Lingkungan Hidup yang Mati

TANGGAL 5 Juni kita memperingati hari lingkungan hidup dengan melakukan berbagai kegiatan baik secara individu maupun kelompok dan organisasi. Aceh, Indonesia, dan dunia international melakukan berbagai kampanye dan seruan kepada rakyat global untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup. 

Tema perayaan lingkungan hidup tahun ini telah dirilis oleh United Nations Environment Programme (UNEP) yaitu Forests: Nature at your Service dengan logonya yang menggambarkan sepasang tangan yang mengembang membentuk sebatang pohon kehidupan. Logo ini secara tepat mengambarkan tema yang diangkat dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini. Pemilihan tema ini adalah bagian dari follow up penentuan tahun 2011 oleh PBB sebagai Tahun Hutan Internasional (International Year of Forest). Tahun Hutan Internasional sendiri mengangkat tema “Forests for People”.

Indonesia sebagai bahagian dari masyarakat international juga memperingati world environment day 2011 pada 5 Juni dengan tema Hutan Penyangga Hidup. Tema ini mengimplikasikan akan pentingnya hutan sebagai penyeimbang antara kepentingan manusia dan kepetingan semua makhluk hidup lainnya di dunia termasuk flora dan fauna. Fungsi hutan tersebut hanya dapat tercapai bila hutan tetap terjaga kelestariannya sebagaimana mestinya. Tulisan ini ingin melihat apakah fungsi hutan sebagai bahagian dari lingkungan hidup itu masih hidup atau sudah wafat.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis ingin melihat kembali beberapa fakta yang menunjukkan ketidakhidupan hutan kita. dalam 5 tahun terkhir, berbagai peristiwa dan becana alam besar yang sudah terjadi. Baru saja kita melewati satu semester tahun 2011, berbagai peristiwa alam terjadi mulai Aceh sampai dengan international.

Banjir bandang tangse yang terjadi pada bulan Maret lalu masih sangat segar dalam ingatan kita dan membuat “shock” karena belum ada dalam sejarah hidup tangse terjadi banjir. Datarannya yang tinggi secara geografis memang aneh ketika terjadi banjir. Namun akibat kerakusan sikap manusia, orang yang tinggal di gunung sekalipun bisa manjadi “korban” banjir. Karenanya pernyataan Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar yang menyebutkan bahwa penyebab terjadinya banjir di Tangse yang menewaskan 21 korban adalah akibat dari maraknya praktik illegal logging dan pembukaan lahan baru dikawasan tersebut selama 2 tahun terakhir (Serambi, 13/3/2011).

Kemudian pada bulan Mei saja musibah banjir terjadi sebanyak 3 kali di kecamatan Matangkuli, Aceh Utara. Kemudian pada hari Minggu hingga Senin (22-23/5), banjir melanda di 3 kabupaten meliputi Aceh Utara, Aceh Barat Daya, dan Aceh Tenggara. Dari ketiga banjir “langganan” tersebut, Ekses terparah dirasakan di Agara, karena selain banjir bandang, juga terjadi longsor yang menimbun badan jalan, sehingga berbagai kendaraan dari Agara menuju Gayo Lues tak bisa melintas, demikian pula sebaliknya (Serambi/24/5/2011).

Melirik 1 tahun ke belakang, sepanjang tahun 2010 berbagai peristiwa alam yang tidak kita inginkan terjadi. Salah satu peristiwa yang paling “berkesan” adalah banjir bandang Wasior, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Peristiwa yang menenggelamkan 162 jiwa tersebut juga diklaim sebagai akibat dari kebodohan manusia yang mengekploitasi hutan secara berlebihan (tempointeraktif.com).

Di dunia international juga tidak kalah dahsyatnya. Banjir yang terjadi di Australia pada November 2010 lalu juga merenggut banyak korban tidak hanya nyawa tetapi juga harta benda. Banjir yang menenggelamkan 22 kota di Queensland tersebut merupakan bencana alam yang terparah dalam beberapa dekade terakhir di Austalia.

