Sikap Mahasiswa Aceh di Australia atas Pernyataan PM Abbott

Berikut ini adalah pandangan  saya tentang kisruh pernyataan PM Tony Abbott, kasus narkoba dan gerakan pengumpulan koin. Saya posting pendapat-pendapat saya sebelumnya di BLOG ini. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai wartawan kemudian merelease nya di media online Viva News.
Ini adalah versi media—yang versi lengkapnya bisa anda baca di blog saya atau click HERE.
Terimakasih

Photo dari: pamongreaders.com

Hadi Suprapto,  Zulfikar Husein (Lhokseumawe) Selasa, 24 Februari 2015, 11:40 WIB

VIVA.co.id – Mahasiswa asal Aceh yang sedang melanjutkan studi di Australia berharap hubungan antara Indonesia dan Australia tidak terganggu karena pernyataan Tony Abbott soal bantuan tsunami. Mahasiswa juga mengapresiasi aksi mengumpulkan koin yang dilakukan di Indonesia.

“Saya merasa sedih mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta balas jasa atas bantuan tsunami yang sudah diberikan. Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi,” kata Muhammad Adam kepada VIVA.co.id, Selasa, 24 Februari 2015.

Mahasiswa yang juga merupakan korban tsunami pada 2004 silam ini menilai penting memikirkan lagi manfaat dari gerakan tersebut. Ia berharap, gerakan itu tidak sampai menjadi blunder bagi hubungan kedua negara.

Adam juga menyesalkan pernyataan PM Australia Tony Abbott. Ia menilai, sebagai seorang pemimpin, Tony Abbott tidak sepantasnya bersikap seperti itu. “Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak,” kata dia.

Secara pribadi, kata Adam, ia melihat kasus terpidana mati Bali Nine dan tsunami berbeda. Kata dia, dana tsunami adalah bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.

“Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal,” katanya.

Ia berharap baik Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba. Sebab menurutnya, efek narkoba memang memiliki risiko mahal yang harus ditanggung.

Aplikasi Beasiswa AAS

Ada banyak teman yang sedang hunting beasiswa Australia Awards Scholarships membutuhkan contoh aplikasi, terutama dari teman-teman yang sudah lulus. Saya memiliki pengalaman yang sama ketika mendaftar beasiswa ini dahulunya. Bagi banyak orang dalam mendaftar beasiswa, apapun itu, Saya melihat banyak pendaftar  yang meminta contoh aplikasi. Mungkin salah satu pertimbangannya untuk melihat bagaimana mereka yang sudah lulus mengisi aplikasi, terutama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.

Photo dari : pinoyworkandstudyabroad.blogspot.com

Berikut ini adalah aplikasi saya ketika mendaftar beasiswa AAS tahun 2013. Apa yang saya tulis dalam aplikasi ini berdasarkan informasi yang saya miliki ketika mendaftar. Anda tidak perlu melihat konten atau informasi tentang saya. Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model.   Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!

Silakan click DISINI untuk mengunduh formulirnya.

Terimakasih

Eksekusi, Tsunami dan Perdana Menteri

PENTING!!!

Bahasa dan Konten dari tulisan ini murni pandangan pribadi saya. Saya tidak mengeluarkan pernyataan di bawah ini atas nama organisasi atau orang lain. Saya menulis ini karena merasa memiliki beban moral sebagai korban tsunami, warga Aceh, penerima beasiswa dari pemerintah Australia dan juga sedang belajar di Australia.

Photo Adam

***

Melihat perkembangan isu yang semakin hangat  di masyarakat Aceh dan Indonesia serta Australia pada umumnya terkait pernyataan Perdana Menteri Tony Abbott yang menghubungkan bantuan Tsunami dan rencana eksekusi mati terhadap pengedar narkoba berkebangsaan Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (Bali Nine), sebagai orang Aceh yang sedang studi di Australia dan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Australia, saya punya beberapa pandangan subjektif:

Pertama, sebagai Mahasiswa dan pemuda Aceh yang juga memiliki keluarga sebagai korban Tsunami, saya merasa ‘sedih’ mendengar pernyataan PM Tony Abbott yang terkesan meminta ‘balas jasa’ atas bantuan Tsunami yang sudah diberikan. Sebagai seorang pemimpin, saya pikir pernyataan PM Abbott tersebut kurang bijak. Karenanya memunculkan sikap reaktif dari rakyat Aceh selaku korban Tsunami dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Kedua, bagi saya pribadi, saya melihat kasus narkoba dan tsunami secara berbeda. Dana Tsunami adalah bantuan yg diberikan atas dasar kemanusiaan dan tidak hanya Australia yang membantu Aceh dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Tsunami. Ada puluhan negara lainnya yang ikut terlibat membantu Aceh pasca diporak-porandakan oleh gempa dan gelombang Tsunami tahun 2004.  Sedangkan rencana mengeksekusi mati pengedar narkoba adalah kasus kriminal. Dan eksekusi mati untuk kejahatan narkoba tidak hanya berlaku untuk warga Australia. Tetapi sudah banyak warga negara asing lainnya yang sudah pernah dieksekusi mati, bahkan warga negara Indonesia sendiri juga tidak mendapatkan perlakuan istimewa dalam kasus kejahatan narkoba. Artinya, kurang fair menghubungkan bantuan kamanusiaan dengan kriminalitas.

