Semakin Jauh-Semakin Rindu

Memasuki hari-hari terakhir bulan ramadhan, lebaran seolah-oleh besok pagi. Hiruk pikuk masyarakat, terutama yang beragama Islam terlihat sangat sibuk dengan kesiapan menyambut lebaran. Ibu-ibu sibuk dengan persiapan kue dan makanan untuk menyambut tamu yang berkunjung. Bapak-bapak semakin tidak sabaran menunggu THR dan gajian untuk membeli baju baru buat putra-putri tercinta. Anak-anak gadis, terutama, di desa-desa sibuk dengan dekorasi mempercantik rumah seperti memotong rumput halaman. Yang lelakinya juga tidak lupa kebagian tugas seperti mengecat pagar. Kakek-Nenek juga juga sibuk mencari uang receh untuk salam tempel buat cucu-cucunya.

Bagi mereka yang tinggal jauh, merantau atau mengadu nasib di kota jauh lebih sibuk. Berpuasa di akhir-akhir ramadhan nampaknya tidak sesusah berdesak-desakan mencari tiket kereta atau bus untuk mudik. Panasnya matahari tidak mengurangi semangat mereka untuk mencari satu atau dua buah tangan sebagai oleh-oleh untuk orangtua dan sanak saudara di kampung halaman.

Timpan | Salah Satu Makanan Pokok Ketika Lebaran di Aceh

Ah indahnya kekuatan bulan ramadhan-memang tiada tara.

Melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya idul fitri tiba-tiba mengingatkan Saya kepada orangtua dan kampung halaman. Rasa kangen semakin tidak terbendung ketika melihat kawan-kawan sejawat yang juga menunjukkan seolah-olah tidak sabar ingin pulang. Well, frankly speaking, Saya memang dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang tidak biasa mengutarakan rasa kangen kepada orangtua atau adik-kakak-abang secara langsung dan vulgar seperti berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri atau tidur di pelukan orangtua atau mengatakan ‘Ma, Saya kangen, Saya rindu Papa dan diakhiri dengan obrolan Muachh di ujung telpon’ atau sejenisnya. Hukum yang sama juga berlaku seperti hari ulang tahun atau memperingati hari pernikahan bagi mereka yang sudah menikah. Memberikan hadiah kepada orangtua atau kepada pasangan hampir tidak pernah kita lakukan.  Saya tidak tau apa yang membuat hal-hal seperti itu tabu dan aneh bahkan menggelikan kalau di lingkungan kita. Tapi begitulah tatacara orang tua dan lingkungan membesarkan kami selama ini- menunjukkan keintiman hubungan keluarga dan bersaudara dengan cara yang berbeda.

DSC01747

My Sister’s wedding party | Feb 2014

Saya pribadi tidak melakukan lebih selain hanya mencium lutut mereka pada hari lebaran. Untuk ekspresi verbal, teringat saya, masih dalam hitungan jari saya mengucapkan ‘kangen’ atau ‘ingin ketemu mereka’. Kami punya cara tersendiri untuk mengekpresikan rasa rindu kepada keluarga ketika bersama, misalkan pada masa-masa lebaran. Berkumpul dua atau tiga hari, makan-makan (nasi meugang atau timpan), menghabiskan malam bersama di rumah yang paling dituakan, berkunjung ketempat kakek nenek dan berziarah ke kuburan rasanya sudah terbayar masa-masa jauh dari mereka selama setahun terakhir. Mungkin tidak ada yang special kesannya, tapi bagi saya pribadi—ini memiliki nilai dan esensi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. *ah lebay banget ya*

So apa yang membuat lebaran tahun ini terasa berbeda? ada perasaan tidak sabar ingin pulang untuk menyambut lebaran tahun ini. Hari ini adalah ramadhan ke-23 rasanya sudah tidak sabar ingin menikmati malam takbiran di kampung halaman. Perasaan tidak sabar ini bukan disebabkan karena saya tidak menjalankan ibadah puasa bersama orangtua tahun ini, tetapi karena jarak tempat tinggal kita yang jauh, setidaknya bagi saya. FYI— sudah tiga bulan saya Stay di Jakarta untuk mengikuti training pembekalan keberangkatan melanjutkan S-2 dan masih akan berlangsung sampai akhir oktober mendatang.

