Essay Contest_Creating Youth with 3 “H”

Note: I sent the following article to participate in an International Essay Contest for Young People organized by Goi Peace Foundation and UNESCO.
 
“The foundation of every state is the education of its youth”, that’s a quote by Diogenes Laertius, a Greek philosopher.  What kind of education we want to? Is our current education system could create a competitive generation?. At present and future, is it sufficient with information only? Only mastering technology?.

In fact, there are many terrible problems occur at any time whether in politics, economic, social, or culture in this world nowadays. Irresponsible leaders, greedy capitalists, careless youths, irresponsible parent, and uneducated children are part of the problems currently challenging the world. Wars never stop, death news reported every day, endless forest deforestation, divorces numbers are increasing day by day, uneducated kids are growing up, flooding moves from one place to the others, and corrupted governments are part of the consequences. 

To overcome those risky problems and phenomenon, we need absolutely new soft-revolution.  In this case, as a teacher, I am in the same line with Masahisa Goi who dedicated his life for education. I have idea to create qualified current and the next generation with 3 “H”; Head, Hand, and Heart.

At present, mastering knowledge and science are totally required. To study till the higher university education is a mandatory for the government to be fulfilled for the society. The youth should study math, physic, chemistry, biology, astronomy, and any other such classes. If they have formal education, that means they have hold already basic requirement to compete with others.  Those areas of study are to fill up the “head” of young generation. That’s the first “H”.

Second, the young generations need to be completed by skill or hand. They have to master computer skills, foreign languages, and other soft skills in order to compete in this global era. The technology stuffs are produced day by day, news and information are being spread every single minutes.  Meladee McCarty said, a troop would win the war if they are equipped with information and technology. That’s why, youth should master skills if they want to win the competition.

In term of mastering English skill for example, even I’m from a social-economic disadvantage family; I’ve proved in my own life with a number of satisfied achievements. When I was an undergraduate student at my university, there were 3 times I delegated my university to compete in Scientific English Debate for the national level. In addition, in the last year of my study at the university, I achieved a competitive scholarship from US Department of State to study at Ohio University, USA for 8 weeks. Furthermore, on April 2012, I was selected by Australia Indonesia-Institute to participate in a prestigious youth Muslim Leaders exchange program to visit Melbourne, Canberra, and Sydney.

The last “H” is heart. It’s least but it’s most important one. The youth should be accomplished their heart with value. When the teachers teach the students in math, chemistry, or physic class, they should teach them the value of each class as well. For instance, why do we need nuclear? Is it for medical or war reason?. In addition, when a religious teacher teaches religion, s/he should let the students to realize why we have to be patient in traffic lights. Furthermore, when a biology teacher teaches about flora, the teacher should drive inner awareness of the students why they have to keep the environment and do not make any useless deforestation. In short, it’s not about “what”, but “why” the students should do this, and avoid doing that. The next step is pushing those values into actions to practice in daily life of entire aspects.   In this case, Herbert Spencer said, “the great aim of education is not knowledge but action”.

Combining 3 “H” in education systems would fortunate us to create the students perfectly not only in intelligence but also emotional and spiritual quotient as well.  If math is to fill one’s head, computer is to fill one’s skill, and value is to fill one’s heart. In other words of a garden, hearth is the land, head is the flower, and hand is the fence. They are relaying and relating each other.

When youth equipped with those 3 “H”, they would be the leaders who are loyal to their society, they would be the entrepreneurs who care to the social responsibilities, or they would be the fathers or mothers who are dividing their times between works and family as well as social time equally. At this point, we are living in a world where peace, justice, respect, and honor are belonging to everyone.


Pilihan Ungkapan dalam Catatan Harian Ahmad Wahib [1]

Baca ini Dulu YA!!!

Dibawah ini adalah ungkapan, catatan, pernyataan, dan kutipan yang saya ambil dari Buku Catatan Harian Ahmad Wahib (Pergolakan dan Pemikiran Islam). Menurut Saya ungkapan-ungkapan dibawah ini mempunyai nilai positif dan dapat menyuplai nilai-nilai kebijaksanaan, keramahtamahan, toleransi, dan semuanya itu bersifat konstruktif.

Alasan kenapa Saya memposting di blog, supaya manfaatnya juga bisa didapatkan oleh para narablog dan readers. Kekurangannya dari postingan ungkapan-ungkapan ini adalah interprestasi beragam dari netters atau bisa juga menimbulkan beragam pertanyaan yang menuntut penjelesan lebih lanjut dari ungkapan tersebut. Saya sangat sadar akan potensi itu, karena catatan-catatan dibawah ini ada yang bersifat potongan kalimat, ungkapan langsung dari Ahmad Wahib dan ungkapan dari sumber kedua,dan kesemuanya itu tidak saya catat seluruhnya.

Saya punya alasan substansial menyangkut hal ini. Pertama, dengan timbulnya kebingungan dan kecurigaan untuk ingin tau lebih jauh (curiosity) maka anda akan berusaha untuk aktif dan mencari, artinya anda tidak lagi menunggu dan pasif. Kedua, Saya yakin kalau anda sudah membaca potongan-potongan catatan Ahmad Wahib akan memancing adrenalin anda untuk mengetahui catatan-catatan dia lebih lanjut. Ketiga, Untuk menjawab curiosity anda, saya yakin anda akan mencari referensi atau buku catatan Ahmad Wahib. Keempat, akan semakin bertambahnya orang-orang mengenal dan mengetahui Pemikiran-Pemikiran Ahmad Wahib. Dan Terakhir, harapan saya semoga saja dengan semakin banyaknya pembaca buku pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib, akan semakin banyak yang mengetahui betapa hebatnya ide dan pemikiran dia tidak hanya tentang Agama, tetapi juga ekonomi, politik, dan budaya-sosial sehingga nilai-nilai pluralisme akan semakin membumi di Indonesia,setidaknya bagi penganut agama Islam. Amin….

Catatan Penting, setiap ungkapan saya ikut sertakan juga nomor halaman dimana ungkapan itu saya ambil dari bukunya.

Catatan ini akan terus bertambah, seiring saya menyelesaika bacaan buku Ahmad Wahib.

Untuk Mengetahui lebih lanjut tentang Ahmad Wahib, Silakan Anda Biograpinya di blog Sayembara Ahmad Wahib 2012 http://ahmadwahib.com.

Kalau Anda Ingin Membaca Catatan dari Pergolakan Pribadi Saya dari Membaca Buku Ahmad Wahib, silakan anda baca di [Jangan Baca]_Part 1 atau Click HERE.

Selamat Merenung!!!


Posting Tanggal 28 Mei 2012

  1. Tidak ada persoalan yang pernah selesai karena kata “pertanyaan” belum pernah hilang. [51]
  2. Akal tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. [48]
  3. Tiori kaum eksistensialis bahwa sesungguhnya manusia itu adalah individual dan tidak bisa dikotak-kotakkan dalam skema-skema tertentu. [52]
  4. Dari pertentangan-pertentangan keras akan bisa digali kebenara-kebenaran baru yang lebih tinggi. [52]
  5. Persamaan tidak akan mengunggugah apa-apa untuk pengembangan diri tapi pertentangan justru mempunyai daya rangsang yang tinggi untuk kematangan intelektual dan emosional. [52]
  6. Kita orang-orang Islam sangat memperhatikan hukum-hukum agama (fiqh) dan hamper sama sekali tidak memperhatikan masalah-masalah ketuhana. [60]….tidak heran karenanya Islam menjadi “agama patokan”.
  7. Saya Pikir Hukum Islam itu tidak ada, yang ada ialah sejarah Muhammad. [60]
  8. Saya Pikir makin modern atau maju suatu masyarakat, akan semakin individualistis sikap-sikap anggotanya. [61]
  9. Yang penting bagiku adalah dialog [70]
  10. Change tidak selalu berarti progress, walaupun progress selalu menyaratkan change [62]
  11. Nilai budaya yang ideal bagi suatu masyarakat itu selalu berubah-ubah sesuai dengan kebutuhannya [66]
  12. Konsep Islam itu adalah abadi dan universal [75]
  13. Pembaharuan adalah proses yang tak pernah selesai [79]
  14. Sekularisasi itu adalah opened process sedangkan sekularisme adalah closed system [79]

    Next Post ??? Wait…

Catatan-Catatan dan Pilihan Kalimat dari Novel “Negeri 5 Menara”

Catatan-Catatan di bawah ini adalah beberapa ungkapan yang Saya ambil dari Novel Trilogi “Negeri 5 Menara” karya Ahmad Fuadi.