Di samping banjir, bencana alam lainnya yang menunjukkan bahwa tumbuhan dan lingkungan hidup lainnya tidak lagi menjadi penyeimbang laut adalah gempa. Gempa Haiti, tepatnya di Ibukota Port-au Prince yang terjadi pada 12 Januari 2010 lalu menelan korban sebanyak 230.000 orang dan 100.000 lebih terluka. Kemudian gempa dan tsunami Jepang menenggelamkan korban hilang dan meninggal mencapai 11.000 Orang (detiknews.com).

Sebagai tambahan informasi, menurut keterangan kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, tahun 2002 frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia yang tercatat 134 kejadian. Tahun 2010 mencapai 736 kejadian. Pada tahun 2009 melonjak sampai 1.234 kejadian.

Simbiosis Mutualisme
Melihat fakta dan peristiwa diatas menunjukkan bahwa hutan sebagai penyangga kehidupan kita tidak lagi berfungsi dengan baik. Hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan alam yang sudah akut. Namun terlepas dari faktor kodrati, semua peristiwa dan kejadian diatas tidak terlepas dari tindakan dan ulah manusia. Kendatipun kita menyebutnya dengan istilah musibah atau bencana, namun ketika moral dikesampingkan maka akan ada yang salah dalam upaya pemeliharaan alam ini. Dilihat dari sebab musababnya, manusia berkontribusi besar terhadap kejadian dan peristiwa alam baik banjir, longsor, badai, erosi dan polusi.

Hampir setiap saat, kapanpun, dan oleh siapapun “virus-virus” yang dapat mereduksi kelestarian alam itu disumbangkan. Illegal loging adalah kejahatan besar yang hanya dilakukan oleh sebagian kelompok yang mempunyai power dan kesempatan. Namun, masih berjibun aktifitas-aktifitas manusia yang tanpa kita sadari telah merusak alam.

Pemakai kenderaan yang rakus dan ogah menggunakan sepeda, ibu rumah tangga yang membakar sampah setiap pagi di depan rumahnya, pelajar yang merobek kertas bukunya, perokok yang tidak peduli risikonya, muda-mudi yang JJS dengan motornya setiap sore dan sejenisnya adalah tindakan yang dapat menganggu kedewasaan alam kita. 

Alquran secara tegas mengingatkan kita untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan ini untuk kemaslahatan dan keberlangsungan manusia sendiri. Sebagaimana instruksi Nya dalam surat ar-Rum ayat 41 bahwa segala kerusakan di muka bumi diakibatkan dari ulah tangan manusia itu sendiri. Untuk itu, dengan semangat perayaan world environment day yang berpusat di New Delhi, India kali ini kita tingkatkan kesadaran masyarakat untuk sama-sama menjaga lingkungan. Tindakan seperti yang dilakukan oleh lembaga-lembaga donor international, misalkan British council Indonesia yang tidak menerima proposal dalam bentuk hard-copy dengan alasan menghemat kertas dan menjaga lingkungan adalah tindakan terpuji yang patut kita tiru.

Meminjam istilah Aa Gym yang terkenal degan istilah 3M yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang adalah sikap urgen untuk menjaga lingkungan. Prinsip think big, do small, and act now adalah mind-set yang perlu kita applikasikan bersama dalam rangka menjaga kelesatarian dan keberlangsungan hutan serta lingkungan hidup kita sebagai penyangga hidup. Mengutip sambutan Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2011, mari kita jadikan momentum Peringatan Hari Lingkungan Hidupunia 2011 untuk menposisikan hutan sebagai modal utama pembangunan nasional menuju masyarakat sejahtera dan berkelanjutan.

Hutan Indonesia yang secara de yure mencapai 133.300.543,98 ha masih terus mengalami deforestasi (kerusakan hutan) yang lebih cepat dibandingkan dengan laju pemulihannya. Laju kerusakan hutan mencapai 1,17 juta hektare per tahun di Indonesia, sedangkan kemampuan pemulihan lahan yang telah rusak hanya sekitar 0,5 juta hektar per tahun. Untuk itu, sekecil apapun tindakan kita, akumulasinya akan menjadi kontribusi positif untuk keberlangsungan dan kelestarian lingkungan hidup supaya mereka tetap hidup. Hidup Hutanku Hidup Lingkunganku!

* Penulis adalah alumnus IELSP Ohio University, USA.

The article was Published at Daily Newspape, Serambi Indonesia
on Monday, June 6, 2011.

Please Click Here to Through the Website