[Episode 11_Note for MEP Australia] Antara Minoritas dan Manyoritas

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 02.38 Melbourne Time

Photo diambil Mas Zainal di Melbourne University, tanggal 15 Juni 2012.
Hari kedua tanggal 12 Juni 2012, kami mendapat kesempatan untuk mengunjungi Center for Dialogue di La Trobe University. Pertama, saya pribadi sangat senang banget ke La Trobe karena karena bisa makan nasi buat makan siang. Meskipun itu nasi India..he………..dasar wong deso!!!

Untuk anda ketahui saja, ada 18 persen mahasiswa La Trobe University adalah Islam. Dan anda tau lagi, La Trobe mempunyai field of study Islamic Banking, dan hanya satu-satunya Universitas Australia yang memiliki jurusan tentang Perbankan Syariah. Fantastic (colek Mas Ridha..he….)!!!

Dalam perbicangan yang singkat sekitar 30 menit di ruang rapat Center for Dialogue, ada pernyataan menarik dari Dr. Sven Alexander Schottman sebagai Research Fellow di La Trobe University. Dia mengatakan bahwa, Kaum minoritas yang ada di Indonesia juga mengalami masalah yang sama dengan kaum minoritas di Australia.

Photo ini diambil oleh Mas SidQie dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke RED R
pada tanggal 18 Juni 2012.
Sebagai contoh, dia menyebutkan…betapa sulitnya sebuat komunitas Kristen untuk membagun gereja…tidak hanya masalah izin tapi masyarakatnya juga menolak. Hal yang sama juga dialami oleh masyarakat Muslim di Australia. Mereka juga sangat susah mendapatkan izin untuk membangun mesjid, tidak hanya itu, kalau tanah sudah dibeli, izin sudah dapat, tetangga yang ada dilokasi mesjid belum tentu mau terganggu dengan adanya mesjid disamping rumah dia. Mungkin saja suara azan, atau sering kumpulnya ummat muslim sehari 5 waktu minimal, Masalah parkir, dan sebagainya.

Karenanya menurut Sven menyebutkan bahwa dialog antar agama anda budaya tidak hanya cukup dilakukan oleh kaum-kaum minoritas di sebuah Negara tapi juga perlu dilakukan hal yang sama oleh kaum-kaum manyoritas itu sendiri.

Pelajaran penting bagi anda readers, netters, dan bloggers kali ini adalah bahwa kalau anda kepingin dihargai, maka menghargailah. Apabila anda tidak suka menunggu, usahakan untuk tepat waktu. Apabila anda sakit apabila dimadu, maka setialah kepada pasangan anda. Artinya hitam-putih itu selalu ada. Baik-buruk akan selalu berlaku.

Dalam kontek agama, ada baiknya mungkin kita tidak terlalu egois untuk menolak aturan-aturan yang mendiskrimasi ummat Islam di Perancis, apabila kita juga mendiskrimasi ummat agama lain di Negara kita sendiri. Kalau diskriminasi, kita balas dengan diskriminasi, terus apa bedanya dong antara kita ummat Islam dengan non-Islam?

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Prof. Abdullah Saeed (4 kanan), Dr. Michael Ewing (5 kanan)
setelah pertemuan di Sydney Myer Asia Center.
Photo diambil oleh Mas Wawan tanggal 15 Juni 2012.