Pada dasarnya a sudah sering saya bepergian dan honestly speaking Saya sudah tidak tinggal bersama orangtua semenjak menempuh pendidikan menengah atas. Dan selama itu pula saya tidak shalat Ied bersama keluarga di desa. Karena saya tinggal di sekolah yang berasrama, jadinya hampir setiap lebaran saya menunaikan shalat ied di komplek sekolah bersama dewan guru dan orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Jadi, absen dari shalat Ied bersama keluarga itu sudah biasa.

Namun masalahnya sekarang, Jakarta terkesan bagitu jauh bagi saya untuk menikmati rasa kebersamaan bersama orangtua. Mungkin kesannya manja dan lemah, tetapi saya menuliskan ini untuk mengambarkan bagaimana perbedaan perasaan itu ketika saya berpisah tetapi dekat karena di Aceh dan sekarang berpisah tetapi dalam destinasi yang lebih jarak. Pelajaran moralnya *kedekatan seharusnya tidak melunturkan nilai-nilai kebersamaan. Rasa tidak sabar ingin pulang seyogianya tidak hanya muncul ketika kita jauh. Nilai kekangenan seharusnya tidak ditentukan oleh jauh dan dekatnya kita dengan orangtua.

Melalui blog ini, izinkan saya mengucapkan rasa kangen ini dengan I miss you Ma and Pa. A big hug for my brother and sisters. Can’t wait to meet you soon.

 

 

Repost #Penduduk Aceh Capai 5 Juta

BANDA ACEH – Berdasarkan Data Agregat Kependudukan Per Kecamatan (DAK2) dan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diterbitkan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Aceh telah mencapai 5.015.234 orang.

“DAK2 itu diserahkan hari ini kepada Ketua KIP Aceh sebagai bahan bagi KIP Aceh dalam menyusun daerah pemilihan DPRA dan DPRK serta sebagai bahan untuk menyusun daftar pemilih sementara,” kata Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah kepada wartawan seusai acara penyerahan dokumen tersebut kepada Ketua KIP Aceh, Drs Abdul Salam Poroh di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur, Kamis (6/12).

photo from blog.kevinthom.com
Didampingi Kadis Registrasi Penduduk Aceh, Ismarisiska, dan Staf Gubernur Bidang Pemerintahan, Drs HM Ali Basyah MSi, Gubernur Zaini Abdullah menjelaskan, DAK2 dan DP 4 yang diserahkan kepada Ketua KIP Aceh itu bersumber dari pangkalan data (database) kependudukan sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) yang diintegrasikan dengan data hasil perekaman e-KTP.

DAK2 itu, kata Gubernur Zaini, harus diserahkan oleh pemerintah daerah kepada ketua KIP provinsi dan kabupaten/kota secara serentak pada 6 Desember 2012 dalam bentuk CD dan DVD. Sedangkan untuk DP4-nya diserahkah pada 7 Februari 2013.

Penyerahan DAK2 itu, kata Gubernur Zaii, memberikan arti bahwa tahapan pelaksanaan pemilihan anggota legislatif untuk periode 2014-2019, telah dimulai.

KIP selaku penyelenggara pemilihan anggota legislatif harus menindaklanjuti tahapan pemilihan anggota legislatif tersebut sesuai tahapan yang telah dijadwalkan oleh Mendagri dan KPU Pusat.

Harapan Pemerintah Aceh setelah DAK2 ini diserahkan kepada KIP, kata Zaini, adalah KIP segera menyusun program dan jadwal kerjanya untuk pelaksanaan pendataran pemilih sementara. “Jangan ada, penduduk Aceh yang sudah layak memilih tidak terdaftar dalam daftar pemilih sementara. Sebaliknya, jangan ada yang terdaftar ganda. KIP harus bekerja saksama, sehingga tidak merugikan masyarakat,” kata Gubernur Zaini Abdullah.

Ketua KIP Aceh, Drs Abdul Salam Poroh mengatakan, setelah pihaknya menerima DAK2 dari Pemerintah Aceh, langkah berikutnya adalah menyusun program dan jadwal pembuatan daftar pemilih sementara. DAK2 yang diserahkan gubernur kepadanya, akan diteruskan kepada KIP kabupaten/kota untuk menyusun program dan jadwal pendaftaran pemilih sementara.

Menurut jadwal sementara, pemilihan anggota legislatif akan dilaksanakan 9 April 2014. Tapi, tahapan pelaksanaan pendaftaran pemilihnya harus sudah dimulai dari sekarang, agar pada pelaksanaannya nanti, semua penduduk yang telah berhak memilih, yaitu telah berumur 17 tahun atau sudah menikah, semua terdaftar dalam daftar pemilih sementara maupun pemilih tetap.

