[Episode 22_Note for MEP Australia] Ketika Non Muslim Mengajar Islam kepada Muslim

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Sabtu 15 Juni 2012 // 23.50  Melbourne Time

Background photo adalah Opera House.
Photo diabadikan oleh Mas Ridha ketika tour ke Manly Beach Sydney tanggal 23 Juni 2012.
Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Melbourne, besok hari Minggu tanggal 17 Juni 2012, pagi-pagi jam 8 kami check out dari Apartemen Darling Towers menuju ke Shapparton untuk melakukan pertemuan disana. Hari ini kami hanya bertemu dengan Boards of Imam Victoria untuk agenda terakhir selama berada di Melbourne.

Untuk agenda beli-beli, kami didampingi oleh Faza, istri Struen Jones sekaligus adik Ipar Eeqbal, shopping ke Victoria Market. Victoria Market kalau di Indonesia kayak pasar rakyat di Tanah Abang atau Pasar Senen. Mulai dari jualan baju, kaus, topi, roti, kue, sayur, ikan, bumbu, bahkan orang jualan obatpun ada.

Namun yang memberi nilai lebih pasar ini adalah one stop market. Artinya semuanya ada ada disini. Mau beli ikan ada, beli obat ada, beli sayur ada, beli baju ada, piring ada, makanan ada, kue pa lagi, pokoknya lengkap semuanya ada disini. Dilihat dari segi efesiensi waktu, pasar seperti ini sangat bagus, karena orang tidak perlu menghabiskan lebih banyak diwaktu di jalan menuju ketempat lain untuk membeli keperluan atau kebutuhan rumah tangga misalnya. Kalau Beli Kaus di Blok A, Beli Sayur di Blok M, dan Beli Ikan di Blok X, tentu saja akan sangat menyita waktu dan tenaga apabila letaknya berjauhan, apa lagi berbeda arah.

Apalagi pada masa kini dimana efesiensi waktu begitu penting, karena orang sangat sibuk dengan berbagai kegaitan dan kesibukannya. Kalau belanja akhir pekan, makanya mereka lebih suka ke Mall atau Supermarket, selain barangnya dibungkus dengan rapi sehingga kelihatan bagus dan berkualitas juga mereka bisa beli berbagai kebutuhan disatu tempat. Inilah salah satu yang membuat capital tumbuh subur di Indonesia umumnya, terutama di Jakarta dan akibatnya pasar-pasar tradisional harus minggat ke pinggir kota.

Melihat kenyataan seperti ini, memang disatu sisi kita marah dengan kapitalisme, tapi disisi lain juga kita harus merefleksi diri bahwa pasar-pasar kita masih banyak kekurangannya dan pada saat bersamaan, kita juga mengambil manfaat dari keserakahan kapitalisme itu.

Malam ini kita tidak disediakan makan malam oleh panitia. Saya tidak tau kenapa, seharusnya memang harus dicover juga karena masih dalam program, ya ini kan full-funded program. Tapi untuk satu kali, bolehlah. Juga terlalu gimana gitu kesannya kalau complain. He……

Group Picture sebelum take off ke Canberra setelah mengikuti program di Melbourne dan Shepparton.
Mas SidQie (Jacket Biru) semenjak SMA sudah tinggal di Australia.
Photo diabadikan oleh Mas Wawan di Melbourne International Airport tanggal 18 Juni 2012.
Kebetulan Reza kewan yang saya kenal lewat Abangnya Dudi Abdullah, Pengajar Muda Aceh Utara, Indonesia Mengajar,  mengajak makan diluar. Tadi juga ditemanin sama Mas SidQie, temannya Reza sekaligus dia juga akan menemani kami ke Shapparton sebagai Pototgrapher Profesional.Dari banyak topic dan isu yang kita bicarakan di restoran Arab di kawasan Coburg, ada satu hal yang membuat saya sangat terpukau. Yaitu media yang digunakan oleh Pemuda-Pemuda Muslim di Kota Melbourne untuk belajar Al-qu’an. Mereka menggunakan Aplikasi Skype dengan dukungan jaringan internet yang kuat untuk belajar al-qur’an. Sedangkan guru atau tutornya berasal dari kampung-kampung di daerah Mesir.

