Mendadak Alim

Aceh is the least religious province in Indonesia

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari beragam fenomena dan perilaku unik yang terjadi selama bulan ramadhan. Ada sejumlah sisi menarik untuk dilihat dan dijadikan bahan refleksi dari berbagai aktifitas yang kita lakukan setiap hari di bulan yang penuh berkah ini. Bagi saya, perilaku masyarakat yang berubah drastis menjadi salah satu poin untuk ditilik lebih jauh.

Kalau anda sering perhatikan, ada perubahan yang terjadi secara mendadak di kalangan masyarakat tidak hanya di Aceh tetapi juga di hampir seluruh nusantara. Banyak orang yang menjadi alim secara tiba-tiba. Coba anda perhatikan tempat-tempat ibadah, hampir semuanya penuh. Meunasah yang biasanya jamaahnya tidak lebih dari 1 shaf, kalau bulan ramadhan sesak dengan jamaah. Malah kalau pada 10 malam pertama bulan ramadhan, meunasah atau musalla kelebihan jamaah. Di beberapa tempat, halaman musalla malah dijadikan tempat untuk shalat.

Jamaah Shalat Terawih

Begitu juga di mesjid, shalat-shalat jumat pada bulan ramadhan, jumlah jamaahnya meningkat drastis. Terkadang ada wajah-wajah baru yang di luar bulan puasa, hampir tidak terlihat wajahnya di mesjid. Di beberapa kota besar dan pusat kota, untuk wudhuk saja anda harus antri panjang sangking ramenya orang yang mau beribadah. Tidak hanya itu, pada siang hari ada banyak orang yang menetap di mesjid dan menghabiskan waktu dengan beritikaf. Intinya tempat-tempat ibadah hampir tidak ada jam tanpa jamaah pada bulan ramadhan.

Peningkatan ibadah tidak hanya yang bersifat hablum minallah seperti di atas, hablum minannas nya pun tidak kalah menarik untuk dilihat. Program-program santunan menjamur dimana-dimana, musalla, mesjid, terminal, rumah-rumah, lampu merah dan berbagai tempat keramain lainnya. Musalla-musalla kebanjiran rantang yang berisi makanan berbuka puasa. Mesjid-mesjid juga menampung banyak sedekah dan santunan. Tidak hanya mesjid, pihak perbankan pun tidak ketinggalan, tidak sedikit bank yang membuka rekening khusus untuk masyarakat yang ingin melakukan donasi, khususnya untuk anak yatim dan duafa. Asumsi saya donator-donatur tersebut tidak terlalu memikirkan kejujuran dan ketransparanan lembaga-lembaga yang mengelola dana ‘lillahi ta’ala’ tersebut.

Jamaah Shalat Teraweh

Kalau dilihat lebih jauh, tidak hanya tempat-tempat ibadah yang mendapat rezeki mendadak. Sektor bisnispun tidak kalah banyak meraup keuntunngan. Malah omset mereka berlipat-lipat selama bulan ramadhan. Permintaan pakain-pakaian muslim pun meningka drastic. Mukena, peci, kain sarung, sejadah, bahkan penjualan alquran pun berlipat ganda dari bulan-bulan lainnya. Di samping itu, pihak penyedia jasa hiburan pun tidak ketinggalan, produser-produser film memaksa tim kreatif untuk menyajikan tontonan yang bersifat religi. Tidak penting, pemerannya non-muslim, yang penting tampilan di layar kaca pada bulan ramadhan harus berjilbab dan mengucapkan ‘assalamua’alaikum’ katika bertemu orang. Para penyanyi dan band-band gaul pun berlomba-lomba menciptakan lagu-lagu bernada islami. Motifnya jelas, memanfaatkan momen bulan ramadhan dimana animo masyarakat yang sedang haus hiburan yang bersifat islami.

