[Episode 4_Note for MEP Australia] Alhamdulillah, “God Saved Me”

Written in:
Jakarta
9 Juni 2012 // 9.10 WIB
Background photo diatas adalah Opera House di Sydney.
Photo diambil oleh Mas Ridho tanggal 23 Juni 2012 .

Saya punya cerita valuable banget untuk saya sharing ke para narablog, netters, dan browsers semua. Kemarin saya mengikuti Pre Departure Orientation (PDO), tepatnya saya sebutkan briefing aja ya..so, saya dan 4 orang liannya mengikuti briefing di Kedutaan Australia di Jakarta, tepatnya di Jl. Rasuda Said Sudirman pada hari jum’at tanggal 8 Juni 2012.

Oh come on Adam, straight to the point Please!!!hee…waittttttt….slow but sure dong!!!
Well…bingung ya? Mana ni cerita menarik yang katanya valuable itu?

Baiklah kalau g sabar lagi….

Jadi dari proses Briefing kemarin, kita diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri, termasuk latar belakang dan personal perpose dari mengikuti program MEP. Ada 5 orang peserta semuanya, ada Ibu Eneng Elish Aisah dari Bandung, Muhammad Nursaid Ali Ridho dari Wonosobo, Ahmad Zainal Abidin dari Tulung Agung, dan Lusi Efriani dari Batam.

Ketika tiba giliran Lusi memperkenalkan diri, Saya sangat tercengang sekaligus terharu mendengar ceritanya. Ternyata dia Mu’allaf yang dulunya beragama Katholik. Dia pindah ke Agama Islam ketika menikah dengan suaminya yang Bergama Islam. Untuk saat ini saya berkesimpulan, niat awal dia memeluk Islam bukan karena keinginannya tapi karena harus menikah dengan pria Beragama Islam.

Kemudian dia melanjutkan kisah hidupnya, setelah menjalani rumah tangga selama 7 tahun dengan suaminya, akhirnya mereka bercerai setelah memiliki 2 orang anak. Yang membuat saya tercengang lagi ketika dia mengatakan, “Saya hamper saja mau balik ke agama  saya yang dulu”……………hupppppppppps….tarik napas dalam2, bagaimana reaksi anda kalau anda sebagai seorang muslim mendengar ucapan itu.

Lusi mengatakan, “I saw Islam in Indonesia is so hard for me”…Islam itu terlalu kasar, keras buat saya, begitulah Islam yang saya lihat di Indonesia.

Saya menebak, wajar dia mengatakan seperti itu, mungkin karena apa yang dipraktekkan suaminya dulu tidak seperti yang dia harapkan, siapa tau ada kekerasan dalam rumah tangga alias KDRT yang kemudian dia menyimpulkan Islam seperti itu, ditambah lagi dengan keadaan lingkungan di Batam tempat dia tinggal mungkin tidak mendukungnya untuk mempelajari dan memahami Islam yang sesungguhnya.

Saya dan peserta lainnya serta Mbak Anindita dan Sanchi dari Embassy juga ikut terbawa dengan penuturan Lusi, curiosity kami semakin tinggi. Meskipun dalam ruangan yang agak dingin bagi saya, tapi karena pengalaman hidup Lusi sangat langka buat saya, makanya saya tetap tidak mengedipkan mata untuk melihat dan mendengarkan cerita Lusi.

Kemudian Lusi Menambahkan, setelah dia menjadi single parent, tentu saja kehidupannya sangat sulit sekali. Biasanya sepengetahuan saya, apabilla sudah pindah agama, keluarganya dulu pasti tidak menerima lagi. tapi saya g berani tanya mengenai keluarga Lusi…

Terus Lusi mengatakan bahwa disaat masa2 sulit dalam hidupnya tidak hanya masalah keluarga tetapi juga masalah kepercayaan, Alhamdulillah Allah memberikan dia Rahmat.

Lusi mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Amerika melalui program International Visitor Leadership Program (IVLP) mewakili Indonesia. IVLP adalah progam yang sangat prestisius dan bergengsi, bayangkan alumni-alumninya itu adalah pemimpin-pemimpin hebat dunia seperti Tony Blair, Margaret Thatcher, Indira Gandhi, Mahatir Muhammad, Tun Abdul Razak, Nicolas Sarkozy, Jorge Del Castillo, Muhammad Yunus, Mother Teresa dan di Indonesia alumninya itu seperti Gus Dur, Megawati Soekarnoe Putri, dan Dahlan Iskan. Wowwww…jadi ngiler ya, kepingin ikut program ini kayak Lusi???he…sabar dong….you can make it. Nothing impossible, lagian ini bukan Impossible mission kok..he…dan menurut saya inilah yang disebut dengan “Setelah kesusahan, akan datang kemudahan”..dan itu adalah janji Allah…Inna ma’al ‘usri yusran…..(QS. Alam Nasyroh: 5-6) Selalu ada kelapangan setelah kesempitan.

