Siswakrasi

Alhamdulillah, Tulisan di bawah ini sudah memenangkan Juara II Perlombaan Menulis Esai Guru Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Lazuardi Birru Indonesia pada tahun 2012.
***

Sumber Gambar http://thephoenix.com

“Kebanyakan guru memiliki sedikit kontrol terhadap kebijakan sekolah, kurikulum, pilihan teks, atau penempatan khusus siswa, tapi kebanyakan mereka memiliki banyak otonomi di dalam kelas”. Ungkapan tersebut adalah salah satu pernyataan Tracy Kidder yang mengingatkan kepada guru untuk memaksimalkan wewenang dan meminimalkan kekuasaan seperti saran Thomas Szaz. Persoalan dominasi guru yang eksessif tampaknya sangat mencerminkan potret pendidikan di Indonesia pada umumnya. Melihat segudang persoalan yang terjadi dewasa ini, error system pendidikan kita sudah berada pada tahap kritis.
Tawuran antar pelajar yang terjadi selama ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Kasus yang masih segar dalam ingatan kita adalah bentrokan antara SMA Negeri 6 dan SMA Negeri 70 Jakarta Selatan dengan yang mengakibatkan Alawy Yusianto Putra meninggal. Kekerasan yang berujung dengan hilang nyawa tersebut merupakan salah satu resiko yang harus diterima oleh siswa dan orangtua akibat kelengahan sistem pendidikan yang diterapkan selama ini. Tidak hanya itu, badan Penelitian dan Pengembangan (litbang) Kompas mencatat 13 korban yang tewas akibat tawuran dan kekerasan yang terjadi antar pelajar dalam kurun waktu 2011-2012 (Kompas 26 September 2012).
Selanjutnya, Kecanduan narkoba di kalangan remaja juga persoalan yang sangat meresahkan bangsa kita akhir-akhir ini. Banyak remaja yang sudah “berlangganan” dengan narkoba baik yang ringan maupun berat. Ironisnya lagi, umumnya yang terjerat dengan dunia hitam tersebut adalah anak-anak remaja yang masih berada di bangku sekolah. Pada tahun 2009, Badan Narkotika Nasional mencatata jumlah remaja yang terlibat Narkoba mencapai 1,1 juta yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa.
Persoalan kronis lainnya adalah praktek seks bebas (free sex) di kalangan pelajar yang tidak sedikit remaja melakoninya. Persoalan ciuman atau berpelukan di tempat umum tidak lagi menjadi tabu. Kalau ada guru atau orang yang menegur, pasti akan mendapat peralawanan, bahkan cemoohan dari pelaku. Karena memaknai HAM secara parsial, bahkan liar, makanya banyak pelajar yang menganggap ciuman, pelukan, pesta, bahkan berhubungan badan adalah privacy dimana orang lain tidak bisa mengintervensi.
Konsekuensi dari pergaulan bebas buta tersebut berdampak luas, salah satunya adalah aborsi. Survei Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di 33 Provinsi dari Januari sampai dengan Juni 2008 didapatkan 62,7 % remaja SMP tidak perawan. Bahkan menurut BKKBN Pusat, pada tahun 2009, setidaknya ada 22,6 % remaja termasuk penganut seks bebas. Menyedihkan lagi, berdasarkan data pada tahun 2008 dari Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) didapatkan tidak kurang dari 2,5 juta kasus aborsi ditemukan di Indonesia setiap tahunnya (sospolinaction.blogspot.com). Dampaknya, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja juga sering menghiasi halaman-halaman utama masssa.
Selain persoalan tingkah laku (characters), kualitas pendidikan kita juga masih sangat memprihatinkan. Meskipun belum ada lembaga yang melakukan penilain terhadap institusi pendidikan pada level sekolah, tapi saya yakin kualitas pendidikan sekolah-sekolah kita tidak jauh beda jeleknya dengan pendidikan tinggi.
Kita sudah merdeka lebih dari separuh abad, namun dalam dunia pendidikan, kita masih berkutat masalah membaca. Ironis memang, di saat negara-negara lain sedang sibuk berinovasi, menciptakan berbagai teknologi canggih, menciptakan tenaga nuklir, berlomba menciptakan pendidikan berkualitas internasional, menciptakan model e-learning, menngorbit generasi muda yang siap berkompetensi denga dunia global , namun kita masih merangkak pada tahap menggalakkan membaca. Karenanya tidak heran, Badan Pusat Statistik Nasional mencatat 17,89 persen msyarakat yang berumur di atas 45 tahun tidak bisa membaca (survey 2011). Untuk itu, kendati Hari Aksara International yang diperingati setiap 8 September sudah dicanangkan oleh PBB semenjak tahun 1965, namun sekarang ini sekitar 20% orang dewasa di dunia masih buta aksara (voaindonesia.com). Saya yakin sebagian besar angka buta aksara tersebut disumbangkan oleh masyarakat Indonesia.
Disamping itu, persoalan kualitas tenaga pendidik kita juga masih rendah. Mungkin akan terkesan terburu-buru kalau terlalu cepat mempersoalkan masalah kualitas guru. Boro-boro kita bicara masalah kualitas, persoalan kuantitas saja masih menjadi masalah serius yang belum mampu ditangani oleh pemerintah. Pendistribusian guru yang belum merata, guru-guru berprestasi masih berpusat di kota-kota besar. Ketimpangan fasilitas antara sekolah yang di kota dengan di desa masih sangat signifikan.

