Mengkloning Pemimpin Inovatif (Publikasi Media)

Berikut adalah artikel ‘Pemimpin Inovatif’ yang sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia edisi Kamis, 7 September 2017. Jika mau baca versi lengkapnya, silakan click di SINI. Terimakasih.

***&&&****

Melalui Sekolah Pemimpin Muda Indonesia (Kader Bangsa Fellowship Program), saya bersyukur mendapatkan kesempatan bertemu dan belajar bersama beberapa sosok pemimpin di daerah yang mencengangkan dengan inovasi mereka yang bombastis dan fenomenal sehingga mendapat pengakuan dan penghargaan mulai dari tingkat daerah sampai internasional.

Sumber gambar: http://cdn-media-1.lifehack.org

Pertama ada Bapak Azwar Anas yang memimpin di pinggiran Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi. Inovasi-inovasinya sangat menakjubkan dan merakyat. Diantaranya dia berfokus membangun ekonomi melalui wisata tapi yang dijual bukan wisata modern yang penuh hiruk pikuk dan kebebasan liar yang bahkan dapat merusak alam dan tatanan sosial masyarakat atas nama kepentingan parawisata dan ekonomi. Justru penekanan parawisata di Banyungi terletak pada memelihara nilai-nilai kearifan lokal dengan mengambil konsep ecotourism dan family tourism. Di dekat areal pantai dan destinasi wisata, yang diprioritaskan adalah homestay warga tempat wisatawan menginap. Sedangkan pembangunan hotel diperketat. Pendekatan seperti ini tidak hanya berdampak secara ekonomi tetapi secara tidak langsung dapat meningkatkan budaya hidup bersih dan sehat. Masyarakat akan berupaya untuk menyediakan layanan homestay yang asri dan sehat guna untuk menarik minat wisatawan. Tidak menjamurnya hotel sebagai penyokong wisata, tidak lantas menurunkan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Terbukti kunjungan wisatawan ke Banyuwangi membludak yaitu mencapai 3.8 juta orang untuk wisatawan domestik dan 77.000 lebih wisatawan asing pada tahun 2016. Parawisata telah menjadi penyokong pertumbuhan PDRB Banyuwangi dari Rp 32,4 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp 60,2 triliun tahun 2015. Ini baru beberapa gebrakan di bidang wisata, masih ada sederatan inovasi lainnya di berbagai aspek. Dampak dari berbagai kebijakan pro rakyatnya, ada penurunan angka kemiskinan secara drastis dari 20,4 persen pada awal dia menjabat menjadi 9,2 persen. Tidak heran jika kepuasan masyarakatnya terhadap pelayanan pemerintah mencapai 82,5 % dengan jumlah penduduk 1,6 juta.

Kedua adalah walikota fenomenal dari kota madiya Makassar Bapak Danny Pomanto (DP). Tantangan yang ada di kota Makassar berbeda dengan Kabupaten Banyuwangi. Sebagaimana kota besar di Indonesia pada umumnya, Makassar dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa memiliki masalah dengan kebersihan, kesehatan dan keteraturan. Untuk itu, DP melakukan gebrakan dan inovasi yang mampu mengatasi kondisi tersebut. Sekarang ada banyak inovasi di bidang kesehatan dan kebersihan yang beliau jalankan di kota Makassar. Di antaranya, beliau melakukan penataan lorong-lorong sempit dan kumuh di pojok-pojok kota Makassar menjadi indah dan bersih. Maka lahirlah inovasi semisal Garden Alley yang menyulap gang-gang sempit menjadi gang yang penuh dengan tanaman indah dan menarik. Ada gang sehat (Health Alleys) yang beliau kompetisikan guna menstimulus masyarakat kotanya menjaga areal mereka supaya tetap bersih dan sehat. Kini gang-gang sempit tersebut tidak hanya indah tetapi juga mendatangkan nilai ekonomi. DP menjadikan lorong-lorong tersebut sebagai salah satu destinasi wisata alternatif untuk memikat wisatawan dan pengunjung dari luar. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat lorong, DP membuat inovasi Program Badan Usaha Lorong (BULO) yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Makassar yang mencapai 7.9%, bahkan melebihi pertumbuhan rata-rata nasional yang berada pada angka 5.02% pada tahun 2016. Selain itu, DP juga menyediakan Apartmen Lorong (APARONG) sebagai salah satu alternatif tempat tinggal bagi warga Makassar. Ini baru beberapa inovasi seputar lorong, masih ada segudang inovasi-inovasi lain dalam berbagai aspek yang lahir di bawah kepemimpinan DP.  Atas kerja keras dan inovasi-inovasinya, DP bersama kota Makassar mendapatkan segudang penghargaan baik di level nasional maupun internasional. Di antaranya, ada penghargaan Adipura selama tiga tahun berturut mulai tahun 2015, Kota Tersehat Nasional tahun 2016, Kota dengan Sanitasi Terbaik tahun 2016, Open Gavovernment Award dari Singapura tahun 2017, Penghargaan walikota terbaik dari Tempo.