Ketiga, guna untuk kepentingan yang lebih besar bagi pemerintah dan masyarakat kedua negara, saya pikir sebaiknya : (1) Pemerintah Australia dan Indonesia untuk taat pada hukum masing-masing negara, tidak terkecuali untuk kasus kejahatan narkoba karena efek narkoba memang mahal resiko yang harus ditanggung.  (2) Gerakan Warga #KoinUntukAustralia di media sosial dan dunia nyata layak diapresiasi. Namun perlu dipikirkan lagi outcome yang ingin dicapai melalui gerakan ini. Penting untuk menentukan ultimata goal nya supaya aksi yang dilakukan juga berdampak positif, bukan malah jadi blunder. Jika ingin menyampaikan sikap protes atas pernyataan PM Abbott, menurut saya,  pesan tersebut sudah tersampaikan secara luas kepada pemerintah Australia dan dunia international karena sudah banyak media lokal, nasional dan asing yang meliputnya.

Selain itu, terlalu berlebihan juga jika ada ambisi ingin mengembalikan bantuan tsunami yang jumlahnya mencapai $1 M (sekitar 13 T menurut keterangan mantan gubernur Irwandi Yusuf). Artinya jika benar-benar ingin mengembalikan dana yang sudah diberikan tersebut atas dasar pertaruhan ‘harga diri’ bangsa, menurut saya perlu juga dipikirkan bagaimana bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang besar itu. Tidak mungkin meminta warga Aceh menyumbang lebih dari koin atau memaksa korban tsunami menjual rumah bantuan yang sudah ditinggali.  (3) Kepada semua pihak yang berkepentingan, terutama warga Aceh dan korban tsunami, hemat saya, sangat penting untuk berpikir jernih dan bersikap lebih bijak dalam menyikapi kasus bali nine dan pernyataan PM Abbott. Jangan mudah terprovokasi dan menujukkan sikap-reaktif yang berdampak tidak baik terhadap hubungan dua negara.

Terakhir besar harapan saya semoga hubungan bilateral antara pemerintah dan rakyat kedua negara akan lebih  baik dan kuat. Semoga !!!

Press Release ANSA di Serambi Indonesia dan Atjeh Post

Press Release ANSA di Serambi Indonesia 16/2/15

Press Release ANSA di Serambi Indonesia 16/2/15

Press Release di Atjeh Post 18 Februari 2015. Klick Link INI untuk membaca release di media

18 February 2015
18 February 2015

***
Muhammad Adam, mahasiswa asal Aceh yang sedang menyelesaikan program pendidikan S2 di Flinders University,Adelaide, Australia dipercayakan menjabat sebagai ketua Aneuk Nanggroe South Australia atau ANSA.

ANSA merupakan komunitas masyarakat Aceh di Australia selatan yang telah berdiri sejak 2007. Selama satu tahun ke depan Adam akan mengkoordinir komunitas itu menggantikan Bambang Setiawan dan Rina Ariani sebagai ketua dan bendahara sebelumnya.

“Alhamdulillah saya bersama Nurfitriana dipercayakan oleh masyarakat Aceh di Adelaide untuk memimpin ANSA,” kata Adam kepada ATJEHPOST.co melalui surat elektronik.

Kegiatan ANSA selama ini adalah mengadakan temu ramah dengan mahasiswa baru, pengajian, buka puasa bersama, menjenguk orang sakit atau berdoa di tempat orang yang terkena musibah. Para anggotanya juga sering mengadakan pertemuan rutin.

“Secara fungsi, ANSA ini adalah wadah untuk menjalin komunikasi dan mempererat tali silaturrahim antara warga Aceh di Adelaide,’ katanya.

Saat  ini, warga Aceh di Australia Selatan berkisar sekitar 100 orang. Sebagian besar di antaranya adalah mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi S2 dan S3 di berbagai kampus di Australia.

Belajarlah Memasak jika Ingin ke Luar Negeri

Note::: Tulisan ini sudah dimuat di media cetak Harian Serambi Indonesia (Group Tribun/Kompas Gramedia) edisi Senin 9 Febuari 2015.  Silakan click di SINI untuk membaca di halaman situs media Serambi Indonesia.

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

Photo di ambil oleh Bapak Effendi Limbong

TROEK kapai baro pula lada, itu pepatah bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Belajar masak justru pada saat sudah tak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tak ada lagi yang bisa diandalkan sebagai guru memasak.

Untuk sebagian orang, memasak mungkin urusan gampang. Tapi bagi saya, terlihat mudah awalnya, namun pada praktiknya rumit. Sudah dua minggu lebih saya di Negeri Kanguru ini, namun belum ada masakan saya yang memuaskan. Buktinya, masak tumis udang kalau tak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedas dan panas karena cuci muka setelah pegang cabai untuk tumis kol.

Menanak nasi pun kalau tak kelebihan air, ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadar, takaran, maupun citarasanya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang rumit. Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang tiga kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain.

Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauknya hampir tiap saat disiapkan oleh orang tua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) di mana makannya sudah masuk paketan yang ditangani pihak sekolah.

Sampai selesai kuliah S1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet.

Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk memasak, belanja urusan dapur saja hampir selalu diserahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuanlah yang kebagian tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada, anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.

Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, malah sering dilarang. Soalnya, menurut sebagian besar masyarakat kita, itu bisa jadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina pemilik rumah.

Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi masakan-masakan yang lezat oleh mertua perempuan atau istrinya.

Secara historis, saya tak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tak tahu bagaimana praktik masak-memasak zaman dulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan penjajah, karenanya diperlakukanlah seperti raja. Sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat. Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga di mana tanggung jawabnya mencari rezeki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.