REVOLUSI SISTEM
Persoalan yang saya uraikan diatas hanya sekelumit masalah yang merusak sistem pendidikan kita. Faktanya masih banyak persoalan-persoalan besar lainnya seperti pengelolaan dasa operasional sekolah, transparansi dana pendidikan dari APBN, ujian nasional yang tidak jujur, dan masih banyak lagi. Untuk itu, perlu adanya upaya untuk melakukan perubahan yang sistemik. Saya menawarkan pembangunan pendidikan berbasis siswa. Saya terilhami dengan sistem demokrasi dimana kekuasaan utama ada di tangan rakyat. Saya juga berpikir tidak ada salahnya sekolah juga membangun sistem pendidikan yang melibatkan partisipasi siswa secara seimbang. Karena kekuasaan juga berada di tangan siswa-siswa (cratein/kratos yang berarti kekuasaan), makanya saya menamakannya dengan siswakrasi.
Perspektif saya dalam siswakrasi adalah upaya dari semua stake-holder pendidikan untuk tidak melupakan unsur siswa dalam membangun sistem pendidikan. Selama ini, pembangunan pendidikan di Indonesia terkesan parsial. Pemerintah sibuk dengan berbagai inisiasi-inisiasi programnya. Komunikasi yang dibangun dominannya bersifat vertikal antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, terutama kementrian pendidikan dan kebudayaan dengan institusi dibawah kekuasannya. Menjalin kerjasama secara horizontal dengan berbagai stake-holder terkait lainnya jarang dilakukan. Misalkan membangun kerjasama dengan dunia usaha dan industri dalam menciptakan out-put dari pendidikan yang dibutuhkan oleh mereka. Karenanya, tidak heran semakin banyak lembaga pendidikan dibangun, semakin bertambah angkat pengangguran.
Sebagai contoh kokosongan partisipasi pelajar adalah dalam proses perumusan perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah setelah ada kerusuhan beruntun dalam bulan-bulan terakhir. Pada satu sisi, saya mengapresiasi respon cepat pemerintah dalam mengantasipasi berbagai kejadian yang menunjukkan degradasi moral siswa-siswi kita selama ini. Pemerintah melakukan usaha preventif dengan rencana mengubah kurikulum pendidikan, terutama tingkat dasar.
Namun saya meragukan proses pengambilan kebijakan untuk menghapus beberapa mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan tingkat dasar misalkan, tidak melibatkan siswa sama sekali. Artinya penjajakan pendapat yang dilakukan sebelum mengubah kurikulum hanya sebatas kepala dinas, guru, dan para ahli, dan jumlah merekapun hanya segelintir orang. Karenanya tidak heran, kalau ada kata sumbang yang mengatakan kalau program pemerintah seperti itu hanya bersifat project-oriented yang ujung-ujungnya duit alias UUD.
Melihat ketergesa-gesaan pemerintah dalam mengambil kebijakan perubahan kurikulum, saya pesimis kalau rencana tersebut akan berjalan sesuai harapan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan kacau dan menjadi bumerang bagi pemerintah sendiri dalam implimentasinya. Seyogiyanya, pemerintah melakukan kajian yang lebih konprehensip sebelum mengambil kesimpulan untuk merubah kurikulum. Meminta pendapat komite sekolah dimana di didalamnya adalah orangtua-orangtua yang mengerti kebutuhan anak-anaknya adalah langkah strategis untuk mendapatkan masukan. Menjaring pendapat dari para pelajar juga upaya yang baik untuk dilakukan dalam memperkaya fakta dan data. Karena realitanya, Indonesia adalah bangsa yang kemajemukannya di semua lini kehidupan, mulai dari persoalan adat, bahasa, budaya, hingga agama. Keberagaman tersebut tentu saja bermplikasi terhadap pola belajar dan kebutuhan akan pendidikan. Karenanya, menurut saya pemerintah melakukan kesalahan besar apabila pemerintah mengaanggap kebutuhan pendidikan siswa di Jakarta sama dengan pelajar di Aceh atau di ujung Papua. Menasionalkan kurikulum pendidikan secara mutlak adalah bukti ketidaksanggupan pemerintah dalam mengelola dan memperbaiki pendidikan di Indonesia.
Masih berkenaan dengan pelibatan siswa, pada lingkaran yang terdekat dengan siswa yaitu kepala sekolah dan guru juga setali tiga uang dengan pemerintah. Kepala sekolah disibukkan dengan persoalan administrasi di sekolahnya sehingga terkesan seperti pejabat daerah yang senang menghadiri rapat dan acara seremonial. Para gurupun seperti kakak beradik dengan polah kepala sekolah, setiap hari sibuk mentransfer apa yang tertulis di buku kedalam kepala siswa. Banyak tenaga pengajar yang mengejar materi tanpa memperdulikan kemampuan anak didik. Tidak ada urusan dengan kemampuan daya serap anak-anak, yang penting materi bisa selesai sesuai target. Semakin banyak halaman yang bisa dicapai, akan dianggap semakin hebat sang guru. Semakin jauh materi yang diajarkan, semakin merasa diri cakap dalam mengajar. Intinya pembelajaran berbasis kuantitas, bukan kualitas.
Potret seperti itulah yang selama ini dipraktekkan oleh para aktor-aktor pendidikan kita yaitu pemerintah, kepala sekolah, dan guru. Selain ketiga pelaku tersebut, kita lupa bahwa elemen utama lainnya dalam pendidikan adalah siswa. Dalam perumusan sebuah kebijakan di sekolah misalkan, sangat jarang diajak siswa untuk meminta pendapat mereka. Kalaupun ada dilibatkan, saya yakin pasti hanya sebatas untuk acara-acara serominal atau kegiatan-kegiatan festifal yang membutuhkan banyak tenaga untuk bekerja. Namun untuk persoalan-persoalan yang belangsung dengan hajatan orang banyak yaitu siswa, partisipasi mereka sangat terbatas. Apalagi persoalan rupiah, misalkan pengelolaan bantuan dana operasional sekolah (BOS), boro-boro kepala sekolah melibatkan siswa, gurupun hanya diajak orang-orang tertentu yang setuju dengan program-programnya.
Keabsenan partisipasi pelajar juga terjadi dalam proses pembentukan kurikulum yang diajarkan kepada peserta didik. Pembuatan RPP misalkan, ada berapa guru yang meminta pendapat peserta didiknya tentang kebutuhan mereka?. Kapan siswa pernah diajak untuk menyepakati materi apa saja yang perlu dipelajari pada semester tertentu?. Seberapa besar ruang yang diberikan kepada siswa untuk mengkritisi pelajaran yang diberikan?.
Saya yakin hanya segelintir guru yang berjiwa pendidik yang melakukan upaya-upaya tersebut. Padahal Meladee McCArty sudah mengingatkan para guru dengan tegas bahwa “Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka”. Meskipun tidak ada data valid, saya percaya bahwa kegoisan guru lebih sering dipertontokan dalam melakukan proses pembelajaran. Padahal esensi pembelajaran tidak hanya mengajar, tapi juga belajar. Artinya, pada tema-tema tertentu, tentu saja siswa lebih paham dibandingkan guru sebagai pengajar. Misalkan, anak yang hidup di lingkungan pertanian, tentu saja lebih mengerti praktek bercocok tanam dibanding dengan gurunya yang tinggal di pusat kota. Siswa yang tinggal di pinggir pantai pasti lebih paham kapan pasang surut air laut pada malam hari dibandingkan ibu gurunya yang hidup di kota industri. Namun, ada berapa banyak dewan guru yang berani berguru kepada siswanya dari pinggir gunung atau tepi pantai?. Faktanya kekurangan-kekurangan justru ditutupi karena anggapannya siswa adalah bawahannya. Padahal pola pikir yang menganggap siswa seperti gelas kosong adalah mind-set yang keliru. Hal ini selaras dengan pemikiran Ralph Waldo Emerson yang mengatakan, “Rahasia pendidikan itu terletak pada penghormatan terhadap siswa”.
Kekosongan pelibatan siswa tersebut berimplikasi kepada berbagai persoalan yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita selama ini. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kalau tawuran antar pelajar yang marak terjadi di kota besar adalah kenakalan siswa sendiri. Anak-anak remaja yang melakukan free-sex atau drug juga tidak terlepas dengan tanggung jawab lingkungan (terutama orang tua) dan pendidikan yang dia terima di sekolah.
Materi-materi yang mereka pelajari di sekolah belum tentu harus mereka pelajari pada umur sebaya mereka. Apalagi sistem pendidikan kita yang mengedepankan kemampuan kognitif dibandingkan dengan ranah afektif, atau psikomotorik. Kalau ada anak nakal yang mampu mengerjakan soal matematika dengan cepat, kita memberikan nilai yang tinggi. Tetapi ketika ada siswa yang menyelesaikan soal sejarah tepat waktu tanpa menyontek, perhatian kita berkurang. Ketika ada siswi yang mau berdiri di depan dan dengan penuh percaya diri, dia membaca do’a sebelum pulang sekolah, sang guru tidak memberikan pontenan sepeserpun. Beginilah potret buram pendidikan kita yang mendewakan fungsi otak dibandingkan sikap kejujuran, keaktifan, amanah, dan kepercayaan diri.