Menurut Saya penting dan bermanfaat kalau dibaca dan diintegralisasikan dalam diri pembaca. Tujuan Saya posting catatan ini;
[1] Untuk mendokumentasikan catatan Saya.
[2] Supaya manfaatnya tidak hanya buat pribadi Saya tetapi juga buat semua permbaca.

Catatan-catatan ini terdiri dari kutipan langsung yang saya ambil, atau substansinya saja, atau potongan kalimatnya, atau potongan dialog dalam novel.

Selamat Merenung!

***
  1. Orang-orang yang berilmu dan baradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang  ~ Pesan Imam Syafi’I. [211]
  2. Jangan puas jadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai . [395]
  3. Dulu jual mengkudu, sekarang jual durian, dulu tidak laku, sekarang jadi rebutan. [393]
  4. Pasang Surut suatu Dinasti mengikuti hukum universal. Menurut hukum itu, suatu budaya baru selalu dimulai dari semangat solidaritas kelompok yang sangat kuat. Kelompok ini lalu menjadi penguasa dan membangun budaya dan peradaban yang kokok.   Tapi begitu kekuasaan terbentuk, mereka menhadi lengah, muncul kecumburuan dan satu sama lain berebut kekuasaan. Fase berikutnya, mereka menjadi lemah dan gampang ditaklukkan oleh kelompok baru. Yang punya semangat solidaritas  kelompok yang lebih baru lagi, seperti yang pernah mereka punyai dulu. Dan siklus ini terjadi berkali-kali. Ambruknya peradaban Islam di Spanyoe juga terjadi karena kesalahan yang sama. ~ Ibnu Khaldu (abad ke 13 di Spanyol) dalam bukunya “Mukaddimah”.  Dia adalah ahli hukum, sejarah, sosiologi, dan filsuf. [390]

  5. Dinasti-Dinasti:
    • Dinasti  Nasrid di Spanyol
    • Safavid di Iran
    • Mogul di India
    • Ottoman di Anatolia, Syiria, Afrika dan Timur Tengah. [390]

  6. Ibnu Rusyd lahir di Spanyol pada abad ke 12. Nama eropanya Averrous. Dia adalah ahli hukum, aritmatika dan kedokteran.  Ikut berperan mempengaruhi filosofi pemikiran Thomas Aquinas dan Albert the Great. [389]
  7. Bagi kita disini, seni penting untuk menyelaraskan jiwa dan mengekspresikan kreatifitas dan keindahan. [34]
  8. Pendidikan di Pondok Madani tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana. [35]
  9. Man jadda wajada
  10. Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin. [49]
  11. Beruntunglah kalean sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan ke Syurga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orag berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata, dan hati kalean. [51]
  12. Bahasa ASING adalah anak kunci jendela dunia [51]
  13. Tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan. [76]

  14. Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju [76]
  15. Ketek  banamo, gadang begala. Kecil diberi nama, dewasa diberi gelar. [98]
  16. Man Shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. [107]
  17. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan masa sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misnya dalam hidup [106]
  18. Going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata [107]
  19. Jangan  pernah mengizinkan orang diri kalian dipengaruhi oleh unsure di luar kalean. [107]
  20. Hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses. [108]
  21. Jangan berharap dunia berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. [158]
  22. Ilmu bagai nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu bersihkan hati dan kepalamu, supaya sinar itu bsia datang, menyentuh, dan menerangi kalbu kalian semua. [190]
  23. Tuhan bisa mendatangkan rezeki kapada manusia dari jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka. [205]
     
  24. Dulu jual paku sekarang rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan. [232]
     
  25. Belajar keras adalah gaya hidup yang fun, hebat dan selalu dikagumi. [264]
     
  26. Ikatlah ilmu dengan mencatatnya ~ Pesan Sayidina Ali. [265]
     
  27. I’malu fauqa ma’amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat oran. [267]
     
  28. Apabila orang masuk sekolah agama hanya karena tidak lulus ujian masuk sekolah umum, bagaimana kita bisa mengharapkan ahli agama yang cemerlang kalau yang belajar ilmu agama itu banyak dari orang-orang terbuang? [312]
     
  29. Disini adalah tempat memberikan jasa, bukan minta dan mengingat jasa. [353]
     
  30. Setiap barang yang pernah ada di suatu tempat dan kemudian dipindahkan, maka masih ada jejak aura di tempatnya semula. [368].
     
  31. Allahumma zidna ilman warzuqna fahman. Tuhan tambahkanlah ilmy kepada kami dan anugerahkanlah pemahaman kepada kami. [379]
     
  32. Inti hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras,  do’a, dan tawakkal. [382]
     
  33. Saajtahidu fauqa mustawa al- akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oleh orang lain. Filosofinya sedikit saja lebih dari orang lain [383]
     
  34. Napoleon Bonaparte tidak pernah mau ikut ujian. [393]
     
  35. Syair Abu Nawas:
    Wahai Tuhanku…Aku sebetulnya tak layak masuk syurgaMU,
    Tapi, …aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,
    Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,
    Sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar
    Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasit
    Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang maha agung

    Setiap hari umurku terus berkurang
    Sedangkan dosaku terus menggunung,
    Bagaimana aku menaggungkannya?

    Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini
    Datang bersimpuh ke hadapanMu
    Mengakui segala dosaku
    Mengadu dan memohon kepada-Mu

    Kalau Engkau ampuni itu karena
    Engkau sajalah yang bisa mengampuni
    Tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon
    Ampun selain kepadaMu???

    [143-144]

  36. Apa yang kamu lihat, kami dengar, kami rasakan, kami adalah pendidikan [145]

Feature_Kok Ibu Mila Pergi?

Milastri Muzakkar-Dokumen Pribadi

Feature ini Sudah dimuat di Majalah Potret Edisi 55. Untuk Mengkases online, silakan click disini

Pagi itu sinar matahari lumayan cerah, cuaca pagi yang bersahabat. Meskipu awalnya Saya ragu untuk ikut rombongan mereka, namun karena ini kesempatan terakhir, akhirnya saya bergabung dalam tim Pustaka Keliling Pengajar Muda Aceh Utara. Menempuh perjalanan sekitar 90 menit, melawati beberapa “bukit” kecil dan ribuan batang sawit juga memberikan keindahan sendiri. Tepat jam 10.40 pagi, kami tiba ditempat tujuan yaitu SDN 4 Langkahan Aceh Utara, tepatnya di Gampong Rumoh Rayeuk. Sudahkah anda pergi ke daerah ini? Atau menimal mendengar namanya? Saya yakin banyak sekali diantara kita yang belum pernah datang ke pedalaman Aceh Utara ini, mungkin melihat dipetapun tidak pernah, atau bahkan ada orang Aceh yang tidak tau kalau Langkahan itu adalah bagian dari Aceh.

