[Episode 2_Note for MEP Australia]_3 Minggu, 2 Kedutaan, 5 Rahmat…

Catatan Senin 4 Juni 2012 // 12.22 WIB
~Aceh~
Adam sedang mempresentasikan Service Project di hadapan dewan juri di @America Jakarta.
Photo diambil oleh Mas Guk Sueb tanggal 2 Juni 2012.

Akhir Mei dan Awal Juni 2012, Saya mendapat kesempatan untuk bolak-balik ke Jakarta secara berturut-turut selama 3 (tiga) minggu dengan agenda yang berbeda-beda. Pertama, tanggal 20-21 Mei 2012 Saya mendapat undangan dari The Indonesian International Education Foundation (IIEF) Jakarta.

Acara ini adalah Working Group Meeting Initiative yang difasilitasi oleh IIEF dengan tujuan utama untuk Membentuk Penitia Kerja yang akan memimpin Pembentukan Asosiasi Alumni IELSP (Indonesia English Language Study Program) yang jumlahnya lebih 600 orang. Pertama, Tentu saja, saya sangat bersyukur dipilih diantara 600 orang tersebut dan bergabung bersama 14 alumni lainnya untuk menjadi tim “adhoc” ini. Kedua, Menjadi kebanggaan tersendiri dapat mewakili kawan-kawan alumni dari Aceh yang saat ini sudah berjumlah diatas 20 orang. Disamping menambah link atau networking, tentu saja acara ini akan memberikan pengalaman tersendiri bagi saya, terutama untuk melatih leadership dan working-group dimana teamnya terdiri dari berbagai daerah dan budaya yang beragam serta kesibukan kerja yang relatih padat.

Satu Jum’at di rumah, saya balek lagi ke Jakarta tanggal 1 Juni 2012. Saya tinggal di daerah, tepatnya di kawasan Lhokseukon, Aceh Utara. Untuk mencapai ke Bandara Polonia Medan, saya membutuhkan waktu 6-7 Jam dengan munggunakan Bus, demikian juga kalau saya ke Bandara International Sultan Iskandar Muda Banda Aceh juga membutuhkan waktu sekitar 7 Jam dengan transportasi darat (L-300 atau Bus). Karenanya, tetap menghabiskan waktu 1 hari perjalanan sebelum acara untuk tiba di tempat tujuan, dan 1 hari setelah acara untuk back to origin.Ehmm…kok jadi keluyuran ni ceritenya…well…Acara kedua ini saya diundang oleh Kedutaan Besar Amerika di Indonesia yang bekerjasama dengan Center for Civic Education (CCE) Indonesia. Agenda kali ini adalah KAMI Conference and Competition yang diselenggarakan di @America di area Pacific Place. Ada 20+ alumni yang mendapat kesempatan kali ini, dan sekali lagi alhamdulillah saya salah satunya.

Ada bebeberapa kegiatan yang kita lakukan selama acara dari tanggal 1-3 Juni 2012. [1] Mempresentasikan Kegiatan Service Project yang sudah atau sedang dilakukan di komunitas. Dari 20+ Service Project Report yang masuk ke CCE, kemudian dilakukan penilaian untuk memilih “FIVE BEST” untuk mempresentasikannya di depan dewan juri dan peserta di @america, again alhamdulillah project saya termasuk dalam BEST FIVE.

