[Episode 12_Note for MEP Australia] Amanah Sukarno di Negeri Kangguru

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 03.02 Melbourne Time.

 

Adam berdiri photo disamping “Bali Memorial”.
Ada ukiran nama-nama yang nyawanya hilang pada saat Bom Bali.
Photo diambil oleh Lusi pada tanggal 15 Juni 2012.

Di hari kedua, kami memulai aktifitas dengan mengunjungi Musium Imigran terbesar yang terletak di Kota Melbourne. Setalah Eeqbal membayar kami 10 dolar Australia untuk setiap orang, kami langsung menulusuri semua ruang yang mempunyai tiga lantai tersebut.

Dari setiap ruang yang saya masuk, saya merasa seperti kembali pada masa abad lampau. Betapa tidak, semua barang yang saya lihat adalah barang-barang yang digunakan oleh para imigrasi yang datang ke Australia mulai ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.

Memang faktanya Australia adalah homelands of Migrant. Orang dari ratusan Negara berimigrasi ke Australia dari dahulunya. Dan ini juga yang membuat Australia begitu kaya dalam budaya dan bahasa, meskipun first language mereka adalah Bahasa Inggris.

Di ruang pertama, saya melihat koper zaman dahulu yang masih menggunakan belahan kayu tebal-tebal dan besar. Saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada sejumlah photo-photo ummat muslim yang berimigrasi ke Australia, selanjutnya saya melihat ada ratusan passport dari Negara-negara yang berbeda dipajang di salah satu ruang dalam museum tersebut.

Ketika saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada kapal laut yang dilengkapi dengan kasur, ruang rapat, jam, cangkir, goni-goni, dan sejenisnya dengan arsitektur yang membuat pengunjung seperti berada di jazam aslinya apalagi ditambah dengan audio-audio suara ombak, suara orang ikut rapat, anak nangis, dan sebagainya.  Menarikanya ada juga dokemntasi imigran Indonesia yang berasal dari Malang yang sudah menjadi penduduk permanent Australia semenjak tahun 1999.

Ada yang penting untuk kita pelajari dan anda para bloggers, netters, dan readers yaitu belajar untuk menghargai pentingnya sejarah. Sejarah penting untuk mengingat masa lalu dan untuk dijadikan kebanggaan sekaligus pelajaran pada sekarang untuk kemudian digunakan pada saat mendatang.

Banyak bukti, sejarah kita diotak-otik dan kita tidak punya dokumentasi dan data yang valid. Di Aceh misalkan, tidak ada cerita yang jelas tentang kisah perjuangan Cut Mutia, hanya 1 atau 2 orang yang bisa baca semua tulisan Persia yang ada di Nissan Sultan Malikussaleh, tidak sedikit generasi muda yang tidak ingat lagi kapan tsunami terjadi, dan sebagainya.

Akibat kekurangan pengetahuan dan bukti sejarah yang ada, akhirnya kita mudah dipengaruhi…sebagai contoh, sekarang hamper semua orang membenci PKI di Indonesia, namun berapa banyak yang tau tentang idiologi dan perkembangan PKI di Indonesia…resiko lainnya adalah sering orang mengatakan kalau anda ingin mengetahui tentang sejarah Indonesia, anda belajar ke Belanda. karena disana ada bukti-bukti fisik “Ke-Indonesiaan” terdahulu. Coba anda pikirkan dengan normal, apa gak tersentuh nasionalisme anda, kalau di Belanda ternyata lebih banyak bukti-bukti sejarah dibandingkan di Indonesia?

 
Dalam kondisi seperti itu, dilihat secara ekonomi, orang Belanda jelas mendapatkan manfaatnya. Semakin banyak yang datang, melihat, dan belajar kesana seperti peniliti, akan semakin banyak keuntungang yang mereka dapatkan. Dari sisi ekonomi-wisata juga bisa mengeruk banyak dolar, saya belum pernah ke Belanda, tapi asumsi saya, apabila kita ingin masuk ke Museum mereka pasti harus bayar atau beli tiket. sudah berapa tahun benda-benda Indonesia dipamerkan di Museum mereka? sudah berapa ribu bahkan jutaan orang yang datang dan melihatnya? sudah berapa juta tiket terjual? manfaat itu semua untuk Belanda…bukan Indonesia…belum lagi dari Prestis sebuah bangsa, Belanda juga secara tidak langsung juga masih menjajah Indonesia. Toh buktinya benda-benda itu tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia.
 
Tidak hanya itu, dalam kontek proses belajar mengajar, dengan adanya museum-museum yang menyimpan benda-benda penting sejarah, juga dapat dijadikan “alat” untuk mengajarkan sejarah tempo dulu kepada generasi muda, terutama pelajar. Ketika kami kunjungi Immigration Museum tersebut di Australia, ada ratusan anak-anak sekolah yang didampingi gurunya melakukan field-trip learning ke Museum. artinya dengan mereka mengharagai sejarah, manfaatnya tidak hanya secara ekonomi, menarik wisatawan, tetapi juga bisa menjadi tempat buat generasi selanjutnya belajar. luar biasa!!!
Dr. Eeqbal mengabadikan kunjungan kami Immigration Museum pada tanggal 12 Juni 2012.
Sebagai informasi saja, ketika saya berkunjung ke Amerika tahun 2010, saya juga melihat hal yang sama disana. Saya pernah mengunjungi Museum yang isinya cuma fossil binatang atau kerangka binatang yang sudah diawetkan. Saya pernah diajak ke Museum Perang Amerika. dan masih banyak lagi museum-museum yang ada disana.
 
Pertanyaannya sekarang, ada berapa banyak Museum di Indonesia? seberapa besar kita mengahargai sejarah? sebarapa penting, kisah-kisah perjuangan terdahulu buat kita sekarang? apakah kita pernah berpikir, bahwa kita hari ini berkat perjuangan dan rintisan mereka terdahulu?. Untuk binatang saja yang sampai hari ini masih ada keturunannya, tapi mereka tetap mengharganya. Bagaimana dengan ribuan nyawa manusia yang hilang dengan musibah alam, gempa dan tsunami di Aceh?. Semoga saja museum Tsunami di Banda Aceh dapat mencontohi apa yang mereka lakukan.(Ditambahkan pada saat posting)

Karenanya Sukarnoe yang begitu futuristik (berpikir ke depan) sudah berpesan kepada kita puluhan tahun lalu,,,,J.A.S.M.E.R.A.H…jangan sesekali melupakan sejarah. Namun sayangnya pesan tersebut tidak didengar oleh orang Indonesia, justru didengar oleh Kangguru di Australia!!!

Semoga Bermanfaat!

Ini adalah suasan jamuan Makan Malam dengan Consulate Jendral Indonesia di Melbourne.
Photo diabadikan tanggal 15 Juni 2012.