Namun bagi Milastri Muzakkar, sarjana muda Univeristas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, SDN 4 yang lokasinya jauh dari kota, yang membutuhkan sekitar 4 Jam perjalanan dari Kota Lhokseumawe tempat dimana pusat pemerintahan Aceh Utara berada. Bagi Ibu Mila, disinilah tempat ia mengabdi, tempat ia berdidikasi untuk negeri, tempat ia merubah nasib anak-anak para petani. Sudah 8 Bulan Ibu Mila bergabung dengan Yayasan Indonesia Mengajar sebagai salah satu Pengajar Muda yang ditempatkan di SDN 4 Langkahan.
Hari itu, kamis 29 Febuari 2012, hari kabisat yang hanya ada setiap empat tahun sekali menjadi hari terakhir Ibu Mila berada di sekolah tersebut. “Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila”, begitulah teriakan puluhan anak-anak mungil nan imut begitu mobil pustaka keliling kabupaten Aceh Utara tiba dipintu depan sekolah. “Ibu, Kok trep sekali sudah tidak pulang-pulang”, celoteh salah satu anak yang nampaknya sangat kangen dengan Ibu Mila. Meskipun bahasa Indonesia anak-anak tersebut tidak begitu fasih, masih banyak bercampur dengan bahasa Aceh, namun mereka tetap memberanikan diri bertanya bersama Ibu mila sambil bersalaman.
Saya yang ikut mengabadi beberapa photo-photo dalam rombongan tersebut, sangat merasa terharu dan sedih, milihat anak-anak bersalaman satu persatu dengan Ibu Mila yang tidak bisa melangkah kemana-kemana begitu keuar dari mobil karena dipagari oleh anak-anak yang ingin mencium tangan Ibu Mila. Pada saat itu, terkesan begitu kharismanya Ibu Mila, padahal Ibu Mila baru berusia 25 tahun. “Ibu ada bawa oleh-oleh buat Saya?”, timpal salah satu anak laki-laki dalam kerumunan tersebut.
“Ibu bawakan banyak sekali buku-buku bagus buat anak-anak, tuh ada dalam mobil” jawab Ibu Mila sambil bersalaman dengan kepala Sekolah dan dewan guru yang sudah berdiri berderet bak pasukan yang siap menyambut jenderal.
Satu per satu kardus berisi ratusan buku diturunkan dari Mobil dan diletakkan didepan kantor, sedangkan Ibu Mila bersama rambongan dari Lhokseumawe masuk kedalam ruang kantor dan ngobrol ringan dengan dewan guru dan kepala sekolah. Kedatangan Ibu Mila hari itu mengingatkan saya seperi menyambut Obama atau menyambut alm Hasan Tiro ketika tiba di Aceh. Ada yang menangis, ada tertawa, ada yang sedih, ada yang terus bertanya-tanya, ada yang kangen, dan bermaca-macam emosional lainnya.
Hari itu, agenda utamanya ada 2 yaitu penyerahan buku yang berhasil dikumpulkan oleh Indonesia Menyala dan perpisahan dengan Ibu Mila dengan SDN 4 Langkahan. Agenda pertama, dibalut dengan sangat manarik, sebelum anak-anak diminta membaca buku, mereka dibimbing oleh Pengajar Muda Aceh Utara lainnya yang dibantu oleh kawan-kawan dari Gerakan Pengajar Perubahan (GPP) Aceh.
“Anak-Anak pingin ke Australia”, buka Bapak Duddy Abdullah yang ditempatkan di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara. Bapak Duddy adalah alumnus Universitas Melbourne Australia yang kemudian memilih jadi pengajar muda dan meninggalkan zona kenyamanannya bersama keluarganya di Ausralia. “Mau Pak” jawab-jawab anak-anak dengan riang. “Coba ditunjuk dipeta, dimanakah Australia?” minta Pak Duddy pada salah satu anak kelas 3 sambil menunjukka peta yang tergantung di dinding depan kelas. “Hana Tupat ya?” Tanya Pak Duddy dengan loghat Bahasa Acehnya yang terdengar lucu ketika melihat anak tersebut bingung mencari Australia didalam peta. “Sekarang mendekat semuanya, biar Pak Duddy tunjukin video gimana pustaka di Australia” kata Pak duddy sambil membuka laptopnya. Karena tidak ada projector, terpaksa anak-anak harus duduk berdekatan kedepan untuk bisa lihat di layar laptop.
“Anak-anak, ayo siapa mau membaca surat dari Perancis?” Tanya Bapak Dimas Sandya alumnus Planologi Institut Teknologi Bandung yang ditempatkan di SDN 25 Araselo Sawang yang tidak ada aliran listrik dan jaringan telpon, apalagi internet. “Saya Pak, Saya Pak, Saya Pak”, jawab anak yang terkesan sudah sangat dekat dengan Bapak Dimas, padahal itu baru kali pertama Bapak Dimas masuk kelas V yang selama ini diasuh oleh Ibu Milastri Muzakkar. “Sekarang siapa mau baca surat sahabat kamu dari Bima”, “Long jeut Pak”, minta seorang anak laki dipojok yang terkesan mengolok sambil diiringi tawaan kawan-kawan sekelasnya.
“Kalau Bapak Bilang Aceh Pintar, kalian jawabnya apa”? Tanya Bapak Dimas yang sudah mengajarin cara jawab sebelumnya. “Mandum Careng” jawab anak-anak dengan sangat serentak layak koor. begitulah beberapa kali Bapak Dimas menyuplai motivasi kedalam pikiran anak-anak kelas V.
Ketika Ibu Mila didandan dengan Pakain Adat Aceh yang nampak seperti Dara Baroe pada saat perpisahan, itulah obat yang dapat menghibur anak-anak dan para guru yang nampak sedih karena mengetahui Ibu Mila bersama 6 pengajar Muda Aceh Utara lainnya akan segera meninggalkan Aceh dan dipindahkan ke Palembang. “Ini permintaan Sekolah” tutur Ibu Mila kepada Saya tentang alasan kenapa dia pakai Baju Pengantin Adat Aceh untuk perpisahan. “Cantik juga” gumam Saya dalam hati melihat Ibu Mila yang dibalut dengan pakain Aceh berwarna hitam.
Iringan lagu “Seulaweut” yang dinyanyikan oleh Akhi Joel dari Gerakan Pengajar Perubahan membuat suasana perpisahan semakin terharu, ada yang tangisannya semakin besar. Bahkan ada anak yang tidak bisa berhanti menangis melepaskan kepergian Ibu Mila. Ibu Mila bersama 6 rekan lainnya yang ditempatkan di SD-SD terpencil lainya di wilayah Aceh Utara terpaksa ditarik oleh Yayasan Indonesia Mengajar karena kondisi Aceh yang sering terjadi penembakan terhadap etnis non Aceh. Padahal, kontrak Ibu Mila dan rekan-rekannya baru akan selesai pada bulan July mendatang dan akan dilanjutkan oleh Pengajar Muda lainya sampai 5 (lima) tahun mendatang.
Ternyata, kondisi politik Aceh menjelang Pilkada yang sering terjadi penembakan tidak hanya merusak perdamain Aceh tetapi juga “memerkosa” hak-hak dan masa depan anak-anak SD terpencil tempat pengajar Muda ditempatkan. Ada suasana yang hampir saja saya tidak bisa menyebunyikan kesedihan saya dalam perpisahan tersebut. Hal itu terjadi ada anak yang bertanya “Kenapa Ibu Mila cepat sekali pergi?” “Terus kenapa Ibu Mila tidak pernah masuk ke kelas kami?” keluh murid kelas II SD yang belum sempat belajar bersama Ibu Mila karena harus mengasuh dari kelas III sampai dengan kelas VI. “Nanti kalau sudah Pilkada, kami mohon supaya ada pengganti Ibu Mila yang dikirim oleh Yayasa Indonesia Mengajar ke Sekolah Kami” harap Bapak Kepala Sekolah dalam kata-kata perpisahannya. “Saya titipkan perpustakaan, pramuka, dan jaga mimpi-mimpi anak-anak ini Bapak Ibu ya”, Iba Ibu Mila menutup pidatonya yang membuat semua anak-anak dan dewan guru tidak sanggup menahan airmata.
(Muhammad Adam adalah Alumnus Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Co-Founder Plus Insitute Aceh)