[2] Menghadiri Konferensi dengan substansi pembicaraan mengenai Community Service Project, Activism,  Voluntarism, dan kaitannya dengan Pembicara yang menurut saya jarang ada di daerah. Ada Abang Jalu Noor Cahyanto  dari USAID (saya panggil Abang karena masih sangat Muda, tebakan saya masih sekitar 29-32 tahun) yang membicarakan seputar Motivating Youth Leadership with Support of Education Development. Salah satu statementnya yang saya ingat adalah You have seen the world and learn from there, Now you can bring the lessons here, to Indonesia
Kemudian ada Mbak Shanty Syahril dari Coalition for Better Jakarta yang membicarakan tentang Developing Youth Volunteerism and Activism in Indonesia. Saya sangat terkesima dengan ungkapan yang kutip dari Mantan Walikota Curitiba Brazil yaitu “Creativity starts when you cut Zero from your budget. If you cut two,  much better”
Disamping itu ada juga Mr Ryan Good dari American Peace Corps yang saat sedang menjadi Volunteer dengan mengajar Bahasa Inggris di Jawa Timur. Di bercerita seputar Why do American Students Volunteer?. Dari presentasi dia, kembali inner awareness saya muncul untuk merenung kembali “What the life for? atau Why was I born in this world?”. Ditambah lagi dengan pernyataan-pernyataan motivasi dari Mr Ryan yang baru berumur 28 tahun tapi sudah berani meninggalkan orantua, keluarga, kampung halaman, dan segenap kemewahan yang ada di Amerika Serikat untuk berkontribusi buat masyarakat Indonesia (ini terlepas dari sisi buruknya).  Dia Mengakatan “Why do I volunteer? Because volunteering makes me happy”.
Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang memberikan kesempatan ini kepada saya, ternyata tidak hanya mendengar tiori-tiori dan pengalaman dari ketiga speakers, namun kami langsung dibawa ke Sanggar Anak Akar untuk melihat langsung kegiatan Community Service. Sanggar Akar adalah suatu “sekolah otnomom” yang sudah berdiri semenjak tahun 1989. Motivasi awal pendirinya adalah untuk memberikan “keadilan” kepada anak jalanan dan pinggiran Kota Jakarta untuk mendapat pendidikan meskipun tidak sama seperti anak-anak lainnya. Ironis memang, di Pagar Pusat Pemerintahan saja seperti itu kondisinya, apalagi kita bicara di daerah seperti Papua, NTT, NTB, Ujung Aceh, dan sebagainya.
Awalnya Sanggar Akar hanya melakukan kegiatan-kegiatannya di Bawah Jembatan, dekat stasiun kereta api, terminal, dan tempat-tempat yang banyak anak-anak jalanan yang terpinggirkan karena derus kapitalisme dan ketidakadilan pemerintah serta lingkungan. Namun sekarang sudah punya bangunan dan boarding meskipun kondisinya belum terlalu sempurna. Dengan segala keterbatasan, sekarang sudah ada puluhan mungkin ratusan anak yang dibawah binaan Sanggar Akar. Sayangnya saya tidak sempat berbicara dengan Pengurusnya waktu kunjungan kemarin (3/6/2012).Tadi Pagi sekitar jam 3 dini hari saya sampai di rumah, barusan sekitar jam 9 (4/6/2012) mendapat Phone-Call dari Mbak Anindita di Kedutaan Besar Australia Jakarta yang menginformasikan untuk ikut Pre Departure Orientation (PDO) tanggal 7 Juni sebelum berangkat ke Australia hari Minggu 9 Juni 2012. Supaya bisa ikut acara hari Jum’at Pagi, tentunya saya harus berangkat Rabu Malam dari Rumah supaya bisa tiba di Jakarta hari Kamis. Artinya hanya ada 3 hari di rumah, langsung balek fly to Jakarta lagi sekalian ke Australia selama 2 minggu melalui program Muslim Exchange Program tahun 2012 yang di sponsori oleh Kementrian Luar Negeri Australia bekerjasama dengan  Australia Indonesia Institute (AII).

Dear Blogger dan Readers…
Ada beberapa Rahmat penting yang ingat saya konklusikan dari 3 kesempatan ini (2 kesempatan pertama saya tuliskan dalam posting ini, sedangkan kunjungan ke Australia saya postkan khusus nanti secara series, sebagai pembuka cerita Australia, saya sudah menuliskan pengalaman saya mendapatkan kesempatan prestis ini, silakan anda baca di catatan saya Usaha Sekali Saja tidak Cukup ). Diantaranya:Pertama, Saya bersyukur sekali kepada Allah telah memberikan kesempatan-kesempatan ini, saya yakin banyak orang-orang lain tidak mendapatkan kesempatan seperti yang Allah berikan kepada saya. Bagi Anak Kampung seperti saya, berkunjung ke Jakarta saja adalah sebuah capain tersendiri, meskipun karena sudah sering, jadinya sekarang agak lack of means, aplagi bisa mempresentasikan dan berdiri di depan orang-orang penting di Kedutaan Amerika, NGO-NGO, dan kawan-kawan seluruh Indonesia. tentu saja ini adalah rahmat yang luar biasa.

