[Episode 15_Note for MEP Australia] Indonesia-Australia dimata Prof. Tim Lindsey

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu, 13 Juni 2012 // 22.31 Melbourne Time.

Photo diabadikan oleh Mas Zainal pada tanggal 15 Juni 2012 di Kampus Melbourne.
Dalam kunjugan hari ketiga kami bertemu dengan Prof. Tim Lindsey. Menjadi sebuah keburuntungan bagi kami karena bisa bertemu dengan beliau. Prof Tim adalah salah satu Chairman Australia Indonesia-Institute (AII) Kementrian Luar Negeri Australia. Saat ini beliau mengajar di Fakultas Hukum Universitas Melbourne. Indonesia sudah menjadi Negara kedua bagi Tim karena Istrinya adalah orang sunda.

Prof Tim mempunyai pengetahuan dan informasi tentang Indonesia yang mungkin orang Indonesia sendiri tidak memilikinya seperti yang dia punya. Dia tau syariat Islam di Aceh, dia tau system politik Indonesia, dia tau system keamanan pemerintah Indonesia, budaya korupsi, kualitas pendidikan, korupsi, makanan, wisata, dan masih banyak lagi yang dia tau tentang Indonesia.

Dalam diskusi yang sangat singkat tadi siang, kami saling berbagi informasi dan ide yang banyak antara Indonesia dan Australia dari berbagai aspek. Karena Prof Tim konsentrasinya di bidang hukum, tentu saja pembicaraannya lebih mengalir ke arah penerapan hukum, politik, DPR, aparat penegak hukum, dan sejenisnya.

Menurut Prof. Tim ada kesamaan antara Indonesia dan Australia dalam banyak hal:
Pertama, dalam kontek politik, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki multi partai dan demokrasi terbuka.

Kedua, Indonesia dan Australia adalah Negara yang begitu kaya dari segi  budaya, bahasa, makanan, etnik, dan agama.

Ketiga, Indonesia dan Australia sama-sama menghargai toleransi dan pluralism.

Namun Prof Tim juga tidak manafikan, antara Indonesia dan Australia sama-sama memiliki kekurangan dalam kontek toleransi dan pluralism. Kalau Indonesia sering terjadi konflik antar agama, sedangkan di Australia kekurangannya adalah dalam pemenuhan hak-hak kaum Aborigin.

Meskipun demikian, menurut Prof Tim ada perbedaan signifikan antara Indonesia dan Australia dalam kontek pluralism, toleransi, multikunturalisme dan multi agama. Australia boleh dibilang sangat sukses dalam memberikan perlindungan dan kebebasana antara ummat beragama. Bahkan hamper sama sekali tidak ada konflik agama di Australia.

Mbak Mila (4 dari kiri), Mbak Angky (3 dari kiri) , Mas Wawan (5 dari kiri) , Mas Tony (1 kiri),
dan Peserta MEP diabadikan keceriaannya oleh Mas SidQie
ketika berkunjung ke Kyabram Fauna Park di Shepparton tanggal 17 Juni 2012.
Namun Prof Tim mengingatkan kami untuk tidak melupakan bahwa Australia sudah menjalankan system demokrasi selama 111 tahun sehingga membuat nilai-nilai demokrasi, termasuk kebebasan berama didalamnya, semakin membaik dalam tataran prakteknya. Sedangkan Demokrasi di Indonesia baru dimulai paska reformasi 1998, dan baru berumur 13 tahun.

Kalau diumpamakan, masih seperti bayi yang baru belajar di Sekolah Dasar. Artinya masih terlalu muda untuk mengharapkan ada banyak perubahan dan penanaman nilai-nilai demokrasi.

Poin penting yang mungkin bisa menjadi pelajara bagi saya dan anda adalah untuk tidak terlalu egois dalam mengharapkan adanya perubahan. Harus kita akui memang, banyak masalah yang menghambat kemajuan bangsa Indonesia, korupsi, penegakan hukum, partai politik, good-will pemerintah, pendidikan, kestabilan ekonomi, kondisi politik, dan sejenisnya masih menjadi masalah-masalah besar di Negara kita.

Namun kita harus optimis bahwa kita sedang berjalan dan it’s on the process. Sebagai generasi muda seperti saya, dan bangsa Indonesia yang baik, mari sama-sama kita ciptakan perubahan. Sangat egois rasanya, apabila kita menyerahkan semua tanggung jawab ini pada pemerintah baik yang ada di legislative, eksekutif, maupun yudikatif. Namun mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan, ayao berikat yang terbaik, meskipun small, but it’s big ketika kita lakukan bareng-bareng.

Meminjam ungkapan Aa Gym, Mulai dari Kecil, Mulai dari Sekarang, Mulai dari Kita. Mau???

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Prof. Tim Lindsey di Kantornya di Univeristy of Melbourne
tanggal 13 Juni 2012.