Mudahnya Beribadah di Australia (Versi Lengkap)

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

gambar dari://gambarnasihat.wordpress.com-

Dalam anjuran ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’ terkandung banyak pesan, salah satunya adalah supaya mata kamu lebih terbuka karena banyak yang sudah kamu lihat dari proses perjalananmu. Mungkin begitu perasaan yang tepat untuk mengambarkan apa yang saya alami sekarang di Australia. Perjalanan studi saya ke Adelaide, Australia memberikan banyak kesempatan kepada saya untuk melihat dan menjalani banyak hal yang berbeda dari apa yang saya pikirkan ketika masih di tanah air. Salah satunya yaitu hal-hal seputar agama, terutama menyangkut ibadah.

Dari beberapa perjalanan saya ke luar negeri, Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman atau masyarakat sekitar terkait kekhawatiran mereka bagaimana kepastian dan keamanan untuk mengaplikasikan kepercayaan kita di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti Bagaimana tempat shalatnya? Kalau jumatan, ada mesjidnya tidak di kampus atau yang di dekatnya? Kalau cewek berjilbab dicurigai tidak? Pasti sudah mencari makanan halal di negeri barat ya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan sejenis. Di satu sisi, wajar mereka memiliki ketakutan-ketakutan seperti itu karena mereka hanya menerima informasi dari sumber-sumber seperti media massa yang belum tentu seratus persen kebenarannya. Tetapi terkadang ketakutan-ketakutan yang terlalu berlebihan juga terkesan lebay menurut saya.

Pada faktanya justru apa yang dikhawatirkan oleh banyak orang yang umumnya (maaf) belum pernah ke luar negeri tidak seperti yang mereka pikirkan. Tidak sesadis yang ada dalam bayangan mereka. Saya merasa tidak ada hambatan yang berarti untuk menunaikan ibadah, terutama untuk shalat wajib lima waktu. Memang benar jika mesjid dan musalla tidak menjamur seperti di Indonesia. Pun tidak banyak, setiap kampus yang pernah saya kunjungi pasti menyediakan ruang untuk shalat. Di Flinders University misalkan, tempat saya menempuh studi sekarang, fasilitas yang disediakan justru bisa digunakan untuk shalat jumat. Tidak hanya di Australia, dalam pengalaman saya mengikuti shortcourse di Amerika ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga memiliki pengalaman baik yang sama.

Kalau dilihat dari sisi kemudahan, aksesnya memang tidak semudah seperti di Indonesia yang dengan gampang kita dapatkan tempat ibadah seperti musalla atau mesjid di hampir setiap sudut bangunan atau kota. Menurut pengalaman pribadi saya justru di dalam kondisi-kondisi seperti ini dorongan untuk beribadah itu meningkat lebih tinggi. Bahkan saya mengamati teman-teman Muslim yang studi di luar negeri, kadar keimanannya lebih bagus ketika berada di luar negeri. Meskipun tidak bisa diukur, tapi melihat semangat beribadahnya itu sangat jauh dari sikap manja, bahkan sangat mandiri dan berani dalam mengambil sikap atas kepercayaannya.

Contoh konkritnya yaitu hari jumat, mereka tetap memilih untuk izin tidak mengikuti perkuliahan dan menunaikan shalat jumat jika ada kelas pada saat bersamaan. Saya tidak yakin akan ada semangat yang sama kuatnya pada saat dihadapkan dengan pilihan-pilihan penting ketika berada di dalam negeri. Mungkin akan sangat mudah untuk anda tunda shalat zuhur karena masih ada pekerjaan penting yang belum selesai anda selesaikan. Atau dengan gampangnya anda bilang shalat magrib di rumah aja jika anda pulang kantor meskipun anda tau tidak akan terkejar jika shalat di rumah. Ironi memang, ada banyak orang mengabaikan untuk memaksimalkan kemudahan yang ada di depan mata. Dalam kondisi dimana sumber dayanya tidak banyak, kita justru lebih all-out dalam menjalaninya. Solidaritas kita meningkat ketika menjadi minoritas. Rasa persaudaraan dan sikap peduli sesama lebih tinggi ketika berada di luar negeri. Kita semakin terdorong untuk berbuat baik lebih banyak ketika kita berada dalam kondisi yang jauh dari orangtua, keluarga atau kemudahan-kumudahan yang ada. Makanya tidak heran jika ada orang yang alim justru di penjara bukan di pesantren.

Kembali lagi persoalan ibadah di Australia, saya menemukan banyak hal menarik tidah hanya di kampus. Di luar dunia kampus, saya melihat ada banyak kelompok pengajian yang dibentuk atas inisiatif masyarakat muslim sendiri. Di Adelaide, setidaknya saat ini saya menemukan sudah ada 4 komunitas pengajian yang sudah tumbuh lama. MIAS atau Masyarakat Islam Australia Selatan, ada KIA (Kajian Islam Adelaide), ada juga Pengajian Bapak-Bapak yang disingkat PBB dan juga komunitas An-Nisa untuk wanita.

Bentuk dan kegiatan organisasinya pun beragam. MIAS misalkan, sudah memiliki legalitas dan terdaftar sebagai salah satu organisasi di Adelaide. Bahkan saya mendapatkan informasi kalau para pengurusnya sedang menginisiasikan madrasah sebagai penyeimbang pendidikan anak-anak muslim usia sekolah yang orangtuanya studi atau kerja di Australia. Terkait proses pembelajarannya, kelompok-kelompok pengajian tersebut juga merancangnya dengan baik dan menarik. Sebagai contoh kelompok Pengajian Bapak-Bapak yang pernah saya hadiri, kegiatannya diawali dengan pembacaan ayat alquran secara bergiliran kemudian dilanjutkan dengan belajar tajwid supaya bacaan alqurannya lebih tepat dan enak di dengar. Terakhir ditutup dengan tauziah interaktif untuk menambah pemahaman agama sebelum menunaikan shalat ibadah magrib secara berjamaah.

Luar biasanya lagi, jamaahnya juga banyak. Bahkan terkadang jamaah yang hadir lebih banyak dari majelis taklim di desa saya di Aceh. Melihat antusiasme mereka yang sangat tinggi layaknya membuat ibu-ibu atau bapak-bapak di kampung-kampung di Indonesia merasa cemburu. Tidak hanya sekedar datang, mereka juga membawa makanan untuk kemudian dinikmati bersama-sama anggota jamaah. Lokasi pengajiannya juga digilirkan di rumah-rumah warga secara bergantian. Kalau dilihat dari segi proses pembelajarannya memang tidak ‘seserius’ pengajian-pengajian di pesantren atau majelis taklim di Indonesia, tetapi kegiatan-kegiatan pengajian tersebut tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan pengetahuan agaman mereka. Ada banyak manfaat lainnya yang bisa didapatkan. Kehadiran mereka mengikuti pengajian juga bisa menambah teman dan menjalin silaturrahim. Sebagian besar mahasiswa baru yang mengikuti kegaitan-kegiatan pengajian mengakui sangat merasakan manfaatnya karena mereka juga bisa mendapatkan banyak informasi seperti akomudasi, konsumsi, transportasi bahkan juga pekerjaan. Intinya ada banyak manfaat yang tidak disangka-sangka datang dengan menghadiri acara-acara pengajian atau majelis taklim di sini. Begitulah mudahnya beribadah di Australia.