WIN-WIN SOLUTION
Untuk keluar dari berbagai persoalan rumit dalam dunia pendidikan di Indonesia, menurut saya salah satu solusi yang menjadi keniscayaan adalah pelibatan peserta didik dalam semua sendi pendidikan. Kita tidak boleh menafikan eksistensi pelajar dalam dunia pendidikan. Mereka adalah unsur utama dalam aktor pendidikan. Triliyunan anggaran yang dialokasikan dalam APBN setiap tahunnya adalah untuk memperbaiki siswa sebagai generasi masa depan.
Ada banyak ruang yang bisa dibuka kerannya untuk partisipasi peserta didik dalam membangun sistem pendidikan. Mulai dari penyusunan materi sampai dengan perngelolaan keuangan.
Pada prinsipnya siswalah yang paling tau apa yang mereka butuhkan untuk mereka pelajari pada usia mereka, guru sebagai pengajar dan pendidik hanya bisa mengarahkan. Secara tegas Galileo Galilei mengingatkan guru-guru diseluruh dunia bahwa “Kita tidak bisa mengajari orang apapun, Kita hanya bisa membantu mereka menemukannya di dalam diri mereka”. Saran tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Maria Montessori yang berpesan bahwa “Ketika kau memberi tahu mereka, Mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu, Jika kau menunjukan kepada mereka, Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri”.
Dalam hal pengaruh guru, Bapak Anies Baswedan yang memiliki ambisi untuk mengubah wajah pendidikan melalui guru juga percaya bahwa guru adalah aktor utama yang mempengaruhi anak didik baik dari segi akademis maupun sikap atau akhlak. Karenanya tidak berlebihan kalau Haim Ginott berkesimpulan bahwa – “Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya, suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang Guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar, untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan”.
Kembali lagi kepada partisipasi siswa, saya sepakat bahwa pelibatan mereka tidak diberika secara liar tanpa ada kontrol dari guru, kepala sekolah, dan pemerintah. Untuk informasi-informasi dan tujuan tertentu, tidak harus dikonsumsi oleh mereka. Namun selama itu menyangkut dengan kemaslahatan umum dalam institusi pendidikan, terutatam siswa, pelibatan mereka adalah keniscayaan. Dunia international sepakat bahwa pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang melibatkan partisipasi publik. Dalam dunia pendidikan, partisipasi siswa sebagai peserta didik tidak dipisahkan dalam pembangunan pendidikan sehingga pembangunan yang dilakakukan adalah pembangunan berbasis siswa, dan inilah yang saya namai dengan siswakrasi.

 

 

 

 

Untuk LPSDM Aceh; Syarat TOEFL terlalu Tinggi

Ini adalah Kritikan Konstruktif Saya untuk Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Aceh (LPSDM). Saran ini saya tuliskan dan dipublikasi di Harian Serambi Indonesia pada saat LPSDM sedang membuka pendaftaran beasiswa tahun 2013.

***

Sumber Gambar : http://billwalker.com

SEBELUMNYA, kami bersyukur kepada Allah dan terima kasih kepada Pemerintah Aceh yang sudah melanjutkan kembali program beasiswa-yang sempat cooling down beberapa waktu. Selanjutnya, kita juga sangat mengapresiasi kerja keras Pemda, terutama LPSDM yang telah menjajaki kerja sama dengan banyak perguruan tinggi di luar negeri. Tahun ini, misalnya, khusus untuk Beasiswa S1 yang diselenggarakan melalui kerja sama antara Pemda dan Georgetown University School of Foreign Service, persyaratan kemampuan Bahasa Inggris yang dibuktikan dengan Skor TOEFL minimal 525, menurut saya kurang tepat. Angka ini terlalu tinggi, jangankan bagi para siswa, para pengajar sekalipun belum tentu mampu meraih skor TOEFL setinggi itu.

Saya paham bahwa kuliah di luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa asing (Bahasa Inggris, dll) sesuai standar perguruan tinggi tersebut. Seharusnya untuk tahap seleksi administrasi, mungkin cukup di bawah 450. Setelah lulus, selanjutnya LPSDM menempa mereka dengan pelatihan intensif supaya bisa memenuhi kualifikasi bahasa yang diakui dunia international.

Dengan menetapkan syarat TOEFL <450, Saya yakin akan lebih banyak anak-anak Aceh yang bisa mendaftar beasiswa tersebut. Kalau tidak, tujuan pemerataan kesempatan seperti yang diharapakan hanya bersifat semu alias lips service saja. Karena faktanya, memang hanya sedikit anak di usia SMA memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang bagus.

Untuk itu, hemat saya, kalau tujuannya untuk pemerataan kesempatan dan peningkatan SDM, jika pun tahun ini tidak bisa diubah lagi, maka ada baiknya untuk kesempatan beasiswa yang akan datang. Saya yakin bahwa peran LPSDM melalui program beasiswa akan menentukan wajah Aceh 20-30 tahun yang akan datang. Semoga!

Muhammad Adam
Guru Terpencil di Aceh Utara
Email: adamyca@gmail.com

Mendadak Alim

Aceh is the least religious province in Indonesia

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari beragam fenomena dan perilaku unik yang terjadi selama bulan ramadhan. Ada sejumlah sisi menarik untuk dilihat dan dijadikan bahan refleksi dari berbagai aktifitas yang kita lakukan setiap hari di bulan yang penuh berkah ini. Bagi saya, perilaku masyarakat yang berubah drastis menjadi salah satu poin untuk ditilik lebih jauh.

Kalau anda sering perhatikan, ada perubahan yang terjadi secara mendadak di kalangan masyarakat tidak hanya di Aceh tetapi juga di hampir seluruh nusantara. Banyak orang yang menjadi alim secara tiba-tiba. Coba anda perhatikan tempat-tempat ibadah, hampir semuanya penuh. Meunasah yang biasanya jamaahnya tidak lebih dari 1 shaf, kalau bulan ramadhan sesak dengan jamaah. Malah kalau pada 10 malam pertama bulan ramadhan, meunasah atau musalla kelebihan jamaah. Di beberapa tempat, halaman musalla malah dijadikan tempat untuk shalat.

Jamaah Shalat Terawih

Begitu juga di mesjid, shalat-shalat jumat pada bulan ramadhan, jumlah jamaahnya meningkat drastis. Terkadang ada wajah-wajah baru yang di luar bulan puasa, hampir tidak terlihat wajahnya di mesjid. Di beberapa kota besar dan pusat kota, untuk wudhuk saja anda harus antri panjang sangking ramenya orang yang mau beribadah. Tidak hanya itu, pada siang hari ada banyak orang yang menetap di mesjid dan menghabiskan waktu dengan beritikaf. Intinya tempat-tempat ibadah hampir tidak ada jam tanpa jamaah pada bulan ramadhan.

Peningkatan ibadah tidak hanya yang bersifat hablum minallah seperti di atas, hablum minannas nya pun tidak kalah menarik untuk dilihat. Program-program santunan menjamur dimana-dimana, musalla, mesjid, terminal, rumah-rumah, lampu merah dan berbagai tempat keramain lainnya. Musalla-musalla kebanjiran rantang yang berisi makanan berbuka puasa. Mesjid-mesjid juga menampung banyak sedekah dan santunan. Tidak hanya mesjid, pihak perbankan pun tidak ketinggalan, tidak sedikit bank yang membuka rekening khusus untuk masyarakat yang ingin melakukan donasi, khususnya untuk anak yatim dan duafa. Asumsi saya donator-donatur tersebut tidak terlalu memikirkan kejujuran dan ketransparanan lembaga-lembaga yang mengelola dana ‘lillahi ta’ala’ tersebut.