Menurut Salam Poroh, jumlah penduduk Aceh telah mencapai 5.015.234 orang. Penduduk terbanyak, masih didominasi Aceh Utara, mencapai 558.295 orang, kedua Pidie 422.564 orang, dan ketiga Aceh Timur 403.417 orang.

Sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah Kota Sabang (35.982 orang), kedua Subulussalam 75.959 orang, dan ketiga Aceh Jaya, 83.211 orang. Adapun Banda Aceh, sebagai ibu kota provinsi, jumlah penduduknya baru 255.243 orang, lebih rendah dari tetangganya Aceh Besar yang mencapai 375.494 orang. (her)

Sumber: Serambi Indonesia

Activity_Persever for Fighting HIV-AIDS

Students are paying attention to the speakers.


Yesterday, I welcome and facilitated a group of people from Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) (a goverment organization serving for HIV-AIDS issues). It is an initiative sub-department at health office in North Aceh district-Indonesia. There were 8 of officer involved in the team who visited my school yesterday.

They came to my school to socialize; problems, signs, challenges, numbers, and many more informations about HIV-AIDS to my students at school. there were 70 students consist of grade X, XI, and XII both boys and girls. they were totally enthusiastic and interested in paying attention to the single word came out the speaker in front of them.

Today, HIV-AIDS is a catastrophic “desaster”. Unfortunately, most of poor countries prones to be predominant victims and edversely affects their societies.  For me, shall we know the problems, effects, and hazards, we could acticipate it. at least, it’s the sole purpose that I hope gained by students in the socialization.

A speaker is presenting the materials while showing slides.

For your information, the school I am currently working with is an Islamic boarding school that combining national curriculums (formal school) and Islamic subjects with balanced-curriculum (Non-Formal Classes, but compulsory). In addition, they are also studying foreign languages both Arabic and English. Besides English teacher, I am currently serving as vice-principal for senior high school (SMA).

The school bases in remote areas of north Aceh, it takes about 10 hours driving from Banda Aceh,  and uneasily reached by government for certain things/programs, that’s why the such socialization is totally rare program for the students and teachers as well.

Mulyadi, one of our student is asking a question.

Big Smile and Hope from Aceh,

Smile
Adam
Indonesia English Language Study Program
Ohio University, USA
Spring 2010
http://www.mc-adam.com
@adhamisadam

Story_Together, We make change!

Meeting at STAIN Malikussaleh

Sharing at STAIN Malikussaleh Lhokseumawe on Oct 5, 2012.

In the early of October, I invited Joshua Yardley, an English Language Fellow who works for RELO (Regional English Language Office), to visit my region in Lhokseumawe-Aceh. Josh bases in Banda Aceh where he is serving for human resource development (LPSDM), a department at Aceh governor office. It takes about 6-8 hours driving by bus to reach Lhokseumawe.

Student welcome Joshua as he step on the school.


Joshua stayed at my boarding school, Ruhul Islam for 3 days (2 nights) from 4-6 October 2012 . Ruhul Islam is a private Islamic boarding school in which combines formal school system (SMP and SMA) with Islamic studies with balance curriculum, this combination so we name it Dayah Terpadu. This such of Islamic boarding school is well-known as Pesantren in Java, Surau in West Sumatra. Ruhul Islam located in Tanah Luas-North Aceh, a rural area that needs about 1.5 hours to reach from Lhokseumawe.

Female Students are listening to Joshua.

Joshua attended 3 meetings within the visit. I took him to STAIN Malikussaleh Lhokseumawe to share his experience in English teaching to the students of English department who are going to be English future teachers. The meeting was about 2 hours on Friday morning. After Jum’at Prayer, I facilitated an informal discussion with the teachers at Ruhul Islam. Finally, on Saturday, Joshua came to Malikussaleh University to observed and shared with the lecturers who were attending an online lecture series hosted by Mr. Eran William (RELO Officer) in Jakarta called Shaping The Way We Teach English.

Malikussaleh University  Meeting.


The meeting with the teachers of RUIS was way to identified capability, skills, problems, and challenges faced by the teacher in the boarding. This discussion might be an early assessment for Joshua and me to make a teacher training in the near future in order to upgrade their capacity.

