[Episode 3_Note for MEP Australia]~ Ketika Kristiani Mengurus Muslim

Written in:
Jakarta, 10 June 2012 // Pukul 2.01 WIB

Photo ini diambil oleh Mas Ridha di depan Apartemen tempat kami tinggal di Sydney
pada tanggal 22 Juni 2012.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Lhokseumawe menuju Medan selama 8 Jam, kemudian Medan ke Jakarta 2 dengan menggunakan pesawat dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan Damri Bandara ke Gambir, akhirnya Saya tiba di tempat kakak saya sekitar pukul 12 siang tanggal 7 Juni 2012.
Memang menjadi kendala tersendiri bagi saya, kalau mau berangkat ke Jakarta pasti menghabiskan waktu 2 hari sebelum hari H dan 1 minimal setelah hari H. Kalau misalkan ada acara hari Sabtu, maka saya harus berangkat Kamis Malam dari Lhokseumawe dengan menggunakan Bus, kemudian lanjut dari Medan ke Jakarta, terus Bandara tempat tujuan. Karena perjalanan jauh, supaya maksimal pasti harus tiba 1 hari sebelum acara. Begitu juga ketika saya kembali ke origin, menghabiskan 1 hari perjalanan.
Sebenarnya yang membutuhkan waktu lebih lama adalah perjalanan dari Medan menuju Lhokseumawe dan sebaliknya dari Lhokseumawe menuju Medan ketika pergi. Perjalanan memerlukan waktu sekitar 7-8 Jam dengan menggunakan bus angkutan umum. Tapi ya itulah, resiko hidup di daerah dimana akses transportasi masih sangat terbatas. Boro2 ngomong akses informasi, toh transportasi aja masih bermasalah. Meskipun ada bandara mini di kota Lhokseumawe, tapi terkesan seperti bandara mati. Mungkin seminggu sekali mendarat pesawatnya di Bandara Malikusaleh yang membutuhkan sekitar 30 perjalanan dari Kota Lhokseumawe.
Well…apa sih yang ingin saya sampaikan “Ketika Kristiani Mengurus Muslim”,….pada penasaran kan???he…baguslah kalau penasaran. Nah ceritanya hari jum’at pagi tanggal 8 Juni 2012 saya bersama peserta lainnya mengikuti briefing di Kedutaan Besar Australia Jakarta. tepatnya di Jl. Rasuda Said Sudirman.
Meskipun briefing kali ini tidak seperti ketika saya ikut program short course IELSP ke USA tahun 2010 lalu, namun sangat membantu juga. Briefing hanya berlangsung selama 3 jam dari pukul 9 sampai dengan 12 siang. Ada beberapa substansi yang ingin disampaikan oleh Panitia kepada kami Peserta Youth Muslim Exchange Program Indonesia-Australia 2012  (MEP) tahun ini.
Pertama, Ingin memberikan gambaran secara umum tentang substansi dari program MEP. Thanks buat Ibu Sanchi Davis dari Atase Budaya Kedutaan Australia.
Kedua, Untuk menjelaskan sekilas kondisi ummat muslim di Australia dalam kaitannya hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. Thanks to Ibu Fleur Hamilton dari Second Secretary , Political Embassy Australia Jakarta.
Ketiga, dan ini yang penting, tentu saja untuk menjelaskan kepada peserta apa saja kebutuhan yang perlu dipersiapkan, obat-obatan, winter jacket, sarung tangan, shawl, kaus kaki, and kebutuhan-kebutuhan lainnya yang dianggap perlu.
Terakhir, tujuan dari briefing kemarin adalah menjelaskan secara general schedule perjalanan kami yang sangat super duper padat. Thanks in advance buat Mbak Anindita dari Cultural Section Embassy Australia Jakarta yang udah ngejelasin kebutuhan, schedule, organize ticket, passport, visa, de el el.
And….terkahir adalah Group Picture…nah ini yang lebih penting lagi kan???hee…narsis banget ni saya!!!….ngomong2 soal photo penting lhoe, ini adalah salah satu bukti dari lembaran kehidupan yang nantinya bisa berguna buat anak, cucu, cicit kita…heeeeeeeeeeeeeeee….dah jauh banget ni mimpinya…
So..mana cerita menariknya dong???hee sabar!!!
Anda tau gak, yang mengurus semua keperluan kami (peserta) mulai dari pengurusan visa, kumpulin passport, ngeorganise masalah transportasi, komunikasi dan ngasih informasi, ngatur jadwal briefing dan sebaginya itu diatur oleh Mbak Anindita Kusumawardhani yang bertugas sebagai Cultural Manager di Kedutaan Australia Jakarta. And you know what??? Belakangan saya tau kalau dia itu Kristiani.