Jamaah Shalat Teraweh

Kalau dilihat lebih jauh, tidak hanya tempat-tempat ibadah yang mendapat rezeki mendadak. Sektor bisnispun tidak kalah banyak meraup keuntunngan. Malah omset mereka berlipat-lipat selama bulan ramadhan. Permintaan pakain-pakaian muslim pun meningka drastic. Mukena, peci, kain sarung, sejadah, bahkan penjualan alquran pun berlipat ganda dari bulan-bulan lainnya. Di samping itu, pihak penyedia jasa hiburan pun tidak ketinggalan, produser-produser film memaksa tim kreatif untuk menyajikan tontonan yang bersifat religi. Tidak penting, pemerannya non-muslim, yang penting tampilan di layar kaca pada bulan ramadhan harus berjilbab dan mengucapkan ‘assalamua’alaikum’ katika bertemu orang. Para penyanyi dan band-band gaul pun berlomba-lomba menciptakan lagu-lagu bernada islami. Motifnya jelas, memanfaatkan momen bulan ramadhan dimana animo masyarakat yang sedang haus hiburan yang bersifat islami.

Esensi Ibadah

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan beragam fenomena dan perilaku di atas. Toh masyarakat ingin memaksimalkan bulan ramadhan dengan beribadah. Saya menulis tulisan ini tidak bermaksud untuk berpesan jangan shalat jamaah, jangan itikaf, tidak b masih tetap boleh sedekah, tidak boleh membeli dan menggunakan baju muslim, tetapi substansinya adalah apakah berbagai aktifitas ibadah tersebut memiliki makna yang melekat dalam pribadi kita masing-masing. Apakah kita masih tetap shalat jamaah subuh setelah bulan ramadhan? Apakah keringanan tangan untuk bersedekah dan menyumbang masih bertahan pada bulan-bulan setelah ramadhan? Apakah mesjid-mesjid masih tetap penuh dengan jamaah pada hari jumat?

Membaki Makanan untuk Sahur

Menurut saya, pada titik inilah refleksi penting makna ibadah-mempertahankan dan mengamalkan apa yang apa yang kita lakukan secara simbolik ke dalam kehidupan sehari-hari. Saya memperhatikan, tidak sedikit orang yang bermalas-malasan pada bulan ramadhan dengan alasan puasa. Produktifitas berkurang karena kelelahan berpuasa. Jam kantor pada bulan ramadhan tidak sedisiplin pada bulan-bulan lainnya. Layanan public pun tidak maksimal, alasannya tidak sanggup melayani karena capek berpuasa. Kalau misalkan puasa bersamaan dengan masa sekolah, proses pembelajarannya juga tidak maksimal. Ada anak yang datang telat, guru nya mentolerir dengan alasan telat bangun karena puasa. Pertanyaanya, melayani masyarakat dengan sepenuh hati, masuk kantor tetap disiplin, belajar di sekolah dengan serius, apakah itu bukan ibadah? Apakah itu bukan pekerjaan baik yang akan dilipatk gandakan pahalanya juga pada bulan ramadhan? Terlalu dangkal pemahaman kita kalau ibadah hanya kita definisikan shalat, sedekah dan I’tikaf di mesjid.

Di samping itu, ada keanehan-keanehan yang sering ditampilkan oleh banyak orang pada bulan ramadhan, “tidak boleh bohong, ini bulan puasa, tidak boleh ngegosip, kamu sedang puasa kan? Ayok tidur aja, tidur juga ibadahkan?”. Ungakapan-ungkapan tersebut menimbulkan kesan seolah-olah berbohong itu hanya dilarang pada bulan ramadhan, memfitnah atau bergosip ria dihalalkan pada bulan-bulan lainnya.

Konteks Aceh

Kita sangat sangat bersyukur bumi kita, serambi mekah masih sangat kental dengan kegiatan-kegaitan ibadah. Untuk beribadah di Aceh tentu saja jauh lebih mudah dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Meunasah di setiap desa ada, balai pengajian pun ikut melaksanakan shalat jamaah seperti mesjid-mesjid dan musalla. Tentu saja, kemudahan-kemudahan tersebut belum tentu kita dapatkan ketika berada di daerah-dearah lain.

Terlepas dari gelar serambi mekah dan syariat islam yang melekat pada nama ‘Aceh’, ada banyak hal yang masih perlu kita pertanyakan keislaman dan keimanan kita sebagai orang Aceh. Pada awal-awal puasa, Harian The Jakarta Post Edisi 2 Juli 2014, memuat photo seorang polisi Syariat Islam yang sedang melakukan inspeksi ke sebuah warung di seputar Kampung Cina pada siang hari. Di pintu warung yang diambil dari gambar tersebut bertuliskan ‘Warung ini khusus non-muslim’. Nah, ada salah satu kawan saya yang non-muslim membaca Koran berbahasa inggris tersebut nyeletup, Aceh is the least religious province in Aceh’ (Aceh adalah daerah yang kadar keislamannnya sangat rendah)

Bagi saya, ungkapan yang terkesan guyonan tersebut bukan asal nyeletuh, pasti ada sesuatu yang dia pikirkan makanya dia mengungkapkan seperti itu. Mungkin saja dia berpikir, kenapa kok untuk puasa saja harus dikawal oleh polisi syariat? Kenapa untuk benar-benar beribadah pada bulan ramadhan harus ada pengawalan dari polisi syariat islam?. Beberapa asumsi saya tersebut mungkin bias menjadi refleksi untuk mempertanyakan kembali keislaman kita sebagai orang yang hidup di negeri bersyariat. Sekian.

Semakin Jauh-Semakin Rindu

Memasuki hari-hari terakhir bulan ramadhan, lebaran seolah-oleh besok pagi. Hiruk pikuk masyarakat, terutama yang beragama Islam terlihat sangat sibuk dengan kesiapan menyambut lebaran. Ibu-ibu sibuk dengan persiapan kue dan makanan untuk menyambut tamu yang berkunjung. Bapak-bapak semakin tidak sabaran menunggu THR dan gajian untuk membeli baju baru buat putra-putri tercinta. Anak-anak gadis, terutama, di desa-desa sibuk dengan dekorasi mempercantik rumah seperti memotong rumput halaman. Yang lelakinya juga tidak lupa kebagian tugas seperti mengecat pagar. Kakek-Nenek juga juga sibuk mencari uang receh untuk salam tempel buat cucu-cucunya.

Bagi mereka yang tinggal jauh, merantau atau mengadu nasib di kota jauh lebih sibuk. Berpuasa di akhir-akhir ramadhan nampaknya tidak sesusah berdesak-desakan mencari tiket kereta atau bus untuk mudik. Panasnya matahari tidak mengurangi semangat mereka untuk mencari satu atau dua buah tangan sebagai oleh-oleh untuk orangtua dan sanak saudara di kampung halaman.

Timpan | Salah Satu Makanan Pokok Ketika Lebaran di Aceh

Ah indahnya kekuatan bulan ramadhan-memang tiada tara.