Belajar dari Whitney Houston

Baru-baru ini, dunia hiburan kembali hilang seorang penyanyi dan artis legendaris yang sangat populis yaitu Whitney Houston. Whiteney Houston menutup usianya yang 48 tahun dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dunia hiburan amerika, bahkan dunia gempar dengan kepergian Houston. Betapa tidak, nafas terakhir dihembuskan oleh Houston dalam acara akbar malam penghargaan Grammy di Los Angeles.

Berbagai media meliput berita tersebut, VoA saja setidaknya ada 6 berita yang tentang kepergian Houston. Secara berututan, [1] Minggu, 12 Februari 2012 berita berjudul “Penyanyi Whitney Houston Meninggal Dunia pada Usia 48 Tahun”, [2] Selasa, 14 Februari 2012 “Jenazah Whitney Houston Kembali ke Kota Kelahirannya”, [3] Selasa, 14 Februari 2012 “Pemakaman Penyanyi Whitney Houston Dilakukan Hari Sabtu”, [4] Sabtu, 18 Februari 2012 “Keluarga Whitney Houston Hadiri Acara Persemayaman Tertutup”, [5] Sabtu, 18 Februari 2012 “Keluarga dan Kawan Dekat Hadiri Pemakaman Whitney Houston”, [6] dan terkahir pada hari Minggu, 19 Februari 2012 dengan judul  “Whitney Houston Akan Dimakamkan Hari Ini”.
Meskipun menurut berita 18 Februari 2012 “Keluarga dan Kawan Dekat Hadiri Pemakaman Whitney Houston”  yang dilansir Voa bahwa sebab-sebab kematian Whitney Houston diperkirakan baru akan diketahui beberapa minggu lagi, menunggu hasil pemeriksaan toksikologi, namun banyak berita yang menyebutkan kalau Houston mempunyai beberapa sisi kelam.

Penyanyi kelahiran 9 Agustus 1963 itu masuk rehabilitasi atas kemauannya sendiri pada pertengahan 2011 lalu karena kecanduannya mengkonsumsi narkoba. Disamping itu, Houston ternyata juga perokok yang menyebabkannya menderita penyakit Emfisema. Tidak hanya itu, ternyata Houston juga seorang pecinta sesama jenis (lebsbian). Ada berita menyebutkan, kalau Houston menikah dengan Bobby adalah bahagian untuk menutupi hasratnya terhadap wanita.

Pelajaran Untuk Kita

Mendapatkanya mudah, tapi tidak semudah mempertahankannya.

Itulah ungkapan pelajaran yang dapat kita petik dari Houston. Artinya berada di puncak karir mudah untuk kita raih, tapi  jauh lebih susah mempertahankan popularitas itu untuk tetap berada di puncak. Inilah pejaran pertama.

Kedua, hampir menjadi budaya artis-artis amerika dan dunia, disaat karirnya sudah memuncak, mereka terjebak dalam karirnya. Rutinitas dan kesibukan mereka mencari kesenangan dunia, membuat mereka lupa dengan keluarga, suami, istri, anak-anak, dan sahabat. Seiring waktu,  dia semakin merasa sepi, sendiri tidak ada tempat untuk berbagi dan bercirita berbagai masalah yang dihadapi. Karena tidak bisa dipungkiri, sebagai manusia normal, legendaris sekaliber Houstonpun mempunyai masalah. Disaat seperti itu, pelampiasannya adalah narkoba. secara perlahan tapi pasti, memasuki dunia hitam narkoba tidak ada yang selamat. Kondisi seperti ini, juga tidak jarang dialami oleh artis dan penyanyi di tanah air.

Pelajarannya buat kita adalah, setenar, sepopulis, dan sekaya apapun kita, keluarga, terutama istri atau suami dan anak tidak boleh dilupakan. Mereka harus tetap jadi priotas kehidupan. Perhatian dan kasihsayang adalah yang utama, bukan kuuangan dan materi yang mereka harapkan. Houston sudah Houston telah menjual lebih dari 170 juta album dan single, bahkan bakat seni membawanya dari musik ke film dimana ia membintangi film hits seperti “The Bodyguard” dan “Waiting to Exhale”. Kalau dilihat dari segi materi, tidak ada yang kurang dari Houston, tapi belum tentu dia punya cukup perhatian dan kasihsayang.  Adagium, behind a great man, there is a greater woman sangat tepat untuk mengakhiri ulasan pelajaran dari Houston. Semoga bermanfaat!.

Biografi Joko Widodo (2)

Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961.

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008” oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.

Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.

Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.

Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya. ed: anif punto utomo

Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961

Pendidikan:
SDN 111 Tirtoyoso Solo
SMPN 1 Solo
SMAN 6 Solo
Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta

Beberapa penghargaan untuk Jokowi
– Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
– 10 Tokoh di tahun 2008 oleh Majalah Tempo
– Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award
– Bung Hatta Award (2010)

Mari Kita dukung Pak Jokowi jadi presiden RI hehe 🙂

Sumber: Biografi Rumus

Sekolah Demokrasi In Memory

Kita mungkin saja membuat kesalahan.
Tapi kita bukan orang yang gagal jika kita tidak menyalahkan orang lain
(Unknown Author).

Masih sangat segar terekam diingata Saya masa-masa kita out bond  30 Januari 2011 lalu sebagai aktifitas warming up kita setelah launching di Sekolah Demokrasi Aceh Utara tahun 2011…kita saling bahu membahu untuk menaikkan bendera setinggi-tingginya, kita saling membantu untuk membuat tali sepanjang-panjangnya.  ada yang lepasi tali sepatu, ada kasih tali pinggang, ada lelaki yang rela buka baju luarnya, bahkan ada cewek yang mau robek mansetnya. saling berbaur, berjuang, dan berkorban hanya untuk satu tujuan yaitu menyambung tali sepanjang mungkin. Wah masih sangat jelas moment itu, seolah baru kemarin pagi kita melewatinya. Keindahan  Kebersamaan itu sangat indah untuk dikenang.

Namun sekarang sudah genap satu tahun kita bersama,  1 tahun; belajar di dalam ruangan kelas, ikut talkshow, ikut ujian,  seminar, training, berdiskusi, workshop, pelatihan, dan beragam aktifitas lainnya.

