[Episode 9_Note for MEP Australia]_Harapan Baru untuk Islam

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu, 13 Juni 2012 // 1.47 Melbourne Time

Photo diambil oleh Mas Ridha tangggal 22 Juni 2012 di Sydney.

Di hari pertama kemarin tiba di Melbourne, kami tidak melakukan banyak kegiatan. Setelah dijemput oleh Dr. Eeqbal Hassiem bersama dengan salah satu jasa travel Flemington Cars, Mr Anwar, kami menujur Rumah Bapak Eeqbal untuk Morning Tea sambil menunggu waktu untuk check-in ke Apartemen.

Hanya ada 1 agenda formal yang sudah dijadwalkan dalam program yang kami lakukan kemarin yaitu Intercultural, Interfaith, and Diversity Issues in Education. Kegiatan tersebut berlangsung di Islamic Council of Victoria, di West Melbourne. Diskusi itu hanya sekitar 2 Jam dari jam 15.30-17.30 waktu Australia. Antara Melbourne dan Jakarta, 3 jam perbedaan waktu dimana Australia lebih cepat dari Jakarta.

Ada banyak informasi penting yang disampaikan Eeqbal dalam pemaparannya. Dalam konteks pendidikan, setidaknya ada 2 hal utama yang akan dapat memperbaiki hubungan yang baik antara Australia dengan Muslim yang ada di Asia. Yaitu:

Pertama, Pemerintah Australia saat ini mewajibkan pelajar di Australia untuk belajar tentang Asia (Asian Studies). Asian Studies sudah menjadi kurikulum wajib setiap sekolah Australia. Ketika bicara Asia, agama salah satu aspek yang mereka pelajari, dan Islam mendapat slot tersendiri dalam hal ini.

Menurut Eeqbal, salah satu penyebab ketidak harmonisan antara Australia dengan Masyarakat Muslim adalah karena kekurangan pengetahuan tentang Islam dan Muslim sendiri, karenanya menurut Eeqbal, kurikulum ini akan menjadi awal yang baik untuk mereka tau tentang Islam tidak hanya apa yang mereka baca di Koran dan internet, ataupun nonton dari TV.

Kedua, semakin intensifnya diadakan dialog, seminar, atau konferensi tentang Interfait Understanding and Multiculturisme. Kegiatan-kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah, namun juga oleh NGO, komunitas ummat muslim, akademisi, peniliti, dan organisasi-organisasi keagamaan.

Dialog-dialog interfaith dan multi culture yang diadakan di Australia sangat konstruktif dan positif. Mereka tidak menyatakan bahwa ini salah atau itu benar. Seharusnya membenarkan agama sendiri, tidak dengan cara fanatic. Dan itulah ruh dialog yang menjadi fondasi dan filosofi di Australia. Karenanya tidak heran kalau makin banyak mu’allaf di Australia karena melihat penganut-penganutnya yang open-minded, toleransi, saling menghargai, ramah, saling mebantu, dan sebagainya. Hari ini (hari kedua) saya berjumpa dengan 3 orang mu’allaf, Lisa Tribuzia yang baru 3 bulan jadi mu’allaf, ada Struan Jones baru 1 bulan….dan ada Dr Seven Alexander Schottmann dari Center for Dialogue di La Trobe University.

Salah Satu Koordinator NGO RED R sedang memberi penjelasan kepada peserta MEP.
Photo diambil Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Shepparton.
Artinya mereka masuk Islam bukan karena mempelajari ayat-ayat alqur’an atau menghafal hadis, apalagi doktrinasisasi lewat ceramah-ceramah keagamaan namun lewat pengamalan nilai-nilai keIslaman itu sendiri oleh Muslim-Muslim yang ada di Australia sendiri. 

Tentu saja kedua hal tersebut patut kita sambut positif dan kita berikan dukungan. Sebagai ummat muslim yang baik, saya pikir membuka diri untuk berdialog dan berdiskusi yang lebih kontruktif adalah suatu keniscayaan untuk memperbaiki hubungan antara Ummat Islam dan Non-Islam.

Ekstrimisme, fundamentalisme, dan fanatisme terbukti gagal dan tidak lagi seksi untuk kita jual dalam penyelesain konflik antar agama. Dalam konteks hubungan Indonesia dan Australia, hal ini akan menjadi modal yang sangat penting untuk memperbaiki hubungan antar kedua Negara mengingat populasi penduduk islam terbanyak di dunia itu adanya di Indonesia.

Untuk mengakhiri note kali ini, Saya ingin menuliskan statemen Eeqbal Hassiem, dia menyebutkan:
Everyone has story
Everyone has voice
And Everyone has right to be heard!

Semoga Bermanfaat!

Dr. Eeqbal Hassim ketika menjamu kami tiba hari pertama di Melbourne.
Ini adalah rumah beliau pada saat kami morning tea.