Rahmat kedua adalah Alhamduillah Project saya termasuk dalam “BEST FIVE” dan saya Mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan service project saya di @ america dalam program KAMI Competition and Conference. Saya yakin semua kawan-kawan yang melakukan service project di komunitasnya sangat berharap untuk bisa mempresentasikan dan berbagi ide, pengalaman, tantangan, dan capain-capain yang sudah mereka lakukan melalui Service Project Mereka.
Ketiga adalah Saya sangat bersyukur karena lewat ksempatan-kesempatan tersebut saya mendapat jaringan yang akan menjadi networking penting saya baik untuk kelangsungan project maupun lainnya. Salah satu networking yang sangat penting adalah Mr Eran Williams yang bertugas sebagai English Language Officer Public Affair di Kedutaan Besar Amerika Jakarta. Alhamdulillah setelah dia mendengar presentasi daya tentang tantangan-tantangan yang saya hadapi, dia siap untuk membantu. Disamping itu saya juga mengenal dengan kawan-kawan alumni muda dari Amerika seluruh Indonesia yang sangat luar biasa, ada yang sudah kerja level International bahkan. tentu saja ini adalah modal sosial yang sangat penting (matre banget ya saya???)..heeeeeeeeeeeeeee…tapi ini penting lhoe..karena Kesuksesan itu disamping pendukung internal diri kita dan keluarga, juga ada pengaruh eksternal diluar kita, misalkan jaringan seperti ini, minimal dalam berbagi informasi. ya gak???Rahmat Selanjutnya adalah Saya belajar banyak dari Presentasi dan cerita-cerita kawan-kawan lainnya baik mengenai project mereka maupun pengalaman dan perjuangan hidup mereka sendiri. Salah satuny adalah cerita kawan Saya Fikriya (untuk kebaikan tidak apa2 ya sebutkan nama, sorry Fikriya tidak minta izin) yang berbagi pengalaman bagaiman pengaruh the Power of Ikhlas, The Power of Sabar, The Power of Mimpi, The Power of Stimulus, The Power of Do’a, dan masih banyak power2 lainnya lagi. Saya belajar banyak bagaimana dia bisa ke negara-negara impiannya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak terduga. Jerman, Sydney, Umrah adalah bukti konkritnya bahwa dia sudah bisa membuktikan kalau Ikhlas, Mimpi, dan do’a serta sedekah mempunyai kekuatan dan saling mempengaruhi. Thanks you Fikriyah!!!You taught me the see the life from the new “window”…wwwwwwwwwwwww….we we we lebay dot com.

dan Rahmat Terakhir adalah saya bisa berbagi cerita/pengalaman ini kepada anda blogger, netter dan reader  apa yang sudah saya alami dan rasakan. Meskipun bagi sebagian anda ini tidak ada apa2nya, bahkan tidak penting, namun saya takin juga ada banyak orang lain yang menggapnya ini penting. Karena itu, sengaja saya tuliskan dan positng di sini, disamping melatih kemampuan menulis saya juga bertujuan untuk saya lebih bersyukur kepada hidup atas apa yang sudah, sedang, dan akan dapatkan untuk tidak dilupakan dan seharusnya menjadi pengalaman dan panduan hidup kedepan. Satu lagi, sengaja link-linknya juga saya bagi, supaya anda dapat mendapatkan inforamsi-informasi lebih lanjut dari institusi-institutusi tersebut. Amin….

Semoga Bermanfaat ya!!
Peserta yang diundang oleh The US Department of State. Mereka adalah alumni berbagai program di Amerika yang tergabung dalam Komunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI). Photo koleksi @America.