Ada Bang Amru yang kalau sudah pegang microphone (pengeras suara) sering kita ganngu, ada Lita yang akhir-akhir ini sering galau, ada Jefri yang kalau ngomong  tetap anti-kapitalis,  dan kontra neolib, ada Nasrullah yang hampir setahun selalu sibuk dengan HP hebatnya sekarang sudah jadi toke BB, ada Mak Lela yang duluan keluar senyumnya sebelum ngobrol, ada Bang Faisal yang begitu santai dan santun dalam berbicara, ada Bang Osama kalau sudah “panas” harus jalan-jalan ngomongnya, ada Raisa kalau sudah ngobrol budaya pasti tidak bisa kedip mata, ada Kak Syifa yang banyak kesempatan menjadi ketua kaum hawa bahkan adam, ada Bang Salis, Bang Mustafa, Pak Yafitzam dan Bang Junaidi serta Pak Rajab yang menjadi orang tua yang sangat sabar, dan berkharisma. Ada Rahmad yang punya banyak ide kreatifitas luar biasa, ada Pak Ketua (Bang Jafar) yang slow but sure, ada Kak Safrida yang suaranya manis jelita, ada Kak Rita yang gila korea, ada Bang Fauzan yang idenya selalu luar biasa, ada Bang Jafriadi yang argumetnya sangat kritis, ada Boyhaqi yang tidak sengaja selalu bicara bercampur dengan Aceh punya bahasa ,ada Kak Kasmoini dan Bang Wardi yang semangatnya sangat membara, ada Kak Marliana yang ide-idenya begitu cemerlang, ada Arjuna, Irfan, Anas, Anwar dan Ishadi yang nampaknya bak gerhana yang sedikit berbeda dengan Abdullah seperti bulan purnama. Dan yang satu ini, tidak ada kata yang bisa saya gambarkan kesempurnaannya, ilmunya sangat melimpah ruah, idenya selalu wah, kosakatanya membuat Kelas selalu tertawa wah-wah, selalu ada rahasia dan informasi yang tersembunyi yang terkadang seluruh isi kelas membuat tercengang. Guru dan Sahabat Saya,Bang Ade Ahmad Ilyasak. Semoga kebersamaan kita selama setahun tidak membuat kita terpisah karena ada lapisan yang tidak sempurna yang perlu kita dorong untuk kita perbaiki bersama-sama. Kami sadar bahwa ada bagian yang sudah hilang, ibarat gigi sudah ompong, meskipun makannya durian, tetap saja ada yang kurang. sayur tanpa garam kata siapa ya????lupa nama penyanyinya…he…Semoga saja tidak ada dusta diantara kita. Itu nasehat yang pernah dirimu ucapkan kepadaku kawan.
Nah kalau Saya bagaimana dong???silakan isi dibagian comment…
Pembaca…
Alhamdulillah, Tiba saatnya Saya mendapatkan hasil bersama kawan-kawan lainnya. HASIL memang idak selalu menjadi ukuran, namun setidaknya ini menjadi indakor besar kecilnya atau sungguh tidaknya Saya Mengikuti Proses. Pun Demikian, Bagi Saya pengumuman ini tidak menjadi penting kalau kebersamaan dan persatuan kita terpisah-pisah karena ada yang tidak sah disebut sebagai alumni Sekolah Demokrasi Aceh Utara tahun 2011.


Terimakasih Kepada LSM Sepakat sebagai Panyelenggara (Implementing Agency) Sekolah Demokrasi di Aceh Utara, Ada Bang Edi Fadil selaku Direktur, Ika Febriani Sebagai Karsir, Dewi Sebagai Bendahara, Mr Muksalmina alias Abu Mex sebagai Field Officer,
dan Eka Saputra yang tidak hanya menjalankan tugas sebagai admin, namun juga bersama 4 penyelenggara lainnya, melakukan berbagai gebrakan mulai dari ide sampai tahap aksi.

Selanjutnya kepada Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) Saya hantarkan terimakasih yang tidak terhingga yang sudah memprekarsai proyek sekolah demokrasi di 8 daerah seluruh Indonesia, dan memilih Aceh Utara salah satunya. Ada Bapak Ignas Kleden, Bapak Rustam, Ibu Ratih, Mbak Ulfa, dan Mbak Ria adalah beberapa dari KID yang pernah berkunjung ke Sekolah Demokrasi Aceh Utara.

Kemudian, rasa terimakasih yang tak terhitung juga Saya sampaikan kepada para narasumber , Fasilitator Training, Trainer, dan pemateri. Beberapa yang Saya Inggat, ada Bapak Fuad Mardhatillah, Bang Nazar, Bapak Husni, Bapak Garuda Nusantara, Bapak Saifuddin Bantasyam, Bapak Kemal Fasya, Bapak Yusuf Pasee, Bang Zulfikar, Bang Amriza J Prang, Bang Aryos Nevada, Bapak Taqwaddin, Kak Sri wahyuni, Bang Juanda, Bapak Rasyidin, Kak Evi Zain, Bang Taufik Abdullah, Bang Mirza, Bang Miswar, Bang Ilham, Bang Wira, Bang Abdullah Abdul Mutalleb, Bang Ridwan H Ali, Bang Arif Ramdan, Bang Mukhlisuddin Ilyas dan masih banyak abang dan bapak serta ibu lainnya yang tidak mungkin saya tuliskan satu persatu lagi. Kepada Bapak, Ibu, Abang, dan Kakak yang sudah berbagi ilmu, informasi, dan pengalaman, semoga itu semua menjadi amal buat anda dan berguna buat kami dan masyarakat. amin…


Above all, Ada 2 (dua) hamba Allah yang sangat luar biasa, sangat sabar, sangat energik, selalu penuh inspirasi, selalu memberi motivasi, kaya akan pengalaman, berjiwa besar, mandiri, tidak pernah menunjukkan emosi amarahnya didepan kami, selalu menghargai pribadi-pribadi, menjungjung tinggi perbedaan, selalu memberi semangat, dan, dan, dan, dan, dan………mereka itu adalah Bang Zulkifli Hamid Paloh dan Bang Fadly Sy alias Fay.

 
Saya sadar bahwa mengelola 35 orang yang keragamannya sangat berbeda-beda, ada yang berjiwa pejuang, ada yang suka buat riuh suasana, ada yang over confident, ada juga yang suka memancing didalam air yang keruh, ada yang suka membuat riuh, ada yang suka keluar masuk, ada yang tidak puas kalau tidak angkat bicara, dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya, dan itulah yang membuat Sekolah Demokrasi menjadi kaya. Alhamdullillah Engkau berdua sudah mampu berusaha untuk membuatnya menjadi seru, baru dan bersatu dalam perbedaan. Karenanya ada yang diomelin karena tidak  buat tugas. Ada yang ditegur karena tidak siap tulisan, ada yang diinterograsi karena tidak hadir berkali-kali, itu semua adalah usaha yang tidak mudah yang jika dibebankan diatas pundak kami.

Bagi Saya mereka berdua tidak hanya Fasilitator Sekolah Demokrasi namun juga guru, motivator, sahabat, dan kalau tidak berlebihan izinkan saya sebutkan sebagai orangtua. Dengan dukungan dan bimbingan mereka, hari ini sudah ada belasan tulisan Saya terpampang di Media. Didikan mereka, hari ini saya sudah berani bicara didepan. Dorongan Mereka, hari ini saya sudah percaya diri. Karena mereka, Adam pada Desember 2010, berbanding jauh dengan Adam Januari 2012 hari ini. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan rasa terimakasih Saya kepada 2 orang ini. Hanya harapan dan do’a semoga Allah membalas semua kebaikan mereka. Semoga Saja silaturrahmi selalu dapat kita bina,tidak bosan-bosannya membimbing Saya, meskipun Sekolah Demokrasi tidak lagi menjadi tempatnya.


Last but Not least, Saya menyadari bahwa banyak tingkah, polah, tutur kata yang keluar dengan sengaja maupun tidak, menyakiti hati kawan-kawan siswa Sekolah Demokrasi, sering membuat jengkel penyelenggara, terutama Kak Ika karena sering protes..he…atau Abu Mek yang sering kami buat kesel karena kami tidak bisa jaga kebersihan…Untuk memulai lembaran baru dengan putih, Saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya.

