Masuk Kampus ITS Wajib Bersepeda!

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan membebaskan areal kampusnya dari lalu lalang kendaraan. Setiap dosen, karyawan, dan mahasiswa dilarang mengendarai mobil atau motor di areal dalam kampus. Kebijakan ini diterapkan untuk menciptakan suasana kampus berwawasan lingkungan, sesuai konsep eco-campus yang tengah digagas ITS. Sebagai alat transportasi, nantinya akan disediakan ribuan sepeda di pintu masuk kampus. Areal kampus harus bebas asap kendaraan. Sementara untuk mobil dan motor akan ditempatkan di areal parkir terpadu.
“Sudah pasti, ITS akan menciptakan budaya bersepeda selama di kampus. Untuk awal nanti, kita sediakan setidaknya 600 sepeda yang bisa dipakai gratis saat masuk kampus,” ujar Achmad Rusdiansyah, Koordinator Eco Campus ITS, Jumat (16/9/2011).
Jumlah tersebut adalah jumlah awal sebelum eco-campus itu benar-benar menjadi budaya. Selanjutnya, sambil berproses, ITS akan menggandeng pihak ketiga untuk menambah jumlah unit sepeda yang khusus dioperasikan di kampus. Rusdiansyah mengakui jumlah yang disediakan belum memadai, mengingat jumlah total warga kampus ITS saat ini sekitar 20.000 orang. Mahasiswa sekitar 18.000 dan sisanya dosen dan karyawan. Namun, mereka tentu tidak berada di kampus dalam satu waktu.
“Mahasiswa cukup menukarkan kartu mahasiswa, sudah bisa ke kampusnya dengan bersepeda. Kita akan awali di areal protokol rektorat dan areal utama lain yang bebas kendaraan,” lanjut Rusdiansyah.
Saat ini juga sudah disiapkan infrastruktur khusus pengguna sepeda, di antaranya pembuatan jalan khusus pengguna sepeda. Jalur khusus ini akan semakin mendominasi jalan di dalam kampus ITS.

Sumber : kompas

“Eco Campus”, Gedung Kuliah ITS Tak Ber-AC”

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya segera mewujudkan kampus yang peduli dan berwawasan lingkungan atau eco campus. Pencanangan eco campus tersebut akan ditandai dengan membuat hutan kampus yang akan digelar Sabtu (17/9/2011) besok. Salah satu komitmen yang akan ditunjukkan adalah, dengan meniadakan pendingin ruangan atau AC di gedung perkuliahan.

“Kami sebisa mungkin menghindari penggunaan AC. Minimal kita akan mengurangi AC dalam setiap gedung di ITS. Nanti kalau hutan kampus makin lebat, tak perlu pendingin ruangan ini,” kata Koordinator Program Eco Campus ITS Achmad Rusdianyah, Jumat (16/9/2011).
Peniadaan AC ini telah dilakukan pada gedung-gedung perkuliahan di kampus PENS ITS. Hampir di semua gedung ini didesain tanpa instalasi pendingin ruangan.
“Buktinya tanpa AC pun, gedung kuliah PENS sejuk. Udara segar masuk melalui fentilasi gedung. Ini ramah lingkungan. Kalau hutan kampus makin bagus, udara makin segar,” tambah Rusdiansyah.
Namun, ia mengakui, langkah non-AC tak mungkin diterapkan di seluruh gedung di kampus tersebut. Akan tetapi, ke depannya, setiap gedung baru ITS tak akan dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Konsep “Eco Campus” Pada pencanangan hutan kampus yang akan dilakukan besok, akan dilakukan kegiatan penghijauan dan perluasan hutan kampus yang disebut gugur gunung (G2). Setidaknya 7.000 warga ITS, dosen, karyawan, dan seluruh mahasiswa dilibatkan langsung.
“Kami bermimpi ITS jadi kampus yang berbudaya lingkungan,” kata Rektor ITS Triyogi Juwono, secara terpisah, hari ini.
Hutan kampus yang sudah ada di ITS akan semakin difungsikan berdasarkan fungsi konservasi dan budidaya. Tanaman yang akan dikembangkan adalah tanaman langka seperti juwet, kecacil, gebang, atau jenis tanaman dan pohon langka lain.
Achmad Rusdiansyah menambahkan, GG adalah awal pencangan menuju eco campus ITS. Total lahan ITS 185 hektar harus dimaksimalkan demi kelestarian lingkungan.
“Kami sudah menyiapkan masterplan gedung-gedung perkuliahan di ITS yang berkonsep green building. Seluruh infrastruktur kampus akan berbasis dan berbudaya lingkungan,” jelasnya.
Setidaknya, dalam empat tahun ke depan, infrastruktur yang berkonsep green building itu sudah bisa diimplementasikan di lingkungan kampusnya. Antara lain, seperti desain standar green building, green infrastructure serta sistem drainase yang ramah lingkungan.
Masterplan berbasis eco campus ini diadopsi untuk mencegah pemborosan energi di ITS. Dalam hitungan Rusdiansyah, ITS setiap tahun membayar Rp 6 miliar untuk listrik. Artinya, setiap bulan harus dikeluarkan dana sebesar Rp 500 juta untuk listrik saja.
“Akan banyak program ITS untuk menciptakan budaya lingkungan. Kami akan tempatkan setiap program ecocampus sebagai prioritas. Melestarikan dan membudidayakan lingkungan sehat dan berkelenjutan,” kata Rusdiansyah.

sumber : kompas