ASPEK LEADERSHIP

Menyaksikan dan mendengar langsung presentasi mereka, saya melihat ada beberapa irisan yang dapat ditarik benang merahnya dan kita jadikan pelajaran bersama. Pertama, inovasi dan kebijakan fenomenal mereka lahir bukan dengan dukungan sumber daya alam maupun manusia yang canggih dan membludak, justru sangat terbatas dan minim modal. APBD Banyunwangi tahun 2017 cuma 3.4 triliun dengan total penduduk 1,6 juta jiwa. Tidak sebesar APBD kota-kota besar seperti Surabaya yang mencapai 8.5 triliun atau Bandung dengan APBD 7 triliun. Dari segi dukungan SDM, Banyuwangi terkenal dengan masyarakat yang senang santet dan mitos. Tidak jauh dengan pola berpikir masyarakat Banyuwangi, sepertinya banyak rakyat Indonesia memiliki penilain bahwa masyarakat Makassar memiliki watak yang keras dan doyan berkelahi. Artinya pemerintahan dan inovasi-inovasi mereka tidak hadir dengan dukungan masyarakat yang modern, cakap teknonologi, dan memiliki peradaban tinggi. Justru mereka memimpin dalam kondisi penuh keterbatasan dan tekanan.

Kedua, salah satu benang merah yang sangat jelas terlihat kesamaanya diantara mereka yaitu semangat untuk belajar baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Rata-rata mereka memiliki pendidikan formal tinggi. Tidak hanya itu, budaya membaca dan menulis sangat mendarah daging dalam keseharian mereka. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemimpin hebat lain yang tidak mengenyam pendidikan tinggi secara formil, tapi sederhananya tidak akan ada inovasi dan kreatifitas tanpa adanya kapasitas pengatahuan yang mampuni. Latarbelakang Pak Danny Pomanto yang mendalami dunia arsitek, beliau mampu merancang bis angkot berteknologi canggih yang beliau beri nama Smart Pete Pete dan juga beliau rancang sendiri pembangunan trotoar dan pedestrian di Makassar yang beliau sebut Bundaratta’. Intinya kreatifitas dan inovasi lahir dari inspirasi-inspirasi yang mereka dapatkan melalui proses pembelajaran baik membaca, mendengar, melihat, membaca, menulis dan berjejaring. Hal ini terbukti dari testimoni Bapak Anas yang menyebutkan bahwa banyak pemerintah daerah lain dari Indonesia yang datang ke Banyuwangi dan meng-copy ide-ide yang ada di Banyuwangi. Namun pada saat diterapkan di daerahnya, ide-ide tersebut tidak berjalan dengan lancar atau tidak mendapatkan hasil yang sama seperti yang terjadi di Banyuwangi. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kebaruan dalam penerapannya, yang ada hanya copy-paste. Susah untuk mendapatkan ide yang baru jika mereka tidak meningkatkan kapasitas mereka.

Ketiga, mereka adalah pemimpin yang berani, tidak hanya berani dalam berorasi tetapi berani mengambil resiko. Mereka tidak bekerja secara linear (meminjam istilah Pak Jokowi) atau menoton mengikuti rutinitas. Kebijakan-kebijakan mereka penuh gebrakan dan berlawanan arus (out of the box). Hebatnya mereka siap dengan resiko dari setiap gebrakan yang mereka putuskan dan mereka jalankan. Pak Anas mengakui bahwa di awal kepemimpinannya, beliau didemo lebih dari 40 kali atas berbagai kebijakan dan terobosan yang beliau ambil. Pak Walikota Makassar pernah dipanggi salah satu menteri dan mengancam akan memecat beliau karena salah satu kebijakannya. Tapi mereka tidak menyerah dengan tantangan dan tekanan tersebut karena mereka sadar bahwa apa yang mereka putuskan membawa kemaslahaatan untuk rakyat yang mereka pimpin.

Terakhir, saya sepakat bahwa mereka bukanlah pemimpin yang sempurna, masih ada kekurangan dan kelemahan di sana sini. Akan tetapi bangsa ini tidak bisa dibangun dengan hanya berfokus pada kekurangan dan masalah. Inovasi dan terobosan mereka sangat layak untuk diapresiasi. Nah, DNA yang ada dalam tubuh dan pola kepemimpinan merekalah yang seyogiayanya dikloningkan ke dalam pemimpin-pemimpin daerah lain termasuk Aceh guna melahirkan inovasi dan kreatifitas. Semoga bermanfaat!

 

Ditulis oleh: Muhammad Adam (Konsultan Leadership dan Management Pendidikan. Alumnus Flinders University Australia).

Leave a Comment.