Itu hanya asumsi-asumsi dasar saya saja, tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun, terlepas dari baik-buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggung jawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil bagian dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggung jawab pria. Lantas, apa tanggung jawab wanita? Istri melayani suami. Bukankah begitu Islam mengajarkannya?

Kalaupun kita mau bahas pada tataran ideal seperti di atas, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, justru semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang. Celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkretnya ada di dalam keluarga saya sendiri.

Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, ibu saya yang menanganinya. Tak ada maksud untuk menunjukkan kejelekan “perusahaan” rumah saya sendiri, tapi memang ada figur yang tak ada tanggung jawab dan tidak adil pembagian porsi kerja dan tanggung jawabnya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tak salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri mencuci pakaian, tak akan turun derajat kelaki-lakian seorang suami yang menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik inilah, saya pikir, semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktivis gender perlu dikonkretkan. Seharusnyalah keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik, perlu dilatih pada anak laki-laki semenjak dini, sehingga tak terasa canggung atau kaku seperti yang saya alami kini saat berinteraksi dengan alat-alat dapur di Negeri Kanguru.

Learn to cook, learn to Survive

‘Troek Kapai Pula Lada’— itu pepatah Bahasa Aceh yang tepat menggambarkan apa yang saya alami sekarang. Melakukan sesuatu pada saat mendesak. Belajar masak saat sudah tidak ada lagi yang mempersiapkannya, saat tidak ada lagi yang bisa diandalkan. Untuk sebagian orang mungkin gampang, bagi saya terlihat mudah awalnya namun pada prakteknya rumit. Sudah 2 minggu lebih di sini, namun belum ada yang memuaskan. Buktinya? Masak tumis udang kalau tidak kelebihan asam, ya kurang garam. Wajah bisa pedes nan panas karena cuci muka setelah pegang cabe untuk tumis kubis. Masak nasi kalau tidak kelebihan air,  ya pasti kekurangan. Pokoknya belum ada yang kadarnya yang pas. Untuk masakan yang sangat mudah dan basic saja seperti itu, apalagi yang lain-lainya yang terlihat luaran saja rumit.

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Belajar Tumis Udang mentoring by Chef Fitriani Piter

Kenapa kok kesannya susah sekali? Sampai dengan keberangkatan ke Australia untuk melanjutkan studi, sepanjang umur hidup saya, soal makanan (terutama yang 3 kali sehari) selalu disajikan oleh orang lain. Dari semenjak lahir sampai dengan menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama (SMP), nasi dan lauk-lauknya hampir setiap saat disiapkan oleh orangtua, terutama ibu saya. Ketika SMA, saya masuk sekolah berasrama (boarding school) dimana makannya sudah masuk paketan yang ditangani oleh sekolah. Sampai dengan selesai kuliah S-1 pun, saya masih mengandalkan Ibu Dapur di sekolah karena saya masih tinggal di sana. Sesekali kalau nafsu makan berkurang dan lauk di dapur tidak mendukung, saya makan di warung yang sesuai dengan isi dompet. LoL.
Secara umum yang saya lihat di Aceh, kaum pria sangat jauh dengan persoalan dapur. Jangankan untuk masak, belanja urusan dapur hampir selalu di serahkan kepada kaum perempuan (selain beli ikan). Mulai dari masak nasi sampai dengan cuci piring dan gelas disiapkan oleh kaum hawa. Dalam keluarga yang sudah ada anak lelaki dan perempuan, hampir dipastikan anak perempuan mendapat tugas rumah (house work) lebih banyak. Kalaupun ada,  Anak lelaki biasanya hanya disuruh cuci piring dan gelas atau masak nasi.
Tidak hanya itu, dalam praktik keluarga yang baru menikah dan masih tinggal di pondok mertua indah, jika ada suami yang berinisiatif untuk memasak atau mencuci piring atau menyapu halaman rumah di pagi hari, sering dilarang. Karena menurut sebagian besar masyarakat itu bisa menjadi aib, melakukan hal-hal seperti itu seolah-olah menghina yang punya rumah. Secara umum, fase-fase awal pernikahan, sang suami selalu dihidangi dengan masakan-masakan yang lezat di atas meja makan oleh mertua perempuan atau istrinya.
Secara historis, saya tidak paham proses pembentukan budaya yang seperti ini. Saya tidak tau bagaimana praktik masak memasak jaman dahulu dari generasi ke generasi. Asumsi saya, dahulunya kaum lelaki kebanyakan ikut berperang melawan  penjajah, karenanya diperlakukan lah seperti raja. Dan sebagai sokongan dari istri, dipersiapkanlah makanan supaya suami dan anak lelakinya tetap sehat dan kuat.  Atau boleh jadi, ada pemahaman kalau lelaki adalah penanggung jawab keluarga dimana tanggungjawabnya mencari reseki di luar rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga persoalan domestik mejadi tanggung jawab istri.
Itu hanya asumsi-asumsi datar saya saja tanpa pendalaman referensi lebih lanjut. Namun terlepas dari baik dan buruknya, idealnya menurut saya, kaum Adam juga tidak membatasi diri untuk mengurus urusan dapur. Memasak, mencuci piring atau belanja bukanlah tanggungjawab perempuan semata-mata. Lelaki juga harus ambil andil dalam urusan-urusan domestik. Kalaupun lelaki sebagai leader dalam keluarga, tanggung jawabnya tidak hanya sebatas mencari uang dan menyerahkannya ke Istri. Tapi lebih dari itu, mengurus persoalan rumah sampai dengan mendidik anak-anak dan menuntun istri juga harus menjadi tanggungjawab kaum pria. Lantas apa tanggungjawab wanita? Istri melayani suami. Bukan kah begitu Islam mengajarkannya?
Itu adalah level ideal. Kalaupun kita mau membahas pada tataran ideal, sudah kurang relevansinya budaya dapur urusan wanita untuk dipraktikkan zaman sekarang. Saat ini, semakin banyak kaum perempuan yang juga menjadi penopang keluarga dengan mencari uang dan celakanya mereka juga harus menanggung beban ganda dengan mengurus urusan domestik (double burden). Salah satu praktik konkritnya ada di dalam keluarga saya sendiri. Mulai dari urusan sawah dan ladang sampai dengan urusan anak dan membersihkan rumah, Ibu saya yang menanganinya.
Tidak ada maksud untuk menunjukkan kejelakan perusahan rumah saya sendiri, tetapi memang ada yang tidak ada tanggungjawab yang tidak adil pembagiannya. Hemat saya, harus ada pembagian peran yang proporsional. Jika istri menjaga anak, tidak ada salahnya suami menyiapkan makanan. Kalau istri menyuci pakain, tidak akan turun derajat kelaki-lakiannya jika dia menyapu atau membersihkan halaman. Pada titik ini lah, saya pikir semangat kesamaan hak yang diperjuangkan oleh mereka yang menamakannya aktifis gender. Jika memang demikian, seharusnya keterampilan memasak, sebagai salah satu urusan domestik,  seharusnya dilatih semenjak dini, sehingga tidak terasa canggung atau kaku seperti saya ketika berinteraksi dengan alat-alat dapur.
Apapun itu,  saya harus tetap belajar memasak meskipun sudah telat. Better late than never kata orang bijak. Lebih baik telat dan bersusah payah belajar dari dasar meskipun sudah telat. Terlebih lagi, saya sangat susah menyesuaikan diri dengan makanan. Terlepas urusan penghematan anggaran, tapi entah kenapa lidah saya yang sering makan asam sunti, terasi dan tumis udang di kampung tidak bisa saya sesuaikan dengan makanan-makanan ala western. Where there is a will, there is a way. Thank God, selalu ada kemudahan yang diberikan tuhan. Saat ini, setidaknya saya punya Kakak yang siap membimbing saya 24/7 seperti anaknya sendiri. I owe you a two-year life Kak Fitri. Terakhir, benar kata (Prof) Hadiyanto, memasak adalah salah satu keterampilan untuk bisa survive alias survival skills.

