Insya Allah Made in Aceh

Photo credit from http://alifetimeofwisdom.com

Judul diatas muncul dari renungan pengalaman pribadi penulis yang sering mendengar pernyataan miris seperti “nyan kon insya Allah Ureung Aceh? ketika membuat janji dengan seseorang. Pernyataan yangs sama sering sekali keluar dari mulut-mulut kawan, kolega, guru, dosen, partner-bisnis, dan sebagainya ketika berinterkasi dengan masyarakat Aceh.

Bagi penulis, pernyataan diatas menjadi aneh ketika sering terdengar hampir setiap saat kita membuat janji, berjanji untuk menghadiri sebuah undangan seprti menghadiri undangan kenduri atau sejenisnya. Setiap saat kita mendapat undangan, tanpa kita sadari, kita langsung mengucapkan kata-kata “Insya Allah”, ketika kita membuat meeting dengan seseorang, dan berjanji akan datang pada jam 9 misalkan, dengan gampangnya kita mengucapkan “Insya Allah”. Disamping itu, masih sangat banyak interaksi-interaksi social lainnya baik dilingkungan pemerintah, masyarakat sipil, kalangan LSM/NGO, Mahasiswa, Ulama, dan sebagainya yang melontarkan kata-kata Insya Allah hampir setiap saat.
Melihat realita-realita diatas, tampaknya degradasi arti kata Insya Allah bagi masyarakat Aceh sudah sangat jauh bergeser dari keasliannya. Secara etimologi, Insya Allah terdiri dari 3 kata yaitu In (apabila), Syaa yaitu fi’el madhi yang berarti menghendaki, dan  Allah yang terjemahan bebasnya “Kalau Allah Menghendaki”. Maka kata Insya Allah sesungguhnya  nyaris bermakna sebuah ‘kepastian’ kecuali Allah berkehendak lain. Namun melihat fakta-fakta ketika kata Insya Allah disebutkan oleh orang Aceh, terkesan makna Insya Allah sudah lari dari hakikatnya. Bahkan terkesan, seolah-olah Allah tidak menghendaki si “A” untuk menghadiri sebuah pengajian pada jam 8, karena dia biasa datang pada jam 8:30 misalkan. Terlepas dari alasan-alasan kodrati, kebiasaan-kebiasaan seperti ini, dapat berimplikasi negative kepada beberapa hal.
Pertama, konsekuensi yang paling besar adalah merosotnya nilai-nilai kedisiplinan. Ketika seorang dosen membuat janji dengan mahasiswa untuk mejumpainya pada jam 10:30 di perpustakaan, namun sang guru datang pada jam 11:00. Pada saat pemerintah membuat agenda mulai rapat pada jam 14:00, namun pimpinan rapatnya baru datang dan memulainya pada jam 15:00, atau ketika ada sebuah seminar, pelatihan, work-shop yang seyogiayanya dimulai pada jam 8:30, namun pesertanya baru datang pada jam 9:30, bahkan ada yang datang pada jam 10:00.  Pertanyaannya adalah dimana letak nilai-nilai kedisiplinan yang terimplikasi lewat tindakan-tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari?
Kebiasaan diatas hampir saban hari terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh. sadar atau tidak, kebisaan ini dapat mereduksi nilai-nilai kedisiplinan kita secara perlahan-lahan. Tidak hanya itu, kebiasaan ini juga dapat menyebabkan masyarakat bersikap malas. Dalam hal ini, secara tegas Islam sudah mengingatkan kita bahwa Malas dapat menyebabkan  kemiskinan, dan kemiskinan dekat dengan kekufuran. Padahal secara normatif dan dogmatis, maupun historis, Islam tidak pernah mengajak umatnya untuk hidup terbelakang baik secara ekonomi, pendidikan maupun aspek kehidupan lainnya. Islam semenjak awal kemunculannya, telah berusaha melawan dan memerangi kemiskinan. Sehingga kata miskin itu sendiri dalam bahasa al-Qur’an berasal dari kata sakana yang berarti diam atau tidak bergerak. Dengan demikian, faktor penyebab kemiskinan adalah sikap malas, berpangku tangan dan tidak mau bergerak atau berusaha
Resiko kedua adalah degradasi nilai-nilai kejujuran. Kalau ada meeting yang dimulai pada jam 10, tapi anda datang pada jam 10:30, disamping tidak disiplin, anda juga tidak jujur. Di sekolah, proses belajar mengajar seharusnya dimulai jam 8:30, tapi gurunya baru datang pada jam 8:00, secara tidak langsung sang guru juga mengajarkan nilai-nilai ketidak jujuran dan ketidak disiplinan. Pada saat anda sebagai business man membuat janjian ketemu dengan investor asing pada jam makan siang, tapi anda datang pada jam 3, secara tidak langsung si Bulek akan menggap anda tidak hanya tidak disiplin tetapi juga tidak jujur.
