[Episode 8_Note for MEP Australia]_“Kantin Kejujuran” di Mesjid Melbourne

Written in:
Melbourne, 12 Juni 2012 // 23.15 Melbourne Time

Catatan:

Artikel di bawah ini awalnya saya kirimkan untuk Citizen Reporter ke Media Serambi Indonesia. Namun yang dimuat malah laporan saya berjudul “Merakyatnya DPR Australia” edisi 24 Juni 2012.

Lokasi photo ini di depan Darling Tower, Kota Melbourne, tempat kami nginap.
Photo diambil oleh Neng Elis pada tanggal 14 Juni 2012.

“Advanced Country does not need police”. Begitu salah satu ucapan Eeqbal Hassim, Ph. D dalam proses dialog di Islamic Victoria of Council (ICV) yang terletak di  sebelah barat Melbourne, Australia. 

Saya bersama empat delegasi lainnya dari seluruh Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia dalam program Pertukaran Tokoh Muda Muslim antara Indonesia dan Australia (Muslim Exchange Program). Program yang didanai oleh Autralia Indonesia Institute (AII) ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkunjung ke Australia selama 14 hari.

Kami mempunyai kesempatan untuk mengunjungi beberapa organisasi Islam, Perguruan Tinggi, Akademisi, NGO, Peniliti, Guru Besar, aktivis, dan bahkan organsisasi atau komuntias non-muslim di 4 kota Australia yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney mulai tanggal 11-24 Juni 2012.

Pada hari pertama kemarin tanggal 11 Juni 2012, kami mengikuti diskusi singkat dengan Dr.Eeqbal Hassim di salah satu Mesjid yang ada di Kota Melbourne. Dr. Eeqbal sehari-hari mengajar di Universitas Melbourne untuk bidang Asian Studies. Disamping itu, pria yang kelahiran Singapura ini juga sebagai salah satu pengurus Mesjid Islamic Council of Victoria (ICV).

Ada yang langsung menarik perhatian kami ketika memasuki ICV di ruang utama yaitu adanya minuman dan makanan yang berada persis di samping pintu masuk. Awalnya saya pikir, itu minuman buat tamu-tamu yang berkunjung. Kemudian Dr. Eeqbal menjelaskan kalau makanan dan minuman tersebut untuk dijual.

Menariknya tidak ada penjualnya yang berdiri dekat kulkas dan rak makanannya, jadi kalau kita mau membeli, silakan meletakkan uang di atas meja yang sudah disediakan. Untuk anda ketahui, tempat minuman tersebut tidak sama seperti minuman-minuman yang dijual di Bandara yang dikunci rapi memakai serta camera CCTV dan anda harus memasukkan koin untuk bisa mengambil minumannya. dan sebelum meninggalkan Melbourne, Saya sempat diajak sama Mas Reza ke Mesjid,namanya Melbourne Madinah. Reza menjadi relawan di Cumminity Center pada devisi Mercy Mission Madinah, dan you know waht ???ternyata mereka juga punyan layanan sejenis itu. (Edit ketika posting).

Photo tersebut diambil oleh Mas Zainal di ICV.

Dr. Eeqbal menyebutnya dengan Istilah “Honesty Canteen” atau kalau di Indonesia kita sering mengatakan Kantin Kejujuran. Ketika Indonesia demam dengan kantin kejujuran, banyak sekolah-sekolah di Aceh juga ikut membuat kantin dengan konsep yang sama. Ada sekolah yang melakukannya dengan sangat serius, ada juga hanya karena tidak ingin dikatangan enggak ikut zaman atau hanya sekedar ikut-ikutan. Akibatnya banyak kantin kejujuran tersebut tidak bertahan lama, bahkan tidak sedikit yang sudah gulung tikar.

Ketika kami bertanya kenapa kantin tersebut bisa bertahan lama?. Eeqbal menceritakan banyak hal berkenaan tentang kejujuran yang bisa kita ambil pelajarannya. Alumnus Universitas Melbourne tersebut menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, saling menghargai, dan sebagainya sudah tertransfer kedalam perilaku setiap orang di Australia, dan bahkan sudah menjadi budaya. Artinya tidak lagi sebatas tiori yang dipelajari dari buku atau guru agama di sekolah formal, tapi sudah masuk ketahap praktek dan menjadi sikap.

Sebagai salah satu contoh, Eeqbal menyebutkan di persimpangan jalan raya. Di jalan-jalan raya yang banyak pernyeberangannya seperti simpang 4, 5, bahkan lebih, anda tidak akan melihat adanya polisi lalu lintas. Para pengendara mobil pasti tidak akan menerobos jalan atau melanggar lalu lintas, meskipun tidak ada orang atau mobil yang melintas, bahkan di malam hari. Karenanya tidak berlebihan kalau dia mengatakan “Negara maju tidak butuh polisi lalu lintas di persimpangan (Advance country does not police)”.

Contoh lainnya, Eeqbal menyebutkan, apabila ada tulisan “Selling Apples” di sebuah kebun, kemudian apel tersebut diletakkan dalam sebuah tempat lengkap dengan harga perkilogramnya, kebanyakan pemiliknya tidak menjaga apel tersebut. Menurut dia, jarang sekali, bahkan hampir tidak ada pembeli yang tidak meletakkan uangnya sesuai dengan jumlah apel yang diambilnya.

Terlepas dari sisi-sisi negative lainya, praktek-praktek seperti inilah yang kadang membuat kita ummat Muslim di Indonesia, terutama di Aceh untuk berkaca kepada Negara-negara barat seperti Australia. Sebagai salah satu bukti bahwa kita belum kaffah mempraktekka apa yang diajarkan oleh Islam tentang kejujuran, misalkan masih banyak sandal atau motor yang hilang di Mesjid.

Sebagai informasi tambahan tentang ICV, banyak Masyarakat Muslim Melbourne menyebutnya sabagai City Mosque atau Mesjid Kota. Banyak tempat-tempat ibadah ummat Islam di Australia, seperti ICV tidak hanya difungsikan untuk shalat jama’ah harian atau shalat terawih dan lebaran saja namun juga difungsikan untuk berbagai kegiatan-kegiatan lainnya baik bersifat sosial maupun keagamaan.

Ada mesjid yang mempunyai pusat-pusat study untuk gender, multikulturalisme antar agama, dan interfaith dialogue, namun ada juga mesjid yang mempunyai tim sepakbola, renang, bahkan piano. dan itu bermanfaat juga untuk mempersatukan masyarakat yang multi etnik, budaya, kebangsaan, strata sosial, dan bahasa. Di Australia ada sekitar 40 persen penduduknya baragama Islam, menariknya 2,5 persen diantara mereka berasal dari Indonesia. Sedangkan Melbourne sendiri saat ini memiliki 12.000 Muslim dari lebih 100 negara yang berbeda.

Semoga Bermanfaat ya!!!

Group Picture dengan Ibu Marianne Hale dari Korowa Anglican Girls’ School di Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Wawan pada tanggal 14 Juni 2012.