Saman Tampil di atas Mobil di Australia Day

Tarian Saman sepertinya memang selalu punya tempat khusus dalam setiap ruang dan waktu. Hampir dalam setiap kegiatan semisal festifal, karnafal ,upacara  atau acara-acara formal tertentu, saman selalu hadir menghibur massa. Tidak hanya warga Aceh tetapi juga masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri dalam banyak kesempatan selalu berusaha menampilkan tarian yang mengandalkan gerakan tubuh ini. Menariknya, tarian yang sudah mendapat pengakuan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda tersebut tidak hanya diminati oleh warga Indonesia, tetapi juga oleh orang asing.

SamanTahun ini, tarian saman juga ambil andil dalam parade di hari perayaan Australia Day tanggal 26 Januari. Di Adelaide, tempat penulis belajar sekarang, saman dimasukkan sebagai salah satu menu utama yang diandalkan oleh Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam perayaan tahunan tersebut. Para dancers yang beranggotakan pelajar dari berbagai perguruan tinggi di Australia Selatan berdendang ria menunjukkan kebolehannya di atas mobil yang mengikuti rombongan parade yang berjalan sekitar 1 KM.
Menurut Koordinator Saman, Ibu Wi Alfarina, saman tidak hanya tampil di Australia Day tetapi dalam berbagai event di South Australia seperti Indonesian Festival Day, saman selalu unjuk gigi di depan publik Australia dan masyarakat International. Sebuah kebanggaan group saman di Adelaide dikelola oleh masyarakat yang bukan berdarah Aceh tetapi anda pasti akan lebih berbangga diri karena peran Syekh tetap tidak tergantikan oleh warga non-Aceh. Syair-syair yang mengandung berbagai pesan syar’I dalam Bahasa Aceh yang membutuhkan kemampuan berbahasa daerah tersebut dilantunkan oleh alumni dari Universitas Syiah Kuala, Marissa Yustara Muzammil, yang sedang menyelesaikan studi masternya di Flinders University.
Parade Australia Day di Adelaide yang dimulai dari Victoria Square dan berakhir di Elder Park adalah parade terbesar di Australia. Karenanya acara yang layaknya karnafal ala Indonesia itu sangat berwarna dengan peserta lebih dari 150 komunitas dari berbagai negara. Beragam budaya dan kesenian dari  berbagai Negara yang penduduknya berdomisili di Australia berpartisipasi dalam acara tersebut. Berbagai keunikan dan kekahasan dari masing-masing negara di tampilkan.  Misalkan Cina dengan tarian naganya. Bahkan sanking beragamnya, telinga dan mata anda dimanjakan mulai lantunan berbahasa arab dengan pakain menutup seluruh badan dari negara-negera timur tengah sampai dengan penampilan budaya Brazil dengan pakain ala kadarnya.
Dalam parade yang dimeriahkan dengan konser dan kembang api tersebut, selain saman, Indonesia juga mengeluarkan banyak kekayaan budaya dan kesenian dari berbagai daerah untuk tampil dalam acara tersebut. Ada Reog Ponorogo dari Jawa Timur, tarian Tortor Batak dari Sumatera Utara, tarian Bali, ondel-ondel dan berbagai keragaman budaya lainnya.
Terlepas dari gegap gempita parade di berbagai kota di Australia, namun masih ada catatan merah yang masih harus diperbaiki oleh pemerintah Australia dan masyarakatnya. Persoalan tersebut adalah pengakuan hak-hak kaum Aborigin yang masih banyak diabaikan. Meskipun secara resmi, mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd sudah meminta maaf kepada warga Aborigin pada tahun 2008, namun masih banyak luka yang tertinggal antara pendatang dan masyarakat Aborigin. Berbagai diantaranya yaitu isu pendidikan, kesehatan, tanah, pengangguran, kesempatan bekerja,  kesejahteraan, dan perbedaan kelas sosial yang masih sangat kental.
Karenanya di beberapa kota di Australia, Australia Day justru dimanfaatkan oleh berbagai kalangan yang peduli dengan nasib warga aborigin untuk berdemontrasi. Mereka turun ke jalan-jalan untuk menyampaikan aspirasi, menuntut pemerintah Australia memprioritaskan hak-hak kaum aborigin. Ada pesan penting melalui aksi mereka yang ingin disampaikan kepada masyarakat International baik yang berada di Australia maupun di luar negeri untuk tidak hanya melihat Australia sebagai Negara yang makmur dengan segala kemewahannya yang ditunjukkan di luar, namun masih ada persoalan-persoalan mendasar yang belum diselesaikan pada tataran grass root yaitu hak warga Asli Australia. Apapun itu, Parade is Parade, saman tetap menjadi daya tarik tersendiri.

