Menggugat Hak Mahasiswa

Artikel ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) edisi Sabtu, 5 November 2016. Silakan klik DI SINI untuk membaca di laman Serambi Indonesia.

page_1

Sumber gambar: https://issuu.com/teraspers/docs/teraspers14

 

SATU pendekatan menarik yang saya dapatkan tentang pengelolaan lembaga pendidikan di Australia adalah seringnya diminta pendapat mahasiswa, terkait pelayanan pendidikan mereka mulai dari sisi akademis dan hal-hal non-akademis lainnya yang berpengaruh terhadap performa belajar mahasiswa. Beberapa hal yang sering menjadi poin utama evaluasi di antaranya adalah kemampuan dosen dan pedagogi.

Meminta pendapat mahasiswa tentang kemampuan mengajar dosen bukanlah sesuatu yang tabu atau dipandang tidak sopan jika dikritik. Pihak universitas mengevaluasi performa dosen dari mahasiswa dan juga dosen-dosen lainnya yang masuk ke kelas untuk menilai proses belajar mengajar yang dilakukakan oleh seorang dosen. Aspek-aspek yang dinilai diantaranya kemampuan dosen dalam menyampaikan materinya. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah cara mengajar dosen mudah dipahami? Atau, apakah cara mengajarnya interaktif dan kreatif, tidak menoton dan membosankan?

Poin penting lainnya adalah fasilitas utama dan perangkat pendukung di kampus yang dapat membantu mahasiswa dalam proses pendidikan mereka. Di antaranya perpustakaan, semisal meminta pendapat mahasiwa tentang buku-buku dan jurnal-jurnal yang disediakan sudah memenuhi kebutuhan mahasiswa atau tidak. Hal lainnya yang menjadi perhatian utama universitas adalah layanan-layanan manajerial administratif yang ada di kampus.

Misalkan bagi saya sebagai mahasiswa internasional, apakah pelayanan di International Students Service sudah memenuhi kebutuhan saya atau tidak? Apakah saya pernah tidak dilayani oleh staf mereka ketika saya membutuhkan? Apakah layanan yang diberikan memuaskan atau mengecewakan? Bahkan sangking banyaknya layanan-layanan untuk mendukung proses belajar mahasiswa, ada layanan yang jarang bahkan tidak saya pakai sampai saat ini.

Pengalaman menarik
Khusus untuk perpustakaan, saya punya pengalaman menarik yang mungkin bisa kita ambil pelajarannya. Akhir 2015 lalu, saya mengisi survei online dari universitas (Flinders University di Australia), yang menanyakan pelayanan mereka. Setelah menjawab beberepa pertanyaan bersifat pilihan, di halaman komentar, saya mengkritik kebijakan universitas yang tidak menyediakan akses 24 jam ke perpustakaan. Sebagai informasi, perpustakaan kampus saya ditutup jam 10 malam biasanya.

Dalam kritikan tersebut, saya tuliskan beberapa alasan kenapa perpustakaan harus terbuka aksesnya selama 24/7 (non-stop) untuk mahasiswa. Salah satunya saya sampaikan ke mereka bahwa ada mahasiswa yang nyamannya belajar di malam hari untuk beberapa alasan tertentu. Sudah menjadi kewajiban kampus untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa-mahasiswa tersebut. Terlebih lagi, Flinders University sebagai universitas bertaraf internasional.

Alhamdulillah, mulai Juni 2016, perpustakaan utama (Central Library) Flinders University, sudah terbuka aksesnya untuk 24 jam-menambah pilihan dari beberapa ruang yang sebelumnya sudah terakses 24 jam di lingkungan Flinders University. Terlepas dari faktor kebetulan atau bahkan Flinders University tidak pernah membaca usulan saya di survei evaluasi mereka, sebagai seorang mahasiswa yang pernah menyampaikan keluhan yang sama-saya meresa “didengar” dan perasaan “didengar” itu adalah sesuatu yang sangat vital dalam pelayanan publik (mahasiswa).