Melalui kunjungannya ke Amerikalah, Lusi melihat Islam dari kacamata yang berbeda. Dia menemukan Islam disana berbeda. Mungkin dia melihat, praktek NILAI-NILAI toleransi, pluralism, kebebesan, saling menghargai sangat dijunjung tinggi di Amerika. Yang akhirnya dia berkesimpulan “Islam is truly beautiful”.

Singkat cerita, Lusi tidak kembali lagi ke agamanya karena dia  sudah menemukan what is Islam yang sebenarnya. Inilah yang dia maksud bahwa “God saved me”. Subhannaallah…

Peserta Muslim Exchange, Mas Zainal (Tulung Agung), Mas Ridho (Wonosobo), Lusi Afriani (Batam),
Neng Elis Aisyah (Cianjur), and Adam (Aceh Utara). Foto diambil tanggal 8 Juni 2012 di Kedutaan Australia Jakarta.

Ada beberapa pelajaran menarik bagi kita untuk kita belajar dari Pengalaman Lusi;
Pertama, yang namanya HIDAYAH Allah memang tidak pandang bulu, dan tidak bisa kita duga diwaktu tertentu. Mungkin apa yang didapatkan oleh Lusi adalah bukti kekuasaan dan Hidayah Allah.
Ironi memang, seharusnya Lusi belajar Islam di Indonesia dimana masyarakatnya manyoritas muslim dan banyak ulama, kiai, teungku, dan penceramah berkaliber tinggi. Tapi justru sebaliknya, dia melihat praktek Islam yang sebenarnya ada di Amerika yang notabene bukan Negara Islam. Subhannallah…inilah hidayah Allah.

Kedua, Kita harus percaya bahwa selalu ada kemudahan setelah kesusahan. Selalu ada kelonggaran dari setiap kesempitan…kita harus percaya  bahwa selalu ada solusi dari setiap masalah yang ada.  Dan ini adalah janji Allah lewat wahyunya …..(QS. Alam Nasyroh: 5). Dan Lusi sudah membuktikannya.

Ketiga, Ada benarnya memang kita untuk tidak melihat orang dari luarnya saja. Don’t judge people from cover. Lusi emang agak berbeda dari peserta lainnya. Meskipun Cuma ada 2 cewek yang ada dalam program ini. Terlihat penampilan luarnya, Lusi tidak memakai jilbab, pakai jeans, namun tetap sopan. Mungkin kalau kita berpikir radikal, kok Program Pertukaran Muslim diikuti oleh peserta yang berpakain belum sesuai dengan ajaran Islam.

Teryata Lusi mengatakan bahwa dia sedang on process of seeking the true Islam. Dia sedang mencari. Bagi seorang yang sedang berproses, sangat tidak baik apabila dipaksakan, apalagi menyangkut dengan kepercayaan yang sifatnya sangat pribadi. Kalaupun dipaksa, maka itu tidak akan bertahan lama, apalagi bagi orang yang sudah dewasa seperti Lusi.

Itulah alasan Lusi yang mengatakan “Saya Belum Siap untuk Pakai Jilbab”.  Dan karena panampilan luarnya itulah menurut pengakuan Lusi dia susah diterima di Komunitas-Komunitas Islam di Batam seperti majelis taklim, pengajian, arisan ibu-ibu dan sejenisnya. Dan hanya Rumah Zakat Indonesia yang bersedia menerimanya dan itulah yang jadi modal untuk dia ikut Program MEP ini dimana persyaratannya harus aktif di Komununitas, lembaga, institusi atau organisasi Islam.

Bagi saya untuk saat ini, biarkan saja Lusi dengan pemikirannya sekarang. Toh dia sedang mencari, dan saya yakin kalau dia akan terus mencari, nantinya dia akan menemukannya sendiri. Dan pada titik itu, dia akan mengamalkan ajaran Islam itu dengan penuh kesadaran “Inner awareness” bukan karena ikut-ikutan apalagi paksaan.

Last but not least, taukah anda, ternyata Lusi itu adalah Pengusaha Lhoe!!!dia itu pengusaha yang berbakat dan langka di Indonesia. Usahanya itu dibidang Tempurung Kelapa.  Dan berkat usahanya itu telah mengantarkannya ke banya Negara. Ketekunannya di bidang bisnis, menjadikannya sebagai Pembina UKM, Konsultan Keuangan Bank. Malasyia dan Singapora sudah menjadi tujuan rutinitas dia dalam meliput berbagai informasi dan isu di dunia kauangan dan perbankan sebagai pekerja di salah satu media.  THUMBS UP for YOU Lusi!!!

Untuk cerita-cerita menarik dari peserta lainnya akan saya tuliskan di catatan berikutnya. Keep in reading…

Semoga Bermanfaat!

Lusi Afriani dengan latar War Memeroial Australia di Canberra.
Photo diambil tanggal 19 Juni 2012.