Discussion with teachers at Ruhul Islam Boarding School.


In addition, Joshua also gave a motivational speech to the students of Ruhul Islam on Friday evening after magrib prayer. The students were totally enthusiastic and interest to listen to Joshua’s speech. A students raced her hand and asked a question “How could I practice my English with native speaker while I am studying at the boarding?”. Joshua gave her and other students a way to participate in Pen Pal system. It is not only helping them to practice their English writing skill but also sharing information and making strong relationship while getting to know each other. At present, I’m currently helping the students to set up email address in order they can use it to penpals than use regular mail system. Joshua is doing his best assistance to link the students with his pals, teachers, and colleagues in United States of America. He had got 7 persons already.

Motivational Speech to students.


Anyway, I also took Joshua to a house of tourist destination, Rumoh Cut Mutia in Matang Kuli-North Aceh who was officially admitted as national heroin from Aceh. Besides, Joshua also tasted Acehnese cuisine, Kuah Pliek U (read; How to cook) for his lunch on Friday, and Rujak in the evening. He also ate Mi Rebus Udang in which currently becomes his daily meal in Banda Aceh.

Joshua is enjoy eating Kuah Pliek U.
I wondered what to prepare for his Lunch.


Joshua was surprised with the warm welcome from the students, teachers and leader at boarding school. Besides cultural reason, the students are never visited by foreigner whose language is English, that’s why they struggled to wait his arrival until 11.30 PM.

Leader welcomes Joshua

I didn’t ask Joshua to leave me any comment or suggestions about the school, but I am totally sure that he was concerned with the students and teachers. He promised that he will return to boarding and conduct a teacher training, he even plan to invite other ELFs along with fellows from other universities to participate. In short, Joshua and I believe that “together, we can make change”. For your information, I am being in contact with Joshua about the training, and we plan to make it on February 2013.

Leader gave a Bungong Jaroe (Gift) to Joshua.


Finally, I am totally thanksfull to Eran William, the officer of RELO at US Embassy in Jakarta who had linked me with Joshua. I knew  Eran when I presented my service project, English Capacity Building, at @america in Jakarta on June 2-3, 2012. The conference presented to Kumunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI) and managed by CCE Indonesia and The U.S. Embassy Jakarta, and sponsored by The U. S. Department of State.  On behalf of my school, I do thank to RELO for sending  the materials to my students at the school.

Do you know, what the style is it?
Group picture with students before leaving.


P.S.
Joshua wrote stories about his visiting experiance. read them HERE !

Competition : We Give, We Exist

Bob, Me, and Sonia are going to sightseeing around Kentucky. May 2010 in USA.
Humble, simple, noble, respectful, helpful are only little words could describe my homestay-parent. It was just 2 days, yet it totally impressed me years. What’s more, two days with them, I felt as excited as at my own home with my own parent. Wow…imaging the moment, I wish to return to state soon.
It was 2 years since my first visit to United State of America (USA). I granted a competitive scholarship from the Institute of International Education (IIE) in collaboration with the Indonesian International Education Foundation (IIEF). The program was funded by US Department of State. The program aimed to prepare a chance to participants to gain English skill for academic purpose at a prestigious university in USA for 8 weeks. Among 800 applicants, 21 of 61 selected undergraduate students all over archipelagoes were placed at Ohio University, USA.
We were very lucky to visit Ohio in spring which gave us an opportunity to spend a weekend through homestay program. I and a friend of mine were deployed at a lansia’s house (far advanced in life). Bob Derge, my father, was about 67, and Sonia, my mother, was about 59 years old in 2010. They based in Kentucky State in which neighbourhood of Ohio. Nevertheless my homestay-parent was too old to host the international students, but they were totally friendly and helpful. The ways they served us was completely opened my mind and taught me many lessons in term of attitude, culture, and religion.

My first lesson-learn was about attitude. The way Bob’s family served us was no word to explain. They were absolutely friendly, helpful, respectful, and humble. At first we stepped on their house, they welcomed us with a cup of tea prior to show us where to sleep. Then, they guided us to around the big-house. They showed where to cook, to take bath, to sleep, to wash, to play, and to browse. Each room we saw, they friendly informed us the functions of each room, sometime they inserted with the history of the house. No matter it was necessary or useless; they kept telling us every single space and thing both inside and outside the house.