Yang Tua Yang Melayani

Ada yang luput dari perhatian saya sebelumnya saat melakukan perjalanan ke luar negeri. Salah satunya yaitu layanan yang diberikan kepada pelanggan. Dalam perjalanan ke Adelaide, Australia untuk melanjutkan studi beberapa waktu lalu, perhatian saya terfokus kepada pramugari dan pramugara dalam pesawat Qantas. Awak pesawat yang bertugas melayani para penumpang tersebut sudah berusia di atas 35 tahun. Meskipun prediksi umur itu hanya perkiraan saya saja, tetapi apa yang terlihat secara fisik, usia mereka memang tidak dikatagorikan lagi anak gadis, kalaupun tidak sopan mengatakan mereka sudah tua.

Photo dari blog.clientheartbeat.com

Karena aspek usia tersebut menarik,  saya baru menyadari ketika pergi ke Ohio, Amerika pada saat masih menjadi Mahasiswa, hal yang sama juga ada. Orang-orang yang bertugas melayani di dalam pesawat sudah berusia di atas rata-rata dari apa yang sering saya lihat sebelumnya. Menariknya lagi, kalau dilihat secara fisik, beberapa di antara mereka ada yang berkulit (maaf) hitam. Awalnya saya berpikir, karena ini perjalanan international makanya pihak perusahaan mempekerjakan orang-orang yang sudah berpengalaman, ternyata untuk perjalanan domestik juga sama. Usia mereka umumnya juga sudah di atas 35 tahun.
Pemandangan di dalam pesawat tersebut membuat saya terfokus pada tempat-tempat umum lainnya yang sifatnya melayani pelanggan. Salah satunya yaitu di bank. Beberapa Bank yang pernah saya datangi ketika di Amerika dan Australia, karyawan-karyawan yang bertanggungjawab melayani nasabah sudah tidak muda lagi secara usia. Kalaupun tidak dikatakan tua, yang jelas kulit mereka sudah tidak kencang lagi. Tidak hanya di Bank, beberapa pusat perbelanjaan (shopping centre), kebanyakan kasir juga sudah berusia di atas 30-an.
Ada yang berbeda dari pelayanan-pelayanan di luar negeri dengan apa yang sering saya lihat di negeri kita. Di pesawat misalkan. Jika anda memperhatikan, perusahan pesawat yang melayani perjalanan domestik (antar kota)  pada umumnya merekrut awak pesawat yang bertugas melayani penumpang dengan usia yang relatif masih muda. Beberapa iklan lowongan kerja yang pernah saya baca juga, usia untuk pelamar dibatasi tidak melebihi 25 tahun.
Tidak hanya di dunia penerbangan, coba anda lihat di bank-bank di Indonesia. Para teller dan karyawan lainnya hampir tidak ada yang berusia di atas 40 tahun. Begitu juga di mall atau supermarket, pada umumnya yang menjaga toko adalah anak-anak gadis yang masih berusia 20-30 tahun.
Pada prinsipnya, tidak ada yang salah dengan perusahan-perusahan yang memperkerjakan karyawan yang masih muda untuk melayani penumpang, nasabah atau pembeli. Saya tidak tau apa alasan prinsipil yang mendasari kebijakan-kebijakan perusahaan yang bergerak di custumer service, pada umumnya merekrut pekerja yang masih muda, cantik dan memiliki postur tubuh ideal. Idealnya substansi melayani tidak tertutupi dengan persoalan-persoalan fisik yang sifatnya sangat relatif. Coba anda perhatikan ada berapa banyak pramugri yang berkulit hitam yang anda temui di pesawat. Jika anda perhatikan di Bank, hampir tidak ada karyawan yang bermuka pas-pasan.
Seyogianya kemampuan service yang dikedepankan, bukan persoalan fisik. Tidak ada yang salah dengan kulit hitam atau tubuh yang tidak ideal, selama mereka mampu melayani dengan sepenuh hati seharusnya mereka juga direkrut menjadi pelayan-pelayan penumpang, nasabah atau konsumen. Saya tidak bermaksud menghakimi orang berkulit hitam atau bermuka ala kadar tidak boleh melayani. Akan tetapi begitulah faktanya yang sering kita lihat di negeri kita. Seolah-olah kalau anda tidak cantik, tidak tinggi, tidak berkulit putih, anda tidak boleh melamar jadi pramugari atau karyawan di Bank. Pada titik inilah menurut saya praktik diskriminasi terjadi. Ada kesempatan yang sepertinya dibedakan karena persoalan fisik yang jelas-jelas itu pemberian tuhan yang tidak bisa kita tawar menawar.
Terakhir, saya tidak bermaksud melakukan komparasi antara negara kita dengan negara-negara yang sudah lebih maju. Saya tidak mau terjebak dalam syndrom inferior dengan kemampuan negara sendiri. Saya sadar kita sedang berjuang untuk menjadi negara yang lebih beradab. Akan tetapi segala sesuatu yang baik itu bisa kita pelajari dan dapatkan dari mana saja. Persoalan melayani adalah wilayah mental bukan membanding-bandingkan tubuh. Menurut saya, ada persoalan mendasar yang harus kita ubah yaitu karakter atau mental kita. Sering kita lihat tagline Anda adalah Priortias Kami atau Anda puas, kami senang. Meskipun motto (value) seperti itu dipampang besar-besar oleh perusahan-perusahan yang hidup-matinya dari kepuasan pelanggan, namun kalau mental manajemen dan karyawan yang tidak punya dedikasi melayani, hemat saya, pelanggan tetap tidak akan puas. Kendatipun mereka memperkajakan perempuan cantik dan berpenampilan menarik, tidak berefek kepada pelanggan. Toh yang tua juga tetap mampu melayani sepenuh hati dengan dedikasi tinggi.