Pada prinsipnya nilai-nilai kedisplinan dan kejujuran adalah ajaran Islam. Tidak dapat dipungkiri bahwa kejujuran dan kedisplinan adalah kunci kesuksesan. Pemerintah akan dapat mewujudkan masyarakat yang sejahtera, makmur, aman, dan damai kalau pemerintahnya “beridiolgi” jujur dan disiplin. Tenaga pengajar baik guru (sekolah dan balai pengajian) maupun dosen akan dapat menciptakan pelajar yang beradab, beretika, dan berakhlak, kalau seandainya guru dan dosen tersebut bersikap jujur dan disiplin. Dalam dunia pendidikan, kalau seandainya kejujuran menjadi modal utama, mungkin kecurangan-kecurangan yang terjadi seperti pada saat ujian nasional akan dapat teratasi.
Sangat aneh memang ketika kita “meminta” syariat Islam dari pemerintah pusat, tapi kita sendiri yang meninggalkan nilai-nilai keislaman itu. Guru dan dosen yang seharusnya menjadi model sebagaimana dipraktekkan oleh Rasullullah dahulunya justru mencontohkan sebaliknya. Boro-boro kita meminta mahasiswa yang disebut agent of change untuk menciptakan perubahan, mengerjain tugas yang menjadi kewajibannya saja masih copy-paste. Pemerintah yang mengembar-gemborkan anti nepotisme dan anti-korupsi, tapi kenyataanya hampir setiap saat korupsi itu dipraktekka. Kalangan aktifis seperti NGO/LSM yang sering “menghujat” pemerintah dan mengkampanyekan  “LET’S MAKE THE CHANGE” tapi kenyataannya hadir dalam sebuah acara pelatihan atau seminar pada jam 10 dimana acaranya dimulai jam 8:30.
Dalam hal kedisplinan dan kejujuran, tampaknya kita harus belajar pada Negara-negara yang non-muslim. Tanpa bermaksud mendewakan Negara-negara barat, tapi faktanya kedisiplinan dan kejujuran justru dipraktekkan oleh mereka.  Pengalaman pribadi penulis yang sempat mencicipi pendidikan di Universitas Ohio, Amerika, apabila 5 menit saja terlambat tanpa pemberitahuan sebelumnya, maka tidak diijinkan mengikuti proses  belajar. Misalkan kita membuat appointment pada jam 19:00 dengan American student, dia sudah datang lebih awal 10 menit sebelum jam 19:00. Tampaknya time is money benar-benar mereka imani dalam sikap dan tindakan, tidak seperti kita yang mengatakan waktu seperti pedang, apabila tidak kita jaga maka akan menebas kita sendiri, tampaknya pribahasa ini hanya lips service kita semata.
Belum lagi, kita bicara sikap komitment, kensisten, keseriusan, amanah, melayani, membaca, menulis dan masih sangat banyak lagi sikap-sikap yang dianjurkan dalam Islam untuk kita amalkan, justru kita tinggalkan. Sehingga sangat wajar, kalau negera-negara seperti Amerika, China, Belanda, Jepang, Findlandia, Austarlia, Inggris, bahkan Malasyia lebih maju. Kalau dahulu malasyia yang datang ke Aceh menuntut ilmu, sekarang berbondong-bondong masyarakat Aceh tidak hanya belajar tapi juga rhah pingan (cuci piring) orang malasyia.
Menurut imajinasi penulis, degradasi-degradasi nilai kedisplinan dan kejujuran yang tejadi lewat ucapan Insya Allah dalam kehidupan sehari-hari kita, tidak tertutup kemungkinan suatu saat nantinya orang-orang akan claim kalau masyarakat Aceh tidak disiplin dan tidak jujur. Sehingga tindakan-tindakan kecil kita yang suka mengabaikan nilai-nilai kedisplinan dan kejujuran, maka akumulasinya nanti akan tercipta suatu masyakat yang berbudaya tidak disiplin dan tidak jujur sehingga akan muncul anggapan kalau Insya Allah orang Aceh alias Insya Allah made in Aceh tidak bisa dipercaya. Saya yakin, kita tidak ingin mewarisi budaya jelek seperti ini kepada generasi selanjutnya, untuk itu, meminjam slogan Ustad Aa Gym, marikita ciptakan perubahan itu lewat 3M, mulai dari diri sendiri ,mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang. Berani?. (Penulis adalah Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Mahasiswa STAIN Malikusaleh)
The article was Published at Daily Newspaper, Harian Aceh
on Friday, August 12, 2011.
Please Click Here to Through the Website