Sebelum Saya mengakhiri ini, Kepada Sahabat kami Ibu Ria, Ibu Mala, Kak Dara, Bang Syahrul, Bang Susandra yang sudah duluan minta pamit dari Sekolah Demokrasi karena mungkin dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tentunya harus ada yang anda korbankan. Kami yakin bahwa besar dulunya keinginan anda untuk melanjutkan perjuangan dan kebersamaan kita yang sudah sama-sama kita mulai dahulunya. Untuk itu, kami selalu menunggu dan membuka pintu kami setiap saatnya menuggu kedatangan Ibu, Kakak dan Abang. Rasanya akan sangat sempurna sampan ini apabila dapat kita kayuh bersama-sama.


Terakhir kepada Allahlah, Saya memohon ampun, ridha dan menyerahkan semua ini. Semoga bekal dan modal yang sudah Saya dan kawan-kawan pelajari selama 1 tahun akan menjadi modal untuk  kita berkontribusi kepada masyarakat tidak hanya Aceh Utara, tapi juga Aceh, bahkan Indonesia. nantinya amin…BRAVO SEKOLAH DEMOKRASI ACEH UTARA!!!

3.03 Dini Hari 

17 Januari 2012 

Matang Kuli,

Warmly Regards,

Adam


Note:
Buat anda yang baru mendengar tentang Sekolah Demokrasi, Silakan klik disini untuk mendapatkan informasinya.


Untuk Pengumuman Kelulusan Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan 1 Tahun 2011, Silakan Klik disini.




Bercerita Vs Membaca

A house without books is like a room without windows ~ Heinrich Mann


ADA tiga argument dasar yang melandasi tulisan ini, Pertama, melanjutkan berita dari Voice of America tanggal 24 Agustus 2011 tentang 5 Juta Lebih Perempuan Indonesia Masih Buta Huruf. Kedua, merespon pernyataan Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, Sanusi SE, M.Si yang mengatakan bahwa masyarakat Aceh lebih suka bercerita dan mendengar cerita daripada membaca (Serambi 29 Juli 2011). Ketiga, melanjutkan diskusi dan intrusksi Bapak Teguh Santoso (TS) selaku Kepala Balai Bahasa Aceh lewat tulisannya “Bacalah” (Serambi, 10 Agustus 2011).

Membaca opini TS dan mengaitkan dengan statemen Bapak Sanusi, tampaknya memang tidak dapat dibantahkan bahwa masyarakat Indonesia, masih sangat buruk pontenannya untuk budaya membaca. Antara membaca dengan berbicara dan bercerita tampaknya seperti malam dan siang, perbedaannya sangat jauh. Budaya berbicara masih berada digaris depan.

Indonesia Masyarakat Tradisional?

Dari penjalasan TS, setidaknya ada tiga fase perkembangan masyarakat yaitu fase tradisional, literer, dan modern. Sayangnya masyarakat Indonesia masih berada pada kelas tradisional. Ironis memang, disaat negara-negara lain sedang sibuk berinovasi, menciptakan berbagai teknologi canggih, menciptakan tenaga nuklir, berlomba menciptakan perguruan tinggi yang world class university, menciptakan model e-learning, e-business, menciptakan generasi yang siap berkompetensi denga dunia global , namun kita masih merangkak pada tahap menggalakkan membaca.

Melihat budaya dan kehidupan sosial bermasyarakat Indonesia, tampaknya anggapan TS bahwa kita masih hidup dengan gaya-gaya masyarakat tradisional memang begitu adanya. Salah satu faktanya yaitu masih sangat mininmnya budaya membaca dan realita ini sangat berlawanan dengan masyarakat literer yang cenderung suka membaca dan menulis. Di Indonesia, sangat banyak pola kehidupan yang dipraktekkan masyarakat yang mengindikasi masih jauh dari budaya masyarakat kelas literer. Ketika sedang naik angkutan umum, di bandara, dalam pesawat, antrian di bank, dan berbagai aktifitas masyarakat lainnya terbukti kita masih sangat suka berbicara dan bercerita daripada memegang buku dan membaca.

Hal lain yang dipraktekka dapat dilihat dari gaya berbelanja. Ketika seorang pulang dari pasar, boleh diperiksa dari tujuh barang bawaaannya, apakah ada satu buku saja yang dia beli?. Seorang ibu rumah tangga lebih suka menghabiskan uangnya untuk membeli baju seharga 300 ribu setiap bulannya daripada menghematnya untuk membeli satu buku.    


Gerakan Kesadaran Membaca

Mencontohkan apa yang dilakukan oleh organisasi Nirlaba 826 Amerika yang telah membantu siswa di seluruh Amerika menjadi penulis seperti yang diberitakan VoA tanggal 30 November 2011. Hal ini dapat menjadi salah satu model untuk mengkampanyekan gerakan membaca di Indonesia. Ironisnya meskipun Hari Aksara International yang diperingati setiap 8 September sudah dicanangkan oleh PBB semenjak tahun 1965, namun sekarang ini sekitar 20% orang dewasa di dunia masih buta aksara (voaindonesia.com).

Dalam kontek Indonesia, Mempertimbangkan ketertinggalan kelas kita, menurut Saya, perlu adanya “gerakan” kesadaran bersama akan pentingnya membaca. Berbicara dan bercerita saja tidaklah cukup, meskipun berbicara juga merupakan salah satu skill yang perlu dipelajari dan dilatih. Untuk meningkatkan kemampuan, memperluas wawasan, mengetahui perkembangan zaman, mengakses informasi, membaca adalah salah satu keniscayaan disamping meneliti. Untuk itu, baik pemerintah, orangtua, dan institusi pendidikan perlu berpangku tangan untuk menggalakkan kesadaran membaca secara berkelanjutan.

   
Orangtua adalah kunci dasar untuk menciptakan kesadaran membaca, karena orangtualah yang memulai memberikan pendidikan kepada seorang peserta didik. Keluarga , terutama Ibu dalam sebuah keluarga harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya untuk rajin membaca. Mengontrol anaknya supaya tidak “ngantuk” di depan TV terlalu lama adalah suatu keharusan.


Tidak hanya itu, bimbingan orangtua juga sangat diperlukan supaya anaknya bisa mengkonsumsi siaran-siaran TV yang positif untuk pentumbuhan dan pendidikannya. Karena, disamping dampak negative dari ketergantungan pada media (TV), juga ada sejumlah manfaat positif yang bisa didapatkan dari menonton. Banyak siaran-siaran yang edukatif, namun supaya manfaat tersebut dapat didapatkan oleh anak-anak,  peran orangtua haruslah dominan.

   
Tindakan ringan lainnya yang dapat dilakukan adalah mewajibkan anaknya membaca secara rutin di rumah. Walaupun 20-30 menit yang digunakan untuk membaca, namun kalau dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, maka akan dapat membentuk budaya membaca yang kokoh karena sudah berdarah daging dalam pribadinya.

   
Selanjutnya pemerintah dengan segenap kekuasaan dan kewenangan yang dimilikinya sangat memungkinkan untuk dapat membentuk masyarakat yang gemar membaca kalau saja mereka mempunyai good-will yang serius. Memang permalahan malas membaca adalah fenomena abstrak, bukan fisik namun implikasi negatifnya akan berlangsung lama dan berpengaruh semua lini kehidupan baik ekonomi, pendidikan, social, budaya, bahkan politik. PBB memplopori HAIpun untuk mengingatkan bahwa melek aksara merupakan kunci pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, perbaikan standar kesehatan dan peningkatan pertisipasi politik. Untuk itu, pemerintah yang memiliki tangungjawab untuk mencerdaskan anak bangsa harus memiliki prioritas dan perhatian serius.

