Merencanakan Pernikahan

NAMPAKNYA menarik juga membahas kembali tulisan berjudul “Mahar dalam adat Aceh” yang ditulis oleh Herman RN Minggu, 30 Oktober 2011 lalu di Serambi Indonesia. Di mana tulisan Herman lahir karena tulisan “Jaminan mahar Aceh” yang dimuat di Aceh Institute dianggap tidak mencerminkan sosok pemuda Aceh yang gigih untuk mendapatkan idaman hati.Mengisahkan persoalan mahar memang bukanlah cerita pendek yang akan habis dikupas dengan segelas kopi. Apalagi ini juga terkait marwah suatu keluarga. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak perempuan, tentu kami tak ingin anak perempuan kami dipinang oleh pemuda yang pasrah dengan keadaan. Kami selalu ikhlas dengan pemuda yang punya rencana. Yang selalu merencanakan pernikahannya sehingga tidak repot berdakwa-dakwi terkait mahar. Bukankah rezeki Allah SWT ini tidak akan habisnya kendati jumlah manusia di dunia mencapai 7 miliar orang? Kenapa harus pasrah?

Karena itu, bagi kami ada baiknya sekali-kali para anak muda Aceh melupakan persoalan mahar sejenak dan belajar merencanakan pernikahan. Apalagi menyambut pascapelaksanaan Idul Adha, di mana acap kali sejumlah keluarga melangsungkan akad nikah anak-anaknya.

Hal utama yang mesti diketahui oleh anak muda bahwasanya menikah merupakan salah satu aktivitas masyarakat yang diatur oleh negara. Aturan pernikahan tersebut diatur oleh pemerintah dalam UU No 1 Tahun 1974. Salah satu sisi UU yang menarik dicermati yakni pasal 7 ayat 1 dimana, warga negara Indonesia yang berjenis kelamin perempuan baru diizinkan menikah pada usia 16 tahun. Sementara kaum adamnya baru dibolehkan menikah jika sudah berusia 19 tahun.

Akan tetapi, dalam kerangka kerja Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dikenal istilah Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Berdasarkan Buku Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-hak Reproduksi Remaja Indonesia yang ditulis oleh Tim BKKBN pada 2010, maka pernikahan yang baik itu adalah ketika mempelai perempuan telah berusia 20 tahun dan mempelai pria 25 tahun.

Masalahnya, para orang tua acap kali menjauhkan diri membicarakan persoalan perencanaan pernikahan dengan anak-anaknya. Dalam konteks yang lebih umum, kita masih sering mendengar pernyataan membicarakan pendidikan seks dan juga perencanaan pernikahan dengan anak-anak merupakan hal yang tabu.

Anak-anaknya (dalam usia remaja) dianggap terlalu dini belajar mengenai seks dan rencana pernikahan. Mereka dianggap akan faham sendiri urusan menikah dan membangun keluarga. Padahal jelas dengan persoalan tingginya harga mahar yang dirasakan oleh anak muda Aceh saat ini, menunjukkan betapa orang tua harus belajar menjadi teman bagi anak-anaknya untuk merencakan pernikahan yang baik di mata agama dan tentunya akan baik di mata masyarakat.

Masih dalam konteks kerangka program kerja BKKBN, dikenal istilah pendewasaan usia perkawinan dan kesiapan ekonomi keluarga. Di sinilah yang kami maksud secara detail perlunya keikutsertaan orang tua dalam memberikan pandangan betapa pernikahan itu baiknya dilandaskan dengan kematangan ekonomi. Kematangan ekonomi ini pada dasarnya bisa diartikan sebagaimana kebutuhan masing-masing personal.

Jika seorang pemuda ingin menikahi gadis berpendidikan lagi terampil dan cantik parasnya, tentu pula kematangan ekonomi yang kami maksud di atas haruslah disesuaikan dengan kondisi keluarga gadis itu. Lumrah dalam tradisi Aceh demikian. Akan tetapi tentulah semuanya dilandaskan pada musyawarah kedua pihak keluarga sebagaimana tulisan Herman.

Apa pun itu, tentulah si pemuda harus sadar diri. Jika ingin menikah dengan gadis yang cantik aduhai itu, maka siapkanlah diri menuju kematangan ekonomi sebagaimana didefinisikan sendiri. Tak mungkinlah berharap istri cantik lagi pintar dan shaleha jika hanya berharap durian runtuh di sejumlah pojok warung kopi. Atau sekadar berdoa lewat status facebook begitu juga twitter. Saya kira, anak-anak muda Aceh haruslah menjadi orang-orang yang realistis dan terukur. Karena sungguh Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum bilamana kaum tersebut tak pernah berupaya mengubah dirinya sendiri. (QS. Ar-Ra’du (13):11)

Sekali lagi, di sini sangat dibutuhkan peran orang tua untuk selalu memotivasi anak-anaknya dalam membangun cita-cita ekonomi yang matang. Perlu menekankan kebiasaan menabung sejak dini, seperti halnya menabung untuk mahar. Jikalau ingin alternatif pilihan yang lain, saat ini sejumlah bank pun sudah menggelontorkan program investasi emas jangkan panjang. Ini pun bisa dipilih untuk mengatasi persoalan mahar.

Di lain sisi jikalah benar Serambi Mekkah ini sudah sulit memberikan lapangan kerja, kenapa tidak menyemangati mereka untuk terbang ke luar Aceh. Bukan tak tertutup kemungkinan justru rezeki mereka ada di sana. Hanya saja, untuk merantau ke luar Aceh pun haruslah direncanakan. Setidaknya persiapkanlah spesialisasi kemampuan (skill) sehingga tidak menjadi pekerja kelas bawah yang bisa ditunjuk seenaknya dengan ujung kaki. Dengan demikian, mungkin anak-anak muda Aceh akan menjadi bos-bos kecil di negeri orang. Mungkin pula Allah SWT sudah menuliskan jalan jodohnya yang lain. Siapa nyana gadis yang dicari rupanya dari negeri sebelah.

Akan tetapi sebagai seorang ibu, alangkah indah jika setelah sukses mereka kembali ke Aceh. Kita punya banyak mawar yang senantiasa harum mewangikan jalan-jalan kebaikan. Tinggal pilih saja mawar mana yang berkenan di hati. Di sisi lain ini bukan sekadar persoalan mawar mana yang dicari. Melainkan semangat berbagi sukses dengan anak-anak muda lainnya. Akan lebih baik kesuksesan yang didapat bisa diinvestasikan di Aceh sehingga terbuka lapangan kerja yang berlimpah. Kami yakin dengan begitu, suatu saat anak muda Aceh tidak akan ribut lagi dengan persoalan mahar. Karenanya untuk mendapatkan pernikahan yang baik, maka semuanya harus direncakan sejak dini dengan matang.

* Penulis Khuzaimah adalah Widyaswara Madya BKKBN Provinsi Aceh.