Melihat antusiasme orang-orang menyambut hari raya idul fitri tiba-tiba mengingatkan Saya kepada orangtua dan kampung halaman. Rasa kangen semakin tidak terbendung ketika melihat kawan-kawan sejawat yang juga menunjukkan seolah-olah tidak sabar ingin pulang. Well, frankly speaking, Saya memang dibesarkan di keluarga dan lingkungan yang tidak biasa mengutarakan rasa kangen kepada orangtua atau adik-kakak-abang secara langsung dan vulgar seperti berpelukan dan mencium pipi kanan dan kiri atau tidur di pelukan orangtua atau mengatakan ‘Ma, Saya kangen, Saya rindu Papa dan diakhiri dengan obrolan Muachh di ujung telpon’ atau sejenisnya. Hukum yang sama juga berlaku seperti hari ulang tahun atau memperingati hari pernikahan bagi mereka yang sudah menikah. Memberikan hadiah kepada orangtua atau kepada pasangan hampir tidak pernah kita lakukan.  Saya tidak tau apa yang membuat hal-hal seperti itu tabu dan aneh bahkan menggelikan kalau di lingkungan kita. Tapi begitulah tatacara orang tua dan lingkungan membesarkan kami selama ini- menunjukkan keintiman hubungan keluarga dan bersaudara dengan cara yang berbeda.

DSC01747

My Sister’s wedding party | Feb 2014

Saya pribadi tidak melakukan lebih selain hanya mencium lutut mereka pada hari lebaran. Untuk ekspresi verbal, teringat saya, masih dalam hitungan jari saya mengucapkan ‘kangen’ atau ‘ingin ketemu mereka’. Kami punya cara tersendiri untuk mengekpresikan rasa rindu kepada keluarga ketika bersama, misalkan pada masa-masa lebaran. Berkumpul dua atau tiga hari, makan-makan (nasi meugang atau timpan), menghabiskan malam bersama di rumah yang paling dituakan, berkunjung ketempat kakek nenek dan berziarah ke kuburan rasanya sudah terbayar masa-masa jauh dari mereka selama setahun terakhir. Mungkin tidak ada yang special kesannya, tapi bagi saya pribadi—ini memiliki nilai dan esensi yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. *ah lebay banget ya*

So apa yang membuat lebaran tahun ini terasa berbeda? ada perasaan tidak sabar ingin pulang untuk menyambut lebaran tahun ini. Hari ini adalah ramadhan ke-23 rasanya sudah tidak sabar ingin menikmati malam takbiran di kampung halaman. Perasaan tidak sabar ini bukan disebabkan karena saya tidak menjalankan ibadah puasa bersama orangtua tahun ini, tetapi karena jarak tempat tinggal kita yang jauh, setidaknya bagi saya. FYI— sudah tiga bulan saya Stay di Jakarta untuk mengikuti training pembekalan keberangkatan melanjutkan S-2 dan masih akan berlangsung sampai akhir oktober mendatang.

Pada dasarnya a sudah sering saya bepergian dan honestly speaking Saya sudah tidak tinggal bersama orangtua semenjak menempuh pendidikan menengah atas. Dan selama itu pula saya tidak shalat Ied bersama keluarga di desa. Karena saya tinggal di sekolah yang berasrama, jadinya hampir setiap lebaran saya menunaikan shalat ied di komplek sekolah bersama dewan guru dan orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Jadi, absen dari shalat Ied bersama keluarga itu sudah biasa.

Namun masalahnya sekarang, Jakarta terkesan bagitu jauh bagi saya untuk menikmati rasa kebersamaan bersama orangtua. Mungkin kesannya manja dan lemah, tetapi saya menuliskan ini untuk mengambarkan bagaimana perbedaan perasaan itu ketika saya berpisah tetapi dekat karena di Aceh dan sekarang berpisah tetapi dalam destinasi yang lebih jarak. Pelajaran moralnya *kedekatan seharusnya tidak melunturkan nilai-nilai kebersamaan. Rasa tidak sabar ingin pulang seyogianya tidak hanya muncul ketika kita jauh. Nilai kekangenan seharusnya tidak ditentukan oleh jauh dan dekatnya kita dengan orangtua.

Melalui blog ini, izinkan saya mengucapkan rasa kangen ini dengan I miss you Ma and Pa. A big hug for my brother and sisters. Can’t wait to meet you soon.

 

 

Andai Aku Jadi Ketua KPK, Aku Akan ‘Mundur’

Amanat menjadi ketua KPK untuk memberantas korupsi tidak hanya dilegitimasikan oleh legislatif dan ekskutif tetapi juga oleh masyarakat. Karenanya ketika saya mendapatkan mandat menjadi Ketua KPK, saya akan melakukan dua langkah ‘mundur’ yang dapat menjadi amunisi untuk memberantas korupsi.

Langkah mundur pertama yaitu mempelajari budaya korupsi di Indonesai dari masa ke masa. Mulai dari pemerintahan Soekarno sampai dengan SBY. Memetakan secara terperinci pola, jenis, bentuk, strategi, jumlah, dan pelaku secara komprehensif lengkap dengan data dan fakta. Mempelajari budaya korupsi yang sudah dipraktekkan sebelumnya dapat menjadi modal buat saya untuk mengantisipasi ruang-ruang potensi korupsi (preventive action) kedepan. 

Kedua, saya akan mundur untuk mempelajari karaktek organisasi KPK, terutama pimpinan sebelumnya. Ketika Taufiqurrahman Ruki yang berlatarbelakang polisi memimpin dengan gaya yang investigatif. Pada saat dibawah pimpinan Antasari, roda KPK sangat birokratif karena beliau berprofesi sebagai Jaksa. Sekarang pada saat KPK dinahkodai oleh Abraham Samad yang bergaya aktifis karena kehidupannya yang dipengaruhi oleh dunia LSM. Mempelajari gaya, psikologi, dan pelbagai seluk beluk mereka, saya bisa mengetahui dampak terhadap pemberantasan korupsi pada masanya. Manfaat lain bagi saya yaitu mengambil yang baik dari mereka untuk menciptakan perbedaan dalam kepemimpinan saya.

Kendati saya harus mundur untuk melaksanakan kedua langkah diatas, namun saya yakin akan memberikan multi-impacts. Meskipun akan ada yang bilang saya mandul aksi, tapi itu hanya untuk sementara, karena saya mundur bukan untuk tidur, tapi karena belajar untuk bertempur.

Kalau Aku Jadi Ketua KPK, Aku Akan Batasi Transaksi Tunai

Banyak kasus korupsi bermodus transaksi tunai seperti kasus suap Bupati Buol, Jaksa Urip, Kepala Kantor Pajak Bogor, Petugas Bea Cukai, Hakim Imas Dianasari, Hakim Tipikor di Semarang, dan sederatan kasus tertangkap tangan lainnya oleh KPK ketika sedang melakukan transaksi tunai.
Photo Saya Ambil dari http://blogs.thenews.com.pk
Belajar pada kasus-kasus tersebut, saya akan mengadvokasi regulasi yang mengatur tentang pembatasan transaksi tunai. Saya sepakat dengan Bang Napi yang mengampanyekan untuk waspada karena kejahatan terjadi bukan karena ada niat tetapi karena ada kesempatan. Dengan melakukan pembatasan, maka ruang-ruang untuk korupsi akan semakin sempit. Ketika kesempatan semakin terbatas, secara otomatis praktek korupsi akan semakin berkurang. Inilah semangat preventive actions yang akan saya wujudkan.

