[Episode 19_Note for MEP Australia] Tangan Tuhan di Australia

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis, 14 Juni 2012 III 21.52 Waktu Australia

Photo diabadikan Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Universitas Melbourne.
Hari ini saya dan kawan-kawan mendapat kesempatan berkunjung ke Southern Migrant and Refugee Center (MRC) sebagai agenda terakhir hari keempat ini tanggal 14 Juni 2012. MRC adalah lembaga yang memberikan pelayanan kepada immigrant, pengungsi, dan pencari suaka dari luar negeri ke Australia. Melalui MRC, baik immigrant, pengungsi, dan pencari suaka bisa mendapatkan perlindungan, pekerjaan, life-skilled trainings, pelatihan bahasa, sampai dengan mendapatkan legalitas sebagai orang Australia.

Saya baru mengetahui kalau Australia memiliki lembaga seperti MRC. Hal ini tidak hanya masalah kemanusiaan tetapi juga masalah persaudaraan, dan agama. Bayangkan saja, suatu Negara yang lagi dilanda perang seperti Syiria sekarang pasti sangat membutuhkan bantuan Negara luar untuk mau menampung mereka. atau ketika perang di Irak, Afghanistan, Vietnam, Pakistan, dan tempat-tempat lain, sangat banyak yang ditampung di Australia. dan Disamping itu, juga masih banyak Negara-negara miskin di Afrika, bahkan Asia yang membutuhkan bantuan seperti apa yang ditawarkan oleh Australia.

Akhir Juni lalu, banyak media yang memberitakan tragedi di Pulau Chrismas dimana pencari suaka dari Srilangka yang hendak berlayar ke Australia, di dalam perjalanan, kapal mereka rusak, akibatnya 17 orang dari 150 penumpang meninggal.(edited ketika posting)

Menurut presentasi Bill Collopy yang bertanggung jawab sebagai Client Service Manager di Southern MRC bahwa ada banyak lembaga sejenis MRC di dunia, namun dia belum melihat lembaga yang sama di Indonesia. Untuk MRC Southern sendiri sudah memberikan banyak sekali layanan baik kepada imigran, pengungsi, maupun pencari suaka dari berbagai Negara.

Menurut data tahun 2007-2012 di MRC, jumlah pengungsi (refugee) tertinggi yang mencari suaka ke Australia, khususnya ke Southern berasal dari Afghanistan, dengan total 2.407 orang. Disusul Srilangka 421, Burma 352, dan masih banyak negara-negara lain yang menjadikan Australia sebagai tempat mencari perlindungan. tidak hanya perlindungan keamanan, tapi juga kesejahteraan dan hidup yang layak.

Group Picture dengan Football United di Sydey.
Football United diinisiasi oleh University of New South Wales, Sydney.
Banyak siswa mereka adalah anak-anak imigran atau pengungsi dari berbagai negara.
Photo diabadikan oleh Assmaah Helal, Community Coordinator Football United tanggal 22 Juni 201. 
Menariknya belum ada satupun dari Indonesia yang pindah ke Southern baik sebagai imigran, pencari suaka, maupun pengungsi. Mungkin disatu sisi kita bangga karena tidak ada orang kita yang pindah ke Australia dengan alasan pencari suaka, mengungsi, maupun imigran. Namun disisi lain, perlu kita akui bahwa masih banyak masyarakat kita yang membutuhkan layanan-layanan seperti yang dilakukan oleh MRC.

Terlepas dari Alasan-alasan politik dan efek negatif lainnya, apa yang dilakukan oleh Australia perlu kita apresiasi. Kondisi yang kontradiktif terjadi di Indonesia, masih sangat segar di dalam ingatan saya ketika pencari suaka pada awal tahun 2012 lalu dari Myanmar datang ke Aceh, tidak diterima dan justru dikembalikan ke negara asalnya.

Seharusnya pemerintah kita belajar banyak kepada Australia, terutama dalam kontek menangani kemiskinan, putus sekolah, pengangguran, dan sebagainya. Mungkin kita belum sanggup untuk memberi bantuan orang dari luar, namun setidaknya kita harus mampun memberikan kesejahteraan, keaamanan, kenyamanan, kesehatan untuk orang Indonesia sendiri. Namun sayangnya justru miris sekali.

Pelajaran penting bagi saya dan anda dalam catatan kali adalah untuk tidak pernah berhenti memberi. Memberikan yang terbaik untuk komunitas kita setidaknya, kalaupun tidak sanggup untuk melakukan yang lebih luas. Atau kalaupun tidak, setidaknya untuk diri kita sendiri dengan menjadi warga Negara yang baik. Karena prinspinya adalah “kalau anda bukan bagian dari solusi, berarti anda adalah bagian dari masalah”.

Memberi dalam Islam justru bukan membuat apa yang kita miliki menjadi berkurang, justru sebaliknya akan terus bertambah. Susah memang untuk dirasionalkan stetemen seperti itu, namun percayalah bahwa Allah itu maha mengkehendaki dan membari. Kalau di Australia saja ada tangan tuhan, kenapa di Indonesia tidak?

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Lembaga NGO yang memiliki misi kemanusiaan, RED R.
Organisasi ini juga datang ke Aceh ketika dalam proses recovery, rehabilitasi, dan rekontruksi Aceh
pasca Gempa dan Tsunami tahun 2004.
Photo diabadikan Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton, Melbourne.