Keajaiban Ramadhan

Fase pertama bulan Ramadhan sudah kita masuki, artinya pintu rahmat yang diberikan dari 2 pintu lainnya sudah mulai kita hitung mundur. Tinggal sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Hal sesuai sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Kelebihan dan keutamaan Ramadhan tentu saja bukan hal yang perlu diragukan lagi oleh ummat Islam. Semenjak kita sekolah di tingkat dasar (SD), bahkan TK sudah diajarkan tentang fadhilah Ramadhan. Disamping kelebihan dan keutamaan secara syar’i yang bisa kita dapatkan, ada sejumlah keajaiban lainnya yang terjadi dari permulaan hingga penghabisan ramadhan, dan  “langka” terjadi  pada bulan-bulan lainnya.
Keajaiban Pertama yaitu keajaiban ketahanan tubuh untuk tetap kuat dan sehat walaupun tanpa makan dan minum. Kebiasaannya hukum “alam” manusia makan 3 kali sehari minimal dan minum 8 gelas (2-2,5 Liter) air sebagaimana dianjurkan oleh dokter supaya hidup kita tetap sehat dan kuat. Sebagai ummat Muslim, ketika Ramadhan tiba, tentu saja jatah makan berkurang 1 kali, bahkan ada yang 2 waktu. Mereka hanya makan pada jam 04:00 dini hari dan 18:30 rata-rata dimana sahur dapat menjadi sarapan dan sorenya menjadi “dinner”.
Namun, ajaibnya, mereka yang berpuasa mampu bertahan dan kokoh walaupun tidak mengkonsumsi makanan dan minuman seperti biasanya. Bahkan, bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan mampu bertahan dibawah panasnya sinar matahari dan derasnya hujan layaknya seperti bulan lainnya. Hebatnya, ada juga yang menjadi semakin “berisi” setelah ramadhan walaupun dia tidak menjalani proses penggemukan. Intinya, kalau ada yang berdalih, puasa membuat fisik dan mental lemah, letih, lesu, dan loyo, tampaknya perlu merefleksikan kembali niat puasanya tersebut.
Keajaiban Kedua yaitu hajatan yang besar setiap ummat muslem untuk mengkhtam al-qur’an. Ketika Ramadhan tiba, terkesan malamnya seperti siang hari. Tidak ada meunasah di gampong-gampong tanpa ada keriuhan lantunan ayat-ayat al-qur’an di sepanjang malam. Ada gampong yang melakukan ini secara bergantian secara bersama-sama. Melalui metode ini, satu meunasah mampu mengkhatamkan al-qur’an sampai dengan 10 kali, bahkan lebih selama puasa. Disamping itu, keinginan yang tinggi juga muncul dalam setiap individu ummat muslim untuk dapat menyelesaikan bacaan al-qur’an, minimal 1 kali. Ada yang membacanya secara rutin 4 halaman setiap selesai shalat, sehingga selesai Ramadhan menjadi 600 halaman sejumlah dengan halaman kitab suci itu sendiri. Niat seperti ini susah untuk diimplimentasikan pada bulan-bulan lainnnya.
Keajaiban Ketiga adalah dimudahkannya rezeki pemimpin keluarga. Ayah sebagai the leader dalam keluarga memang memiliki tanggungjawab untuk menafkahkan lahir batin keluarganya. Namun terkadang pada bulan-bulan lainya, kewajiban ini tidak mampu dipenuhi karena alasan keadaan keuangan yang tidak memadai. Alhamdamdulillah, rahmat dan rezeki dari Allah SWT dalam ramadhan tampaknya lebih manjur daripada bulan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan penuhnya setang sepeda kaum “adam” dengan belanjaanya dari pasar. Ikan, beras, gula, minyak goreng, mentimun, sirup, kurma dan sejenisnya adalah belanjaan rutin yang mampu mereka penuhi sebulan penuh. Pertanyaannya, bagaimana hal itu mampu dilakukan, walaupun oleh keluarga sangat fakir sekalipun, jawabannya inilah salah satu the miracle of Ramadhan.
Keajaiban selanjutnya, yaitu kekuatan kaum perempuan yang siap untuk bangun malam dan mempersiapkan sahur. Bagi sebahagian orang, bangun di mid-night mungkin sudah menjadi kebiasaan. Namun, kebanyakan orang, khususnya kaum perempuan mungkin saja bangun tengah malam masih terlalu sukar untuk dilakukan. Akan tetapi apapun alasan dan dalihnya, bangun jam 3 malam untuk masak dan mempersiapkan makanan untuk sahur, tampaknya tidak menjadi beban sama sekali bagi kaum hawa. Disamping itu, walaupun dengan stamina yang minim, mempersiapkan lima sampai sepuluh jenis makanan dan minuman untuk berbuka puasa pada sore harinya juga terkesan sangat “ringan” tangannya. Inner power yang muncul pada bulan ramadhan justru lebih kuat bagi kaum yang sering dianggap lemah ini.
Keajaiban Kelima adalah berjibunnya makanan gratis pada saat berbuka puasa. Hampir diseluruh meunasah, mesjid, balai pengajian, dan tempat ibadah ummat muslem di Indonesia, ketika menjelang berbuka puasa, bermacam jenis makanan dan minuman datang. Disebagian daerah, berbuka puasa bersama (bubar) memang menjadi aturan dan makanannya disediakan oleh warga secara bergantian. Namun di tempat-tempat tertentu, biasanya di kota-kota, makanan dan menuman itu justru datang dan disumbangkan oleh siapa saja tanpa ada jadwal khusus. Menu-menu tersebut terkesan seperti uang kaget, karena tidak ada aturan, anjuran, dan jadwal kenduri giliran yang diembankan.
Pada bulan lainnya, bagi pengemis, gelandangan, pengamen, dan orang-orang yang tidak mempunya “rumah” di kota-kota besar, mendapatkan nasi gratis rasanya sangat susah, jangankan satu bungkus, satu suap saja mungkin tidak bisa didapatkan kalau tidak punya uang. Namun bulan ramadhan tampaknya menjadi bulan “emas” bagi mereka, karena dengan keberkahan ramadhan dapat menjadi rahmat juga bagi mereka. Hati orang kaya, konglemerat, pembisnis, negerawan, bahkan pejabat koruptor sekalipun hatinya menjadi lebih “bersahabat” dan dermawan dalam bulan ramadhan.
Keajaiban-keajaiban diatas hanya sebehagian kecil dari ratusan, bahkan ribuan kejaiban lainnya yang ada dalam bulan ramadhan. Masih sangat banyak keajaiban-kejaiban lainnya yang terkandung didalamnya. Sejatinya pelajaran-pelajaran positif dari bulan ramadhan ini tidak hanya kita lakoni pada bulan ramadhan saja. Seyogiyanya, The Miracle Of Ramadhan tersebut dapat membawa kita menjadi hamba-hamba yang taat dan bertakwa sebagaimana esensi dari nilai-nilai ibadah puasa itu sendiri. Semoga! (Penulis adalah Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Alumnus IELSP Ohio University)

The article was Published at Daily Newspaper, Harian Aceh
on Friday,  August 12, 2011.
Please Click Here to Through the Website