Untuk mewujudkan good-will tersebut, Saya yakin tidak mudah karena banyak pihak yang melakukan upaya resistensi. Untuk itu, melakukan pendekatan dengan Presiden dan lobbying ke DPR untuk melahirkan payung hukum adalah keniscayaan. Disamping itu, membangun kerjasama dengan instansi lain seperti Menkeu, BI, PPATK adalah langkah strategis. Pada saat sinergisitas dengan lembaga-lembaga tersebut termasuk pihak penegak hukum, terutama polri terbangun langgeng dengan mengedepankan prinsip mutual respect dan benefits, saya yakin akan mendapat dukungan penuh. Pada titik ini, maka tidak akan muncul percekcokan antara sesama penegak hukum, tidak ada istilah cicak-buaya jilid 3, 4, 5, dan seterusnya.

Terlepas dari itu, dengan wewenang dan kekuatan yang dimiliki oleh KPK seperti tercantum dalam UU No 30 Tahun 2002, maka saya yakin langkah untuk membatasi transaksi tunai akan segera terwujud ketika kepemimpinan berada di tangan Saya.

Berguru Pada Pemilu Amerika

Photo dari gossipcop.com
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Amerika setelah 4 tahun silam. Pemilihan Langsung Presiden Amerika telah berlangsung sukses, dan menurut hasil sementara, Barack Obama ungguli Mitth Romney. Menurut update berita yang disajikan melalui grafis di website Voice of America Indonesia, http:// voaindonesia.com, Obama sudah mendapatkan 303 suara elektoral sedangkan Mitth Romney  206 (pada saat tulisan ini saya tulis).

Pentas politik pemilu merupakan bentuk praktek demokrasi prosedural yang berlangsung di setiap negara yang berpaham demokrasi. Pesta demokrasi adalah pesta rakyat. Pemilu adalah wadah bagi masyarakat untuk menggunakan hak politik dan mewakilkan seseorang untuk duduk di kursi politik.  Karenanya, banyak aktor demokrasi yang terlibat di dalam pemilu; pemilih, kandididat, penyelenggara (negara), dan pihak ketiga diantaranya media massa, analis dan pemantau international. Untuk merayakan hari penting ini, saya mencoba untuk melihat beberapa pelaku demokrasi tersebut dalam kancah politik Amerika dari sisi lain yang mungkin banyak pelajaran yang bisa kita aplikasikan di Indonesia.

Peran utama kesuksesan pemilihan Presiden Amerika tahun 2012 adalah pemerintah. Tanggun jawab pemerintah sebagai penyelenggara pemilu benar-benar ditunjukkan oleh pemerintah sebagaimana mestinya. Banyak fakta yang membuktikan kesiapan pemerintah dalam menyelenggarakan pemilu. Fakta utama yang paling menarik dan seyogianya secepat mungkin diadaptasi di Indonesia adalah pemungutan suara dengan menggunakan teknologi (e-voting).

E-voting banyak memberikan manfaat  tidak hanya bagi pemilih, tetapi juga kandidat, pemerintah, serta dunia international. Bagi pemilih, dengan layanan e-voting tentu saja dapat bermanfaat dari segi waktu dan tenaga. Orang akan tetap bisa bekerja dan beraktifitas dengan normal tanpa harus disibukkan dengan antrian yang panjang. Dokter tetap bisa mengoperasikan pasiennya, pengajar tetap bisa mengajar peserta didiknya, sopir tetap bisa mengantar penumpang, dan sebagainya. Dampaknya, tidak terjadi kelumpuhan di semua lini. Ekonomi tetap hidup, masyarakat tidak lapar karena pemilu. Ini adalah dampak langsung dari e-voting.

Selanjutnya untuk kandidat, pemerintah, dan dunia international, dengan komputerisasi pada pemilu dapat meminimalisir angka kecurangan dalam pemilu. Disamping itu, hasil real-count yang cepat adalah manfaat paling besar buat kandidat dan masyarakat international. Tidak harus menunggu 3 atau 4 minggu baru mendapatkan hasil pasti. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia harus secepatnya mereplikasi sistem e-voting.

Kesiapan pemerintah juga terlihat dalam pemenuhan hak bagi pemilih. Peran negara sebagai fasilitator jelas terlihat dalam pemilu Amerika. Hebatnya tidak hanya dalam situasi normal, bagi masyarakat yang baru saja diterpa badai sandy juga mendapat perhatian lebih. Masyarakat yang tinggal di New Jersey misalkan, pemerintah negara bagiannya tetap berupaya supaya masyarakatnya tidak kehilangan hak pilih dalam pemilu 2012.  Seperti dituliskan di voaindonesia.com pada Rabu, 07 Nopember 2012, Gubernur Chris Christie mengatakan “Tidak ada alasan kenapa orang tidak bisa mencoblos. Kita akan membuat proses yang penuh, adil, transparan dan terbuka”.

Tidak hanya itu, untuk masyarakat lansia dan cacat sekalipun juga bisa memastikan hak politiknya bisa tersalurkan. “Bagi pemilih yang tidak dapat meninggalkan rumah, para pejabat pemilu telah mengubah beberapa fasilitas layanan kesehatan menjadi TPS sederhana guna memastikan warga lansia tetap dapat memberi suara mereka”. begitu tulis VoA dalam beritanya pada tanggal Rabu, 07 Nopember 2012.

Kedua, belajar dari kandidat-kandidat yang diusung oleh masing-masing partai. Kalau anda menonton debat-debat publik yang ditampilkan di media massa baik cetak maupun elektronik, maka anda akan melihat bagaimana kedewasaan para kandidat dalam berdebat. Saling membantah dan menyangkal satu sama lain dengan penuh kedewasaan. Terkesan kadang-kadang seperti perdebatan anak-anak yang saling mencela dan memaki, namun etika dan sikap menghormati tetap dijungjung tinggi. 

Selain itu, pertaruhan argumen yang dimunculkan dalam debat. Kecemerlangan solusi dalam menyikapi persoalan. Semua itu menjadi ajang pertaruhan intelektual yang dapat menjadi penentu bagi pemilih. Debat tidak hanya sebatas debat, namun lebih dari itu, debat menjadi alat ukur kompetensi kandidat yang maju sebagai calon pemimpin. Dengan kata lain, pemilih sudah berada tahap rasional bukan lagi pemilih emosional.

Kalau melihat kedewasaan kandidat tampaknya kita harus belajar pada pada Mitt Romney dan Barack Obama. Budaya politik Amerika yang “mewajibkan” seseorang kandidat yang kalah untuk menyampaikan pidato kekalahannya di depan para pendukungnya, dan menyampaikan selamat kepada pemenang adalah nilai plus yang jarang kita lihat di Indonesia. Coba anda bayangkan, di saat media seluruh dunia mengabarkan kekalahan, tapi Mitt Romney harus menyampaikan Pidato Kekalahannya di depan pendukungnya dan rakyat international. Namun dengan penuh semangat Romney menyampaikan “Saya baru saja menelpon Presiden Obama untuk mengucapkan selama atas kemenangannya. Pendukung dan tim kampanyenya juga pantas mendapatkan ucapan selamat”. Kemudian Romney melanjutkan “Negara ini, seperti yang kalian tahun sedang berada pada titik kritis. Pada masa seperti ini, kita tidak bisa terjebak dalam cekcok partisan dan pertengkaran politik. Para pemimpin kita harus mengjangkau semua pihak untuk mengerjakan tugas dari rakyat”.