Pertukaran Tokoh Muda Muslim Tahun 2015

Pendaftaran Program tahunan Pertukaran Tokoh Muslim Muda (Muslim Exchange Program) antara Indonesia dan Australia  untuk tahun 2015 sudah dibuka. Program kepimimpinan ini berdurasi dua minggu. Program MEP bukan program penyaringan guru-guru yang mengajar kitab arab gundul atau mereka yang menghafal alquran atau guru guru-guru agama atau pimpinan pesantren. Ini bukan program pengajian. MEP adalah program kepemimpinan yang bertujuan untuk membuka pemahaman dan memberikan pengalaman baru kepada anda tentang bagaimana anda MELIHAT agama dalam perspektif yang luas. Karenanya, siapapun anda,  akademisi, guru pesantren, dosen, aktifis, hafiz/ah, pengusaha, pegiat komunitas-komunitas, wartawan atau apapun profesi anda, asalkan anda punya semangat dan berkontribusi untuk kehidupan beragama yang lebih baik di Indonesia (tentunya sesuai kapasitas anda), silakan anda daftar. Tapi jangan lupa baca syarat-syarat yang harus anda penuhi sebelum mengirim aplikasi.

Selama 13-14 hari tersebut, anda akan dijadwalkan untuk berkunjung, menemui, berdiskusi dan bertukar pengalaman serta pemikiran seputar isu-isu keagamaan dan hal-hal yang berkaintan dengan akademisi, peniliti, awak media, seniman, politisi, pemerintah, pegiat dan tokoh lintas agama yang ada di Kota Melbourne, Shepparton, Canberra dan Sydney.

Dalam kunjungan dua minggu ke Australia, anda tidak hanya berdiskusi seputar isu-isu agama dengan berbagai stake holders tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman tentang peranan agama di masing-masing negara. Manfaat menarik lainnya adalah membangun jaringan dan juga mengelilingi Kota Melbourne, Sydney dan Canberra yang tentunya memberikan pengalaman berharga buat anda. Opsssss luruskan niat anda, mendaftar program MEP bukan untuk jalan-jalan. Jangan sampe tujuan jalan-jalan menghilangkan substansi program lho. OOT.

Untuk peserta dari Indonesia berjumlah 10 orang setiap tahunnya (pengalaman saya tahun 2012) dan untuk penyaringannya dilakukan oleh pihak Universitas Paramadina bekerjasama dengan Australia Indonesia Institute (AII). Keberangkatan ke Australia dibagi dua group. Lima orang pertama biasanya berangkat seputar bulan Maret atau April dan lima orang selanjutnya berangkat bulan Mei atau Juni.

Tahapan seleksi ada dua yaitu seleksi berkas (Administratif) dan seleksi interview. Jika berkas anda masuk shortlisted, maka anda akan dipanggil untuk wawancara di Jakarta. Tu tu tu kan, pasti anda bertanya, bagaimana tiketnya? akomudasinya ditanggung enggak? ketahuan tu muka-muka suka cari gratisan. Peace, just kidding. Jangan Khawatir, pengalaman saya ikut wawancara untuk program ini tahun 2011 dan 2012, transportasi dan akomudasi ditanggung donor kok. Karenanya, jangan buat aplikasi asal-asalan, setidaknya anda dipanggil ke Jakarta.  Lumayan kan ngerasa macetnya Jakarta. LoL.