Me, Bob, and Sonia inside the house. May 2010 in Kentucky, USA.
At night, they prepared us a thick blanket, because they understood about the different weather between Indonesian and state. In the morning, they heated the water for us to make a cup of tea or coffee. Before cooking, Sonia asked us what kind of American food we want to taste. In addition, as part of treatment, with complete information in printed-papers, they gave us the full rights to decide which tourist destinations we want to visit. Wow…it was the most unforgettable moment in my life.

Regarding to culture value, I learnt about the real self-independence within my homestay. Bob has two boys who married already and lived quite far from him. Bob is currently living with his wife, Sonia plus his “eternal kid”, Bob and Sonia considered the dog as the eternal kid, because unlike their own sons, it won’t be married or marries and able to accompanied them for long-life ever.

Despite Bob’s only lives with his wife, and they were both retired already due to their old age, they didn’t act as the spoilt children. They didn’t rely their needs on their sons. They didn’t pay any maid to serve them. Sonia cooked together with Bob to prepare for breakfast, lunch, and dinner. They scheduled themselves to water the flowers in the front yard. Sonia has not any driver to take her to and at market. They did all thing together alone without any help from maid or home-servant.

What’s a contrast culture performed in Indonesia in many ways by many of us. A businessman has different driver for her wife, kids, and his own needs. An actress has a special maid to cook, a maid to wash, a servant to look after the kids, and any other maids depend on needs. A government also shows the same terrible culture, he/she has a single assistant for driver, a single assistant in the office, and a single assistant at home. Oh my god, how poor we are in term of independence and maturity.

In relation with religion value, a weekend homestay taught me how beautiful and peaceful the religion in America is. Bob and Sonia are Christians, but they served us totally no discrimination at all. Bob read our background information already prior to host us; he prepared us the prayer mats to do five-time prayers. Sonia made sure us to cook halal foods. Furthermore, they also kept away their big-black-dog from us, because they knew that Muslim is forbidden to be in touched with the dog. In short, for religion reason, there was nothing to worry to worship as my own belief. In fact, the real tolerance was performed by Bob’s family. Now I know what the real tolerance means for me is.

Before I said good-bye to Bob’s family, I gave them a couple of gifts which I brought from Indonesia. To be honest, giving gift is a good thing from Indonesia when we go abroad. Finally, on the way to meeting point, I pretended to be brave to ask Bob and Sonia a question stucked in my heart since first day of homestay program, “Are you paid for this homestay?”.  With big smile, Sonia answered, “That is the common question asked by every international students we host, and to be honest we are paid for nothing for homestay; on the contrary, we paid some fees to join with voluntary organization”. Surprisingly, I asked her again “Why?”, with his own style, Bob said “We fell happy when we can give something for someone”, then Sonia ended up the conversation “We give, We exist”.

Me and Sonia inside the house, Kentucky May 2010.

Repost: The Death of Samurai

Artikel ini saya ambil dari Milis Forum Peniliti Aceh, karena sangat menarik bagi saya, makanya reposting di sini.
***

The Death of Samurai
Written by Yodhia Antariksa

Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya ke perusahaan China. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).

Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.

Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.

What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.

Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.

Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.

Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).

Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.

Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.

Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.

Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.

Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.

Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.

Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.

Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.

Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.

Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.

Note: Semoga Bermanfaat…Lesson-Learned bagi kita adalah pentingnya semangat dan kesadaran untuk berinovasi.

Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia

Murid yang dipersenjatai dengan informasi
Akan selalu memenangkan pertempuran
(Meladee McCarty)

Dibawah ini adalah Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia, seperti Kementerian, Organisasi Dunia, Kedutaan Besar, dan sejenisnya. Karena supaya lebih teratur, sengaja saya tulis di halaman. Sedangkan di Halaman “LINK” sudah kebanyakan, kelihataanyannya amburadur.

Sengaja Saya listkan di sini, supaya lebih mudah dijangkau. Era globalisasi seperti ini seharusnya, terutama pemerintah memang harus membuka “ruang” yang lebih besar untuk masyarakat berinteraksi dengan mereka.