Tidak hanya sepihak, kandidat yang memenangkan pertarunganpun tidak sungkan untuk mengucapkan terimakasih dan menyelamati rivalnya. Obama mempraktekka hal itu dengan menyelamati Romney, VoA menuliskan dalam liputannya tanggal 7 November 2012, “Saya ingin menyelamati Gubernur Romney atas kampanye yang bersemangat. Saya tahu bahwa pendukungnya sangat antusias dan terlibat dan bekerja sama kerasnya hari ini”. “Kami mungkin telah bertempur dengan ganas, namun itu hanya karena kami sangat mencintai negeri ini dan sangat peduli akan masa depannya”. Kita rindu politis seperti Obama dan Romney di Indonesia yang siang untuk menang dan kalah.

Terakhir, peran media massa yang memblow up informasi tentang pemilihan Amerika. Saban detik media elektronik mengabari perkembangan pemilu. Jumlah pendukung, kondisi TPS, antusiasme pemilih, kekecewaan pendukung, dan sebagainya selalu diupdate setiap saat. Peran media seperti Voice of America Indonesia yang mempunyai liputan khusus tentang Pemilihan Amerika semenjak beberapa bulan lalu, sangat besar manfaatnya dalam menyampaikan informasi untuk masyarakat Indonesia.


VoA Indonesia yang secara berkala mengupdate informasi tentang Pemilihan Amerika tidak hanya berfungsi sebagai information media, tetapi juga sebagai “guru” untuk masyakarat. Melalui media, VoA, rakyat Indonesia terutama para pengguna jejaring sosial di twitter dapat bertanya seputar pemilu Amerika, dan VoA sudah menyediakan crewnya untuk melayani pertanyaan masyarakat, seperti Mbak Retno Lestari dan Ade Astuti. Saya sangat beruntung juga bisa berinteraksi dengan mereka hari ini melalui twitter. Selain itu, masyarakat juga dapat mencari berbagai informasi tentang pemilu Amerika, mulai dari sistem pemilu yang sangat “complicated”, presiden Amerika dari masa ke masa, profil kandidat sampai dengan kecenderungan pemilih yang semua itu menjadi input pengetahuan tersendiri tentunya. Pada titik ini, saya pikir media, dalam hal ini VoA, sudah menjalan fungsinya sebagai diamanatkan oleh UU No 40 tahun 1999 dimana media tidak hanya berfungsi sebagai pengontrol sosial, ekonomi, penghibur, tetapi juga sebagai pendidik (Pasal 3 Ayat 1).  

Terlepas dari berbagai kekuarangan dan ketidaksempurnaan sistem pemilu di Amerika, urain diatas dapat menjadi sisi lain dari pemilu Amerika, dan hendaknya kita bisa berguru kepada mereka, terutama pemerintah. Semoga!

@adhamisadam
@17.40 WIB

Para pendukung Barack Obama bersorak setelah mendapat berita bahwa Presiden terpilih kembali. (Reuters/Jeff Haynes).
Photo saya ambil dari situs VoA.

Opini_Ramadhan dan Toleransi (Sisa Ramadhan)

Bagi kita,
Teis dan ateis bisa berkumpul
Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan elit bisa bergurau.
Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan.
Tapi,
Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu.

Photo from naturemoms.com
Begitu tulis Ahmad Wahib dalam catatannya tanggal 16 Agustus 1969. Dalam banyak catatannya, Ahmad Wahib sangat menekankan pada nilai-nilai toleransi dan pluralisme. Kalau Ahmad Wahib meninggalkan pesan toleransi dalam catatanya yang sudah dibukukan, bulan ramadhan juga mengajarkan kita esensi toleransi yang tidak tertulis melalui berbagai praktek ibadah.

Perbedaan dalam memulai hari pertama ramadhan saja sudah menunjukkan bahwa ramadhan adalah media untuk mempraktekkan toleransi. Hampir setiap tahunnya, ada banyak kelompok di seluruh seantaro Indonesia memulai puasa ramadhan di hari yang berbeda. Tahun 1433 Hijriah kali ini, ada kelompok Islam yang puasa hari pertama tanggal 20 Juli dan kelompok lainnya berpuasa pada hari sabtu, 21 Juli 2012.

Pihak yang memulai lebih awal pasti mempunyai alasan dan landasan tersendiri, sedangkan kelompok yang berpuasa pada hari berikutnya juga bersandar pada kepercayaan dan kelompoknya. Kita patut bersyukur kalau perbedaan dalam mengambil hari pertama bulan ramadhan tahun ini tidak diwarnai dengan perdebatan yang berakhir anarkis.

A photo from demotivatedposters.com
Praktek selanjutnya yang penuh dengan nilai-nilai toleransi adalah ibadah shalat terawih. Ibadah yang satu ini mengajarkan ummat muslim nilai toleransi dalam prakteknya. Sudah berpuluhan tahun di Indonesia, praktek terawih yang dilakukan setelah shalat isya tersebut berbeda jumlah rakaatnya antara penganut ummat Islam sendiri.

Banyak masyarakat yang shalat dua puluh rakaat, namun tidak sedikit juga yang shalat delapan rakaat. Menariknya banyak rumah ibadah seperti Musallah, Surau, Mesjid, Musalla, dan sebagainya yang mempraktekkan shalat delapan dan dua puluh rakaat pada saat bersamaan di dalam satu tempat ibadah.

Mesjid Baiturrahman Aceh adalah salah satu buktinya. Di Mesjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh ini mempunyai dua model jama’ah terawih. Ketika sudah selesai delapan rakaat shalat terawih, kelompok yang dua puluh rakaat keluar dari barisan dan mempersilakan kelompok delapan rakaat untuk melanjutkan dengan shalat witir sebanyak tiga rakaat.

Setelah selesai shalat witir, dilanjutkan oleh jamaah yang shalat dua puluh rakaat, dan giliran kelompok yang delapan keluar dari barisan shalat. Menariknya, jumlah jamaah yang dua puluh rakaat lebih banyak secara kuantitas dibandingkan dengan pengikut delapan rakaat. Namun mereka mau “mengalah” dengan jumlah yang lebih kecil.

Hebatnya lagi, ketika mulai shalat isya hingga delapan rakaat, kelompok delapan dan dua puluh melakukannya dalam satu jama’ah. Artinya tidak dipisahkan antara dua kelompok tersebut. Tidak hanya itu, panitia mesjidpun mempersiapkan dua imam shalat yang memiliki tanggung jawab berbeda setiap malamnya. Shalat witir jama’ah yang delapan dan dua puluh rakaat dipimpin oleh imam yang berbeda. Ketika selesai kelompok yang delapan rakaat, maka imampun diganti untuk kelompok dua puluh rakaat yang melanjutkan dua belas rakaat shalat terawih dan tiga rakaat witir.

Cara melakukan ibadah terawih di mesjid Baiturrahman yang jamaahnya mencapai ribuan setiap malamnya adalah manfaat nyata dari implementasi nilai-nilai toleransi. Sepengetahuan saya, praktek seperti di Baiturrahman tidak hanya ada di satu mesjid, namun banyak tempat ibadah lainnya yang menjalankan model serupa. Ibadah ini menunjukkan betapa beragamnya masyarakat Indonesia. Agama yang berfungsi sebagai payung bertugas untuk melindungi penganutnya dalam berbagai hal, termasuk juga kebebebasan dalam beribadah.