Nah untuk pengiriman berkas/aplikasi keberangkatan tahun 2015 yaitu 19 Desember 2014. Untuk formulir dan informasi lebih lanjut dapat anda baca di situs Universitas Paramadina atau AII.

FYI >>>

Opera House-Sydney-Australia 23 Juni 2012

Opera House-Sydney-Australia 23 Junie 2012

Saya pernah membuat sedikit catatan dari perjalanan program ini tahun 2012 lalu, jika anda baca mungkin bisa menggambarkan sedikit banyaknya tentang tujuan, kegiatan-kegiatan, orang-orang yang anda temui, kota-kota yang akan anda kunjungi selama program ini. Silakan anda klik di KOMPILASI CERITA AUSTRALIA PART 1 untuk membaca tulisan-tulisan tersebut.

Silakan japri saya ke BBM (5345ec41) atau WA (+61452198772) jika ingin bertanya atau berdiskusi seputar program ini.

Selamat berjuang! Semoga mendapatkan yang terbaik. amin…

P.s

Berhubung banyak yang meminta applikasi saya ketika mendaftar MEP Tahun 2012 lalu, karenanya saya upload. Silakan anda klik di SINI untuk mengunduh dokumen-dokumen tersebut. 

Catatannya >>> Berkas applikasi saya tidak layak untuk anda jadikan ‘standar’ apalagi model. Apa yang tulis di applikasi didasari atas informasi yang saya miliki saat itu. Jadi, kalaupun anda mengikuti pola yang saya tulis di applikasi, tidak berarti aplikasi anda bagus dan lulus. Mungkin aplikasi saya bisa anda gunakan HANYA sebagai secondary atau supplementary information. Semoga Membantu !!!

 

[Serambi Indonesia] Islam Itu Bersih

Artikel di bawah dimuat di Harian Serambi Indonesia Edisi Jum’at 5 September 2014.

***

Sumber Gambar : http://stereotypex.com

Oleh Muhammad Adam

DALAM perjalanan menuju ke Bandara Internasional Kualanamu di Medan beberapa waktu lalu, saya singgah di satu masjid untuk shalat dan istirahat beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan. Ada pemandangan menarik di toilet masjid tersebut. Toilet di Masjid yang sering dijadikan tempat persinggahan tersebut terdiri dari dua bilik, satu khusus untuk pria dan satunya lagi khusus untuk wanita. Menariknya kedua bilik toilet tersebut tersedia sabun mandi.

Awalnya saya berpikir bahwa sabun mandi itu milik Remaja Masjid seperti apa yang sering saya lihat di beberapa masjid di Aceh, toiletnya juga digunakan untuk mandi oleh Remaja Masjidnya. Namun ternyata sabun di toilet masjid tersebut tidak hanya di satu kamar, di kamar sebelahnya juga disediakan. Keraguan-raguan saya tentang fungsi sabun tersebut tidak berlangsung lama, karena ada pengurus Masjid pada waktu itu. Beliau menjelaskan kalau sabun itu digunakan untuk membersihkan tangan setelah membuang air besar.

Kamar untuk membuang kotoran yang dilengkapi dengan sabun atau alat lainnya untuk membersihkan tangan setelah buang hajat adalah sesuatu yang sangat jarang saya lihat di Aceh. Saya hampir tidak pernah mendapati Masjid atau tempat-tempat ibadah yang toiletnya menyediakan fasilitas untuk membersihkan tangan setelah membuang kotoran. Hal itulah yang membuat saya menarik untuk menuliskan artikel ini dengan harapan kita bisa sama-sama memperbaiki keadaan. Menyediakan sebatang sabun memang hal kecil dan efeknya mungkin tidak terlalu besar. Namun praktek tersebut menunjukkan bagaimana detilnya Islam mengatur ummat untuk menjaga kebersihan dalam berbagai ruang dan waktu. Jangankan di tempat yang terbuka, dalam toilet yang tertutup dan digunakan untuk buang kotoran sekalipun harus tetap terjamin kebersihannya.

 Persoalan pertama
Islam sangat memprioritaskan kebersihan. Dalam perspektif Fiqh, kesucian adalah persolaan pertama yang diatur sebelum masalah ibadah-ibadah lainnya. Coba anda perhatikan awal pelajaran dari setiap Kitab Kuning yang dipelajari di dayah-dayah Salafi adalah membahas tentang thaharah (kesucian). Awal pembahasannya mengatur tentang tatacara menyucikan mulai dari apa yang kita gunakan sampai dengan apa yang kita makan. Persoalan yang diurus tidak hanya dalam situasi normal, dalam kondisi-kondisi genting seperti ketiadaan air juga diatur dengan sangat jelas dan rapi petunjuknya.

Kalau dilihat lebih jauh, Islam tidak hanya mengurus seputar persoalan menyucikan lahiriah seperti pakaian dan tempat ibadah, namun jauh dari itu ajaran Islam mengatur tentang menyucikan batin. Islam secara jelas mengatur umatnya untuk tetap menjaga kesucian hati dari sifat angkuh, iri, dengki dan serakah misalnya. Dalam hal lain, Islam juga secara jelas mengatur bagaimana menjaga kesucian harta dan kekayaan yang kita miliki. Pada intinya, Islam mengatur ummatnya untuk menjaga kesuciannya secara holistik dan komprehensif lengkap tanpa ada ruang kosong.

