Mudahnya Beribadah di Australia

Citizen Reporter ini sudah dipublikasi di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Kompas-Gramedia) pada tanggal 6 Maret 2015. Silakan klik HERE untuk membaca versi elektroniknya.

Photo Adam

***

OLEH MUHAMMAD ADAM, Penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship, melaporkan dari Adelaide

PERJALANAN studi saya ke Adelaide, Australia, saat ini memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk menyaksikan banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di Aceh. Salah satunya adalah hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Selama di Negeri Kanguru ini saya merasa tak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar bahwa masjid dan mushalla di sini tidak menjamur seperti halnya di Indonesia, apalagi di Aceh. Meski tidak banyak, tapi setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat.

Di Flinders University, misalnya, tempat saya kuliah sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat Jumat. Tak hanya di Australia, saat mengikuti short course di Amerika pun ketika masih mahasiswa, saya juga punya pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, akses ke tempat ibadah memang tak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan mushala atau masjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya amati teman-teman muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkretnya pada hari Jumat, mereka tetap memilih untuk izin tak ikut kuliah dan memilih menunaikan shalat Jumat jika ada kuliah pada saat bersamaan.

Yang saya rasakan di sini bahwa solidaritas kita sesama muslim meningkat pesat ketika kita menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli terhadap sesama pun justru berbiak lebih tinggi ketika kita berada di luar negeri. Kita kian terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika berada dalam kondisi yang jauh dari orang tua, keluarga, atau berbagai kemudahan yang biasanya ada di sekeliling kita.

Di Australia ini juga saya temukan banyak hal menarik di luar kampus. Misalnya, ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim di sini. Di Adelaide, misalnya, saya temukan sudah ada empat komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. Di sini ada Masyarakat Islam Australia Selatan (MIAS), Kajian Islam Adelaide (KIA), juga ada Pengajian Bapak-bapak yang disingkat PBB, di samping Komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalnya, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan para pengurusnya sedang menginisiasi madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orang tuanya studi atau kerja di Australia.

Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh, kelompok Pengajian Bapak-bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan Alquran secara bergiliran, kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan Alqurannya lebih tepat dan enak didengar. Terakhir, ditutup dengan tausiah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat Magrib berjamaah.

Jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Antusiasme mereka sangat tinggi. Tidak hanya sekadar datang, mereka juga membawa makanan untuk dinikmati bersama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilir di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tapi pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agama mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturahmi. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti pengajian ini mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi tentang akomodasi, kuliner, transportasi, bahkan lowongan kerja. Intinya ada banyak manfaat yang tak disangka-sangka dapat dipetik dengan menghadiri pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia dan selalu ada hikmahnya.