Di Australia, urusan evaluasi dilakukan secara berkala dan pihak universitas mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk menjaring pendapat mahasiswa. Selama hampir 2 tahun saya belajar di Flinders, sudah beberapa kali saya berpartisipasi memberikan penilain dan pendapat saya terhadap pengelolaan pendidikan di Flinders dan Australia secara umum. Ada evaluasi yang dilakukan oleh pihak universitas, senat mahasiswa, ada juga evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, dan ada juga evaluasi yang dilakukan oleh donor beasiswa (Australia Awards Scholarships).

Secara substansi, survei-survei tersebut bertujuan untuk menggali informasi seputar pelayanan mereka mulai dari urusan akademis seperti mengukur performa dosen dalam mengajar, fasilitas utama dan pendukung seperti perpustakaan, aksesibilitas untuk yang berkubutuhan khusus, hingga hal-hal personal lainnya seperti keuangan dan sejenisnya.

Substansi yang paling penting adalah data-data tersebut akan menjadi pijakan untuk mengevaluasi dan menjadi sumber utama untuk perbaikan di berbagai lini yang dituangkan dalam berbagai kebijakan. Saya yakin Flinders University atau survei-survei lainnya tidak melakukan evaluasi seperti ini, hanya memenuhi syarat administratif atau hanya sekadar ritual seremonial formil semata. Survei membutuhkan dana, tidak mungkin mereka buang-buang uang jika mereka tidak serius dengan apa yang mereka lakukan.

Untuk mahasiswa
Di setiap lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi, seluruh aktivitas pendidikan baik di dalam maupun di luar kelas ditujukan hanya untuk satu yaitu mahasiswa. Jutaan, miliaran bahkan triliunan anggaran yang digelontorkan, bermacam fasilitas yang disediakan, gedung-gedung yang dibangun, tenaga pengajar yang ditambah kuantitasnya dan dintingkatkan kualitasnya, kurikulum yang terus disempurnakan-semuaitu ditujukan untuk mahasiswa. Untuk kepentingan merekalah semua tujuan akhir dari aktivitas dan layanan pendidikan yang dilakukan.

Jika semua modal, baik materil dan non materil yang didapatkan secara langsung atau tidak langsung bersumber dari dan untuk kepentingan mahasiswa, pelibatan mahasiswa dalam setiap proses aktivitas pendidikan (bukan hanya belajar di dalam kelas) adalah keniscayaan.

Pertanyaan, jika mereka tujuan akhir kita, apakah berlebihan jika menanyakan pendapat mereka ketika kita hendak melakukan sesuatu di lembaga pendidikan kita? Apakah akan menyusahkan jika mereka dilibatkan dalam penentuan kebijakan? Apakah suara mereka tidak penting untuk dijadikan pertimbangan utama dalam perbaikan? Ibarat pelanggan yang menyajikan makanan tanpa bertanya apa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Sangat aneh.

Nah, inilah yang missing (belum maksimal) dari sistem pengelolaan pendidikan kita. Pengalaman saya menjadi mahasiswa, saya tidak melihat jika variabel mahasiswa dijadikan sebagai satu aktor sentral dalam mengambil kebijakan. Posisi mereka kalah dengan kepentingan-kepentingan pragmatis semisal bagi-bagi kursi dan proyek kegiatan di kampus. Benar kita punya organisasi mahasiswa (BEM) sebagai corong, tapi seberapa pentingkah mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan di kampus-kampus kita?

Boro-boro bicara menjemput bola dengan mendekati mahasiswa menanyakan kebutuhan mereka, terkadang sudah disampaikan dalam bentuk demonstrasi saja belum tentu didengar. Jika ada satu dua yang berani menyuarakan “kebrobrokan” kampus, maka akan dianggap pembangkang dan kurang ajar, bahkan tidak jarang harus berusan dengan aparat hukum.

Jangankan berterima kasih, jika berlapang dada menerima kritikan konstruktif dari mahasiswa untuk perbaikan (tanpa harus mengeluarkan uang seperti yang dilakukan oleh universitas-universitas di luar negeri) masih sangat berat untuk kita lakukan, bahkan kita lawan; apakah masih waras jika kita bermimpi untuk menuju kampus bertaraf internasional?

* Muhammad Adam, mahasiswa pascasarjana Leadership and Management Pendidikan Flinders University, Australia. Email: adamyca@gmail.com