Esensi Ibadah

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan beragam fenomena dan perilaku di atas. Toh masyarakat ingin memaksimalkan bulan ramadhan dengan beribadah. Saya menulis tulisan ini tidak bermaksud untuk berpesan jangan shalat jamaah, jangan itikaf, tidak b masih tetap boleh sedekah, tidak boleh membeli dan menggunakan baju muslim, tetapi substansinya adalah apakah berbagai aktifitas ibadah tersebut memiliki makna yang melekat dalam pribadi kita masing-masing. Apakah kita masih tetap shalat jamaah subuh setelah bulan ramadhan? Apakah keringanan tangan untuk bersedekah dan menyumbang masih bertahan pada bulan-bulan setelah ramadhan? Apakah mesjid-mesjid masih tetap penuh dengan jamaah pada hari jumat?

Membaki Makanan untuk Sahur

Menurut saya, pada titik inilah refleksi penting makna ibadah-mempertahankan dan mengamalkan apa yang apa yang kita lakukan secara simbolik ke dalam kehidupan sehari-hari. Saya memperhatikan, tidak sedikit orang yang bermalas-malasan pada bulan ramadhan dengan alasan puasa. Produktifitas berkurang karena kelelahan berpuasa. Jam kantor pada bulan ramadhan tidak sedisiplin pada bulan-bulan lainnya. Layanan public pun tidak maksimal, alasannya tidak sanggup melayani karena capek berpuasa. Kalau misalkan puasa bersamaan dengan masa sekolah, proses pembelajarannya juga tidak maksimal. Ada anak yang datang telat, guru nya mentolerir dengan alasan telat bangun karena puasa. Pertanyaanya, melayani masyarakat dengan sepenuh hati, masuk kantor tetap disiplin, belajar di sekolah dengan serius, apakah itu bukan ibadah? Apakah itu bukan pekerjaan baik yang akan dilipatk gandakan pahalanya juga pada bulan ramadhan? Terlalu dangkal pemahaman kita kalau ibadah hanya kita definisikan shalat, sedekah dan I’tikaf di mesjid.

Di samping itu, ada keanehan-keanehan yang sering ditampilkan oleh banyak orang pada bulan ramadhan, “tidak boleh bohong, ini bulan puasa, tidak boleh ngegosip, kamu sedang puasa kan? Ayok tidur aja, tidur juga ibadahkan?”. Ungakapan-ungkapan tersebut menimbulkan kesan seolah-olah berbohong itu hanya dilarang pada bulan ramadhan, memfitnah atau bergosip ria dihalalkan pada bulan-bulan lainnya.

Konteks Aceh

Kita sangat sangat bersyukur bumi kita, serambi mekah masih sangat kental dengan kegiatan-kegaitan ibadah. Untuk beribadah di Aceh tentu saja jauh lebih mudah dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Meunasah di setiap desa ada, balai pengajian pun ikut melaksanakan shalat jamaah seperti mesjid-mesjid dan musalla. Tentu saja, kemudahan-kemudahan tersebut belum tentu kita dapatkan ketika berada di daerah-dearah lain.

Terlepas dari gelar serambi mekah dan syariat islam yang melekat pada nama ‘Aceh’, ada banyak hal yang masih perlu kita pertanyakan keislaman dan keimanan kita sebagai orang Aceh. Pada awal-awal puasa, Harian The Jakarta Post Edisi 2 Juli 2014, memuat photo seorang polisi Syariat Islam yang sedang melakukan inspeksi ke sebuah warung di seputar Kampung Cina pada siang hari. Di pintu warung yang diambil dari gambar tersebut bertuliskan ‘Warung ini khusus non-muslim’. Nah, ada salah satu kawan saya yang non-muslim membaca Koran berbahasa inggris tersebut nyeletup, Aceh is the least religious province in Aceh’ (Aceh adalah daerah yang kadar keislamannnya sangat rendah)

Bagi saya, ungkapan yang terkesan guyonan tersebut bukan asal nyeletuh, pasti ada sesuatu yang dia pikirkan makanya dia mengungkapkan seperti itu. Mungkin saja dia berpikir, kenapa kok untuk puasa saja harus dikawal oleh polisi syariat? Kenapa untuk benar-benar beribadah pada bulan ramadhan harus ada pengawalan dari polisi syariat islam?. Beberapa asumsi saya tersebut mungkin bias menjadi refleksi untuk mempertanyakan kembali keislaman kita sebagai orang yang hidup di negeri bersyariat. Sekian.