[Episode 24_Note for MEP Australia] Merakyatnya DPR Australia

Written in:
Forrest Inn Hotel and Apartment, Canberra
19 June 2012 // 21.30 Canberra Time
Pengantar:

Catatan dibawah ini adalah tulisan yang saya kirimkan ke Media Cetak, Serambi Indonesia dan dimuat pada edisi 24 Juni 2012. Serambi Indonesia (Group Tribun) memberikan ruang kepada warga untuk menuliskan berita-berita menarik apa saja dalam rubrik Citizen Reporter. Silakan klik HERE untuk membaca di website Serambi Indonesia.

Photo ini dibadikan oleh Lusi pada tanggal 19 Juni 2012 di Parliament House Australia.

Saya beserta rombongan Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (MEP) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Parliamentary House (PH) Australia pada tanggal 19 Juni 2012. Parliamentary House adalah DPRnya Pemerintah Federal Australia yang berlokasi di pusat Canberra. Canberra sendiri adalah”kota buatan” pemerintah Australia sebagai ibukota Negara pada saat Melbourne dan Sydney bersiteru untuk menjadi ibukota.  Kami disambut oleh salah satu pemandu khusus parlemen. Kami dibawa keliling dan diperkenalkan seluruh bagian parlemen beserta orang-orang penting dalam pemerintahan Australia.

Ada banyak hal yang menarik bagi saya mulai dari sisi bangunannya yang sangat filosofis dan artistic, kegunaannya, sampai dengan anggota parlemennya sendiri. PH dibangun diatas tanah seluas 32 hektar pada masa Ratu Elizabeth II yang kemudian juga meresmikannya pada tanggal 9 Mei 1988. Bagunan yang sangat artistic tersebut adalah hasil rancangan Romaldo Giurgola of Mitchell dan Giurgola & Thorp Architect.

Dilihat dari lokasi bangunannya, PH berada di tempat yang sangat strategis. kalau kita keliling kota Canberra dari sisi apapun tetap Nampak bangunan PH ditengah. Lokasinya memang berada ditaran agak tinggi, tampaknya memang menjadi symbol kota Canberra sendiri, dan Australia pada umumnya. Persis seperti Mesjid Baiturrahman yang menjadi symbol Kota Banda Aceh, dan Masyarakat Aceh pada umumnya serta menjadi symbol Islam di Aceh.

Group Picture dengan Masnun Tahir (4 kiri) setelah selesai seminar di Australia National University, Canberra.
Photo diabadikan Mas Aan pada tanggal 20 Juni 2012.

Parliamentary House dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan Australia dan Kedutaan, termasuk keduataan Indonesia. Kebetulan juga sempat menghadiri pertemuan dengan pihak kedutaan yang disambut oleh Wakil Duta Besar Indonesia untuk Australia.

Masih dari sisi bangunannya, PH berada persis ditengah-tengan kota Canberra. Karena Canberra sendiri memiliki dataran tinggi dengan bukit-bukit disekelilingnya, jadi bangunan PH lebih rendah dari dataran-dataran tersebut sehingga masyarakatnya dapat melihat gedung PH dari ketinggian. Menurut keterangan petugas yang memandu kami, hal tersebut sengaja dirancang seperti itu. Pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat itu lebih tinggi dari pemerintah. Pemerintah harus memprioritaskan rakyat untuk melayani mereka sebaik mungkin. Bukan malah diminta untuk melayani atau dihargai karena mereka pemerintah.

Karena bangunannya yang sangat artistis dan mewah, banyak pengunjung yang datang setiap hari ke PH. Pengunjung yang datang tidak hanya dari dalam negeri Australia, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya itu, Saya melihat banyak pengunjung adalah pelajar SMP dan SMA. Mungkin saja mereka sedang belajar tentang ilmu sosial atau sejarah Australia, kemudia mengunjungi gedung parlemen langsung.

Menariknya bagi saya adalah PH menjadi sangat akrab dengan rakyat. Mereka tidak takut untuk masuk kedalam gedung parlemen, karena itu adalah gedung perwakilan mereka. Bahkan gedung parlemen juga menjadi salah satu situs wisata bagi turis-turis domestic dan international. Pelayananya sangat ramah dan bagus. Hebatnya lagi mereka mempersiapkan petugas-petugas yang siap melayani setiap pengunjung dengan ramah dan setia untuk berkeliling seluruh area gedung.

Photo di Parliament House tanggal 19 Juni 2012.

Ada hal lain yang lebih menarik dari DPR Australia yaitu mereka tidak bekerja di gedung parlemen. Mereka bekerja di daerahnya masing-masing. Saat ini, ada 150 anggota DPR dan 76 senator yang mewakili dari setiap Negara bagia Australia. Setiap anggota perlemen dan senat mempunyai kantor di daerah mereka masing-masing. Karenanya anggota parlemen sangat dekat dengan rakyat yang sudah memilih mereka. Masyarakat dapat langsung menyampaikan aspirasi, pendapat, atau masalah-masalah yang terjadi di kawasan pemilihannya. Anggota senat dan DPR hanya bertemu pada waktu-waktu tertentu saja di Parlementary House untuk memusyrawarahkan permasalahan yang terjadi, membuat kebijakan, atau kepentingan-kepentingan lainnya.

Inilah pelajaran penting bagi saya dan anda mungkin. Idealnya pemerintah itu ya merakyat dan melayani, bukan malah meminta untuk dilayani. Kondisi seperti sangat paradok mungkin dengan pemerintah kita yang kebanyakan diantara mereka beragama Islam. Padahal Islam mengajarkan sikap tawadu’, membantu sesame, memimpin dengan adil, dan sebaginya. Namun sayangnya nilai-nilai itu justru dipraktekkan di Negara yang idiologinya tidak Islam.

Semoga Bermanfaat!
Group Picture di depan Parliament House 19 Juni 2012.