Namun apa yang terjadi di lapangan? Apa yang yang membuat umat Islam masih terkesan kotor? Tidak perlu melakukan pengamatan yang mendalam, coba anda perhatikan WC-WC yang ada di meunasah-meunasah atau musalla di seputar kita. Bagaimana kondisi lantainya? Bagaimana kondisi closetnya? Bagaimana kondisi tempat penampung airnya? Di luar itu, kalau kita melihat kota-kota yang di Aceh misalnya. Bagaimana kondisi kebersihannya? Apakah sulit anda menemukan sampah-sampah di emperan toko?

Mungkin terlalu jauh kalau kita mengharapkan sampah organik dan non-organik dibuang di tempat sampah yang berbeda. Toh budaya membuang sampah pada tempatnya saja, masih jauh dari harapan. Tidak hanya di tempat-tempat umum seperti toko dan kota, di sekolah-sekolah yang notabene hampir sepenuhnya peserta didik dan pendidiknya beragama Islam. Bagaiman kondisi kebersihan di sekolah-sekolah Islam kita? Coba anda perhatikan dinding-dinding ruangan kelasnya. Hampir setiap tahun pihak sekolah harus mengecet ulang karena banyak coretannya. Coba anda lihat meja dan kursi, bagaimana kondisinya? Saya yakin juga sangat memprihatinkan. Kalau di dunia pendidikan saja seperti itu, bagaimana lagi kondisinya di tempat-tempat umum lainnya?

Berbicara penataan tata ruang kota, kondisi sungai atau aliran air di belakang toko-toko dan perumahan susun di pusat-pusat kota, tampaknya masih butuh waktu banyak untuk menuju ke arah sana. Tidak heran dalam berbagai survey dan publikasi, kita hampir tidak pernah melihat kota-kota negara Islam masuk dalam kota yang bersih dan nyaman untuk ditinggali.

Karenanya tidak salah kalau kemudian ada stereotipe dari masyarakat luar, terutama dari Negara-negara barat yang mayoritas penduduknya non-muslim menganggap Negara-negara yang penduduknya banyak beragama Islam kondisi kebersihannya memprihatinkan. Mereka menganggap kalau Negara-negara Islam itu kotor, kotanya semraut, sampah berserakan dimana-mana. Bahkan, tempat ibadahnya pun juga masih jauh dari standar kebersihan yang diharapkan.

Kondisi kebersihan di Negara-negara maju sudah jauh lebih membaik dan tertata. Mereka sudah mangatur tidak hanya seputar buang sampah, meludah dan membuang bekas kunyahan permen karet juga mendapat hukuman seperti apa yang diatur di Singapura, misalnya. Coba anda perhatikan kebersihan di toilet-toilet bandara atau mall-mall besar di pusat kota. Mulai dari beragam model untuk membersihkan tangan di kamar kecil dan besar sampai dengan ketersediaan tisu sudah diatur dengan sangat baik.

 Citra kebersihan
Berbicara tentang citra kebersihan umat Muslim di Indonesia, saya memiliki pengalaman miris. Baru-baru ini Saya mengikuti sebuah pelatihan untuk membekali beberapa keterampilan sebelum Saya melanjutkan pendidikan S-2. Lembaga asing yang bertanggung jawab melakukan pelatihan tersebut tidak menyediakan tempat untuk shalat. Kemudian saya bersama beberapa kawan berinisiatif untuk ‘berdiplomasi’ dengan pihak manajemen lembaga tersebut supaya mereka mempertimbangkan kebutuhan tempat shalat peserta didik mereka di mana mayoritasnya adalah Islam.

Dalam proses komunikasi, mereka tetap tidak bisa memenuhi permintaan tersebut dalam waktu dekat. Di samping keterbatasan tempat, pihak pimpinan lembaga tersebut juga mengkawatirkan masalah kebersihan. Mereka takut kalau lantai basah dan ruang-ruang kelas yang berada di dekat tempat shalat juga akan terlihat kotor. Mereka khawatir terhadap komitmen peserta didik mereka yang akan lengah dengan kebersihan ruangan kelas. Pada intinya, mereka ingin mengatakan “kalau pun kami menyediakan tempat untuk kalian shalat, namun kalian tidak bisa menjaga kebersihan musalla tersebut. Karena kalian tidak mampu menjamin kebersihannya, maka kami juga tidak bisa memikirkan lebih serius tentang permintaan kalian.”

Alasan untuk mejaga kebersihan tempat shalat dan memastikan lantai kelas tetap bersih dan kering memang terkesan persolaan sepele dan mungkin saja anda menyimpulkan pihak manejemen lembaga tersebut terlalu mendramatisir dan mengada-ngada. Namun di luar itu, menurut saya, alasan yang mereka utarakan tersebut benar adanya. Melihat apa yang kita tampilkan di rumah-rumah ibadah, di sekolah-sekolah, di rumah sakit-rumah sakit, di kantor-kantor, dan berbagai tempat lainnya, jangan salahkan mereka yang non-muslim kalau kemudian menyimpulkan bahwa “Islam itu Kotor”. Jadi, mari kita ciptakan dan terus kita jaga bahwa “Islam itu Bersih”. Semoga!

* Muhammad Adam, Staf di Pusat Bahasa STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe dan Penerima Beasiswa Pemerintah Australia 2014. Email: adamyca@gmail.com