[Episode 23_Note for MEP Australia] Tidak Hanya Sebatas Simbol

Written in:
Forrest Hotel and Apartments, Canberra
19 June 2012 ///  Canberra Time.

Adam berdiri di Info Board Victoria Market, Melbourne.
Photo diambil oleh Lusi tanggal 16 Juni 2012.
Kami diberikan kesempatan untuk Shopping sehari sebalum meninggalkan kota Melbourne.
Setelah meninggalkan Melbourne pada tanggal 17 Juni 2012 pagi, kemi menuju ke Shepparton, salah satu kota di Negara Bagian Victoria. Sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil untuk tiba di Shepparton dari Melbourne. Kota ini terkenal dengan flora dan faunanya yang sangat kaya. Banyak sekali pohon, kebun, sapi, dan sebagainya.Pada hari pertama, kami mengunjungi mesjid tertua di Shepparton. Mesjid tersebut adalah mesjid muslim  pertama yang dibangun di Negara bagian Victoria. Mesjid tersebut dibangun sekitar tahun 1960 oleh masyarakat Albania yang berimigrasi ke Australia pada saat itu.

Ada yang menarik dari rumah ibadah ini yaitu karena ada kubahnya. Saya sudah mengunjungi 4 mesjid di kota Melbourne, namun tidak ada satupun yang memiliki kubah. tidak hanya kubah, menurut keterangan Nail, pengurus Islamic Council of Victoria mesjid-mesjid di Australia tidak boleh memasang microphone di bagian luar mesjid sehingga terdengar suara azan keluar. Alasannya suapaya tidak terganggu masyarakat agama lain dengan suara azan, apalagi azannya sampe 5 hari sekali.  Apalagi kalau bulan ramadhan orang-orang ngaji pada malam hari. Menurut Nail, atas dasar itu kenapa di larang kubah dan suara azan keluar.

Agak ironi memang, disatu sisi Australia adalah salah satu Negara yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan berkekpresi, namun disisi lain kebebesan tersebut juga tidak diberikan secara mutlak kepada penganut agamanya untuk melakukan apapun, memasang lambang apapun di rumah ibadahanya, dan bereskpresi sesuai seleranya.

Dari kondisi paradok seperti itu, bagi saya menarik untuk dipetik pelajarannya yang mungkin juga bisa bermanfaat bagi anda. Bahwa Agama di Australia tidak hanya sebatas simbolik semata. Tidak penting rumah ibadah ummmat Islam dibagun kubah sebagai tanda untuk membedakan antara rumah ibadah agama lain. Karena mungkin menurut mereka itu hanya symbol saja.

Mungkin bagi mereka symbol tidak penting, namun nilai-nilai pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih penting dari umbul-umbul seperti kubah. kondisi seperti ini, terkadang agak jauh sekali berbeda dengan apa yang terjadi dikampung saya di Aceh. Banyak masyarakat menilai kereligiusitas seseorang dari apa yang dipakainya.

Anda akan dianggap shaleh kalau anda pakai kain sarung dan peci. Anda akan dihormati karena mempunyai pengetahuan agama yang mendalam, karena anda bisa bahasa arab. Anda akan dianggap peduli terhadap Islam,karena banyak menjadi pengurus mesjid. Anda akan dipuji dan disanjung karena anda sering keluar masuk mesjid.

Namun bagaimana dengan pengamalannya?. Menurut saya shalat, puasa, zakat, dan ibadaha-ibadah lainnya adalah cara untuk meningkatkan keshalehan kita saja. Artinya seharusnya semakin rajib kita shalat, semakin sedikit kemaksiatan yang kita lakukan. Semakin banyak harta yang dizakatkan, semakin berkurang kita mengambil milik orang lain seperti korupsi.

Intinya semakin tinggi keshalehan agama kita, seyogianya semakin tinggi juga nilai-nilai itu terefleksi dalam kehidupan kita sehari. Semakin menghargai orang tanpa memandang status sosial dan ekonominya, semakin patuh terhadap rambu lalu lintas tanpa mempertimbangkan apakah ada polisi atau tidak. Dan berbagai praktek lainnya.

Photo diambil oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Kyabram Fauna Park, Shepparton.
Namun sayangnya apa yang terjadi di daerah saya justru sebaliknya. Coba kita lihat bagaimana kebersihan di mesjid, bagaimana sikap kita terhadap kebersihan di tempat-tempat umum, bagaimana rasa simpati dan emapati kita terhadap masyarakat miskin. Bagaimana kemauan kita untuk mengambil sampah di jalan. Bagaimana kita mendahulukan pejalan kaki di jalan raya. Seberapa sering kita memberikan sedekah untuk pembangunan mesjid. Bagaiman sikap pejabat terhadap rakayatnya yang sama-sama muslim, bagaimana pelayanan publiknyanya, bagaimana pelajayanan di rumah sakit, bagaimana pelayanan di imigrasi untuk membuat paspor, bagaimana pelayanan di catatan sipil, dan masih banyak lagi praktek-praktek lainnya yang tidak mencerminkan bahwa keshalihan kita beribadah tidak berefek dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita.Menghargai orang tidak kita anggap ibadah, menepati janji tidak kita anggap ibadah, memindahkan sampah di jalan bukan ibadah, melayani orang sakit dengan sebaik mungkin tidak dianggap ibadah, memberikan perlindungan kepada rakyat juga tidak dianggap ibadah oleh pejabat. Menepati janji kampanye juga tidak dianggap melanggar nilai-nilai agama oleh politisi, dan sebagainya.

Artinya shalat, puasa, zakat, sedekah, dan lainnya yang kita lakukan ya hanya sebatas ibadah. Memang ini tidak semua, namun kebanyak seperti itu. Shalat semakin rajin, maksiat juga semakit kencang, zakat semakin sering, koropsi juga semakin lihai, puasa tidak ketinggalan, memaki orang juga tidak ditinggalkan. So, what are they for??? Kalau ibadah shalat, zakat, dan puasa tidak mampu mengubah kepribadian kita terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat, ya artinya itu hanya sebatas simbolik saja.  Setuju???

Semoga bermanfaat!

 

Group Picture dengan Bonnie Hermawan (Shawl Kuning)  tanggal 15 Juni 2012.
Bonnie adalah BIDGE Project Team di Asia Education Foundation Sydney Myer Center Univ of Melbourne.