Meskipun sebagian situs-situs pemerintah out of date, dan tidak mempublish semua informasi-informasi secara transparan, mungkin saja dengan saya liskan situs-situs ini akan bermanfaat buat anda!. Semoga.
~ Adam 2012
 ***  

Pemerintah Indonesia

  1. Portal Nasional
    http://www.indonesia.go.id
  2. Presiden 
    http://www.presidenri.go.id
  3. Wakil Presiden
    http://www.wapresri.go.id
  4. Sekretaris Negara
    http://www.setneg.go.id
  5. Sekretariat Kabinet
    http://www.setkab.go.id
  6. Dewan Pertimbangan Presiden
    http://www.wantimpres.go.id
     
  7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
    http://www.kemdikbud.go.id

  8.  Kementerian…..tunggu updatenya!

    Situs Non-Indonesia

    1. ASEAN
      http://www.asean.org/
    2. The Colombo Plan
      http://www.colombo-plan.org/

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Catatan:
Dibawah ini adalah pidato anak berusia 12 tahun yang saya ambil dari group facebook Motivasi Beasiswa yang diposting oleh Muhammad Irsyad Parinduri. Bagi saya benar tidaknya pidato ini tidak penting, tapi isinya sangat menyentuh dan membuat kita menyesal atas apa yang kita lakukan selama ini. selamat membaca, semoga bermanfaat!!!
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak dari Kanada bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato
kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin
dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang
sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk
tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa
datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian
orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga.
Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan
bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya
tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda
sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu
bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah
dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan
anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari
5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air
dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan
mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk
tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun
begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan
mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer
dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya,
dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan,
pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang
yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan
dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya
dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita
timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan
tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan
pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada
kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu,
bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang
A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB,
membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan
pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir
diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah
kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena
saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya
disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri
di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya
maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya
kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12
tahun “

Aktivis HMI Aceh Utara Juara Tulis Artikel

Muhammad Adam mewakili Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara, berhasil meraih juara dua Lomba  Menulis Artikel se-Indonesia yang diadakan Pengurus Besar HMI (PB-HMI) Jakarta Pusat, 11 Januari-20 Februari 2012. Pengumuman pemenang tersebut diumumkan Kamis (16/2) malam di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa Jakarta Pusat.

“Saya kemarin mendapat pengumuman dari pengurus PB HMI, mereka menelpon saya mengabarkan bahwa saya mendapat juara dua dalam perlombaan tersebut. Tiga artikel yang telah saya kirim itu yang pernah di muat di harian Serambi Indonesia,” kata Muhammad Adam kepada Serambi, kemarin.

Koordinator kegiatan, Fitriani meyebutkan perlomban menulis artikel itu digelar dalam rangka Dies Natalis Ke-65 PB HMI. Selain itu juga digelar lomba debat ilmiah dan pameran photo. “Juara pertama lomba tulis artikel diraih Setyo Pramuji, sedangkan juara tiga diraih Dirga Maulana dari HMI Cabang Ciputat,” katanya.(c37)

Sumber: Serambi Indonesia

Situs Terpopuler Di Indonesia Versi Google AdPlanner

Berdasarkan data Google AdPlanner per September 2010, Facebook masih menjadi situs terpopuler di dunia sampai hari ini. Menempel persis di bawahnya ialah situs video YouTube dan situs portal Yahoo.

Menurut data Google terbaru, Facebook mencatat sekitar 540 juta pengguna dari seluruh dunia. Raksasa Internet asal Mountain View itu juga mencatat sekitar 620 miliar halaman Facebook dibuka di bulan yang sama. Sedangkan di Indonesia, Facebook mencatat sekitar 2,4 miliar halaman Facebook dibuka oleh 26 juta pengguna.

Di sisi visits (kunjungan), Google AdPlanner menemukan sekitar 20 miliar kunjungan dari para penggunanya, di mana
120 juta kali di antaranya dikunjungi oleh pengguna Internet asal Indonesia.

Jika predikat situs terpopuler di dunia dipegang oleh Google, situs terpopuler di Indonesia jatuh pada Kaskus. Meski sempat merosot 30 peringkat ke posisi 569 di daftar 1000 situs terpopuler di dunia, situs forum diskusi online terbesar itu masih menjadi situs lokal terbaik.

Menurut sumber yang sama, Kaskus mencatat 5,5 juta pengguna secara global selama bulan September 2010. Adapun halaman yang diakses penggunanya tercatat 540 juta halaman.

Penggandrung Kaskus boleh berbangga. Pasalnya, di bulan September, Kaskus yang bertengger di posisi 569 itu mampu mengatasi popularitas situs berita bisnis forbes.com (571), situs olahraga nike.com (583), hingga situs perbankan internasional citibank.com (589).

Sumber: Kaskus Indonesia