Learn to cook, learn to Survive

‘Troek Kapai Pula Lada’— itu pepatah Bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Melakukan sesuatu pada saat mendesak. Belajar masak saat sudah tidak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan. Untuk sebagian orang mungkin gampang, bagi saya terlihat mudah awalnya namun pada prakteknya rumit. Sudah 2 minggu lebih di sini, namun belum ada yang memuaskan. Buktinya? Masak tumis udang kalau tidak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedes nan panas karena cuci muka setelah pegang cabe untuk tumis kubis. Masak nasi kalau tidak kelebihan air,  ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadarnya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang terlihat luaran saja rumit.

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang 3 kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain. Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauk-lauknya hampir setiap saat disiapkan oleh orangtua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) dimana makannya sudah masuk paketan yang ditangani oleh sekolah. Sampai dengan selesai kuliah S-1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tidak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet. LoL.
Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk masak, belanja urusan dapur hampir selalu di serahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai dengan cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuan mendapat tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada,  Anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.
Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, sering dilarang. Karena menurut sebagian besar masyarakat itu bisa menjadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina yang punya rumah. Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi dengan masakan-masakan yang lezat di atas meja makan oleh mertua perempuan atau istrinya.
Secara historis, saya tidak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tidak tau bagaimana praktik masak memasak jaman dahulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dahulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan  penjajah, karenanya diperlakukan lah seperti raja. Dan sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat.  Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga dimana tanggungjawabnya mencari reseki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.
Itu hanya asumsi-asumsi datar saya saja tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun terlepas dari baik dan buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggungjawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil andil dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke Istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggungjawab kaum pria. Lantas apa tanggungjawab wanita? Istri melayani suami. Bukan kah begitu Islam mengajarkannya?
Itu adalah level ideal. Kalaupun kita mau membahas pada tataran ideal, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang dan celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkritnya ada di dalam keluarga saya sendiri. Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, Ibu saya yang menanganinya.
Tidak ada maksud untuk menunjukkan kejelakan perusahan rumah saya sendiri, tetapi memang ada yang tidak ada tanggungjawab yang tidak adil pembagiannya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tidak ada salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri menyuci pakain, tidak akan turun derajat kelaki-lakiannya jika dia menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik ini lah, saya pikir semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktifis gender. Jika memang demikian, seharusnya keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik,  seharusnya dilatih semenjak dini, sehingga tidak terasa canggung atau kaku seperti saya ketika berinteraksi dengan alat-alat dapur.
Apapun itu,  saya harus tetap belajar memasak meskipun sudah telat. Better late than never kata orang bijak. Lebih baik telat dan bersusah payah belajar dari dasar meskipun sudah telat. Terlebih lagi, saya sangat susah menyesuaikan diri dengan makanan. Terlepas urusan penghematan anggaran, tapi entah kenapa lidah saya yang sering makan asam sunti, terasi dan tumis udang di kampung tidak bisa saya sesuaikan dengan makanan-makanan ala western. Where there is a will, there is a way. Thank God, selalu ada kemudahan yang diberikan tuhan. Saat ini, setidaknya saya punya Kakak yang siap membimbing saya 24/7 seperti anaknya sendiri. I owe you a two-year life Kak Fitri. Terakhir, benar kata (Prof) Hadiyanto, memasak adalah salah satu keterampilan untuk bisa survive alias survival skills.