Kalau kita melihat praktek ibadah terawih, begitu toleransinya Indonesia. hidup terasa sangat indah ketika toleransi itu diimplementasikan dengan sebenarnya. Bayangkan kalau saja ada kelompok masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan dengan cara ibadah terawih, saya yakin setiap malam ada konflik, setiap malam ada tindakan-tindakan anarkis, bahkan tidak tertutup kemungkinan aka ada yang hilang nyawa kalau setiap malam bersiteru dengan jumlah rakaat shalat terawih.

Kalau kita tarik dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya setiap agama sangat menjunjung tinggi perbedaan. Perbedaan dalam memilih calon pemimpin, beda pilihan partai politik, beda pendapat dalam menanggapi isu atau setiap permasalahan. Seandainya perbedaan-perbedaan tersebut disikapi layaknya seperti menerima perbedaan dalam menjalankan ibadah terawih, saya yakin akan sangat indah.

photo from nittgritt.com
ketika perbedeaan disikapi dengan pikiran jernih, dan dikedepankan dialog atau diskusi, tidak ada kekerasan, tidak ada perusakan tempat-tempat umum, tidak ada perkelahian antar kelompok, tidak muncul kelompok yang membenci atau menolak organisasi tertentu dengan berbagai alasan, dan berbagai aksi-aksi lainnya yang selama ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kita berharap kalau kesediaan kita untuk menerima perbedaan dan mempraktekkan toleransi tidak hanya dalam ramadhan saja, tetapi juga pada bulan-bulan selanjutnya. Kalau agama saja menjunjung tinggi perbedaan, kenapa kita harus bertengkar? Atau kita ganti saja “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi “Bhinneka Tinggal Duka”.

Written by: Muhamamd Adam adalah Peserta Youth Muslim Exchange Program Indonesia-Australia 2012 dan Sekjend Komunitas Demokrasi Aceh Utara 2011.  

Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu ‘dimodifikasi’ untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.

Salah satu suasana pengajian.
Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah…saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga…wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya…yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He……………

Suasana Pengajian pada malam hari.
Ya Allah… show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.

[Viva.co.id] Evolusi ala Viva

“Creativity starts when you cut a zero from your budget, if you cut two, much better”. Ungkapan yang sangat inspiratif dan penuh dengan nilai-nilai motivasi tersebut dinyatakan oleh Jeime Lerner.  Kata bijak yang keluar dari mulut mantan walikota Curitiba, Brazil ini selaras dengan semangat Viva yang berevolusi dari Viva.com menjadi Viva.co.id.

Substansi dari ungkapan diatas adalah semangat kreatifitas yang muncul ketika ada tantangan. Kreatifitas akan kosong ketika tidak ada hambatan dan tantangan. Sebenarnya Lerner ingin menyampaikan pesan kepada pekerja dan aktifis lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Brazil pada saat itu untuk tidak selalu bergantung pada donatur. Supaya ada perubahan, dia mengatakan “supaya anda kreatif, coba anda kurangi satu “nol” dari total anggaran anda, tapi kalau anda mau mengurangi dua “nol”, maka lebih baik”. Artinya ketika mendesak, mau tidak mau, anda harus kreatif, anda harus menciptkan perubahan. Semakin besar desakan, semakin pula usaha anda untuk berkreasi. 

Menurut saya, perubahan situs viva juga membawa nilai dan semangat yang sama. Saya tidak bisa banyak menilai dari sisi konten, tampilan, dan sebagainya dalam wajah baru viva sekarang, karena saya tidak terlalu paham dengan dunia “IT”. Tapi sebagai orang yang mengambil mengkonsumsi dan manfaat dari viva selama ini, saya berpikir ada lesson-learned penting yang bisa saya ambil pelajarannya yaitu semangat untuk menciptakan perubahan karena tuntutan.

Persaingan tidak selamanya memberi dampak negative, justru sebaliknya tidak sedikit maha karya besar lahir ketika ada kompetisi. Banyak tokoh-tokoh besar dunia lahir dengan berbagai keterbatasan baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Namun keterbatasan tersebut justru menjadi inner-power mereka untuk berubah dan sukses.

Kreatifitas dan inovasi situs Viva.co.id yang mengalami perubahan hampir secara total dalam semua aspek tersebut juga lahir karena persaingan dalam dunia industry berita online. Pada saat ini, pertumbuhan media massa online di alam maya berkembang begitu pesat, dengan menyajikan informasis secara lebih cepat dan akurat, semuanya berlomba menjadi yang terhebat. Pertanyaanya, kalau viva tetap mempertahankan dengan gaya dan bentuk yang lamanya tanpa berusaha menciptakan inovasi baru, akankah viva mampu survive?. Kalaupun tidak mati, hiduppun akan segan pastinya.

Kalau kita mau tarik kedalan ruang lingkup yang lebih luas, sebenarnya hampir di semua lini kehidupan kita juga berlaku hukum yang sama. Ketika ada kompetisi, maka akan muncul ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Kita ingin berpacu ketika ada yang mengejar kita. Sebagai contoh, ketika ada China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) ditandatangani, banyak pengusaha-pengusaha Indonesia yang berjuang lebih keras, menciptakan inovasi-inovasi baru, meningkatkan produktifitas, meminimalisir biaya produksi, membangun pasar yang lebih luas, meningkatkan layanan konsumen, nah meskipun ada yang kalah cepat dengan pengusaha China, namun tidak sedikit juga yang mampu bersaing dengan pedagang dan pengusaha dari China. Apalagi didukung dengan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kemampuan daya saing pengusaha Indonesia. Salah satu dukungannya seperti diberitakan oleh Viva.co.id. (saat itu masih Viva.com) tanggal 23 Juni 2010 bahwa pemerintah menggelar Pameran yang bertama “Ready for CAFTA, Through Fostering Indonesia Industry” sebagai ajang untuk memamerkan produk Indonesia ke pasar International.

Contoh sederhana lainnya adalah kompetisi yang terjadi diantara pelajar untuk memperebutkan juara atau prestasi. Semakin ketat persaingan yang ada, maka akan semakin rajin pula siswa untuk belajar, lebih banyak membaca, memperbaiki sikap, disiplin dalam menyerahkan pekerjaan rumah, dan sejenisnya. Dampaknya besar sekali yaitu meningkatnya kualitas siswa-siswa yang tidak mau ketinggalan apalagi kalah dengan kawan sekelasnya.

Dalam konteks persaingan,  Bapak Ekonomi dunia, Adam Smith, mengatakan laissez faire (persaingan bebas) artinya siapa yang qualified dan berkualitas, maka akan menang. Saya tidak ingin terburu-buru mengclaim kalau Viva sudah menang atau terdepan dibandingkan dengan situs-situs berita lainnya di dunia maya, namun kualitas tersebutlah yang hari ini ditunjukkan oleh Viva. Dengan perubahannya yang baru, tampilannya lebih bagus, tingkat kelengkapan beritanya semakin maksimal, keberagamannya semakin berwarna, dan segudang kemajuan lainnya. Capain dan kualitas seperti yang dimiliki viva hari ini, tentu bukan hasil kerja semalam atau semudah mengambil jemuran. Namun viva sudah mengalami proses yang panjang, perancanaan yang matang, survey pasar yang lama, pertimbangan kelebihan dan kekurangan yang pasti, diskusi dan perdebatan yang panjang, dan segenap persiapan lainnya.

Viva bergerak karena ada persaingan, viva bekerja keras karena ada lawan.  Sekarang viva sudah berovolusi dengan berbagai inovasi dan kreasi yang siap saji, dan inilah Evolusi ala Viva. Selamat Berevolusi Vivaku. I love you!!!