Fantastic, isn’t it??? (Colek Mas Ridha)…. Saya sangat menarik sekali ketika mendengar cerita mereka bahwa banyak remaja-remaja Muslim Australia yang mengikuti kursus ini. Ada yang belajar tajwid, dan ada juga yang menghafal al-qur’an. Dan mereka membayar sekitar 20-30 AUD kepada agent yang mengahubungkan antara guru di Mesir dengan murid di Australia. Amazing bukan????

Bagi saya, konsep ini langka sekali dan sangat menarik untuk kita terapkan di Indonesia mungkin. Hanya masalahnya, guru-guru pengajian di Mesir memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mapan untuk mengajar bule-bule Muslim di Australia.

Victoria Market. Photo diabadikan oleh Lusi Afriani tanggal 16 Juni 2012.
Terlepas dari keterampilan bahasa, ada yang menarik untuk kita petik pelajarannya dari konsep ini. Pertama, tidak ada yang tidak mungkin lagi di dunia ini. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi yang begitu cepat, semuanya sangat mungkin dilakukan. Dunia sudah tidak ada batas lagi.Kedua, kita bisa belajar dari manapun. Belajar tidah harus selamanya dari buku teks, atau kitab gundul baru dikatakan belajar agama. Tapi juga bisa melalui pengalaman orang lain, belajar pada fenomena alam, belajar pada apa yang kita lihat dan dengarkan, dan juga bisa kita belajar pada benda mati seperti computer yang sekarang memiliki jaringan internet.

Poin ketiga adalah, ketika internet digunakan secara bertanggung jawab  untuk tujuan-tujuan positif, maka manfaatnya akan sangat besar. Dampak positifnya banyak. Begitu juga sebaliknya. Untuk kondisi umum di Indonesia, mungkin boro-boro kita bicara tentang penggunaan internet yang baik dan bertanggung jawab, wong masih banyak orang yang tidak bisa belajar computer.

Disisi lain, kadang-kadang kita juga salah kaprah, menerima perubahan secara mutlak tanpa mempertimbangkan kearifan lokal dan kesiapan kita sendiri,terutama mental kita. Pada saat ini, perkembangan internet di Indonesia begitu cepat dan pesat. Di Aceh, hamper semua warung kopi memiliki fasilitas Free-Speedy. Dan kalau ada warkop yang tidak memiliki fasilitas internet service, pasti peminatnnya kurang. Efek positifnya memang ada, tapi menurut pengamatan saya banyak juga mudharatnya,.

Banyak orang cuma nongkrong seharian di warkop dan online. Tidak memikirkan keluarga lagi bagi yang sudah menikah. Berkurangnya waktu dengan anak-anak bagi ayah yang sibuk kerja. Sering bolos bagi pelajar. Dan celakanya lagi, menggunakan internetpun Cuma untuk main game online dan berjudi. Bukannya dimanfaatkan untuk mencari informasi dan membaca berita penting, malah sebaliknya mejadi ladang dosa.

Dan inilah perbedaan signifikan antara kita dengan Negara-negara maju seperti Australia. Di Australia sangat tidak mudah untuk mencari internet gratis, jangankan tempat-tempat umum, di Hotel aja jarang ada yang gratis, semuanya harus bayar. Karena bagi mereka, informasi itu mahal dan untuk mengakses mendapatkannya, anda harus berkorban, minimal uang.

Coba anda bayangkan, computer dan internet yang berkembang pesat di barat, dan kebanyakan diinovasikan oleh mereka-mereka non-muslim, namun kita sebagai ummat Islam memanfaatkannya untuk belajar Islam. Dengan bahasa lain, inilah saatnya Non Muslim mengajar Islam tentang Islam.

Semoga bermanfaat!
Melissa Sharif (Australian Federal Police) sedang memperkenalkan diri
dalam sebuah jamuan makan malam dengan Konsulat Jendral Indonesia di Melbourne.
Anisa adalah Alumni MEP Australia tahun 2012.
Dia bersama 4 rekan lainnya dari Australia berkunjung ke Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta selama program.