[ Episode 20_Note for MEP Australia] Pesan Tuhan lewat Tulisan

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Kamis 14 Juni 2012 //  22.22 Melbourne Time
“Identity Yours Mine Ours” adalah salah satu imbaun di Immigration Museum Melbourne.
Photo diabadikan oleh Eneng Elis Aisyah pada tanggal 12 Juni 2012.

Mendapat kesempatan keluar negeri tidak hanya bicara masalah kemewahan dan kelebihan-kelebihan dari kegiatan yang kita ikuti. Akan tetapi juga bicara masalah personal experience, pematangan diri, leadership, mind-set, sikap, dan juga budaya. Kedua hal tersebut akan melebur dan bisa kita nikmati ketika kita membukan diri, membuang keegoisan nasionalisme yang fanatik, dan mengosongkan gelas kalau diibaratkannya.

Banyak valuable experience yang saya dapatkan disini baik ketika saya berinterkasi dengan orang-orangnya, maupun dengan benda-benda yang ada atau dengan system dan atmosphere yang ada di Melbourne. Proses belajar tersebut tidah harus semata-mata ketika saya berkunjung dan berbecira dengan orang-orang penting seperti yang ada dalam program ini, namun juga bisa dengan apa yang saya lihat, dengar, dan baca disini.

Salah satu yang pelajari disini adalah melalui apa yang saya lihat. System transportasi yang sudah terbangun, budaya antri yang sudah menjadi tingkah laku, patuh terhadap lampu lalu lintas yang sudah menjadi budaya, suara klapson yang jarang terdengar, budaya jalan kaki, dan sebagainya tentu saja memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, dan anda juga mungkin kalau keluar negeri, khususnya Negara-negara yang sudah maju seperti Australia.

Salah satu contoh kecilnya lagi, saya lihat banyak anjuran-anjuran atau peraturan-peraturan itu hanya dalam bentuk tulisan. Meskipun dalam bentuk tulisan, saya yakin pasti jarang terjadi pelanggaran. Sebagai contoh, ketika saya berkunjung ke Immigration Museum di Melbourne tanggal 12 Juni 2012, ada tulisan “IDENTIFY MINE, YOURS, OURS”.

Ini adalah salah satu tulisan yang ada di Museum Immigration Melbourne.
Photo dibadikan pada tanggal 12 Juni 2012.

Agak susah mencari padanan bahasa Indonesia dan sensenya akan berubah apabila phrase di atas diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Kalau anda mengerti bahasa inggris tentu saja kalimatnya memberikan interpretasi yang mendalam buat anda. Bagi saya pesan seperti itu memberikan makna yang begitu penting. Pertama saya belajar bahwa orang semakin sadar untuk mematuhi terhadap peraturan yang ada. Kedua, budaya melanggar peraturan semakin rendah. Ketiga, saya belajar bahwa meskipun tulisan, namun orang tetap patuh.  karena mereka tau itu adalah benar.

Ironis memang di Indonesia dalam banyak hal, terutama menyangkut dengan kepentingan umum seperti lalu lintas, jangankan tulisan, polisi  lalu lintas yang sudah berdiripun, tetap tidak patuh dan menerobos lalu lintas kadang-kadang. Apalagi Cuma ada tulisan “jangan buang sampah disini”, justru kata “jangan” dihapus atau dicoret, terus sampahnya dibuang sembarangan.

Ada banya himbaun dalam bentuk tulisan yang sering tidak kita indahkan, di Kantor-kantor pelayanan publik misalkan ada larangan “Tidak Menerima Imbalan dalam Bentuk Apapun”. Prakteknya kalau tidak dikasih duit, kebanyakan pasti telat selesainya. Sehingga orang terbiasa untuk memberikan uang pelicin supaya urusannya selesai. Di Kampus saya, pernah saya baca tagline di gedung rektorat, “Tulis Apa yang anda kerjakan, Kerjakan apa yang anda tulis”. tapi prakteknya??? sangat tidak sesuai apa yang ditulis.

Peserta MEP 2012 di depan War Memorial Canberra.
Photo diabadikan Mas Tony tanggal 19 Juni 2012.

Dalam konteks Australia, kondisi-kondisi seperti diatas, Saya sering berkesimpulan bahwa nilai-nilai seperti kedisplinan, kesabaran, saling mengahargai dan sebagainya tidak hanya lagi sebatas tiori dan ceramah agama saja atau bacaan teksbook saja, namun sudah terintengrasi menjadi tingkah laku yang sudah dipraktekka puluhan tahun, sehingga sudah menjadi budaya, bahkan peradaban. Dan inilah salah satu penyebab Negara-negara sperti Australia dan Amerika maju dibandingkan Negara-negara seperti Indonesia yang meskipun secara KTP penduduknya banyak yang beragama Islam.

Bagi Negara maju, meskipun Cuma lewat tulisan yang namanya kebenaran tetap kebenaran dan mereka patuh. Meskipun masyarakat sekuler seperti Australia sekalipun percaya bahwa kebenaran itu datanganya dari tuhan, meskipun hanya lewat tulisan. Makanya saya menyebutnya, ada tangan tuhan dalam tulisan!

Semoga anda bisa mengambil poin yang ingin saya sampaikan.

Group Picture dengan Tim di Center for Dialogue di La Trobe University.
Photo diabadikan tanggal 12 Juni 2012.