   
Disamping itu, pihak pemerintah (eksutif) dengan seluruh stake-holdernya juga dapat mengkampanyekan budaya membaca. Pihak yang mengkoordinir arsip dan perpustakaan harus memainkan peran lebih untuk  dapat menambah minat baca masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memberlakukan jadwal pustaka 24 Jam atau tidak ditutup ketika jam-jam istirahat. Disamping itu, pemerintah lewat dinas pendidikan juga bisa mewajibkan pelajar untuk membeli buku kalau mereka mendapat beasiswa atau distribusi beasiswa tidak hanya dalam bentuk uang cash, mungkin saja dapat dibelikan buku langsung oleh pemerintah atau sekolah kalau dikhawatirkan nantinya anak-anak yang mendapat beasiswa tersebut tidak akan membeli buku.

   
Selain orangtua dan pemerintah, insitusi pendidikan mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi juga dapat memulai untuk menciptakan masyarakat yang cinta membaca. di Sekolah dapat diberlakukan jam wajib membaca selain jam formal dan meminta mereka untuk menulis resume apa yang telah dibacanya kemudian bisa didiskusikan bersama teman-temannya di dalam kelas sehingga menciptakan budaya membaca, juga bisa mengasah keterampilan menulis serta budaya kritis lewat diskusi. Karena logikanya, apa yang akan mereka tulis, kalau mereka malas membaca.

   
Perguruan tinggi juga memiliki penyakit yang sama dalam kegemaran membaca. mahasiswa-mahasiswa lebih suka menghabiskan waktu di kafe-kafe daripada di pustaka ketika tidak ada dosen atau istirahat. Untuk mengubah perilaku ini, dapat juga “dipaksakan” dengan melakukan wajib membaca sejumlah referensi (buku) sebelum mahasiswanya mengikuti ujian final misalnya. Intinya kapanpun, oleh siapapun, dan bagaimanapun bentuknya, budaya membaca perlu kita kampanyekan secara bersama-sama sehingga budaya kita berubah dari tidak suka membaca akan menjadi masyarakat yang tidak hanya gemar bercerita tetapi juga cinta membaca dan kita berharap secepatnya kita bisa naik kelas minimal untuk memasuki tahap literer. Berani?.


(Muhammad Adam, adalah The Founder of Plus Institute dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara).

Tugas dan Fungsi Komisi di DPR-RI

Susunan dan keanggotaan komisi ditetapkan oleh DPR dalam Rapat paripurna menurut perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap Fraksi, pada permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan Tahun Sidang. Setiap Anggota, kecuali Pimpinan MPR dan DPR, harus menjadi anggota salah satu komisi.

Jumlah Komisi, Pasangan Kerja Komisi dan Ruang Lingkup Tugas Komisi diatur lebih lanjut dengan Keputusan DPR yang didasarkan pada institusi pemerintah, baik lembaga kementerian negara maupun lembaga non-kementerian, dan sekretariat lembaga negara, dengan mempertimbangkan keefektifan tugas DPR.

Tugas Komisi dalam pembentukan undang-undang adalah mengadakan persiapan, penyusunan, pembahasan, dan penyempurnaan Rancangan Undang-Undang yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya.

Tugas Komisi di bidang anggaran lain:

* mengadakan Pembicaraan Pendahuluan mengenai penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya bersama-sama dengan Pemerintah; dan
* mengadakan pembahasan dan mengajukan usul penyempurnaan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya bersama-sama dengan pemerintah.

Tugas komisi di bidang pengawasan antara lain:

* melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang, termasuk APBN, serta peraturan pelaksanaannya;
* membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan yang terkait dengan ruang lingkup tugasnya;
* melakukan pengawasan terhadap kebijakan Pemerintah; serta
* membahas dan menindklanjuti usulan DPD.

Komisi dalam melaksanakan tugasnya dapat: mengadakan Rapat kerja dengan Presiden, yang dapat diwakili oleh Menteri; mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan pejabat pemerintah yang mewakili intansinya, mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum, mengadakan kunjungan kerja dalam Masa Reses.

Daftar Komisi dan bidang serta partner kerja.

Komisi I
Ruang Lingkup

* Pertahanan
* Luar Negeri
* Informasi

Pasangan Kerja

* Kementerian Pertahanan
* Kementerian Luar Negeri
* Panglima TNI (Mabes TNI AD, AL dan AU)
* Kementerian Komunikasi dan Informatika
* Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas)
* Badan Intelijen Negara (BIN)
* Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG)
* Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA
* Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)
* Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
* Televisi Republik Indonesia (TVRI)
* Radio Republik Indonesia (RRI)
* Dewan Pers
* Perum Antara

Komisi II
Ruang Lingkup Tugas

* Pemerintahan Dalam Negeri dan Otonomi Daerah
* Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
* Kepemiluan
* Pertanahan dan Reforma Agraria

Pasangan Kerja

* Kementerian Dalam Negeri
* Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
* Menteri Sekretaris Negara
* Sekretaris Kabinet
* Lembaga Administrasi Negara (LAN)
* Badan Kepegawaian Negara (BKN)
* Badan Pertanahan Nasional (BPN)
* Arsip Nasional RI (ANRI)
* Komisi Pemilihan Umum (KPU)
* Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU)
* Ombudsman Republik Indonesia
* Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)

Komisi III
Ruang Lingkup

* Hukum
* HAM
* Keamanan

Pasangan Kerja

* Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia
* Kejaksaan Agung
* Kepolisian Negara Republik Indonesia
* Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
* Komisi Hukum Nasional
* Komisi Nasional HAM (KOMNAS HAM)
* Setjen Mahkamah Agung
* Setjen Mahkamah Konstitusi
* Setjen MPR
* Setjen DPD
* Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
* Komisi Yudisial
* Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
* Badan Narkotika Nasional (BNN)

Komisi IV
Ruang Lingkup

* Pertanian
* Perkebunan
* Kehutanan
* Kelautan
* Perikanan
* Pangan

Pasangan Kerja

* Departemen Pertanian
* Departemen Kehutanan
* Departemen Kelautan dan Perikanan
* Badan Urusan Logistik
* Dewan Maritim Nasional

Komisi V
Ruang Lingkup

* Perhubungan
* Pekerjaan Umum
* Perumahan Rakyat
* Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal
* Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika

Mitra Kerja

* Departemen Pekerjaan Umum
* Departemen Perhubungan
* Menteri Negara Perumahan Rakyat
* Menteri Negara Pembangunan Daerah Teringgal
* Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
* Badan SAR Nasional
* Badan Penanggulangan Lumpur Sidoardjo (BPLS)

Komisi VI
Ruang Lingkup

* Perdagangan
* Perindustrian
* Investasi
* Koperasi, UKM dan BUMN
* Standarisasi Nasional

Pasangan Kerja

* Departemen Perindustrian
* Departemen Perdagangan
* Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
* Menteri Negara BUMN
* Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
* Badan Standarisasi Nasional (BSN)
* Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)
* Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Komisi VII
Ruang Lingkup

* Energi Sumber Daya Mineral
* Riset dan Teknologi
* Lingkungan Hidup

Pasangan Kerja

* Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
* Menteri Negara Lingkungan Hidup
* Menteri Negara Riset dan Teknologi
* Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
* Dewan Riset Nasional
* Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
* Badan Tenaga Nuklir (BATAN)
* Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETAN)
* Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL)
* Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
* Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas
* Badan Pelaksana Pengendalian Usaha Hulu Migas
* PP IPTEK
* Lembaga EIKJMEN

Komisi VIII
Ruang Lingkup

* Agama
* Sosial
* Pemberdayaan Perempuan

Pasangan Kerja

* Kementerian Agama
* Kementerian Sosia RIl
* Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
* Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
* Badan Nasional Penanggulangan Bencana
* Badan Amil Zakat Nasional