(Kiri-Kanan) Neng Elis Aisyah, Mbak Anindita, Mas Zainal, dan Mbak Lusi.
Photo diambil pada saati briefing di Australia Embassy Jakarta tanggal 8 Juni 2012.

Bagi saya hal ini sangat luar biasa. Seorang yang beragama Kristen tapi mengurus program yang sangat erat kaitannya dengan Islam. Meskipun ini tuntutan kerja, namun yang namanya faith tentu saja cenderung seseorang untuk bersikap self-fish.
Namun hebatnya Mbak Anindita memberikan pelayanan yang sangat prima kepada kita, terutama saya pribadi tidak ada keluhan dari segi pelayanan. dari proses yang terjadi sama sekali tidak ada dipengaruhi dengan beda kepercayaan yang dianut oleh Mbak Anindita. Dan mungkin inilah yang mereka sebut “Profesionalisme”.
Dan inilah pelajaran penting bagi saya dan mungkin juga bagi anda para pembaca. Seyogiayanya tidak ada pandang bulu dalam melayani. Seharusnya kita menghormati orang bukan karena kita seide dengan dia. Bukan juga kita senang dengan dia hanya karena kita tidak pernah dibantah dalam berpendapat dengan dia. Atau tidak juga kita membela seseorang hanya karena dia sealiran dengan kita. Dan sebagainya.
Namun seharusnya kita dituntut untuk tetap membantu, saling menghormati, menghargai, berkontribusi, dan berdedikasi tanpa melihat beda kepercayaan, pandangan politik, mazhab yang dianut, apalagi hanya karena beda strata sosial. Terlebih lagi dalam dunia kerja yang dituntut profesionalisme dimana nilai-nilainya harus benar-benar dipraktekkan. Ini yang pelajaran penting pertama bagi saya.
Kedua, sudah saatnya kita sebagai ummat Muslim yang baik untuk membuka diri (open-minded) dengan mempraktekkan nilai-nilai toleransi misalnya. Disamping itu juga, sudah saatnya kita harus siap untuk berbeda tidak hanya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya namun juga menerima perbedaan dalam kepercayaan.
Apabila kita ingin berdakwah untuk meyakinkan terhadap kebenaran ajaran agama kita, tidaklah seksi lagi mengedepankan jalan-jalan kekerasan, konfrontatif, fanatic, dan sebagainya. Jalan-jalan yang lebih soft mungkin secara perlahan akan menimbulkan inner-awareness dari target kita dan menurut saya itu akan jauh lebih bertahan lama dibandingkan dengan paksaan dan instan.
Dalam point terakhir ini saya teringat dengan catatan Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam. Beliau sempat menulis,
“Bagi kita,
Teis dan ateis bisa berkumpul
Muslim dan Kristiani bisa bercanda,
Artis dan elit bisa bergurau.

Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan.
Tapi,
Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu”

Semoga ada manfaatnya buat anda!!!

Photo ini diambil di Rumah Dr. Eeqbal (3 kiri).
Dia adalah Host kami selama di Melbourne.
Foto tersebut diambil tanggal 11 Juni 2012.