[Episode 10_Note for MEP Australia] Teaching by Leading

Written in:
Darling Towers, Melbourne.
Rabu, 13 Juni 2012 // 02.07 Melbourne Time.
Photo diambil oleh Mas SidQie ketika sedang berlangsung pertemuan dengan Board of Imam Victoria
tanggal 16 Juni 2012.
Setelah tiba di rumah Eeqbal Hassiem dari Bandara pada hari pertama tanggal 11 Juni 2012 sekitar pukul 10 waktu Australia. Eeqbal dan Istrinya berdiskusi banyak hal dengan kami. Salah satu topic yang menjadi atensi penting kita adalah pola pendidikan.

Ada perbedaan signifikan antara pendidikan yang ada di Indonesia dan Australia yang mungkin bisa anda petik pelajarannya juga. Perbedaan utama itu ada seputar nilai (value) atau yang terkenal di Indonesia itu Pendidikan Berkarakter.

Perbedaanya ada pada proses belajar mengajar. Di Australia, peserta didik tidak diajarkan bahwa Agama ini atau itu mewajibkan makhluknya untuk berperillaku sabar, jujur, disiplin, tolerasi, saling membantu, dan sebagainya. Tetapi mereka mendidik siswa untuk BERPIKIR KENAPA mereka HARUS bersikap sabar di lampu lalu lintas misalkan, atau kenapa mereka harus berlaku jujur pada saat membeli barang yang tidak ada penjualnya, atau mengajarkan kenapa Islam menyuruh perempuan untuk menutup aurat.

Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, untuk kemudian berpikir secara kritis KENAPA mereka harus melakukan ini, kenapa mereka dilarang melakukan itu, kenapa mereka tidak dihalalkan makan binatang ini, kenapa haram makan itu, dan sejenisnya. Model pembelajaran seperti ini mereka menyebutnya Inquiry-Based Learning.

Selanjutnya, di sekolah juga terjadi interaksi yang sangat berbeda dengan di sekolah kita pada umumnya antara guru dan murid. Anak-anak dapat menegur guru setiap kali berjumpa tanpa rasa takut, bertanya apa saja meskipun tidak ada hubungannya dengan pelajaran atau tema yang mereka pelajari, konsultasi tugas atau PR, bahkan bisa memeluk gurunya.  Tidak hanya itu, dalam hal-hal tertentu, adakalanya pendidik belajar dari peserta didik, artinya tidak selamanya pendidik mendidik peserta didik. Ada saling tukar menukar informasi dan pengetahuan, dan inilah sebenarnya esensi dari Learning and Teaching Process atau Proses Belajar Mengajar.

Pelajara Penting bagi anda bloggers, readears, dan netters dalam catatan kali ini adalah pentingnya memberi contoh. Tidak akan berefek, apalagi dalam waktu yang lama, apabila anda mengajarkan kesabaran, apabila anda sendiri sering marah kalau ada anak-anak yang tidak bisa menghafal rumus matematika. Tidak akan elok kelihatannya pada saat anda mengajarkan anak jangan merokok, tapi anda sendiri merokok dalam ruangan kelas. Atau juga anda mengajarkan disiplin, tapi anda sering masuk telat dan keluar cepat.

Praktek seperti ini, tidak akan berlangsung lama, dan tidak mendidik siswa untuk berubah sampai kepada tingkah laku mereka. namun anda harus mendidik mereka dengan mempraktekkannya juga, akan sangat bagus kalau anda bisa memberi contoh lebih duluan sebelum anda mengajarjan peserta didik anda. Dan inilah yang saya sebut dengan Teaching by Leading.!

Photo di dekat Lake Burley Griffin, Canberra.
Photo diambil oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.
Dalam hal ini, Orang Terpengaruh No 1 di Dunia dalam buku Michael Hart, Rasulullah kita, Muhammad SAW mengajarkan dan menyebarkan agama Islam juga dengan memberikan contoh. Islam mengatakan bahwa “Muhammad itu diutuskan sebagai suri tauladan”. Dalam banyak kesempatan memang begitu prakteknya, Misalkan beliau membuang duri di Jalan, mengajarkan kesabaran dengan tidak membalas orang yang meludahinya atau yang ingin membunuhnya dengan pedang, mengajarkan keberanian pemimpin dengan selalu dibaris depan ketika berperang, dan pulang di baris belakang, dan Mengajarkan kedisiplinan dengan datang pertama ke Mesjid, dan masih banyak lagi tindakan-tindakan yang beliau lakukan itu menjadi teladan. Menurut saya, dalam kontek pendidikan, Rasulullah ingin mengajarkan kita bahwa Mengajar itu dengan memberi contoh terlebih dahulu. Again, teaching by leading.
Kondisi yang kontradiktif justru dipraktekkan oleh banyak orang di negeri kita dewasa ini. Misalkan Pemerintah, mengimbau Masyarakat Indonesia untuk cintai produk dalam negeri. Tapi pemerintah sendiri mulai dari tas, baju, hingga make upnya barang impor dari Paris. Suruh Rakyat konsumsi makanan traditional supaya meningkatkan pendapatan home-industry, tapi mereka makan fast-food yang pajaknya ke Amerika atau Israel. Suruh Rakyat mencintai lagu-lagu daerah dan nasional khas Indonesia, tapi mereka nonton jazz yang tiketnya 2.5 Juta/orang. Minta rakyat tingkatkan kepedulian terhadap sesama, saling menghargai, tapi DPR rapat di gedung rakyat yang LIVE berkelahi dan melempar botol aqua. Belum lagi kita bicara masalah Korupsi, kedisplinan, clean goverment, dan sebaginya. Masya Allah…masih banyak PR bangsa ini…dan ini menjadi tanggung jawab Saya, anda, dan kita semua, terutama generasi muda. !!! (Editing ketika posting)Semoga bermanfaat!

Dinner dengan Artist dari Islamic Museum of Australia and Muslim Artist
di La Paella Restaurant, Melbourne tanggal 23 Juni 2012.