. tapi saya g berani tanya mengenai keluarga Lusi…

Terus Lusi mengatakan bahwa disaat masa2 sulit dalam hidupnya tidak hanya masalah keluarga tetapi juga masalah kepercayaan, Alhamdulillah Allah memberikan dia Rahmat.

Lusi mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Amerika melalui program International Visitor Leadership Program (IVLP) mewakili Indonesia. IVLP adalah progam yang sangat prestisius dan bergengsi, bayangkan alumni-alumninya itu adalah pemimpin-pemimpin hebat dunia seperti Tony Blair, Margaret Thatcher, Indira Gandhi, Mahatir Muhammad, Tun Abdul Razak, Nicolas Sarkozy, Jorge Del Castillo, Muhammad Yunus, Mother Teresa dan di Indonesia alumninya itu seperti Gus Dur, Megawati Soekarnoe Putri, dan Dahlan Iskan. Wowwww…jadi ngiler ya, kepingin ikut program ini kayak Lusi???he…sabar dong….you can make it. Nothing impossible, lagian ini bukan Impossible mission kok..he…dan menurut saya inilah yang disebut dengan “Setelah kesusahan, akan datang kemudahan”..dan itu adalah janji Allah…Inna ma’al ‘usri yusran…..(QS. Alam Nasyroh: 5-6) Selalu ada kelapangan setelah kesempitan.

Melalui kunjungannya ke Amerikalah, Lusi melihat Islam dari kacamata yang berbeda. Dia menemukan Islam disana berbeda. Mungkin dia melihat, praktek NILAI-NILAI toleransi, pluralism, kebebesan, saling menghargai sangat dijunjung tinggi di Amerika. Yang akhirnya dia berkesimpulan “Islam is truly beautiful”.

Singkat cerita, Lusi tidak kembali lagi ke agamanya karena dia  sudah menemukan what is Islam yang sebenarnya. Inilah yang dia maksud bahwa “God saved me”. Subhannaallah…

Peserta Muslim Exchange, Mas Zainal (Tulung Agung), Mas Ridho (Wonosobo), Lusi Afriani (Batam),
Neng Elis Aisyah (Cianjur), and Adam (Aceh Utara). Foto diambil tanggal 8 Juni 2012 di Kedutaan Australia Jakarta.

Ada beberapa pelajaran menarik bagi kita untuk kita belajar dari Pengalaman Lusi;
Pertama, yang namanya HIDAYAH Allah memang tidak pandang bulu, dan tidak bisa kita duga diwaktu tertentu. Mungkin apa yang didapatkan oleh Lusi adalah bukti kekuasaan dan Hidayah Allah.
Ironi memang, seharusnya Lusi belajar Islam di Indonesia dimana masyarakatnya manyoritas muslim dan banyak ulama, kiai, teungku, dan penceramah berkaliber tinggi. Tapi justru sebaliknya, dia melihat praktek Islam yang sebenarnya ada di Amerika yang notabene bukan Negara Islam. Subhannallah…inilah hidayah Allah.

Kedua, Kita harus percaya bahwa selalu ada kemudahan setelah kesusahan. Selalu ada kelonggaran dari setiap kesempitan…kita harus percaya  bahwa selalu ada solusi dari setiap masalah yang ada.  Dan ini adalah janji Allah lewat wahyunya …..(QS. Alam Nasyroh: 5). Dan Lusi sudah membuktikannya.

Ketiga, Ada benarnya memang kita untuk tidak melihat orang dari luarnya saja. Don’t judge people from cover. Lusi emang agak berbeda dari peserta lainnya. Meskipun Cuma ada 2 cewek yang ada dalam program ini. Terlihat penampilan luarnya, Lusi tidak memakai jilbab, pakai jeans, namun tetap sopan. Mungkin kalau kita berpikir radikal, kok Program Pertukaran Muslim diikuti oleh peserta yang berpakain belum sesuai dengan ajaran Islam.

Teryata Lusi mengatakan bahwa dia sedang on process of seeking the true Islam. Dia sedang mencari. Bagi seorang yang sedang berproses, sangat tidak baik apabila dipaksakan, apalagi menyangkut dengan kepercayaan yang sifatnya sangat pribadi. Kalaupun dipaksa, maka itu tidak akan bertahan lama, apalagi bagi orang yang sudah dewasa seperti Lusi.

Itulah alasan Lusi yang mengatakan “Saya Belum Siap untuk Pakai Jilbab”.  Dan karena panampilan luarnya itulah menurut pengakuan Lusi dia susah diterima di Komunitas-Komunitas Islam di Batam seperti majelis taklim, pengajian, arisan ibu-ibu dan sejenisnya. Dan hanya Rumah Zakat Indonesia yang bersedia menerimanya dan itulah yang jadi modal untuk dia ikut Program MEP ini dimana persyaratannya harus aktif di Komununitas, lembaga, institusi atau organisasi Islam.

Bagi saya untuk saat ini, biarkan saja Lusi dengan pemikirannya sekarang. Toh dia sedang mencari, dan saya yakin kalau dia akan terus mencari, nantinya dia akan menemukannya sendiri. Dan pada titik itu, dia akan mengamalkan ajaran Islam itu dengan penuh kesadaran “Inner awareness” bukan karena ikut-ikutan apalagi paksaan.

Last but not least, taukah anda, ternyata Lusi itu adalah Pengusaha Lhoe!!!dia itu pengusaha yang berbakat dan langka di Indonesia. Usahanya itu dibidang Tempurung Kelapa.  Dan berkat usahanya itu telah mengantarkannya ke banya Negara. Ketekunannya di bidang bisnis, menjadikannya sebagai Pembina UKM, Konsultan Keuangan Bank. Malasyia dan Singapora sudah menjadi tujuan rutinitas dia dalam meliput berbagai informasi dan isu di dunia kauangan dan perbankan sebagai pekerja di salah satu media.  THUMBS UP for YOU Lusi!!!

Untuk cerita-cerita menarik dari peserta lainnya akan saya tuliskan di catatan berikutnya. Keep in reading…

Semoga Bermanfaat!

Lusi Afriani dengan latar War Memeroial Australia di Canberra.
Photo diambil tanggal 19 Juni 2012.