Komisi IX
Ruang Lingkup

* Tenaga Kerja dan Transmigrasi
* Kependudukan
* Kesehatan

Pasangan Kerja

* Departemen Kesehatan
* Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
* badan Kkoordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
* Badan Pengawas Obat dan Makanan
* BNP2TKI
* PT Askes ( Persero)
* PT. Jamsostek( Persero)

Komisi X
Ruang Lingkup

* Pendidikan
* Pemuda
* Olahraga
* Pariwisata
* Kesenian
* Kebudayaan

Pasangan Kerja

* Departemen Pendidikan Nasional
* Departemen Kebudayaan dan Pariwisata
* Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
* Perpustakaan Nasional

Komisi XI
Ruang Lingkup

* Keuangan
* Perencanaan Pembangunan Nasional
* Perbankan
* Lembaga Keuangan Bukan Bank

Pasangan Kerja

* Departemen Keuangan
* Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan/Kepala BAPPENAS
* Bank Indonesia
* Perbankan danLembaga Keuangan Bukan Bank
* Badan Peengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
* Badan Pusat Statistik
* Setjen BPK RI
* Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia
* Lembaga Kebijakan dan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah

Wisata ala Homestay

KEHADIRAN sektor akomodasi dalam industri pariwisata terus berkembang seiring dengan penambahan jumlah kunjungan. Berbagai event yang diselenggarakan sepanjang tahun dipercayai turut memberi andil terhadap sektor yang sering dipandang “miring” oleh sebahagian masyarakat. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh investor untuk terjun dalam bisnis yang memerlukan modal tidak sedikit dengan berbagai trik untuk menarik minat para tamu untuk menginap.

Turis yang berkunjung ke suatu destinasi wisata biasanya memerlukan tempat penginapan selama mereka mengisi waktu berekreasi dan bersenang-senang (leisure). Biasanya, turis akan memilih berbagai jenis akomodasi seperti hotel, wisma, losmen, cottage serta bungalow. Keputusan untuk memilih jenis penginapan tidak semata-mata dipengaruhi oleh jenis penginapan, kenyamanan, keamanan, tarif serta isi kantong para wisatawan. Akhir-akhir ini, terutama di wilayah Kota Banda Aceh dan sekitarnya hadir beberapa tempat penginapan yang diberi lebel homestay. Beranjak dari fenomena tersebut, tulisan ini ingin memahami bagaimana sebenarnya konsep ideal model penginapan ala homestay sebagai sebuah produk pariwisata.

Homestay (menginap di rumah penduduk) merupakan salah satu bentuk akomodasi yang disediakan oleh penduduk (hosts) kepada para turis (guests). Berbeda halnya dengan hotel, wisma dan losmen, homestay biasanya dioperasikan dan dikelola oleh penduduk di kawasan pemukiman di mana rumah penduduk berfungsi sebagai sebuah homestay juga menyediakan kamar untuk keperluan turis menginap layaknya kamar hotel. Namun, perbedaan paling kontras dari penginapan ala homestay yaitu turis tinggal bersama dengan pemilik rumah selama mereka berlibur sambil berinteraksi dan sekaligus menikmati kehidupan sehari-hari penduduk. Paket wisata yang ditawarkan dalam program homestay juga sangat sederhana misalnya turis menginap diajarkan memasak makanan khas setempat, mempelajari tari-tarian atau seni bela diri serta kesenian lainnya serta bercocok tanam sesuai dengan yang dilakukan petani setempat.

Di Malaysia, homestay sebagai satu produk wisata mulai diperkenalkan pada Tahun 1995. Saat ini program tersebut sudah hadir di 277 kampung di berbagai negeri bagian Malaysia dengan 3.264 peserta (pemilik rumah) yang mengelola sekitar 4.500 kamar untuk disewakan pada turis. Pada 2009 tercatat l57.654 turis terdiri atas 124.594 turis domestik dan 33.060 turis asing terutama dari Jepang dan Korsel yang mengikuti program wisata tersebut di Malaysia. Sedangkan dari pemasukan devisa, wisata homestay membukukan pemasukan sekitar (RM9,9 juta) atau sekitar Rp25-miliar (Matanews.com, 2010).

Banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai destinasi Wisata ala homestay seperti kawasan pedesaan yang dapat “menjual” tradisi pertanian, kawasan pantai mengandalkan kehidupan nelayan dan kawasan pengunungan juga dapat menawarkan berbagai keindahan alam dan penghasil berbagai komoditas perkebunan sebagai daya tarik. Keuntungan lain wisata ala homestay antara lain dapat mempertahankan nilai-nilai lokal masyarakat setempat, dan penduduk terlibat langsung dalam menyediakan berbagai keperluan bagi turis selama mereka berada di tengah-tengah penduduk. Wisata ala homestay ini dipercayai sebagai bentuk wisata yang melibatkan penduduk secara langsung dan merupakan salah satu karakteristik pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Bagaimana dengan Aceh?
Barangkali kita semua sudah maklum jika Banda Aceh sudah mengumumkan kepada seluruh penduduk dunia sebagai Bandar Wisata Islami dengan mengusung ikon Peumulia Jamee Adat Geutanyo. Berbagai perhelatan besar dan bergengsi sudah dipentaskan sampai dengan menjelang tutup tahun 2011. Kritikan pedas pun kerap dialamatkan kepada pemerintah kota mulai dari proyek drainase yang sangat mengganggu hingga harga-harga makanan dan minuman yang mencekik leher sampai kepada tarif beca yang tidak menentu. Pertanyaan yang mungkin belum terjawab yaitu pengalaman apa yang didapat wisatawan selepas berkunjung ke provinsi yang kerap menjadi perhatian dunia semenjak konflik dan bencana tsunami? Pertanyaan lain yang juga pantas diajukan adalah sampai sejauh manakah event-event wisata yang digelar selama ini memberikan manfaat langsung baik secara ekonomi dan sosial kepada penduduk? Aceh sebagai daerah yang mempunyai keunikan tersendiri baik dari sudut pandang adat dan budaya serta agama dan pengalaman tragedi tsunami berpeluang untuk mengembangkan wisata ala homestay sebagai sebuah pilihan.

Peluang tersebut kini terbuka lebar. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf-dulu bernama Kemenbudpar) telah melaksanakan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata sejak 2009 lalu. Hingga kini, sudah ada 569 desa yang dikembangkan menjadi desa wisata, dengan bantuan dana Rp 150 juta setiap desa. Pada 2012, Kemenparekraf menargetkan 960 desa dapat dikembangkan menjadi desa wisata. Sementara itu, untuk tahun 2014, ditargetkan ada 2 ribu desa wisata. Namun, Program pengembangan desa wisata di bawah kementerian yang kini dipimpin oleh Marie Pangestu, lebih fokus pada pengembangan infrastruktur desa yang mempunyai potensi daya tarik wisata seperti peningkatan akses jalan, dan prasarana penunjang lainnya termasuk pelatihan pemandu wisata dan kemahiran berbahasa asing. Program desa wisata tersebut merupakan modal untuk mengembangkan wisata ala homestay di kawasan pemukiman penduduk. Langkah selanjutnya, semoga pihak-pihak terkait dengan industri pariwisata terutama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat berdiri di depan sebagai pelopor serta membidani kelahiran wisata ala homestay sebagai salah satu produk wisata alternatif.

Penulis: Azhar A Gani (Dosen Fakultas Pertanian, Unsyiah. Kandidat Doktor Manajemen Pariwisata, Universiti Utara Malaysia)