[Episode 16_Note for MEP Australia] Ketika Presiden Meminta Ma’af

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 23.07 Melbourne Time

Photo diabadikan oleh Mas Ridha tanggal 22 Juni 2012 di Sydney.

Meskipun pertemuan dengan Prof Tim Lindsey sangat singkat pada hari ketiga, hari Rabu tanggal 13 Juni 2012, namun banyak informasi dan pengetahun yang akan menjadi pengalaman berharga buat saya dan mungkin juga peserta Muslim Exchange Program  lainnya.

Menurut Prof Tim, disatu sisi Australia memang termasuk Negara barat yang sekuler namun sukses dalam memberi perlindungan kepada warganya dalam bidang agama atau kepercayaan. Australia adalah Negara yang paling multi kultur, multi etnis, multi bahasa, dan dan multi agama. Saat ini Penduduk Australia lebih dari 22 Juta jiwa, ada lebih dari 300  bahasa yang mereka tuturkan, dan 200 negara lebih dimana imigran berasal.

Selain Aborigin, semua penduduk Australia saat ini adalah pendatang atau imigran. Karenanya tidak heran kalau di Australia ada puluhan kepercayaan, ratusan bahasa dan penduduknya berasal dar ratusan Negara yang berbeda.

Salah satu manfaatnya mungkin Australia kaya denga budayanya yang beragam, makanannya yang serba ada. Ngomong-ngomong soal makanan, di Melbourne saja setidaknya ada 5 restauran berbau Indonesia yang saya jumpai. Ada Bali Bagus, Es Teler, Warung Minang, dan kawan-kawanya. Namun yang aneh, akibat terlalu banyak pendatang, susah bagi saya untuk menemukan khas asli Australia. Contoh kecilnya, ketika saya tanya, apa makanan khas Australia?. Mereka  bingung untuk menjawabnya, karena makanan-makan disana bukan asli dari Australia, tapi dibawa oleh pendatang atau imgrant.

Hebatnya, Australia mampu mempertahankan keharmonisan dan kerukunan antar umat agama tersebut yang begitu beragam dari segi budaya, pendidikan, strata sosial, gaya hidup, bahasa, dan sebagainya. Dalam konteks mempertahakan keharmonisan multi agama dan multi kulturisme, beberapa Negara Eropa, bahkan Amerika sendiri harus banyak belajar kepada Australia menurut saya.

Australia adalah Negara paling toleransi dan pluralism. Saya ingat dengan kata Eeqbal bahwa yang membuat mereka bisa tentram adalah Freedom. Artinya kebebasan absolute yang diberikan oleh Negara kepada warganya Australia benar-benar dipergunakan pada tempatnya, tidak disalah gunakan ketika kebebasan absolute ada ditangan. Ini menjadi penting bagi kita bangsa Indonesia.

Ini adalah salah satu ruangan di Pusat Pelayanan Masyarakat Aborigin di Shepparton.
Photo diambil Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Namun disisi lain, Prof Tim Lindsey merasa sangat sedih dengan Pemerintah Australia. Pemerintah Australia baik di Negara bagian maupun pemerintah pusat tidak memberikan dan memenuhi hak-hak kaum Aborigin sebagaimana yang mereka janjikan. Bangsa Aborigin sebagai penduduk asli Australia memeliki hak prerogatif untuk mendapat layanan lebih dari pemerintah, terutama dalam memiliki tanah.

Namun selama berpuluh tahun hak tersebut tidak dipenuhi oleh pemerintah, bahkan banyak tanah-tanah orang Aborigin dikausai oleh pemerintah, atau perusahaan untuk dibangun supermarket, mall, pabrik, dan sebagainya. Bagi masyarakat Aborigin, tanah adalah identitas sekaligus harga diri. bahkan seperti dibakar al-qur’an bagi kaum Muslim apabila tanah mereka dirampas.  Begitu menurut ketengan Prof Tim.

Dan baru hanya 6 tahun lalu ketika Cavin Rudd menjadi Perdana Menteri Australia meminta maaf kepada kaum aborigin atas penderitaan yang mereka alami selama puluhan tahun. Tepatnya, 13 Febuari 2008 yang lalu Cavin Rudd berjanji untuk memenuhi apa yang mereka minta dahulunya. Sekarang tanggal 13 Febuary 2008 itu diabadikan dan menjadi sejarah. Saya pernah masuk ke Museum benda-benda Aborigin di Melbourne, Saya lihat di kaus-kaus tanggal tersebut diabadikan.

Saya tidak tau banyak tentang kaum aborigin, apalagi ketidakadilan pemerintah terhadap mereka, namun kerendahan hati seorang perdana Menteri, Cavin Rudd untuk meminta ma’af adalah sesuatu yang sangat mulia bagi saya.

Dengan besar hati, Rudd meminta maaf kepada masyarakat Aborigin. Dan proses permintaan ma’af tersebut diliput oleh berbagai media. Menurut curhat Prof Tim Lindsey, banyak masyarakat Aborigin yang menangis terharu, bahkan juga para immigrant.

Wajar mereka terharu, karena ketidakadilan tersebut sudah dilakukan oleh  banyak rezim pemerintah sebelumnya. Bangsa Aborigin sudah lelah memperjuangkannya. Secara persentasepun, masyarakat Aborigin tidak sebanding dengan apra imigran yang sudah menjadi penduduk Australia sekarang. Dan secercah harapan baru itu, lahir dari tangan Rudd bersama pemerintahannya.

Ini adalah ruang tunggu pusat pelayanan masyarakat Aborigin, Rumbalara Aboriginal Co-Operative Ltd.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.
Pelajaran penting bagi saya dan anda narablog, pembaca, netters kali ini adalah sikap meminta ma’af. Terkadang terlalu sering kita merasa malu apabila meminta ma’af. Ada masyarakat kelas atas, merasa turun strata sosial dan harga dirinya apabila harus meminta ma’af kepada masyarakat miskin yang sudah dibuatnya terluka.

Tidak hanya itu, ada guru yang tidak berani meminta maaf kepada muridnya karena sudah melakukan kesalahan. Boro2 kita mengharapkan pemerintah meminta maaf kepada rakyatnya, terkadang ada orangtua yang tidak mau meminta ma’f kepada anaknya karena tidak memenuhi janjinya membeli hadiah. Singkatnya, kalau Cavin Rudd yang tidak belajar Islam saja bisa meminta maaf, kenapa kita tidak???

Semoga Bermanfaat!

Group Picture dengan salah satu generasi penerus Aborigin (2 Kiri).
Beliau adalah salah Anggota Committee Rumbalara Aboriginal Co-Operative Ltd .
Rumbalara adalah Pusat Pelayanan Masyarakat Aborigin seperti Kesehatan, Orang Cacat, dsb.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton.