Mengkloning Pemimpin Inovatif (Full)

Melalui Sekolah Pemimpin Muda Indonesia (Kader Bangsa Fellowship Program), saya bersyukur mendapatkan kesempatan bertemu dan belajar bersama tokoh-tokoh nasional seperti Koordinator Menteri Kemaritiman Bapak Luhut Panjaitan, Ibu Khofifah (Mensos), Bapak Erlangga Hartarto (Menperindag) dan Ketua KPK Bapak Agus Rahardjo. Selain tokoh dan pemain di pusat tersebut, KBFP menghadirkan beberapa sosok pemimpin di daerah yang mencengangkan yaitu Bupati Banyuwangi Bapak Abdullah Azwar Anas, Bapak Danny Pomanto Walikota Makassar dan Bupati Trienggalek Bapak Emil Dardak. Mereka adalah pemain di daerah namun berkelas internasional. Tidak sedikit inovasi mereka yang bombastis dan fenomenal sehingga mendapat pengakuan dan penghargaan mulai dari tingkat daerah sampai dunia.

Bapak Emil Dardak – Bupati Trienggalek

Pertama ada Bapak Azwar Anas yang memimpin di pinggiran Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi. Inovasi-inovasinya sangat menakjubkan dan merakyat.Diantaranya dia berfokus membangun ekonomi melalui wisata tapi yang dijual bukan wisata modern yang penuh hiruk pikuk dan kebebasan liar yang bahkan dapat merusak alam dan tatanan sosial masyarakat atas nama kepentingan parawisata dan ekonomi. Justru penekanan parawisata di Banyungi terletak pada memelihara nilai-nilai kearifan lokal dengan mengambil konsep ecotourism dan family tourism. Di dekat areal pantai dan destinasi wisata, yang diprioritaskan adalah homestay warga tempat wisatawan menginap. Sedangkan pembangunan hotel diperketat. Pendekatan seperti ini tidak hanya berdampak secara ekonomi tetapi secara tidak langsung dapat meningkatkan budaya hidup bersih dan sehat. Masyarakat akan berupaya untuk menyediakan layanan homestay yang asri dan sehat guna untuk menarik minat wisatawan. Tidak menjamurnya hotel sebagai penyokong wisata, tidak lantas menurunkan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Terbukti kunjungan wisatawan ke Banyuwangi membludak yaitu mencapai 3.8 juta orang untuk wisatawan domestik dan 77.000 lebih wisatawan asing pada tahun 2016. Parawisata telah menjadi penyokong pertumbuhan PDRB Banyuwangi dari Rp 32,4 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp 60,2 triliun tahun 2015. Ini baru beberapa gebrakan di bidang wisata, masih ada sederatan gebrakan lainnya di berbagai aspek.

Bapak Abdullah Azwar Anas – Bupati Banyuwangi

Di saat pemerintah daerah lain sibuk melobby pemerintah pusat untuk pembangunan bandar udara, beliau malah membangun bandara dengan menggunakan APBD Banyuwangi. Alasan beliau sangat logis bahwa bandara yang dibangun harus disesuaikan dengan keunikan dan kekhasan sumber daya alam dan manusia di Bayuwangi. Beliau beragumentasi bahwa akan sulit mengontrol jika dibangun dengan APBN karena biasanya akan diseragamkan seperti bandara-bandara lain tanpa mempertimbangkan kekhasan daerah. Karena beliau bangun dengan APBD, makanya beliau mengawalnya sesuai kebutuhan daerah. Salah satunya, beliau tidak mengeluarkan satu izin membangun bangunan (IMB) di seputar bandara supaya sawah-sawah nan hijau yang ada di sekitarnya dan tanaman hijau di atas gedung bandara tetap memproduksi udara yang segar dan sejuk meskipun tanpa pendinginan AC. Makanya tidak berlebihan jika kemudian Bapak Bupati mengklaim kalau bandara mereka adalah green airport pertama di Indonesia yang dibangun melalui APBD dan akan menjadi bandara percontohan untuk nasional.

Di bidang pendidikan, ada program Siswa Asuh Sebaya, Banyuwangi Mengajar, Beasiswa Banyuwangi Cerdas, Gerakan Masyarakat Pemberatasan Tributa, Armada Sekolah gratis dan sebagainya dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia di Banyuwangi. Di Bidang Kesehatan, ada inovasi semisal Unit Reaksi Cepat, Pelayanan Quick Response melalui sosial media yang maksimum 4 jam harus sudah mendapat respon, Rumah Singgah untuk pasien Banyuwangi yang dirujuk ke Surabaya, dan program SAKINA (Stop kematian ibu dan anak). Dahsyatnya lagi, dia mampu menggerakkan pastisipasi warga untuk membangun bersama. Misalkan ada warga yang sukarela menghibahkan mobil pribadinya untuk membawa warga miskin yang sakit ke RS. Pelibatan anak muda/warga untuk bergerak dan penggunaan teknologi dalam pembangunan Banyuwangi adalah salah satu kekuatan keberhasilannya.

Dia manfaatkan teknologi informasi untuk memaksimal pemerintahannya. Dia buat program Zone Minder-Aplikasi Integrasi Monitoring CCTV untuk memantau tempat-tempat pelayanan publik seperti rumah sakit, sekolah, puskesmas, dll. Adalagi program Smart Kampung dan Smart Farming dengan berbagai inovasi unggulannya seperti Asuranasi Usaha Tani Padi yang akan bertujuan memberikan perlindungan kepada petani jika terjadi gagal panen sebagai akibat banjir atau kekeringan. Tidak hanya itu, dia pasang badan membatasi pendirian ritel-ritel modern semisal Alfamart dan Indomaret di desa-desa. Dampak dari berbagai kebijakan pro rakyatnya, ada penurunan angka kemiskinan secara drastis dari 20,4 persen pada awal dia menjabat menjadi 9,2 persen. Tidak heran jika kepuasan masyarakatnya terhadap pelayanan pemerintah mencapai 82,5 % dengan jumlah penduduk 1,6 juta.

Kedua adalah walikota fenomenal dari kota madiya Makassar Bapak Danny Pomanto (DP). Tantangan yang ada di kota Makassar berbeda dengan Kabupaten Banyuwangi. Sebagaimana kota besar di Indonesia pada umumnya, Makassar dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa memiliki masalah dengan kebersihan, kesehatan dan keteraturan. Untuk itu, DP melakukan gebrakan dan inovasi yang mampu mengatasi kondisi tersebut. Sekarang ada banyak inovasi di bidang kesehatan dan kebersihan yang beliau jalankan di kota Makassar. Di antaranya, beliau melakukan penataan lorong-lorong sempit dan kumuh di pojok-pojok kota Makassar menjadi indah dan bersih. Beliau sadar betul bahwa lorong-lorong sempit tersebut adalah simpul-simpul kecil dari kota yang harus dibenahi dan jika itu dilakukan secara konsisten serta menyeluruh, maka akomulasinya akan membentuk kota Makassar yang indah dan atraktif serta bernilai ekonomis. Maka lahirlah inovasi semisal Garden Alley yang menyulap gang-gang sempit menjadi gang yang penuh dengan tanaman indah dan menarik. Ada gang sehat (Health Alleys) yang beliau kompetisikan guna menstimulus masyarakat kotanya menjaga areal mereka supaya tetap bersih dan sehat. Kini gang-gang sempit tersebut tidak hanya indah tetapi juga mendatangkan nilai ekonomi. DP menjadikan lorong-lorong tersebut sebagai salah satu destinasi wisata alternatif untuk memikat wisatawan dan pengunjung dari luar. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat lorong, DP membuat inovasi Program Badan Usaha Lorong (BULO) yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Makassar yang mencapai 7.9%, bahkan melebihi pertumbuhan rata-rata nasional yang berada pada angka 5.02% pada tahun 2016. Selain itu, DP juga menyediakan Apartmen Lorong (APARONG) sebagai salah satu alternatif tempat tinggal bagi warga Makassar. Ini baru beberapa inovasi seputar lorong, masih ada segudang inovasi-inovasi lain dalam berbagai aspek yang lahir di bawah kepemimpinan DP.

Bapak Danny Pomanto – Walikota Makassar

Di infrastruktur, beliau bangun trotoar unik yang dapat bernilai ekonomis dengan manarik wisatawan. Trotoarnya yang dinamai Bundaratta’ memiliki motif unik berbentuk bulatan kecil dan besar serta memasang ukiran nama-nama raja yang pernah berkuasa di Sulsel pada masa lampau. Selain itu, ada juga taman-taman kota yang penuh dengan warna warni sehingga memberikan kenyamanan dan keindahan bagi pengunjung. Untuk penjagaannya, ada sejumlah satpol PP wanita cantik yang berpratroli dan mengontrol ketertiban dan keamanan di sudut-sudut kota Makassar. Selanjutnya latarbelakangnya sebagai arsitektur, DP merancang sendiri mobil angkutan kota yang dinamai Smart Pete-Pete. Smart Pete-Pete sangat jauh dari angkot-angkot yang ada di kota besar lainnya. Smart Pete-Pete dilengkapi dengan fasilitas Wi-fi, televisi dan penyejuk udara, dengan kapasitas 12 penumpang duduk, 4 berdiri dan 1 untuk kursi roda. Selanjutnya untuk membangun pemerintah yang responsif dan peduli terhadap masyarakatnya, DP bersama Polrestabes Makassar membuat Makassar Command Centre yang ditunjang dengan teknologi tinggi sebagai salah satu upaya mewujudkan Smart City. Command Centre ini memiliki beberapa layanan aplikasi diantaranya panic button, tracking smart police, CCTV yang terintegrasi dengan pemkot kota Makassar, dan layanan 112 yang terintegrasi dengan instansi terkait di seluruh kota Makassar. Untuk bidang pendidikan, ada 18 inovasi yang revolusif di kota Makassar, di antaranya setiap sekolah harus mampu menfasilitasi 1 smart library, 2 guru inovatif, 2 smart class, dan 5 super student. Di bidang seni dan budaya, ada beragam inovasi termasuk festival F8 yang akan diselenggarakan pada bulan September mendatang. Festival berkelas internasional tersebut menargetkan 1 juta pengunjung.

Pelajaran pentingnya ada pada pola kepemimpinan dan pendekatan DP yang merangkul masyarakatnya untuk bergerak sama-sama dalam membangun kota Makassar yang tidak hanya indah dan sehat tetapi juga mendakatangkan keuntungan secara ekonomi. Karena pendekatannya yang humanistik, maka masyarakatpun tergerak untuk berpartisipasi. Tidak mengejutkan jika beliau menemukan ada ibu-ibu yang mengecat jalan paving block di tengah malam. Atas kerja keras dan inovasi-inovasinya, DP bersama kota Makassar mendapatkan segudang penghargaan baik di level nasional maupun internasional. Di antaranya, ada penghargaan Adipura selama tiga tahun berturut mulai tahun 2015, Kota Tersehat Nasional tahun 2016, Kota dengan Sanitasi Terbaik tahun 2016, Open Gavovernment Award dari Singapura tahun 2017, Penghargaan walikota terbaik dari Tempo.

Pimpinan daerah lain yang dihadirkan di KBFP adalah bupati yang masih tergolong muda dari Trienggalek yaitu Bapak Emil Dardak yang baru berusia 33 tahun. Baru menjabat satu tahun namun terobosan-terobosannya layak diacungkan jempol. Bersama wakilnya, beliau melahirkan program GERTAK (Gerakan Tengok Bawah Masalah Kemiskinan) sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan kemiskinan. GERTAK menjadi Pusat Basis Data Terpadu lintas sektoral yang akan menjadi sumber data utama dalam merancang berbagai kebijakan pembangunan daerah di bidang penanggulangan kemiskinan yang selaras dengan RPJMD. Selain melalui posko GERTAK, masyarakat di Trienggalek dapat juga menyampaikan data kemiskinan, keluhan dan permasalahan secara online. GERTAK diharapkan juga menjadi menjadi gerakan untuk menumbuhkan partisipasi masyakat dalam membangun Trienggalek, terutama dalam mengurangi angka kemiskinan dan berbagai permasalahan sosial. Gagasan tersebut sudah mendapat pengharagaan ‘WOW Service Excellence’ dari Mark Plus.

***&&&***

Menyaksikan dan mendengar langsung presentasi mereka, saya melihat ada beberapa irisan yang dapat ditarik benang merahnya dan kita jadikan pelajaran bersama. Pertama, inovasi dan kebijakan fenomenal mereka lahir bukan dengan dukungan sumber daya alam maupun manusia yang canggih dan membludak, justru sangat terbatas dan minim modal. APBD Banyunwangi tahun 2017 cuma 3.4 triliun dengan total penduduk 1,6 juta jiwa. Tidak sebesar APBD kota-kota besar seperti Jakarta yang mencapai Rp 70.19 triliun, Surabaya 8.5 triliun atau Bandung dengan APBD 7 triliun. Dari segi dukungan SDM, Banyuwangi terkenal dengan masyarakat yang senang santet dan mitos. Tidak jauh dengan pola berpikir masyarakat Banyuwangi, sepertinya banyak rakyat Indonesia memiliki penilain bahwa masyarakat Makassar memiliki watak yang keras dan doyan berkelahi. Artinya pemerintahan dan inovasi-inovasi mereka tidak hadir dengan dukungan masyarakat yang modern, cakap teknonologi, dan memiliki peradaban tinggi. Justru mereka memimpin dalam kondisi penuh keterbatasan dan tekanan.

Kedua, salah satu benang merah yang sangat jelas terlihat kesamaanya diantara mereka adalah mereka tidak pernah berhenti belajar baik pendidikan formal maupun nonformal. Rata-rata mereka memiliki pendidikan formal tinggi, bahkan ada yang sudah menyelesaikan doktor (S3) dan jebolan luar negeri. Tidak hanya itu, budaya membaca dan menulis sangat mendarah daging dalam keseharian mereka. Emil Dardak misalkan menyelesaikan pendidikannya S1 di Australia dan S2 serta S3 di Jepang. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemimpin hebat lain yang tidak mengenyam pendidikan tinggi secara formil, tapi sederhananya tidak akan ada inovasi dan kreatifitas tanpa adanya kapasitas pengatahuan yang mampuni. Latarbelakang Pak Danny Pomanto yang memiliki kapasitas di bidang arsitek, beliau mampu merancang bis angkot berteknologi canggih yang beliau beri nama Smart Pete Pete dan juga beliau rancang sendiri pembangunan trotoar dan pedestrian di Makassar yang beliau sebut Bundaratta’. Intinya kreatifitas dan inovasi lahir dari inspirasi-inspirasi yang mereka dapatkan melalui proses pembelajaran baik membaca, mendengar, melihat, membaca, menulis dan berjejaring. Hal ini terbukti dari testimoni Bapak Anas yang menyebutkan bahwa banyak pemerintah daerah lain dari Indonesia yang datang ke Banyuwangi dan meng-copy ide-ide yang ada di Banyuwangi. Namun pada saat diterapkan di daerahnya, ide-ide tersebut tidak berjalan dengan lancar atau tidak mendapatkan hasil yang sama seperti yang terjadi di Banyuwangi. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kebaruan dalam penerapannya, yang ada hanya copy-paste. Susah untuk mendapatkan ide yang baru jika mereka tidak meningkatkan kapasitas mereka.

Terakhir, mereka adalah pemimpin yang berani, tidak hanya berani dalam berorasi tetapi berani mengambil resiko. Mereka tidak bekerja secara linear (meminjam istilah Pak Jokowi) atau menoton mengikuti rutinitas. Kebijakan-kebijakan mereka penuh gebrakan dan berlawanan arus (out of the box). Hebatnya mereka siap dengan resiko dari setiap gebrakan yang mereka putuskan dan mereka jalankan. Pak Anas mengakui bahwa di awal kepemimpinannya, beliau didemo lebih dari 40 kali atas berbagai kebijakan dan terobosan yang beliau ambil. Pak Walikota Makassar pernah dipanggi salah satu menteri dan mengancam akan memecat beliau karena salah satu kebijakannya. Tapi mereka tidak menyerah dengan tantangan dan tekanan tersebut karena mereka sadar bahwa apa yang mereka putuskan membawa kemaslahaatan untuk rakyat yang mereka pimpin.

Sebagai kesimpulan, Ahmad Fuadi (penulis negeri 5 menara) yang juga mengisi salah satu sesi di KBFP menyebutkan empat kriteria yang menurut pempinan pondoknya (Gontor) harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Keempat karakteristik tersebut adalah memiliki budi yang luhur, memiliki jiwa raga yang sehat, memiliki pengetahuan yang hebat, dan merdeka dalam berpikir serta bertindak. Dalam takaran yang beragam, menurut saya, keempat ciri ini dimiliki oleh pemimpin-pemimpin yang saya sebutkan di atas. Inovasi dan kebijakan mereka terlihat jelas mendukung kesejahteraan rakyat sebagaimana orang yang memiliki karakter bijak/luhur. Secara pengetahuan, saya sudah sebutkan kalau mereka adalah tipikal pemimpin yang haus pengetahuan. Dari aspek kesehatan, saya tidak melihat ada masalah dengan kesehatan mereka. Mereka tidak akan berani bertindak dan mendobrak jika mereka bukan orang yang merdeka dalam memimpin. Merdeka dari kepentingan diri dan kelompok tertentu.

Saya sepakat bahwa mereka bukanlah pemimpin yang sempurna, masih ada kekurangan dan kelemahan di sana sini. Akan tetapi bangsa ini tidak bisa dibangun dengan hanya berfokus pada kekurangan dan masalah. Inovasi dan terobosan mereka sangat layak untuk diapresiasi. Nah, DNA yang ada dalam tubuh kepemimpinan merekalah yang seyogiayanya disuntik ke dalam pemimpin-pemimpin daerah lain untuk melahirkan inovasi dan kreatifitas. Semoga bermanfaat!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Comments

  1. Assalamualaikum bang…
    Saya sangat terinspirasi dengan stp tulisan2 abang di blog ini…
    Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pribadi.. Bisakah memberi tahu nomor Whatsapp abang? terima kasih. ini nomor WA saya : 085265899822

    Reply

Leave a Comment.